Showing posts with label Author: Fendira. Show all posts
Showing posts with label Author: Fendira. Show all posts

Thursday, 28 April 2011

Fanfic TK : Love is Love

Posted by Ty SakuMoto at 18:30 7 comments
 Love is Love
 (by Fendira) 


“Meski kau bukan mawar unguku, aku mencintaimu, mengetahui kau adalah Mawar unguku hanyalah alasanku untuk membenarkan apa yang telah kurasakan selama ini padamu, sesungguhnya sudah sejak lama keberadaanmu penting dihatiku, tapi sungguh kau pintar mempermainkan perasaanku hingga kuselalu dapat menyangkal kata hati kecilku karena kau begitu menyebalkan, kau selalu mengejekku, mengatakan aku mungil membuatku merasa jauh darimu, kukira kau memanggilku mungil karena kau mengganggapku anak kecil yang tak sepatutnya kau cintai..” “Sayaaang..saat itu panggilan mungil adalah pengingat kesadaranku..agar aku mampu menahan rasa cintaku padamu..mengingatkanku selalu perbedaan kita..kupikir aku yang tak pantas kau cintai..”
 
“Tak pernah kusangka kau mencintaiku..coba jelaskan apa yang membuatmu mencintaiku..? Aku tidak cantik dan sangat ceroboh, pertemuan pertama kitapun aku menubrukmu karena kecerobohanku..dan aku..M U N G I L… bukan…?”
 
“Hmm kau dulu yang jelaskan apa yang membuatmu berfikir bahwa sesungguhnya kau telah jatuh cinta padaku sebelum kau tau aku adalah mawar ungu..? Kalau jawabanmu memuaskan, aku akan jawab pertanyaanmu..”
 
“Mmm..karena kau baik..”
 
“Apa buktinya aku baik..akukan direktur dingin yang gila kerja..yang mampu berbuat apa saja agar perusahaanku untung..”
 
“Yup, kebaikanmu tidak menghapus kesan menyebalkan yang kau buat Masumi sayaang..”
 
“Maya..kau mau menjelaskan alasanmu mencintaiku atau malah sebaliknya.. “
”hehehe..iya iya maaf tapi ingat nanti giliranmu yah Masumi..”
 
“Jika jawabanmu memuaskanku.”
“Hmmh..Jika diingat sejak pertama bertemu kau selalu baik padaku”
 
“Hmm..lalu..”
 
“Setiap bertemu kau selalu muncul sebagai penolongku.., bermula dari kau yang mencarikan kursi tempatku menonton pertunjukan..kau bantu menghalau anjing-anjing yang mencoba menggigitku..kaupun yang membuat aku akhirnya diijinkan masuk melihat mereka latihan acting..lalu..”
 
“Eh..Mengapa kau begitu baik padaku..sebelum kita saling mengenal kau sudah baik padaku..?”
 
“Tidak sayang..aku tidak akan menjawab sampai kau menjelaskan alasanmu mencintaiku..ayo teruskan kau belum menjelaskan apa-apa..”
 
“Masumiii…kenapa kau tidak juga berhenti berlaku menyebalkan siihhh…”
 
“Ayo lanjutkan Maya..aku belum puas..”
 
“Haah..Baiklah..sesungguhnya akupun tak mengerti apa, kenapa,bagaimana, dan sejak kapan aku jatuh cinta padamu..sosokmu begitu kontradiktif selalu membuatku tak bisa sungguh-sungguh menyukaimu atau membencimu..”
 
“Tingkahmu selalu membuatku bingung, sesaat kurasakan kebaikanmu namun dengan cepatnya kau kenakan lagi topeng kecoamu membuatku sangat sebal melihatmu”
 
“Kau sesungguhnya ingin menjelaskan bahwa aku benar-benar menyebalkan atau apa Maya..Ck..kau mengecewakanku..kalu begini kau tidak akan mendengarkan apa-apa dariku”
 
“Bukan begitu Masumii..saat itu kau sungguh membuatku bingung..”
 
“Ketika aku memutuskan untuk berhenti acting karenaa..”
 
“Maaf..”
 
“Sudahlah Masumi setiap teringat hal itu kau selalu mengucapkan “Maaf” kau tidak bosan mengucapkannya..? Sudah kukatakan tidak ada yang perlu dimaafkan..yang terjadi bukanlah sepenuhnya kesalahanmu”
 
“Tetap saja, maafkan aku, Maya..”
 
“Lihat benarkan apa yang kukatakan..?”
 
“E..”
 
“Tadi kukatakan kau baik..”
 
“Kau berhati baik Masumi..jika tidak kau tidak akan terus merasa bersalah seperti ini..”
 
