Showing posts with label Author: Airin. Show all posts
Showing posts with label Author: Airin. Show all posts
Tuesday, 7 October 2014
Fanfik TK : Fated to Love You, Only You Ch. 3
Fated
to Love You, Only You 3
#Writer’s Note: Sorry for delaying this
story for so longgggg. Sebenarnya mau aku lanjutin tapi banyak hal yang
membuatku kembali menundanya. Mohon maaf sebesar-besarnya kepada para pembaca
yang sudah menanti-menanti membaca kelanjutan cerita ini. Aku mengerti jika
mungkin kalian sudah tidak mau membacanya lagi (tapi aku sangat berterima kasih
jika kalian masih mau membacanya #puppy-eye) Anyway enjoy it and I wish I can
update again as soon as possible! J
(Paris,
20xx, saat ini)
“(Perhatian perhatian!
Karena terjadi suatu hal yang tidak terduga, pertunjukan dari Teater Mayuko
dibatalkan. Kami ulangi lagi, karena terjadi suatu hal yang tidak terduga
maka....)” demikian terdengar suara memberitakan pengumuman yang sama
berulang-ulang dalam bahasa Perancis. Terdengar pula suara keluhan dan rasa
kecewa yang terdengar dari mulut para penonton yang memakai jas dan gaun mewah,
berdiri dan meninggalkan ruang pertunjukan.
“(Dibatalkan? Apa-apaan
Teater Mayuko itu? Apa mereka main-main?)” seru beberapa di antara mereka.
“(Apa mereka tidak tahu
berterima kasih? Sudah bagus mereka sudah bisa tampil di tempat ini. Apa yang
mereka pikirkan?)” sahut yang lain.
“(Mungkin mereka malu
dengan pesona Teater Hayami dari Daito. Mereka sadar mana mungkin mereka bisa
sepadan muncul bersama dengan Daito. Mungkin karena itu mereka jadi memilih
mundur dengan mengeluarkan berbagai macam alasan.)”
“(Tapi aku dengar
katanya salah satu pemain mereka hilang, oleh karena itu pementasannya
dibatalkan.)”
“(Kau dengar itu siapa?
Mana mungkin begitu! Kalau benar begitu, hal ini benar-benar penghinaan
terhadap seni teater dan drama. Berani-beraninya mereka melakukan hal itu!)”
Tuduhan dan asumsi
terdengar di antara para penonton yang hendak keluar dari gedung pertunjukan
ataupun penonton yang masih memilih tinggal di gedung pertunjukan untuk
bercengkrama dengan para seniman, artis, dan sutradara yang datang ke
pertunjukan. Terdengar pula suara jepretan kamera di mana-mana. Banyak wartawan
yang datang untuk meliput juga mewawancarai beberapa penonton juga pemain yang
hadir. Apalagi mengingat ada kejadian mengejutkan dengan batalnya pertunjukan
teater Mayuko yang selama ini disebut-sebut sebagai salah satu saingan Daito
yang patut diperhitungkan mengingat pendirinya ialah pemeran Bidadari Merah
legendaris berpuluh-puluh tahun yang lalu. Tentu berita tersebut akan menjadi headline yang sangat menarik. Apa
mungkin batalnya pertunjukan dari Teater Mayuko merupakan akibat perbuatan dari
Daito yang tidak mau tersaingi malam ini? Atau mungkin hilangnya pemain teater
Mayuko juga akibat perbuatan dari Daito? Tentu menarik jika pembaca bisa
mencari sisi negatif dari Kerajaan milik Hayami yang selama ini dianggap
sempurna dan tanpa cela. Belum tentu benar memang, tapi seperti itulah dunia
media. Kejam? Ya. Tapi untuk mendapatkan berita menarik, hal yang hanya sekedar
asumsi pun dapat dibuat seolah-olah hal tersebut memang terjadi.
Masumi melihat
kerumunan wartawan dari kejauhan yang berusaha mewawancarai banyak orang yang
hadir. Gelas berisi wine yang ada di
tangannya hanya didiamkannya saja, tidak diminumnya. Suara Onodera kemudian
membuat Masumi menoleh dari kerumunan wartawan,
“Hhhh... para wartawan
akan pesta besar malam hari ini,” ujar Onodera.
“Maksud Anda?” selidik
Masumi.
“Apa kau tidak sadar,
pak Masumi? Batalnya pertunjukan dari teater Mayuko dan hilangnya salah seorang
pemain bisa membuat mereka berasumsi dan membuat berita berdasarkan asumsi
tersebut...,” Onodera melirik Masumi dan Masumi segera mampu menangkap maksud
tersembunyi dari kata-kata Onodera.
Dan
Daito akan terlibat namun bukan dalam sisi yang positif... pikir
Masumi.
“Aku tidak melihat ada
masalah di sini, pak Onodera,” ujar Masumi sambil meminum wine di gelasnya pelan.
Onodera menatap Masumi
seolah Masumi tengah bercanda. Apa Masumi
Hayami yang pintar ini tidak menyadarinya? Onodera kemudian hanya
mengedikkan bahunya pelan. “Ya apapun itu aku berharap tidak akan ada masalah
yang menimpa Teater Daito. Para wartawan itu pasti akan mencari tahu juga siapa
pemain yang hilang, yang sepertinya begitu berharga sehingga Teater Mayuko
memilih membatalkan pertunjukan. Para wartawan pasti penasaran siapa pemain
tersebut,” Masumi hanya menatap Onodera yang terus berkata-kata sambil meminum wine nya pelan.
Namun kata-kata Onodera
berikutnya membuat Masumi berhenti meminum wine,
“Bisa kulihat hal ini akan menjadi berita besar bagi mereka dan siapa tahu
hal ini akan menjadi headline banyak
koran di Paris sana,”
Masumi kemudian menatap
kerumunan wartawan yang masih terlihat mewawancarai beberapa penonton yang
terlihat mendramatisir ekspresi mereka ketika ditanya, juga kelihatan senang
karena berharap wajah mereka akan muncul di koran. Kemudian Masumi tersenyum
dan berbalik menatap Onodera.
“Kukira tidak akan seperti
itu, pak Onodera.” ujar Masumi sambil meletakkan gelasnya yang berisi wine di atas meja.
“Eh?” Onodera terlihat
kebingungan dengan kata-kata Masumi.
“Saya rasa sudah
waktunya saya kembali karena sudah tidak ada lagi pertunjukan yang harus
dilihat. Saya permisi dulu, pak Onodera,” ujar Masumi sambil mengulurkan
tangannya kepada Onodera yang langsung dijabat Onodera. “Terima kasih atas
pertunjukan yang mengesankan dari Teater Daito. Semua ini berkat kerja keras
Anda,”
“Ah, tidak,” ujar
Onodera yang tampak senang sekali dipuji seorang Masumi Hayami. “Semuanya juga
berkat bantuan dari Daito. Jika tidak ada Daito, malam ini tidak akan terjadi,”
Masumi hanya tersenyum
kemudian segera berbalik bersamaan dengan munculnya Shiori lagi di sampingnya.
“Apa kau sudah selesai,
Shiori? Aku bermaksud ingin kembali ke hotel, masih ada yang harus kukerjakan
malam ini. Tapi jika kau masih ingin tetap di sini, tidak masalah. Akan kusuruh
supirku kembali lagi menjemputmu,”
Apa
dia bilang? Meninggalkanku di sini sendirian dan jadi bahan gunjingan banyak
orang dimana Shiori Takamiya ditinggalkan oleh Masumi Hayami di gedung
pertunjukan? batin Shiori. Tidak! Shiori bertekad untuk mendapatkan Masumi dan dia tidak akan
membiarkan Masumi jauh darinya. Dia akan terus menempel di samping Masumi
sehingga gadis di luar sana tahu diri dan sadar jika Masumi sudah menjadi milik
orang, milik Shiori!
“Shiori? Apa kau
baik-baik saja? Keningmu berkerut dan kau seperti tengah berpikir serius. Ada
apa?”
Shiori segera sadar
dari lamunannya. Senyuman terlatihnya segera muncul kembali di wajahnya. “Ah, iya. Kurasa aku sedikit lelah. Aku
pulang bersamamu saja. Lagipula sudah tidak ada pertunjukan lagi malam ini.”
“Baiklah kalau begitu.
Kami permisi dulu, pak Onodera,” Masumi dan Shiori segera beranjak ke pintu
samping menghindari para wartawan. Masumi tidak mau ada berita mengenai dirinya
dan Shiori muncul. Tidak boleh ada berita lain yang mengganggu kesuksesan besar
Daito malam ini. Namun Shiori berpikir sebaliknya. Dia ingin sekali dirinya dan
Masumi bisa berjalan di tengah keramaian dan di tengah sorot kamera juga
pandangan mata orang banyak, sehingga semua orang bisa melihat bahwa Masumi
Hayami sudah punya gandengan.
Sebuah mobil hitam
muncul di depan pintu samping dan Shiori segera masuk ke mobil. Shiori
memandang Masumi yang masih saja berdiri di luar dan tidak masuk.
“Masumi, apakah kau
tidak mau masuk?”
Masumi tersenyum,
“Sebentar, Shiori. Aku ingin menelpon seseorang terlebih dahulu,”
Masumi mengeluarkan hand phone dari saku jasnya lalu memencet
beberapa tombol dan setelah beberapa nada sambung, ada suara yang menjawab
Masumi.
“Ah, Mizuki, ini aku.
Tolong kau hubungi beberapa orang yang akan kusebutkan dan laksanakan
instruksiku sekarang juga,” kemudian Masumi memberikan berbagai macam instruksi
kepada Mizuki dengan nada tegas dan tidak dapat ditolerir. “Aku berharap tidak
akan kecolongan. Apa kau mengerti, Mizuki?”
Masumi menekankan kata-kata terakhirnya. Mendengar jawaban positif dari Mizuki,
Masumi tersenyum dan kemudian segera mematikan sambungan telepon dan memasukkan
kembali hand phone ke saku jasnya.
Masumi kembali melihat beberapa kerumunan orang di pintu masuk utama gedung dan
wajahnya tampak serius dan dingin. Benar,
tidak akan kubiarkan ada kejadian apapun yang akan mengganggu kesuksesan Daito
malam ini...
###
Maya berjalan tanpa
tahu arah. Pandangan matanya tampak kosong. Matanya tampak merah dan bengkak.
Air mata yang terus-terusan mengalir tampak meninggalkan jejak di pipi Maya. Ia
bahkan tidak punya tenaga untuk menangis lagi. Ia bahkan tidak tahu apalagi
yang dirasakannya. Ia merasa mati rasa. Ia merasa tidak ingin apa-apa. Ia
merasa berjalan seperti tanpa tahu tujuan.
“(Hei, kalau jalan
lihat-lihat!)” ujar salah seorang pria yang bertubrukan dengan Maya.
Maya tidak menjawab dan
hanya menundukkan kepalanya.
“(Kau tidak lihat
wajahnya? Parah dan pucat sekali. Kelihatan seperti hantu),” ujar wanita yang
berjalan di samping pria tadi.
“(Tidak perlu kau lihat
dan perhatikan. Mungkin hanya seorang gadis gila yang berkeliaran di malam
Natal yang suci ini),”
Maya merasa sendirian
dan tersesat di tengah kerumunan orang yang berjalan kesana kemari. Belum
pernah hatinya terasa kosong dan jiwanya terasa lelah. Ia merasa sangat sakit
di hatinya tadi. Namun kenapa ia mati rasa sekarang? Maya memberanikan diri
menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia bisa melihat ayah, ibu, dan anak yang sedang
makan dengan bahagia di restoran. Ia juga bisa melihat sepasang kekasih tampak
bercengkrama dan bermesraan. Ia juga melihat ada seorang musisi jalanan yang
tengah memainkan gitar sambil bernyanyi lagu Natal dalam bahasa Perancis di
tengah keramaian. Banyak orang yang lewat yang menaruh uang di topi yang
terdapat di depan kaki musisi tersebut. Maya melihat musisi jalanan tersebut
dan tampak terhenyak. Di mata Maya, ia bukan melihat seorang musisi jalanan
melainkan orang lain. Orang yang sangat dia rindukan hingga ia merasa sesak dan
menangis. Orang yang masih membuatnya terus berjuang dan percaya akan adanya
masa depan hingga saat ini. Orang yang membuatnya masih terus percaya dan menunggu
bahwa orang itu akan datang.
Maya melihat seorang
pria tampan tengah memainkan gitar kepada seorang gadis mungil belasan tahun
berambut hitam legam di tengah gua ketika mereka di tengah salju yang turun.
Maya masih bisa mengingat suara pria itu dengan jelas, pandangan matanya yang
teduh, dan senyumnya yang hangat dan menangkan. Maya masih mengingat bagaimana
lagu yang dinyanyikan pria itu menghangatkan hatinya. Maya masih mengingat
bahwa saat itu juga pria itu memberikannya lonceng kecil yang katanya sebagai
tanda bahwa Maya bisa memanggilnya kapan saja ketika butuh bantuan.
“Bunyikan
saja lonceng itu. Aku pasti akan datang kepadamu...,”
“Ahhh...
darimana kau dapatkan kata-kata seperti itu? Aku jadi merinding...,”
Pria
itu tersenyum. “Aku serius! Kau bunyikan saja lonceng itu, aku pasti akan
datang ke tempatmu... kapan saja...,”
“Kapan
saja?”
“Iya,
kapan saja. Tapi jangan sering-sering kau bunyikan. Aku tahu kau akan sering
membunyikannya mengingat kau sering merindukanku, tapi jika kau membunyikan
terus-terusan aku juga bisa lelah bolak-balik menghampirimu,”
Gadis
itu merengut. “Kau tidak tulus! Katanya “kapan saja”! Apa kau tidak mau
menemuiku sering-sering? Apa kau... tidak akan kembali lagi?” wajah gadis itu
tampak sedih.
Pria
itu menatap gadis di depannya dan kemudian memeluknya. “Aku pasti kembali,
Maya. Aku pasti kembali. Percayalah padaku, apapun yang terjadi, aku pasti akan
kembali ke tempatmu. Jika kau butuh aku, bunyikan saja lonceng itu...,”
“Janji?”
Pria
itu tersenyum dan mengecup kening gadis itu. “Janji... Memang aku pernah
mengingkari janjiku padamu?”
Gadis
itu tersenyum. “Tidak, ‘sih...”
Pria
itu mengeratkan pelukannya. “Aku pasti akan kembali padamu, Maya. Dan bukan
untuk pergi lagi. Aku pasti akan kembali padamu dan tinggal denganmu untuk waktu
yang lama... Itu janjiku kepadamu...”
Suara musisi
jalanan yang mengucapakan terima kasih
kepada beberapa orang yang memberikan uang menyadarkan kembali Maya dari
memorinya. Maya menatap orang di sekelilingnya. Tidak ada pria itu... tidak ada
suara gitar itu... tidak ada janji itu...
Pembohong...
pembohong!!! Katanya akan kembali, katanya sudah janji!
Maya bisa merasakan air
matanya kembali hendak mengumpul di matanya. Ia segera berbalik dan berlari
menerobos kerumunan orang, tidak mempedulikan banyak orang yang ditabrak dan
memakinya. Di kepalanya hanya terdapat wajah satu orang, di hatinya ia hanya
meneriakkan nama satu orang.
Sakit...
rasanya terlalu sakit. Terasa mau mati...
Maya menghentikan
larinya untuk mengatur nafasnya. Air matanya tidak mau berhenti mengalir. Maya
tidak tahu ia di mana dan ia tidak peduli. Ia tidak bisa melihat apapun lagi
yang ada di depannya. Harapannya, penantiannya, semuanya hancur. Semuanya
selesai. Tidak ada lagi yang harus diperjuangkan dalam hidupnya. Di saat banyak orang bahagia, hanya aku saja
yang merayakan malam Natal ini sendirian. Kesepian. Sakit. Kecewa. Aku ingin
sekali membencimu tapi aku tidak bisa... kamu sudah membohongiku, kenapa kamu
tega-teganya meninggalkanku sendirian. Kenapa... kenapa?
Tiba-tiba angin kencang
berhembus dan Maya seperti terhenyak. Ia menengadahkan kepalanya dan kemudian
ia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdetak cepat. Tepatnya seseorang.
Orang itu... Sosok
orang itu... Orang yang dirindukannya beberapa tahun terakhir ini dan selalu
menghantui mimpinya. Orang yang tidak pernah ia lupakan. Maya melihat sosok itu
dengan jelas di mobil hitam yang berada di tengah keramaian lalu lintas.
Meskipun tidak terlihat jelas, namun hati Maya mengenal orang itu. Segala saraf
di tubuh Maya yang tadi serasa mati kembali bekerja. Jantungnya berdetak
kencang. Matanya menatap sosok itu tidak percaya.
Dia
masih hidup... Dia masih hidup!!!
Mobil hitam itu
melintas meninggalkannya dan membuat Maya sontak segera menggerakkan kakinya
untuk mengejar mobil itu.
“Tunggu!!! Tunggu!!!”
Maya berteriak membuat orang-orang di sekitarnya menolehnya heran. Banyak orang
yang ditubruknya namun Maya tidak peduli. Maya benar-benar tidak peduli. Maya
harus mengejarnya, Maya tidak boleh lagi kehilangannya.
“Sora!!! Sora!!!
Tunggu!!!” Maya terus berteriak mengejar mobil itu yang perlahan hilang dari
pandangan.
Kumohon
jangan pergi!!! Jangan tinggalkan aku lagi sendirian... Kamu janji mau kembali,
‘kan!? Kenapa sekarang kau menjauh dan meninggalkanku? Aku di sini! Maya-mu di
sini! Kumohon, Sora! Menolehlah!
“SORRAAA!!!!
Tunggu!!!!” Maya terus meneriakkan namanya namun mobil itu semakin lenyap dari
pandangan. Maya dapat melihat mobil itu membelok ke kiri jalan dan Maya tidak
punya pilihan lain untuk menyebrang jalan karena ia berada di sisi kanan jalan.
Ketika Maya menyebrang jalan ia dapat melihat ada sinar menyilaukan menuju ke
arahnya dan sedetik kemudian ia merasakan tubuhnya terlempar dan terjatuh di
jalan. Hanya sakit yang dirasakan di sekujur tubuhnya.
“So... ra...,” ujar
Maya, lirih.
Aku
janji... Aku akan datang ke tempatmu kapan saja...
Maya merasakan matanya
semakin berat. Ia mendengar banyak orang berteriak di sekelilingnya. Namun ia
hanya dapat mengingat wajah satu orang.
Kamu
ada di sini karena kamu masih hidup, ‘kan? Apa yang kulihat itu hanya ilusi?
Sekarang tubuhku sakit sekali... Apa aku akan mati?
Mati...
Kalau aku mati, aku bisa bertemu denganmu, ‘kan disana? Kau akan menjemputku,
‘kan sekarang?
Maya menutup matanya
sambil menggenggam erat loncengnya. Ia hanya bisa mengingat satu sosok sebelum
kesadarannya hilang sepenuhnya.
###
Masumi tampak sibuk
dengan hand phone nya membuat Shiori
cemberut. Sudah di mobil pun hanya
pekerjaan saja yang ia pikirkan! Padahal di jok belakang ini hanya ada kami
berdua!
“Masumi... kamu sedang
apa?”
“Ah.. ini. Aku sedang
mengurus beberapa urusan penting mengingat kita sebentar lagi akan pulang ke
Jepang. Di Jepang sudah banyak proyek menanti Daito,”
“Proyek lagi? Tampaknya
kau sibuk sekali, ya, Masumi...,”
“Begitulah. Setelah pulang
ke Jepang aku berencana akan ke luar kota lagi untuk meeting dengan beberapa klien. Jadwalku sudah sangat sibuk beberapa
bulan ke depan,” ujar Masumi yang tampak antusias memikirkan banyak hal yang
akan menambah kesuksesan Daito di depan sana.
Shiori menggigit
bibirnya. Ia ingin sekali bertanya kepada Masumi. Kapan waktumu untukku? Masumi selama ini selalu bersikap sangat
lembut dan bertindak seperti seorang gentleman
ketika bersamanya. Masumi selalu memiliki kendali kontrol dan emosi yang
luar biasa tenang ketika bersamanya. Shiori senang karena ia merasa sangat
dihargai dan terhormat namun entah kenapa ketika ia melihat bagaimana kisah
cinta di televisi ataupun di buku-buku yang dibacanya, ia ingin sekali Masumi
bersikap lebih... liar. Ia ingin melihat kendali Masumi lepas ketika
bersamanya. Namun melihat keadaan mereka selama ini, rasanya hal tersebut
mustahil. Shiori bisa memimpikannya saja sudah cukup senang. Yang Shiori
butuhkan hanya bersabar dan menjadi wanita pengertian yang menerima segala kesibukan
Masumi. Ia tidak mau Masumi meninggalkannya karena dirinya yang posesif dan
pengatur. Ia tidak mau pertunangannya dengan Masumi batal.
Masumi sendiri bukannya
tidak tahu niat wanita yang ada di sebelahnya. Ia sangat mengerti. Namun
pertunangan mereka hanya sekadar untuk bisnis, tidak dilandasi dengan cinta. Huh... di dunia ini tidak ada yang namanya
cinta. Masumi hanya ingin berkonsentrasi untuk kemajuan Daito, agar Daito
akan selalu berada di dalam kekuasaannya, bukan ayahnya. Masumi tidak punya waktu
untuk meladeni emosi cengeng dari wanita. Jika memang wanita dan cinta hanya
bisa menjadi pengganggu, singkirkan.
“Sepertinya malam ini
ramai sekali, ya. Macet dimana-mana,” komentar Shiori sambil lalu.
Memang benar, Masumi
melihat kerumunan banyak orang di jalan dan bagaimana dirinya pun tengah
terjebak dalam kemacetan. Tidak masalah. Malam ini merupakan kesuksesan besar
bagi Daito dan Masumi akan memastikan euforia tersebut tidak akan berakhir
hanya sampai malam ini. Tiba-tiba Masumi merasakan ada angin berdesir di
tengkuknya. Mobil Masumi mulai berjalan kembali dan Masumi merasakan ada suara
yang memanggil namanya. Masumi segera menolehkan kepalanya ke belakang namun ia
hanya bisa melihat kerumunan orang dan mobil di belakangnya.
Apa
hanya perasaanku saja?
“Kenapa, Masumi? Ada
apa?” Shiori bertanya dan ikut menoleh ke belakang.
“Ah, tidak... tidak ada
apa-apa...,” Masumi kembali sibuk dengan pekerjaannya dan tidak mempedulikan
hal yang baru saja terjadi padanya. Mobil Masumi terus melintas menembus keramaian
malam Natal menuju hotel tempat Masumi menginap. Sesampainya di hotel, Shiori
dan Masumi segera turun.
“Kau istirahatlah,
Shiori. Aku masih ada beberapa urusan di lobi hotel,”
“Apa kau bisa
menemaniku makan pagi besok?” tanya Shiori penuh harap.
“Tentu saja. Aku akan
menemuimu besok untuk makan pagi,” jawab Masumi, hangat.
Shiori tampak senang
dan setelah mengucapkan selamat malam pada Masumi, ia segera berbalik dan masuk
ke dalam hotel.
Masumi hendak
mengeluarkan hand phone nya ketika ia
sadar jika hand phone nya tertinggal
di jok kursi penumpang mobilnya. Masumi segera berbalik masuk ke mobilnya yang
masih menyala dan mengambil hand phone nya.
Sesaat ketika Masumi keluar dan menutup pintu mobilnya, suara radio di mobilnya
berbunyi,
“(Terjadi
kecelakaan di jalan raya kota Paris malam ini. Korbannya merupakan seorang
gadis Asia berambut hitam legam. Terjadi pendarahan di kepalanya. Gadis
tersebut sudah dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya terlihat tidak baik....)”
###
Di ruang ganti pemain,
tampak keramaian para pemain Daito merayakan kesuksesan mereka malam itu. Koji
memilih tidak ikut dalam keramaian tersebut dan membereskan barang-barangnya ke
dalam tas.
“Hei, Koji! Apa kau mau
ikut perayaan kesuksesan kita bersama? Aku dan yang lain berencana untuk
mengunjungi salah satu klub dan minum-minum di sana!” ujar salah seorang pemain
yang merangkulkan lengannya di bahu Koji.
Koji hanya tersenyum.
“Hati-hati nanti kalian ketahuan minum-minum. Kau tahu kalau pak Onodera bahkan
pak Masumi Hayami sampai tahu, bisa habis kalian,”
“Aishhh! Jika tidak ada
yang bilang-bilang, tidak akan ketahuan! Kita sudah menghabiskan waktu kita di
sini hanya untuk latihan, latihan, dan latihan untuk pementasan!”
“Bukankah memang itu
tujuan kita datang ke sini?”
“Aku tahu! Tapi ‘kan
pementasan sudah selesai dan sukses! Kita harus memanfaatkan waktu luang kita
sebaik-baiknya menikmati suasana malam Paris sebelum kita kembali ke Jepang!
Apa kau tahu jika wanita Paris cukup hot untuk
dilihat?” Koji yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala. Setelah selesai
merisleting tasnya, Koji segera memakai jaket dan membawa tasnya.
“..... lumayan ‘kan
kalau kita bisa bermain dengan salah satu wanita Paris untuk semalam? Aku
sempat melihat mereka sangat okeee... lekukan tubuhnya wowww...,” Koji segera
memukul kepala temannya. “Awww! Koji, apa yang kau lakukan!? Bisa-bisanya kau
memukul kepalaku seperti itu!”
“Apa yang ada di
pikiranmu hanya ada hal-hal kotor seperti itu saja? Ckckck, pantas saja kau
tidak dapat pacar terus. Bersihkan pikiranmu dan kembalilah ke jalan yang
benar,” Koji tertawa kecil sambil beranjak ke pintu.
“Kau tidak seru, Koji!”
rengek temannya. “Apa kau tidak mau ikut pesta kita malam ini? Ayumi memilih
untuk tidak ikut, ayolah kau ikut! Masa pemeran utama kita dua-duanya tidak
ikut!”
“Tidak, terima kasih!
Aku mau kembali ke hotel dan istirahat! Selamat bersenang-senang!” Koji
melambaikan tangannya sambil terus berjalan.
Dalam perjalanannya
menuju tempat parkir motor, Koji bisa melihat banyak sekali wartawan yang
berkumpul. Pertunjukan malam ini memang bisa dibilang sukses. Belum lagi ada
kejadian mendadak yang muncul dari Teater Mayuko. Koji memilih keluar lewat
pintu belakang karena ia tidak mau lagi meladeni permintaan wawancara dari
wartawan yang beruntun. Ia merasa lelah dan segera ingin istirahat.
Koji meletakkan tasnya
di atas motor mewah yang disewakan Daito untuknya selama ia berada di Paris.
Koji menolak diberikan fasilitas mobil dan memilih motor karena lebih simpel.
Mengingat prestasi dan kinerjanya selama ini untuk Daito, tentu saja Daito
dengan senang hati menyewakan motor untuk digunakan Koji selama di Paris. Uang
bensinnya pun Daito yang menanggung. Namun Koji cukup tahu diri dan memilih
untuk menggunakan fasilitas Daito dengan seefektif dan seefisien mungkin.
Koji menjalankan
motornya dan segera bergabung dengan kemacetan lalu lintas jalan. Wajar saja,
malam ini merupakan malam Natal dimana semua orang tampak bersukacita. Keluarga
berkumpul, dua sejoli memadu kasih, hari dimana para pekerja bisa beristirahat.
Koji memberhentikan motornya ketika lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
Memang banyak mobil berada di depan Koji, namun Koji bisa melihat ekspresi
bahagia dari para penyebrang jalan juga para pejalan kaki di trotoar. Koji juga
bisa melihat menara Eiffel yang bersinar terang dari kejauhan juga sinar
rembulan penuh di langit malam. Bintang-bintang pun tampak bersinar dengan
cemerlang.
Malam
yang indah. Hari ini seharusnya menjadi hari yang baik dan membahagiakan bagi
semua orang...
Lampu pejalan kaki berubah
menjadi merah. Koji melihat banyak mobil di depannya mulai berjalan sehingga ia
sendiri mulai mempersiapkan motornya untuk kembali melaju melintas keramaian
Paris. Namun tiba-tiba suara decitan rem mobil dan hantaman keras mengejutkan
Koji. Suara teriakan keras dari banyak orang membuat Koji segera turun dari
motornya dan melihat ke sumber keributan.
“(Ada seorang gadis
tertabrak!!)”
“(Aku berani sumpah,
aku tidak sengaja menabraknya! Gadis ini yang tiba-tiba muncul dan menyebrang
begitu saja!)”
“(Lihat banyak darah
keluar dari kepalanya! Cepat panggil ambulans!!!)”
“(Apa ada di antara
kalian yang mengenal gadis ini?)”
Suara dan teriakan
orang terdengar bergantian. Koji menerobos kerumunan orang menuju sumber dari
keramaian orang yang berkumpul di tengah jalan. Koji terhenyak ketika melihat
pemandangan di depannya. Seorang gadis yang dikenalnya, berambut hitam legam,
tampak tergeletak dengan banyak darah keluar dari kepalanya. Koji segera
menghampiri gadis tersebut dan berteriak kepada orang di sekelilingnya,
“(Cepat panggil
ambulans! Kenapa kalian diam saja! Cepat panggil ambulans!)” Koji berteriak
frustasi kemudian menatap gadis yang ada di dekapannya. “Bertahanlah. Kumohon,
bertahanlah!”
Kelihatannya
malam Natal yang indah dan bahagia tidak berlaku bagi semua orang...
###
Categories
Author: Airin,
Fanfic: Serial
Thursday, 26 January 2012
Fanfik TK : Fated to love you, only you ch 2
Rate : 18 +
Warning : Mature Relationship
Genre : Romance
Warning : Mature Relationship
Genre : Romance
Fated To Love You, Only You ch 2
(BY AIRIN )
(Paris, 20xx, saat ini)
Di sebuah kamar kecil dalam sebuah gedung pertunjukan, terlihat
seorang gadis mungil berambut hitam legam sedang duduk diam di atas kloset.
Tangannya terlihat menggenggam sebuah kalung berbentuk lonceng kecil, seperti
lonceng yang dipakaikan ke hewan-hewan peliharaan. Pandangannya lurus ke depan,
tampak kosong dan menerawang. Tubuhnya sedikit membungkuk ke depan. Suara
seorang gadis terus terlintas di otaknya, bergema liar dalam pikirannya.
“Kak Sora sudah tidak ada lagi, Maya!”
Genggaman gadis itu di kalung berbentuk lonceng semakin
erat. Ia teringat ketika gadis berdandan tebal dan berambut bergelombang itu
menemuinya, menyampaikan kabar itu.
“Aku tidak bohong. Kak Sora memang sudah meninggal.”
Tidak.. tidak... kak Sora tidak mungkin... Kak Sora tidak
mungkin.. Dia, dia sudah berjanji...
Dada Maya terasa nyeri. Tangannya gemetar, tak selang
berapa lama tubuhnya juga ikut bergetar. Mulutnya yang bergetar membuka,
seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak bisa.
“Terimalah kenyataan ini, Maya. Kak Sora sudah tiada.
Sebenarnya sudah dari dulu ingin kusampaikan kabar ini, tapi aku tidak berani.
Aku sendiri juga shock...”
“Hahhh.. hahhh...,” yang terdengar dari mulutnya yang
bergetar hanya seperti suatu rintihan.
Dari dulu? Kapan? Kenapa.. Kenapa baru sekarang...
Tidak.. Tidak.. Ini pasti mimpi, ya, semua mimpi buruk...
Maya memejamkan matanya erat. Ia berharap semua yang baru
saja terjadi, semua yang baru saja ia dengar, benar-benar hanyalah merupakan sebuah
mimpi buruk. Beberapa detik kemudian, ia membuka matanya dan yang dilihatnya
tetap sama. Ia masih berada di dalam sebuah kamar mandi, duduk di atas kloset.
Kecuali suasana yang hening tadi berubah dengan terdengarnya tepuk tangan
membahana dari suatu ruangan dalam gedung pertunjukan ternama di Paris tersebut.
Tampaknya baru saja ada suatu pertunjukan yang selesai ditampilkan dan
mendapatkan sambutan positif serta sukses dari para penonton.
Namun Maya tidak bisa mendengar semua itu. Yang bisa ia
dengarkan sekarang hanyalah gemuruh dalam dadanya, seperti ada badai yang
datang dan bersiap untuk memporak-pondakan dirinya. Maya sama sekali tidak
mengerti dan tidak ingat, mengapa ia bisa di sini sekarang, apa yang ia lakukan
di sini. Yang ia ingat hanyalah kata-kata gadis itu dan satu wajah yang sangat
dirindukannya selama bertahun-tahun.
Kak Sora.. Kak Sora... Kak Sora... Apa itu benar? Jadi
alasannya kau tidak membalas suratku lagi... kau tidak menemuiku.. itu
karena...
Maya mengangkat salah satu tangannya, sementara tangannya
yang lain tetap menggenggam erat kalung berbentuk lonceng tersebut. Tangannya
yang terangkat sedikit ia kepalkan dan pukul-pukulkan ke dadanya. Sesak,
sesak sekali. Maya merasa tidak bisa bernafas dengan benar. Nafasnya
terdengar tidak teratur. Bahunya bergerak naik turun.
Tidak.. Itu bohong, ‘kan? Semua itu bohong, ‘kan? Yang
dikatakannya bohong, ‘kan, kak Sora?