“Sayaang..lihat aku…jangan menunjukan wajah murungmu lagi..dengarkan apa yang akan kukatakan dengan baik..saat itu memang terasa berat..terasa semuanya telah hilang..keinginanku untuk hidup..keinginanku untuk beracting..semua seperti hilang tiba-tiba..jika kau merasa itu semua penyebabnya adalah kau..kau harus tau..kau telah membayarnya..kau telah mengembalikan semuanya..keinginanku untuk tetap bertahan..keinginanku untuk tetap beracting..kau yang pada akhirnya telah mengembalikan seluruh duniaku lagi..dan kau melakukannya bukan sebagai mawar ungu tapi sebagai Masumi Hayami..saat itu kau sendiri sebagai Masumi yang sungguh-sungguh telah menopang hidupku dan kau terus melakukannya hingga kini..dengan tanganmu sendiri Masumi, kau yang telah mengembalikan hidupku..kau tidak berhutang maaf padaku karena kau sudah membayarnya lebih dari yang seharusnya..aku yang kini berhutang terimakasih padamu..karenanya aku mencintaimu..”
 
“Maya..”
 
“Nah bagaimana..apa kau sudah puas dengan jawabanku..sekarang aku minta penjelasanmu..Apa yang membuatmu begitu baik dan mencintaiku..?!?”
 
“Akupun tak tau apa, bagaimana dan sejak kapan aku mencintaimu, Maya..mungkin belahan jiwa itu memang ada, dan kau adalah belahan jiwaku..sejak pertama kita bertemu..jiwamu menarik jiwaku..keberadaanmu selalu tak dapat kusepelekan.. tubrukan pada saat pertama kita jumpa mengejutkanku seketika membangunkan hatiku yang telah mati..sisi baikku terbangun dari tidur panjangnya saat itu karenamu.. berbuat baik padamu terasa wajar bagiku padahal tak pernah kulakukan itu pada yang lain sebelumnya..senyummu menyadarkanku bahwa aku selama ini telah kehilangan arti hidupku sesungguhnya..Hidupku sesungguhnya baru dimulai saat pertama kita bertemu..Maya kau adalah cinta pertama dan terakhirku..”
 
“Masumiiiii…aku butuh jawabanmu bukan pelukanmuuu…mengapa kau malah memelukku dan diam saja dari tadi..jadi mengapa kau mencintaiku??? ”
 
“Maya sayang..cinta adalah cinta..”
 
“Aaaah kau curaaaang..dari awal kau mempermaikankukan..kau sungguh pintar mampu membuatku mengucapkannya..kau sengaja…kau senangkan melihat aku mengatakan apa yang kupikir dan rasakan dengan muka merah..kau menyebalkaaann..”
 
“Bukan Maya, Aku memang tidak dapat menjabarkannya karena cinta hanya dapat dirasakan dan sekarang di malam pertama kau sebagai istriku, akan kutunjukan cara lain dari menggambarkan makna cinta selain dengan kata-kata..kau akan tau seberapa besar sesungguhnya rasa cintaku padamu..”
 
“Eh..Masumiii kenapa kau mematikan lampunya…”


<<< Love is Love ... End >>> 

Monday, 25 April 2011

Fanfic TK : My Heart

Posted by Ty SakuMoto at 14:34 19 comments

MY HEART
(By Fendira)



“Aaaaahhh… kenapa semuanya jadi seperti ini…..” jeritku menahan sakit yang kurasakan di dadaku. Tangisku pun tak dapat kuhentikan.

Kukira hidupku benar-benar telah sempurna. Kehadirannya di hidupku merubah segalanya, untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa menjadi gadis yang paling beruntung.

Aku terduduk di sebuah taman banyak orang lalu lalang yang sesekali kusadari ada yang memandangku dengan tatapan heran tapi tak ada yang sungguh-sungguh berhenti dan bertanya ada apa dengan diriku atau mengapa aku terduduk disini menangis seorang diri.

Tak kurasa malam menjelang ketika kakekku tiba-tiba telah ada di hadapanku, kakekku datang menjemputku untuk pulang. Kupandangi wajahnya dengan linangan air mata yang tak sanggup kuhentikan. Kugapai uluran tangannya, kucoba untuk berdiri namun kurasakan kakiku tak mampu menopang tubuhku dan tiba-tiba semuanya terasa gelap.

………………………………………………………………………………………………………………………………………

Kubuka mataku, begitu berat mata ini,

DEG…

“Akh..!” Kutekan dadaku. Sakit… teramat sakit… rasa apakah ini…? Terasa air mata membasahi pipiku.

“Perasaan apakah ini? Kenapa sakitnya seperti ini? Seperti ada yang menanamkan bongkahan batu besar di dadaku. Sungguh menyesakkan dadaku.”

“Siapa saja… Tolong singkirkan rasa sakit ini dari dadaku… sungguh ku tak sanggup menahannya…” batinku menjerit tapi kutahu tak ada seorangpun yang mampu menghilangkan rasa sakit ini kecuali… dia.

……………………………………………………………………………………………………………………………………..

Satu minggu telah berlalu semenjak dia memutuskan pertunangan kami. Setelah satu minggu pula aku mengurung diri di kamarku dan hari ini kuputuskan untuk pergi keluar menemuinya.

Kukuatkan hatiku, kuyakinkan diriku, untuk terakhir kalinya aku akan menemuinya. Akan kucoba memperbaiki segalanya, akan kuyakinkan dia bahwa akulah yang terbaik untuknya, akulah yang dapat memahaminya, mendukungnya dan akulah yang paling mencintainya.

Kini aku telah berada di gedung kantornya. Kutemui sekretarisnya. Baru kusadari meski bukan untuk pertama kalinya aku berbincang-bincang dengan sekertarisnya tapi ternyata aku tak mengenalnya dengan baik, ia pun terasa asing bagiku.

……………………………………………………………………………………………………………………………………….

Akhirnya aku kembali terduduk di dalam mobil sendiri hanya ditemani sopir yang setia mengantarku keliling kota karena aku belum ingin pulang namun tidak tahu harus kemana. Tujuanku hanya ingin menemuinya namun itupun gagal.

Sekretarisnya bilang dia tidak masuk kantor hari ini.

“Aneh… hari jum’at tidak masuk kerja..? biasanya di hari jum’at dia lebih sibuk dari hari-hari sebelumnya, pulangnya selalu larut dengan alasan semua pekerjaan minggu ini harus diselesaikan di hari jum’at karena sabtu dan minggu kantor telah libur. Meski di hari libur itu pun sangat jarang ia meluangkan waktu untukku… selalu ada alasan baginya untuk tidak memenuhi undanganku untuk bertemu.”

“Kenapa hari ini Ia tidak masuk kerja..? dan dia tidak masuk kerja bukan karena tugas kantor... tapi ada keperluan pribadi…?”

Tanda tanya besar merasuki pikiranku. Kemanakah dia pergi? Keperluan pribadi?

……………………………………………………………………………………………………………………………………….

“ Masumi… ya Masumi Hayami namanya… dia adalah tunanganku. Masihkah ada harapan bagiku untuk tetap menyebutnya tunanganku? Meski sudah diumumkan bahwa pertunangan kami batal namun harapanku masih besar untuk terus dapat melanjutkan pertunangan ini… Mungkinkah…?”

Sungguh tak kusangka sebelumnya, saat kakekku memperkenalkanku dengannya kukira Ia sama dengan pria lainnya, selama ini tak ada pria yang mampu membuatku nyaman dan bahagia saat bersamanya. Tidak ada yang salah dengan pria-pria itu mereka semua sopan dan selalu memperlakukan aku dengan baik, tapi… dia berbeda.

Sejak pertama bertemu sorot matanya langsung menusuk ke dalam hatiku, seketika membuat jantungku rasanya berhenti berdetak, meski sikapnya terkadang dingin tapi dia mampu membuat hatiku hangat. Entah mengapa bersamanya aku begitu bahagia, aku merasa sangat istimewa berada disampingnya.

Meski sesekali keraguan selalu menghantuiku, apakah dia juga merasakan apa yang kurasakan? Apakah senyumnya setulus senyum yang selalu kuberikan untuknya? Apakah dia mencintaiku seperti aku mencintainya? Keraguan itu selalu muncul ketika meski tersenyum tapi sorot matanya yang lembut itu terkadang terlihat hampa, meski aku merasa istimewa tapi keberadaanku tak lebih penting dari pekerjaannya. Semua pertemuan kami selalu atas keinginanku. Tak pernah sekalipun dia yang mulai mengajakku. Tempat yang kami kunjungi selalu atas saranku. Dia tak pernah mengutarakan keinginannya. Apapun selalu dia penuhi, selalu dia turuti.  Tapi… selalu kuyakinkan diriku bahwa apa yang kurasa dia pun pasti merasakannya. Buktinya Ia mengajakku bertunangan.

DEG..

“Masumi…”

“Stop… hentikan mobilnya… berhentiii…!!!” Teriakku pada sopir, dan mobilpun seketika berhenti.

Kulihat Masumi keluar dari sebuah toko swalayan kecil, tangannya yang satu menjinjing plastik belanja dan yang satunya lagi menahan pintu toko itu tetap terbuka seperti menunggu orang lain yang juga akan keluar dari toko itu.

“Ahh…”

“Kenapa Nona?” sopirku langsung menoleh kearahku dengan wajah kaget mendengar teriakan kecilku yang tiba-tiba.

“Tidak ada apa-apa… jangan pedulikan aku...” jawabku

Kuremas rok bajuku untuk menahan gejolak di hatiku. Kurasakan mataku memanas namun tidak ada air mata yang jatuh yang mungkin membuat kabur penglihatanku. Begitu jelas seseorang yang akhirnya ditunggu masumi untuk juga keluar dari toko itu. Gadis itu...

“Maya…” desis batinku.

Kulihat Maya membawa kantong kertas belanjaan yang tampak penuh, Ia memegang dengan kedua tangannya… tampak kikuk… ada beberapa apel yang akhirnya terjatuh dari kantong kertas itu menyusuri trotoar. Satu… Dua… Kulihat Masumipun berlari mengejar apel yang menggelinding itu. Sebelum apel-apel itu menggelinding ke jalan raya Masumi telah berhasil megambil kedua apel itu dan memasukannya kembali ke dalam kantong kertas itu. Lalu Masumi tampak mengucapkan sesuatu sambil mengacak-ngacak rambut Maya dan tertawa. Maya terlihat tidak begitu suka tapi tak lama kemudian merekapun tertawa bersama. 