Maya merintih dan sekarang suaranya terdengar seperti
orang yang sedang sesenggukan. Bibirnya bergetar kencang, begitu pula tubuhnya.
Ia terus memukul dadanya. Kalung lonceng yang ada di tangannya perlahan
digerakannya, dan bunyi pelan dari lonceng terdengar.
Sementara dari ruangan besar tempat suatu pertunjukan
berlangsung, tepuk tangan terus. Kerasnya gemuruh di dada Maya sekarang sama
besarnya dengan kerasnya suara tepuk tangan itu. Maya menutup mulutnya agar
tangisnya yang hampir pecah tidak terdengar sampai keluar. Seluruh tubuhnya
bergetar dan terasa mati rasa, yang ia rasakan hanyalah rasa sakit dan sesak
yang amat sangat di dadanya.
Tidak mau.. aku tidak mau percaya... itu tidak benar,
‘kan? Kak Sora, kumohon jawab aku.. katakan kalau itu semua tidak benar...
Bunyi lonceng terus terdengar perlahan. Maya
membunyikannya terus tanpa sadar. Separuh jiwa Maya terbang entah kemana dan ia
mencarinya. Ia tidak mau percaya apa yang didengarnya tadi. Badai yang datang
itu sekarang telah sukses memporak-pondakan dirinya, juga dunianya.
♪ ♪ ♪
Dari sebuah ruangan kecil yang di depannya tertempel
tulisan “Ruang Ganti Teater Mayuko, Jangan Masuk Selain yang Berkepentingan”,
terlihat Mina mengintip sedikit dari balik pintu, lalu menutup pintu itu
kembali. Mina menghela nafas. “Tidakkah kau dengar tepuk tangan itu? Hebat
sekali... Aiooo... Teater Hayami memang tidak perlu diragukan lagi,”
Taiko terlihat mondar-mandir gelisah, “Bagaimana ini? Aku
gugup. Mengapa kita harus tampil setelah mereka, ‘sih? Bagaimana jika
penampilan kita buruk?”
“Selain itu, kali ini pertama kalinya kita dapat
kesempatan untuk tampil di luar Jepang. Ini Paris, Tuan dan Nyonya! Untung saja
kita tidak perlu berlatih bahasa Perancis karena penonton mendapatkan panduan
dialognya dalam bahasa Perancis. Kalau saja kita disuruh belajar bahasa juga,
aku bisa gila!” kata Mina.
Pemain lain yang berada dalam ruangan itu juga tampak
berbisik-bisik, tampaknya mereka juga merasakan kegugupan yang sama.
“Hei, sudahlah, teman-teman. Tenang saja, jangan panik!”
kata Rei sambil menutup kotak riasnya setelah membetulkan bedaknya.
“Wow, seperti biasa kau terlihat tampan, Rei! Hmm,
mungkin sebaiknya kupanggil Lysander?” ujar Mina tertawa menggoda.
“Terima kasih atas pujiannya, Ratu Titania. Tapi maaf
saja, aku sama sekali tidak senang dipuji tampan seperti itu,” Rei sedikit
menggerutu.
“Salahkan wajahmu yang tampan, Rei. Tapi teater kita juga
setidaknya berterima kasih pada wajah tampanmu karena kau populer di kalangan
para gadis. Jadinya banyak gadis yang datang untuk menonton,” kata Mina.
“Dan semoga hal itu berlaku juga di Paris, Rei. Semoga
para wanita berambut pirang itu tertarik padamu, mengingat rambutmu juga
berwarna sama seperti mereka,” lanjut Taiko, tertawa.
Rei hanya menggerutu dan menghela nafas. Ya, sudah
biasa... Rei meniupkan nafasnya dari mulut ke atas sehingga menerbangkan
beberapa helai poninya.
“Aku juga gugup, kau tahu? Tapi, kita sendiri tahu bahwa
kita sudah berlatih sebaik-baiknya, pasti bisa!” kata Rei sambil mengeratkan
pegangannya pada pedang plastik yang terletak menyamping di bagian pinggang
kostumnya. Rei mengambil kursi kosong di dekatnya dan beranjak duduk, diikuti
teman-temannya yang lain yang ikut untuk menenangkan diri dari kegugupan
mereka.
“Ngomong-ngomong Puck kita dimana, ya? Bukankah sebaiknya
dia sudah di sini dan segera bersiap-siap,” suara Taiko memecah keheningan.
“Maya? Katanya ada teman jauhnya datang dan dia mau
menemuinya sebentar. Maya tinggal ganti baju saja, ‘kok. Lagipula Sayaka sedang
memanggilnya sekarang,” jawab Mina sambil membetulkan riasan matanya.
Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka, membuat semua yang
awalnya sudah mulai tenang menjadi terkejut dan melihat ke arah sumber pembuat
gaduh.
“Aduh, Sayaka! Kau membuatku kaget saja, aku bisa terkena
serangan jantung tahu! Untung saja eye
shadow ku tidak tercoret dan
merusak riasan mataku,” gerutu Mina sambil menaruh alat riasnya. “Ada
apa, ‘sih, kau tampak panik begitu?”
“Jangan lari-lari, Sayaka. Lihat saja, kau keringatan!
Masa yang berperan jadi Hermia, sang gadis cantik pusat perhatian, keringatan?
Penonton bisa kabur semua, tahu!” ujar Taiko, geli.
Sayaka terlihat terengah-engah. “Apa Maya tidak ke sini?”
“Tidak. Bukankah dia tadi bilang mau keluar sebentar
bertemu teman jauhnya? Dan bukankah tadi kau bilang mau keluar memanggilnya?”
tanya Taiko, heran.
Sayaka menelan ludahnya, wajahnya terlihat pucat. Mina
terlihat heran dan menghampiri Sayaka, “Hei, ada apa Sayaka? Mengapa kau
terlihat pucat begitu? Riasanmu bisa rusak, tahu,” tegur Mina.
“Gawat! Maya tidak ada!!” seru Sayaka, akhirnya.
“Apa?!” Rei segera berdiri. “Bagaimana bisa? Bukankah
tadi dia bilang katanya mau keluar untuk menemui temannya?”
“Aku pikir juga begitu. Tadinya aku pikir mau
mengingatkan Maya untuk segera bersiap, tapi ternyata dia tidak ada. Aku
mencarinya kemana-mana, lalu aku pikir dia sudah kesini. Ternyata...,” Sayaka
menghentikan ucapannya. “Bagaimana ini?” Sayaka terdengar sangat panik.
Rei berdiri dan ikut panik. Ia menoleh kepada setiap
orang yang ada di dalam ruangan tersebut. “CEPAT! Kita semua harus segera
mencari Maya di seluruh gedung ini! Kita harus temukan dia secepatnya!”
“BAIK!!” semua yang ada di ruangan itu segera berdiri dan
bersiap untuk mencari Maya.
Rei menoleh kepada Sayaka, “Apa ibu guru sudah tahu?”
“Belum. Bagaimana ini, Rei?” seru Sayaka, panik.
“Ada apa ini? Kenapa ribut dan semuanya belum
bersiap-siap?” terdengar suara dari pintu yang masih terbuka. Semua yang ada di
dalam ruangan menoleh kepada asal suara itu dan seketika wajah mereka menjadi
pucat pasi. Sayaka dan Mina yang berada paling dekat terdiam, tidak bisa
menjawab. Mereka berdua terlihat mundur perlahan.
“Ibu guru Mayuko?” seru Rei. Ia tidak menyangka gurunya
akan muncul secepat ini sebelum mereka sempat menemukan Maya.
“Ada apa? Kenapa tidak ada yang menjawab?” semua orang di
dalam ruangan itu terdiam dan menundukkan kepala mereka. Mayuko menatap Rei.
“Rei, jawab aku. Ada apa ini?”
“Bu.. bu guru..,” Rei menjawab terbata, takut. “Maya...,”
“Ada apa dengan Maya? Mana dia? Aku tidak melihatnya...,”
Mayuko mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan tiba-tiba ia
tersentak. Ia menoleh pada Rei lagi, “Rei, jangan katakan kalau anak itu...”
Rei menatap Mayuko, lemah. “Iya, bu.. Maya, dia hilang,
bu...”
“APA!? HILANG!? ” seru Mayuko, tidak bisa menyembunyikan rasa
terkejutnya.
♪ ♪ ♪
Dari ruangan tempat pertunjukan berlangsung, suasana
tampak hening setelah tepuk tangan yang sempat terdengar membahana tadi.
Tiba-tiba lampu yang awalnya gelap dinyalakan. Tirai di panggung yang tadinya
tertutup terlihat terbuka lagi dan ada beberapa orang keluar dari tirai
tersebut. Mereka ialah para pemeran pertunjukan drama yang baru saja
berlangsung, yang keluar lagi ke panggung untuk melakukan penghormatan kepada
para penonton. Tepuk tangan kembali terdengar.
“(Benar-benar pertunjukan drama yang luar biasa, ya!)”
komentar dari beberapa penonton terdengar dalam bahasa Perancis.
“(Benar, pasangan pemeran utamanya memerankan dengan
sangat baik sekali! Tidak heran jika Yuu Sakurakoji dan Ayumi Himekawa disebut
sebagai aktor dan aktris terfavorit di Jepang. Hebatnya, usia mereka juga masih
sangat belia!)” timpal yang lain.
“(Aku masih teringat jika aku sempat menahan nafas ketika
melihat akting mereka berdua, apalagi saat adegan perpisahan. Mereka bisa
menampilkan emosi mereka dengan sangat baik sekali!)”
“(Tinggal menunggu waktu saja hingga mereka berdua
menjadi selebritis di Perancis!)”
Dan sambutan semakin meriah ketika kedua orang yang
dibicarakan tersebut keluar. Tampak seorang lelaki, ia masih terlihat sebagai
seorang remaja, tinggi dan tampan, berumur sekitar 20-an. Di sebelahnya tampak
seorang gadis yang cantik bagai bidadari dengan rambutnya yang panjang dan
bergelombang dengan indah, ditata dengan sedemikian rupa. Gadis itu
mengalungkan lengannya di lengan lelaki tersebut. Mereka berdua tampak
tersenyum ramah dan memberikan penghormatan dengan melambaikan tangan lalu
membungkukkan badan ke arah penonton. Lelaki dan gadis itu ialah kedua pemeran
utama, Yuu Sakurakoji dan Ayumi Himekawa.
Sementara itu, di tengah kerumunan dan histeria serta
tepuk tangan para penonton, tampak seorang pria yang hanya duduk memandang ke
panggung tanpa minat. Wajahnya tampak dingin. Tidak tampak senyum dari bibirnya
dan ia tidak tampak berminat dengan pertunjukan drama yang baru saja berlangsung.
Ia tidak ikut berteriak, bertepuk tangan ataupun mengeluarkan sedikit kata-kata
pujian. Mulutnya terkunci. Salah satu kakinya terletak menyilang di atas
kakinya yang satu lagi, dan salah satu tangannya mengepal menopang dagunya. Benar-benar
posisi duduk seorang pemimpin, seorang penguasa.
“Tampaknya kau tenang sekali, Masumi,” seru wanita berambut
panjang dan hitam bergelombang di sebelahnya yang sedang ikut bertepuk tangan. “Kau
daritadi diam saja, apa kau tidak senang? Lihatlah, pertunjukan malam ini dapat
sambutan yang sangat positif dari penonton. Dengarkan tepuk tangan yang tiada
henti ini. Kau sukses malam ini, Masumi. Apakah kau tidak senang?” tanya wanita
itu.
“Begitukah?” Masumi membetulkan posisi duduknya ke posisi
“orang biasa”, dan menatap wanita di sampingnya. “Apakah kau senang dengan
pertunjukannya, Shiori?” tanya Masumi lembut.
Wanita bernama Shiori itu merona, mendengar Masumi
menatapnya dan memanggilnya dengan lembut. “A... aku senang. Tentu saja aku
senang sekali. Luar biasa, Masumi. Terima kasih telah mengajakku,”
“Tidak masalah,” Masumi kembali mengarahkan pandangannya
ke arah panggung. “Lagipula, aku juga senang sekali dengan kesuksesan
kali ini, ‘kok...” jawab Masumi, tenang.
Meski diam, bukan berarti Masumi tidak tahu bagaimana
reaksi para penonton di sekelilingnya. Ia tidak tuli. Ia tahu respon penonton
sangat positif dan memang malam ini pertunjukannya bisa dikatakan sangat
sukses. Tepuk tangan terus terdengar tiada hentinya dan hal itu sudah biasa
bagi Masumi. Ia biasa mendengarkan respon semacam itu. Masumi tersenyum samar,
pandangan matanya terlihat tajam. Sedikit lagi... Paris akan ada dalam
genggaman Daito, genggamanku. Sedikit lagi...
♪ ♪ ♪
“Selamat, Masumi Hayami. Dengan suksesnya pertunjukan
malam ini, Daito akan semakin terkenal. Tidak hanya di pasar nasional, tetapi
juga internasional,” seru seorang pria gemuk pendek setengah botak dan berkaca
mata menghampiri Masumi. Masumi Hayami, Direktur Daito, menjadi pusat perhatian
sekarang, dimana banyak blitz kamera mengarah padanya.
Pertunjukan drama telah berakhir dan ada waktu break selama
satu jam sebelum menuju ke pertunjukan berikutnya oleh teater yang lain. Sesuai
rencana akan ada dua teater yang akan tampil dalam gedung pertunjukan ternama
tersebut, yaitu teater dari Daito dan teater Mayuko. Kedua teater itu menampilkan
drama yang berbeda. Adanya pertunjukan drama dari kedua teater Jepang tersebut
dimaksudkan untuk mengundang para penonton yang tinggal di Paris, dari kalangan
atas hingga bawah untuk datang menonton. Biaya yang masuk akan digunakan
sebagai sumbangan kepada Yayasan Anak Asuh yang tersebar di Paris. Dengan kata
lain, pertunjukan malam itu merupakan pertunjukan amal.
Masumi hanya tersenyum. “Terima kasih atas sanjungannya
dan kesediaan Anda untuk menghadiri pertunjukan ini di tengah kesibukan Anda,
pak Kurokawa. Saya harap ke depannya perusahaan Anda tetap setia untuk
mendukung Daito,” jawab Masumi tenang.
“Tentu, tentu saja! Anda bicara apa, Tuan Hayami? Saya
akan selalu menyediakan waktu untuk Anda dan Daito, sama sekali bukan masalah
besar!” seru produser Kurokawa, terkekeh. “Semoga kita bisa bekerja sama untuk
ke depannya dan Anda akan bersedia untuk memakai beberapa artis dari teater
kami,”
Masumi hanya tersenyum tenang. “Saya permisi dulu, pak
Kurokawa. Saya harus menemui yang lain,” kata Masumi sambil berlalu.
“Ah, ya, silakan. Kaulah Rajanya malam ini, Tuan Hayami,”
teriak pak Kurokawa dari kejauhan, dengan harapan Masumi yang sudah menjauh
bisa mendengarnya.
Penjilat. pikir Masumi. Ia sudah
terbiasa dikelilingi oleh orang-orang semacam itu. Orang yang sebenarnya hanya
ingin menebeng nama besar Daito. Berharap artis-artis dari teater mereka bisa
diorbitkan menjadi artis terkenal oleh Daito. Namun mereka tidak tahu bahwa
usaha mereka untuk “memanfaatkan” Daito dibalikkan begitu saja oleh seorang
Masumi Hayami. Merekalah yang justru akan aku manfaatkan. Pertunjukan
amal malam ini sebenarnya secara finansial tidak menguntungkan bagi Daito,
malah Daito harus mengeluarkan cukup banyak biaya untuk pertunjukan di Paris
kali ini. Masumi cukup sadar, pertunjukan berkaliber internasional bukanlah
untuk main-main.
Namun bukan Masumi namanya jika tidak memikirkan efek
jangka panjangnya. Dengan berpartisipasinya Daito di pertunjukan amal semacam
ini, Daito tentu akan dianggap sebagai perusahaan yang cukup peduli terhadap
aksi sosial dan penderitaan kalangan bawah. Tentu saja akan menimbulkan respon
positif dari masyarakat terhadap Daito. Daito tidak akan dianggap sebagai
perusahaan yang dingin dan tertutup, sulit dijangkau, seperti yang dikesankan
ketika Daito masih dalam kendali Eisuke Hayami. Masumi tertawa dalam hati, penderitaan
mereka adalah keuntungan bagiku. Dan tentu saja Masumi tidak akan
sembarangan memilih pertunjukan amal untuk mementaskan suatu pertunjukan drama
profesional dari teater Daito. Masumi tahu jika akan banyak wartawan juga orang
kalangan atas di Paris, baik yang merupakan penduduk asli Paris ataupun tidak,
akan datang malam ini. Mengingat harga tiketnya mahal dan juga gengsi yang
tinggi dari para penonton yang datang, hampir bisa dipastikan penontonnya
merupakan orang kalangan atas yang rela mengeluarkan biaya berapapun. Mereka
tidak hanya membayar tiket masuk tapi ada juga yang memberikan sumbangan secara
pribadi.
Masumi tertawa memikirkan semua itu. Orang-orang kalangan
atas membuatnya muak, berbuat baik dengan harapan dilihat orang. Tapi, yah,
tidak masalah, tindakan mereka membawa keuntungan bagi Masumi dan Daito, karena
mereka semua rata-rata juga merupakan penjilat. Para anggota kalangan atas
tersebut menghampiri Masumi dan memujinya, memuji Daito, mengingat Daito lah
pusat kesuksesan malam itu. Mereka mengatakan dengan suara keras mereka sangat
senang karena dengan adanya pertunjukan teater dari Daito bisa menyumbangkan
kekayaan mereka, dan segala macam alasan mulia dan kata-kata mutiara lainnya,
di tengah banyaknya wartawan juga blitz kamera. Tidak masalah asalkan Daito
mendapatkan posisi di Paris, ibu kota sekaligus pusat daya tarik Perancis.
Masumi Hayami tidak akan mengomentari tindakan mereka selama mereka
menguntungkan. Ya, semuanya sudah sangat diperhitungkan oleh seorang Masumi
Hayami.
Yang berguna, manfaatkan. Yang tidak, singkirkan. Masumi terbiasa bekerja dengan prinsip seperti itu,
prinsip yang selama ini diwariskan oleh ayahnya, Eisuke Hayami. Mungkin berbeda
dari ayahnya, tapi bukankah hasilnya sama bahkan bisa memberikan keuntunga berlipat
untuk Daito? Aku tidak peduli dengan cara ayah, ini adalah caraku.
“Masumi,” panggil Shiori dari belakangnya. Masumi yang
sedang berbicara dengan beberapa orang menoleh, “Ah, Shiori. Maafkan aku, aku
jadinya meninggalkanmu sendirian,”
Shiori tersenyum dan mengambil tempat di samping Masumi,
“Tidak apa-apa. Aku maklum dengan kesuksesanmu yang luar biasa malam ini kau
akan menjadi pusat perhatian,”
Masumi tersenyum. “Terima kasih atas perhatianmu,
Shiori,”
“(Wah, Tuan Hayami. Siapakah wanita cantik ini?)” tanya
para pengusaha yang sedang berbicara dengan Masumi.
“(Ah, maafkan aku lupa memperkenalkan kalian. Ini Shiori,
dia... temanku),” Masumi memperkenalkan Shiori kepada mereka. “Shiori, mereka
adalah para pengusaha dari Perancis yang memberikan sumbangan cukup signifikan
bagi pertunjukan amal kali ini,” Shiori membungkukkan badannya pada mereka
sambil tersenyum anggun. Masumi bersyukur Shiori tidak mengerti bahasa
Perancis, sehingga dia bisa mengenalkan Shiori sebagai temannya, bukan sebagai
yah... status yang tengah disandang Shiori sekarang, tunangannya.
“(Beruntung sekali kau memiliki teman wanita secantik
ini, Tuan Hayami. Yakin bukan tunanganmu?)” tanya yang lain sambil terkekeh.
“(Siapapun yang akan menjadi pendampingmu nantinya pasti
adalah wanita yang sangat beruntung, Tuan Hayami. Aku sebenarnya memiliki
rencana mengenalkanmu dengan putriku. Pasti akan sangat menyenangkan),”sambung
yang lain.
“(Hei, kau melangkahiku, kawan! Aku sebenarnya juga
berencana begitu),” sambung yang lain. Dan akhirnya mereka berakhir dengan
tertawa bersama.
Masumi ikut tertawa. Menggelikan, pikirnya.
Tiba-tiba dari kejauhan ada seseorang yang memanggil
namanya. Seorang pria bertubuh gemuk berambut agak gondrong, memakai topi dan
berkacamata hitam. Masumi tersenyum dan mengatakan permisi kepada para
pengusaha yang dianggapnya menggelikan untuk menghampiri orang yang
memanggilnya.
“Selamat malam, pak Onodera,” sapa Masumi, sopan.
“Kau luar biasa, Masumi Hayami. Menakjubkan! Kau memaksa
para pemainku untuk belajar bahasa Perancis untuk pertunjukan kali ini dengan ancaman
yang tidak bisa tidak akan dicoret namanya dari teater Daito. Dan,
lihatlah! Hasilnya benar-benar luar biasa, para penonton tidak usah membaca
buku petunjuk dialog dan para pemain bisa berakting dan berdialog dalam bahasa
Perancis dengan baik sekali,” kata Onodera, puas. “Itu dikarenakan karena
mereka tahu kau ada di antara para penonton yang bisa menilai kesalahan mereka,
sekecil apapun. Mereka benar-benar takut dikeluarkan dari teater Daito,” lanjut
Onodera, terkekeh.
Baguslah jika mereka memang takut dikeluarkan. Pemain
yang cengeng tidak akan pernah bisa bertahan di Daito dan hanya akan mencoreng
nama Daito saja. “Bukankah kau sendiri
tahu bahwa kita harus bersikap profesional, pak Onodera?” jawab Masumi, tenang.
“Lagipula kesuksesan kali ini juga berkat campur tangan Anda sebagai sutradara
juga akting para pemain yang handal. Saya berterima kasih kepada Anda atas
semua itu,”
Onodera tertawa dan menepuk bahu Masumi, “Jangan rendah
hati begitu, Masumi. Kau sendiri seharusnya tahu, tidak akan sesukses
ini jika tidak ada campur tanganmu!” Masumi hanya tersenyum. Kemudian pandangan
Onodera tertumbuk pada Shiori yang berdiri di sebelah Masumi Hayami. “Owww...
dan siapakah wanita cantik ini, Masumi? Apakah dia tunanganmu seperti yang
tengah santer diberitakan itu?”
Wajah Shiori merona senang. Masumi tersenyum tenang dan
berkata, “Perkenalkan, ini Shiori Takamiya. Shiori, ini Hajime Onodera,
sutradara dalam pertunjukan kali ini,” Onodera dan Shiori saling membungkukkan
badan.
“Wow, Hayami dan Takamiya. Kombinasi yang hebat sekali!
Ternyata ini dia wanita yang beruntung itu, sepadan denganmu, Masumi.
Keponakanku pasti akan patah hati kalau kuberitahu kabar pertunanganmu itu
benar,”
Wajah Shiori semakin merona, sedangkan ekspresi Masumi
tetap sama seperti tadi, tersenyum tenang. Tidak terbaca. Kemudian, Shiori
meminta izin untuk ke toilet, meninggalkan Masumi dan Onodera
berbincang-bincang. Tiba-tiba, Masumi melihat ada beberapa orang yang
berkeliaran kesana kemari memakai kostum yang... seperti kostum pertunjukan
saja. Mereka terlihat panik. Onodera yang menyadari pandangan Masumi fokus
kepada sesuatu di belakangnya, ikut berbalik mencari tahu apa yang terjadi.
“Ada apa, ya? Kenapa orang-orang itu terlihat panik dan
daritadi berkeliaran kesana-kemari?” tanya Masumi.
“Ah, mereka
orang-orang dari teater Mayuko yang akan pentas setelah ini. Kudengar salah
satu pemain teater Mayuko menghilang. Hah, menggelikan. Apa mereka pikir pentas
di sini main-main? Ini pentas pertunjukan internasional, meski hanya untuk amal
tetap saja internasional! Ternyata mereka hanya banyak omong saja, tidak patut
diperhitungkan. Hanya menyandang nama besar nama pendirinya saja,” sindir
Onodera. “Sudah bagus mereka mendapatkan kesempatan bermain di sini,”
“Begitukah?” Masumi tampak terus menatap kerumunan orang
yang ribut, yang merupakan orang-orang teater Mayuko.
“Apakah kau tertarik, Masumi? Wah, tidak biasanya,”
“Hahaha, seharusnya Anda tahu bukan apa yang kuinginkan
dari mereka, Pak Onodera? Rasa tertarikku pada mereka tidak lebih dari untuk
kepentingan bisnis. Aku tidak akan tertarik pada hal yang tidak bisa memberikan
keuntungan pada Daito,” ucap Masumi. “Dan kau seharusnya tahu sendiri bukan bagaimana
mereka bisa berada di sini,”
Onodera terdiam. “Apakah... kau terlibat dalam hilangnya
salah satu pemain mereka itu, Masumi?”
Masumi tersenyum, yang bagi Onodera senyum itu terlihat
menakutkan. “Tentu saja tidak, pak Onodera. Aku tidak akan melakukan tindakan serendah
itu,”
Onodera menatap Masumi. Pria yang penuh perhitungan. Tepatnya,
mengerikan. Tidak heran di usia nya yang masih 30-an, ia bisa membawa Daito
ke puncak kesuksesannya, lebih dari pemimpin sebelumnya, Eisuke Hayami. Yang
menghalangi jalannya untuk mencapai tujuan dan targetnya, akan disingkirkan
tanpa ampun. Itulah cara kerja Daito, baik Eisuke maupun Masumi. Dan sekarang
rupanya Hayami bermaksud memperluas kekuasaannya dengan menggabungkan kekuatan dengan
Takamiya, pemilik Takutsu Group, suatu perusahaan fenomenal yang ada di Jepang.
Entah itu ide Eisuke atau keinginan Masumi sendiri, yang jelas itu akan membawa
keuntungan bagi Daito dan Hayami. Cara berpikir dan tindakan Masumi tidak akan bisa
ditebak, tidak akan pernah. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Masuimi
Hayami. Menakutkan.
“Apa kau sudah menemukan Maya?” tanya Mina,
terengah-engah.
“Belum,” jawab Sayaka, panik. “Jangan menyerah, ayo kita
cari sekali lagi!”
Mina mengangguk dan dengan segera mereka berdua berlalu
entah kemana, berlalu dari pandangan Masumi. Tadi Masumi sempat mendengar
mereka menyebutkan satu nama meski samar. Maya... Masumi merasa akrab
dengan nama itu, ia merasa pernah mendengarnya entah dimana. Nama itu
menimbulkan perasaan akrab dalam dirinya, perasaan yang tidak pernah ia rasakan
sebelumnya
“Masumi?” panggil Shiori menyadarkan lamunan Masumi. “Ada
apa? Ayo kita segera masuk. Pertunjukan berikutnya akan segera dimulai,”
“Ah, ya. Sudah kembali rupanya kau, Shiori. Baiklah, ayo
kita masuk,” Masumi segera mengikuti Shiori yang masuk mendahuluinya. Onodera
terlihat tertawa dan berjalan mendahului mereka berdua, “Belum tentu akan ada
pertunjukan malam ini jika pemain mereka tidak ditemukan,”
Masumi terdiam tidak merespon, pikirannya sibuk dengan
satu nama itu. Mungkin hanya perasaanku saja, pikir Masumi. Banyak
orang yang memiliki nama seperti itu dan karena itu aku merasa pernah
mendengarnya. Lagipula belum tentu nama itu yang kudengar, suasana sedang
ramai, mungkin aku salah dengar. Dengan keyakinan seperti itulah, akhirnya
Masumi segera masuk dan tidak lagi mempedulikan orang-orang yang sedang mencari
‘orang hilang’ tersebut.
Mayuko tampak memperhatikan Onodera yang masuk diikuti
dengan Shiori dan... Masumi Hayami. Mayuko tengah sibuk dengan pikirannya
sendiri ketika Rei menghampirinya.
“Sudah menemukannya?”
“Belum, bu,” jawab Rei, panik. “Bagaimana ini, bu guru?
Pertunjukan sebentar lagi sudah harus dimulai,”
Mayuko memejamkan matanya perlahan dan menghembuskan
nafas, “Apa boleh buat jika sampai 15 menit sebelum pertunjukan Maya belum
muncul... Kita... terpaksa membatalkan pertunjukan kita...,” jawaban Maya
membuat Rei pucat pasi. Batal? Tidak! Rei segera melangkahkan kakinya
meninggalkan Mayuko untuk kembali mencari Maya.
Gadis bodoh itu! Apa yang dia pikirkan!? Menghilang
sebelum pertunjukan? Sebenarnya ada dimana dia sekarang?
♪ ♪ ♪
(Hokkaido, 6 tahun yang
lalu)
Pagi menjelang, terdengar suara burung berkicauan. Jam
weker di kamar Sora berbunyi. Sora yang masih tersembunyi di balik selimut
menggapai-gapai tangannya untuk mematikan sumber bunyi yang mengganggu
tidurnya. Setelah berhasil mencapai weker dan mematikannya, Sora bergelung di
dalam selimutnya sejenak dan beranjak bangun. Ia mengambil weker yang tadi ia
matikan di atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya.
Jam 6 pagi. Sora segera berdiri dari
tempat tidur dan beranjak membuka gorden jendelanya. Ia membuka jendela dan
melangkahkan kakinya ke balkon. Ia menatap ke langit dan seketika ia tersenyum.
Pagi yang indah dengan langit yang indah sekali.
Dari atas balkon, Sora melihat seorang gadis berambut
keriting berkuncir dua sedang berjalan sambil menggerutu. Di kedua tangannya
terlihat ada kotak besar, seperti kotak untuk mengantarkan pesanan makanan. Itu
Sugiko, anak pemilik kedai ramen, tempat ibu Maya bekerja. Pasti Sugiko sedang
mengantar mie pesanan orang. Pasti karena bibi sedang sakit dan tidak masuk
kerja makanya ia yang disuruh mengantar, gumam Sora, geli. Ia tahu Sugiko
merupakan tipe gadis yang tidak bisa bekerja terlalu keras dan lebih memilih
bergaya, namun karena ayah dan ibunya merupakan pemilik kedai mie yang cukup
ramai, mau tidak mau ia harus ikut membantu, meski dengan menggerutu. Karena
jika tidak begitu Sugiko pasti tidak akan mendapatkan uang jajan untuk membeli
segala macam keinginannya.
“Ada juga ya, orang yang pagi-pagi pesan mie. Banyak
lagi,” Sora menatap Sugiko hingga Sugiko hilang dari pandangan. Seperti halnya
Sora mengenal Maya sejak Maya masih kecil, begitu pula dengan Sugiko. Sora
pernah mengantar Maya ke kedai mie Sugiko untuk menjemput ibu Maya sekaligus
untuk makan mie di sana. Saat itu pulalah Sora pertama kali bertemu dengan
Sugiko yang langsung terpesona dengannya, sampai saat ini. Sora tertawa
mengingat hal itu juga mengingat Maya merupakan satu-satunya gadis yang tidak
terpesona padanya. Mungkin ketika kecil Maya pernah terpesona, tapi hanya
sebagai seorang anak kecil yang mendambakan figur seorang kakak. Dan Sora
memenuhi itu, ia sosok kakak yang sangat baik, meski usil.
Sora menoleh melihat balkon kamar Maya. Gordennya masih
tertutup, sepertinya dia belum bangun. Dan Sora sudah bisa menduga hal itu,
sudah kebiasaan Maya setiap harinya untuk bangun mepet. Tidak jarang pula Maya
terlambat masuk sekolah karena kebiasaan buruknya itu.
“Haizzz malas sekali, padahal temannya saja sudah bangun
dan mengantar mie,” meski terpaksa, tambah Sora dalam hatinya.
“Ckckckk...”, Sora mendecak. Ia kembali menengadahkan pandangannya ke arah
langit sambil geleng-geleng kepala.
Seketika Sora tersenyum, ia mendapat sebuah ide. Ia
segera kembali ke kamarnya. Bersiaplah menerima kejutanku pagi ini, mungil!
♪ ♪ ♪
“Selamat pagi, Sora!” sapa pak Shinichi Kitajima, ayah
Maya, yang melihat Sora berlari kecil melewati rumah Maya.
“Ah, pagi, paman,” Sora menghentikan larinya. “Paman
sudah mau berangkat kerja? Bagaimana keadaan bibi? Apa sudah baikan?” Sora
ingat dia lupa menanyakan keadaan ibu Maya kepada Maya karena kejadian kemarin.
Wajah Sora sedikit merona dan segera dienyahkan ingatan akan kejadian semalam.
Untunglah Shinichi tidak menyadari perubahan rona di wajah Sora.
“Iya, sudah baikan. Rencananya hari ini sudah mau bekerja
lagi, ‘kok... Nak Sora sedang olahraga lagi ya? Rajin sekali,”
“Hahaha, iya paman. Harus dibiasakan agar tubuh tidak
mudah terserang penyakit. Sekedar lari kecil saja,”
“Hebat sekali, ya. Benar-benar tidak bisa dibandingkan
dengan putriku yang satu itu, aduh, pemalas sekali anak gadis jam segini belum
bangun...,” Shinichi tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sora tersenyum dikulum.