Akhirnya Masumipun mengambil alih kantong kertas itu dari Maya, ia sanggup membawa kantong kertas itu hanya dengan satu tangannya. Kulihat Masumi berjalan dengan santai tapi Maya bergeming dia diam mematung tampak tidak senang. Menyadari Maya tidak mengikuti langkahnya, Masumipun berhenti kemudian kembali mendekati Maya. Entah apa yang mereka bicarakan namun kulihat Masumi pada akhirnya memberikan kantong plastik belanjaannnya pada Maya dan Maya tampak tersenyum puas dan berjalan meninggalkan Masumi yang sesaat menatapnya dengan senyuman, tak lama kemudian mereka sudah berjalan berdampingan.

Senyum itu… senyum yang begitu lembut. Matanya… sinar matanya berbeda dengan yang biasa kulihat… kenapa mata itu begitu lembut dan hangat…? kenapa kau bisa memandang gadis itu dengan tatapan yang begitu hangat Masumi…? Mengapa tatapan itu belum pernah kulihat sebelumnya…?

DEG..

Rasa sakit yang kurasakan setiap pagi ketika kubuka mata dari tidurku kembali kurasakan dan semakin sakit kurasa.

Kulihat mereka berhenti di depan sebuah mobil… Hmm… mobil Masumi. Tampaknya Masumi menyetir sendiri, tak kulihat sopir yang biasa mengantar kemanapun Masumi pergi.

Masumi memasukan barang belanjaan mereka ke dalam mobil di bagian belakang dan Maya masuk duduk di depan di samping Masumi yang akan menyetir mobil itu.

“Kemanakah mereka akan pergi bersama?” batinku penasaran.

Kulihat mobil mereka telah jalan.

“Ikuti mobil itu Pak, tapi hati-hati jangan sampai mereka mengetahui kalau kita mengikutinya” Perintahku pada sopirku.

“Baik, Nona.”

Mobilku pun berjalan mengikuti kemana mobil Masumi melaju.


Kurasakan dingin menusuk dadaku dan menjalar keseluruh tubuhku, kuremas tanganku yang gemetaran. Perasaan apalagikah ini? Mengapa hati dan tubuhku terasa mendingin.


“Hendak kemanakah mereka pergi bersama? Begitu pentingkah hingga Masumi memilih tidak masuk kerja hari ini? Tidak seperti biasanya. Mengapa demi gadis itu kau rela mengenyampingkan pekerjaanmu, denganku kau tidak pernah melakukan itu Masumi, mengapa?” Hatiku bertanya-tanya dengan sedih.


“Apa yang kalian lakukan sekarang di dalam mobil berdua saja? Apa yang kalian perbincangkan? Apakah ada tawa diantara kalian? Bukankah seharusnya Maya masih membencimu? Mengapa Ia mau diajak pergi olehmu?” Batinku menjerit penuh ketidakrelaan.


Kaca mobilnya pun yang sesekali terbentang tepat di depan mobilku tak membuatku mampu melihat apa yang sedang mereka lakukan di dalam mobil saat ini. Hanya pantulan sinar matahari yang begitu terang memantul dari kaca belakang mobilnya yang terlihat seperti sebuah cermin besar.


DEG..


Hatiku berdetak lebih kencang melihat mobilnya melambat dan tampak memarkirkan mobilnya di depan sebuah tempat makan. Kulihat jam tanganku dan waktu menujukkan telah waktunya makan siang.

Tak lama setelah kulihat mereka berdua memasuki tempat makan itu kuminta sopirku untuk masuk ke dalam dan mengikuti mereka dan aku menunggu di dalam mobil yang terparkir di seberang tak jauh dari rumah makan itu.


“Tampaknya mereka memutuskan makan siang di tempat, Nona, sekarang apa yang harus saya lakukan?“ Lapor sopirku lewat telephon genggamnya.


“Tolong kau rekam apa saja yang mereka lakukan.” Perintahku.


“Maaf Nona tapi telepon saya tak dapat merekam dengan bagus dan lama, mungkin hanya beberapa menit saja.” jawab sopirku.


“Tak apa kau coba saja rekam semampumu, tambahkan dengan beberapa foto saja, dan jangan lupa, jangan sampai Masumi melihat dan menyadari keberadaanmu!!“ Pintaku pada sopirku.


“Baik Nona.” Jawabnya.


“O iya.. setelah kau merasa cukup mengambil beberapa gambar kau pun ikut makan saja disitu.. tapi ingat kau harus keluar dari situ sebelum Masumi keluar agar kita tidak tertinggal ketika mereka kembali melanjutkan perjalanannya!!” Perintahku.


“Bagaimana dengan Nona? Makanan apa yang ingin saya belikan untuk makan siang Nona?“ Sopirku balik bertanya.


Aku termenung sesaat dan akupun menjawab, “Tidak perlu, terimakasih.”