“Pak, tunggu jangan berangkat dulu!” terlihat ibu Maya,
ibu Haru, tergopoh-gopoh keluar dari pintu dan menghampiri ayah Maya. “Lihat
bekalnya ketinggalan!”
“Ah, ya, hampir saja lupa. Terima kasih, ya, bu...,”
“Aiooo.. selalu saja begitu. Sifatmu yang teledor dan
pelupa itu benar-benar menurun ke putri kita yang satu itu. Ah,” Haru menyadari
keberadaan Sora. “Selamat pagi, Sora,”
“Selamat pagi, bibi...,” Sora sedikit membungkuk.
“Bagaimana keadaan bibi? Sehat-sehat saja, ‘kan?”
“Tentu saja! Aku tidak bisa sakit lama-lama, Sora. Nanti
siapa yang mengawasi pasangan ayah dan anak yang sama-sama teledor dan ceroboh
itu? Kau tahu kemarin pamanmu ini sukses menghancurkan beberapa buah telur
ketika memasak menggantikan bibi, jadinya kemarin aku menyuruhnya membeli bahan
makanan yang sudah ia hancurkan dan juga makanan yang bisa kami makan langsung,”
Sora melihat ayah Maya cemberut sambil menaruh bekal di keranjang depan
sepedanya dan ia tertawa kecil. Sedikit banyak, Maya memang lebih seperti
ayahnya. “Untung saja aku tidak menyuruh Maya memasak, bisa tambah gawat,”
keluh Haru.
Sora tertawa melihat wajah Shinichi yang merah padam.
“Sudahlah, bu, ayah berangkat dulu. Bisa tambah malu ayah di sini, dipermalukan
di depan Sora. Sora, paman duluan, ya!” seru Shinichi sambil mengayuh
sepedanya.
“Iya, paman, hati-hati!” seru Sora. Kemudian, Sora
menoleh kepada Haru, “Ah, ngomong-ngomong, bi. Aku baru ingat jika hari ini Maya
ada pelajaran tambahan Bahasa Jepang untuk jam pertama di sekolah, makanya
semua siswa di kelas Maya diwajibkan jangan sampai terlambat dan kalau bisa
bangun lebih awal. Lebih baik Maya dibangunkan sekarang, bi, agar dia tidak
terlambat,”
“Begitukah? Ah, anak itu tidak bilang apa-apa padaku.
Terima kasih, ya, Sora. Coba tidak ada nak Sora, bibi juga tidak tahu,”
Sora tersenyum mengangguk. Tak lama kemudian, Haru berpamitan
padanya dan beranjak masuk. Sora tersenyum penuh makna dan kembali melanjutkan
lari paginya.
♪ ♪ ♪
“Maya, ayo bangun!” seru Haru sambil menggoyang-goyangkan
tubuh Maya yang sedang meringkuk di balik selimut. Tidak ada respon. Haru
menghela nafas lalu menarik selimut Maya. “Ayo bangun, anak malas!”
“Aduh, buu... Ada apa, ‘sih? Masih ngantuk, nanti saja,
yaa..,” Maya menarik selimutnya lagi menutupi kepalanya.
Haru menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dasar gadis nakal,
apa kau mau terlambat? Sora bilang kau ada pelajaran tambahan Bahasa Jepang
pada jam pertama sehingga kau harus datang lebih pagi. Kenapa kau tidak bilang
pada ibu, ‘sih? Apa kau lupa?”
Maya memunculkan wajahnya sedikit dari balik selimut.
“Apa? Pelajaran tambahan?”
“Kau tidak tahu?” dahi Haru mengernyit heran. “Haizz,
benar-benar anak ini. Kau tidak memperhatikan apa-apa selama di sekolah, ya? Lebih
baik kau segera rubah sifatmu itu, jika kau tidak ingin sampai tidak naik
kelas. Benar-benar, kenapa aku bisa punya putrimu sepertimu, ‘sih?”
“Heii, ibuuu...,” Maya langsung manyun.
“Sudahlah, sekarang sebaiknya kau cepat bangun dan
bersiap-siap, jangan sampai terlambat. Sudah untung ada Sora yang mengingatkan.
Ibu tunggu di bawah untuk sarapan, cepat, ya. Ibu juga sudah mau berangkat
kerja. Ibu mau berangkat lebih awal sebagai tebusan ibu tidak masuk kemarin,”
perintah Haru sambil beranjak dari tempat tidur Maya dan keluar kamar.
“Ahhhh... aku tahu. Ibu kalau sudah sembuh bawel
sekali...,” gerutu Maya. Kenapa aku jadinya dimarahi, ‘sih? Menyebalkan.
Maya menggerutu dan segera terbangun dari tidurnya. Memangnya
ada pemberitahuan, ya, jika ada pelajaran tambahan Bahasa Jepang pada jam
pertama? Jam pertama pelajaran hari ini, ‘kan Matematika, bukannya bahasa
Jepang. Apa aku yang lupa? Kenapa bisa dia yang lebih tahu? Maya melihat
jam dan menggerutu, masih jam 6 lebih, apa ‘sih yang orang itu pikirkan? Maya
beranjak dari tempat tidur dan mendekati jendela serta membuka gordennya. Pagi
ini benar-benar berbeda dari biasanya, karena Maya tidak biasa membuka gorden
jendela pada pagi hari. Yah, biasanya ‘kan aku bangun telat dan langsung
bergegas mandi lalu berangkat sekolah. Baru sedikit gorden jendelanya
terbuka seluruhnya, tatapan Maya tertumbuk pada secarik kertas yang menempel di
jendela. Maya membuka jendela sedikit dan mengambil kertas itu. Surat? pikir
Maya.
Maya menutup gordennya lagi dan sambil menguap ia beranjak
menuju tempat tidurnya. Setelah duduk di atas tempat tidurnya, Maya mulai
membaca suratnya.
Hei, mungil, bacalah suratku sampai tuntas dan jangan
berkomentar hingga kau membacanya surat pendek ini sampai habis. Aku harap kau
cepat bangun dan membaca surat ku ini, gadis mungil yang malas.
Maya berhenti membaca. Ia kenal tulisan ini. Surat ini
pasti dari orang sinting itu.
“Gadis mungil yang malas? Heizzz, apa orang ini bermaksud
cari gara-gara denganku pagi-pagi begini? Ckckckck..,”
Maya melanjutkan kembali membaca surat itu.
Simpan amarahmu mungil.. Maya tertawa kecil, tahu saja orang ini kalau aku baru
saja menggerutu dan marah padanya... karena aku yakin kau akan berterima
kasih padaku, mungil, karena pagi ini aku membawa hadiah spesial untukmu, yang
pasti kau sukai.
Maya berhenti membaca lagi. “Hadiah? Aku ‘kan tidak ulang
tahun hari ini. Apa maksudnya, ‘sih?”
Kemudian, Maya melanjutkan membaca baris berikutnya.
Sudah kubilang selesaikan membacanya mungil, jangan
banyak berkomentar!
Maya tertawa, “Orang ini benar-benar... di surat pun
ternyata dia bawel sekali,” Maya merasa Sora benar-benar sudah sangat mengenal
dirinya sehingga Sora tahu kapan dia akan menggerutu ataupun berhenti membaca.
“Baiklah, aku tidak akan berkomentar lagi,” Maya tertawa geli.
Kurasa kau sudah bisa menutup mulutmu sekarang, ‘kan?
Baguslah! Baiklah, mungil, bersiap-siaplah dengan hadiahnya! Apa kau siap? Ini
kejutan!
“Ya, kurasa..,” Maya sendiri merasa heran ia bisa
berbicara dengan secarik kertas seperti itu, seolah-olah ia sedang berbicara
dengan Sora.
Kau harus menghargainya, ah tidak, kau pasti akan
menyukainya! Aku memberimu hadiah ini dengan penuh perngorbanan mungil, karena
demi mengantarkan surat ini aku harus melompat menuju balkon kamarmu!
“Haizzz, pemaksa sekali! Apa kau bilang? Aku harus dan
pasti menyukai hadiah darimu? Ckckckk... Benar-benar penyakit narsismu sudah
akut! Dan kau juga melompati balkon kamarku, apa bedanya dengan yang kulakukan
kemarin? Tidak adil sekali, kemarin kau sampai mengomel dan menginterogasiku?
Lihat saja apa yang akan kulakukan padamu!”
Maya mengingat kejadian semalam dan seketika wajahnya
merona. Ia cepat-cepat mengindahkan ingatan itu dan kembali membaca suratnya.
Sudah kukatakan jangan cerewet terus, mungil! Jika kau
ingin membalasku seperti yang kulakukan kemarin, tahan dulu sampai kau melihat
bagaimana menakjubkannya hadiahku padamu.
Dahi Maya mengernyit, hadiah yang menakjubkan? Maya tidak
merasa menemukan apapun di luar jendela ketika dia menemukan secarik kertas
ini. Apa mungkin karena tadi dia cuma membuka gorden jendelanya sedikit? Tapi
kalau memang Sora mau memberikan hadiah, mengapa mesti dipisahkan dari surat
penuh instruksi aneh begini?
Kau ini susah, ya, disuruh tidak berkomentar, mungil! Maya tertawa kecil. Oke, karena aku yakin ketika kau
membaca surat ini kau sudah kembali berada di atas tempat tidurmu, sekarang
turunlah dan bukalah jendela kamarmu lalu segeralah menuju ke balkon! Lakukan
sekarang! Dalam hitungan ketiga, kau harus sudah sampai di balkon, ya..
Baiklah, mulai kuhitung sekarang...
“He.. hei, tunggu dulu!” ujar Maya terburu-buru turun
dari tempat tidur sambil masih terus membaca seolah-olah memang ada Sora yang
sedang menghitung.
1...
Maya beranjak mendekati jendela kamarnya.
2...
Maya mulai membuka jendela..
3..
Kedua kaki Maya telah menyentuh balkon. “Sampai!” Maya
benar-benar sudah sampai di balkon sekarang, sebelum tersadar akan suatu hal.
“Hei, kenapa aku jadi orang bodoh begini, ‘sih?” Maya bingung dengan
tindakannya sendiri.
Bagaimana? Sudah sampai di balkon mungil? Benar-benar
sampai hitungan ketiga saja, lho! Dan aku bisa membayangkan kau benar-benar
melakukannya sehingga aku tidak tahan untuk tertawa! Hahaha...
Menyebalkan, Maya menggerutu dalam hati. Meski begitu,
mau tidak mau Maya tersenyum kecil, geli dengan dirinya sendiri yang bisa
melakukan hal itu.
Ahhh.. kau pasti sedang tersenyum, ‘kan mungil? Dahi Maya mengernyit, “Hei, suratmu mengerikan. Apa di
suratmu kau tempeli dengan kamera pengawas sehingga kau tahu apa yang kulakukan
sekarang?” Sebentar lagi, mungil. Hadiahmu sudah semakin dekat. Tariklah
nafas dan hembuskan perlahan karena sekali lagi kukatakan hadiahku ini
benar-benar spektakuler dan kau pasti akan menyukainya!
Maya melakukan seperti apa yang diperintahkan dalam surat
Sora. Awas saja jika hadiahnya tidak menarik, kau harus bersiap untuk yang
akan kulakukan nantinya padamu! ancam Maya dalam hatinya.
Ah, mungil.. Aku tahu kau sudah mulai kesal padaku,
bukan? Tahan, mungil. Nah, sekarang.. hadiahku akan kuberikan padamu.. Jreng
jreng! Pejamkan matamu dulu ya, mungil.. Lalu, lihatlah ke atas...
Maya menggerutu kecil. Dari tadi aku diperintah terus
dan dengan bodohnya aku menurutinya. Baiklah, tidak ada ruginya juga
kuikuti, ‘toh memang sudah kuikuti instruksi anehnya dari awal. Kalau ternyata
hadiahnya aneh-aneh atau bahkan tidak ada, kalau dia memang berniat mengerjaiku
saja, Soralah yang akan bersiap-siap menerima pelajaran! Maya memejamkan
matanya.
Kemudian, Maya membuka matanya perlahan dan menatap ke
atas, dan seketika ia takjub. Ia bisa melihat langit biru yang terlihat sangat
cantik di pagi hari, di lengkapi dengan awan-awan yang terlihat bergerombol dan
membentuk berbagai macam bentuk. Dan yang membuat langit itu tampak semakin
menakjubkan, di langit juga terlihat awan yang membentuk goresan panjang,
tampaknya seperti bekas dari pesawat jet yang menembus awan dan melewati
langit.
(kira-kira seperti ini pemandangan yang dilihat
maya. ga nemu gambar yang benar-benar pas, ’sih. nemunya cuma ini, ini pun gambarnya
dapet dari adegan film entah apa gitu. jadi para pembaca boleh berimajinasi
sebebas-bebasnya :p)
Maya merasa sangat senang, ia tersenyum bahagia. Indah
sekali. Kemudian, ia teringat surat Sora dan ia membaca kelanjutannya.
Masih ada beberapa baris terakhir yang belum ia baca.
Bagaimana? Kau lihat? Ini hadiah dariku, apa kau suka? Aku
tahu kau pasti suka! Selamat pagi, mungil!
NB : Sampaikan permintaan maafku pada ibumu, ya, aku terpaksa harus membohonginya untuk menyerahkan hadiah ini padamu. Aku benar-benar minta maaf padanya dari lubuk hatiku yang paling dalam.
NB : Sampaikan permintaan maafku pada ibumu, ya, aku terpaksa harus membohonginya untuk menyerahkan hadiah ini padamu. Aku benar-benar minta maaf padanya dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Maya tertawa. “Hahaha, dasar! Mau memperlihatkan ini saja
harus repot-repot pakai surat dan segala macam instruksi aneh begini. Bilang
saja langsung ‘kan bisa!” tapi ya namanya kejutan. Maya tersenyum riang,
“Ya, aku sudah lihat hadiah darimu dan tentu saja aku suka hadiahnya, bodoh!”
Maya kembali mengarahkan pandangannya ke arah langit dan senyum itu tidak jua
hilang dari wajahnya. “Berterima kasihlah! Aku jadi urung marah padamu, meski
kau telah membuatku kesal dengan membangunkanku pagi-pagi, memberiku instruksi
aneh, dan terus saja memanggilku ‘mungil’ di suratmu!” Bagaimana mau marah?
Hadiahnya indah begini, sangat indah malah!
Maya tersenyum bahagia menikmati suasana pagi hari saat
itu. Ini pagi terindah yang pernah Maya lewatkan. Biasanya Maya akan melewatkan
pagi dengan terburu-buru bersiap menuju sekolah karena ia selalu bangun telat
dan ia tidak akan sempat membuka gorden jendela ataupun jendela, apalagi mampir
ke balkon kamarnya. Biasanya ibunya yang akan melakukannya sebelum berangkat
kerja. Dalam perjalanan ke sekolahnya juga belum tentu Maya akan memperhatikan kondisi
langit kalau dia memang sudah dalam kondisi sudah hampir dipastikan terlambat,
dan hal itulah yang terjadi setiap harinya. Ia sudah sangat disibukkan dengan
masalahnya sendiri yaitu keterlambatan (yang juga disebabkan dirinya sendiri),
sehingga melihat langit pada pagi hari tidak akan terlihat menarik dan penting.
Jadi karena ini Sora berpesan pada ibu untuk
membangunkanku lebih awal. Maya tersenyum kecil. Pakai
berbohong dengan alasan ada pelajaran tambahan pula. Apalagi ia meminta maaf
dari lubuk hati paling dalam katanya? Maya tersenyum geli. Ia terharu, Sora
teringat akan Maya yang suka melihat langit, sampai-sampai menyiapkan semua ini.
Simpel, tapi khas Sora, dan Maya menyukainya. Sangat menyukainya. Maya kira
Sora lupa dengan perkataan Maya yang sambil lalu itu. Maya menatap langit
dengan perasaan yang hangat dan bahagia. Ia tidak akan bosan menatap langit
pagi itu, pagi paling indah dan spesial dalam hidupnya.
“Terima kasih, ya... Sora...,”
♪ ♪ ♪
Sora menatap langit. Ia tersenyum. Apakah ia sudah melihatnya?
Sora menghela nafas dan ia kembali melanjutkan olahraga paginya, yaitu jogging
atau berlari kecil.
Di tengah perjalanan, Sora bertemu dengan sekelompok
gadis yang berlari dengan arah berlawanan dengannya. Sekelompok gadis itu
berlalu begitu saja melewatinya, tanpa melihat Sora. Sora berhenti sejenak dan
menoleh ke arah mereka. Sepertinya aku belum pernah melihat mereka, apakah
mereka penduduk baru? Penampilan mereka begitu mencolok, tidak seperti
gadis-gadis desa biasanya. Dan tadi, ada seorang.. Sora tidak yakin ia pria
atau wanita.. berambut pirang seperti orang asing. Tidak biasanya.
Sora memutuskan untuk tidak terlalu mempedulikannya dan
melanjutkan aktivitas lari paginya.
♪ ♪
♪
Maya berjalan ke sekolahnya dengan perasaan riang dan
terus menatap ke langit. Ia tidak bosan-bosannya menatap langit biru yang masih
saja menampilkan pemandangan menakjubkan. Maya menyapa beberapa orang yang
lewat di jalan yang dikenalnya. Terkadang ia berhenti sejenak untuk memuaskan
matanya melihat langit biru yang tetap sama seperti yang tadi dilihatnya,
seakan takut jika ia tidak melihatnya sebentar saja, keindahan langit biru itu
akan hilang dari pandangannya. Angin berembus pelan, membuat beberapa helai
rambut Maya dan rok seragamnya ikut bergerak mengikuti irama angin. Maya
memejamkan matanya, menikmati apa yang sedang dirasakannya sekarang.
Kala menutup mata dan duduk di bawah sinar matahari yang
hangat serta langit yang biru dan luas ini.. ah, tidak.. berdiri saja sudah
cukup.. rasanya seperti memeluk seekor kucing yang besar dan lembut..
Srrrrrrrr...
Syuuuu...
Syuuuuu...
Angin terus saja berembus... Ya, benar.. suaranya seperti
ini..
Rasanya seperti ini...
Empuk... Lembut...
Rasanya seperti itu...
“Kyaaaaaa!!!” Maya berteriak. Tiba-tiba, sebuah sepeda
“menyerang” Maya dari belakang. Sepeda itu menyerempet Maya dan membuat Maya
terjatuh ke samping. “Auwwww...,” Maya merasakan sakit dan melihat ke sumber
rasa sakitnya. Tangan kirinya. Telapak tangan kiri Maya terlihat lecet dan
terluka.
“Kau ini, sudah kubilang minggir kataku! Kau ini tuli,
ya!? Sudah kubunyikan bel daritadi juga kau malah terlihat melamun tidak jelas
begitu! Cari mati, ya?” seru orang yang naik sepeda itu kasar. Maya hanya terdiam
melihatnya, salahnya juga mungkin melamun, tapi orang itu ‘kan tidak usah
sampai sekasar itu sampai menyerempet orang! Sampai jatuh lagi! Tidak minta
maaf pula!
Maya hanya terdiam melihat orang kurang ajar itu hingga
orang itu berkata “Cih! Lain kali jangan melamun di jalan!” dan berlalu dari
pandangan Maya. Maya kemudian menjulurkan lidahnya. “Weekkkk! Ada saja, ya,
orang seperti itu. Tidak bisa dipercaya!” Maya merengut kesal. Ia tidak mau
melawan karena ia tidak mau urusannya menjadi tambah panjang. Lagipula, ya,
kejadian tadi juga tidak sepenuhnya salah orang itu.
“Aduh, sakit...,” Maya melihat tangannya dan mengeluh
pelan. Maya mengambil tas yang ad di sampingnya dan mencari sesuatu di
dalamnya, “Aduh, tisu di mana, ya? Apa aku lupa membawanya lagi hari ini?” Maya
mengaduk-aduk isi tasnya.
“Ini...,” tiba-tiba terdengar suara lembut seorang wanita
di samping Maya. Maya menghentikan gerakannya mencari. Ia sedikit menoleh dan
melihat ada sapu tangan yang terjulur ke arahnya. Maya sedikit menoleh ke atas
melihat siapa yang barusan berbicara padanya dan memberikan sapu tangan
kepadanya. Dan ia bisa melihat ada seorang wanita berambut panjang bergelombang
hitam sedikit berantakan, dengan salah satu sisi poninya yang lebih panjang
menutupi salah satu sisi wajahnya. Ia memakai gaun berlengan panjang berwarna
hitam juga. Maya mengernyit. Ia tidak pernah melihat wanita ini sebelumnya.
Dari gaya berpakaiannya, sepertinya wanita ini bukan penduduk desa Maya.
“Kenapa kau diam saja? Ini..,” seru wanita itu menyadarkan
lamunan Maya. Maya menatap sapu tangan yang disodorkan wanita itu, diam. Ia
tidak tahu harus melakukan apa. Wanita itu tersenyum, “Sudah, tidak apa-apa.
Ambil saja, pakailah untuk membersihkan lukamu dan tubuh serta seragammu yang
kotor,” ujarnya lembut.
“Ah, iya..,” akhirnya Maya memutuskan mengambil sapu
tangan yang diberikan oleh wanita tak dikenal di depannya. Tidak apa-apa,
‘kan, menerima perbuatan dari orang lain? ‘Toh sepertinya wanita ini bukan
orang jahat, buktinya ia mau meminjamkan sapu tangannya padaku. pikir Maya
polos. “Terima kasih,” Maya membersihkan lukanya dan beberapa bagian seragam
dan tubuhnya yang kotor karena terjatuh. Kemudian sambil mengambil tasnya, Maya
berdiri
“Maaf, sapu tangan Anda jadi kotor. Mmmm, nanti setelah
saya cuci akan saya kembalikan. Anda tinggal dimana, Nyonya? Ah, hmm.. maaf,
saya belum pernah melihat Anda sebelumnya di desa ini...,”
Wanita itu tersenyum. Ia memejamkan matanya sejenak
kemudian menatap Maya lagi. Entah kenapa Maya merasa pandangan wanita itu
seakan tengah menyelidikinya, hendak menembus pikiran dan hati Maya,
seolah-olah ia ingin tahu apa yang Maya pikirkan. Maya sedikit bergidik,
pandangan wanita ini dalam, seolah ia bisa membaca semua yang Maya rasakan dan
pikirkan.
“Kau benar, aku pendatang di sini. Aku baru saja datang
kemarin dari kota, dan aku tinggal di penginapan Kousei di ujung sana,” kata
wanita itu. “Kau tahu penginapan Kousei?”
Maya mengangguk. “Ya, saya tahu. Tidak banyak penginapan
yang ada di sini. Ehmm, kamar Anda di mana? Nanti saya akan mengantarkannya,
atau saya titipkan di resepsionis saja? Nama Anda siapa?” Maya kemudian
tersadar akan sesuatu dan menutup mulutnya dengan beberapa jarinya. “Ah, eh..
maaf, saya terlalu banyak bertanya, ya?” wajah Maya merona dan ia meringis
malu.
Lagi-lagi yang wanita itu lakukan hanyalah tersenyum. Ia
berbalik menatap ke samping mereka, ke kejauhan, entah apa yang dilihatnya.
Langit yang biru, sungai yang sedang mengalir, pepohonan dan rerumputan yang
hijau, entahlah... “Tidak apa-apa, kau gadis yang ceria dan bersemangat. Itu
bagus,” ia kembali menatap Maya. “Desa ini benar-benar desa yang indah, ya...,”
lalu wanita itu kembali melihat ke kejauhan, seolah-olah banyak hal menarik
yang tengah dilihatnya.
Maya terdiam sejenak, wanita di depannya ini sama sekali
tidak menjawab pertanyaannya tadi, malah mengajukan sesuatu yang entah bisa
dibilang pertanyaan atau pernyataan. Maya hanya tersenyum dan menjawab, sambil
mengarahkan pandangannya mengikuti pandangan wanita itu. “Benar.. meski di desa
ini mungkin tidak ada apa-apanya dibanding dengan kota yang Anda tinggali, tapi
desa ini benar-benar indah. Udaranya sejuk dan bersih, masih cukup bebas dari
asap dan gas kendaraan. Penduduknya baik, ramah, dan dapat saling bekerja
sama,”
Maya mengarahkan pandangannya ke arah langit biru, lagi,
dan lagi-lagi ia tersenyum. Syuuuuu... terdengar angin berhembus. Maya
memejamkan matanya. Ia tersenyum tenang, melodi yang dihasilkan angin
benar-benar lembut. Terdengar juga suara kicauan burung dari kejauhan, gerakan
pepohonan dan rerumputan yang seperti menari. Maya mempertajam indera
penciumannya, ia mencium aroma. Ah, iya... ada aromanya.. aroma rerumputan
dan pepohonan, sungai, langit.. hmmm...
Wanita yang ada di
sebelahnya hanya mengamatinya sambil tersenyum misterius. Maya terus saja
menikmati ‘aktivitas’ nya itu tanpa sadar bahwa ia terus diamati. Suasana
hening cukup lama di antara mereka, sampai kemudian suara wanita itu memecah
keheningan. “Apa yang sedang kau lakukan?”
Maya membuka matanya dan menatap wanita itu, “Merasakan
alam..,”
“Merasakan alam?” dahi wanita di depannya sedikit
mengernyit.
Maya mengangguk dengan wajah yang berseri, “Ung! Jika
kita memejamkan mata dan mempertajam indera pendengaran kita, kita bisa
mendengarkan suara alam. Suara burung, aliran sungai dan hembusan angin yang
seperti orang yang sedang bernyanyi, bahkan gerakan pepohonan dan rerumputan
yang tertiup angin, seperti orang yang sedang menari..,” Maya kembali
memejamkan matanya, dan menaruh kedua tangannya di samping telinganya, seperti
gerakan seseorang yang hendak mempertajam pendengerannya. “Hmm.. benar, ‘kan?
Tidakkah Anda mendengarnya? Benar-benar melodi yang indah, dan gerakan mereka
benar-benar seperti tarian yang indah...,”
Maya kembali sibuk dengan ‘aktivitas’ nya itu, dan ia
seolah lupa diri. Maya seakan berada di dimensi yang berbeda dengan wanita yang
ada di sebelahnya itu. Wanita itu mengeluarkan senyum misteriusnya lagi ketika
ia melihat Maya yang tenggelam dalam kegiatannya merasakan alam tersebut. Gadis
ini...
Sesaat hening lagi. Bagi orang normal, mungkin yang akan
terasa hanyalah angin lembut yang berhembus dan sinar matahari yang mulai
tinggi. Hari sudah semakin siang. “Lalu...,” wanita itu bersuara lagi. “Apa
lagi yang kaurasakan dalam kegiatanmu hmmm.. merasakan alam?”
“Aroma...,” jawab Maya, pelan. Ia menghirup nafas
dalam-dalam lalu membuka matanya. “Biasanya aku tidak menyadarinya, tapi karena
Anda mengatakan desa ini benar-benar indah, maka aku mencoba untuk
merasakannya, mendengarnya, dan mungkin kelihatannya aneh, mencium aromanya.
Entahlah, terjadi begitu saja. Dan, ya, Anda benar,” Maya menatap wanita itu
sambil tersenyum lebar. “Desa ini memang benar-benar indah,”
Maya melanjutkan kata-katanya lagi, “Aku tidak tahu jika
aku bisa merasakan perasaan, mungkin bisa dibilang sensitif, ya seperti ini,
karena yang kulakukan biasanya hanyalah melihat. Langit, sungai, bintang,
matahari... ya, aku belum pernah mencoba mendengarkan dan mencium aromanya...,”
Maya meringis pelan. “Ah, tidak. Dulu waktu aku masih kecil aku pernah
mencobanya, tapi mungkin aku belum mengerti apa-apa dan yah... mungkin
kedengarannya aneh, ya...,”
Terputar kembali memori masa kecil Maya secara samar.
Maya tidak begitu mengingatnya, tapi tubuhnya ingat. Semua indera di tubuhnya ingat
kalau ia pernah melakukan hal ini.
“Tidak.. tidak aneh,” wanita itu menjawab cepat dan
tenang, lalu ia menatap Maya. “Aroma apa yang kau cium?”
“Hmmm.. Pagi ini, pagi yang hangat. Angin yang sejuk,
langit yang biru, dan ya.. ada aromanya. Menenangkan,” jawab Maya, pelan.
Wajahnya sedikit memerah, memangnya aku ini anjing apa bisa mencium aroma
atau bau segala? “Maaf, mungkin bagi Anda aneh, lebih baik tidak usah
dibahas,”
Sebenarnya Maya sedikit heran, ia bisa terlibat
percakapan dengan wanita yang tidak dikenalnya ini, apalagi percakapan yang
mereka lakukan membahas topik tidak biasa seperti ini. Menikmati alam?
Bukankah topiknya cukup aneh? Bersama wanita ini, Maya melakukan hal-hal
yang tidak biasanya, apa mungkin karena wanita ini mengatakan desa ini begitu
indah sehingga Maya melakukan hal ini untuk membuktikannya? Entahlah. Wanita
ini punya aura yang berbeda. Dan Maya merasa ia spontan saja melakukan hal yang
dilakukannya barusan.
“Lalu.. kau mencium aroma apa dariku?”
“Eh?” Maya tersentak, ia tidak menyangka akan ditanya
seperti itu. “A.. Aroma Anda?”
Wanita itu tertawa kecil, “Kalau kau berpikir dirimu
aneh, bukankah diriku juga demikian karena bertanya hal-hal seperti ini padamu?”
ia menatap Maya, tajam. “Nah, sekarang aroma apa yang kau rasakan atau kau cium
dariku?”
Maya terdiam seperti merenung sejenak, kemudian ia
berkata, “Aroma Anda... seperti pohon,”
“Pohon?” pandangan mata wanita itu menyelidik lagi,
seakan tengah menyelidik isi pikiran Maya, sehingga Maya menjadi sedikit salah
tingkah.
“I.. iya... seperti pohon yang tengah berbunga dengan
indahnya, namun bisa juga menjadi pohon yang kering ketika bunga-bunga itu
pergi ditiup angin,” Maya sedikit menunduk. “Maaf, karena Anda bertanya seperti
itu, jadinya...,” Maya sendiri tidak mengerti, kenapa ia bisa menjadi seperti
ini, apa karena pengaruh wanita di sampingnya?
“Tidak, tidak apa-apa. Kau sama sekali tidak berkata hal
yang tidak sopan, tidak perlu merasa bersalah atau salah tingkah seperti itu,”
jawabnya. “Hmmm.. jadi aku... seperti pohon, ya?” wanita itu tertawa kecil.
Maya melihat wanita itu, ekspresi wanita itu sekarang terlihat berbeda dari
yang tadi. Menyembunyikan sesuatu, tidak bisa dibaca. Wanita ini terlihat kuat,
tapi juga rapuh. Entahlah, Maya merasakannya seperti itu.
“Teng! Teng!” terdengar suara bel masuk sekolah berbunyi
dari kejauhan. Maya tersentak. “Celaka!! Aku telat!!” Maya segera berlari dan
berbalik sedikit menghadap wanita di belakangnya, “Ah, maaf Nyonya, saya harus
pergi dulu. Ng, sapu tangannya!” Maya bingung dengan sapu tangan yang ada di
tangannya.
“Tidak apa-apa..,” wanita itu tersenyum tenang menatap
Maya. “Kau simpan dulu saja.. karena aku yakin, pertemuan kita berikutnya tidak
akan lama lagi..,”
“Eh?” Maya bingung dengan jawaban wanita itu. Namun suara
bel yang berbunyi lagi membuatnya tersentak dan segera berbalik seraya berlari,
“Ah, maaf! Saya permisi dulu! Saya janji, sapu tangannya akan segera saya
kembalikan!”
Angin berhembus perlahan, tidak seirama dengan langkah
kaki Maya yang semakin cepat. Tidak ada waktu menikmati alam lagi, dasar
Maya bodoh! Apa yang kaulakukan!? Masa harus telat lagi, ‘sih hari ini? Maya
sedikit menoleh ke belakang, melihat
wanita itu. Ia masih berdiri di tempatnya tadi. Angin berhembus sedikit kencang
sekarang dan sekilas Maya melihat ada sesuatu seperti bekas luka cukup parah di
wajah wanita itu yang tertutupi oleh sebagian poninya. Maya tersentak, namun ia
memutuskan untuk tidak mempedulikannya dan terus saja berlari menuju
sekolahnya.
Wanita itu menatap sosok belakang Maya, hingga Maya
hilang dari pandangan, dan angin yang sempat berhembus kencang tadi kembali
berhembus pelan. Wanita itu membetulkan posisi poninya yang tadi sempat
“diterbangkan” angin dan memperlihatkan bekas lukanya. Kemudian ia teringat apa
yang gadis yang baru saja ditemuinya dan berbicara dengannya itu lakukan.
Merasakan alam, ya tepatnya berinteraksi dengan alam. Dan ia ingat ketika gadis
tadi mengatakan aromanya seperti pohon. Sebuah senyum tersungging di bibir
wanita itu. Lama-kelamaan senyum itu berubah menjadi tawa kecil dan semakin
keras, hingga akhirnya wanita itu tertawa terbahak-bahak.
“Sepertinya baru saja terjadi hal yang menyenangkan,
ya..,” sebuah suara pria yang berat dan serak menghentikan tawanya.
Wanita itu terdiam, lalu ia tersenyum dan sedikit
menolehkan kepalanya ke belakang. “Wah, kejutan yang mengerikan. Gigih juga
perjuanganmu, ya, mencariku. Cepat juga kau bisa sampai sini...”
“Tentu saja. Kaupikir aku siapa, tidak bisa menemukanmu?”
pria itu tertawa. “Kau jelas tahu apa yang kuinginkan. Akhirnya aku menemukanmu
juga, Mayuko Chigusa...,” seru pria itu.
“Entah aku bisa mengatakannya atau tidak, meskipun aku
tidak suka untuk mengatakannya, tapi...,” wanita yang dipanggil Mayuko Chigusa
itu memejamkan matanya sejenak, lalu tersenyum sinis dan berbalik, “Lama tidak
bertemu dan selamat datang... Eisuke Hayami,”
Pria bertubuh gemuk dan pendek, serta berambut sedikit
cepak namun tetap tertata tapi, yang tengah berdiri di depannya hanya
tersenyum. Sedangkan Mayuko hanya bisa menatapnya dalam diam. Angin terus saja
berhembus.
♪ ♪ ♪
“Karena adanya suatu reaksi kimia, maka semua zat bisa
bereaksi dan berubah wujud. Pada percobaan yang tertera di buku, jika asam
benzoat dipanaskan hingga 100˚C, zat padat akan langsung berubah menjadi zat
gas. Kalau didinginkan lagi, akan kembali menjadi seperti semula, yaitu dari
zat gas menjadi zat padat. Gejala ini bisa juga disebut sublimasi, seperti yang
terjadi pada es kering. Berdasarkan jenis dan beratnya, sebuah zat menyimpan
reaksi yang berbeda-beda,” Sora menjelaskan panjang lebar sambil berjalan memutari
kelas dan membawa buku yang tengah dibaca dan dijelaskannya pada para murid di
kelasnya. Lalu ia berhenti di dekat salah meja yang berada di dekat jendela.
“Bagaimana? Apa ada yang tidak dimengerti?” tanya Sora,
berhenti menjelaskan. Buku yang dipegangnya sedikit diturunkan. Pandangannya
sekarang berganti dari buku menuju murid-murid di kelasnya. Dan Sora menghela
nafas pasrah karena yang ia dapatkan ialah pandangan memuja dari para siswi dan
pandangan kesal dari para siswa karena melihat para siswi yang seperti itu. Astaga,
murid-murid ini!
Sora berdeham pelan. “Sekali lagi saya tanyakan, apa ada
yang tidak dimengerti?”
Suasana masih hening, lalu Sora menutup bukunya dan
menghela nafas keras. “Baiklah, kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya anggap
kalian sudah mengerti. Dan saya harap, mulai sekarang, kalian
memperhatikan penjelasan saya dengan sebaik-baiknya!” Sora memperkeras
suaranya dan memberikan penekanan terhadap beberapa kata-katanya. Pandangannya
tajam menatap seisi kelasnya, sehingga para siswi yang memandangnya memuja
menjadi tersentak dan menunduk malu, serta para siswa memperhatikan Sora
kembali sambil meringis.
Sora melihat situasi sudah kembali seperti semula dan
berkata, “Bagus, ini yang saya harapkan dari tadi. Kalian semua sudah kelas
tiga, sudah saatnya kalian benar-benar serius. Ini tahun terakhir kalian di
SMA, dan kalian akan menempuh ujian akhir. Bukan hanya itu saja, tapi setelah
lepas dari SMA ini, berarti satu langkah lagi menuju kedewasaan. Langkah yang
sangat menentukan masa depan kalian, entah kalian mau langsung bekerja atau
meneruskan ke jenjang lebih tinggi di kota sana,” Sora terdiam sejenak.
“Kuharap kalian mengerti kalau itu semua bukanlah main-main. Tugas saya di sini
sebagai guru kalian, saya bertanggung jawab terhadap kalian. Saya berharap
kalian semua mau bekerja sama dengan saya hingga kalian bisa mendapatkan nilai
yang baik, tentu saja. Apa kalian mengerti?”
Seisi kelas hanya terdiam dan beberapa ada yang menunduk
dalam. Ada yang tampak malu dan menyesal, kemudian mereka menjawab pelan,
“Mengerti, pak,”
“Bagus kalau kalian mengerti,” Sora menghela nafas pelan.
Ia tidak bermaksud memarahi muridnya, ia hanya ingin tegas dan disiplin, karena
tentu saja ia ingin yang terbaik untuk muridnya. Meski mungkin di mata muridnya
Sora merupakan guru yang cukup menakutkan. “Ngomong-ngomong, beberapa kursi
terlihat kosong. Di mana para penghuni kursi itu?” Sora mengedarkan
pandangannya ke seisi kelas dan memang terlihat beberapa kursi terlihat kosong,
padahal biasanya kelas itu penuh.
Seorang siswa menjawab, “Ah, itu Satomi dan yang lainnya,
pak. Mereka sudah dari tadi pagi berlatih sepak bola untuk mempersiapkan diri
dalam mengikuti kompetisi melawan sekolah-sekolah di desa ini ataupun desa yang
lain, pak. Mereka bilang mungkin akan terlambat, tapi seharusnya tidak sampai
jam pertama berakhir mereka bilang sudah akan masuk,”
“Oh,” jawab Sora pendek. Sudah kelas tiga seharusnya
konsentrasi belajar, bukannya malah memikirkan kompetisi seperti itu. Sora
menghela nafas, mau bagaimana lagi, meskipun hanya di desa, gengsi tetaplah
gengsi, kebanggaan untuk suatu kemenangan pasti tetaplah ada. Apalagi tim sepak
bola dari sekolah ini cukup kuat dan selalu menjadi juara, atau setidaknya
mendapatkan posisi ketika menghadapi kompetisi antar sekolah di desa-desa
daerah Hokkaido ini. Sekolah tentu saja tidak mau kehilangan prestasi itu.
Pemain utama kebanyakan sudah kelas tiga sekarang, dan mau tidak mau mereka
harus ‘mengorbankan’ waktu belajar mereka demi mempertahankan prestasi dan
kebanggaan sekolah. ‘Toh begitu lulus juga kebanyakan akan bekerja di desa
membantu ayah-ibunya, jarang yang melanjutkan ke universitas di kota. Yang
sedikit pintar bisa langsung bekerja menjadi guru, seperti Sora. Sora
sebenarnya tidak setuju dengan cara berpikir seperti itu, mudah sekali menyerah
pasrah!
Tapi Sora juga tidak bisa banyak bicara, ‘toh
kenyataannya dirinya juga tidak menuntut pendidikan hingga ke jenjang
tertinggi, yaitu universitas. Sora ‘berakhir’ sebagai seorang guru di desa.
Namun Sora memiliki alasannya sendiri, ya, karena alasan itu. Sora tertawa
sinis, apa gunanya juga ia menceritakan alasan itu? Akankah mereka peduli?
Bukankah malah akan terlihat dan terdengar konyol serta terkesan hanya membela
diri? Tidak ada gunanya! Yang terpenting Sora melaksanakan tugasnya sekarang
sebagai guru, dengan sebaik-baiknya. Membuat murid-muridnya mendapatkan nilai
baik di ujian akhir dan tidak ada murid yang harus mengulang sehingga mereka
tidak akan merasakan penyesalan.
Sora membetulkan posisi kacamatanya. Ia memang memakai
kacamata jika sedang membaca buku atau mengajar seperti ini. Kemudian, Sora
melihat ke arah jendela dan melihat Maya yang berlari-lari keliling lapangan.
Matanya sedikit melotot dan dahinya mengernyit. Apa? Apa dia sedang dihukum?
Apa mungkin dihukum karena terlambat? Tapi kalau memang ia terlambat, mana
mungkin! Bukankah seharusnya dia bangun lebih pagi hari ini? Bagaimana bisa?
“Benar-benar, ckckck..,” keluh Sora dalam hati. Lalu Sora
kembali menatap seisi kelasnya, beberapa di antara mereka menatap Sora dengan
heran, karena Sora diam saja dari tadi dan sekilas menampilkan ekspresi seperti
terkejut melihat sesuatu. Sora merutuk dirinya sendiri, bukan saatnya
melamun memikirkan hal lain sekarang!
“Baiklah, kita lanjutkan lagi pelajarannya. Sekarang buka
buku kalian halaman 56..,”
♪ ♪ ♪
“Aduhhhh capekkkkkk...,” Maya berhenti dan memegang kedua
lututnya agar tubuhnya yang hampir limbung karena kelelahan tetap bisa bertumpu
dan bertahan. Nafasnya terputus-putus. “Dasar guru gila! Dia mau membunuhku apa,
menyuruhku lari keliling lapangan 20 kali!? Padahal kesalahanku ‘kan kecil,
cuma terlambat saja ‘kok!” gerutu Maya sambil mengelap keringat di dahinya
dengan punggung tangannya. Ya, memang sudah beberapa kali ‘sih terlambatnya,
tepatnya hampir setiap hari. Gerutu Maya dalam hati. Tapi ‘kan masa
karena itu guru pengawas kedisiplinan itu jadi menghukumku setega ini, ‘sih!?
“Haizzzz keringatan banyak begini lagi,” Maya segera
merogoh saku roknya mengeluarkan sesuatu untuk mengelap keringatnya. Sapu
tangan. Maya menatap sapu tangan putih yang sudah sedikit kotor karena tadi
dipakainya untuk mengelap lukanya. Sapu tangan yang dipinjamkan oleh wanita
misterius tadi.
Maya menghela nafas panjang. Hari ini saja aku
memakaimu, setelah ini akan kucuci hingga bersih dan kukembalikan pada
pemilikmu. Aku tidak mau berhutang. Maya mengelap keringatnya dengan sapu
tangan itu dan menatap ke langit. Sinar matahari sudah semakin tinggi, hawa
panas sudah mulai terasa. Untung saja dihukumnya tidak waktu siang hari,
bisa-bisa Maya sudah pingsan duluan sebelum menyelesaikan hukumannya. Langit
biru yang masih sama seperti dengan yang dilihatnya tadi pagi, membuat perasaan
Maya menjadi sedikit lebih tenang.
Maya melanjutkan kembali mengelap keringatnya ketika
tiba-tiba ia merasa ada sebuah bola bergulir ke arahnya. Bola itu berhenti di
dekat kakinya. Maya melihat bola itu dan mengambilnya, serta memutar-mutarnya.
Di bola itu terdapat inisial nama, ‘S.S’.
“Maaf, itu bolaku,” suara itu membuat pandangan Maya
beralih dari bola ke sumber suara yang saat ini berdiri di dekatnya.
Maya melihatnya. Sosok remaja laki-laki, tinggi dan bisa
dibilang... tampan. Sorot matanya tegas tapi juga lembut. Rambutnya kecoklatan
agak panjang seperti model rambut pendek wanita, tapi tetap tertata rapi dan
hal itu sama sekali tidak menimbulkan kesan feminin darinya. Ia terlihat
memakai kaos seperti kaos olahraga, yang dikenali Maya sebagai kaos tim sepak
bola sekolah ini. Kaosnya terlihat sedikit basah karena keringat. Apa dia
pemain sepak bola sekolah ini? Tapi melihat bola yang dipegang Maya
sekarang, bola sepak, memang sepertinya begitu.
“Maaf, itu bolaku. Bisakah kau kembalikan?” tanya
laki-laki itu lagi.
“Ah!” Maya tersentak dari lamunannya. “Maaf,” Maya
melemparkan bola itu ke laki-laki tersebut. Laki-laki itu menangkap bola dari
Maya, “Lemparan bagus!” ia tersenyum menatap Maya, yang dimana Maya yakin
senyuman itu membuatnya merasakan suatu desiran lembut di dadanya.
Maya hanya tersenyum kecil. Desiran ini, debaran ini
berbeda dengan yang dirasakannya terhadap Sora. Senyuman lelaki di depannya ini
cerah dan terkesan ceria, berbeda dengan senyuman Sora yang lembut namun
terkesan misterius. Maya merasa belum pernah melihatnya di sekolah selama ini.
Maklum, mungkin karena Maya juga baru anak kelas 1 dan masa-masa SMA nya juga
belum terlalu lama dimulai.
“Terima kasih,” katanya lagi. Maya hanya mengangguk pelan
lalu berbalik dan kembali mengelap keringatnya. Kemudian ia memasukkan sapu
tangan itu lagi ke dalam roknya. Maya menyadari lelaki di dekatnya ini masih
terus memandangnya. Maya sedikit jengah dilihat terus seperti itu. Lelaki itu
seakan tengah mengamatinya dari atas ke bawah untuk menilai penampilannya.
Kemudian, ia berbalik hendak mengatakan sesuatu tepat ketika lelaki berinisial
‘S.S’ itu berkata, “Kau baik-baik saja?”
“Apa?” tanya Maya, bingung. “Kau bertanya padaku?”
“Ya, iyalah. Tentu saja. Memang kau pikir di sini ada
siapa lagi selain kita?” lelaki itu tertawa.
“Oh..,” Maya meringis. Memang di lapangan yang luas ini
yang sekarang terlihat hanyalah mereka berdua. “Maksudku, kau tadi bertanya
apakah aku baik-baik saja, iya, ‘kan? Aku tidak mengerti, kenapa kau bertanya
begitu padaku?”
Lelaki itu tersenyum. “Sebenarnya sudah dari tadi aku
mengamatimu, melihatmu yang berlari-lari keliling lapangan sambil terus
menggerutu dan mengomel, benar-benar lucu,” lelaki itu tertawa. Wajah Maya
merona, entah malu karena ia dilihat ketika sedang berlari mengenaskan, atau
tersipu karena laki-laki ini mengatakan bahwa ia sudah mengamati Maya dari
tadi. “Lagipula kau terlihat lelah sekali dan hampir berulang kali limbung,
tampangmu seperti orang sakit, sekarat tepatnya. Makanya aku bertanya, apa kau
baik-baik saja?”
Baik-baik saja apanya, kalau kau tahu tampangku sudah
seperti orang sekarat kenapa kau masih bertanya? Gerutu Maya dalam hati.
Belum sempat Maya menjawab pertanyaannya, lelaki itu
sudah bekata lagi, “Lalu...,” lelaki itu menarik tangan kiri Maya, Maya
terkejut. “A.. apa?” Maya tergagap.
“Ini..,” laki-laki itu tersenyum dan menunjukkan luka di
telapak tangan kiri Maya akibat terjatuh diserempet sepeda tadi. “Telapak
tanganmu terluka begini, apa ini juga baik-baik saja? Meski kelihatannya sudah
dibersihkan dengan tisu atau sapu tangan tapi tetap saja harus dibersihkan dan
diobati,” katanya lembut.
Maya diam, tertegun. Aroma laki-laki ini, ia seperti
rerumputan dan dedaunan yang tumbuh dengan segar... Terkesan ceria seperti
rerumputan dan dedaunan yang menari mengikuti angin, dan juga lembut..
“SATOMI!” teriak seorang lelaki berambut cepak jauh di
belakang mereka, membuat Maya dan lelaki yang dipanggil Satomi itu menoleh ke
arah sumber suara yang berada di pinggir lapangan. “Apa yang kau lakukan di
situ? Ayo cepat ganti bajumu dengan seragam dan kita cepat masuk, jam pertama
hampir berakhir! Bisa-bisa nanti kita dimarahi pak guru karena dikira membolos!
Kita ‘kan izin hanya sampai sebelum jam pertama berakhir!” lanjutnya lagi.
Oh, jadi salah satu kepanjangan inisial S dari S.S itu
Satomi rupanya, pikir Maya.
“Iya, Takeshi! Sebentar lagi! Bilang saja aku mau ke
ruang kesehatan dulu mengobati anak ini!” jawab Satomi.
Eh? Maya menatap Satomi. Apa?
Mengobati anak ini... maksudnya.. aku!?
“Hmm, baiklah! Jangan lama-lama, ya, Satomi! Kalau
dimarahi aku tidak tanggung, lho! Kau ‘kan tahu guru yang satu itu mengerikan!”
kata Takeshi.
Satomi tertawa, “Iya, iya, tenang saja! Bilang saja pada
pak guru aku memperpanjang izinku beberapa menit, aku akan segera kembali!”
“Dasar, menyusahkan saja! Pokoknya aku tidak mau jadi
ikut dimarahi!” gerutu Takeshi. “Baiklah, aku duluan, ya!” kata Takeshi sambil
melambai dan berlalu.
Satomi tertawa, “Tidak akan, tenang saja! Terima kasih,
Takeshi!”
Maya terdiam. Tangan kirinya masih dipegang terus oleh
lelaki yang bernama Satomi ini. Ia belum pernah merasa sedekat ini dengan
seorang pria, kecuali Sora. Apalagi saat ini tangannya terus berada dalam
genggaman Satomi, seorang lelaki yang baru saja ditemuinya. Maya merasa ini
tidak benar, ia seharusnya tidak membiarkan dirinya seperti ini.
“Ma.. maaf..,” Maya perlahan melepaskan tangannya dari
genggaman Satomi, membuat Satomi menoleh ke arahnya. “Kau.. tidak usah
mengantarku ke ruang kesehatan, aku baik-baik saja, ‘kok,”
“Kau yakin? Kau baru saja dimarahi oleh guru pengawas
kedisiplinan, dihukum lari keliling lapangan 20 kali, itu bukan hukuman yang
ringan tahu? Dan kau sudah seperti mau pingsan sekarang, belum lagi tanganmu
terluka seperti ini...,”
Ternyata dia juga melihatku dimarahi habis-habisan tadi
di depan gerbang depan sekolah, wajah Maya memerah karena
malu. Kenapa lelaki ini bisa melihat kronologis kesialannya pagi ini dengan
begitu lengkap, ‘sih?
“Aku tidak bermaksud melihat atau mengamatimu, ‘kok.
Hanya saja aku juga latihan bersama tim ku dari tadi pagi dan ketika kami
selesai latihan, saat itulah, yah...,”
“Oh..,” Maya menanggapi pendek. Tetap saja kau
melihatku dalam kondisi memalukan, gerutu Maya. “Aku.. baik-baik saja,
‘kok. Sekarang, aku sudah mau ke kelas,” Maya hendak berjalan melewati Satomi
ketika ia merasa lututnya lemas dan ia hampir limbung jatuh. Satomi segera
menahan tubuh Maya yang hampir jatuh.
“’Tuh, ‘kan, apa kubilang barusan? Lebih baik kau ke
ruang kesehatan dan beristirahat dulu sekarang, sekaligus mengobati lukamu!”
“Aku baik-baik saja, ‘kok!” Maya ngotot, berusaha
melepaskan diri dari Satomi, namun Satomi tetap menahan tubuh Maya agar tidak
lepas darinya. Maya tidak bisa melawan, ia merasa terlalu lelah dan tidak punya
tenaga untuk melawan.
“Sudahlah, lebih baik kau turuti seniormu ini! Kau anak
baru, ‘kan? Aku yakin karena aku belum pernah melihatmu selama ini. Sekarang,
lebih baik kita ke ruang kesehatan sebelum kau benar-benar pingsan di sini karena
aku bahkan sudah meminta izin lebih panjang untuk masuk ke kelas untuk
mengantarmu ke ruang kesehatan!”
Aku ‘kan tidak menyuruhmu meminta izin untuk membawaku ke
ruang kesehatan! gerutu Maya dalam hati.
“Lepaskan aku, aku baik-baik saja,” ujar Maya, pelan.
Satomi tidak menggubrisnya dan ia terus saja memapah
tubuh Maya, berjalan meninggalkan lapangan. “Lebih baik kau turuti aku
sekarang. Hilangkan semua ego dan gengsimu dan lebih baik kau pikirkan
kondisimu saja!”
Maya hanya terdiam dan tidak melawan lagi. Ia merasa
percuma untuk melawan lelaki yang ada di sampingnya ini, dan meskipun Maya
melawanpun, dengan tenaganya yang sekarang, ia tahu ia akan kalah. Lagipula
sebenarnya lelaki yang tengah memapahnya ini, Maya tahu, sama sekali tidak
punya maksud jahat, hanya bermaksud menolongnya. Ia baik, juga lembut. Benar,
ia lembut seperti gerakan rerumputan dan dedaunan yang lembut ditiup angin...
♪ ♪ ♪
“Permisi, pak. Maaf kami terlambat masuk,” ujar Takeshi
masuk kelas diikuti dengan beberapa temannya yang juga merupakan pemain dari tim
sepak bola sekolah mereka. Mereka segera menuju ke tempat duduknya
masing-masing.
Sora hanya mengangguk sekilas melihat mereka, sebelum ia
menyadari sesuatu. Salah satu kursi masih kosong dan ia sadar siapa yang tidak
ada, “Dimana Satomi? Bukankah dia juga ikut latihan bersama kalian?”
“Ah,” Takeshi yang hendak duduk tersadar. “Satomi bilang
tadi dia minta izin sebentar lagi, pak. Dia bilang ingin mengantar seseorang ke
ruang kesehatan,” jawab Takeshi.
“Seseorang? Siapa? Pemain tim sepak bola dari kelas lain?
Apa dia terluka? Tidak sedang mencari alasan untuk bolos, ‘kan?” tanya Sora
tajam dan bertubi-tubi.
Takeshi yang mendapatkan ‘serangan mendadak’ seperti itu
terlihat salah tingkah, “Ti.. tidak, ‘kok, pak. Benar. Satomi bilang dia akan
segera kembali. La... Lagipula...,”
“Lagipula apa?” potong Sora, tajam.
“La.. lagipula,” Takeshi menelan ludahnya sejenak. Kenapa
guru ini menakutkan sekali, ‘sih? Kenapa dia harus banyak bertanya? “Yang
terluka bukan pemain sepak bola, pak. Sepertinya seorang gadis,”
“Seorang gadis? Apa temanmu itu bermaksud kabur dari
pelajaranku untuk berpacaran dengan seorang gadis?” dahi Sora mengernyit, ia
kelihatan tidak suka. “Pelajaranku bukan untuk main-main. Kalau kalian memang
tidak suka bilang saja, tidak usah ikut pelajaran ini,” seisi kelas terdiam.
Suasana hening. Mereka semua tidak berani memandang Sora yang tengah memasang
pandangan tajam. Mempesona sebenarnya, tapi terlihat juga seperti ingin
membunuh. Takeshi merasa ia benar-benar hendak dimangsa oleh ‘macan’ yang ada
di depannya. Padahal sebenarnya yang dimarahi Satomi, bukan dirinya. Tapi tetap
saja ia merasa ia yang kena getahnya. Satomi, awas kau! Gara-gara kau aku
yang jadi kena getahnya! gerutu Takeshi dalam hati.
“Bu.. bukan, pak,” jawab Takeshi akhirnya, setelah
keheningan yang cukup panjang. “Ga.. gadis itu, sepertinya anak kelas satu yang
sedang dihukum karena terlambat, pak. Tadi saya sempat melihat gadis itu
dihukum lari keliling lapangan, cukup lama. Mungkin gadis itu terluka dan
Satomi bermaksud menolongnya,” lanjut Takeshi pelan sambil memandang Sora
takut.
“Seorang gadis yang sedang dihukum lari keliling
lapangan?” dahi Sora mengernyit lagi. Sora tersentak. Apa mungkin...? “Apa
gadis itu.. terluka?” tanya Sora, pelan. Dadanya berdebar kencang, takut.
Sekarang gantian Takeshi yang memandang Sora, heran.
Entah kenapa gurunya ini terkesan tidak segalak yang tadi, di matanya sekilas
terlihat ekpresi takut dan khawatir. “Ng, saya juga kurang tahu, pak. Mungkin
saja, soalnya Satomi sampai ingin membawanya ke ruang kesehatan,”
Sora langsung memasang ekspresi dingin lagi, yang
langsung membuat Takeshi kembali menunduk takut. Apa ekspresi pak guru yang
terlihat khawatir itu hanya perasaanku saja?
“Baiklah,” Sora berkata akhirnya. “Aku akan mengecek
kebenaran kata-katamu itu. Kau boleh duduk, dan sekarang kalian kerjakan
latihan halaman 60 nomor 1 dan 2.
Kuharap ketika aku kembali kalian semua sudah siap dengan jawabannya. Tetap
jaga keheningan, jangan sampai aku mendapatkan laporan ada yang membuat
kegaduhan di kelas ini,” kata Sora tegas. Ia memandang tajam seisi kelas,
sebelum ia keluar kelas.
Ketika Sora keluar dari kelas, seisi kelas langsung
menghela nafas lega. Takeshi langsung duduk dan mengipas-ngipasi dirinya,
seolah ia baru saja keluar dari ruangan yang sangat panas.
“Fiuhhh.. aku kira aku bakal mati tadi. Rasanya umurku
berkurang beberapa tahun,”
Seorang gadis berkuncir kuda yang duduk di depan Takeshi
menoleh ke belakang menghadap Takeshi, “Tapi tetap saja, ‘kan.... dia tampan
dan mempesona,”
Takeshi menatap gadis itu tidak percaya. Ia tertawa
mengejek, “Hahaha, ya, silakan saja kau merasakan tatapan membunuh dari pria yang
tampan dan mempesona itu dan kujamin kau tidak akan mengatakan hal itu lagi,”
Gadis itu mencibir, “Kurasa tidak, mungkin malah aku akan
meleleh ditatap seperti itu, ahhhh...,” gadis itu menerawang membayangkan,
membuat Takeshi hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba sekelompok
gadis menyerbu meja Takeshi yang membuat Takeshi terkejut, “Haizzz kalian ini,
untung saja aku tidak jatuh!” gerutu Takeshi pada sekelompok gadis itu.
Namun gadis-gadis itu tidak menggubris gerutuan Takeshi
dan hanya berkata, “Benarkah Satomi mengantar seorang gadis? Siapa gadis itu?”
“Ah, aku tidak percaya! Aku benar-benar iri pada gadis
itu!”
“Apa gadis itu pura-pura terluka agar mendapatkan
perhatian Satomi?”
“Benarkah, kalau begitu, gadis itu benar-benar licik dan
perlu kita beri pelajaran! Takeshi, katakan pada kami siapa gadis itu!”
“Apa kita perlu menyusul ke ruang kesehatan? Ah, tapi pak
Sora sudah ke sana bisa-bisa kita malah dimarahi!”
“Beruntungnya gadis itu.. dia akan dikelilingi oleh dua
cowok tampan, pak Sora dan Satomi sekaligus...,”
Takeshi hanya menatap gerutuan dan celotehan tidak jelas
dari para gadis di depannya dengan mulut menganga dan tidak percaya. Sora dan
Satomi benar-benar menjadi idola di kelas, ah tidak, di sekolah ini. Sora yang
dingin serta Satomi yang lembut, begitulah kesan dari para gadis di sekolah
ini. Sifat mereka berdua yang bertolak belakang justru menjadi daya tarik
tersendiri, bahkan di sekolah ini terdengar kabar kalau para gadis hendak
membentuk perkumpulan ‘Duo-S Fans Club’, dimana Duo-S yang dimaksud adalah Sora
dan Satomi.
Takeshi menatap ke seisi kelas. Para siswi ribut
sedangkan para siswa berusaha tidak mempedulikan celotehan dari para siswi yang
mereka anggap berisik, cerewet, dan menyebalkan. Mereka lebih memilih
mengerjakan soal yang diperintahkan Sora untuk dikerjakan jika mereka masih
memilih untuk ‘selamat’ dari Sora. Sora bisa baik, meskipun itu kejadian yang
sangat langkah dan hampir tidak pernah terjadi. Kalau Sora sudah sedikit galak,
uh! Amit-amit, ‘deh! Membuat suasana seperti di neraka! Beginilah suasana kelas
jika ada Sora masuk mengajar di kelas.
Entah kenapa Sora yang seperti itu malah bisa menjadi
idola di sekolah ini, mungkin karena sikap dingin dan kejamnya itulah yang
membuatnya terkesan misterius. Apalagi wajahnya yang juga tampan. Takeshi
memutuskan untuk ikut tidak mempedulikan para gadis yang ribut di dekatnya dan
mulai membuka buku tulis dan buku paketnya. Takeshi menumpukan dagunya di atas
tangannya. Ia menggerutu. Aku bisa
gila! Benar-benar.. tidak dapat dipercaya!
♪ ♪ ♪
Bel jam pertama selesai berbunyi. Sora berlari menyusuri
lorong sekolah. Dadanya berdebar kencang, ia merasa cemas dan khawatir. Apa
mungkin gadis itu Maya? Apa mungkin Maya terluka? Entah kenapa Sora
benar-benar merasa takut sesuatu yang buruk terjadi dengan Maya. Jangan
berlebihan, Sora! Mungkin Maya hanya terluka kecil saja! Sora berusaha
berpikiran positif dan meyakinkan dirinya sendiri, namun tetap saja kepanikan
itu tidak bisa hilang. Sora semakin mendekati ruang kesehatan ketika dari
kejauhan, Sora melihat ada dua sosok mendekat. Semakin lama dua sosok itu
terlihat jelas. Sora menghentikan larinya, nafasnya sedikit terengah dan
sedikit keringat mengucur dari dahinya. Kerah kemejanya terlihat sedikit
berantakan.
Sora bisa melihat dua sosok itu sekarang, semakin jelas.
Seorang lelaki tengah memapah seorang gadis mungil. Sora tahu gadis mungil itu,
Maya. Dan lelaki di sebelahnya, Sora yakin itu Satomi. Sora hanya terdiam menatap
mereka yang berjalan semakin mendekati Sora yang sudah berdiri di dekat pintu
ruang kesehatan. Awalnya Maya dan Satomi tidak menyadari keberadaan Sora,
karena Maya berjalan sambil menunduk, ia terus menumpu tubuhnya agar tetap
dapat berjalan dengan benar. Sedangkan Satomi berjalan sambil berulang kali
menatap Maya yang jauh lebih pendek darinya, memastikan apakah ia memapah Maya
dengan benar, agar Maya tidak terjatuh.
Sora melihat mereka dan mengeratkan kepalan tangannya
yang terjatuh di samping tubuhnya. Ia merasa kesal, mengapa bukan dirinya yang
menolong Maya di saat Maya seperti ini, mengapa harus lelaki lain, mengapa
harus Satomi!? Sora tidak tahu ia bisa merasakan perasaan kesal seperti ini, ia
kesal, marah dan... ia tahu perasaan ini. Cemburu.
“Sabar, ya, sebentar lagi sampai ke ruang kesehatan,”
kata Satomi, lembut.
Maya hanya meringis sambil terus berjalan. Ternyata
kakinya sakit juga setelah lari keliling lapangan 20 kali. Untung saja Satomi
memaksanya ke ruang kesehatan untuk beristirahat dulu, jika tidak Maya tidak
yakin dengan kondisi begini ia akan bisa sampai ke kelas, naik tangga saja
sudah susah. Maya berjalan pelan sambil sedikit mengangkat kepalanya, dan
ketika ia menangkap sosok di depannya ia tertegun dan berhenti berjalan. Satomi
heran dengan Maya yang tiba-tiba berhenti berjalan dan mengikuti arah pandangan
Maya.
“Pak Sora..,” gumam Satomi, pelan.
Sora terus saja menatap mereka dengan pandangan yang tak
terbaca. Ia menatap Maya, cemas. Kemudian Sora kembali memasang ekspresi dingin
seperti yang dipasangnya ketika di kelas tadi ketika menatap Satomi,
“Kembali ke kelasmu sekarang, Satomi..,”
Dahi Satomi sedikit mengernyit. “Tapi, pak, gadis ini
terluka dan sedang butuh istirahat, jadi saya...,”
“Apakah kata-kataku kurang jelas, Satomi? Segera ganti
seragammu dan kembali ke kelasmu sekarang! Tanyakan pada teman-temanmu latihan
apa yang harus kau kerjakan, dan kuharap setelah aku kembali kau sudah
mengerjakannya,” ujar Sora, dingin.
Satomi menatap Sora, terlihat sedikit tidak suka. “Tapi,
pak, bagaimana dengan...,”
Sora memotong kata-kata Satomi, “Bagaimana dengan gadis
ini? Ia akan menjadi urusanku. Tidak baik pada jam pelajaran begini seorang murid
berkeliaran dan bukannya berada di kelas. Bukankah kau izin hanya sampai sebelum
jam pertama berakhir? Sekarang jam pertama sudah usai. Pelajaranku masih ada
satu jam pelajaran lagi dan lebih baik kau memanfaatkannya dengan baik. Sudah
cukup peran pahlawanmu sampai di sini. Aku sebagai guru yang akan bertanggung
jawab akan nasib siswi ini, kau tidak usah khawatir dan segera kembali ke
kelas, sekarang juga!”
Suasana hening, dan Maya merasakannya, sedikit tegang.
Sora menatap Satomi dingin, dan Satomi balas menatapnya dengan pandangan tidak
suka juga... menantang. Maya merasa tidak enak, ia tidak ingin berada dalam
situasi seperti ini. Kemudian Maya berkata pada Satomi, “Pak guru Sora benar,
sebaiknya kau kembali ke kelas sekarang agar tidak ketinggalan terlalu banyak
pelajaran,”
“Tapi, bagaimana denganmu?” Satomi menoleh menatap Maya, protes.
Dia enggan meninggalkan Maya dalam kondisi begini, bagaimanapun tadi dialah
yang memaksa membawa Maya ke ruang kesehatan dan Satomi merasa ia harus
bertanggung jawab akan kata-katanya.
“Apa kata-kataku tadi tidak jelas, Satomi?” seru suara
Sora, dingin. “Sudah kukatakan aku yang akan bertanggung jawab, tenang saja.