……………………………………………………………………………………………………………………………………………


Cukup lama aku menunggu dengan perasaan gelisah. Ketika akhirnya kulihat sopirku berlari kecil menghampiri mobil dan sekarang telah kembali duduk di depan kemudi mobil.


“Silahkan Nona.” Sopirku menyerahkan telepon genggamnya.


Akupun mengambilnya dengan perasaan yang tak menentu, sebelum kubuka menu foto dari teleponnya, kudengar sopirku berkata sesuatu.


“Maaf nona, mungkin Anda tidak lapar tapi pasti Anda haus, silahkan Nona.”


Kuterima sepuah kantong plastik yang sopirku sodorkan, kubuka dan kulihat isinya. Ada sebotol air mineral dan satu gelas plastik yang cukup besar berisi jus buah.


“Terima kasih” jawabku dan sopirku menjawab dengan senyuman serta anggukan kepalanya. Ia pun kembali memutar badannya lurus ke depan bersiap untuk kembali menyetir.


……………………………………………………………………………………………………………………………………………


Selama perjalanan aku terus bolak balik melihat hasil rekaman gambar dan foto yang telah berhasil sopirku ambil, walaupun gambarnya tidak terlalu bagus tapi cukup jelas menggambarkan suasana dan apa saja yang mereka lakukan saat makan siang berdua.


Dilihat dari gambar yang diambil menunjukan bahwa sopirku duduk tak begitu jauh dari samping mereka karena dengan jelas kulihat wajah bagian samping kiri keduanya dan mereka duduk saling berhadap-hadapan. Rekaman yang sangat pendek tapi begitu jelas menggambarkan perasaan bahagia mereka.


Apakah makanannya sungguh lezat hingga rona kenikmatan begitu terpancar dari wajah keduanya. Dari foto-foto yang ada hampir seluruhnya kulihat Maya banyak tertunduk tampak merah merona dan Masumi... Masumi… tiba-tiba kurasakan pipiku basah.


Kembali kulihat sorot mata itu. Masumi, di setiap foto yang diambil selalu tertangkap sorot mata itu yang tak pernah lepas menatap Maya, begitu teduh, begitu membuatku iri. Apakah itu yang namanya tatapan penuh cinta..? Apa istimewanya dia hingga mampu menarik perhatianmu sedalam itu, Masumi?


………………………………………………………………………………………………………………………………………..


Masih kugenggam erat di pangkuanku telepon genggam itu, kupalingkan wajahku menyusuri jalan, entah berapa lama perjalanan ini telah berlalu hanya kesedihan yang kurasa.


Tiba-tiba sepertinya kumenyadari sesuatu, sepertinya jalan ini tak asing bagiku.. sepertinya jalan ini… jalan menuju... Izu..??


……………………………………………………………………………………………………………………………………….


Setelah sekian lama aku menunggu didalam mobil seorang diri kuputuskan untuk keluar dari mobil. Disinilah aku berdiri di samping mobilku melihat keadaan sekitar. Kulihat tak begitu jauh vila diatas tebing itu. Hari sudah menjelang sore. Sudah beberapa jam mereka tiba di villa itu, entah apa yang mereka lakukan disana.


“Nona…”


Sedikit terhenyak kupalingkan wajahku menuju arah asal suara itu.


“Nona, saat ini mereka sedang menuju pantai, apakah Nona ingin saya merekam dan mengambil foto mereka lagi?” 


Aku terdiam entah apa yang kupikirkan hanya kulihat wajah bingung sopirku, ada seberkas guratan prihatin yang tak kusuka tersirat dari wajah dan sorot matanya.


“Temani aku melihat mereka.”


“Mari, Nona.”


Kuikuti langkah sopirku dengan perasaan hampa, kaki ini terasa tidak menyentuh bumi dan terasa berat badan ini, kukuatkan hatiku yang terasa mulai berdetak dengan cepat kembali, dan perasaan dingin kembali menjalar ke seluruh tubuhku, kudekap kuat tanganku.


Bersembunyi di balik pepohonan yang ada meski cukup jauh namun aku cukup dapat melihat dengan jelas apa saja yang mereka lakukan.


Pantai ini begitu sepi hanya ada mereka berdua. Mereka berjalan berdampingan menyusuri pantai, tiba-tiba Maya mengangkat kakinya dan sedikit meloncat-loncat. Sayup-sayup kudengar teriakannya, Masumi sepertinya kaget kemudian tampak Masumi berjongkok dihadapan Maya entah apa yang dia pungut dari kaki gadis itu. Mungkin ada binatang yang menggigitnya, mungkin kepiting-kepiting kecil yang biasa ada di sekitar pantai ini. Sambil berdiri kulihat Masumi menyibakkan air laut itu ke wajah Maya kemudian dengan cepat Ia berbalik dan berjalan meninggalkan Maya. Maya yang tersadar dari kagetnya kemudian berteriak, berlari dan mendorong Masumi hingga jatuh terjerembab di pantai. Maya kemudian tampak puas mentertawakannya.


Masumi kemudian bangun dengan seluruh baju yang telah basah oleh air laut. Masumi tampak berniat mengejar Maya yang telah lari menjauhinya, dan dengan mudahnya Masumi mampu mengejar dan menangkap Maya serta memaksanya mendekati laut dan sedikit ke tengah. Kulihat Maya berusaha melepaskan pegangan Masumi yang tampak kuat mencengkram pergelangan tangannya yang mungil itu. Meski Maya terdengar samar-samar berteriak namun masumi tampak tak mengindahkannya malah terlihat tertawa dan semakin antusias menarik Maya. Masumi berhasil menarik Maya sampai kedalaman laut itu menutupi pinggang Maya, Masumi lalu tiba-tiba menempatkan kedua tangannya di pinggang Maya mengangkatnya dan menempatkan Maya di posisi depan Masumi, ketika mulai terlihat ombak datang yang mengakibatkan tinggi air laut naik dari pinggang sampai kebatas dada Maya, tiba-tiba kulihat gadis itu membalikan badannya dan melingkarkan tangannya ke pinggang Masumi… akh.. Ia memeluk Masumi… dan Masumi pun membalas memeluk gadis itu.


DEG..


Ombak itu pun berhasil menghempaskan keduanya, ketika air laut yang telah sampai ke pantai kembali lagi ketengah lautan meninggalkan keduanya di tepian pantai dalam keadaan tergeletak, Maya, gadis itu berada tepat diatas tubuh Masumi dengan tangan masumi memeluk tubuh gadis itu. Kurasakan mata ini mulai memanas.


Kulihat maya dengan cepatnya mengangkat tubuhnya dan terduduk di samping Masumi yang masih terlentang di atas pasir basah, perlahan badan Masumi bangun keduanya duduk berdampingan sambil memandang laut, langit mulai terlihat kemerahan karena hari telah sore matahari mulai tenggelam. Sesaat kulihat mereka hanya duduk bergeming, entah apakah ada yang mereka perbincangkan, kini kulihat tangan masumi yang satu telah membelai pipi gadis itu yang membuatnya tertunduk. Kemudian Masumi mengangkat wajah itu menghadap wajahnya dengan tangannya yang berada di dagu gadis itu, sesaat mereka saling berpandangan dan perlahan kusadari jarak diantara mereka semakin dekat… Masumi menciumnya.


Tes….


Kurasakan air mata membasahi pipiku. Sepasang manusia yang saling mencintai, saling menunjukkan perasaan kasihnya dengan ciuman yang begitu hangat di tengah mentari yang mulai tenggelam.


Masumi membantu Maya berdiri dari duduknya kemudian mereka kembali berjalan menyusuri pantai namun kini mereka berpegangan tangan tampak begitu lembut dan mesranya. Pemandangan yang begitu indahnya, namun kesedihanlah yang kurasakan, dinginnya angin lebih kurasakan dibandingkan kehangatan yang terpancar dari pasangan itu.


…………………………………………………………………………………………………………………………………………


Sepanjang jalan menuju rumah aku hanya terdiam. Air mata ini tak bisa kuhentikan… ya, kuputuskan untuk kembali pulang. Kutahu Masumi tidak pulang malam ini mereka tampaknya memutuskan untuk menginap di villa itu.


Vila dimana masumi menyembunyikan identitas Mawar Ungunya, semua yang berhubungan dengan Mawar Ungu tersimpan di villa itu. Vila dimana Masumi dapat menjadi dirinya, dirinya yang sesungguhnya, dirinya yang tanpa topeng, dirinya yang tak pernah sungguh-sungguh kuketahui.


Begitu tebal tembok yang kau bangun Masumi, begitu tebalnya hingga kucoba merobohkannya dengan perbuatan yang konyol. Aku tahu aku salah mencoba menjauhkanmu darinya dengan cara yang kotor, tapi itu semua kulakukan karena aku takut kehilanganmu. Gadis itu begitu terlihat sempurna di matamu Masumi, aku hanya ingin membuatnya menjadi tak sesempurna yang kau pikirkan.


Apa kekuranganku..? Hingga kau tak mampu berpaling padaku? Masumi… akupun mencintaimu dengan sepenuh hatiku, aku mencintaimu bukan karena ketampananmu, aku mencintaimu bukan karena kekayaanmu, meski nama Hayami bukan nama belakangmu, aku tahu aku pasti tetap mencintaimu.


Apa yang membuatku tak berhak mendapatkan orang yang kucintai? Apa kurangnya cintaku dibandingkan dengannya..? Apakah gadis itu akan mencintaimu jika kau bukan Mawar Ungunya?? Meski kau bukan Mawar Unguku yang selalu memberikan kebaikanmu padaku, aku tetap mencintaimu.


Begitu besar cintamu padanya hingga mampu membuatnya mencintaimu, itukah yang terjadi? Lalu tidak cukup besarkah rasa cintaku hingga tidak mampu membuatmu berpaling mencintaiku..? Begitu besarkah kesalahanku..? Tak termaafkankah dosaku, hingga dengan mudahnya aku divonis tak pantas mendapatkan cintamu…? Masumiii… Aku tak memilih untuk mencintaimu, tapi taukah kau aku sungguh mencintaimu. Tuhan, mengapa Kau biarkan hati ini memilih untuk mencintainya.