Lebih baik kau kembali ke kelasmu sekarang,”
Satomi menatap guru di depannya tajam. Maya menghela
nafas melihat kedua pria di dekatnya ini.
“Sudahlah, aku tidak apa-apa. Pak guru Sora bilang beliau
bisa menanganiku, tenang saja. Lagipula ruang kesehatan juga sudah di depan
mata, kau tidak perlu khawatir, ada guru kesehatan juga di dalamnya,” Maya
menatap Satomi untuk meyakinkannya.
“Kau... yakin?” tanya Satomi sekali lagi. Maya mengangguk.
Satomi akhirnya menghela nafas dan melepaskan dirinya dari Maya. Maya berdiri
dengan sedikit tertatih tapi ia berusaha bertahan untuk meyakinkan Satomi bahwa
dirinya baik-baik saja.
Satomi menatap Maya sejenak, ia masih terlihat khawatir.
Tapi Maya memberikannya pandangan ‘pergilah, aku baik-baik saja’.
“Cepat sembuh, ya. Semoga kau baik-baik saja,” ujar
Satomi pada Maya. Maya mengangguk.
Akhirnya Satomi berjalan meninggalkan Maya dan melewati
Sora, “Saya permisi, pak,” ujar Satomi dingin, persis ketika ia berdiri di
sebelah Sora, dan segera berlalu. Sora terdiam tanpa ekspresi, tidak menjawab.
Ketika yakin Satomi benar-benar sudah berlalu dan hilang
dari pandangan, Maya menghela nafas panjang dan seketika kakinya menjadi lemas
lagi. Maya mencoba kembali berjalan namun ia limbung. Sora yang melihatnya
terkejut dan segera menuju ke arah Maya untuk menahan tubuhnya, “Mungil!”
“Sudah, lepaskan tanganmu! Aku baik-baik saja!”
“Yang begini kau sebut baik-baik saja? Lihat wajahmu
pucat dan kakimu lemas begini!” gerutu Sora.
Maya melepaskan diri dari Sora, “Hei, pak guru, kau tahu,
‘kan, ini sedang jam pelajaran? Jangan berteriak menarik perhatian, bisa-bisa
semua keluar dari kelas, tahu? Apa kau mau mereka menduga yang tidak-tidak
melihat posisi kita yang seperti ini? Lebih baik kau juga kembali mengajar dan
aku kembali ke kelas! Bukankah tadi kau bilang pada jam pelajaran ini para
murid sebaiknya jangan berkeliaran?” Maya berusaha kembali berjalan. “Aku
kembali ke kelas dulu,”
Sora menatap Maya gemas, juga kesal. Aku berkata
seperti tadi karena ada alasannya, tahu! Melihat Maya berjalan
tertatih-tatih membuat Sora tertawa mengejek, kemudian ia segera menarik tangan
kiri Maya, dan menariknya menuju ruang kesehatan.
“Auwww!” teriak Maya.
Mendengar Maya berteriak kesakitan, langkah Sora terhenti
ketika ia hendak membuka pintu ruang kesehatan. Ia menatap tangan Maya yang ada
di genggamannya. Di telapak tangannya terlihat ada luka. Sora menatap Maya
dengan dahi mengernyit.
“A.. aku tidak apa-apa, ‘kok,” kata Maya, cepat.
Sora menatap Maya tajam lalu menghela nafas dan kembali
berbalik membuka pintu ruang kesehatan. Ia merangkul tubuh Maya untuk
memapahnya masuk. “Kalau kau memang tidak ingin aku berteriak dan membuat
kegaduhanyang menarik perhatian, lebih baik kau menurut padaku, mungil, untuk
mengistirahatkan kakimu dan mengobati luka di tanganmu. Dan... aku harap kau
bisa menjelaskan kepadaku kenapa kau bisa mendapatkan luka ini,”
Maya hanya pasrah ‘digiring’ Sora masuk ke ruang
kesehatan. Ketika ia mendengar Sora mewajibkannya untuk mengatakan alasan
mengapa ia bisa terluka, Maya seketika menjadi takut dan cemas. Kalau aku
bilang, dia pasti marah padaku... Bagaimana ini? Maya hanya bisa berdoa
dalam hati agar Sora tidak terlalu marah padanya. Oleh karena itu, ia
memutuskan untuk menuruti Sora kali ini karena ia tahu ketika Sora mendengar
alasannya, ia pasti akan marah lagi, seperti kemarin.
♪ ♪ ♪
Satomi menutup lokernya di ruang ganti. Ia sudah memakai
seragamnya kembali sekarang. Satomi duduk di bangku panjang dekat loker. Di
otaknya, ia masih mengingat kejadian tadi. Satomi tahu jika Sora merupakan guru
yang tegas, disiplin, dan dingin. Satomi sendiri mengaku ia tidak terlalu
menyukainya. Tapi tadi... aneh. Entah kenapa Sora memandangnya dengan tatapan
yang tidak pernah dilihatnya di kelas. Wajahnya tanpa ekspresi dan dingin, itu
biasa, tapi tadi Satomi merasakan Sora seakan seperti hendak menantangnya.
Entahlah, Sora terlihat seperti tidak suka melihat
Satomi. Pandangan itu dirasakan Satomi bukan seperti pandangan dingin dari guru
ke muridnya yang dianggap tidak bertanggung jawab menjalankan kewajibannya
sebagai pelajar dengan meninggalkan ruang kelas dan malah terlihat berkeliaran
di lorong sekolah dengan memapah seorang gadis, tapi lebih seperti pandangan
kesal dan tidak suka dari seorang pria melihat ada orang lain yang berada di
samping gadisnya, kekasihnya. Pandangan cemburu. Apalagi tadi Sora juga
terlihat sedikit khawatir melihat kondisi gadis yang dipapah Satomi. Satomi
juga tadi sempat melihat kerah kemeja Sora terlihat berantakan dan ada sedikit
keringat mengucur dari dahinya, nafasnya juga sedikit terengah meskipun itu
semua nyaris bisa ditutupi dengan ekspresi dingin yang kembali ditunjukannya.
Semua itu menunjukkan Sora seperti habis berlari. Tidak biasanya, karena Sora
dikenal dengan pembawaannya yang tenang.
Satomi tersentak. Mungkinkah? Tidak mungkin. Tapi,
kalau itu benar, apa hubungan antara gadis itu dan pak Sora? Apakah mungkin,
Sora, guru yang terkenal dingin itu...? Satomi mengenyahkan pikiran itu, tidak
baik berasumsi sekarang. Untuk apa ia memikirkannya? Kalau memang itu benar,
seharusnya sudah ada gosip yang tersebar dan para gadis di sekolah ini pasti
akan meributkannya. Maklum, Sora ialah idola di sekolah ini. Mungkin Satomi
hanya terbawa perasaan kesal dan tidak sukanya pada guru yang menurutnya sudah
seenaknya tadi padanya, makanya ia jadi berpikir aneh-aneh dan berlebihan. Ya,
pasti seperti itu.
“Siapa juga yang berniat jadi pahlawan? Maksudku ‘kan
hanya untuk menolongnya saja,” gerutu Satomi mengingat kata-kata Sora yang
mengatakan ‘Sudah cukup peran pahlawanmu sampai di sini’. Satomi berdiri
sambil terus memikirkan kemungkinan itu. “Hentikan, Satomi. Jangan berpikir
yang aneh-aneh,” Satomi mendesah pelan dan keluar dari ruang ganti.
♪ ♪ ♪
Maya duduk diam di ruang kesehatan. Ia melihat Sora
mencari barang di lemari yang tersusun atas rak alat dan obat ruang kesehatan.
Sora terlihat sudah melepas kaca matanya, dan kaca mata itu ia taruh di saku
kemejanya.
“Guru kesehatan sedang tidak ada di tempat, jadi aku yang
akan mengobati lukamu dulu, ya,” kata Sora sambil mengambil cairan pembersih
luka.
Maya hanya terdiam menunduk. Sora yang tidak mendengar
jawaban Maya menoleh menghadap Maya. “Kau kenapa, mungil? Kenapa diam? Apa kau
terlalu lelah sampai-sampai tidak bisa menjawab? Kalau memang begitu, sebaiknya
kau tiduran dulu di tempat tidur,” kata Sora, terlihat cemas.
Maya menggeleng cepat. “Ti.. tidak, ‘kok. Aku baik-baik
saja. A.. aku hanya tidak yakin apa kau benar-benar bisa mengobati lukaku?”
Sora tertawa, lega karena melihat Maya yang sudah bisa
ketus menjawabnya, berarti Maya akan baik-baik saja. Sora kembali meneruskan
pekerjaannya mencari barang di rak, “Jangan meremehkanku, mungil. Kau ‘kan
tahu, aku pria serba bisa!”
Maya menggerutu pelan. “Mulai lagi ‘deh narsisnya...,”
Sora yang mendengarnya tertawa. Sora mengambil baki kosong dan menaruh
alat-alat yang diambilnya ke atas baki kosong itu.
“Tidak kusangka kau galak juga, ya, waktu jadi guru,”
kata Maya, membuka pembicaraan.
Sora tertawa kecil. “Menurutmu begitukah, mungil? Ya,
begitulah aku jika mengajar. Tegas, disiplin...”
Maya memotong kata-katanya. “Galak, dingin, kejam,
mengeluarkan aura pembunuh. Kurasa itu lebih tepat. Aku heran dengan sikapmu
yang seperti itu kenapa para siswi di sekolah ini masih mengidolakanmu, ‘sih?”
“Astaga, mungil. Kenapa penggambaranmu kepadaku seburuk
itu, ‘sih? Tidak bisakah kau memujiku sedikit saja?” Sora menahan tawanya.
“Jika mereka masih memujaku ya itu urusan mereka. Mungkin pria sepertiku
terkesan misterius dan membuat penasaran. Yah, berarti selera mereka tinggi,
mungil,”
“Apa di sini ada baskom? Aku merasa ingin muntah,” gerutu
Maya, ketus. Sora tertawa keras. “Memang begitu kenyataannya, ‘kan? Seharusnya
kau tidak perlu sedingin tadi. Satomi, ‘kan, ehmm.. maksudku kak Satomi, karena
bagaimanapun dia juga seniorku...,”
Tawa Sora terhenti dan ia memotong kata-kata Maya, “Hei,
kau curang sekali. Dia saja kau panggil ‘kak’, bagaimana denganku? Umurku jauh
di atas dia juga dirimu, tapi kau malah memanggilku ‘hei’, ‘kau’,” gerutu Sora.
Maya tertawa. “Aku tidak bisa memanggilmu begitu, entah
kenapa,” Sora merengut. “Hei, dengarkan aku. Kau kenapa ‘sih mengeluarkan aura
begitu dingin dan seperti ingin membunuh ke.. kak Satomi? Kau tahu tidak jika para
siswa mengecapmu sebagai guru yang mengerikan!”
Sora menghela nafas sambil terus mencari barang di rak dan
menggerutu. Bukan mauku bersikap seperti tadi, aku bersikap tadi ‘kan
karena... gerakan tangan Sora
terhenti. Ia tersadar akan pemikirannya sendiri. Sora bersikap seperti tadi,
memandang Satomi penuh permusuhan, karena ia tidak suka... melihat Satomi
berada di samping Maya, memapah Maya, begitu dekat dengan Maya. Sora tidak suka
menghadapi kenyataan bukan dirinya lah yang berada di posisi Satomi. Sora...
cemburu terhadap Satomi. Tapi, kenapa? Bukankah Sora sudah meyakinkan dirinya
setelah kejadian kemarin malam jika ia tidak memiliki perasaan lebih dari
saudara terhadap Maya?
“Sekarang giliran kau yang diam,” suara Maya membuyarkan
pikiran dan lamunan Sora. Sora tertawa dipaksakan dan kembali terlihat sibuk
mencari barang, “Ah, aku.. bukan maksudku bermaksud dingin, aku hanya bermaksud
mendisiplinkan muridku agar tidak seenaknya meninggalkan pelajaran apalagi dia
sudah kelas tiga, waktunya menempuh ujian akhir,” ujar Sora, berbohong. Dia
tahu dia memandang Satomi tidak suka bukan karena alasan itu. “Lagipula jika
para siswa memang berpikir seperti itu, ya biarlah. Itu bagus agar mereka lebih
hormat pada guru mereka dan tidak bersikap seenaknya hanya karena usiaku tidak
jauh beda dengan mereka. Hmmm, dimana ya pinsetnya?” Sora bermaksud menyibukkan
diri untuk menenangkan dirinya.
“Dia ‘kan hanya bermaksud menolongku. Jangan
menghukumnya, ya. Jangan galak-galak padanya sebagai seorang guru,” pinta Maya.
Sora yang mendengarnya tidak suka, kenapa ia terus membela Satomi, ‘sih? Kenapa
ia harus membicarakan tentang Satomi? Sora menutup lemari dan membawa baki
yang telah berisi alat-alat yang dibutuhkannya ke dekat Maya. Ia mengambil
kursi, duduk di hadapan Maya, dan menaruh baki di meja kecil di dekatnya. Sora
hendak membuka tutup botol cairan pembersih luka ketika Maya berbicara lagi,
“Hei, kau tidak menjawabku,” Maya menatap Sora heran.
Sora menggerutu. “Baiklah, mungil, akan kupertimbangkan.
Akan kulihat sikapnya, jika dia bersikap baik, maka aku tidak akan
menghukumnya,”
“Kau juga... jangan galak-galak sebagai seorang guru.
Murid-muridmu tentu akan bersikap baik jika kau juga bersikap begitu kepada
mereka. Di kelasku kau tidak begitu... dingin. Tidak mengerikan seperti yang
mereka bicarakan. Setidaknya sedikit lebih manusiawi,”
Itu karena ada kamu, mungil... pikiran itu tidak disuarakan Sora karena Sora sendiri
tidak tahu mengapa ia bisa menjadi seperti itu. Sora menghela nafas, “Kita
hentikan topik ini sampai di sini, mungil. Sekarang giliran aku yang bertanya.
Mengapa kau bisa mendapatkan luka seperti itu di tanganmu?” Sora menutup
kembali tutup botol cairan pembersih luka dan menaruhnya kembali di baki. Ia
menatap Maya.
Deg! Jantung Maya berdegup kencang. Akhirnya mereka
sampai pada topik ini juga. Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Sora
memandangnya heran, “Mungil?”
Maya kembali tidak menjawab dan hanya bisa menundukkan
kepalanya.
“Mungil, jangan katakan kalau kau berbuat sesuatu yang
tidak benar,” kata Sora, perlahan namun tajam.
Maya memandang Sora, takut. “Kau... janji jangan marah,
ya, tapi...,”
“Tergantung ceritamu, mungil..,”
“Kumohon...,” Maya memandang penuh permohonan pada Sora.
Sora yang dipandang seperti itu menjadi luluh juga, ia tidak tega melihat Maya
yang sudah memandangnya seperti itu meski ia tahu apa yang sudah dilakukan
gadis ini pasti sesuatu yang bisa membuatnya marah.
“Baiklah..., sekarang jelaskan padaku...,” Sora menarik
nafas pelan.
Maya menelan ludahnya dan memberanikan diri menjawab,
“Sebenarnya... tadi waktu aku berjalan ke sekolah, aku melihat ke langit dan
sedikit melamun. Sedang menikmati, lebih tepatnya. Aku tidak menyadari jika ada
seseorang membunyikan bel sepeda dari belakang. Salahku juga aku berdiri agak
ke tengah jalan, jadinya aku... terserempet sepeda dan jatuh,” Maya kembali
menundukkan kepalanya sedangkan Sora menatapnya dengan mata terbelalak.
“Apa!? Jadi kau.. terserempet sepeda!?” tanya Sora lagi,
ia tidak mempercayai apa yang didengarnya.
Maya mengangguk pelan.
“Astaga, mungil! Kemarin kau hampir tertabrak mobil dan
sekarang kau benar-benar terserempet sepeda! Untung saja bukan mobil, mungil!
Bukankah sudah kubilang untuk berhati-hati dan jangan melamun! Bagaimana kalau
yang tadi menyerempetmu itu bukan sepeda dan mobil!? Untung lukamu kecil,
bagaimana jika...,” Sora berteriak frustasi, cemas dan khawatir.
“Kau tadi sudah janji tidak akan marah,” Maya memotong
kata-kata Sora. Sora menghentikan kata-katanya dan melihat Maya menunduk
dalam-dalam. Sora menarik nafas panjang dan dalam, lalu menghembuskannya.
Kemudian ia mengelus rambut Maya, membuat Maya mendongak menatapnya.
“Maaf, aku hanya... cemas. Aku takut, mungil, sesuatu
yang mengerikan terjadi padamu,” Sora menjawab pelan.
Maya tidak memberikan tanggapan, ia tahu jika wajar Sora
marah karena Sora khawatir padanya. Ia melihat kerah kemeja Sora yang berantakan
dan dahi Sora yang sedikit berkeringat, apakah Sora tahu kondisinya yang
seperti orang sekarat setelah berlari keliling lapangan tadi sehingga ia
berlari mencari Maya untuk memastikan apakah Maya baik-baik saja? Apakah itu
benar? Apakah memang Sora begitu khawatir padanya? Sebenarnya, fakta Sora cemas
padanya seperti ini membuatnya... senang. Debaran lembut itu muncul lagi ketika
Sora mengelus kepalanya lembut.
“Lain kali kau harus hati-hati, ya. Jangan melamun di
jalan, sudah kuperingatkan kemarin. Untung saja hanya terserempet sepeda,
bagaimana kalau sampai tertabrak mobil? Kumohon, mungil. Jangan membuatku
khawatir terus, bisa-bisa aku terkena serangan jantung karenamu, mungil..,”
keluh Sora.
“M.. maaf..,” jawab Maya, pelan. “Aku... tidak akan
mengulanginya,”
Sora menghela nafas lagi lalu ia mengambil pinset yang
diujungnya diberi kapas yang telah dibasahi dengan cairan pembersih sebelumnya.
“Aku akan membersihkan lukamu, mungil. Ulurkan tanganmu..,”
“Ah, iya...” Maya menyadari wajahnya sedikit merona.
Dadanya berdegup lembut, namun ketika Sora telah menyentuh telapak tangannya,
jari-jarinya, debaran itu semakin lama semakin kencang.
Apa dari ujung jariku bisa terdengar suara degup
jantungku?
Deg deg deg... suara debaran jantung Maya semakin intens.
Maya menundukkan wajahnya yang merona, ia tidak mau Sora melihatnya.
Saat ini jantungku berdegup kencang...
Maya tidak bisa berkonsentrasi. Ia tidak tahu apa yang
dipikirkannya, ia hanya terus berusaha mengontrol rona wajahnya dan degup
jantungnya agar Sora tidak menyadarinya. Sora sangat dekat, ia terlalu dekat,
begitulah menurut Maya. Sora terlihat berkonsentrasi membersihkan luka Maya
lalu mengobatinya.
Deg deg deg...
Bagaimana ini? Debaran jantungku tidak dapat kukendalikan
lagi.. Apa Sora bisa mendengarnya? Kumohon.. Jangan
terlalu dekat, Sora..
Maya menatap jari-jari Sora yang merawat lukanya dengan
cekatan. Menutupinya dengan perban. Jari-jari yang besar, lembut, dan hangat...
Aku tidak ingin... ada yang tahu saat-saat ini.Aku tidak
ingin... memberitahukan ini pada siapapun... Aku tidak ingin ada yang tahu sisi
Sora yang ini...
“Selesai,” kata Sora menyadarkan Maya dari lamunannya.
Maya melihat telapak tangannya diperban sekarang. “Baiklah, mungil. Kurasa
kakimu masih lemas karena dihukum lari tadi, sekarang kau istirahat, ya. Ketika
nanti sudah merasa baikan baru masuk kelas, tapi jika tidak kau izin saja hari
ini. Akan kubuatkan surat izinnya,” Sora membereskan peralatan yang dipakainya.
“Aku akan mencari guru kesehatan untuk menjagamu di sini dan setelah itu aku
akan langsung kembali mengajar,” Sora berdiri beranjak menuju pintu.
“A, ah..., anu..,” Maya spontan mengatakan sesuatu ketika
ia melihat Sora hendak keluar. Ia tidak rela melihat Sora sudah mau pergi
sekarang. Entah kenapa Maya spontan menghentikannya. Apa yang kau pikirkan,
Maya? Tentu saja Sora harus keluar sekarang, dia ‘kan punya jadwal mengajar!
“Ada apa, mungil?” tanya Sora, heran.
“A... anu, anu... kau... tidak marah padaku, ‘kan?” Maya
merasa pertanyaannya itu bodoh tapi pertanyaan itu keluar begitu saja dari
mulutnya sendiri.
Sora tertegun sejenak, kemudian tertawa, “Kau sudah tahu
jawabannya, ‘kan, mungil? Sudah, lebih baik kau istirahat yang baik, ya. Aku
keluar mengajar dulu,” kata Sora sambil tersenyum lembut lalu keluar dari ruang
kesehatan.
Pintu ruang kesehatan tertutup, meninggalkan Maya yang
terdiam, masih dengan wajah sedikit merona dan debaran jantung yang masih
terdengar berirama.
Dia.. dia tidak membenciku... dia... dia tidak marah
padaku...
Tanpa sadar, Maya tersenyum senang menyadari kenyataan
itu, dan seketika itu juga ia tersentak. Kenapa aku sesenang ini? Bukankah
kemarin aku sudah meyakinkan diriku bahwa aku hanya melihatnya sebagai seorang
kakak? Kenapa aku berdebar? Kenapa wajahku merona? Kenapa?
Maya menatap tangannya yang diperban. Ia masih mengingat
sentuhan lembut Sora di telapak tangannya. Jantung Maya berdebar lagi. Debaran
ini berbeda dengan yang tadi sempat ia rasakan sedikit dengan Satomi. Terhadap
Satomi, debarannya lembut, tidak sekencang ini. Maya hanya terpesona pada
senyumnya yang lembut dan ceria, sikapnya yang baik ya, hanya itu. Mungkin
hanya itu. Tapi, debaran Maya terhadap Sora lebih terasa asing, di satu sisi
terasa menyenangkan, tapi juga menyakitkan sehingga ingin membuatnya menangis,
entahlah... Maya tidak pernah merasakan hal ini pada Sora sebelumnya.
Jika aroma Satomi tadi seperti rerumputan, maka aroma
Sora, dia seperti...
♪ ♪ ♪
“Aku pulang,” seru Rei sambil membawa beberapa kantong
belanjaan dan memasuki penginapan. Rei hendak masuk kamar ketika ia melihat
ketiga temannya hanya berdiri di dekat pintu kamar dan seperti menguping. “Hei,
sedang apa kalian?”
Sayaka, Taiko, dan Mina terlonjak kaget mendengar suara
Rei. Rei heran melihat tingkah ketiga temannya yang tampak salah tingkah itu.
“REI!! Kau mengejutkan kami saja!” seru Sayaka.
“Habisnya kalian sendiri ngapain seperti itu di depan
pintu, aneh,” Rei segera melewati ketiga temannya dan beranjak hendak masuk.
Mina menepiskan tangan Rei yang hendak membuka pintu. Rei
menatapnya heran. “Kau mau apa, Rei?” tanya Mina.
“Tentu saja masuk untuk menaruh belanjaan. Mengapa kau
bertanya begitu, Mina?” Rei menatap Mina, bingung.
Taiko menghela nafas, “Nanti saja, Rei. Kau tidak bisa
masuk sekarang, ibu guru sedang ada tamu penting dari kota. Kelihatannya mereka
berdua sedang berbicara serius sekali,”
“Tamu dari kota? Siapa?”
Sayaka menyandarkan diri ke dinding, “Kejutan besar, Rei.
Kudengar Hayami lah tamu penting ibu guru itu,”
“Hayami!?” mata Rei terbelalak. “Maksudmu, Eisuke Hayami,
Jenderal Besar Daito itu?”
Mina mengangkat bahunya. “Sepertinya, entahlah. Aku tidak
mengerti ada urusan apa orang sepenting itu mendatangi ibu guru,”
“Kita sudah berusaha menguping pembicaraan mereka tapi
tidak terdengar. Haizzz, entah pintunya yang terlalu tebal atau volume suara
mereka yang terlalu kecil,” gerutu Sayaka. “Padahal ‘kan penginapan ini cukup
kecil, suara apapun seharusnya bisa terdengar,”
Rei tidak menggubris gerutuan Sayaka, ia hanya menatap
pintu tertutup di depannya dengan perasaan heran. Sebenarnya apa yang sedang
terjadi?
♪ ♪ ♪
“Selamat sore, Maya!” sapa orang-orang yang berpapasan di
jalan dengan Maya.
“Ah, iya, selamat sore bi!” jawab Maya.
“Baru pulang sekolah, Maya?”
“Iya, bi. Saya baru pulang, hehehe,” jawab Maya sambil
cengengesan, untuk menutupi rasa sakit di kakinya. Kakinya masih terasa lemas
akibat efek lari keliling lapangan 20 kali tadi.
Sore menjelang. Langit senja terlihat berwarna oranye
bercampur jingga. Burung-burung beterbangan kembali menuju sarangnya. Angin
berhembus sedikit kencang. Maya teringat tadi ia tertidur hingga sore karena
kelelahan dan begitu ia terbangun, pelajaran sudah usai. Oleh karena itu Maya
memutuskan untuk segera pulang dan mandi, setelah itu langsung tidur. Ia
benar-benar merasa lelah hari ini.
Dari belakang, Sora melihat Maya berjalan tertatih-tatih
seperti nenek-nenek. Sora menatapnya prihatin bercampur geli, ia tersenyum
dikulum. Kemudian dengan setengah berlari, Sora menghampiri Maya.
“Hei, mungil,” Sora mensejajarkan dirinya di samping
Maya. Maya menoleh, terkejut melihat Sora. “Kenapa? Terkejut melihatku, ya?”
Maya terdiam dan Sora menganggap diamnya Maya sebagai
jawaban ya. “Aku tadi mencarimu ke kelas dan Sugiko bilang kau tidak mengikuti
pelajaran sama sekali hari ini. Lalu aku ke ruang kesehatan dan kau sudah tidak
ada. Makanya, aku berpikir untuk segera menyusulmu karena aku yakin dengan
kondisimu yang... begini, kau pasti belum jauh,” jelas Sora panjang lebar. “Dan
ternyata aku benar,” lanjutnya sambil tersenyum lebar.
Maya terdiam, dalam hati ia terharu dengan perhatian Sora
padanya. Dari dulu hingga sekarang, kau memang selalu baik padaku,
menjagaku, melindinguku. Maya merasa dadanya kembali berdesir pelan. “Mana
sepedamu?” tanya Maya mengalihkan pembicaraan.
“Belum kuperbaiki kemarin, malas. Lagipula aku agak lelah
kemarin. Banyak hal yang harus kukerjakan. Kupikir bagus juga sekali-sekali
jalan begini,” jawab Sora, santai.
“Oh,” Maya hanya menanggapi pendek.
Sejenak hening di
antara mereka. “Kau baik-baik saja?” tanya Sora.
Maya menggerutu. “Apa kau bodoh? Tidak bisakah kau
menebak dari hanya melihat? Apakah menurutmu aku baik-baik saja? Bukankah tadi
siang kau sudah melihat kondisiku? Haizzz, pertanyaanmu bodoh sekali!” jawab
Maya galak lalu berbalik dan berjalan lagi.
“Galak sekali, ‘sih. Aku ‘kan bertanya baik-baik,” Sora
sedikit kesal, tapi ia kasihan juga melihat Maya yang berjalan seperti orang
encok. Apalagi melihat telapak tangan Maya yang terluka saat ini sudah
diperban, meski lukanya tidak dalam. Sora merasa sangat khawatir.“Aku pikir kau
‘kan sudah baikan dengan istirahat cukup lama sampai tidak ikut pelajaran
tadi,”
“Mana mungkin bisa sembuh secepat itu, ‘sih. Dihukum lari
keliling lapangan 20 kali, yang benar saja!” gerutunya. “Tapi sudah sedikit baikan,
‘sih. Kurasa yang kubutuhkan sekarang ialah tidur hingga besok pagi,”
“Dihukum lari keliling lapangan 20 kali!? Astaga, mungil!
Kesalahan apa yang kau perbuat sehingga guru pengawas kedisiplinan menghukummu
seperti itu?” Sora terlihat terkejut. “Kurasa aku perlu membuat perhitungan
dengan guru itu!” kata Sora sambil pura-pura berpikir.
Maya tertawa kecil, “Memang benar-benar guru botak
sinting! Aku ‘kan hanya terlambat kenapa dia menghukumku setega itu, ‘sih!?”
Dahi Sora mengernyit. “Apa? Jadi kau benar-benar
terlambat lagi, mungil? Bagaimana bisa, ‘sih? Pantas saja guru itu menghukummu
karena kau terlambat terus, tidak heran, ‘sih...,”
Maya melotot menatap Sora, “Jadi, kau tidak jadi membuat
perhitungan dengan guru itu?”
Sora mengangkat bahu. “Tentu saja tidak, mungil! Lagipula
kurasa yang dia lakukan tepat, karena terlambatmu sudah keterlaluan. Hampir
setiap hari, mungil. Aku heran, kenapa hari ini kau terlambat lagi, ‘sih?
Bukankah seharusnya kau bangun lebih pagi hari ini?” suara Sora sedikit lebih
pelan di akhir kata-katanya.
Maya menatap Sora, ia tahu arah pembicaraan Sora. Hadiah
dari Sora tadi pagi. Aku sudah bangun lebih pagi, tahu, hanya saja...
Maya mengingat wanita itu dan pembicaraannya dengan wanita itu. Ia merasa tidak
perlu menceritakannya kepada Sora. Ia juga takut Sora menganggapnya aneh, pembicaraan
Maya dan wanita itu membahas hal yang sama sekali tidak lazim. Merasakan
alam, mencium aroma? Apa lagi maksudnya?
“Entahlah!” Maya menggerutu sambil berjalan sedikit lebih
cepat.
Sora berhenti berjalan. “Hei, kau tidak mau
menceritakannya?”
“Aku tidak mau! Sudahlah!”
Sora menghela nafas. Ia tidak bisa memaksa Maya bercerita
karena kelihatannya Maya benar-benar tidak mau. Apa mungkin hal ini berhubungan
dengan terserempetnya Maya oleh sepeda sehingga membuatnya terluka tadi? Sora
merasa tidak enak, apa mungkin aku sudah menyinggungnya dan membuatnya
mengingat lagi kejadian tidak enak tadi pagi? Sora menatap Maya yang terus
saja berjalan perlahan sambil tertatih-tatih dan berulang kali harus berhenti
untuk menahan tubuhnya yang hampir jatuh. Sora menghela nafas kemudian ia
berjalan melewati Maya dan berhenti di depan Maya, sehingga membuat Maya
berhenti berjalan. Sora berjongkok di depan Maya. Maya menatapnya heran.
“Ayo naik,”
Dahi Maya mengernyit. “Apa?”
“Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan? Ayo, cepat naik
ke punggungku! Sebelum aku berubah pikiran..,”
Maya terdiam. “Naik... ke punggungmu?”
Sora menggerutu, “Masih pakai bertanya lagi. Bukankah apa
yang mau kulakukan sudah jelas jika aku jongkok di depanmu seperti ini? Cepat
naik, karena aku merasa jika cara jalanmu seperti itu kau tidak akan cepat
sampai rumah. Kurasa baru tengah malam kau sampai rumah. Ayo, naik!”
“Kau... serius?” tanya Maya, tidak percaya.
“Iya..,” jawab Sora pendek.
“Kau... sungguh-sungguh mau menggendongku pulang di
punggungmu?”
“Kau ini banyak bertanya, ya. Mau atau tidak? Kalau tidak
mau ya sudah,” ujar Sora sambil beranjak hendak berdiri.
Maya yang melihat Sora hendak berdiri segera beranjak
memegang lengan baju Sora. Sora menoleh. Maya kemudian memalingkan wajahnya dan
berkata,
“Y.. ya.. kalau kau sungguh-sungguh memaksa, ya baiklah.
Aku akan menerima kebaikan hatimu itu,” ujar Maya dengan gaya angkuh, namun
suaranya tetap terdengar terbata. Sora menatap wajah Maya yang merah, Sora
menduga Maya pasti malu dan gengsi untuk mengatakannya. Sora tersenyum dikulum.
Sora menyerahkan tas kerjanya pada Maya, kemudian Sora
jongkok lagi di depan Maya, “Ayo naik, mungil!”
Maya tersenyum dikulum sambil melingkarkan kedua
tangannya di leher dan bahu Sora. Maya menyenderkan tubuhnya pada punggung Sora
dan Sora segera berdiri memegang kedua kaki Maya sambil membetulkan posisinya
agar Maya tidak jatuh dan nyaman dalam gendongannya. Sora kembali berjalan.
Mereka berjalan dalam hening
“Astaga mungil, kukira kau ringan karena tubuhmu mungil.
Tapi ternyata kau berat juga, ya,” keluh Sora.
“Apakah kau menyesali keputusanmu menggendongku? Sayang
sekali, Tuan, Anda terlambat. Aku tidak berminat untuk turun, kamu yang memaksa
dan bukankah pantang bagi seorang pria untuk menjilat ludahnya sendiri?” gerutu
Maya.
Sora tertawa kecil. “Kau benar-benar seperti Tuan Putri,
mungil. Jangan katakan ini bagian dari aktingmu. Apa mungkin kakimu yang sakit
ini hanya akting saja? Ah, jangan bilang sebenarnya kau ingin aku gendong
seperti ini, ‘kan? Cuma kau saja yang tidak mau mengakuinya!”
“Apa?! Enak saja! Dasar bodoh! Bagaimana mungkin aku
berakting kakiku sakit, ‘sih!?” Maya memukul-mukul punggung Sora. “Apa kau
pikir aku mau digendong olehmu!? Aku juga tidak sudi, tahu?” Maya menggerutu
kesal.
“Heizz, hentikan, mungil! Aku hanya bercanda! Jangan
memukulku dan bergerak terus, kita bisa jatuh! Sudah tahu tubuhmu itu berat
jangan bergerak-gerak terus!”
“Sekali lagi kau bilang berat, aku akan memberimu
pelajaran, Tuan Sora Fujimura!” ancam Maya yang hanya disambut tawa oleh Sora.
Enak saja berat? Tapi
kemudian Maya berpikir, apa benar aku seberat itu? Apa ini karena efek aku
makan terus, ya?
Sora sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, “Kenapa
kau diam, mungil? Ah, aku tahu. Kau barusan pasti berpikir kenapa dirimu berat.
Iya, ‘kan?”
Wajah Maya merona. Kenapa orang ini selalu bisa
menebak pikirannya, ‘sih!? “Ti.. tidak! Enak saja! Jangan asal bicara!
Kalau kau asal bicara, aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran!”
“Aiooo, ancamannya itu terus, mungil. Menakutkan, lakukan
saja kalau kau bisa!” Sora tertawa kecil, Maya hanya bisa merengut. “Lebih baik
kau banyak berolahraga agar tidak berat seperti ini dan agar kakimu mungil,
sehingga jika kau terlambat kau sudah kuat untuk dihukum lari keliling lapangan
20 kali!” goda Sora. Maya merengut kesal. Sora tertawa. “Sudah, sudah. Jangan
ngambek seperti anak kecil terus, mungil. Lebih baik sekarang kau istirahat,
bersandar pada punggungku, tidurlah sejenak. Nanti kalau sudah sampai rumah
kubangunkan,” ujar Sora lembut.
Maya terdiam. “Benar aku boleh bersandar?”
Sora tertawa, “Hei, mungil. Kau ini seperti bicara dengan
orang yang tidak kau kenal saja? Aku ini sudah mengenalmu bertahun-tahun, aku
bahkan sudah tahu tubuhmu itu seperti ap...,” Sora menghentikan bicaranya
ketika Maya memukul kepalanya dengan tangannya yang tidak memegang tas. “Awwww
sakit, mungil! Kau mau membuatku amnesia, ya!?”
“Baguslah kalau kau amnesia, setidaknya ketika kau sadar kau
bisa menjadi sedikit waras! Jangan berbicara seperti itu dengan suara keras,
dasar bodoh! Itu ‘kan kejadian waktu masih kecil,” ujar Maya dengan wajah
merah.
“Galak sekali kamu mungil.. Padahal tadi siang kamu
begitu penurut dan memandangku dengan tatapan memohon,” Sora tersenyum lebar.
“Berbanggalah, mungil, karena tidak semua orang bisa kugendong dan kuizinkan
bersandar di punggungku yang lebar dan nyaman ini,” kata Sora, angkuh. “Kujamin
para gadis pasti akan iri denganmu! Untuk bisa dekat denganku saja, mereka
harus memohon-mohon!”
Maya tertawa mengejek, kemudian ia menyandarkan kepalanya
di punggung Sora. Sora tersenyum dan sedikit membetulkan posisi mereka agar
Maya benar-benar nyaman bersandar.
“Maaf, ya, mungil. Tadi aku sudah memaksamu bercerita
kenapa kau bisa terlambat. Padahal aku tahu kau tidak mau bercerita karena itu
akan mengingatkanmu pada kejadian diserempet sepeda tadi. Maaf, ya, aku tidak
bermaksud mengingatkanmu akan kejadian mengerikan itu,” kata Sora, pelan.
“Eh?” Maya tertegun. Padahal bukan itu alasan Maya
sehingga ia tidak bercerita, tapi Sora berpikir seperti itu. Maya tersenyum
lembut, Sora benar-benar baik dan memikirkan perasaannya. Padahal Sora tidak
salah, tapi ia minta maaf. “Kau tidak salah. Tidak ada yang perlu dimaafkan,”
jawab Maya, lembut. Sora tersenyum.
“Sudah lama, ya, mungil, sejak terakhir kali aku
menggendongmu seperti ini...,”
“Iya, kau benar..,” Maya memejamkan matanya. Rasanya
nyaman menyenderkan kepala di punggung Sora seperti ini. Sudah lama
sekali... sejak saat itu..
“Ngomong-ngomong..,” Maya mengangkat kepalanya, lalu
berkata dengan suara pelan.
“Hm?” tanya Sora.
“Tadi kenapa... kau bisa ke ruang kesehatan? Seolah-olah
kau tahu aku ada di sana...,”
Sora terdiam, jantungnya sedikit berdetak lebih kencang.
Lalu ia menjawab, “Hmmm... tadi aku mengajar di kelas... Satomi,” Sora merasa
tidak suka menyebutkan nama itu. “Temannya berkata bahwa Satomi akan sedikit
masuk terlambat masuk ke kelas karena menolong seorang gadis yang terluka, gadis
yang baru saja dihukum lari keliling lapangan, dan hendak membawa gadis itu ke
ruang kesehatan. Tadi waktu aku sedang mengajar, sekilas aku melihat bayanganmu
sedang berlari keliling lapangan lewat jendela. Makanya, aku punya perasaan...
apa mungkin gadis itu... kamu, mungil,” jawab Sora pelan. “Dan ternyata memang
benar. Aku cemas tadi, aku berpikir apa kau benar-benar terluka. Syukurlah kau
baik-baik saja,” Sora sedikit menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat
Maya dan tersenyum.
Senyuman Sora ini... selalu sukses membuat dada Maya
berdetak kencang lagi. Maya terharu, ia sangat senang dengan perhatian Sora
padanya. Kerah kemeja Sora yang tadi dilihatnya sedikit berantakan dan bercak
keringat di dahinya membuktikan bahwa Sora memang berlari menyusuri lorong
menuju ruang kesehatan karena khawatir padanya, memastikan apakah gadis itu
benar dirinya, memastikan apakah gadis itu baik-baik saja. Kecemasan dan
kekhawatiran Sora padanya membuatnya merasa diperhatikan.
Maya kemudian berkata lagi, “Hmmm... lalu...,”
“Hm?”
“Untuk yang tadi pagi...” Maya sedikit bergerak
mendekatkan bibirnya ke telinga Sora. Sora tidak menyadari gerakan Maya
tersentak ketika ia merasakan helaan nafas Maya di dekat telinganya. Entah
kenapa tiba-tiba debaran jantungnya memacu jadi lebih cepat. Telinganya terasa
lebih sensitif. Maya berkata lembut di telinga Sora, “Terima kasih, ya.
Hadiahnya benar-benar indah,” kata Maya. Dalam hatinya, Maya menambahkan, untuk
semuanya... terima kasih...
Sora terdiam. Ia tidak tahu pasti apa yang ia rasakan
sekarang. Debaran jantungnya terasa semakin kencang, tapi juga menyenangkan.
Sekaligus menyakitkan. Ia merasa dunianya terhenti, dimana hanya ada mereka
berdua saat ini, dan ia ingin terus seperti ini. Ia ingin waktu terhenti
sekarang, entah kenapa. Ada godaan di dalam dirinya untuk memeluk erat gadis
yang tengah digendongnya di punggungnya ini, yang sekuat tenaga dilawannya.
“Iya, sama-sama...,” jawab Sora, pelan.
Maya tersenyum kecil dan menyenderkan kepalanya lagi di
punggung Sora. Ia melamun lagi. Ketika nanti Sora punya pacar, kekasih betulan,
bukan ‘adik’ seperti Maya, pasti wanita itu wanita dewasa, bukanlah anak kecil
seperti Maya. Wanita yang sepadan untuk Sora. Dan wanita itulah yang akan
digendong seperti ini, bukanlah Maya. Maya mengeratkan lingkaran tangannya yang
melingkari leher dan bahu Sora. Kenapa aku tidak rela meski hanya dengan
memikirkannya? Bukankah itu wajar dan seharusnya aku sudah menyadarinya sejak
awal?
Maya menghirup nafas dalam-dalam. Ia merasakan, ia
mencium aroma dari Sora. Benar.. jika Satomi seperti rerumputan dan dedaunan,
aroma Sora seperti langit.. tapi juga seperti sungai yang mengalir. Entah apa
lagi yang bisa melukiskan aroma Sora. Banyak sekali. Semua yang biru, jernih,
dan luas, semuanya melukiskan tentang Sora. Maya merasa ia menyukai aroma Sora,
menyenangkan juga menyakitkan. Membuatnya ingin menangis dan mengeluarkan air
mata, seperti debaran yang dirasakannya tadi di ruang kesehatan.
Bagaimana ini? Apa sebenarnya yang kurasakan ini
sebenarnya? Padahal dulu aku rela-rela saja memikirkan kemungkinan Sora
memiliki seorang kekasih, tapi kenapa sekarang tidak?
Maya memejamkan matanya.
Bagaimana ini? Kenapa aku bisa merasakan hal seperti ini?
Perasaan apa ini? Egois. Punggung Sora yang luas, nyaman, dan hangat ini, sekarang
ingin kumiliki hanya untuk diriku
seorang saja...
Sora dan Maya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Maya yang merasa lelah akhirnya jatuh tertidur di punggung Sora. Sora hanya
terus berjalan dalam diam, menatap ke depan, tidak memandang samping kiri
kanannya. Tanpa Sora sadari, mereka melewati sebuah mobil mewah, modelnya seperti
sedan namun panjang, berwarna putih, yang sedang terparkir di pinggir jalan.
Dari kursi penumpang mobil itu, Eisuke Hayami memandang Sora yang terus saja
berjalan sambil menggendong Maya melewati mobil Eisuke. Tampaknya Sora sibuk
dengan pikirannya sendiri dan tidak menyadari ada mobil disana.
Di wajah Eisuke terukir senyuman misterius. Pelayannya
yang duduk di kursi depan sebelah supir memandang wajah majikannya yang
tersenyum dan berkata, “Ada apa, Tuan? Kenapa tiba-tiba Anda tersenyum seperti
itu? Apakah pertemuan dengan Mayuko Chigusa menghasilkan hasil yang
‘menyenangkan’?”
Eisuke tertawa, “Tidak, Asa. Masih panjang jalanku untuk
mencapai hasil yang ‘menyenangkan’ itu. Aku hanya tidak menyangka aku akan
menemukan orang itu juga di desa ini, sungguh kebetulan yang sangat luar biasa!
Selama ini aku susah payah mencarinya! Ia akan bisa menjadi senjata rahasiaku,
Asa!”
Asa menatap Eisuke, bingung. “Maksud Anda dengan ‘orang
itu’ siapa, Tuan? Senjata rahasia, apa maksudnya?”
Eisuke tersenyum. “Kau akan tahu nanti, Asa. Yang jelas,
yang kau perlukan sekarang hanyalah menunggu perintahku, karena aku merasa
membutuhkan bantuanmu untuk menyelidiki ‘orang itu’. Kebetulan yang sangat
menyenangkan!” Eisuke tertawa lagi, sedangkan Asa hanya bisa diam kebingungan
dan menatap lagi ke depan.
“Tidak kusangka dia dan Mayuko sama-sama berada di desa ini.
Bukan kebetulan, ini benar-benar takdir! Takdir yang menghubungkan aku, dia,
dan sang Bidadari Merah. Sudah kuduga, ia sudah dewasa sekarang, terlihat
matang. Semoga yang kulihat itu benar-benar dia meski perasaanku mengatakan aku
benar. Akhirnya kutemukan juga... calon penggantiku, calon penerus Daito,
dan... calon penantang Mayuko Chigusa dalam merebut hak pementasan Bidadari
Merah...,” ujar Eisuke dalam hati sambil terus tersenyum licik dan misterius.
♪ ♪ ♪
Malam menjelang. Dari suatu ruangan kecil di dalam suatu
kamar penginapan Kousei, terdengar suara sayur yang dipotong juga suara sup
dalam panci yang diaduk. Asap dari masakan tampak mengepul kemana-mana dan bau
masakan tercium. Dalam kamar sekecil itu, bau masakan pasti dapat tercium ke
seluruh ruangan.
“Ah, tidak kusangka kamar sekecil ini bisa punya dapur
juga,” komentar Taiko sambil mengiris bawang.
“Ya, meskipun tetap saja tidak ada pembatas antara ruang
tidur, dapur, dan ruang makan. Sayang kamar mandinya merupakan kamar mandi
umum,” kata Mina sambil mencoba sup yang sedari tadi diaduknya. “Hmmmm, tinggal
ditambah bawang dan sayuran saja,” Mina menoleh pada Sayaka yang tengah
memotong sayuran di meja makan. “Sayaka, bagaimana? Apakah sayurannya sudah
bisa dimasukkan?”
Sayaka mengangguk, “Ya, sudah `kok...,” Sayaka
menghampiri Mina dengan sayuran yang sudah dipotongnya. Mina segera memasukkan
sayuran ke dalam sup dan menoleh pada Taiko yang mengiris bawang di sampingnya,
“Heiii, Taiko. Lelet sekali kau ini kerjanya, padahal hanya mengiris bawang
saja,”
Taiko menggerutu, “Jangan cerewet, Mina. Apa kau tidak
tahu dari tadi mataku menahan pedih sambil mengiris bawang ini, menyebalkan!
Air mataku mau keluar terus dari tadi! Apa kau tidak lihat kedua mataku merah
dan berair?” Taiko mengucek matanya. “Haizzz, aku bersumpah aku tidak akan
mengiris bawang lagi!”
Mina tertawa. Sayaka mencibir, “Kau ini Taikooo...
bagaimana kau bisa menjadi istri yang baik jika mengiris bawang saja kau tidak
bisa?”
Taiko melotot, “Jangan menghinaku, Sayaka. Apa kau pikir
kau sendiri bisa? Ckckckck... Kemampuan seorang istri yang baik tidak hanya
diukur dari mengiris bawang!”
“Heii, kau tidak tahu jika kemampuan memasakku sudah
meningkat dari sebelumnya?” omel Sayaka.
“Oh ya? Benarkah?” tanya Mina pada Sayaka sambil
menatapnya dengan tatapan menyelidik. Sayaka yang dipandang seperti itu jadi
jengah dan ngambek, “Minaaaaa....,” Mina dan Taiko tertawa.
“Lagipula,” lanjut Sayaka. “Aku ‘kan inginnya menjadi
artis yang baik bukan istri yang baik,” sungut Sayaka.
Mina berbalik dan mengecilkan api kompor, “Kehidupan kita
di atas panggung belum tentu abadi dan selamanya, Sayaka...,” Mina menhela
nafas pelan, “Aku sendiri sampai sekarang masih tidak mengerti kenapa ibu guru
mengajak kita ke sini,”
Sayaka dan Taiko yang mendengarkan Mina juga terdiam dan
mereka kembali sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Yang terdengar kembali
hanyalah suara sayur dipotong, bawang yang diiris, dan juga adukan sup.
“Wah, harumnya,” Rei menghampiri teman-temannya. Ada
handuk dikalungkan di kedua bahunya dan rambutnya tampak basah. “Apa makan
malamnya sudah jadi? Aku sudah lapar sekali,”
“Ahhh, enak sekali kau, Rei, kau sudah mandi,” gerutu
Sayaka. “Harusnya sudah jika saja Taiko tidak lelet mengiris bawangnya,” ujar
Sayaka sambil memandang mencela pada Taiko.
“Jangan menyindirku terus, Sayaka, atau kau yang akan
kuiris,” ujar Taiko sambil mengancungkan pisaunya pada Sayaka. Sayaka yang
dibegitukan langsung manyun. “Menakutkan sekali kau, Taiko... Aiooo... Lebih
baik kau beralih profesi menjadi pembunuh bayaran saja,”
Rei tertawa, “Sudah sudah. Bukankah kita sepakat untuk
membagi tugas? Aku sudah belanja bahan makanan yang sangat banyak dan kalian
yang memasak. Lagipula kalian ‘kan bekerja bertiga, sudah cukup enak bukan?”
Taiko dan Sayaka hanya bisa manyun mendengarkan Rei,
sedangkan Mina hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan akhirnya berusaha
menengahi,
“Ini sudah mau selesai ‘kok, Rei. Lebih baik kau cari ibu
guru dan kau bilang sebentar lagi sudah waktunya makan malam,” saran Mina
sambil menambah sesendok garam ke sup yang diaduknya.
“Ibu guru tidak ada? Memangnya kemana?”
“Jika kita tahu kita tidak akan menyuruhmu mencarinya
Rei,” ujar Sayaka. “Entahlah, sejak berbicara dengan tamunya dari kota itu ibu
guru keluar dari kamar dan entah kemana,”
Dahi Rei mengernyit. Kemudian Rei segera berbalik
bermaksud untuk mencari gurunya. Tepat ketika Rei berbalik, Rei tersentak
dengan adanya Genzo di belakangnya.
“Pa.. pak Genzo?”
“Nona Aoki tidak perlu khawatir. Lebih baik saya saja
yang mencari Nyonya. Nona di sini saja membantu yang lain,”
“Ta... tapi...,” belum sempat Rei protes, Genzo sudah
berlalu keluar kamar. Rei menatap kepergian Genzo dengan heran dan penasaran.
“Sudah, Rei. Pak Genzo ada benarnya. Lebih baik kau
gantikan aku saja, sebelum aku benar-benar muak dan menghancurkan semua bawang
ini atau membuangnya. Aku juga mau mandi dulu,” ujar Taiko sambil melepaskan
celemeknya lalu menyerahkannya kepada Rei. “Sudah, ya...,” Taiko menyusul Genzo
keluar kamar, masih meninggalkan Rei yang berdiri terpaku memegang celemek di
tangannya, dengan beragam pertanyaan terus saja terlintas di kepalanya.
“Rei?” seru Sayaka, heran memandang Rei yang terdiam.
“Kenapa kau diam saja? Ayo cepat iris bawangnya, agar makan malamnya cepat
siap,”
“Ah, iya...,” Rei segera memakai celemek dan mengambil
pisau yang ditaruh Taiko serta melanjutkan pekerjaan Taiko yang belum
terselesaikan.
♪ ♪ ♪
Mayuko terdiam di teras penginapan sambil menatap langit.
Ia memejamkan matanya. Terputar kembali memori pembicaraannya tadi siang dengan
Eisuke Hayami,
“Aku tidak suka berputar-putar, Mayuko. Kau jelas tahu
apa yang kuinginkan...,” ujar Eisuke. Mayuko hanya menatapnya tajam.
“Dan kau seharusnya sudah mengerti jika kau hanya
membuang-buang waktumu sampai ke sini untuk hal itu, karena sampai kapanpun aku
tidak akan memberikannya kepadamu,”
Eisuke tertawa sinis. “Aku ragu akan hal itu, Mayuko,”
“Apa maksudmu?” tanya Mayuko, waspada.
“Karya agung itu sudah lama tidak dipentaskan sejak
kejadian yang menimpa... dirimu,” Eisuke memelankan suaranya di akhir
kata-katanya. “Aku prihatin, benar-benar prihatin dengan kondisi yang menimpamu
sehingga kau tidak bisa melanjutkan karir keartisanmu,”
Mayuko memotong kata-kata Eisuke, “Terima kasih atas
keprihatinmu, kalau begitu, meskipun itu tidak kubutuhkan. Bukankah kau sendiri
tadi yang bilang kau tidak suka berputar-putar, mengapa sekarang malah kau yang
berbasa-basi?” tanya Mayuko tajam.
Eisuke tertawa hambar, “Ternyata...mulut tajammu itu
masih belum berubah juga, ya. Padahal aku tulus dan bukan maksudku untuk
berbasa-basi,”
“Dan kau pun tahu bahwa sejak dulu... aku tidak pernah
bermaksud beramah-tamah denganmu,” sambar Mayuko, pedas. “Aku tidak pernah tahu
kapan kau tulus dan tidak, karena bagiku... kau akan tetap sama saja dan tidak
pernah berubah,”
Eisuke menatap Mayuko, lurus tepat di matanya, “Kalau
begitu, aku menyesal... karena hubungan kita ternyata tidak dapat
diperbaiki...,” sorot matanya sekilas menampakkan kesedihan. “Tetap menjadi
musuh,”
“Tidak ada yang perlu diperbaiki,” Mayuko menatapnya
menantang. “Kau yang memintanya, Tuan Hayami. Kau yang menyebabkan semua
menjadi seperti ini. Kurasa takdir yang kejam yang telah ikut kau atur itu pula
yang menyebabkan hubungan kita menjadi seperti ini,”
Helaan nafas keras terdengar dari Eisuke. Sorot mata
kesedihan yang sekilas tadi diperlihatkannya telah menghilang dan ia kembali
menatap Mayuko dengan tatapan dingin, “Kembali ke topik kedatanganku ke sini. Karya
agung itu... kau pun sendiri tahu... sudah lama tidak dipentaskan lagi. Sungguh
sayang mengingat bagaimana sakral dan ajaibnya karya agung itu. Sayang sekali
jika hanya terkubur sebagai suatu sejarah. Aku hanya ingin... membangkitkan
karya agung itu lagi,”
“Karya agung itu tidak pernah mati, tidak pernah,”
tegas Mayuko. “Tidak akan pernah kubiarkan berakhir menjadi suatu sejarah saja,
yang bisa terkubur begitu saja,”
“Cihhh! Apa kau bermaksud memperbodoh para masyarakat
awam yang bertindak sebagai penonton, Mayuko Chigusa yang terhormat?” cibir
Eisuke. “Kenyataannya hal itulah yang kau lakukan sekarang. Membiarkan karya
agung itu tidak dipentaskan lagi. Ahhh.. jangan katakan ini salah satu bentuk
keserakahanmu?”
“Apa maksudmu mengatakan aku serakah?”
“Ya, kau serakah!” tekan Eisuke, tajam. “Buktinya
kau terkesan hanya ingin karya agung itu dipentaskan oleh dirimu saja! Tapi kau
tahu dengan kondisimu itu tidak mungkin! Sudah berpuluh tahun berlalu, apakah
kau akan membiarkan karya agung itu
tidak dipentaskan lagi dan menunggu kau terlahir kembali?” ejek Eisuke.
Mayuko tertawa, “Tidak kusangka kau memandangku serendah
itu,”
“Bukankah kau juga menganggapku demikian?” Eisuke sedikit
mengeratkan pegangannya di tongkat yang menopang tubuhnya yang tua. Ia
merasakan sedikit perih mengucapkan kata-kata ini kepada wanita di depannya,
juga mendengar respon dingin dan tajam dari wanita di depannya.
“Lalu, apa maumu?” tanya Mayuko.
“Kau tahu, Daito sekarang merupakan perusahaan paling top
di bidang hiburan di Jepang. Semua aktor, artis, drama, hampir semua yang
bergerak di bidang hiburan, yang terbaik, berasal dari Daito. Dan kurasa kau
pun bisa menebak jika dari dulu aku sudah menginginkan hak pementasan karya
agung, Sang Bidadari Merah itu...,” jelas Eisuke, dan sesungguhnya aku juga
menginginkan Sang Bidadari Merah itu sendiri, bisik Eisuke sendu namun
tidak disuarakannya.
Mayuko tertawa mengejek, “Maksudmu kau ingin aku
menyerahkan hak pementasan pada Daito, ah tidak, padamu?”
“Pintar sekali, meski seharusnya tanpa kujelaskan seperti
ini kau pun sudah mengerti! Itulah alasanku aku terus mengejarmu bahkan sampai
mencarimu ke desa seperti ini, meski aku tidak tahu apa maumu ke sini, entah
bersembunyi ataupun mencari udara segar,” ujar Eisuke. “Dengan dipentaskannya
karya agung tercintamu itu di Daito, maka karya agung itu bisa
dibangkitkan kembali, dengan sangat sukses. Respon masyarakat dijamin
sukses dan aku pastikan karya agung itu akan kembali meledak dan fenomenal,
tetap dikenang sepanjang masa. Tentu aku akan mencari sutradara dan para
pemeran terbaik untuk mementaskannya. Tentu saja Sang Bidadari Merah akan
diperankan oleh aktris terbaik, sekaliber dirimu!”
Mayuko terdiam, hanya menatap Eisuke. Eisuke melanjutkan
kembali kata-katanya,
“Dan dengan kemampuanmu yang sekarang, Mayuko, dengan
dirimu yang sekarang, aku tidak yakin kau bisa melakukan seperti yang bisa
Daito, dan aku lakukan!” tandas Eisuke.
“Jangan meremehkanku, Eisuke Hayami,” desis Mayuko tajam.
“Kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan,”
“Aku bodoh jika melakukannya, Mayuko Chigusa. Tapi itulah
kenyataannya,” kata Eisuke. “Dan kau pun tak tahu apa yang bisa kulakukan,”
“Nyonya...,” panggil Genzo pelan, menyentakkan Mayuko
kembali ke alam nyata. Memori itu seketika terhenti. Terhenti pada ekspresi
Eisuke Hayami yang dingin dan tak terbaca. Ia membuka matanya kembali.
“Ada apa, Genzo?”
“Makan malam telah siap, Nyonya,”
“Ah, begitukah...,” Mayuko hanya merespon pendek, dan
kembali menengadahkan kepalanya ke langit, sedikit sendu. Memori itu
menyadarkannya kembali kepada satu hal, ia harus bertindak, secepatnya.
Genzo heran memandang Mayuko yang sepertinya kembali
melamun, “Apa ada hal penting yang mengganggu pikiran Anda, Nyonya?”
Mayuko terdiam, sebelum kemudian ia mengalihkan
pandangannya dari langit dan berdiri, “Tidak, tidak ada yang begitu penting
sekarang...,”
♪ ♪ ♪
Sora memasuki kamarnya dengan kondisi rambut yang basah
dan handuk membungkus bagian bawah tubuhnya, dari pinggang sampai beberapa
senti di bawah lutut. Sejenak ia terdiam menatap kamar itu. Sepi... Tidak
ada dia lagi seperti kemarin malam. Sora tersentak dan segera mengenyahkan
pikiran itu. Ia segera membuka lemari dan mengambil baju serta celana.
Apa yang kau pikirkan, Sora? rutuknya dalam hati. Setelah memakai baju dan celana
pendek, Sora mengeringkan rambutnya sedikit dengan handuk. Rambutnya terlihat
acak-acakan, meski hal itu malah menambah kesan segar dari penampilannya. Sora
mengambil buku dari rak untuk dibacanya, ketika pandangannya tertumbuk pada
sebuah buku biru yang cukup tebal tidak jauh dari buku yang diambilnya. Sora
terdiam sejenak, kemudian ia mengambil buku biru yang tebal itu.
Sudah sedikit berdebu, sudah lama tidak kulihat... Sora membawa kedua buku yang sudah diambilnya itu ke
tempat tidur. Buku yang pertama diambilnya ditaruh di sebelah kanannya dan Sora
mengkonsentrasikan dirinya pada buku biru tebal yang berdebu itu. Sora meniup
sampul depan buku itu untuk menyingkirkan debu di atasnya dan menghapus sisa
debu yang ada dengan tangannya. Terlihat tulisan di sampul buku itu, ‘Album’.
Sora tersenyum kecil. Album ini memiliki banyak
kenangan, baik manis ataupun pahit. Sora mulai membuka halaman pertama dari
album itu dan foto-foto yang menjumpainya ialah foto seorang bayi mungil dan
tampan dalam berbagai ekspresi. Ada ekspresi diam, tertawa, ataupun menangis.
Sora tersenyum melihat foto-foto bayi itu, bayi itu tidak lain adalah dirinya
sendiri.
“Ternyata waktu kecil pun aku begini lucu dan tampan,”
gumam Sora. Sora langsung membayangkan Maya, jika saja Maya mendengarkan
ucapannya sekarang pasti wajah Maya akan merengut tidak percaya, matanya
melebar, dan mengatai Sora “narsis” atau berbagai macam julukan lainnya. Namun
semua hal itu sebenarnya tidak pernah membuat Sora tersinggung ataupun kesal,
justru ia merasa itulah Maya. Maya yang seperti itulah yang selalu membuatnya
merasa nyaman dan gembira, yang menatapnya dengan pandangan polos seperti anak
kecil, tingkahnya yang spontan, dan semua gerak-geriknya, semuanya membuat Sora
gemas padanya.
Sora membuka beberapa halaman berikutnya, dan ekspresi
wajahnya langsung berubah menjadi dingin. Sorot matanya penuh dengan kemarahan,
kesedihan, juga... kerinduan. Ia melihat foto-foto dimana terdapat sosok dirinya
ketika masih bayi digendong oleh seorang wanita. Sosoknya ketika berumur
sekitar 2 tahun dan digandeng oleh wanita yang sama seperti yang menggendongnya
ketika ia masih bayi. Juga ada foto ketika ulang tahunnya yang ke-3, dimana ia
yang masih kecil bersama dengan wanita itu memakai topi ulang tahun dan
terlihat bahagia. Ada foto dirinya yang
masih kecil sedang mencolekkan krim kue ke wajah wanita itu. Banyak lagi
ekpresi bahagia dirinya dengan wanita itu di foto-foto yang mengisi banyak
halaman di album itu.
Ada foto ketika ia baru masuk TK, SD, dan SMP. Ketika ia
mengikuti festival olahraga di sekolahnya. Ada juga ketika mereka sedang
mengikuti festival di desa itu, pesta kembang api, berfoto di dekat sungai,
foto ketika Sora menangis di dekapan wanita itu. Banyak hal bahagia tergambar
di foto-foto itu. Wanita itu, meskipun ia berusaha keras untuk melupakannya,
bayangannya tidak akan pernah hilang. Bagaimanapun, wanita itu... ibunya.
Terlintas memori itu kembali dalam pikirannya. Banyak
memori berkelebat menjadi satu, teriakan dan tangisan anak kecil memanggil
ibunya di tengah hujan, tawa gembira anak kecil itu ketika ibunya memeluknya.
Memori itu terhenti pada suatu momen di ruang makan, terdapat anak kecil yang
sedang makan kue dengan riang sampai beberapa remah kue menempel di sekeliling
mulutnya dan ada wanita duduk di sebelahnya yang tersenyum sayang melihat anak
kecil itu.
“Ah, lihatlah, anak ibu yang tampan lucu sekali,” katanya
sambil mencubit pipi anak kecil itu gemas.
Anak kecil itu hanya tertawa senang dan terus saja makan
kuenya dengan lahap. Ibunya hanya menatapnya penuh sayang kemudian membersihkan
remah-remah kue di sekitar mulut anaknya itu dengan lembut.
“Anak ibu sudah bertumbuh besar rupanya, sudah 6 tahun.
Tapi, lihat, makan saja masih berantakan,” ujar ibunya tertawa kecil. Anak
kecil itu hanya mengerucutkan bibinya. Pipi gemuknya terlihat menggelembung dan
menggemaskan. Ibunya hanya tertawa melihat tingkah lucu anaknya itu.
“Cepat sekali, ya, kuenya sudah habis. Mau kuenya lagi?
Kebetulan ibu membuatkan banyak khusus untuk Sora,”
Anak kecil yang lucu dan tampan itu hanya mengangguk
cepat sambil tersenyum riang, kemudian ia memeluk ibunya erat, “Sora sayanggg
sekalii sama ibuuu,” kata anak kecil itu sambil membenamkan kepalanya di
pelukan ibunya.
Ibunya tersenyum haru, memeluknya erat dan penuh sayang,
“Sora merupakan harta paling berharga bagi ibu di dunia ini, sampai kapanpun
ibu tidak akan pernah meninggalkan Sora,”
Sora kecil menengadah menatap ibunya, tepat di matanya.
Sora menatapnya polos. “Benarkah Sora akan terus bersama-sama dengan ibu
selamanya?”
Ibunya balik menatap Sora tersenyum, “Tentu saja, memang
kapan ibu pernah berbohong?”
Sora tersenyum lebar, kemudian ia mengangkat jari
kelingkingnya pada ibunya, “Sora pernah melihat ini di televisi, katanya kalau
kita mengaitkan janji kelingking kita itu tandanya kita berjanji, dimana janji
itu akan bertahan sampai kapanpun, jadi...,” Sora menatap ibunya sambil
tersenyum hangat. “Janji ya?”
“Aihhh, anak ibu benar-benar pintar, sudah tahu hal yang
seperti ini,” Ibu Sora tersenyum sayang sambil membelai rambut Sora, lalu
mengangkat jari kelingkingnya, lalu mengaitkannya ke jari kelingking Sora.
“Baik, ibu janji..., ibu dan Sora akan bersama selamanya...,”
Sora kecil tersenyum senang lalu memeluk ibunya erat.
Momen membahagiakan yang Sora pikir akan terus abadi untuk selamanya. Sora
mengeratkan pegangannya pada album foto itu. Janji bersama selamanya? Janji
apa itu? Janji sampah! Cih! Matanya menatap wajah ibunya yang sedang menggendongnya
yang berusia 7 tahun, tepat ketika ia akan masuk SD. Foto-foto itu menunjukkan
bagaimana keduanya sangat bahagia, janji yang mereka ucapkan terkesan akan
terus terlaksana dan ikatan mereka tak pernah terputus, sampai saat itu tiba.
Memori itu berputar lagi dimana Sora yang saat itu
berusia sekitar 14 tahun, terbangun di tengah malam karena suara ribut. Ia menggosok
pelan matanya yang mengantuk dan menatap sosok punggung seorang wanita di
tengah keremangan suasana kamar yang gelap. Sora mengenal sosok itu, ibunya.
Suara ribut yang membangunkannya itu berasal dari aktivitas ibunya yang tampak
melipat baju dan memasukannya ke tas koper yang besar. Di dekat tas koper itu
terdapat beberapa tas kecil dan barang bawaan. Ia juga mendengarkan suara isakan
ibunya, apakah ibu sedang menangis? Tas koper dan semua barang bawaan yang
ibu susun itu, apakah aku dan ibu akan pergi ke suatu tempat? Tepat ketika
ibunya menarik resleting untuk menutup tas koper, Sora memanggil ibunya,
“Ibu...,”
Sora dapat melhat ibunya tersentak dan berbalik menatap
Sora yang terbangun. Ibunya segera mengusap bekas air mata di pipinya dan
dengan suara sedikit serak seperti habis menangis, ibunya menghampirinya, “Ah,
nak.. Sora... kau terbangun rupanya. Maaf, ibu membangunkanmu, ya?”
Sora terdiam dan melihat ibunya menghampirinya. Sora
melihat, mata ibunya basah, masih ada bekas air mata di sana.
“Ibu, ibu habis... menangis?”
Ibunya hanya menatapnya sendu dengan wajah yang mulai
kembali berlinang air mata. Sora hanya bisa memandangnya dengan tatapan penuh
tanya. Ibu Sora menaruh kedua tangannya di kedua pipi Sora. Sora tidak
merasakan kehangatan di sentuhan ibunya, semuanya terasa dingin. Terasa asing
dan menakutkan bagi Sora.
“Ibu? Kenapa ibu menangis?” tanya Sora. “Ibu jangan
menangis, Sora sudah pernah bilang jika Sora tidak suka melihat ibu menangis,”
Sora mengusap air mata ibunya. Ibunya tersenyum sedih dan menatap Sora tepat di
matanya,
“Sora...,” bisik ibunya, serak. Seakan ia tidak rela
untuk mengucapkan kata-kata yang akan dikatakannya nanti.
“Ibu? Ada apa?”
Ibunya hanya bisa terisak dan memeluk Sora erat, sangat
erat. “Maafkan ibu, nak..., ibu sungguh-sungguh minta maaf,”
Sora bingung melihat tingkah ibunya, “Ibu... apa ada
sesuatu yang terjadi? Kenapa ibu minta maaf? Ibu ‘kan tidak melakukan kesalahan
apa-apa,” kemudian Sora melihat banyak tas koper dan barang bawaan yang tadi
disusun ibunya, “Ibu, kenapa ibu menyusun baju dan banyak barang bawaan
lainnya, lalu ada tas koper juga, apa kita akan pergi ke suatu tempat? Kenapa
ibu tidak bilang apa-apa jika kita akan pergi?”
Ibunya tidak menjawab, hanya bisa terus terisak dan
memeluk Sora dengan semakin erat. Sora semakin bingung dengan tingkah ibunya,
ia tidak pernah melihat ibunya seperti ini. Tiba-tiba Sora merasakan ada suara
pintu dibuka dan sinar lampu dari luar kamar menusuk matanya. Sora menyipitkan
matanya untuk melihat siapa yang masuk ke kamar mereka.
Sora melihat ada sosok laki-laki tinggi besar memakai
pakaian sangat formal, bisa dibilang jas, ada dua orang. Satunya berambut cepak
dan sedikit lebih pendek dibanding yang berambut jeprak. Mereka hanya berdiri
di dekat pintu, bergeming menatap adegan Sora berpelukan dengan ibunya, tanpa
ekspresi. Sora menatap keduanya bingung, “Ibu, siapa mereka?”
“Eh?” ibunya melepaskan pelukannya dari Sora dan menatap
ke belakang mereka. Dua sosok laki-laki itu mengingatkannya akan apa yang akan
dilakukannya sebentar lagi. Kemudian ibu Sora menatap Sora, “Ah, mereka itu...
teman-teman ibu, sebentar, ya, ibu mau berbicara dengan mereka dulu,” ibu Sora
berdiri dan menghampiri kedua sosok laki-laki itu. Ibu Sora seperti membisikkan
sesuatu kepada kedua sosok laki-laki itu, kemudian Sora melihat ibunya menatapnya
sekilas, terlihat sangat sedih, sebelum kemudian keluar dan menutup pintu
perlahan, menyisakan celah kecil yang masih terbuka.
Sora terdiam, bingung. Tidak biasanya teman-teman ibu
bertamu malam-malam begini, lagipula aku belum pernah melihat mereka. Sora
kemudian beranjak berdiri dan mengintip lewat celah kecil yang terbuka itu.
Sora dapat melihat ibunya yang menatap kedua sosok laki-laki tinggi besar itu
penuh permohonan. Sora tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka
bicarakan, namun ia sempat mendengar ibunya berkata,
“Kumohon, apakah kau tidak bisa melihat dan mengerti kondisinya?
Berikan aku waktu sebentar saja, hanya sampai besok pagi. Aku janji tidak akan
mengulur waktu atau melarikan diri lagi, kumohon,”
Dahi Sora mengernyit. Besok pagi, memangnya ada apa?
Siapa yang akan melarikan diri ataupun mengulur waktu? Sora terus saja
menatap ibunya yang tampak sedang memohon dan bernegoisasi dengan kedua
laki-laki itu dengan tidak mengerti. Ia tidak dapat mendengar dengan jelas isi
percakapan mereka. Ia hanya dapat melihat gerak-gerik mereka tanpa mengerti
maksudnya. Laki-laki yang berambut cepak tampak mengeluarkan sesuatu seperti
telepon genggam dan menekan beberapa angka dan sepertinya... menelpon
seseorang. Selang berapa lama setelah laki-laki itu berbicara di telepon, laki-laki
itu menutup telponnya dan menatap ibunya, mengatakan sesuatu, yang bisa
didengar oleh Sora hanyalah kata-kata, “.... Baiklah, kalau kau ingkar, kau
tahu sendiri resikonya,”
Sora tidak mengerti maksudnya, apakah ia salah dengar?
Meskipun tidak salah dengar pun ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang
terjadi. Ia bisa melihat ibunya membungkukkan badannya ke kedua laki-laki itu,
seperti mengucapkan terima kasih. Ibu, sebenarnya ada apa?
Melihat ibunya yang beranjak hendak memasuki kamar, Sora
segera kembali ke tempat tidurnya dan duduk. Ia tidak ingin ketahuan oleh
ibunya sedang menguping pembicaraan mereka. Ibunya masuk ke kamar dan
menghampiri Sora, lalu ia membelai lembut rambut Sora, perlahan. “Sekarang
sudah tengah malam, Sora tidur, ya... Jangan karena sedang libur sekolah makanya
Sora tidur malam dan bangun siang,” ujar ibunya lembut. Sora hanya menatap
ibunya, dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
“Ibu... apakah benar... kita akan pergi ke suatu tempat,
makanya ibu menyiapkan tas koper dan barang bawaan?” tanya Sora, polos. Gerakan
ibunya yang membelai rambutnya terhenti. “Lalu, siapa teman-teman ibu itu? Aku
tidak pernah melihatnya, apakah mereka tidak pulang? Atau akan menginap di
sini?”
Tatapan ibunya tampak menahan sakit dan luka yang sangat
dalam, yang saat itu tidak disadari Sora maksud tatapan ibunya itu. Ibunya
hanya tersenyum lemah dan berkata, “Iya, kita akan berlibur besok. Padahal ibu
hendak menyiapkan... kejutan, untuk Sora,” suara ibunya terdengar serak,
seperti hendak menangis lagi. “Tapi, malah sudah ketahuan oleh Sora,” ibunya
tertawa kecil. “Dua laki-laki itu teman ibu... mereka akan mengantarkan kita
untuk pergi berlibur. Mereka tahu... tempat yang bagus,” lanjut ibunya sambil
terus membelai rambut Sora.
Mata Sora tampak berbinar, “Benarkah? Kita akan pergi
berlibur, ibu? Kemana?”
“Kalau ibu bilang sekarang bukan kejutan namanya,” ujar
ibunya sambil terus membelai rambut Sora. Sora menatap ibunya, heran. Tidak
biasanya ibunya begini.
“Ibu? Ibu kenapa? Kenapa rasanya... ibu terkesan berbeda
sekali malam ini?”
“Benarkah?” tanya ibunya.
Sora mengangguk pelan. “Iya, ibu tidak biasanya
membelaiku seperti ini, secara terus-menerus. Aku ‘kan bukan anak kecil lagi,
ibu , sampai harus dibelai terus...,” ujar Sora, cemberut.
Ibunya hanya tersenyum menatap anaknya itu. Kemudian ia
berkata sambil merentangkan kedua tangannya, “Kesini, nak, peluk ibu,”
Sora terdiam heran menatap ibunya. Kemudian ibunya
berkata, “Apa Sora sudah tidak mau memeluk ibu lagi sekarang?”
Sora menggeleng cepat kemudian segera memeluk ibunya.
Ibunya balas memeluknya, sangat erat, seakan-akan ia ingin mencurahkan seluruh
kasih sayang yang dimilikinya, seolah-olah apa yang ia berikan selama ini belum
pernah cukup untuk menunjukkan betapa ia sangat menyayangi anak di pelukannya
ini. Ibunya memeluk Sora sambil terus membelai rambut Sora, Sora hanya terdiam
menikmati kehangatan pelukan ibunya.
“Anak ibu yang tampan sudah bertumbuh besar sekarang...
Ibu sayang sekali sama Sora, Sora tahu itu, ‘kan?” kata ibunya lembut.
Sora mengangguk, “Iya, Sora tahu. Dan Sora juga sayanggg
sekaliiii sama ibu,”
Tanpa Sora sadari, ibunya menahan air matanya yang hendak
jatuh. Ibunya memperat pelukannya pada Sora dan terus membelai rambut Sora
dengan penuh kasih sayang. Maafkan ibu, Sora... bisik ibunya terus menerus
dalam hati.
“Sora tahu, ‘kan, apapun yang ibu lakukan semuanya demi
kebaikan Sora? Dan sampai kapanpun, ibu akan terus menyayangi Sora dan...
bersama Sora dimanapun Sora berada,”
“Hemmm... ibu ‘kan sudah bilang kita akan terus bersama,
iya, ‘kan? Sora tidak akan pernah pergi kemana-mana, ‘kok, bu. Jadi, ibu juga
tidak akan pergi kemana-mana, ‘kan?”
Ibunya tidak menjawab, namun tidak menimbulkan masalah
bagi Sora karena dulu mereka pernah berjanji dan Sora percaya, ibunya tidak
akan pernah bohong. Ibunya tidak pernah bohong dan ingkar janji padanya
sebelumnya. Ia dan ibunya akan terus bersama sampai kapanpun. Kemudian ibunya
melepaskan pelukannya dan berkata, “Sekarang Sora tidur, ya. Supaya besok tidak
bangun kesiangan,”
Sora mengangguk dan tersenyum riang, “Iya, Sora tidak
sabar menanti besok, bu! Pasti akan menyenangkan! Jika Sora bangun siang,
bangunkan Sora saja, ya, bu, ah tunggu!” Sora segera mengambil jam weker di
atas laci dekat tempat tidurnya dan menyetelnya. “Nah, Sora sudah menyetelnya jam
5 pagi, sudah cukup pagi, ‘kan, bu?”
Ibunya hanya mengangguk sambil tersenyum lemah, sangat
lemah. Namun karena Sora terlalu gembira dengan ‘rencana liburannya’ besok, ia
tidak terlalu memperhatikan ekspresi sedih di wajah ibunya. Apalagi mengingat
pikiran Sora sendiri masih belum cukup dewasa untuk memahami semuanya. Ibunya
menatap Sora dan menyentuh pipinya, “Anak ibu sudah besar, anak ibu sangat
pintar...,” bisiknya pelan.. dan kuharap mulai besok, ia bisa menjaga
dirinya sendiri... tambah ibunya pelan dalam hati.
“Tentu saja!” dengus Sora bangga.
Ibunya tersenyum dan berkata, “Sora harus berjanji sama
ibu, jika Sora akan tumbuh menjadi anak yang semakin mandiri dan dewasa. Sora
akan bisa menjaga diri sendiri, akan menjadi anak yang kuat dan tegar. Apapun
yang menanti di depan, Sora harus belajar untuk menghadapinya dan melewatinya,
meskipun tanpa ibu...,”
“Ibu, kenapa bicara seperti itu?” dahi Sora mengernyit,
ia tidak suka mendengar ibunya berkata seperti itu.
“Berjanjilah...,” pinta ibunya. “Kau mau berjanji, ‘kan?
Bukankah kau pernah bilang kau akan membuat ibu bangga suatu saat nanti? Maka
dari itu, penuhilah janji ini, jadilah anak yang kuat, tegar, dan sukses...
buatlah ibu bangga, ya, nak...,” lanjut ibunya, menatap Sora dalam. Sora hanya
terdiam tak mengerti, namun kemudian ia hanya bisa mengangguk pelan. Ia memang
pernah bilang jika ia ingin membuat ibunya bangga, dan meskipun ia tidak
mengerti maksud ibunya, ia tidak akan banyak bertanya. Ia percaya pada ibunya,
dan sebagai anak yang berbakti tentu saja ia akan memenuhi apapun keinginan
ibunya.
“Iya, aku berjanji...,” kata Sora, pelan.
Ibunya tersenyum dan sambil menahan isakannya, ia
membelai rambut Sora lagi, “Ya, ya benar... seperti itu..., Sora memang
benar-benar anak yang baik, benar-benar anak ibu,” ibunya kembali memeluk Sora
erat. “Ibu sayang sekali sama Sora, sampai kapanpun...,”
Banyak pertanyaan berkelebat di pikiran Sora saat itu.
Tetapi ia memutuskan tidak menanyakannya, apalagi ia juga mulai mengantuk.
Ibunya merebahkan kepala Sora ke bantal, Sora menatap ibunya,
“Ibu... ibu juga harus tidur sekarang. Biar besok kita
sama-sama segar untuk pergi berlibur,” ibunya hanya tersenyum menatapnya. “Iya,
sebentar lagi, Sora tidur saja dulu, ya...,”
Sora memandang ibunya dengan mata yang setengah
mengantuk, “Besok... kita akan bersenang-senang, mengambil banyak foto, bermain
bersama, ya ‘kan bu? Berenang di laut... bermain di gunung... menangkap
serangga dan kupu-kupu....,” suara Sora semakin pelan, matanya sudah hendak
benar-benar menutup. “Sora... juga sayang sekali... sama ibu...,” kemudian Sora
segera masuk ke alam mimpinya.
Samar-samar Sora bisa mendengar ibunya menangis sambil
membelai rambutnya, wajahnya, pipinya, dan mengatakan kata-kata yang sama,
“Maafkan ibu, nak... Maafkan ibu, Sora... Ibu, harus mengingkari janji kita...
namun ibu harap kau jangan mengingkari janjimu..., maafkan ibu, nak...,” namun
Sora tidak mempedulikannya dan terus saja melanjutkan tidurnya.
Dan keesokan paginya, ketika Sora terbangun, ia menemukan
tidak ada ibunya di sebelahnya. Sora menatap weker di sebelah bantalnya, jam 8
pagi, dan weker itu dalam posisi mati, alarm yang dipasang Sora dimatikan oleh
seseorang. Apakah Sora yang mematikannya sendiri tanpa sadar? Ataukah
ibunya? Atau apakah Sora sendiri lupa memasang alarm? Sora terdiam, ia
yakin sekali ia sudah memasang alarm pukul 5 pagi dan ia tidak merasa
mematikannya. Lagipula bukankah ibunya bilang akan membangunkannya jika ia
bangun kesiangan? Di mana ibunya?
Di luar hujan deras, sangat deras. Sora terbangun,
mencari ibunya ke segala penjuru rumah itu dan tidak menemukannya. Sora mulai
panik, semua tas koper dan barang bawaan ibunya yang kemarin dilihatnya tidak
ada, kedua sosok laki-laki itu juga sudah tidak ada. Sora mengecek lemari,
hanya ada bajunya saja, semua baju ibunya tidak ada. Sora mengecek kamar mandi
tidak ada alat mandi ibunya, hanya ada miliknya saja. Sora mulai frustasi dan
melihat ada dua amplop yang diletakkan di atas meja rias ibunya. Amplop tebal
berukuran besar dan amplop tipis berukuran kecil.
Sora mengambil amplop tipis berukuran kecil dan
membukanya, sebuah surat. Mata Sora membelalak membaca surat itu, ia tidak
percaya. Nafasnya mulai memburu tidak beraturan, surat yang dibacanya terjatuh.
Ia segera keluar dari rumah, meneriakkan nama ibunya, tidak peduli hujan deras
yang terus saja mengguyur tubuhnya, dan tatapan dari orang-orang yang keluar
dari rumahnya melihatnya berteriak seperti orang gila. Jelas sudah, sangat
jelas... ibunya telah meninggalkannya begitu saja, kata-kata ibunya kemarin
malam ialah salam perpisahan... ibunya telah pergi entah kemana, hanya
meninggalkan sepucuk surat dan amplop besar tebal yang berisi segepok uang.
Memori itu terhenti lagi, menyisakan mata Sora yang
memanas. Ia membencinya, ia sangat membenci memori itu, baik yang bahagia
maupun yang tidak. Sekarang semuanya sama-sama menjadi hal yang sangat
memuakkan baginya. ‘Benar-benar anak ibu?’ Cih! Apakah wanita itu
benar-benar menganggapnya anaknya? Sekeras apapun Sora berusaha
melupakannya, namun hal itu tidak dapat hilang. Sora bersumpah akan melupakan
wanita itu, wanita yang telah meninggalkannya begitu saja dan tidak pernah lagi
mempedulikannya sampai saat ini. Hanya mengirimkan uang dan mengirimkan surat setiap
bulan yang tidak pernah dibaca Sora. Uang yang didapatkannya tidak pernah lagi
dipakainya ketika ia sudah bisa mulai bekerja sendiri dan disumbangkannya
kepada warga desa yang membutuhkan. Aku tidak membutuhkannya! Aku tidak
membutuhkan uang wanita itu! Wanita yang seenaknya saja mengingkari
janji itu! Oleh karena itu, Sora tidak pernah memasang foto wanita itu di
kamar ini, setidaknya foto itu tidak berada dalam tempat yang bisa dilihat dan
dijangkau Sora, agar Sora tidak terus mengingatnya.
Melakukan segala hal demi kebaikanku? Maksudnya
meninggalkanku ialah demi kebaikanku? Terus menyayangiku? Hanya kata-kata manis
saja rupanya. Sora tertawa getir. Ia
merasa keputusannya untuk membuka album ini salah karena mengingatkannya lagi
pada rasa sakit dan lemah yang sangat dibencinya. Ia berusaha keras menjadi
kuat dan tegar, bukan demi wanita yang pernah dipanggilnya ibu itu! Bukan untuk
membuatnya bangga! Tapi untuk dirinya sendiri agar ia tidak lagi merasakan
perasaan lemah dan terluka seperti yang disebabkan wanita itu!
“Brakkk!!” Sora membanting album itu ke lantai. Ia
mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya
dalam-dalam.
Memori itu berputar lagi, tepat saat kelulusannya dari
SMP. Ia melihat teman-temannya merayakan kelulusan mereka dengan ayah dan ibu
mereka. Sedangkan Sora hanya bisa melihat semua itu sambil memegang ijazahnya,
termenung seorang diri. Salah seorang temannya datang menghampiri Sora,
“Hei, Sora. Dimana ibumu? Apakah ibumu tidak datang?
Tidak mungkin, ‘kan, jika ibumu tidak datang di acara penting seperti ini?
Apalagi kau meraih predikat siswa terbaik dan peraih nilai tertinggi dalam
ujian akhir,”
Sora tersenyum getir. “Ah, iya... ibuku bilang ia akan
sedikit terlambat,”
Kemudian Sora dapat mendengar suara seorang wanita
memanggil nama temannya dan menghampiri mereka berdua. Wanita itu ialah ibu
dari temannya. “Satoshi, ayo! Ayah dan nenek menunggu di sana untuk berfoto
bersama merayakan kelulusanmu!” kemudian wanita itu menatap Sora, “Ah, Sora.
Selamat, ya, atas keberhasilanmu menjadi siswa terbaik dan meraih nilai
tertinggi! Aku benar-benar iri pada ibumu bisa memiliki anak sepertimu,”
Sora hanya tersenyum getir, “Terima kasih, tante,”
“Aku duluan, ya, Sora! Ayah dan nenekku menungguku,” ujar
Satoshi. “Dahhhh!” ia melambaikan tangannya dan Sora membalasnya. Sora hanya
bisa menatap Satoshi dan ibunya yang meninggalkannya dan bergabung dengan
keramaian di depan matanya, meninggalkannya sendiri lagi. Benar-benar sendiri
dan merasa terisolasi.
Memori itu berputar lagi pada saat kelulusannya dari SMA.
Teman-temannya menghampirinya dan mengejeknya,
“Mana ibumu, Sora? Apa ia tidak datang? Aku tidak pernah
melihatnya!”
“Bagaimana mungkin ibumu tidak datang di acara sepenting
ini? Ah... jangan-jangan ibumu sendiri tidak mempedulikanmu? Sifatmu juga buruk
seperti ini, ‘sih, meskipun kau pintar...,”
Mereka tertawa dan Sora hanya bisa terdiam geram
mengepalkan tangannya erat. Sora memisahkan diri dari keramaian dan kegembiraan
itu. Ia merasakan benar-benar sendirian, tidak ada ibu dan ayahnya. Tidak ada
orang tua yang mengucapkan selamat padanya dan memeluknya, memujinya atas
usahanya hingga berhasil lulus dari SMA dengan nilai hampir sempurna.
Sora mendudukkan tubuhnya di balik salah satu pilar
gedung sekolahnya, membanting ijazahnya dan menundukkan kepalanya, ia marah
pada nasibnya sendiri.
“Arghhhh!!” Sora berteriak frustasi. Ia kembali lagi ke
masa sekarang, membuang semua memori itu jauh-jauh di belakang. Ia membenci
dirinya sendiri yang masih mengingat dengan begitu jelas semua kenangannya
dengan wanita itu. Ia membenci dirinya sendiri yang merasakan sampai saat ini
masih bisa dipengaruhi oleh wanita yang bahkan sudah pergi entah kemana itu.
Bahkan wajah wanita yang merupakan ibunya itu masih teringat jelas di
kepalanya.
Sora berniat hendak membuang album itu sebelum kemudian
ketika ia mengangkat kepalanya, ia melihat halaman album yang sudah dibuangnya
itu terbuka dan menunjukkan fotonya dan seorang gadis mungil. Sora berdiri dan
mengambil album itu lagi. Ia menatap fotonya yang sedang menggendong seorang
gadis mungil berambut hitam legam. Fotonya dengan gadis mungil itu ketika
festival olahraga di sekolah gadis itu. Foto ketika mereka sedang makan
bersama, bermain bersama. Ada juga fotonya dengan keluarga gadis mungil itu.
Sora tertegun sejenak, ia melihat foto-foto itu, ia masih bisa melihat dirinya
masih bisa tertawa, dan tawanya itu ada
ketika ia di dekat gadis mungil itu. Gadis mungil itu, ia tahu, Maya...
Tidak semua penduduk desa ini tahu masa lalu Sora yang
seperti itu. Sora tahu wanita itu meminta keluarga Maya untuk menjaganya, dan
oleh karena itu Sora sudah dianggap menjadi bagian keluarga oleh Maya. Ia tidak
menyadari, pertemuannya dengan gadis mungil ini memberikan warna baru dalam
hidupnya, yang ia kira hidupnya setelah itu akan menjadi gelap, tapi Maya masih
bisa memberikan warna dalam kesehariannya. Sora tidak menyadarinya selama ini,
karena ia merasakan sudah terbiasa begitu saja ada Maya dalam hidupnya.
Ia ingat ketika ia sedang sedih, Maya selalu berada di
sampingnya untuk membuatnya tertawa. Termasuk saat momen kelulusannya saat ia
merasa frustasi, Maya muncul dan membuatnya tertawa, mengucapkan selamat dan
bernyanyi untuknya. Keluarga Maya menyiapkan pesta kecil untuknya, membuat
kesedihannya dan kekecewaannya hilang. Ia juga ingat pada saat pertama kali
bertemu Maya, saat itu, ya saat itu juga... Semua tingkah Maya selalu bisa
membuatnya tersenyum dan melupakan kesedihannya. Ajaib. Sora merenung, Maya
memang ajaib, entah kekuatan apa yang dimilikinya hingga bisa membuat Sora selalu
merasa nyaman di sampingnya, tidak peduli apapun yang dilakukan Maya
terhadapnya. Ia bisa menjadi bahagia ataupun marah maupun khawatir terhadap
Maya. Ia menjadi lebih manusiawi jika ada Maya. Tidak pernah terbayangkan ia
masih tetap bisa hidup sebagai manusia normal sejak ditinggalkan wanita itu
begitu saja. Apakah Maya memang sengaja diutus datang ke kehidupannya untuk
membuatnya mendapatkan kembali tawanya?
Sora menatap ke penjuru kamarnya, foto-foto yang
terpasang di sana kebanyakan merupakan fotonya dengan Maya. Sejak Maya masih
kecil hingga sudah beranjak remaja seperti sekarang. Sora membayangkan, bagaimana
jika suatu saat Maya tidak ada dalam hidupnya? Apa jadinya jika Maya tidak
pernah muncul dalam hidupnya? Sora bergidik. Mengerikan, ia tahu itu.
Membayangkannya saja ia tidak mau.
“Hhhhhhh...,” Sora menghela nafas menatap foto-fotonya
dengan Maya di album itu. Selama ini ia menganggap Maya seperti adiknya, dan
begitupun dengan Maya. Setahu Sora, Maya selalu menganggapnya seperti kakaknya
ataupun setidaknya orang yang selalu siap untuk menjahilinya. Sora tertawa
mengingat tampang Maya yang ngambek dan kesal ketika Sora menjahilinya,
terkadang merona ketika Sora menggodanya, sehingga Sora tidak berani mengambil
kesimpulan ataupun prediksi jika Maya memandangnya secara berbeda. Sampai
kapan Maya akan menjadi seperti itu? Bagaimana nantinya jika Maya memandangku
secara berbeda? Sora terdiam, bagaimanapun mau tidak mau ia harus
mengakuinya, ia sudah memandang Maya secara berbeda sekarang. Bukan lagi sebagai
saudara, sebagai adiknya, namun sebagai seorang wanita. Ia mengingat semua
kejadian hari ini dimana ia bisa cemburu melihat Maya bersama Satomi, berdebar
kencang ketika menggendong Maya di punggungnya, sampai-sampai ia berharap Maya
tidak dapat mendengarkan Maya mendengarkan debaran jantungnya. Ia juga ingat
rasa khawatir yang dirasakannya ketika melihat Maya terluka. Ia juga ingat rasa
bahagia dimana ia tahu ia bisa membuat Maya tertawa juga membuat Maya merasa
dilindungi.
Ya, ajaib, benar-benar ajaib. Lagi-lagi hanya dengan
memikirkan Maya, rasanya semua beban dan memori buruk yang diingatnya
terlupakan begitu saja, meski Sora tahu ia tidak bisa menjamin memori itu tidak
akan muncul lagi. Tapi Sora tahu ia akan baik-baik saja, selama ada Maya.
Bagaimana jika nantinya Maya memandangnya secara berbeda, sebagai seorang pria?
Entah kenapa Sora menyukai pemikiran itu. Ia mulai merasa lelah menjadi kakak
bagi Maya. Namun Sora juga takut, bagaimana jika nantinya Maya malah
menjauhinya jika ia tahu perasaan Sora yang mulai berubah padanya? Sora tidak
mau! Sora berusaha meyakinkan dirinya sendiri, untuk saat ini, ya untuk saat
ini, yang terpenting ia bisa menjaga dan melindungi Maya, menjaga senyumnya dan
tawanya, sebagai balasan tawa dan kebahagiaan yang Maya berikan dalam hidupnya.
Ya, untuk saat ini...
♪ ♪ ♪
“Aku berangkattt....,” ujar Maya sambil berjalan
tertatih-tatih keluar dari rumah. Dengan sangat terpaksa ia berangkat jauh
lebih pagi hari ini, yang membuatnya harus bangun lebih pagi. Meskipun tidak
mau, tetapi mengingat kondisi kakinya yang belum benar-benar baikan dan membuatnya
berjalan seperti orang pincang, ia harus berangkat lebih awal agar tidak
terlambat ke sekolah. Ia tentu tidak mau terlambat lagi dan mendapatkan hukuman
lari keliling lapangan seperti kemarin, sama saja mati, ‘deh! Dengan kondisi
kaki seperti ini mau lari keliling lapangan? Bisa-bisa Maya akan berakhir
menjadi orang yang tidak bisa berjalan (oke lebai deh, hahaha!)
“Auwwww...,” Maya berjalan sambil berulang kali bersandar
pada dinding yang dilewatinya di jalan agar tidak jatuh. Maya mengingat
kata-kata Sora yang mengatakannya jarang berolahraga sehingga kaki Maya lemah
dan tidak terbiasa berlari. Bibir Maya mengerucut mengingat ekspresi Sora
ketika mengatakan hal itu kepadanya kemarin, “Sombong sekali dia,
mentang-mentang setiap hari berolahraga,”
Namun mau tidak mau sebenarnya Maya mengakui kata-kata
Sora ada benarnya juga. Maya merasa dirinya tidak pernah membiasakan kakinya
melakukan aktivitas olahraga sedikit saja sehingga kakinya disuruh berlari
sebentar saja sudah merasa lelah. “Tapi, ‘kan tetap saja lari 20 kali keliling
lapangan sama saja dengan penyiksaan secara perlahan-lahan, siapapun yang
normal juga pasti akan mengalami kondisi sepertiku,” bela Maya sambil
menggerutu dalam hatinya. Kemudian Maya melanjutkan jalannya menuju sekolah lagi sambil
terpincang-pincang.
Sedangkan Sora sendiri sedang membersihkan sepedanya yang
sudah dipompanya kemarin dengan kain lap. Sora tidak berolahraga pagi ini karena
ia merasakan badannya agak lelah setelah menggendong Maya cukup lama kemarin. Meskipun
lelah, tapi Sora merasa senang bisa menggendong Maya seperti itu. Ketika
membayangkannya lagi, Sora jadi tersenyum sendiri. Wajah Sora menjadi sedikit
merona. Tersadar sedang melamunkan hal yang konyol, Sora segera menggelengkan
kepalanya cepat untuk mengembalikannya ke dunia nyata. Sebenarnya Sora
memutuskan untuk mengendarai sepedanya pagi ini karena ada alasan khusus.
Setelah Sora merasa sepedanya bersih, ia menaruh kain
lapnya ke tempatnya kembali, kemudian mengambil tas kerjanya yang ia taruh di
teras depan dan menaruhnya di keranjang depan sepedanya. Sora mengunci pintu
depan rumahnya dan mengayuh sepedanya meninggalkan rumah. Baru sedikit Sora
mengayuh sepedanya menjauhi rumah, Sora berhenti. Ia merasa ada seseorang yang
sedang mengawasi dirinya. Sora menoleh dan tidak menemukan siapa-siapa di sana.
Mungkin hanya perasaanku saja, gumam Sora dalam hati.
Sora melanjutkan kembali mengayuh sepedanya dan berhenti
di depan rumah Maya, tepat ketika ibu Haru sedang keluar dari rumah membawa
beberapa kantong plastik yang berisi sampah.
“Selamat pagi, bi,” seru Sora sambil menghentikan
sepedanya.
“Ah, selamat pagi, Sora,” sapa ibu Haru, menoleh sedikit
kepada Sora kemudian kembali melanjutkan kegiatannya membuang sampah. Setelah
semua sampah yang dibawanya dibuang ia berbalik menghadap Sora lagi,
“Ngomong-ngomong, kemarin bibi belum sempat bilang, terima kasih ya sudah
mengantar Maya. Benar-benar merepotkanmu, sampai kau harus menggendongnya
sampai ke rumah,”
“Tidak masalah, bi,” jawab Sora, sopan. “Mmmmm... Apa
Maya masih tidur, bi? Bagaimana kondisi kakinya, apa sudah baikan?”
“Ah, tidak nak Sora. Maya sudah bangun dan baru saja
berangkat sekolah,”
“Sudah berangkat?” dahi Sora tampak mengernyit, heran.
“Tumben sekali sudah bangun dan bisa berangkat pagi,” tambah Sora, pelan,
dengan harapan ibu Haru tidak mendengarnya.
Ibu Haru tersenyum, tampaknya ia mendengarkan perkataan
Sora. “Iya, lebih tepatnya Maya terpaksa bangun lebih pagi karena jika tidak ia
bisa terlambat dengan kondisi kakinya yang seperti itu,”
“Oh, begitu rupanya,” Sora manggut-manggut. “Ehm, kalau
begitu saya juga berangkat duluan, ya, bi. Supaya saya tidak kesiangan juga,”
Sora tersenyum sopan pada ibu Haru sambil menganggukkan kepalanya sedikit.
“Iya, hati-hati, ya, Sora,” ibu Haru balas tersenyum dan
menatap punggung Sora yang perlahan menghilang dari kejauhan, sebelum kemudian
menghela nafas pendek dan masuk kembali ke dalam rumah.
Pada jarak beberapa meter dari tempat Sora dan ibu Haru
tadi berdiri, tampak Asa tengah mengamati. Ia berdiri diam di tempat itu
sejenak dan tampak memikirkan sesuatu, sebelum ikut berlalu dari tempat itu.
♪ ♪ ♪
Sora mengayuh sepedanya sambil menoleh ke kanan dan ke
kiri. Ketika berpapasan dengan beberapa orang di jalan yang dikenalnya, Sora
tersenyum menyapa sekedarnya. “Mana, ‘sih anak itu?” gumamnya dalam hati.
Sora menghentikan sepedanya ketika mata Sora menangkap punggung
seorang gadis mungil yang sedang berjalan tertatih-tatih beberapa meter di
depannya dengan posisi badan agak membungkuk ke depan. Sora mengulum senyumnya,
menahan tawa melihat Maya yang berjalan seperti itu. Kemudian Sora mengayuh sepedanya
perlahan hingga sejajar dengan Maya.
“Aioooo... aku kira tadi melihat nenek-nenek memakai
seragam SMA sedang encok tengah berjalan, ternyata kamu rupanya, mungil,”
Maya menatap pria menyebalkan di sebelahnya dan wajahnya
berubah menjadi semakin mendung. Kenapa
pagi-pagi begini aku sudah harus bertemu dengan orang ini, ‘sih? Maya hanya
terdiam dan menatap jalan di depannya, berusaha tidak mempedulikan Sora.
“Mau naik sepeda juga tidak?”
Maya berhenti berjalan, menatap Sora penuh selidik.
“Apa matahari hari ini terbit dari barat?” Maya menyindir
dan kembali berjalan tanpa mempedulikan Sora.
Sora tertawa mengejek. “Hei, aku serius,”
Maya berhenti berjalan dan menatap Sora lagi. Tatapannya
tetap tidak menunjukkan keramahan. “Benarkah? Kau serius?”
Sora hanya mengedikkan kepalanya sedikit, entah itu
artinya ‘ya’ atau ‘tidak’. “Yah, mumpung aku sedang membawa sepeda hari ini dan
aku juga sedang berbaik hati. Lagipula...,” Sora mendekatkan wajahnya pada
wajah Maya membuat Maya spontan sedikit mundur karena terkejut. Wajah mereka
hanya berjarak beberapa senti saja.
“Ap... apa...?” Maya gelagapan.
“Dibonceng oleh pria seperti aku akan menjadi suatu
kehormatan besar bagimu, nona mungil,” ujar Sora sambil mengangkat-angkat
alisnya. “Ibarat kau mendapat jackpot!”
“Apa?! KAU GILA!” Maya segera melengoskan wajahnya tidak
mau menatap Sora.
Sora hanya mengangkat bahunya sedikit seakan tidak peduli
dengan sikap Maya yang seperti itu dan memperbaiki posisinya menjadi posisi
siap mengendarai sepeda lagi. “Jadi, bagaimana? Mau ikut denganku tidak?”
Maya menatap Sora sambil mendecak keras. Apa, ‘sih yang ada
di otak cowok gila ini? Sebenarnya dia mau dan tulus memberikan bantuan atau
tidak? Sebenarnya ajakan dibonceng Sora merupakan tawaran yang sangat menggiurkan.
Bukan karena dibonceng oleh pria yang katanya mempesona, berkharisma, ya apapun
itu lah, tapi karena mengingat kondisi Maya yang seperti ini, dibonceng Sora
akan sangat menghemat tenaganya. Tapi kalau aku ikut nanti pasti dia makin besar
kepala lagi dan tidak akan berhenti menggodaku! Maya terlihat sedikit gelisah,
menimbang-nimbang.
“Jadi?” Sora mendekatkan wajahnya lagi ke wajah Maya,
membuat Maya kembali gelagapan dan spontan menjawab,
“Si... siapa yang mau ikut denganmu?” ujarnya gengsi.
“Tidak terima kasih! Daripada ikut denganmu lebih baik aku berjalan saja!”
Ingat Maya, harga diri sebagai wanita! Jangan biarkan orang ini merasa menang,
grrrr!
“Benar tidak mau?” tanya Sora lagi. Maya hanya terdiam,
tidak menjawab. Ekspresinya sedikit merengut. Selang beberapa detik kemudian,
Sora mengangkat bahunya sedikit dan berkata, “Ya sudah kalau tidak mau, aku
juga tidak rugi. Dahhh mungilll...,” ujarnya dengan nada tak peduli dan
mengayuh sepedanya kembali, meninggalkan Maya begitu saja.
Maya terperangah menatap Sora yang benar-benar pergi
begitu saja. Maya menatap Sora dan sepedanya yang perlahan-lahan menjauh. Maya
sedikit berharap Sora akan membalikkan badannya dan kembali menawarkan lagi
pada Maya atau memaksanya untuk ikut dengannya. Tapi ternyata tidak, Sora benar-benar pergi begitu saja hingga
akhirnya lenyap dari pandangan Maya.
Maya terperangah. Apa!?
Begitu saja!? Tidak adakah adegan seperti di film-film dimana sang pria tidak
tega dan di saat-saat terakhir membalikkan badannya, memaksa sang wanita untuk
naik ke sepedanya?
“Benar-benar keterlaluan, begitukah sikap yang patut
ditunjukkan seorang pria!? Para wanita dan gadis yang memilihnya sebagai pria
idaman nomor satu pasti sudah gila!” gerutu Maya. “Arrgghhhhh!!!” Maya
menghentak-hentakkan kakinya untuk menunjukkan ekspresi kekesalannya sebelum ia
sadar kakinya sakit dan Maya segera merintih kesakitan.
Maya kembali mengumpulkan tenaganya untuk berjalan menuju
sekolah. Sudah cukup marah-marahnya, tidak ada waktu untuk hal itu sekarang.
Yang terpenting ialah tidak terlambat sampai ke sekolah, meski sekarang Maya
ragu bahwa ia bisa sampai ke sekolah tepat waktu melihat jalannya bahkan lebih
lambat dari siput yang sedang encok (emang siput bisa encok ya?).
Meskipun sudah berusaha untuk tidak dipikirkan, kepala
Maya terus saja terisi dengan sosok Sora Fujimura. Maya kembali menggerutu
kesal, meskipun sebenarnya Maya sedikit menyesal karena bagaimanapun dia yang
menolak ajakan Sora. Tapi namanya juga Maya, ia tidak akan mau mengakuinya!
Pokoknya semua salah pria itu! Kenapa dia tidak memaksa Maya saja, ‘sih? Sudah
tahu kondisi Maya seperti ini!
Sora Fujimura, dasar cowok
tidak berperasaan! Brengsek! Kejam! Raja tega!!! maki Maya terus-menerus dalam hati.
Peluh membasahi dahi Maya. Akhirnya Maya sampai di ujung
jalan dan ia sudah mencapai belokan sekarang. Meski begitu tetap saja
perjalanan ke sekolah Maya masih cukup jauh. Maya sudah pasrah ia akan telat
lagi. Rasanya hanya keajaiban yang bisa membantunya untuk tepat waktu sampai di
sekolah dengan kondisinya yang sekarang. Dan mengharapkan keajaiban itu bisa
datang sekarang jelas tidak mungkin.
Ternyata anggapan Maya salah, karena begitu Maya berbelok
ia dapat melihat sosok tidak jauh di depannya yang sudah sangat dikenalnya.
Sosok itu tampak menunggu seseorang, ia berdiri di samping sepedanya. Maya
tertegun, bukankah seharusnya dia...?
Maya hanya terdiam di tempat sampai sosok itu kemudian menyadari ada seseorang
yang menatapnya dan ia menoleh melihat Maya. Sekilas Maya melihat ada senyum
kecil tersungging di sudut bibir Sora.
“Lama juga kau sampai di sini, mungil,” ujar Sora.
Maya hanya terdiam.
“Lihatlah tampangmu, kacau sekali!” Sora mengeluarkan
sapu tangan dari saku celananya, kemudian beranjak mendekati Maya. “Wajahmu
penuh keringat, ckckck... Mengerikan sekali tampangmu ini! Kalau pria melihatmu
seperti ini, pasti mereka akan kabur dan tidak akan tertarik padamu!” omel Sora
sambil mengusap peluh di dahi Maya dengan sapu tangannya.
Maya tertegun, melihat wajah Sora untuk ketiga kalinya
pagi ini begitu dekat dengannya. Tapi kali ini berbeda karena Maya tidak
langsung melengoskan wajahnya. Maya tidak bisa berkutik. Tangan Sora ada di
dagunya dan tangan yang satunya memegang sapu tangan mengusap peluh di dahinya.
Ia bisa merasakan hembusan nafas Sora di wajahnya, dan juga detak jantungnya
sendiri yang sedari tadi sudah berloncatan tidak karuan. Maya bisa merasakan
suhu wajahnya naik beberapa derajat dan tangannya mulai berkeringat. Maya
sangat berharap wajahnya tidak menampakkan ekspresi aneh-aneh di hadapan Sora. Kumohon, jangan sampai dia mendengar detak
jantungku ini...
Merasa sudah tidak tahan lagi, Maya segera mengambil sapu
tangan dari tangan Sora. Sora menatapnya heran dan Maya langsung menundukkan
kepalanya, menolak menatap Sora. “A... aku bisa sendiri,” ujar Maya, pelan.
Sora hanya mengangkat bahunya. Sepertinya ia tidak
terlihat peduli terhadap reaksi Maya, mungkin dianggapnya sebagai hal yang
biasa. Kemudian Sora kembali menuju sepedanya dan berkata pada Maya, “Ayo...,”
“Eh?”
“Kamu mau ikut atau tidak? Ayo, cepat! Nanti kamu
terlambat!” Sora berkata dengan nada seperti memerintah, dimana perintahnya itu
tidak dapat dibantah.
Maya hanya tertegun dan tidak menjawab, hanya terdiam di
tempat.
“Aduh, anak ini benar-benar...,” ujar Sora gemas dan
bergegas menghampiri Maya dan menarik lengannya. “Ayo...,”
“Tu... tunggu...,” ujar Maya, membuat Sora menghentikan
langkahnya dan menoleh ke arahnya. “Bukankah tadi... kamu...,” Maya tidak
melanjutkan kata-katanya, karena ia sendiri bingung menyusun kata-katanya.
Semuanya terlalu mengejutkan.
Sora tertawa, “Haizz, mungil! Apa kau pikir aku
benar-benar berniat meninggalkanmu? Apa kau pikir aku setega itu padamu?
Sepertinya tadi setelah kutinggalkan, kau sudah memaki-maki aku dengan kamus
kata-kata makian mengerikan, ya?” selidik Sora, geli. Maya hanya melotot dan
tampak gelagapan, tidak menjawab. Ia merasa tertangkap basah. Sora selalu saja
bisa membaca pikirannya.
“Sudahlah, ayo!” Sora menarik lengan Maya lagi, dan kali
ini Maya menurut saja “diseret” Sora tanpa mengeluarkan kata-kata atau tindakan
memberontak. Maya terus saja terdiam meskipun ia sudah duduk di “tempat duduk
penumpang” sepeda Sora dan sepeda Sora mulai meluncur menyusuri jalanan di desa
mereka. Sora pun tampaknya tidak berniat untuk membuka pembicaraan.
Maya sedikit menyandarkan kepalanya di punggung Sora.
Hangat. Nyaman rasanya. Sensasinya berbeda dengan waktu Maya digendong Sora
kemarin namun tetap saja rasanya menyenangkan. Maya pasti sudah gila jika ia
merasa seperti itu, tapi itulah yang dirasakannya sekarang dan Maya tidak mau
menolak. Ia lelah dan ingin istirahat sebentar, menikmati perasaan menyenangkan
ini untuk sesaat saja. Maya memejamkan matanya, sedikit mencium sapu tangan
Sora yang masih berada di tangannya. Ada aroma Sora yang khas pada sapu tangan
itu dan Maya... menyukainya. Lagi-lagi ketika semua terkesan tidak mungkin,
Sora lah yang selalu muncul membuat keajaiban baginya. Ketika Maya mengira Sora
tidak mempedulikannya, ternyata tidak. Mungkin justru Sora lah orang yang
paling peduli pada Maya. Entahlah, Maya tidak mau memikirkannya. Ia benar-benar
hanya menikmati saat-saat ini. Sejenak Maya membiarkan imajinasinya bermain
sepuasnya. Ia merasa sepeda yang dinaikinya saat ini tengah melintasi langit
biru yang luas, favoritnya, ada banyak awan, matahari bersinar terang. Di jauh
sana terlihat gunung dan laut, ada pelangi juga, tampaknya di daerah sana baru
saja turun hujan. Pokoknya semua hal yang menyenangkan, dan tentu saja dalam
imajinasinya itu ada Sora yang mengendarai sepeda itu. Perlahan Maya
mengalungkan lengannya di perut Sora. Entah bagaimana reaksi Sora, tapi
sepertinya tidak ada.
Beberapa saat kemudian, sepeda Sora mulai mendekati
gerbang sekolah. Banyak sekali tampak murid-murid yang berjalan mendekati gerbang
sekolah. Sora memberhentikan sepedanya agak jauh dari gerbang sekolah, agar
tidak menarik perhatian dan menghindari gosip dari para murid. Beberapa saat
hening. Sora heran kenapa tidak ada reaksi apapun dari gadis di belakangnya
padahal sepedanya sudah ia berhentikan dari tadi.
Apa dia tidur? Yang benar
saja...
Sora sedikit menoleh ke belakang, melihat Maya yang masih
memejamkan matanya, tenggelam dalam imajinasinya sendiri. Sora mendecak
mengejek, dan sedikit menggerakkan badannya. Sedikit tersentak, Maya langsung
membuka kedua matanya. Sudah berhenti?
Apa sudah sampai? Kenapa cepat sekali? Maya sedikit mendongakkan kepalanya
dan menatap Sora. Sora sadar sekarang mereka sedikit menarik perhatian dan
beberapa murid di sekeliling mereka menatap mereka terkejut. Bagaimana tidak,
Maya masih tidak turun-turun dari sepedanya dan posisi lengan Maya terlihat
masih dikalungkan di perut Sora dan wajah Maya masih bersandar pada
punggungnya. Dalam pandangan orang biasa mereka pasti terlihat seperti sepasang
kekasih yang dimabuk asmara.
Sora hanya menghela nafas dan Maya hanya menatapnya dalam
diam, sedikit heran. Kemudian Sora menatap Maya dan memberi tanda dengan
kepalanya, menyuruhnya turun.
“Apa?” Maya masih tidak mengerti maksud Sora. Rasanya
Maya masih berada di perbatasan antara imajinasi dan dunia nyata.
Sora tidak menjawab hanya terus saja memberi tanda yang
sama dengan kepalanya. Kemudian beberapa saat kemudian Maya sedikit tersadar
dan menatap ke sekelilingnya. Ia tersentak ketika mendapati tatapan beberapa
murid yang lewat menatap ke arah mereka, tampak sangat terkejut. Dan Maya
sendiri terkejut menatap dirinya yang masih bersandar pada Sora dengan
tangannya masih memeluk erat perut Sora. Maya tersentak dan refleks ia segera
berdiri dan pura-pura membetulkan rambut dan seragamnya, tampak sangat salah
tingkah.
“Eh.. hm, ehm...,” Maya masih sulit menemukan
kata-katanya dan kemudian ia menoleh ke sekelilingnya dan tersadar akan
sesuatu.
“Kenapa kita berhenti di sini? Di sini ‘kan belum masuk
gerbang sekolah?”
Sora tertawa mengejek dan mengetuk dahi Maya. “Dasar
bodoh! Apa kau mau membuat gosip, mungil? Ah, tunggu dulu... Kalau kau pasti
tidak keberatan, ya, tapi itu bisa jadi masalah buatku. Bagaimana nanti jika
pesonaku luntur hanya karena aku membonceng gadis SMA yang tengah encok
sepertimu?”
Maya tersadar akan maksud Sora dan segera menggerutu
kesal, “Dalam mimpimu!” Maya segera beranjak meninggalkan Sora dengan kesal.
Sora tersenyum geli, sebelum ia melihat Maya berhenti berjalan dan membalikkan
badannya. Ia tampak ragu namun terlihat tengah memantapkan diri.
“Sapu tangannya akan kucuci bersih dan kukembalikan,
dan...,” Maya sedikit mengatur nada suaranya agar tetap terlihat tidak ramah.
“Terima kasih, ya atas semuanya pagi ini!” Maya segera melengos lagi dan
berjalan cepat tertatih-tatih menuju gerbang sekolah.
Sora tertegun sejenak, sebelum kembali menatap Maya yang
menjauh sambil tersenyum dikulum. Kemudian setelah Sora memastikan Maya telah
memasuki halaman sekolah, Sora melanjutkan mengayuh sepedanya sampai menuju
tempat parkir sepeda.
♪ ♪ ♪
“Ohayouuuu,” sapa Maya lemah sambil memasuki pintu
kelasnya. Maya melangkah tertatih-tatih menuju ke mejanya.
“Maya-chan, selamat pagi,” sapa seorang gadis
bermata sipit, berambut tebal-berponi helm, dan berkacamata, yang langsung
menghampirinya. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya, tampak khawatir.
“Apa kau pikir aku baik-baik saja, Kusaki? Haaiiizzz, aku
mau mati rasanya..,” Maya menelungkupkan kepalanya ke dalam dua tangannya yang
menempel di atas meja. “Mengingat kemarin rasanya aku ingin mengutuk guru itu. Guru
satu itu benar-benar ingin melihatku mati rupanya, kakiku sakit sekaliiiii,”
gerutu Maya seperti mau menangis.
“Sabar, ya, Maya. Untung saja kamu tidak terlambat lagi
hari ini,” kata Kusaki, tampak ikut prihatin. “Makanya lain kali jangan telat
lagi, ya...,”
“Akan kuusahakan,” jawab Maya, nyengir. Ya, untunglah
Maya tidak terlambat lagi hari ini, semuanya berkat Sora.
Ya... Berkat Sora.
“Wah, selamat pagi, Maya!” tampak seorang gadis berambut
bergelombang dan dikuncir dua menghampirinya. “Tampaknya kau terlihat kacau
sekali, ya, apa kau baik-baik saja?”
Mulai lagi, ‘deh, gadis ini! pikir Maya kesal. Maya
benar-benar sedang tidak ingin meladeni gadis di depannya ini sekarang.
“Ya, begitulah, Sugiko,” jawab Maya, singkat. Maya masih
menghargainya karena ia adalah anak dari atasan ibunya di toko mie tempat
ibunya bekerja.
“Ah, ngomong-ngomong...,” kata Sugiko dengan suara
mendayu-dayu yang dibuat-buat, sehingga membuat Maya ingin muntah. “Apa kau
sudah punya rencana untuk Natal nanti, Maya?”
“Natal?” dahi Maya mengernyit.
“Oww, astaga, MAYA!” Sugiko menunjukkan ekspresi
keterkejutan yang amat sangat dibuat-buat. Maya yakin dengan kemampuannya yang
begitu Sugiko bisa mendapatkan piala Oscar untuk kategori pemeran bermuka dua
(eh ngga ada kategori begitu ya?) “Apa kau lupa kalau sebentar lagi Natal!?
Yang benar saja, Maya... Ckckckck...,” tampak sekarang ia memperlihatkan
ekspresi prihatinnya yang lebai. Maya melirik Kusaki, Kusaki sepertinya
terlihat ingin menerkam Sugiko. Maya tertawa dalam hati.
Natal? Benarkah sudah
dekat? Maya benar-benar tidak menyadarinya,
sebelum ia sadar jika sekitar sebulan lagi Natal akan tiba.
“Ah... ya, tentu saja aku tidak lupa,” Maya berusaha
menjaga ekspresinya agar tidak ketahuan bahwa ia benar-benar lupa, meski
sepertinya tidak terlihat meyakinkan. “Aku... belum memikirkannya. Masih lama
juga...,”
“Untuk momen seperti Natal harusnya kau sudah
mempersiapkan suatu acara yang spesial! Misalnya seperti aku! Apa kau tidak
ingin tahu apa yang sudah kupersiapkan untuk Natal nanti?”
Maya sebenarnya tidak ingin tahu. Tepatnya bahkan ia
tidak akan peduli. Dia mau ke Amerika kek, Afrika kek, Kutub Utara kek, peduli
amat. Tapi ia tidak mungkin mengatakannya. Ia memilih diam dan Sugiko
menganggap diamnya Maya sebagai tanda ia boleh melanjutkan kata-katanya.
“Tadahhhh! Aku akan pergi ke sini!” Sugiko menaruh suatu
brosur di meja Maya dan menunjuk-nunjuknya dengan jari telunjuknya. Maya segera
mengarahkan pandangannya ke brosur itu. Di brosur itu tertulis besar-besar huruf
‘Pertunjukan Natal Tahun Ini, ANNA KARENINA’. Dan berbagai tulisan-tulisan
kecil lain yang menunjukkan informasi tempat, waktu, harga tiket, dan lain
sebagainya. Terlihat seorang wanita yang sangat cantik di brosur itu.
Sepertinya ia yang memerankan menjadi Anna Karenina. Maya melirik nama pemeran
yang terpampang di brosur itu. Utako
Himekawa sebagai Anna Karenina.
“Ini merupakan suatu pertunjukan drama besar! Di kota
dekat desa sini pula! Dari teater yang sangat besar dan ternama! Ah, aku
benar-benar sudah tidak sabar! Tentu saja aku akan pergi bersama pacarku yang
baru itu. Benar-benar akan menjadi Natal yang menyenangkan! Aku sudah tidak
sabar! Ah, maaf, Maya, bukannya aku bermaksud pamer atau apa, atau menyinggung
perasaanmu, aku hanya memberikan contoh bagaimana kau seharusnya merayakan
Natal! Agar kau tidak menyesal, percayalah! Aku
memang benar-benar orang yang baik, ya...” ujarnya sambil terus heboh
sendiri dan berlalu. Entah meja mana lagi yang akan jadi “sasaran” Sugiko
berikutnya.
Maya dan Kusaki sambil berhadapan dan mengulangi
kata-kata terakhir Sugiko barusan dalam saat yang bersamaan, “Aku memang benar-benar orang yang baik,
ya...” dengan gaya dibuat-buat seperti halnya Sugiko, kemudian mereka
membuat gerakan seperti orang muntah, dan kemudian tertawa kecil.
“Aishhh, benar-benar membuat gila! Apa kau tahu kalau
dari tadi pagi Sugiko terus menggembor-gemborkan hal itu di depan teman-teman
sekelas? Aku ragu kabar bahagianya itu tidak menyebar ke seluruh penjuru
sekolah ini. Hahhhh, aku kesal sekali melihat sikap soknya itu! Rasanya ingin
kucakar dan kurobek saja mulutnya!” kata Kusaki geram, sambil membuat gerakan
mencakar dan merobek sesuatu dengan tangannya. Maya hanya tertawa kecil.
“Ah, sudahlah, aku kembali ke mejaku dulu, ya, Maya. Sudah
mau jam pelajaran pertama. Jangan dengarkan perkataan gadis gila tadi,”
Maya hanya mengangguk kecil sambil tersenyum, lalu
menghela nafas pelan.
Hmmm... Anna Karenina,
ya...
Maya terus saja menatap brosur yang tadi diberikan oleh
Sugiko kepadanya dengan tatapan penuh minat. Sebelum kemudian ia buru-buru
memasukkan brosur itu ke dalam kolong mejanya ketika ia mendengar suara
teman-temannya mengucapkan salam pertanda guru sudah memasuki kelas.
♪ ♪ ♪
(Paris, 20xx, saat ini)
Suasana ruang ganti tampak ramai. Meski wajah para pemain
teater Onodera terlihat kelelahan, namun pancaran kebahagiaan tidak dapat
disembunyikan. Mereka sangat senang karena pementasan mereka malam ini sukses
besar. Tentu saja hal ini merupakan suatu prestasi yang sangat membanggakan
karena ini pementasan drama perdana mereka di tingkat internasional dan
mendapatkan sambutan sangat positif dari para kritikus ternama. Pasti nama
teater mereka akan terpampang besar-besaran di headline koran di Paris dan Jepang, dan akan membuat nama teater
mereka semakin terkenal. Kesuksesan teater Onodera juga tidak lepas dari peran
dua bintang utama mereka, Yu Sakurakoji dan Ayumi Himekawa. Koji dan Ayumi
tampak dielu-elukan di tengah para pemain di ruang ganti.
“Pementasan kali sukses besar karena kalian berdua!
Kalian hebat, Koji! Ayumi!” seru seorang gadis yang diikuti teriakan setuju
dari yang lainnya.
“Benar! Nama kalian setelah ini pasti akan semakin mendunia!
Kalian memang hebat! Akting kalian mengagumkan! Kalian calon bintang besar!”
Dan masih begitu banyak lagi seruan pujian terlontar
secara terus menerus dari para pemain teater Onodera. Koji dan Ayumi yang
mendengarnya hanya tersenyum, tetap tenang, sambil mengucapkan kata terima kasih
dan basa-basi lainnya seperti, “Tidak, pementasan kali ini juga bisa sukses
berkat kalian,”
Tiba-tiba pintu terbuka dan tampak Onodera masuk.
Wajahnya tidak dapat menyembunyikan kebahagiaan karena kesuksesan pementasan
teater asuhannya kali ini. “Koji, Ayumi, pementasan kali ini benar-benar sukses
besar! Aku sungguh berterima kasih pada kalian berdua! Kalian berdua luar
biasa!”
“Anda berlebihan, pak Onodera. Kalau bukan berkat Anda
juga, kami tidak akan bisa sampai ke tahap ini,” kata Ayumi.
“Ayumi benar, pak. Semuanya ikut berperan sehingga
pementasan malam ini sukses besar,” sambung Koji.
Onodera hanya terkekeh. “Banyak wartawan ingin
mewawancarai kalian dan para kritikus serta produser juga sutradara ternama
ingin berbicara dengan kalian! Aku harap kalian bisa! Di luar sambutannya
benar-benar meriah sekali! Aku juga tidak bisa lama-lama di sini, masih banyak
yang harus kuurusi dan kuajak bicara,” katanya seraya berlalu dari ruangan itu.
Kemudian para pemain pun ada yang mengobrol, membereskan
barangnya, membersihkan make-up, dan
banyak lagi hal lainnya. Ayumi menatap Koji,
“Apa kau ikut, Koji?”
“Entahlah, Ayumi. Aku lelah, ingin istirahat. Mungkin
hanya sebentar untuk memberi salam,”
Ayumi tersenyum maklum. “Baiklah kalau begitu. Aku
duluan, ya,” katanya seraya beranjak keluar ruangan. Koji hanya mengangguk
sambil tersenyum.
Koji berbalik dan membereskan barang-barangnya, sambil
sesekali membalas sapaan teman-temannya yang hendak keluar ruangan. Sayup-sayup
Koji mendengar bisik-bisik di antara para pemeran lain di sekitarnya,
“Apa kau tahu? Kudengar salah satu pemain Teater Mayuko
menghilang!”
“Apa!? Kau yakin itu benar? Kau tidak bercanda?”
“Tidak! Tadi aku sempat dengar kasak-kusuk di luar sana.
Sepertinya benar, karena sepertinya aku juga melihat beberapa orang Teater
Mayuko sepertinya panik kelabakan mencari pemain yang hilang itu!”
“Astaga, apa mereka bermaksud main-main!? Ini bukan
pertunjukan biasa tapi di tingkat internasional! Harusnya mereka berterima
kasih bisa mendapatkan kesempatan tampil di panggung dan gedung ini! Apa mereka
bisa tampil setelah ini!?”
“Apa, ‘sih yang mereka pikirkan!? Mencoreng nama teater
Jepang saja! Apa teater mereka mau mati? Ckckckk...”
Koji tidak melanjutkan mendengarkan pembicaraan mereka.
Pikirannya mendadak sibuk setelah mendengarkan pembicaraan itu. Ada pemain teater Mayuko yang hilang?
Mungkinkah... Ingatan Koji melayang pada sosok seorang gadis mungil yang
sudah lama tidak dijumpainya.
♪ ♪ ♪
“TING!” terdengar suara elevator berhenti di suatu
lantai. Gadis berambut bergelombang dan berdandan tebal itu muncul dari dalam
elevator itu. Ia berjalan tanpa memperhatikan kanan dan kirinya. Pikirannya
terus melayang akan kejadian yang baru saja dialaminya bersama gadis itu.
Bersama Maya. Maya yang awalnya ceria menemuinya, Maya yang tampak terpukul dan
tidak percaya setelah mendengar ceritanya, Maya yang tidak menangis setelah ia pergi
meninggalkannya sendirian tadi. Tapi ia tahu dan bisa menduga, pasti tidak lama
setelah itu Maya menangis sesenggukkan. Wajah gadis berambut bergelombang itu
tampak menahan sakit.
Tiba-tiba, ia mendengar suara ribut tidak jauh di
depannya dan ia mendekati sumber keributan itu. Ia tahu bahwa di lantai ini
banyak terkumpul wartawan serta orang-orang teater dan perfilman yang terkenal
dan punya nama besar di dunia teater dan film. Mereka tengah sibuk mewawancarai
dan berbincang dengan tokoh-tokoh dibalik suksesnya pementasan teater Onodera,
dan juga menunggu pementasan teater berikutnya, teater Mayuko. Gadis itu merasa
sedikit ngilu, mengingat kondisi Maya tadi, ia tidak yakin apakah akan ada
pementasan setelah ini. Dan keraguan itu memang benar. Ia sekarang bisa melihat
bahwa sumber keributan itu bukan berasal dari wartawan dan orang-orang terkenal
seperti yang disangkanya tadi. Sumber keributan tersebut berasal dari teman-teman
Maya dari kelompok drama yang sama tengah panik mencari Maya. Kerumunan para
wartawan dan yang lainnya justru berada di belakangnya.
“Apakah kamu sudah menemukan Maya?” teriak Rei.
“Tidak ada! Aku sudah mencari di seluruh ruangan di
lantai ini dan tidak berhasil kutemukan! Aku juga sudah meminta bantuan
beberapa penjaga gedung, tapi belum ada kabar mengenai tanda-tanda keberadaan
Maya!” jawab Sayaka, panik.
“Ayo terus kita cari! Jangan menyerah!” ujar Rei. “Aishhh,
apa ‘sih yang dipikirkan anak itu menghilang begini!?”
Gadis berambut bergelombang itu, Sugiko, terhenyak. Maya menghilang? Apa mungkin Maya masih di
tempat yang tadi? Sugiko sedikit menimbang dan hendak membuka mulutnya,
memberitahukan bahwa ia bisa memberikan informasi mengenai Maya, mungkin saja Maya masih di tempat tadi, ketika
tiba-tiba saja tatapannya terpasung pada seorang wanita yang sedang berjalan ke
arahnya. Wanita berambut panjang hitam bergelombang itu tampak berjalan anggun
dan memberinya tatapan yang membuatnya langsung menutup mulutnya. Wanita itu
kemudian kembali menatap ke depan dan melewatinya begitu saja, menuju kerumunan
orang di belakang Sugiko. Ketika wanita itu melewati Sugiko, Sugiko bisa
merasakan jantungnya berhenti berdetak. Tatapan wanita itu menghunjam dirinya,
mengingatkan dirinya akan janji di antara mereka.
Sugiko berbalik dan melihat wanita itu masuk ke kerumunan
dan menghampiri seorang pria yang terlihat menonjol di kerumunan itu. Pria itu
tinggi tegap, tampan, berwibawa, dan penuh dengan aura kuasa. Wanita itu
tersenyum lembut pada pria itu, yang dibalas pria itu dengan senyumannya yang
maskulin. Sugiko terus menatap pria itu sambil kembali mengingat tentang
bagaimana reaksi Maya ketika ia mengatakan kabar buruk itu. Seketika ia
merasakan sedikit rasa perih di hatinya dan matanya memanas.
Maafkan aku, Maya... batinnya pedih.
Sugiko segera berbalik meninggalkan kerumunan itu. Ia
ingin segera pergi dari sini. Malam ini ia sudah banyak melakukan perbuatan
buruk, mungkin minuman bisa membantu menghilangkan stress dan sakit kepala
serta kesedihan di hatinya. Tiba-tiba Sugiko berhenti. Ia mengeluarkan sesuatu
dari kantung roknya, sebuah kalung di mana terdapat dua cincin berukuran
berbeda tergantung di situ. Sugiko ingat ia menemukan kalung itu dari tumpukan
barang dimana terdapat pakaian, celana, dan berbagai macam barang lainnya milik
seseorang, yang dulu diberikan oleh wanita kaya berambut hitam bergelombang itu
padanya.
Sugiko menatapnya. Pada cincin yang berukuran besar
tertulis inisial huruf M.K., pada cincin yang berukuran kecil tertulis inisial
huruf S.F. Ya... Sudah jelas, sangat jelas.
Ini bukti... bahwa Sora Fujimura memang milik Maya
Kitajima. Baik hidup ataupun mati... sampai kapanpun...
♪ ♪ ♪
>>> Fated to Love You, Only You ch 2 bersambung <<<
Categories
Author: Airin,
Fanfic: Serial,
Masumi,
Maya,
Shiori,
Teater Mayuko
Subscribe to:
Posts (Atom)