Aku telah letih.


Hatiku sungguh terluka.


………………………………………………………………………………………………………………………………………..


Tiga tahun telah berlalu. Aku kembali juga ke Jepang. Kini kutelah duduk diantara penonton yang tampak antusias tidak sabar menunggu dimulainya pertunjukan drama “Bidadari Merah” dengan Maya Hayami sebagai Akoya.


DEG..


Jantung ini seakan berhenti berdetak sesaat ketika mata ini menemukan sosoknya. Masumi, pria itu ada di sana, duduk dengan rasa penuh percayadirinya.


Masumi, tidak banyak perubahan di wajahnya masih tetap terlihat tampan, yang berbeda hanya saja raut mukanya terlihat begitu hangat dan bahagia, kutahu kebahagian pernikahanmu dengan Maya kini telah lengkap setelah dikaruniai seorang putra.


Masumi, akhirnya semua mimpi yang tak pernah kau yakini mungkin kau dapatkan kini semua itu telah terwujud. Mimpi kedua orang itu meski kemungkinannya hanya 1 % namun mereka sungguh beruntung mampu mewujudkannya. Aku, mimpiku sudah hilang. Kemungkinan 1 % pun sudah tidak ada, dan memang tidak pernah ada.


Meski tahun demi tahun telah kulalui jauh di negeri orang, jauh darimu Masumi, tapi hati ini tetap berdetak karenamu. Kini kumampu tersenyum dalam piluku, kumampu tulus mendoakan kebahagianmu Masumi. Sirna sudah keinginannku memilikimu saat kutahu kau takkan bahagia bersamaku. Sedangkan aku, kubahagia meski dalam kesendirianku karena aku mencintaimu. Kubahagia hati ini memilih mencintaimu, takkan kupaksakan hatiku menerima yang lain jika kurasakan kau masih ada disana. Hati ini tetap mencintaimu sepenuh hati, meski hatiku takkan pernah memilikimu. Hati ini seutuhnya milikku…


<<< MY HEART … END >>>

Tuesday, 29 March 2011

Fanfic TK: Just Not Yet...

Posted by Ty SakuMoto at 21:05 13 comments
warning: kissing scene

JUST... NOT YET…
(by Fendira) 




Kubuka mata dan kulihat atap putih perasaan bingung menyergap pikiranku. Kuhembuskan udara yang mengisi paru-paruku kucoba kumpulkan semua kesadaran alam pikiranku hingga kudengar lagi suara...

Tok tok tok ..

Kusingkap selimut tebal yang masih menyelimuti tubuhku, akhirnya kutinggalkan tempat tidur yang nyaman itu dan kubuka pintu kamar ini. Kulihat teman-temanku tersenyum lebar melihatku. Mereka mendorongku masuk sambil tak henti-hentinya berbicara. Seseorang telah mengambilkan aku handuk, menyelempangkannya di pundakku dan menyuruhku mandi.

Selepas aku keluar dari kamar mandi semakin kulihat banyak orang dikamarku. Aku ditarik duduk di depan cermin. Seorang wanita sibuk membuka kotak kaca yang sangat indah. Kulihat begitu banyak peralatan make-up mirip punyaku yang kudapatkan dari Mawar Unguku tapi punyanya tampak lebih besar. Wanita itu tersenyum melihatku dan menyuruhku memejamkan mata. Kuikuti kehendaknya. Kupejamkan mataku dan tak lama kemudian kurasakan tangan dinginnya menyentuh wajahku.

Saat kupejamkan mataku semakin jelas kudengar suara teman-temanku yang tetap tak henti-hentinya berbicara yang terselingi suara tawa diantara mereka.

Akhirnya kudengar juga suara wanita itu memperbolehkanku membuka mata kemudian Ia memutar badanku membelakangi cermin dan menyisir rambutku, menariknya ke belakang dan mengikatnya entah apa selanjutnya yang Ia lakukan dengan rambutku. Yang kurasakan hanya tarikan-tarikan yang membuatku terkadang meringis kecil. 

Aku lihat teman-temanku yang lain telah berganti pakaian kulihat mereka semua memakai kimono bernuansa ungu, sungguh cantiknya warna itu, pikirku. Kulihat wanita lain yang berpakaian sama dengan wanita yang sedang merapikan rambutku ini membawa sebuah gaun putih berhiaskan manik-manik yang kupikir berwarna bening tapi pada saat terkena cahaya kulihat semu ungu terpancar dari manik-manik tersebut. Semakin Ia mendekatiku semakin terlihat manik-manik tersebut terbuat dari kristal dan berbentuk bunga mawar kecil-kecil. Mawar ungu kesukaanku.

Wanita yang meriasku tadi telah selesai menata rambutku kemudian Ia tersenyum lagi padaku. Ia membantu wanita yang membawa gaun itu memakaikan gaun putih di tubuhku, ukurannya sangat pas sepertinya gaun ini memang dibuat hanya untukku.Akhirnya setelah resletingnya tertutup dengan rapi, mereka membalikan tubuhku menghadap cermin. 

Kulihat diriku memakai gaun pengantin putih lengkap dengan cadarnya.

”Gaun pengantin…” batinku.

@@@

Kurasakan tangannya menggenggam tanganku begitu kuat namun lembut, kurasakan pancaran cinta yang begitu tulus dari matanya. Senyumnya membuatku tak mampu memijakkan kakiku dengan benar di lantai yang terbalut karpet ungu ini.

Ketika ia membuka cadar yang menutup wajahku, kurasakan debaran jantungku semakin kuat. Kurasakan hembusan nafasnya diwajahku menandakan wajahnya semakin mendekatiku. Kupejamkan mataku seiring dengan terpejamnya matanya. Kurasakan sentuhan hangat dibibirku, begitu lembut lebih lembut dari ice cream coklat kesukaanku, desiran di dadaku semakin menusuk kurasa. Ketika kubuka mataku kulihat senyum itu dan terdengar tepuk tangan dan sorak sorai.

Kurasakan panas di wajahku, aku malu tapi begitu bahagia.

@@@

Kududuk di tepian tempat tidur yang penuh dengan taburan mawar ungu. Kulihat seluruh kamar bernuansa ungu dan silver. Tiap sudutnya penuh bunga mawar ungu. Kamar ini lebih luas dari kamarku yang tadi, pikirku.

Pikiranku terhenti seketika, tiba-tiba kurasakan sentuhan lembut dipipiku. Kualihkan pandanganku kearah pemilik tangan itu. Senyum itu selalu ada disana, senyum yang disertai pandangan lembut yang langsung menusuk jantungku. Selalu mampu menghentikan detak jantungku, keluhku.

Sesaat kami hanya bertukar pandangan, kurasakan mataku memanas dan setetes air mata jatuh menghangatkan wajahku yang terasa telah membeku karena tatapannya. Kulihat wajahnya terhenyak kaget dan langsung menghapus air mataku, kugenggam tangannya di pipiku, kutersenyum dan Ia pun akhirnya ikut tersenyum tanda mengerti air mata ini bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata bahagiaku, bahagiaku dapat bersamanya.

@@@

Akhirnya jepit-jepit dan ikatan yang menyiksa rambutku terlepas juga, gaun indah itupun meski enggan kulepas tapi terasa lebih nyaman menggunakan pakaian tidur hitam ini, pakaian tidur yang cukup aneh pikirku, hitam warnanya terasa halus dan dingin, cukup pendek hanya menutupi sebagian pahaku, dan bagian atas terlalu terbuka pikirku membuatku malu berhadapan dengannya.

Kutatap langit dari jendela besar kamar ini, begitu hitam pekat namun terlihat bulan sabit bersinar dengan indahnya. Sentuhan tangan itu kembali menghentikan pikiranku, memeluk erat pinggangku, pelukannya menyadarkanku bahwa pakaian ini sungguh tipis hingga membuatku berfikir pelukan ini bagaikan langsung menyentuh kulit tubuhku.

Sesaat kemudian tangannya telah memaksaku membalikan tubuhku menatapanya namun masih dalam pelukannya. Tangannya yang satu tetap memelukku dengan kuat dan yang lain menyusuri tanganku, pundakku leherku dengan jemarinya, kurasakan tubuhku gemetar kecil entah apa yang kurasakan. Apakah aku kedinginan. batinku. 

Jemari itu terus menyusuri wajahku dimulai dari mataku, hidungku, dan berhenti di bibirku. Begitu kulihat ia menundukan wajahnya dan mengecup bibirku kurasakan tubuhku melayang dan ternyata aku sungguh melayang, ia telah menggendongku tanpa melepaskan ciumannya akupun tak mau melepaskan ciumannya.

Ia merebahkan tubuhku ditempat tidur, ia menghentikan ciumannya kubuka mataku dan kulihat ia membuka pakaian atasnya, jantungku berdetak semakin cepat kupejamkan lagi mataku.

“Maya… Maya…”

Kubuka mata dan kulihat atap putih perasaan bingung menyergap pikiranku kuhembuskan udara yang mengisi paru-paruku kucoba kukumpulkan semua kesadaran alam pikiranku hingga kudengar lagi suara...

Tok tok tok ..

“Maya..Maya..bangun..cepat buka pintunya..”

“Rei..?” bisikku.

Kusingkap selimut tebal yang masih menyelimuti tubuhku, akhirnya kutinggalkan tempat tidur yang nyaman itu dan kubuka pintu kamar ini dan kulihat teman-temanku tersenyum lebar melihatku.

Kulihat sekelilingku. Kini kumengerti dan tertawa malu sendiri. Aku baru terbangun dari tidurku pagi ini dikamar Hotel dimana nanti akan diadakan pernikahanku dengan Masumi.

Yup.. Just not yet…



>>>Just Not Yet... End<<<
 

An Eternal Rainbow Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting