Showing posts with label Eisuke. Show all posts
Showing posts with label Eisuke. Show all posts

Wednesday, 18 April 2012

Fanfic TK: Finally Found You - The Ending pt.2

Posted by Ty SakuMoto at 15:58 124 comments
Warning: Kissu, Skinship, Mature relationship, soft bed scene
Rating: 20+



Finally Found You The Ending 2



Pendeta tersebut memulai, “malam ini, kita berkumpul di sini, para kerabat, keluarga dan sahabat, untuk menyaksikan penyatuan suci, antara Masumi Hayami dan Maya Kitajima…”
Sementara pendeta tersebut bicara, kedua insan yang akan disatukan itu saling memandang tanpa saling melepaskan. Maya bisa merasakan tangan yang begitu Ia rindukan menggenggamnya erat dan terasa sangat hangat. Tangan Masumi, Mawar Ungu-nya, Kekasihnya yang selalu berada di sampingnya, mendukungnya dan mencintainya.
Maya menengadahkan wajahnya, memandangi Masumi yang terlihat sangat tampan. Bintang-bintang bergerak perlahan di sekeliling mereka, mengiringi setiap hembusan nafas dan detak jantung tidak sabar dua insan yang saling menyadari ingin segera bersama.
Perlahan-lahan perasaan Maya menjadi semakin tenang dan damai. Ia bersama Masumi sekarang. Tidak ada yang lebih sempurna dari saat ini untuknya. Ia sudah berada di tempat seharusnya Ia berada. Beberapa saat keduanya merasa seakan-akan dunia di sekelilingnya lenyap, dan hanya tinggal mereka berdua. Tenggelam dalam tatapan mata masing-masing.
Hanya berdua. Untuk satu sama lain.
“Masumi Hayami, apakah kau menerima Maya Kitajima sebagai istrimu? Dalam segala kebahagiaan dan kedukaan, dalam sehat dan sakit hingga maut memisahkan kalian?”
Masumi tersadar dari perasaan terpesonanya. “Aku bersedia,” Masumi berkata mantap.
“Maya Kitajima, apakah kau menerima Masumi Hayami sebagai suamimu? Dalam segala kebahagiaan dan kedukaan, dalam sehat dan sakit hingga mau memisahkan kalian?”
Beberapa saat suasana senyap dan Maya membisu. Mengamati Masumi dalam kesunyian.
Pria itu menatap penuh harap pada Maya, begitu gelisah melihat Maya yang bergeming dan bibirnya terkatup.
Mata gadis itu bersinar jahil, dan tersenyum menggoda Masumi. “Aku bersedia,” ucap Maya.
Masumi bernafas sangat lega. Ia tahu Maya menghukumnya untuk semua kejutannya. Pria itu masih bisa melihat senyuman tipis penuh kejahilan dari Maya. Masumi tersenyum gemas dengan kelakuan gadis itu.
“Cincinnya,” pinta Pendeta.
Masumi menerima cincin dari pria asing tadi. Maya pun menerima sebuah cincin dari Rei.
Masumi meraih tangan kiri Maya. Sebelum memasangkan cincinnya, pria itu menatap kekasihnya.
“Maya, kau adalah gadis paling istimewa dalam hidupku. Saat bersamamu, kau membuatku merasa lengkap dan sempurna dan aku sangat bahagia bisa memperistrimu hari ini. Cincin ini akan menjadi lambang kesetiaanku untuk selalu mendampingimu hingga denyutan terakhir jantungku dan helaan terakhir nafasku.” Masumi lantas memasangkan cincin itu di jari manis Maya dan tersenyum.
Maya menggigit bibirnya, menahan isakannya. Gadis itu bisa merasakan tenggorokannya tercekat haru.
Maya meraih cincinnya, menatap Masumi. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, dia tidak menyiapkan kata-kata apapun, dan perasaannya campur aduk. Ia menatap Masumi, mengamati wajah kekasihnya yang selalu membuatnya merasa damai. “Pak Masumi, terima kasih karena kau sudah menjadi bagian hidupku selama ini. Dan aku ingin kau selamanya berada di sisiku. Aku berjanji akan selalu bersamamu, mendampingimu. Selamanya,” gadis itu tersenyum lebar. Maya lantas memasangkan cincin pada jari manis Masumi.
Pendeta itu tersenyum. Ia lantas menutup upacara itu dengan mengucapkan, “…kalian resmi sebagai suami istri.” Dan tersenyum kepada Masumi dengan mengatakan. “Kau boleh mencium mempelai wanitanya.”
Masumi tersenyum lebar, membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya pada wajah Maya yang menengadah malu-malu menatapnya.
Bibir keduanya bersentuhan. Begitu lembut, dan hangat. Sekali lagi Maya merasa seakan-akan Ia tengah dibawa Masumi melayang ke luar angkasa.
Saat ciuman keduanya usai, lampu ruangan menyala dan orang-orang di sekeliling mereka bertepuk tangan dan mengucapkan selamat. Maya tertegun, menyipitkan matanya karena lampu ruangan yang tiba-tiba benderang. Air mata gadis itu sudah tidak bisa bertahan, perlahan-lahan turun menyusuri wajahnya.
Masumi lantas menuntun Maya ke sebuah tempat, menandatangani berkas dan petugas catatan sipil yang entah bagaimana bisa berada di sana malam ini, menyerahkan surat-surat yang kemudian disimpan Mizuki. Selama proses itu, kamera-kamera tidak berhenti memotret Maya dan Masumi.
Gadis itu lantas pergi ke tengah ruangan, naik ke atas panggung dan memutar badannya untuk melemparkan karangan bunga.
Para gadis bersorak saat buket bunga mawar ungu di tangan Maya dilemparkan. “Kyaa~”
Mizuki yang tanggap yang mendapatkannya. Semua menoleh kepadanya dan tampaknya Ia sendiri juga terkejut. Wajahnya tampak merona. Masumi tertawa melihatnya.
Selanjutnya Maya dan Masumi duduk di sebuah tempat yang sudah disediakan, sebuah meja yang dihiasi bunga-bunga mawar ungu di depannya dan sebuah kursi untuk kedua mempelai.
Masumi menuntun Maya duduk di sana, dan selama itu ruangan terdengar riuh dengan tepuk tangan.
Maya tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang. Ia sangat bahagia, itu pasti. Namun masih tidak bisa percaya bahwa Ia dan Masumi sekarang menjadi suami istri. Menjadi pasangan sampai sisa usia mereka nanti.
Para tamu dipersilahkan duduk di meja masing-masing. Meja-meja itu pun dihiasi mawar ungu selain peralatan makan dari keramik mahal dan hiasan-hiasan kristal.
Lalu Rei, sebagai sahabat Maya, mulai bercerita mengenai Maya. Maya yang pertama dikenalnya dulu, yang begitu polos dan sangat mencintai akting. Bagaimana kenangan mereka saat bersama-sama, sampai pada kisah mengenai Maya yang benar-benar membuatnya terkejut saat mengatakan bahwa Ia jatuh cinta kepada Masumi.
“Dulu mereka seperti kucing dan anjing, bahkan mungkin lebih akur kucing dan anjing. Maya selalu marah-marah dan bahkan menyebutnya kecoa,” ungkap Rei.
Para hadirin tertawa, dan wajah Maya merona malu. Masumi tersenyum mendengarnya, “Aku tahu itu,” Ia berbisik kepada istrinya.
Maya kembali tertunduk malu. Tiba-tiba Ia tertegun, “aku masih marah, tahu!” ujarnya.
Masumi mengamati istrinya dan tersenyum simpul.
Setelah Rei, pidato perwakilan dari masing-masing pihak diberikan. Dari pihak Masumi, Eisuke yang bicara. Mengatakan bahwa Ia sangat bahagia hari ini datang juga. Pementasan Bidadari Merah sukses besar, dan akhirnya Bidadari Merah itu menjadi menantunya.
“Aku sangat bersyukur diberi kesempatan hidup sampai hari ini. Melihat anakku Masumi, aku sungguh bangga kepadanya, yang sudah membuat anakku yang lain, yakni Daito, menjadi berkembang pesat lebih dari yang aku impikan. Sekarang, kakek tua ini hanya berharap, perkawinan mereka berdua, juga akan memberikan banyak cucu cucu yang akan meramaikan hari tuaku…” Eisuke tersenyum lembut.
“Yang banyak, katanya…” bisik Masumi, menggoda Maya. “Memangnya kita restoran, bisa disesuaikan dengan pesanan…”
Gadis itu bisa merasakan wajahnya memanas, lantas tertawa kecil mendengar godaan suaminya.
“Nah, kau sudah tertawa lagi…”
“Pak Masumi ahhh…!” Maya mencubit lengan suaminya perlahan.
Sedangkan dari pihak Maya, Kuronuma yang berbicara. Ia mengatakan bagaimana Ia pertama kali mengenal Maya. Bagaimana Ia sudah menganggap Maya seperti putrinya sendiri, dan perubahan yang Ia rasakan setelah Maya bersama Masumi.
“Sebagai seorang wanita, Maya sudah semakin dewasa sekarang. Sebagai seorang aktris, Maya sudah semakin matang, dan profesional dalam bekerja. Dulu, saya mendengar hal-hal yang kurang bagus mengenai Direktur Daito Pak Masumi Hayami ini, namun, jika saya melihat Maya, saya bisa melihat pengaruh positif yang diberikannya. Dan saya jadi berpikir, memang begitulah cinta, jika dua orang yang merupakan belahan jiwa, saat mereka bersama pasti akan membuat satu sama lain menjadi orang yang lebih baik dibandingkan saat mereka sendiri-sendiri. Dan saya bisa melihat hal itu terjadi pada mereka berdua. Saya harap, kisah kasih antara kalian bisa bertahan sampai lama, walaupun jujur saja, untuk masalah perkawinan dan rumah tangga, saya tidak bisa berkata banyak, karena aku pun tidak tahu bagaimana nasib perkawinanku…”
Para hadirin kembali tergelak.
Setelah pidato Kuronuma, sebuah video ditayangkan, video tersebut berisi rangkaian foto kenangan dan video dari Maya dan Masumi. Sejak mereka kecil, hingga sekarang, dan terakhir saat pesta pertunangan.
Maya tidak bisa menahan air matanya, mengingat orang-orang yang ada di dalam foto tersebut dan sekarang sudah tiada. Ibunya, Ibu Mayuko, ada juga Ibu Masumi.
Ibu… aku sudah menikah dengan Pak Masumi sekarang. Apa Ibu melihatku? Ibu juga pasti bahagia seperti aku kan bu…? Maya menyusut air matanya.
Acara dilanjutkan dengan bersulang dan makan malam. Beberapa orang mendatangi Maya dan Masumi untuk bersalaman atau berfoto bersama.
Ada banyak wartawan di sana, namun mereka cukup tahu sopan santun dengan tetap membiarkan acara berlangsung dengan khidmat.
“Terima kasih kau tidak lari tadi,” bisik Masumi, menggenggam erat tangan istrinya.
“Aku hampir saja lari,” ujar Maya. “Kalau aku tidak ingat bahwa terakhir kali aku menghilang aku hampir saja terkena hipotermia…”
Masumi sedikit terenyak mendengarnya. “Sayang…” Ia menggenggam tangan Maya dan menatapnya sendu. Jelas baginya kejadian itu bukan sesuatu untuk dijadikan bahan candaan.
“Silahkan mempelai saatnya berganti pakaian,” kata Mizuki.
Masumi dan Maya beranjak keluar ruang ballroom sebelum saatnya makan malam. Keduanya berganti pakaian dengan pakaian adat.
Maya mengenakan kimono cantik berwarna kemerahan dengan hiasan bunga plum.
“Seperti Bidadari Merah,” komentar beberapa tamu.
Keduanya lantas mengunjungi setiap meja, mengucapkan terima kasih untuk kedatangan dan restunya, juga berfoto bersama. Saat itu Maya juga diperkenalkan Masumi pada pria yang tadi bersama Rei. Dia adalah Jin Kaname, sahabat Masumi di sekolah dulu.
“Tidak kukira kau menikah juga!!” Jin terbahak. “Padahal dulu saking sibuk dan gila kerjanya, kau lebih sering melirik jam tangan daripada wanita,” goda Jin.
Masumi tertawa mendengarnya, demikian juga Maya.
“Selamat, Masumi, kudoakan kau dan istrimu yang cantik ini selalu bahagia.”
“Terima kasih Jin. Kuharap kau juga segera menyusulku. Kau masih bersama Cecilia? Kenapa tidak cepat-cepat menikah?” tanya Masumi pada sahabatnya yang sekarang berprofesi sebagai seorang bankir di Hong Kong.
“Kami masih menunggu kakak perempuan Cecilia menikah terlebih dahulu,” terang Jin. “Nanti kutunggu kedatangan kalian di Hong Kong.”
Setelah menghampiri tamu yang berjumlah sekitar 250 orang yang terbagi pada 30 meja, Maya dan Masumi kembali berganti pakaian, kali ini bak putri dan pangeran. Lantas keduanya juga berdansa untuk pertama kalinya sebagai suami istri, disusul oleh pasangan-pasangan lain.
Di tengah acara hiburan keduanya kembali berganti pakaian untuk terakhir kalinya. Maya kembali mengenakan sebuah gaun berwarna putih dan Masumi mengenakan tuxedo hitam.
Setelah acara selesai seluruhnya, Masumi dipersilahkan untuk memberikan pidato penutupan acara dan ucapan terima kasih atas kehadiran semua orang. Keduanya bersama Eisuke dan Kuronuma lantas menunggu di tempat keluarnya para undangan malam itu dan sekali lagi menerima ucapan selamat atas pernikahan mereka.
Setelah semua orang berlalu, Kuronuma lantas berpamitan seraya dengan haru mendokan keduanya. Eisuke pun meraih tangan Maya dan menggenggamnya, mengatakan Ia sangat bahagia bisa memiliki Maya sebagai menantunya. Maya memeluk Eisuke dengan haru sebelum mertuanya tersebut diantarkan pulang.
Maya dan Masumi sendiri segera mengendarai mobil yang sudah disediakan bagi mereka.
Masumi mengamati istrinya yang tampak sangat lelah. Ia lantas menggenggam tangannya dengan lembut. Gadis itu menoleh dan tersenyum. Walaupun tampak lelah, wajahnya terlihat berbinar.
“Aku belum meminta maaf karena merahasiakan ini semua darimu dan membuatmu terkejut,” Masumi berujar.
Maya menyandarkan kepalanya di dada Masumi. “Iya, pokoknya aku menunggu kompensasi darimu untuk semua yang sudah kau lakukan!” Maya pura-pura merengut.
Masumi mengusap lengan gadis itu. “Aku akan membalasnya dengan mencintaimu seumur hidupku,” janji Masumi.
“Pak Masumi…” gadis itu tersentuh.
“Sayang, bukankah ini waktunya kau berhenti memanggilku Pak Masumi? Dan sekarang pun kau sudah menjadi Nyonya Hayami,” ujar Masumi.
Maya termangu sebentar. “Maya Hayami…” Ia bergumam, lantas terkikik kecil. Malu.
“Apanya yang lucu?” tanya Masumi.
“Tidak…” Maya menggeleng. “Hanya tidak mengira benar-benar bisa menjadi istrimu. Menjadi Maya Hayami…” mengucapkannya dengan keras membuatnya semakin tersadar bahwa Ia benar-benar sudah menjadi pasangan Masumi, untuk seumur hidupnya. Tiba-tiba Ia tersadar. “Sayang, kita mau kemana?” tanyanya, melihat mobil yang tidak mengarah ke apartemennya maupun ke kediaman Hayami. “Bukankah rumahmu ke sebelah sana?”
Masumi hanya memandangi Maya dan tersenyum. Mereka berada di kawasan kediaman Hayami, hanya saja tidak mengarah ke rumah Eisuke, melainkan menuju tempat yang berbeda.
Maya bisa melihat sebuah rumah yang cukup besar, dengan pagar setinggi lebih dari 4 meter menjulang menyambut mereka.
Maya termangu, lantas kembali menatap Masumi bingung saat mobil mereka masuk ke dalamnya dan Maya sama sekali tidak mengenali rumah itu. “Sayang…” desahnya.
Senyuman Masumi melebar. “Kau tidak mengenalinya? Rumah siapa ini?” tanya Masumi.
Maya tertegun, kembali mengamati rumah itu dari dalam mobil.
 “Ah!” Maya terenyak melihat taman mawar ungu di samping. Ia juga melihat air mancur yang cukup besar dengan patung cupid di tengahnya. Lampunya berwarna warni merah biru ungu dengan anggun. Ia pun melihat ayunan di sana. Mata gadis itu membulat, kembali mengalihkan pandangannya kepada Masumi. “Ini…”
“Rumah kita,” pria itu tersenyum.
“Rumah kita…?”
“Iya. Rumahmu dan aku.”
“Rumah… kita…” mata gadis itu berkaca-kaca. “Benarkah…”
Mobil mereka berhenti di depan rumah. Masumi turun dan membukakan pintu mobil bagi Maya. “Silahkan, Nyonya Hayami…”
Maya tersenyum dengan wajah berseri-seri. Mobil pun berlalu meninggalkan mereka. Masumi menuntun Maya masuk ke dalam rumah.
Di sana sudah ada seorang kepala pelayan dan empat orang pelayan lain.
“Selamat malam, Tuan, Nyonya,” sapa seorang kepala pelayan. “Perkenalkan, saya Miyake Teppei, kepala pelayan di sini.” Ia lantas memperkenalkan keempat pelayan dan koki yang bersamanya. “Ini adalah Hanazawa Mai, Ini Sakura Takako, Haru Izumi, dan Yamada Yoshiko.” Yang diperkenalkan membungkuk satu per satu. “Silahkan, kamar Anda sudah dipersiapkan.”
“Semua barang-barang sudah disimpan di tempatnya?” tanya Masumi.
“Sudah Tuan,” jawab Miyake.
“Kalau begitu tidak usah diantar,” ujar Masumi.
Ia lantas membawa Maya menaiki tangga lebar memutar di rumah tersebut. Karpetnya berwarna merah dengan pinggiran berwarna emas. Mengantar kedua pengantin baru tersebut ke lantai dua, lantai tempat sebuah kamar tidur utama berada.
Masumi tersenyum kepada Maya, membuka pintu kamar tersebut. “Masuklah…” ajaknya. Tiba-tiba dia teringat. “Oh, tunggu sebentar.” Masumi melipat lututnya dan mengangkat tubuh mungil istrinya. “Bukankah biasanya begini yang dilakukan suami istri?”
Maya tertawa kecil. “Kalau di film-film begitu…” katanya.
Masumi membawa masuk istrinya ke dalam kamar mereka. Kamar itu luas dengan tempat tidur double yang dihias cantik dengan kelambu-kelambu marun serasi dengan tirai-tirai yang menghias dan bertaburkan kelopak mawar merah. Terdapat televisi, meja, hiasan-hiasan antik yang cantik. Meja rias dan meja kerja, sofa santai yang tampak sangat nyaman.
Masumi mendudukkan Maya di atas sofa tersebut. “Selamat datang,” sambutnya. “Istriku,” dan Ia mengecup bibirnya.
Maya tersenyum lebar, dengan mata berkaca-kaca lantas mulai menangis tergugu.
Masumi sangat terkejut melihatnya. “A, ada apa, Sayang?” tanyanya, seraya duduk di sampingnya dan menggenggam tangan Maya. “Kau kenapa?”
Sang istri menggelengkan kepalanya cepat.
“Ada apa?” desak Masumi. “Apa kau mulai merasa menyesal sudah menikah?”
Maya tertegun dan tertawa kecil di tengah tangisannya. “Bukan…” katanya manja. “Hanya saja… aku… baru benar-benar merasa bahwa sekarang aku istrinya Pak Masumi… mmh… istrimu. Punya rumah sendiri, rumah kita,” Ia mengedarkan pandangannya. “Kamar kita…” Air matanya mengalir lagi. “Ra, rasanya tidak percaya, hari ini datang juga. Aku benar-benar menjadi istrimu,” Ia memeluk suaminya.”Aku sangat bahagia… sampai-sampai tidak tahan untuk tidak menangis…” dan tangisan gadis itu semakin keras.
Masumi balas memeluknya, mengusap-usap punggung gadis itu. “Syukurlah,” ia menghea nafas. “Kupikir kau mulai menyadari kesalahanmu menikah denganku.”
Maya kembali terdengar tertawa sementara wajahnya terbenam di dada Masumi. Ia lantas menengadah. “Mustahil aku merasa menyesal. Ini hari paling membahagiakan dalam hidupku,” Ia tersenyum, membuat wajah suaminya berseri-seri dengan ucapannya.
“Kau pasti lelah,” bisik Masumi. “Cepatlah bersihkan dirimu, aku mau memeriksa beberapa hal terlebih dahulu.”
Maya mengangguk. Ia memisahkan diri dari Masumi dan mulai beranjak, namun Masumi menahan tangannya. Gadis itu kembali berbalik. “Ada apa?”
“Apa kau tidak ingin kubantu membuka resleting?” tanyanya, tersenyum menggoda.
Gadis itu tersenyum malu-malu. Ia mengangguk dan kembali duduk di atas sofa, membelakangi Masumi.
Masumi menatap punggung mungil istrinya yang terungkap sedikit dari lehernya. “Tadi saat kau berjalan menyusuri karpet,” Masumi berkata lembut. “Kau cantik sekali, aku sampai menahan nafasku. Sebelumnya aku melihatmu sebagai Bidadari Merah di panggung dan itu sungguh membuatku terpesona. Tapi saat kau berjalan mendekat kepadaku, aku lebih dari terpesona,” bisik Masumi, seraya menurunkan resleting gaun Maya. “Di kepalaku ada yang bicara, Masumi, bidadari itu adalah calon istrimu. Dia akan menjadi milikmu, bersamamu seumur hidup, dan hatiku berdebar-debar sangat bahagia karena memikirkannya. Aku takut sekali kalau aku sedang bermimpi, dan aku sangat bersyukur ternyata semua ini nyata,” Ia mengecup bahu gadis itu, merasakan Maya melonjak kecil karena perbuatannya. Masumi tersenyum tipis karenanya.
Pria itu menciumi tulang leher istrinya, menyusurinya hingga ke pangkal rahang, mendekati dagu, pipinya yang lembut. Maya menoleh kepadanya, menatap lembut Masumi dengan malu-malu. Si suami meraih bibir istrinya, menciptakan beberapa ciuman penuh cinta di antara keduanya. Tangan kanan Masumi mengusap pinggang horisontal menuju perut Maya dan membuat gadis itu merasa kejang.
 “Sudah, Sayang,” bisik Masumi. “Cepat bersihkan dirimu.”
Maya mengangguk cepat, dan tanpa banyak kata beranjak dari sana menuju kamar mandi sementara Masumi mengamatinya penuh.
Masumi mengamati sekeliling kamar itu, sebelum kemudian memeriksa berbagai hal di rumah baru mereka. Ia juga memberikan beberapa instruksi kepada para pelayan. Saat Ia kembali ke kamar, Maya sudah selesai mandi. Gadis itu tengah memandangi sebuah lukisan dua buah ikan koi di sebuah kolam.
“Sudah selesai mandinya?” tanya Masumi.
Maya menoleh dan mengangguk.
“Sayang, aku mau membersihkan diri dulu. Nanti ada yang ingin kubicarakan. Sementara itu kau bisa berkeliling atau kalau kau sudah lelah, kau tidur saja, besok baru kita bicara.”
Maya menggeleng. “Aku belum mengantuk,” ujarnya. “Aku akan menunggumu.”
Saat Masumi beranjak ke kamar mandi, Maya beranjak ke balkon. Dari sana Ia bisa melihat bagian samping rumah mereka yang dipenuhi mawar ungu. Ia juga bisa melihat sebuah rumah kaca dari kejauhan. Maya tersenyum, teringat saat dulu Masumi mengatakan ingin mempunyai rumah kaca.
Maya mulai membayangkan hari-hari menyenangkan yang akan dijalaninya di rumah ini nanti. Ia bisa menghapal naskah di gazebo atau di atas ayunan. Atau menikmati keindahan air mancur di sebuah kursi di taman bersama Masumi. Dan jika nanti mereka mempunyai keturunan, anak-anak mereka akan berlarian di taman, sementara Masumi membaca sebuah buku di bawah pohon dan Maya tiduran di pahanya sambil mengawasi anak-anak mereka di hari libur.
Gadis itu tersenyum membayangkannya. Refleksi di dalam kepalanya sudah membuat gadis itu merasa bahagia. Ia lantas kembali masuk ke dalam, membuka lemari pakaian. Ia berpikir menyiapkan piyama suaminya.
Dalam lemari tersebut ada banyak pakaian milik Maya yang bahkan belum pernah dilihatnya sebelumnya. Sepertinya Masumi meminta seseorang membelikan pakaian-pakaian untuknya.
Maya membawa piyama Masumi ke tempat tidur dan meletakannya di sana. Ia mengamati bed cover cantik yang membungkus tempat tidur tersebut. Ia mengamati tempat tidur tersebut, tiba-tiba sesuatu menyadarkan Maya. Tubuhnya sedikit menegang dan jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Tempat tidur dengan taburan kelopak mawar ungu itu, adalah tempat tidur untuknya dan Masumi. Sebagai suami istri.
Suami… Istri… wajah gadis itu memanas.
“Melamun, Sayang?” tanya Masumi.
Maya terperanjat dengan jelas. Ia berbalik, menemukan Masumi yang baru selesai mandi hanya mengenakan mantel mandi yang memperlihatkan sebagian besar tubuh atasnya. Ia tampak sangat segar. Tersenyum pada Maya dan membuat gadis itu mematung sepenuhnya.
Masumi menghampiri, “Kau habis dari luar?” tanyanya, seraya mengalihkan pandangannya ke arah pintu balkon yang terbuka.
“I, iya,” Maya menundukkan wajahnya menghindari tatapan Masumi. Jantungnya spontan berdebar sangat keras, lantas terburu-buru berjalan ke arah pintu balkon dan menutupnya dengan kaku. “Brak!!” pintu itu dibanting dan bersuara sangat keras.
Keduanya terkejut. Masumi mengamati Maya yang masih saja membelakanginya. “Sayang, kau tidak apa-apa?” tanya Masumi.
Maya menggeleng cepat. “Ti, tidak! Tidak apa-apa!! Eh, itu, anu, Pak Masumi, piyamanya, sudah aku siapkan.” Maya beringsut ke area duduk kamar tersebut.
“Terima kasih,” kata Masumi, meraih piyama di atas tempat tidur dan mulai berpakaian sambil mengamati Maya yang bertingkah aneh. Apakah aku berbuat salah? Pikir Masumi.
Saat Masumi menghampiri, Maya sedang mengamati vas bunga-bunga yang memenuhi kamar mereka. Ia merangkulnya dari belakang. “Ada sesuatu?” tanyanya.
Bahu gadis itu melonjak, dan menggeleng cepat.
“Tidak ada yang kau pikirkan?” tanya Masumi.
“Ada,” Maya menghindari Masumi dan mendekatkan diri pada sebuah tirai. “I, ini… tirainya bagus sekali. Pak Masumi beli sendiri?” tanya Maya.
Masumi tertegun. “Tidak, interior desainernya yang memilih dan membelikannya setelah aku setuju,” kata Masumi.
“O, oh,” Maya tertawa canggung. “Kalau patung ini? Sama vas yang ini?” tanya Maya.
“Sama. Itu juga interior desainernya yang memilihkan,” Masumi duduk di sofa, mengamati istrinya.
“O, oh… wallpapernya juga?”
“Betul.”
“Oh… bagus ya…”
“Baguslah kalau kau menyukainya,” ujar Masumi. “Apa kau mau berkenalan dengan desainernya, Maya?” tanya Masumi.
“Tidak perlu,” Maya menggeleng cepat.
“Sayang, bisa mendekat padaku? Aku mau—“
“Eh, lemarinya juga bagus! Dan sangat besar. Baru kali ini aku melihat lemari pakaian sebesar ini.”
“Ada yang lebih besar di ruang pakaian,” terang Masumi.
“Kita punya ruang pakaian!?” Maya menatap Masumi takjub.
“Ada, di sebelah sana dekat kamar mandi tadi. Kau tidak melihatnya?”
“Ti, tidak.”
“Mau melihatnya?” tawar Masumi, berdiri menghampiri Maya.
Sekali lagi gadis itu menghindar. Maya kembali membuka pintu balkon. “Eh Pak Masumi, sudah lihat kebunnya? Bagus sekali… Aku suka gazebo dan lampu-lampunya juga sangat indah.”
“Tentu sudah,” Masumi berujar, seraya menyandarkan dirinya di pintu, mengamati istrinya yang tidak henti-hentinya meracau. “Maya, ada yang lebih memerlukan perhatianmu sekarang,” katanya. “Aku. Di sini,” Ia berkata pelan.
Maya tertegun dan tidak bersuara lagi. Ia tahu suaminya sedang mendekatinya.
“Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Masumi, mengurung tubuh mungil Maya dengan tangannya. “Aku merasa kau menghindariku.”
“Ti, tidak, Pak Masumi…” Maya menggeleng pelan.
“Kau masih memanggilku Pak?” tangan Masumi bergerak semakin ketat.
“Ma, maaf…”
Masumi membalikkan tubuh Maya menghadap kepadanya. “Ada apa?” tanyanya lembut, mengangkat dagu gadis itu.
Maya menatap canggung pada Masumi. “A, aku… a, aku… juga tidak tahu kenapa aku ja, jadi…” Ia terlihat sangat gugup.
“Kau tidak marah kepadaku?”
Maya menggeleng, dan Masumi sangat lega. Ia sepertinya mengerti apa yang terjadi. Istrinya itu merasa gugup dan canggung berduaan bersama Masumi sebagai suami istri untuk pertama kalinya.
“Ayo masuk, di sini dingin,” ajak Masumi. “Dan ada sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu.”
“Sesuatu?” tanya Maya.
Masumi tersenyum dan mengangguk. Ia merangkul istrinya masuk ke dalam kamar mereka.
“Tunggu sebentar,” kata Masumi seraya mengambil sesuatu dari dalam bufet, sementara Maya menunggu di sisi tempat tidur.
Masumi menghampiri Maya, memberikan sebuah amplop kepadanya. “Bukalah.”
Apa ini…? Pikir Maya. Uang belanja? Ia berpikir bingung. Maya sering mendengar suami suka memberikan uang belanja kepada istrinya.
Namun bukan itu yang didapatinya dari dalam amplop tersebut. Ada dua buah tiket ke Paris, Perancis. “I, ini…?” Maya menatap Masumi tidak percaya.
“Itu adalah tiket ke Paris, untuk perjalanan bulan madu kita,” terang Masumi.
“Bulan madu?”
“Iya,” Masumi tersenyum lebar. “Aku bingung kemana mau mengajakmu berbulan madu. Lalu kupikir, kau pasti merindukan teman-temanmu di Perancis, dan aku juga ingin tahu tempat-tempat yang pernah kau kunjungi di sana,” Masumi tersenyum. “Bagaimana?”
“Sayang….” Maya berkaca-kaca, lantas memeluk suaminya. “Aku senang sekali! Aku tidak sabar… kapan kita berangkat?”
“Tiga hari lagi. Besok dan lusa aku masih bekerja membereskan beberapa hal sebelum cuti,” katanya. “Kau belum menerima pekerjaan apa pun lagi kan setelah Bidadari Merah?”
Maya menggelengkan kepalanya. “Kak Sawajiri belum menerima tawaran apa pun. Ia bilang nanti aku yang memutuskan.”
Masumi kembali memeluk istrinya. “Jadi kau bisa meluangkan waktumu untuk mengelilingi Perancis selama 10 hari denganku?” tanya Masumi.
Maya mengangguk dan tersenyum bahagia.
Masumi lantas mencium istrinya. Menciuminya dengan penuh cinta dan kehangatan. Maya membalasnya dengan cara yang sama.
“Kau kenapa?” tanya Masumi lembut setelah keduanya berhenti berciuman. “Apakah ada yang merisaukanmu?”
“Tidak ada kok…” Maya menunduk dengan wajah menghangat.
“Terus kenapa dari tadi terus menghindariku?” Masumi mengusap wajah Maya. “Kukira aku sudah membuat kesalahan…”
Maya menggeleng. “Tidak… Aku hanya menyadari, aku benar-benar sudah jadi istrimu, dan mulai hari ini kita hidup bersama, tinggal bersama, ti, tidur bersama, dan… dan… akan terus begitu selamanya, tidak hanya hari ini. Memikirkannya aku jadi gugup… Aku tidak sadar sebelumnya fungsiku sebagai seorang istri. Apa… aku bisa mengurusmu dan rumah tangga kita nanti? Apa aku bisa membahagiakanmu, menjadi istri sesuai harapanmu?” gadis itu menunduk. “Aku takut kau kecewa kepadaku…”
Masumi tersenyum mendengarnya. “Hmm… kalau-kalau kau lupa, Sayang. Ini juga pertama kalinya aku menikah,” Ia berujar. “Jadi aku pun tidak punya banyak tips mengenai bagaimana caranya menjadi istri atau suami yang baik,” Ia mengusap pundak Maya. “Tapi yang pasti, aku sangat mencintaimu. Bisa bersama denganmu lebih lama dari biasanya saja, sudah membuatku bahagia. Kau juga kan?”
Maya mengangguk.
“Membayangkan bisa melihatmu setiap hari, menghabiskan waktu bersama denganmu, berjalan-jalan dan belanja bersama, berbagi segala hal denganmu, untuk saat ini, itu saja sudah cukup untukku. Dan selama itu, kita akan sama-sama saling belajar bagaimana menjadi suami istri yang baik. Lalu mungkin nanti, kita akan punya anak-anak, dan sekali lagi kita akan belajar bersama-sama bagaimana menjadi orang tua yang baik untuk mereka. Pasti tidak akan mudah, tapi yang paling penting, kita akan melakukannya bersama-sama,” Masumi meremas tangan Istrinya. “Bukankah begitu? Mengingat kau dan aku sekarang sudah bukan dua orang lagi, melainkan satu pasangan selamanya, untuk saat ini, bukankah itu saja sudah cukup?”
Maya menteskan air matanya mendengar ucapan Masumi.
“Aku yakin kau akan menjadi istri yang baik bagiku, Maya. Karena kau adalah wanita pilihan hatiku,” Masumi berkata seraya menghapus air mata Maya. Ia kembali mengecup pelan bibir istrinya. “Aku tahu kau sudah lelah,” kata Masumi, meraih tiket bulan madu mereka dan meletakannya ke dalam laci di samping tempat tidurnya. “Ayo kita tidur,” ajaknya seraya tersenyum.
Maya mengangguk, naik ke tempat tidurnya. Ia mengusap selimutnya yang bertaburan kelopak mawar. “Cantik sekali…” ujarnya, saat Masumi mematikan lampu kamar.
“Mau digelapkan atau dengan lampu tidur?” tanya Masumi.
“Pakai lampu tidur saja,” pinta Maya. Gadis itu lantas membenamkan dirinya ke dalam selimut saat suaminya naik ke atas tempat tidur.
Masumi menghampiri Maya dan memeluknya. “Bagaimana perasaanmu?”
“Aku bahagia,” bisik Maya.
“Maksudku, tempat tidurnya. Nyaman?”
Maya tergelak kecil, lantas mengangguk.
Beberapa lama tidak ada suara dari keduanya, sampai kemudian Maya bertanya. “Aku harus memanggilmu apa?”
Masumi membuka matanya. “Kau bisa memanggilku dengan namaku,” kata Masumi. “Atau Danna (suami/tuan besar/kepala rumah tangga), walaupun belum saatnya memanggilku otou-san (ayah/bapak), mungkin nanti kau akan memanggilku begitu,” ujar Masumi.
Maya kembali tertawa kecil mendengarnya. “Kau tidak mau dipanggil papa?” tanyanya lagi.
Masumi tertegun. “Sa, sayang… bukankah terlalu cepat kita membicarakan hal ini?” Ia bisa merasakan wajahnya memerah, untunglah cahaya lampu yang temaram dapat menyembunyikannya.
“Iya… tadi aku memikirkan, kalau nanti kita punya anak-anak, lalu kita berpiknik di kebun belakang. Mereka berlarian, sedangkan kau membaca buku dan aku merebahkan diriku, mungkin sambil membaca naskah atau hanya mengamati mereka bermain. Lalu aku jadi berpikir, kira-kira mereka akan memanggil kita dengan sebutan apa…” Maya tersenyum hangat, tampak menerawang dengan wajah berbinar-binar.
Maya… Masumi mengamati istrinya. Mendengar Ia bercerita membuat Masumi semakin merasa mencintainya. Gadis ini tidak pernah menuntut banyak hal darinya. Ia hanya menginginkan apa yang juga diinginkannya. Sebuah kehangatan keluarga.
Masumi mendekatkan wajahnya kepada Maya, mencoba memandangi mata kekasihnya yang disembunyikan temaramnya malam. Ia mengusap wajahnya, lantas mengecup bibirnya. Menciuminya semakin lama semakin dalam. Sesekali Maya yang menutup matanya, membalasnya, namun gadis itu lebih banyak membiarkan Masumi berbuat sesukanya. Setelah beberapa saat, Masumi lantas berhenti dan hanya mengusapi lengan istrinya.
“Ada apa?” tanya Maya berbisik pada Masumi yang tengah menatapnya. Nafasnya yang hangat menyentuh bibir Masumi.
“Kau pasti sudah lelah,” Masumi membelai lembut pipi Maya dengan punggung jemarinya. “Cepatlah tidur.”
“A, aku tidak apa-apa…” kembali Ia berbisik, mengelak. “Ka, kalau kau…” Maya menggenggam erat bagian depan piyama suaminya dengan wajah merah padam.
Masumi tersenyum simpul. “Terima kasih,” gumamnya. “Tapi tidak hanya malam ini. Besok, lusa dan sampai kapanpun kau masih istriku dan aku suamimu,” katanya. “Tidak perlu terburu-buru.”
“Masumi…” Maya menyurukkan wajahnya di dada suaminya, membuat pria itu merasakan getaran yang lebih kuat lagi. “Aku sangat mencintaimu, Danna-sama.
“Aku juga. Cepatlah tidur, Sayang…” pintanya.
Hanya beberapa saat kemudian, Maya sudah tenggelam dalam mimpinya.
=//=
Maya menggeliat kecil, menarik selimutnya lebih banyak seraya memicingkan mata, mencoba membukanya. Kamar itu sudah terang lagi.
Maya berusaha mengumpulkan ingatannya akan hari kemarin. Dia ingat, sekarang Ia berada di rumahnya, di kamarnya, bersama suaminya.
“Eh?” tapi Masumi sudah tidak ada di sampingnya. Maya segera memutar pandangannya mengitari kamar, suaminya itu tidak ada.
Ia melihat jam di samping tempat tidurnya, sudah hampir jam 10 AM. Mata gadis itu melebar. Jam 10!!
Ia segera turun dari tempat tidurnya, meraih mantel kamarnya dan keluar dari sana.
“Selamat siang, Nyonya,” sapa Yoshiko yang melihatnya keluar kamar.
Maya tertegun sebentar sebelum menyadari dia yang sekarang dipanggil Nyonya. “Ma, mana suamiku, Yoshiko?” tanyanya.
“Tuan sudah pergi bekerja tadi pagi,” terangnya. “Nyonya mau makan—“
“Kenapa aku tidak dibangunkan?” tanya Maya, tampak kecewa.
“Maaf Nyonya, Tuan Hayami mengingatkan kami untuk tidak mengganggu tidur Anda.”
Maya menghela nafasnya, merasa kecewa kepada dirinya sendiri. “Terima kasih. Tolong siapkan makanan ringan saja. Kurasa aku akan keluar nanti,” gadis itu tersenyum. “Mungkin makan siang dengan Pak Masumi,” katanya.
Maya berpikir untuk ke Daito dan mungkin bisa makan siang bersama.
Ia sudah cukup kecewa kepada dirinya. Semalam Maya memang merasa sangat lelah, setelah dua kali pementasan Bidadari Merah di hari terakhirnya, lalu resepsi pernikahan yang memakan waktu lebih dari tiga jam, gadis itu sungguh kelelahan.
Tapi setelah melewatkan malam pertamanya dengan Masumi, Maya pikir setidaknya Ia bisa sarapan bersama untuk pertama kali dengan suaminya, menyiapkan pakaiannya dan mengantarnya ke pintu untuk bekerja. Namun yang terjadi Ia malah terlelap hingga siang.
“Bodoh…!” rutuknya pada diri sendiri.
Maya meraih handphonenya, menghubungi Mizuki untuk mengetahui jadwal Masumi.
“Selamat siang, Daito.”
“Selamat siang Nona Mizuki, ini aku, Maya.”
“Oh, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?”
Maya tertegun. Mizuki bicara sangat sopan kepadanya dan memanggilnya Nyonya. “I, iya. Apa Pak Masumi ada di sana?”
“Pak Masumi sedang ada pertemuan di hotel Continental sampai jam 3 nanti.”
Maya menghembuskan nafasnya kecewa. “Nona Mizuki tidak sedang bersamanya?”
“Tidak, Nyonya. Saya sedang menangani masalah lain,” terangnya.
“Baiklah, terima kasih…” Maya menutup teleponnya.
Ia lantas membaca beberapa pesan, ada dari Sawajiri dan juga Ayumi. Ia mengajak bertemu karena Ayumi akan kembali ke Perancis bersama Hamill nanti malam. Maya memutuskan menghubungi Ayumi.
“Ayumi,” sapa Maya. “Aku sudah membaca pesanmu. Kurasa aku bisa bertemu denganmu.”
“Jangan memaksakan. Apa aku tidak mengganggumu dan Pak Masumi?”
“Tidak,” Maya mendesah. “Pak Masumi di Daito, dan tidak ada yang akan kulakukan untuk siang ini,” terang Maya.
Akhirnya keduanya mengadakan janji temu untuk makan siang dan berjalan-jalan.
Maya mengisi perutnya dengan makanan ringan seraya menonton televisi. Di luar dugaannya, pernikahannya dan Masumi semalam ternyata jadi berita dimana-mana.
Kemudian Maya membersihkan dirinya dan berdandan untuk pergi keluar. Ia memilih-milih diantara pakaian yang ada di lemari. Semuanya tampak bagus dan modis. Maya berpikir siapa yang memilihkannya? Apa Masumi meminta seseorang membelinya? Mungkin Sawajiri?
Maya akhirnya memilih sebuah dress hijau lumut di atas lutut dengan lengan tiga perempat dengan garis pinggang di bawah dada untuk siang itu. Maya mengamati dirinya sebentar di cermin, berharap Ia tidak akan mempermalukan Masumi saat orang-orang melihatnya.
=//=
Tengah malam barulah mobil Masumi kembali memasuki area rumahnya. Ia turun dan segera masuk ke dalam. Maya tidak ada di ruang keluarga, Masumi segera naik ke atas, ke kamarnya.
Masumi membuka pintu kamarnya, menemukan Maya yang tengah membaca sebuah majalah di sofa.
“Aku pulang,” salam Masumi saat memasuki kamarnya.
Maya yang sedang menahan kantuk segera mengangkat matanya dari majalah yang ada di tangannya. Ia tersenyum lebar. “Selamat datang,” sambutnya.
Masumi tersenyum. “Maaf aku tidak bisa pulang sebelum makan malam,” sesalnya.
“Tidak apa-apa,” Maya menghampirinya, meraih tas kerja Masumi dan meletakannya di atas meja.
Masumi memandangi istrinya yang tampak bersemangat malam ini. Ia masih ingat tadi bagaimana Maya terdengar kecewa saat Ia katakan akan pulang larut malam.
Maya kembali menghampiri Masumi, membantunya melepas jas.
“Sini kubukakan,” katanya, tersenyum manis.
Masumi balas tersenyum. “Kenapa kau belum tidur, Sayang?” tanyanya pada Maya yang tengah menyampirkan jasnya di sebuah kaitan jas.
“Aku sengaja menunggumu. Aku tadi tidak mengantarmu pergi kerja, jadi aku sudah bertekad akan menyambutmu pulang kerja. Habis sepertinya… aku belum melakukan apa pun sebagai istrimu,” kata Maya polos.
Masumi menghampiri Maya dan mengecup bibirnya. “Terima kasih. Aku mau mandi dulu sebentar,” kata Masumi.
Maya lantas menuju meja rias, bercermin, menyisir rambut hitamnya dan memakai lipgloss tipis. Ia juga menyemprotkan parfum ke leher dan tubuhnya sedikit. Mengingat apa yang Ayumi sarankan padanya tadi siang.
Tidak berapa lama Masumi keluar dari kamar mandi, istrinya itu sedang menyiapkan piyama untuknya. Masumi menghampirinya. Memeluknya.
Maya sedikit terperanjat. “Sayang, sudah selesai?” tanya Maya, masih dengan terkejut mengingat Masumi rasanya cepat sekali menyelesaikan mandinya.
“Sudah,” gumamnya, mengecupi ubun-ubun istrinya.
“I, ini, piyamamu, sudah aku…”
Pelukan Masumi semakin ketat di pinggang Maya. Gadis itu bisa merasakan kelembaban lengan dan tubuh suaminya.
“Kurasa aku belum membutuhkannya sekarang, Istriku,” bisik Masumi, membungkukkan tubuhnya dan mengecupi Maya lebih jauh. Pipinya, telinganya, lehernya, lalu bibirnya.
Masumi melepaskan ikat pinggang mantel kamar Maya yang selanjutnya jatuh terpuruk di kaki istrinya itu, mengungkapkan gaun tidur sutra tipis berwarna pink yang ada di baliknya. Pria itu memutar tubuh istrinya, menciuminya lagi tanpa henti dengan penuh cinta sementara telapak dan jemarinya menyusuri lekukan tubuh istrinya yang hanya dipisahkan kain tipis tersebut, saling menggoda saraf permukaan kulit satu sama lain.
“Danna sama…” desah Maya, saat Masumi terus memeluknya semakin ketat, mendesak tubuh mereka semakin tanpa jarak.
Pria itu menuntun lengan istrinya meraih tali pinggang mantel mandinya. Maya mengerti, menariknya perlahan hingga lepas. Dengan kedua tangan mungilnya Maya berusaha membebaskan tubuh gagah Masumi dari mantel tersebut.
Ia lantas terpana dengan begitu nyata. Gadis itu bergeming, tak ingat nafas juga kedipan mata. Saat tersadar suaminya itu sudah kembali memeluknya, membelainya, dan membuat tulang tubuhnya terasa luruh tidak berdaya.
Masumi mengangkat Maya, menjatuhkannya di atas tempat tidur mereka yang nyaman lantas menyusulnya. Hanya sejenak Ia mengamati Maya yang terbaring di bawahnya, sebelum menurunkan raganya untuk menciumi istrinya itu, menyampaikan dengan sempurna rasa terpendam dalam dirinya yang begitu dahaga akan seorang Maya selama ini. Dan membuat istrinya menginginkan apa yang diinginkannya.
Masumi bisa merasakan Maya sedikit gemetar. “Apa kau takut?” bisik Masumi perlahan.
Maya menggeleng, berusaha tetap sadar dengan degupan jantung di atas normal, denyutan keras di kepalanya dan ketegangan yang begitu kuat pada tubuhnya. “Aku tidak apa-apa,” ia balas berbisik. “Aku baik-baik saja jika bersamamu, Danna-sama…” Ia berusaha menenangkan dirinya. Gadis itu menatap suaminya penuh cinta, mengamati wajahnya, dan bibirnya yang lembab. Mengharapkannya.
Masumi meraih remote di atas nakas di samping tempat tidurnya, dan mematikan lampu sebelum kembali pada istrinya dan menyisihkan gaun tidur itu ke lantai. Menikmati senti demi senti persentuhan kulitnya dan kulit belahan jiwanya. Merasakannya menghangat, meremang, mendamba.
Mencintainya dan begitu menginginkannya.
“Aku tidak akan menyakitimu, Kekasihku,” janji Masumi. Dan Maya mengangguk mempercayainya.
Seperti Masumi yang selalu menepati janjinya, malam ini pun Ia tidak melanggarnya. Pria itu membuat Maya hanya bisa merasakan kebahagiaan. Menyeretnya ke tengah pusaran arus asmara sepasang belahan jiwa. Membuat gadis terkasihnya merasa begitu beruntung bisa dicintai dan dimiliki oleh seorang Masumi Hayami.
Saat ini, dan selamanya.
=//=


Masumi memeluk istrinya erat dengan hangat. Keduanya berpandangan dengan rona malu sekaligus bahagia menghias wajah mereka. Masumi tersenyum kepada Maya, memeluknya lebih erat dan kemudian mengecup keningnya.
Pria itu masih mengenang kebahagiaan yang baru saja dirasakannya. Perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Penantian panjang akan cintanya kepada Maya terbayar sudah. Semua derita dan perasaan terluka sudah menghilang tak tersisa.
“Maya,” panggilnya lembut.
“Ada apa?” tanya Maya yang masih nampak kemalu-maluan jika memandang suaminya.
“Ada yang aku pikirkan, dan kurasa kita harus membicarakannya.”
Wajah Maya berubah serius. “Ada apa?” tanyanya.
“Aku tahu aku sudah cukup egois dengan tiba-tiba saja mengadakan pernikahan tanpa membicarakannya denganmu terlebih dahulu—“
“Tidak, Sayang, tidak—“
“Ya, aku tahu. Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan Sayang. Saat ini kau sedang berada di puncak karirmu, kau pasti menyadari dengan banyaknya tawaran yang datang kepadamu kan? Sawajiri pun mengatakan masih banyak pihak yang menghubunginya untuk memakaimu di acara atau sandiwara mereka, juga untuk iklan dan promosi lainnya.”
“Iya, tadi siang Kak Sawajiri mengatakan hal yang sama kepadaku. Kukatakan aku harus membicarakannya denganmu dulu apa yang sebaiknya kuambil nanti,” terang Maya.
“Itulah yang harus kita bicarakan Maya. Apa kau ingin menunda kehamilan?”
“Ke, kehamilan?” Maya mulai mengerti kemana maksud pembicaraan suaminya.
“Benar. Walaupun kita menikah sekarang, aku tidak ingin pernikahan ini menghalangi karirmu. Aku tahu bagaimana perjuanganmu untuk sampai di sini. Dan saat ini, kau baru saja mengawali puncak karirmu Maya. Kau pasti tahu, bagi aktris wanita, kadang kehidupan berumah tangga, apalagi saat hamil, popularitas mereka biasanya tenggelam, dan belum tentu saat kau memutuskan untuk kembali lagi nanti, kau akan setenar sekarang. Sedangkan saat ini adalah momentum terbaik untukmu, Maya, setelah kesuksesan pentas Bidadari Merah kemarin… untuk memenuhi impianmu menjadi seorang bintang.”
Maya mengamati wajah suaminya yang sedikit tersembunyi keremangan kamar mereka. Meraba halus rahangnya dengan ujung-ujung jemarinya yang lentik. “Menurutmu bagaimana, Suamiku?”
“Untuk yang satu ini aku tidak bisa memutuskan untukmu,” kata Masumi. “Itu pun kalau usaha kita barusan belum membuahkan hasil,” bisiknya.
Maya tertawa kecil, malu, sebelum lantas kembali mengamati suaminya penuh cinta.
“Kalau kau memutuskan untuk menunda kehamilan, kita bisa pergi ke dokter kandungan besok sebelum pergi ke Paris. Aku akan meminta Mizuki mengatur pertemuan kita.”
“Apakah tidak apa-apa, jika menunda kehamilan demi karirku?”
“Tentu. Aku yang sudah egois menyeret-nyeretmu ke depan pendeta kemarin,” Masumi menyeringai. “Tapi melihatmu menjadi aktris besar, juga impianku. Jadi kau boleh memutuskan apa yang ingin kau lakukan…” Masumi mengusap punggung Maya yang terasa lembab di telapaknya.
Maya berpikir sejenak. “Kalau begitu, tidak perlu ditunda,” ujarnya serak. “Tidak ada yang tahu berapa lama kita bisa bersama. Aku ingat Pak Genzo yang bercerita setelah Bu Mayuko meninggal dunia. Bu Mayuko sangat mencintai Pak Ichiren. Namun walaupun bu Mayuko sangat mencintainya, kebersamaan mereka teramat singkat. Pak Ichiren tidak meninggalkan apa pun selain Bidadari Merah, tapi Pak Genzo bilang, mungkin Bu Mayuko akan lebih bahagia jika sempat menjadi ibu dari anak Pak Ichiren. Kau dan aku pun begitu. Kita saling mencintai tapi kita tidak tahu pasti berapa lama kita bisa bersama. Karena itu, selama aku bersamamu, aku ingin melakukan yang terbaik untukmu dulu. Jika itu artinya untuk mengandung anakmu, menjadi ibu dari anak-anakmu, aku akan melakukannya,” Maya terdiam, lantas terisak. “Membayangkannya saja aku sudah lebih dari bahagia.”
“Maya…” Masumi membelai wajah istrinya yang memanas karena perasaan emosional.
“Sedangkan untuk karirku… aku… aku tidak pernah bermimpi menjadi bintang. Aku hanya ingin berakting karena aku sangat suka akting. Jika nanti aku kehilangan kesempatan memainkan peran besar, itu tidak penting bagiku. Peran besar, peran kecil, sama pentingnya untukku. Selama aku masih bisa berakting dan kau masih mau melihatku di atas panggung, peran apa pun akan kulakukan,” tuturnya.
Masumi tersenyum hangat kepada istrinya. “Aku mengerti,” katanya. “Terima kasih banyak Sayang,” ia mengecup bibir Maya dan berbisik di sana. “Mungkin nanti akan tiba saatnya, ketika kau berakting di atas panggung, tidak hanya aku yang datang menyaksikan, tapi juga Makoto, Mamoru, Mayu, duduk berjejer di sampingku.”
Maya tersenyum haru, menyusuri kelembutan rambut Masumi dengan jemarinya. “Aku akan bahagia sekali,” lirihnya.
Masumi menarik pinggang istrinya, memagut bibirnya dan melumatnya, menyampaikan kasih sayangnya secara jiwa dan raga dan membuat wanita kecintaannya merasa begitu bahagia.
=//=
“Kak Sawajiri bilang, ada banyak kado pernikahan yang dikirim ke rumah Ayah,” terang Maya pagi itu saat sarapan.
“Iya, aku tahu. Kenapa Ayah tidak mengirimkan orang untuk mengantarkannya ke sini?” ujar Masumi, melahap sosis panggangnya.
Maya mengamati suaminya. Masumi memang selalu kurang sensitif jika memikirkan orang lain, padahal bersamanya pria itu bisa begitu penuh kasih dan perhatian. Maya terkadang bingung jadinya. “Sayang, mungkin Ayah ingin kita yang mengambilnya ke sana?”
Masumi mengamati istrinya. “Kau mau ke rumahnya? Bukankah lebih mudah jika dia mengirimkan orang ke sini?”
“Iya. Aku mau ke rumahnya. Kau juga,” tuntut Maya.
“Aku tidak akan sempat—“
“Aku akan ke makam ibu nanti siang, lalu ke rumah Ayah dan menginap di sana. Besok kita ke Perancis dari rumah Ayah saja.”
“Kita kan belum mengepak barang, Sayang. Tidak akan sempat.”
“Pasti sempat. Biar aku nanti yang mengepak barangnya.”
“Kau? Mengepak barang?” Masumi bertanya sangsi. Ia tahu benar bagaimana berantakannya istrinya itu, dan mengepak barang adalah salah satu keahlian Maya yang diragukan.
“Aku akan meminta Miyake dan Yoshiko membantuku,” ujarnya, sedikit cemberut.
Masumi tertawa kecil. “Baiklah kalau begitu,” Masumi mengelap bibirnya. “Aku pergi sekarang.”
Maya ikut beranjak, mengantar suaminya ke pintu. “Selamat bekerja. Hati-hati di jalan ya, aku akan menunggumu pulang,” katanya kaku, mengucapkan kalimat yang sudah dihapalkannya dari kemarin.
Sekali lagi Masumi tidak tahan untuk tidak tersenyum geli, membuat istrinya kembali mengerucutkan bibirnya dan menunduk malu.
“Terima kasih, Sayang,” Masumi mengecup kening istrinya. “Aku pergi dulu. Sampai jumpa.”
Wajah Maya berubah berseri. “Sampai jumpa.”
Masumi masuk ke dalam mobil. Keduanya saling melambaikan tangan sebelum Maya berbalik hendak masuk ke dalam. Para pelayan yang melihat kemesraan keduanya juga tampak merona dan Maya baru menyadarinya.
“A, aku mau mandi!” kata Maya, suaranya lebih keras dari yang Ia duga.
“Baik, Nyonya,” Miyake menyanggupi. Ia lantas meminta seorang pelayan menyiapkannya untuk Maya.
“Miyake, hari ini aku mau ke makam Ibu dan nanti sore aku akan ke rumah Ayah mertuaku.”
“Baik Nyonya, akan saya bantu.”
=//=
Setelah mandi dan membersihkan diri, Maya segera meluncur ke makam ibunya. Maya cukup lama di sana. Dengan ditemani Miyake, Ia berdoa dan bercerita kepada Ibunya. Bahwa Ia sudah menikah sekarang dan Masumi membuatnya sangat bahagia.
“Ibu, sekarang Ibu bisa tenang. Aku akan sering-sering datang ke sini. Nanti aku datang lagi bersama Pak Masumi. Ibu, terima kasih banyak untuk semua yang sudah ibu lakukan untukku. Aku harap, Ibu juga bahagia melihat keadaanku sekarang. Aku mencintaimu Ibu…” Ia mengusap foto Ibu Haru dengan telunjuknya.
=//=
Di luar kota Tokyo, di sebuah rumah sakit jiwa, seorang pria turun dari mobil. Berjalan sedikit pincang masuk ke dalam rumah sakit jiwa tersebut.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya seorang perawat yang ada di sana.
“Saya ingin menjenguk Chiharu Kimura,” katanya.
Perawat itu tertegun, memandang terkejut kepada pria itu. “Anda…”
“Saya kerabatnya. Kebetulan sedang ada di sini. Saya mendengar tentang keadaanya, saya ingin melihat keadaannya.”
“Maaf, Tuan, tidak ada seorangpun yang diijinkan—“
“Saya tidak akan mengganggunya,” kata pria itu. “Saya sudah tahu mengenai keadaannya. Saya bersedia diawasi saat bertemu dengannya.”
“Tunggu sebentar,” kata perawat itu. “Saya harus bicarakan terlebih dahulu dengan Dokter Kuroda.” Fakta bahwa pria itu tahu keberadaan pasien tersebut saja sudah cukup mengejutkan sebenarnya. Ia lantas mengangkat telepon menghubungi dokter Kuroda dan menutup percakapan dengan berkata, “baiklah.”
Perawat itu lantas meminta Keamanan menggeledah pria itu. Setelah diyakini pria itu tidak membawa apa pun yang berbahaya ke dalam ruangan, Ia memandang pria tadi. “Silahkan ikut saya,” katanya.
Keduanya berjalan di koridor rumah sakit yang sepi. Semuanya putih di sekeliling mereka.
Terasa hambar.
Mereka melalui sebuah ruangan, di sana ada beberapa pasien yang sedang beraktivitas masing-masing. Mereka semua ada dalam ruangan yang sama, namun sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri. Dunia dalam pikiran mereka.
Tidak jauh berbeda dari dunia ‘orang normal’ sekarang, yang tidak bisa merasakan keberadaan orang-orang di sekitarnya dan lebih tenggelam dengan dunia dalam handphonenya masing-masing walaupun berada dalam satu ruangan yang sama.
“Bagaimana keadaannya?” tanya pria itu, mengenai Chiharu.
“Tidak ada kemajuan berarti setelah beberapa bulan ini. Kadang begitu tenang, kami pikir Ia mengalami kemajuan atau kesembuhan, namun lain waktu Ia kembali histeris. Ia takut pada orang-orang di sekitarnya, dan kadang ketakutannya membuat Ia menyerang mereka dengan brutal. Karena itu Ia tidak bisa disatukan dengan pasien lainnya.”
Ada kepedihan yang sangat jelas tergambar di wajah pria itu saat si perawat terus bercerita. Mereka menuju sebuah lorong dengan kamar-kamar yang pintunya terkunci, sebelum kemudian berhenti di hadapan salah satu pintu. Perawat itu membuka kuncinya.
“Kami akan membawa Anda keluar jika sampai ada kegaduhan, baik suara Anda atau suaranya. Jadi mohon tetap tenang.”
“Baiklah,” katanya pelan.
Pria itu masuk ke dalam ruangan. Ruangan yang cukup besar, namun hanya ada sebuah tempat tidur di sana dengan bantal dan selimut. Tidak ada apa-apa lagi. Pelayan tadi mengatakan bahwa pasien ini punya kecenderungan menyerang orang lain dan juga menyakiti dirinya sendiri. Karena itu apa pun benda yang bisa melukainya atau orang lain dijauhkan. Bahkan tempat tidurnya tidak diberi ranjang. Hanya dua buah kasur dari busa yang diletakkan di lantai, sekelilingnya pun dilapisi semacam gabus karena wanita ini pernah membenturkan dirinya ke dinding saat teringat kenyataan yang menimpa dirinya.
Pria itu menatapnya getir. Nafasnya terasa sangat sesak dan sedih melihat keadaannya. Ia bergerak perlahan menghampiri, tidak mau mengejutkannya.
Wanita itu menunduk di atas kasur, berbicara tidak jelas seraya mengelus perutnya yang menggelembung. Pria itu tahu itu adalah kehamilan bohongan. Hanya sebuah bantal yang diselipkan di balik pakaiannya.
“Shiori…” panggilnya pelan. “Shiori…”
Pasien itu tertegun, wajahnya memucat. Ia sudah lama tidak bertemu orang, hanya para perawat yang membantunya makan dan ke kamar mandi. Ia tidak kenal suaranya. Atau Ia hanya tidak ingat.
Wanita itu takut-takut menoleh ke arah pemanggilnya.
“Halo Shiori…” pria itu berusaha tersenyum, ragu. “Kau ingat aku…?”
Mata Shiori membundar, berhenti mengusapi perutnya. Memandang nyalang pada pria itu, sedikit menakutkan. Namun pria itu hanya memandanginya dengan lembut, masih tersenyum kepadanya, menghampirinya dengan terpincang semakin dekat.
“Kau sedang apa?” tanyanya pelan. “Boleh kutemani?”
Wajah Shiori melunak, masih mengamatinya, dan perlahan-lahan tersenyum.
“Kau datang juga…” katanya pelan dan serak. “Kupikir kau sudah meninggalkanku…” Ia terisak. “Aku sudah lama menunggumu…” Senyumannya semakin lebar.
Pria itu pun tersenyum lebar, berjongkok dan meraih tangan wanita itu, meremasnya lembut.
=//=

“Bersenang-senanglah di sana, dan semoga setelah kembali nanti, perjalanan kalian ini akan membuahkan hasil,” pesan Eisuke pagi itu saat mengantar anak dan menantunya sebelum mereka pergi untuk berbulan madu pagi itu.
Maya hanya tersenyum malu-malu mendengarnya. “Ayah baik-baiklah di sini. Mau dibawakan apa nanti?” tanya Maya.
Eisuke tertawa senang, “dengar Asa!” katanya pada asistennya yang setia. “Menantuku ini memang sangat perhatian, bahkan lebih dari anakku sendiri,” imbuhnya.
Masumi tertegun, mendelik sedikit kesal dengan sindirannya.
Eisuke menoleh dan tersenyum manis kepada Maya. “Oleh-olehnya, dibawa saja dalam perutmu nanti ya, nak…” ujarnya, melirik pada Masumi.
Masumi mendengus mendengarnya.
Ucapan itu membuat wajah Maya merona. “I, iya…” ucapnya gugup.
Apanya yang iya…? Batin Masumi, juga malu. “Baiklah Ayah kami pergi dulu. Jaga kesehatanmu, dan hubungi kami kalau ada apa-apa,” katanya.
“Hati-hati di jalan,” Eisuke melambaikan tangannya kepada Maya dan Masumi dari kursi rodanya.
Keduanya tiba di bandara dan menunggu di ruang keberangkatan sebelum naik ke atas pesawat. Ada Mizuki di sana, berbicara mengenai sesuatu kepada Mizuki, juga Sawajiri sementara Maya menghabiskan berbincang-bincang dengan teman-temannya dari teater Mayuko
“Kau pergi lagi ke Perancis,” Taiko tertawa, “padahal baru beberapa bulan lalu kau pulang dari sana. Tapi kalau dulu kau ke sana untuk belajar, sekarang kau ke sana untuk berbulan madu.”
Wajah Maya yang berseri-seri tampak semakin berbinar. “Kuharap semua akan baik-baik saja dengan kalian. Apakah sudah ada rencana untuk pentas lagi?” tanya Maya.
“Iya Maya, saat ini aku, Taiko dan Sayaka sedang membantu pementasan Ikkakuju. Kami sudah memikirkan untuk menggabungkan kedua teater kami. Bagaimana pun, kami tidak bisa berpentas tanpa bantuan satu sama lain,” terang Mina.
“Iya, apalagi perwakilan satu sama lain sudah akan menikah tahun depan,” Sayaka menggoda Mina yang wajahnya segera memanas.
Maya ikut tertawa.
“Omong-omong, Maya, bagaimana denganmu?” tanya Rei.
Maya tertegun. “Aku?”
Teman-temannya saling melirik. Rei berdeham dan bicara. “Apa kau… tidak mempertimbangkan bergabung dengan Daito?” tanya Rei.
“Aku? Bergabung dengan Daito?” Mata Maya sedikit membundar.
“Iya. Kami mengerti, jika kau pada akhirnya memutuskan untuk bersama Daito, atau menjadi artis profesional yang independen, tidak terikat teater tertentu,” kata Rei. “Kami mengerti posisimu.”
“Tidak,” Maya menggeleng cepat. “Aku sama sekali tidak berpikir untuk meninggalkan teater Mayuko,” terangnya. “Kalian teman-teman baikku. Aku suka berpentas dengan kalian. Aku ingin terus bersama kalian,” Maya memelas. “Aku ingin terus bersama-sama kalian. Bagaimana pun kalianlah yang selalu membantuku selama ini.”
Teman-teman Maya terdiam. Akhirnya Mina kembali bicara. “Maya, cobalah kau bicarakan mengenai hal ini dengan Pak Masumi. Dia pasti tahu apa yang terbaik untukmu. Iya kan?”
Maya terdiam sebentar lantas mengangguk.
“Maya,” panggil Masumi.
Maya menoleh kepada Masumi yang berjalan menghampirinya. “Kita harus naik pesawat sekarang,” ajaknya, tersenyum.
“Aku harus pergi,” Maya berpamitan dan berpelukan dengan teman-temannya, serta bersalaman dengan mizuki dan Sawajiri.
Keduanya berjalan menuju pesawat.
Mizuki lantas berpamitan karena ada banyak pekerjaan yang sudah ditugaskan oleh Masumi untuknya.
“Baiklah, kami juga permisi,” kata Rei, menyebut ‘kami’ kepada dirinya dan Sawajiri.
“Sampai jumpa Rei,” kata Sayaka.
Sawajiri mendeham perlahan. “Aku dan Rei mau pergi makan siang. Apa kalian mau makan bersama?” tawarnya.
Mina, Taiko dan Sayaka sedikit terkejut dengan tawaran Sawajiri.
“Uh, mmh… kami… makan di tempat Sayaka saja,” kata Taiko.
“Iya, lagipula kami tidak mau mengganggu kalian berdua,” ujar Sayaka yang lebih berterus terang.
“Tidak apa-apa, kok. Kami mau mencoba restoran ramen yang baru, katanya daging dan daun bawangnya sangat banyak dan kuahnya juga enak,” kata Rei. “Lagi pula, kami kan tinggal bersama, nanti di apartemen juga kami berdua,” Rei tersenyum lebar.
Mina, Sayaka dan Taiko kembali berpandangan.
“Ya… baiklah. Sepertinya ramennya memang enak. Itu pun kalau memang kami tidak mengganggu,” ujar Mina.
“Tentu saja tidak!” sambar Rei. “Ayo!”
Mereka lantas beranjak dari sana.
Rei menggenggam tangan Sawajiri. “Terima kasih Shin,” bisiknya.
Sawajiri hanya menjawab dengan gumaman.
=//=
Maya menyandarkan dirinya pada lengan Masumi. “Aku senang sekali. Bisa datang ke Paris lagi. Ah… Sayang, nanti aku akan memperkenalkanmu pada beberapa temanku di sana,” terangnya.
“Oh…” Masumi teringat. “Aku ingin sekali bertemu temanmu Louis yang sering mengajakmu menonton film horor dan membuatmu memeluknya sepanjang film.”
Maya tertegun. Ia lupa pernah bercerita dulu mengenai Louis. “Sayang, dia memang sering mengajakku nonton film horror, tapi aku tidak pernah memeluknya sepanjang film,” rajuk Maya. Sudah mulai mengenali Masumi yang pencemburu. “Lagipula, aku kan sudah bilang kalau dia itu bukan menyukaiku, dia menyukai Sakurakoji,” katanya.
Masumi terdiam. “Maya, sekarang aku jadi teringat. Nanti di sana, ajak aku ke tempat-tempat yang pernah kau kunjungi. Aku ingin tahu,” kata Masumi. “Ceritakan apa yang kau lakukan di sana. Saat kau di Perancis, aku sering sekali merindukanmu, memikirkan apa yang sedang kau lakukan di sana. Apa kau bersama teman-temanmu, apa kau sendirian? Apa kau kesepian? Merasa kesulitan?” ujarnya.
“Tentu,” Maya mengusap-usap lengan Masumi. “Aku juga tidak sabar mengajakmu berkeliling. Aku pun dulu sama. Sering sekali teringat padamu,” dan Maya kembali ingat bagaimana seringnya Ia menangis karena merindukan Masumi dan berpikir pria itu sudah melupakannya, dan sudah menjadi milik wanita lain. “Lalu memikirkan beberapa hal yang kurasa akan menyenangkan jika kulakukan denganmu,” Ia tertawa kecil, malu dengan khayalannya dahulu, saat berfantasi membayangkan Masumi juga mencintainya dan mereka berpacaran.
“Oya?” Masumi menoleh kepada Maya. “Seperti apa, misalnya? Hal yang ingin kau lakukan denganku…?”
Gadis itu terkikik kecil. “Misalnya, naik komidi putar di Disneyland…” ujarnya.
Masumi tertegun, kehilangan kata-kata. Ya Tuhan… kumohon jangan… Ia menelan ludahnya. “Selain itu?” katanya cepat.
“Yaa.. banyak hal. Misalnya makan malam bersama, be, berkencan di akhir pekan, atau kau datang ke pertunjukanku menyaksikan drama yang kumainkan, walaupun aku hanya jadi pohon,” katanya.
Masumi tertawa kecil mendengar ucapan Maya.
“Atau saat resital tari, pertunjukan pantomim teaterku, kau akan datang menonton dan memberiku Mawar Ungu. Ya… hal-hal seperti itu…” Maya berkata malu-malu.
“Kita akan melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama, aku janji,” kata Masumi.
Maya mengangguk.
Pria itu lantas berbisik. “Lagipula, kita sekarang suami istri. Ada lebih banyak hal menyenangkan yang bisa kita lakukan bersama sekarang,” godanya.
Wajah Maya memerah, dan tertawa kecil. “Danna-sama…” bisiknya manja, memainkan telunjuknya di lengan Masumi.
“Tapi perjalanan kita masih sebelas jam lagi,” keluh Masumi, dan Maya kembali terkikik mendengarnya.
=//=

Keduanya tiba sore hari di Airport Charles de Gaulle, Paris. Namun karena perbedaan waktu antara Jepang dan Paris, Maya dan Masumi bisa merasakan bahwa mereka sudah sangat lelah walaupun hari belum memasuki malam hari.
Seorang pegawai yang bertugas menjemput Maya dan Masumi di bandara tampak mengangkat papan bertulisan “Mr. and Mrs. Hayami”. Keduanya berjalan menghampiri.
Tidak sulit dikenali sebenarnya, karena Maya dan Masumi yang memiliki perawakan berbeda dari kebanyakan orang di sekelilingnya tampak memang tampak menonjol.
“Ahh… kamarnya bagus sekalii~” Maya memasuki sebuah suite yang sangat luas dan mewah, tampak seperti diperuntukkan bagi sepasang raja dan ratu.
“Kau suka?” tanya Masumi, “aku sempat berpikir menyewa tempat di sebuah resort, tapi kurasa lebih mudah pergi kemana saja dari sini,” katanya.
“Aku sangat menyukainya,” seperti biasa Maya menjawab. “Terima kasih…”
Room boy yang mengantarkan mereka menjelaskan mengenai berbagai hal dalam kamar tersebut. Dan Maya sungguh terpesona dengan pemandangan dari arah balkon yang begitu cantik.
“Kau mau beristirahat?” tanya Masumi.
“Iya, aku lelah dari perjalanan panjang dan sudah mengantuk rasanya…” terang Maya, menguap.
Di Jepang mungkin sekarang sudah jam 11 malam, sementara jam dinding di kamar mereka masih menunjukkan pukul 4 sore.
“Jangan tidur, Sayang, nanti kau terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur lagi,” kata Masumi.
Maya mengeluh. “Baiklah…” Ia mulai membongkar barang-barang bawaannya.
“Aku mandi dulu ya Sayang. Bagaimana jika kita nanti keluar untuk melihat Menara Eiffel dinyalakan?”
Maya mengangguk setuju.
Setelah selesai mandi, Masumi menghubungi concierge, memintanya menyiapkan limousine untuk mereka, dan reservasi di sebuah restoran baginya dan Maya, di restoran dekat menara Eiffel.
“Tuan, saya bisa membantu Anda mendapatkan tiket untuk naik ke menara Eiffel tanpa mengantri jika Anda kapan-kapan ingin naik ke sana,” tawar Concierge tersebut.
“Nanti saya bicarakan dulu dengan istri saya, terima kasih banyak untuk tawarannya, Jean,” ucap Masumi dalam bahasa Inggris yang fasih.
Masumi masuk ke dalam kamar, Maya sedang berganti pakaian. “Aku akan mengajakmu melihat Eiffel dinyalakan dan makan malam di restoran di dekat sana. Kau mau?”
“Hm, baiklah,” jawab Maya masih setengah mengantuk, seraya menyisir rambutnya.
“Tapi kalau kau tidak mau kemana-mana dan beristirahat saja di sini juga tidak apa-apa,” kata Masumi, berdiri di belakang Maya dan mengelus lengan istrinya itu.
Maya menggeleng, tersenyum manis kepada Masumi mealalui cermin. “Aku ingin pergi,” katanya.
Keduanya lantas menaiki limousine yang sudah disiapkan bagi mereka, menikmati jalanan Paris yang ramai.
Maya kembali menyandarkan dirinya pada lengan Masumi. Sangat senang bermanja-manja kepada suaminya itu sekaligus membagi rasa lelahnya.
Malam pertama kedua pasangan suami istri tersebut di Paris, dihabiskan dengan Maya dan Masumi makan malam di sebuah restoran yang romantis, dengan pemandangan ke menara Eiffel yang tampak cantik saat lampunya menyala memasuki malam, sambil melahap escargot dan sampanye yang sangat enak.
=//=
 
Maya mengangkat kedua tangannya terentang tinggi-tinggi dan menggeliat.
“Selamat pagi Istriku…” sapa Masumi, Masumi bangkit dari sofa dan menghampiri Maya yang baru saja terbangun..
Maya tersenyum mesra. “Selamat pagi Danna-sama…” katanya.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Tidurku pulas sekali,” kata Maya. “Apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanya Maya.
Masumi duduk di samping tempat tidur, membelai rambut istrinya. “Kurasa hari ini, kita akan menghabiskan waktu untuk bersantai. Jadi aku sudah meminta Jean memesankan privat spa untuk kita berdua. Bagaimana? Kita bisa mulai berkeliling dan mendatangi tempat-tempat yang menyenangkan besok. Sedangkan hari ini, aku ingin menghabiskan waktuku berdua saja denganmu.”
Si Istri tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya dan mengangguk setuju.
“Apa kau sudah lapar? Mau sarapan sekarang?” tanya Masumi.
Maya kembali mengangguk.
“Tunggu sebentar di sini,” katanya. Ia lantas membenahi bantal Maya. “Sudah merasa nyaman?”
Maya memandang suaminya bingung. “Sudah.”
“Bagus.” Ia lantas keluar dari kamar ke ruang duduk dan tidak lama kemudian sudah kembali membawa rak makanan. “Sarapan untuk Nyonya Maya Hayami,” ujar Masumi.
“Kyah!!” Maya tampak sangat senang melihat suaminya membawa rak dengan nampan berisi sarapannya tersebut. “Untukku?”
“Benar, Nyonya.” Masumi menghampirinya, meletakkan nampan tersebut di hadapan Maya. “Breakfast in bed spesial untuk Nyonya Maya Hayami.”
Wajah Nyonya Hayami terlihat berbinar. Memandangi hidangan di hadapannya dan seikat Mawar Ungu di sana. Ia mengambilnya dan mencium keharuman bunga itu, yang selalu mengingatkannya akan sosok Masumi. “Terima kasih,” kata Maya bahagia. “Kau benar-benar memanjakanku,” Ia mengulurkan tangannya, meraih leher Masumi dan keduanya berciuman. “Aku bahagia sekali,” katanya.
“Benarkah?”
Maya mengangguk haru.
“Ayo cepat dimakan, nanti terlanjur dingin,” kata Masumi, seraya memotongkan panekuk dengan butter caramel dan strawberry untuk Maya, sementara gadis itu meneguk coklat hangatnya.
Masumi lantas menyuapi Maya potongan panekuk tersebut.
“Enak!” Kata Maya. Membuat suaminya merasa senang mendengarnya. Ia lantas mengambil buah strawberry yang ada di atas panekuk dan menyuapi suaminya.
Masumi tiba-tiba tertawa senang.
“Ada apa?” tanya Maya.
Masumi sebentar menggeleng sebelum menjawab. “Aku ingat saat dulu kau menyuapiku,” terang Masumi.
Maya berusaha mengingat. “Dulu? Yang mana?” tanyanya.
“Saat kau menyuapiku dengan ramen, di sekolah SMP-mu dulu.”
Maya ingat kejadian itu. “Kau mengerjaiku!!” Serangnya.
Masumi kembali terbahak. “Lucu sekali wajahmu saat itu, membuatku gemas…” Ia mencubit gemas pipi istrinya.
“Yah, aku kan baik hati…” selorohnya.
Masumi naik ke atas tempat tidur, dan duduk di samping Maya sebelum kembali menyuapi Maya dengan potongan panekuk berikutnya. “Saat itu… Kau pasti tidak mengira bagaimana perasaanku saat kau memintaku menemanimu seharian. Aku senang sekali. Kupikir hari itu akan menjadi satu-satunya kenangan manisku bersamamu. Tapi ternyata… di sinilah kita sekarang,” Ia memandangi istrinya mesra.
Maya kembali menyandarkan dirinya kepada Masumi. Merasa sangat bahagia. “Aku mencintaimu…” ucap Maya.
Setelah sarapan keduanya lantas menuju tempat spa dan sauna yang sudah dipesan bagi mereka. Maya dan Masumi benar-benar menikmati kebersamaan mereka melakukan berbagai hal berdua seharian itu. Suami istri tersebut saling memanjakan dan bersikap mesra pada satu sama lain. Setiap orang yang melihat mereka akan segera tahu bahwa keduanya tengah saling teramat jatuh cinta pada satu sama lain.
=//=
Mizuki turun dari mobilnya, merapikan pakaian yang dikenakannya malam ini dan memasuki sebuah restauran British. Masumi memberitahukannya untuk menemui seseorang di sana. Mizuki diminta meyakinkannya agar Ia mau ikut bekerja di dalam proyek drama musikal yang akan diadakan oleh Daito.
Sebelum pergi, Masumi memang sudah memberikan banyak sekali tugas untuknya selama atasannya itu menghilang selama sepuluh hari ke depan. Mengenai orang yang satu ini, Masumi mengingatkan bahwa Mizuki harus hati-hati, jangan sampai ada yang tahu Daito melobinya dan Mizuki harus sanggup mendapatkan persetujuannya.
Banyak tekanan, namun setimpal dengan gajinya.
“Saya ada janji dengan Tuan Kitahara Rui,” terang Mizuki.
“Beliau sudah menunggu. Silahkan, Nona,” manajer tersebut berbicara kepada pelayan. “Antarkan Nona ini ke tempat Tuan Kitahara.”
Mizuki lantas diantarkan menuju ke sebuah ruangan privat.
“Tuan Kitahara sudah menunggu di dalam, silahkan panggil kami jika ada yang Anda butuhkan,” katanya.
“Terima kasih,” Mizuki mengangguk lantas masuk ke dalam ruangan.
Ia menghempaskan nafasnya perlahan untuk menghilangkan ketegangan dan kemudian memasuki ruangan tersebut.
“Selamat malam, Tuan Kitahara, maaf membuat Anda menunggu—“ Mizuki berhenti bicara saat pria yang menunggunya berdiri dan berbalik. Mata wanita itu melebar. “Pak… Hijiri…?” desisnya tidak percaya. “Sedang apa Anda di sini?” tanya Mizuki.
Hijiri pun tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Mizuki.
Sejenak keduanya tidak dapat berkata apa-apa. Akhirnya Mizuki memutuskan untuk kembali bicara seraya mendekati Hijiri. “A, aku diminta Pak Masumi untuk datang ke sini, tapi dia bilang yang harus kutemui adalah Pak Kitahara Ru… i…” akhirnya Mizuki menyadari apa maksud Masumi.
Keduanya memandang penuh arti, lantas sama-sama tersenyum konyol.
Hijiri menarik salah satu kursi, “silahkan,” tawarnya. “Kurasa karena atasan kita yang meminta kita melakukan pertemuan ini, kita tidak boleh menentangnya kan?”
“Ya, kau benar,” Mizuki duduk di kursi itu.
Sejenak keduanya terdiam, mencoba mencari kata-kata, juga menenangkan perasaan masing-masing dengan pertemuan tidak terduga ini.
“Mmh… apa yang Pak Masumi katakan kepadamu?” tanya Mizuki.
Hijiri tampak menimbang beberapa saat.
“Ya ampun, ayolah Pak Hijiri, ini kan misi bohongan. Jadi kurasa tidak masalah kau membocorkannya,” paksa Mizuki.
“Baiklah,” putus Hijiri. “Pak Masumi bilang aku harus mengorek informasi mengenai kelemahan seseorang dari mantan istrinya,” terang Hijiri.
Mizuki tertegun. “Jadi aku yang dimaksud mantan istri itu?” tanyanya, tidak terima.
“Begitulah,” Hijiri menahan senyumnya melihat wajah tidak suka tersebut.
Mizuki berdecak. Ia lantas menatap Hijiri tidak percaya. “Kau bahkan berkencan dengan seseorang untuk mendapatkan informasi?” tanyanya terkejut.
“Ini seharusnya bukan kencan,” terang Hijiri. “Tapi pertemuan bisnis. Aku akan bersekongkol dengan si mantan isteri untuk menggagalkan proyek mantan suaminya dan menjebaknya, hingga akhirnya Daito mendapatkan keuntungan dari sana.”
Mata Mizuki berbinar-binar, antusias. “Seru sekali,” katanya.
Hijiri memperhatikannya. “Kau sadar kan, kalau semua ini cerita bohongan?”
Sekretaris itu tertegun. “Ya, ya… tapi kau ada di sini sekarang, bukankah berarti orang-orang yang kau bicarakan itu memang benar ada?” selidik Mizuki.
“Begitulah,” Hijiri menjawab singkat.
“Jadi?” paksa Mizuki.
“Jadi?” Hijiri balik bertanya.
“Jadi? Siapa orangnya? Si mantan suami ini? Orangnya benar-benar ada kan?”
Hijiri tertawa, membuat Mizuki terpesona beberapa saat.
“Kau pikir aku akan memberitahumu?” ujar Hijiri. “Lagipula ini misi bohongan, berarti Pak Masumi sebenarnya tidak punya rencana apa-apa pada orang itu. Untuk apa aku menyebut-nyebut namanya?” kata Hijiri.
Mizuki menghela nafasnya tidak puas. Ia lantas bersandar pada kursi. “Menurutmu Pak Masumi yang melakukannya?” tanya Mizuki. “Membuat kita bertemu di sini? Seperti ke… ke, kencan… buta?” Ia bertanya.
“Yah… aku ada di sini karena permintaan Pak Masumi,” terang Hijiri.
“Aku juga,” Mizuki sepakat. “Aku tidak mengerti apa maksudnya,” Ia berdecak, jelas nampak tidak suka jika tidak mengetahui sesuatu.
“Tapi kurasa ide ini bukan semata-mata keinginan Pak Masumi sendiri,” Hijiri berpendapat.
“Begitu menurutmu?” ada nada tertarik saat ia bertanya. “Jika bukan Pak Masumi…” Mizuki berpikir sebentar sampai kemudian tatapannya bertemu tatapan Hijiri dan menyadari mereka menemukan jawabannya.
Ini permintaan Maya… kembali sebuah kesepakatan dicapai.
Mizuki tertawa tidak percaya. “Pak Masumi… benar-benar…” ujarnya, menggelengkan kepalanya.
Beberapa saat kembali keduanya terdiam.
“Karena kita sudah di sini,” Hijiri membuka percakapan lagi. “Apa kau mau makan malam?” tanya Hijiri.
“Yah… tentu saja,” dengan senang hati Mizuki menerimanya. “Lagipula aku sudah mengosongkan jadwalku untuk pertemuan ini. Tidak ada yang akan kukerjakan lagi,” ujar Mizuki.
“Aku juga,” imbuh Hijiri. Ia lantas memanggil seorang pelayan yang tidak lama kemudian masuk ke ruangan mereka.
Keduanya bersulang, meneguk segelas anggur seraya menunggu pesanan mereka datang.
“Jadi, kau sendiri? Apa yang Pak Masumi katakan saat memintamu datang ke sini?” tanya Hijiri.
“Dia bilang, Pak Kitahara Rui ini adalah seorang koreografer yang diperlukan untuk mendukung drama musikal yang akan dikerjakan Daito. Aku harus melobinya agar mau bergabung dalam proyek kami,” terang Mizuki.
Hijiri tampak mengangguk-angguk.
“Tapi karena ternyata ini bukan misi sungguhan, yah, aku akan mengerjakan misiku sendiri saja kalau begitu,” ujar Mizuki.
Hijiri tertegun. “Misimu sendiri?”
“Iya, aku punya misi untuk mencari tahu alamat tinggal seseorang,” Ia menatap Hijiri.
Pria itu tersenyum tipis, mengangkat gelasnya. “Semoga berhasil,” katanya.
Mizuki pun mengangkat gelas. “Aku tidak pernah gagal menyelesaikan tugas yang diberikan kepadaku.”
Keduanya kembali bersulang.
=//=
Di atas tempat tidur, Masumi sedang mengecek email yang masuk kepadanya saat Maya tengah membersihkan diri malam itu. Masumi sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa Ia tidak akan memikirkan pekerjaan selama berbulan madu bersama Maya, namun Ia hanya ingin melihat kalau-kalau ada keadaan darurat atau hal lainnya serta membaca beberapa kabar penting yang patut diketahuinya.
“Da, Danna-sama…!” Tiba-tiba saja Maya memanggil dari area kamar mandi.
“Iya? Ada apa, Sayang?” Masumi segera mematikan laptopnya, meletakannya di atas meja dan menunggu istrinya kembali.
“Sayang, bi, bisakah… uhmm… anu… lampunya…. Uhmm… dimatikan?” pinta Maya, masih belum menampakkan diri.
“Dimatikan? Ada apa, Sayang? Kau baik-baik saja? Aku masuk ya,” katanya.
“Ja, jangan! Tunggu saja di situ. Ta, tapi matikan lampunya… ya…” pinta Maya sekali lagi.
Masumi akhirnya mengikuti kemauan istrinya. Ia mematikan lampu di kamar mereka. “Sudah Sayang,” katanya.
“Dimatikan semua…” pinta Maya.
Masumi menurut, mematikan kedua lampu di samping tempat tidurnya. “Sudah,” katanya. Tidak banyak bertanya kenapa istrinya meminta begitu. Sebentar lagi juga Ia akan tahu jawabannya, pikir Masumi.
Maya menelan ludahnya. Perlahan-lahan, agak ragu Ia membuka mantel tidurnya dan berjalan menyusuri lorong pendek yang menghubungkan kamar mandi dengan kamarnya.
Kamarnya tampak gelap. Maya bisa merasakan dadanya berdebar hebat. Ia lantas berjalan menuju tempat tidur yang samar-samar terlihat.
Masumi menunggu di atas tempat tidurnya. Keadaannya memang gelap karena kamar mereka tidak memiliki beranda. Beranda berada di ruang duduk. Dan karena pintu kamar mereka ditutup, hampir tidak ada cahaya yang masuk. Walaupun demikian, perlahan-lahan mata Masumi berusaha menyesuaikan dengan keadaan sekeliling. Masumi masih bertanya-tanya kenapa istrinya itu bersikap aneh.
Maya mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia tidak mengira kamarnya segelap ini. Ia lantas berjalan menuju tempat yang ia perkirakan arah tempat tidurnya. Sangat samar tapi Ia bisa melihatnya. Namun Maya yang perhatiannya sepenuhnya tercurah pada tempat dimana suaminya menunggu, tidak memperhatikan apa yang ada di dekatnya.
Hasilnya, kaki Maya terantuk sesuatu dengan keras.”Aww!!” Maya mengaduh kuat.
“Maya!!” Seru Masumi spontan, “kau tidak apa-apa?” Ia segera menyalakan lampu di sisi tempat tidurnya.
Tampak Maya sedang berjongkok, kesakitan. Masumi segera menghampirinya. “Kau kenapa Sayang!?” tanya Masumi khawatir.
Maya menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. “Ti, tidak, tidak apa-apa…” ringisnya.
Saat itulah Masumi menyadari sesuatu. Maya yang berjongkok memegangi tulang keringnya, istrinya itu terlihat sangat seksi dengan pakaian yang dikenakannya. Punggung dan kakinya bahkan terekspos sempurna. Masumi sebentar menahan nafasnya.
Namun otaknya yang berada lebih tinggi ketimbang bagian lain tubuhnya, lebih mampu menguasai tindakan pria itu pada saat seperti ini. Masumi dengan cepat mengangkat Maya, mendudukkannya di sisi tempat tidur. “Mana yang sakit?” tanyanya, mengamati tulang kering yang tadi dipegangi Maya. “Di sini?” tanyanya.
“Se, sedikit,” jawab Maya. “Tidak apa-apa kok…”
Masumi mengusap-usap tulang kering Maya. “Benar tidak apa-apa?” tanyanya penuh perhatian.
“Benar,” ujar Maya. “Aku tidak melihat ada bangku di sana,” katanya lemah.
Masumi tersenyum tipis, “tentu kau tidak melihatnya. Tadi kamar gelap sekali,” ujar Masumi.
Maya menunduk, merasa bodoh. “Kalau di rumah kan tidak segelap tadi,” gumamnya pelan. Perlahan-lahan wajahnya memerah, teringat rencananya. “Ha, habis, kalau lampunya tidak dimatikan, aku malu,” katanya, mulai memainkan jemarinya gelisah. “Pa, padahal aku sudah berniat memakai baju ini,” ia merujuk pada lingerie-babydoll seksi berwarna ungu muda yang tengah dikenakannya. “Kupikir kau akan menyukainya. Ta, tapi tadi saat aku ganti baju, a, aku malu…” Ia menunduk semakin dalam dan terus meracau. “Ta, tapi aku tidak bawa baju ganti lagi ke kamar mandi, dan, dan ju, juga… kata Ayumi, sekali sekali aku harus membuatmu senang de, dengan berpakaian se, seperti ini… uhmm…” Maya semakin salah tingkah sementara Masumi sama sekali tidak bersuara. “A, apa kau se, senang... melihatku… Danna-sama…?” tanya Maya sangat perlahan. Ia lantas mengangkat wajahnya malu-malu kepada Masumi yang berlutut di hadapannya.
Masumi sedang memandanginya begitu rupa, hingga Maya dalam seketika merasakan jantungnya berdebar panik dan tubuhnya terasa kaku bagai batu. Pria itu mengamati Maya penuh minat, jelas terlihat saat ini naluri jasmaniah sudah mengambil alih pikiran suaminya itu. Bahkan pandangannya yang tajam bisa menembus di kegelapan samar ruangan yang hanya diterangi lampu meja. Menyampaikan dengan sempurna apa yang diinginkannya saat ini. Masumi  berlutut dan melandaikan tubuhnya, mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya yang memanas. “Aku sangat senang,” bisiknya tegas menggoda. Bahkan caranya bicara sudah terasa begitu jantan.
Maya menelan ludahnya, tidak punya cukup banyak waktu menenangkan diri karena selanjutnya bibir pria itu sudah merapat pada bibirnya, dan kemudian membawa Maya tersesat dalam ritual asmara yang membara.
Keduanya berencana mengelilingi Paris keesokan harinya, namun yang terjadi, pasangan suami istri itu tidak beranjak kemana-mana hingga tiga hari ke depan.
=//=
Pria itu kembali berjalan menyusuri koridor ruang yang sama sebelum menuju kamar Shiori dengan diantar perawat yang sudah mulai mengenalnya yang datang setiap hari menjenguk Shiori.
“Pasti dia sudah menunggu Anda,” ujar perawat tersebut. “Sekarang dia sudah lebih tenang, dan sudah mulai bisa berinteraksi lagi dengan orang lain. Saat saya mengantarkan sarapannya tadi pagi, dia menyebut nama saya dan berterima kasih. Sikapnya sangat ramah. Dia lalu menanyakan kapan Anda akan datang. Dia minta didandani karena tidak mau terlihat jelek jika Anda datang,” terangnya. “Dokter mengatakan, kehadiran Anda benar-benar berdampak sangat positif. Ia berharap kau bisa membantunya untuk membuka pikirannya dan membantunya kembali menghadapi kenyataan.”
“Saya akan berusaha. Saya pun ingin agar Ia segera sembuh,” kata pria itu.
Perawat tersebut membukakan pintu ruang rawat Shiori.
“Chiharu, lihat siapa yang datang,” katanya.
“Halo,” pria itu menyapa.
Shiori menoleh ke arahnya, wajahnya mulai tampak berseri-seri.
Pria itu terpincang mendekatinya. “Aku punya berita bagus. Kau boleh keluar kamar. Kita akan berjalan-jalan di taman. Kau mau?”
“Aku senang sekali!” Shiori berkata riang.
Pria itu lantas sekuat tenaga berusaha menggendong Shiori yang fisiknya memang lemah, terutama setelah ia selama ini jarang sekali kesana kemari. Ia mendudukkannya di kursi roda, mengangguk pada perawat itu, dan kemudian mendorong kursi roda Shiori menyusur lorong menuju taman.
“Anakku,” Shiori mengelus perutnya. “Lihat di sana ada banyak bunga cantik sekali…” ujarnya.
Pria itu mengamati Shiori dengan sedih.
“Sayang,” Ia menoleh pada pria yang berdiri di belakangnya itu. “Kalau anak ini lahir, bolehkah aku menamainya dengan nama bunga?”
Pria itu tersenyum. “Tentu,” katanya, dengan mata memancarkan kesenduan. “Pasti dia akan menjadi anak yang cantik seperti dirimu,” suaminya berkata.
Shiori menyandarkan dirinya di kursi roda, sebentar terdiam. “Aku sering bermimpi mengerikan,” Shiori berkata. “Ada seorang laki-laki. Wajahnya tampan dan dia tersenyum kepadaku,” tiba-tiba badannya gemetar. “Tapi kemudian… dari kepalanya darah mulai bercucuran…” Shiori gemetar semakin kuat, memeluk dirinya sendiri. “Benar-benar menakutkan, ada suara mobil, ada teriakan, lalu aku akan mendengar mereka…” Shiori tampak semakin ketakutan.
“Sayang, sudah, jangan kau ingat-ingat lagi,” pria itu memeluknya.
Tapi Shiori belum berhenti bercerita. “Mereka meneriakiku... Pendosa…!! Pembunuh…!! Salahku hingga dia mati…!!” Ia mulai menangis dan terlihat akan semakin histeris.
“Shiori, sudah, jangan kau ingat-ingat lagi… sudah…” Ia berusaha menenangkan.
“Itu bukan salahku!! Aku tidak kenal dia!! Lalu mereka menuduhku berselingkuh!! Aku tidak pernah berselingkuh! Aku istri yang setia…!”
“Iya Sayang, aku tahu…” pria itu memeluknya semakin kuat.
“Ini anakmu… kau percaya kan kepadaku…? Aku tidak pernah berselingkuh. Aku istri yang baik, aku mengandung anakmu dan akan memberimu keturunan, memberikan cucu untuk ayah dan ibu…” Ia terus meracau.
“Iya… iya…” pria itu berusaha menenangkan, memeluk Shiori hingga emosi wanita itu mereda. “Aku percaya kepadamu, istriku…” Yosuke berkata. “Ayo kita masuk lagi ke dalam,” ajaknya.
Pria itu lantas mendorong kembali kursi roda Shiori. Berusaha walaupun kepincangan kakinya membuatnya kesulitan.
Yosuke memang sudah beberapa hari ini selalu mengunjungi Shiori di sini. Tidak ada yang tahu mengenai keberadaan Shiori di rumah sakit jiwa ini karena pihak keluarga Takamiya menyembunyikannya rapat-rapat.
Setelah peristiwa kecelakaan itu, keadaan Yosuke sangat kacau. Posisinya terancam, dia tidak akan memiliki apa-apa jika berpisah dengan Shiori. Tapi Shiori bahkan sudah kehilangan kewarasannya. Yosuke yang merasa hancur, sempat menghilang dan berusaha bunuh diri dengan melompat dari rumahnya. Namun Ia mungkin memang ditakdirkan menjadi pecundang, bahkan usaha bunuh dirinya tidak membuahkan hasil, dan malah membuatnya menjadi pincang untuk seumur hidupnya.
Namun keluarga Takamiya sebenarnya memang keluarga yang murah hati. Mereka mengerti dengan keadaan Yosuke yang terjepit dan mengatakan semua keputusan ada di tangan Yosuke apa tindakan yang akan diambilnya. Walaupun banyak yang mengecam jika Ia sampai menceraikan Shiori dengan keadaannya yang demikian.
Yosuke sendiri sesungguhnya, sejak dahulu sangat mencintai Shiori. Hanya saja perbedaan kelas yang mencolok memang membuatnya menjadi rendah diri di hadapan Shiori. Belum lagi Ia merasa kalau Ia hanyalah benalu di keluarga besar Takamiya.
Dan Ia tahu Shiori sama sekali tidak mencintainya, saat menikah keduanya sepakat bahwa Shiori akan mau menikah dengannya jika Yosuke berjanji akan membuat Masumi menderita, dan Yosuke menyanggupinya. Dan janjinya yang tidak kunjung Ia tepati membuat istrinya semakin antipati kepadanya dan bersikap dingin walaupun di luaran Shiori selalu membelanya. Itulah yang membuatnya berselingkuh. Wanita murahan membuatnya lebih nyaman, dan santai, ketimbang saat Ia berada di rumahnya dan menjadi seorang suami yang cintanya bertepuk sebelah tangan kepada istrinya sendiri.
Namun melihat keadaan Shiori saat ini, benar-benar membuat hatinya sakit. Saat Yosuke memulihkan dirinya setelah usaha bunuh dirinya itu, saat itulah Yosuke memutuskan untuk setia di sisi Shiori, dan menemuinya di sini.
Yosuke kembali menggendong Shiori dan mendudukkannya di atas kasurnya.
“Apa kau akan pulang sekarang?” tanyanya. “Kapan Kakek serta ayah dan ibu datang?” tanya Shiori. “Kapan aku pulang dari sini? Anemiaku sudah semakin baik…”
“Nanti, jika kau sudah benar-benar sembuh,” terang Yosuke. “Sementara itu, kau harus mengikuti apa anjuran dokter. Mengerti? Agar kau cepat sembuh dan bisa cepat pulang.”
Shiori mengangguk. Ia lantas memandang Yosuke beberapa lama. Rahangnya mengetat. “Jadi, bagaimana rencanamu selanjutnya untuk mengalahkan Masumi?” tanyanya. “Kau akan menghancurkannya kan? Seperti yang kau katakan dulu?”
Yosuke menelan ludahnya, mengangguk. “Iya. Pasti, Shiori.”
Wajah Shiori kembali berbinar. “Janji?”
“Janji,” Yosuke berkata.
=//=
Setelah tiga hari Maya dan Masumi hanya menghabiskan waktu dengan mengayuh bahtera asmara, akhirnya keduanya mulai memutuskan untuk menikmati bulan madunya dengan berkeliling di Paris.
Dimulai dengan mengunjungi asrama dan akademi tempat Maya bersekolah, lalu ke tempat teman-teman Maya, termasuk Louis.
Kecemburuan Masumi segera menguap, karena apa yang Maya katakan dulu mengenai Louis benar. Tampaknya pemuda itu lebih tertarik kepada dirinya ketimbang Maya.
Kemudian keduanya menaiki menara Eiffel, ke Versailles, mengunjungi museum Louvre, mengunjungi perkebunan anggur dan melihat bagaiman mengolahnya menjadi minuman yang lezat, lalu mengunjungi Notre Dame, dan juga perjalanan menyusuri Sungai Sienne dengan menggunakan bot.
Keduanya bersenang-senang dengan perjalanan bulan madu mereka. Terlebih lagi setiap hal yang mereka lakukan,  begitu penuh keromantisan. Kadang makan malam dan berdansa di sebuah restoran mahal dan bergengsi, dan malam lainnya melakukan candle light dinner, pada suatu hari keduanya berjacuzzi seraya menikmati sampanye, di waktu lain mereka berendam bersama di dalam bath tub yang penuh buih dan ditemani lilin aromaterapi di sekeliling mereka.

Setiap kebersamaan mereka terasa begitu bermakna. Maya tidak pernah mengira bahwa suaminya itu ternyata begitu romantis dan sangat pandai membuatnya terbang mengawang dengan setiap perbuatan dan perkataannya. Dan rasa cinta Masumi yang memang membabibuta dan mungkin akan membuat sebagian besar wanita berlari kabur dari pria semacamnya, malah membuat Maya mengikatkan diri semakin kuat kepadanya.
Tanpa terasa sepuluh hari kebersamaan mereka selesai sudah. Saat ini, dengan berat hati suami istri itu sudah kembali berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Jepang.
Kembali Maya menyandarkan kepalanya di lengan Masumi. Perasaan bahagianya begitu membuncah. “Sayang, apa nanti senin kau sudah langsung bekerja lagi?” tanya Maya.
“Benar, Sayang. Aku sudah terlalu lama meninggalkan kantor,” katanya.
Maya mengerucutkan bibirnya tidak rela. “Masa hanya libur satu hari saja besok…” protes istrinya.
“Iya, aku menyisakan banyak sekali pekerjaan, Sayang. Tapi jangan khawatir, akan aku usahakan untuk pulang sebelum makan malam,” janjinya.
Maya tersenyum senang mendengarnya.
“Sayang, apa kau juga… ingin langsung bekerja? Bukankah sudah banyak tawaran yang datang kepadamu? Ada yang menarik minatmu?” tanya Masumi.
“Belum, aku belum meninjaunya lagi. Aku sedang sangat menikmati peranku sebagai istrimu,” Maya berkata.
Masumi tertawa mendengarnya.
“Danna-sama, kurasa, satu atau dua minggu ini aku akan di rumah saja, mungkin sesekali ke rumah Ayah. Aku ingin belajar memasak pada Bu Michie,” terang Maya. “Aku ingin belajar menjadi istri yang baik untukmu. Setidaknya, aku ingin mengantarmu pergi bekerja dan menunggumu pulang dari kantor.”
Masumi terdiam tampak memikirkan sesuatu. “Sayang, apa kau tidak mau menjadi aktris Daito? Bersamaku?” tanya Masumi.
Maya tertegun. Kembali teringat pertanyaan yang sempat dilontarkan teman-teman teaternya. “Sayang,” suara Maya mulai merayu. “Aku tidak bisa meninggalkan teman-temanku begitu saja. Kami berjuang bersama. Aku pun belajar banyak dari mereka—“
“Sayang, dengarkan aku. Aku tidak hanya berbicara mengenai dirimu,” kata Masumi. “Teater Mayuko, dan Ikkakuju, berisi para pemain teater yang sangat berbakat, namun tidak mengalami kemajuan yang pesat karena mereka tidak memiliki orang-orang yang dapat mendorong mereka lebih maju. Belum lagi, kalian sudah tidak punya guru akting. Benar kan?” kata Masumi.
Maya mengangguk.
“Karena itu, aku ingin mengajak kau dan teman-temanmu masuk Daito. Tidak perlu menjadi bagian dari teater Hayami, hanya masuk manajemen kami. Kami bisa memproduksi sandiwara kalian dan membantu promosinya. Hanya saja,” Masumi berkata. “Kalian tidak akan menjadi bagian dari teater Hayami, melainkan teater kalian sendiri. Kau dan teman-temanmu bisa merekrut junior kalian dan melatih mereka. Segmentasi kalian bisa dibedakan. Jika Hayami berisi murid-murid dari kalangan atas teater kalian bisa merekrut mereka-mereka yang berbakat namun tidak ada biaya masuk teater Hayami, seperti dirimu dulu. Mungkin awalnya, akan terkesan kurang berkelas ketimbang Hayami,” Masumi menelan ludahnya. “Namun dengan adanya kau di sana, aku yakin sekali, teater kalian tidak akan kalah bergengsi dari teater Hayami. Semua orang sudah tahu siapa kau, semua orang sudah tahu kehebatan bu Mayuko yang menjadi gurumu. Jadi kurasa, tidak akan ada yang memandangnya sebelah mata. Malahan, mungkin orang-orang akan lebih menghargai teatermu nantinya. Bagaimana?” tawar Masumi.
Maya tampak mempertimbangkannya. “Aku akan membicarakannya dengan teman-temanku nanti. Kurasa teman-teman akan sangat senang mendengarnya.”
“Jika teman-temanmu setuju, kita bisa mengadakan pertemuan untuk mematangkan rencananya, agar bisa mencapai kesepakatan yang baik untuk kedua belah pihak,” kata Masumi.
Maya mengangguk, sebelum berseloroh. “Danna-sama, kita masih belum mendarat, kau sudah membicarakan pekerjaan.”
Suaminya itu tertegun, lantas tertawa kecil. “Maaf,” katanya. “Barusan kepala dan mulutku bekerja sendiri tanpa kukehendaki,” katanya.
Maya ikut tertawa dengannya.
=//=
Selanjutnya hari-hari Maya dan Masumi semakin dipenuhi dengan kepadatan pekerjaan serta popularitas keduanya yang semakin menanjak.
Maya belum memutuskan hendak mengambil peran apa lagi. Ia mendapat tawaran dari banyak pihak untuk kembali mementaskan Bidadari Merah, dan Maya pun belum menerima tawaran tersebut walaupun sudah membicarakannya dengan Kuronuma mengenai hal itu.
Maya hanya mengambil pekerjaan yang kecil-kecil. Seperti menjadi bintang tamu di televisi, syuting iklan, pemotretan majalan, atau menjadi bintang tamu di film dan dorama. Tidak banyak tampil, namun namanya tetap terpampang besar-besar dalam titel kredit.
Saat Ia ditanyai para wartawan kenapa hanya memilih menjadi bintang tamu dan apakah sudah ada rencana proyek besar yang akan dipilihnya, Maya menjawab apa adanya. Ia mengatakan bahwa Ia masih menikmati berperan sebagai istri Masumi, dan Ia tetap tampil sebagai bintang tamu adalah bentuk pemenuhan hasratnya untuk berakting.

“Lagipula, bagi saya, sukses dalam membawakan peran, memberikan kesenangan bagi diri saya, terlepas apakah itu sebuah peran utama, atau peran figuran. Saya sangat mencintai akting. Dan selama saya masih bisa berakting, sekecil apa pun itu, dengan senang hati saya akan menjalankannya. Saya sendiri tidak hendak menerima tawaran peran yang besar jika saya hanya akan setengah-setengah menjalankannya. Dan saat ini, peran terbesar saya adalah menjadi istri suami saya, Pak Masumi Hayami. Dan saya pun tidak ingin menjalankan peran saya ini setengah-setengah karena sampai saat ini, ini adalah peran paling penting yang pernah saya dapatkan,” katanya dengan anggun, saat ditanyai setelah menjadi bintang tamu dalam dorama terbaru Nikkei TV.
Maya memang sudah banyak berubah. Ia jelas sudah semakin dewasa, pembawaannya semakin tenang dan aura bintangnya bersinar semakin terang. Namun Ia tidak pernah terlihat sombong. Kesederhanaannya, kepolosannya dalam berekspresi membuat orang-orang menilainya sebagai wanita yang rendah hati dan tulus. Publik benar-benar mencintai Maya Hayami, dan menasbihkannya sebagai salah satu figur publik yang pantas diidolakan.
=//=
Hari natal di Jepang sangat identik sebagai hari dimana orang-orang menghabiskan waktu bersama para kekasihnya. Tidak jauh berbeda dengan hari valentine, hanya saja tidak melibatkan coklat dan warna pink, melainkan cake natal dan hadiah.
Pada malam ini, Mai membawakan cake natal buatannya untuk dinikmati bersama di tempat kekasihnya, Sakurakoji.
Rei dan Sawajiri makan malam romantis di sebuah restoran Italia. Dan saling bertukar hadiah di sana sementara membicarakan kapan Sawajiri akan datang ke rumah Rei.
Dan malam ini, Hijiri memutar sebuah piringan hitam yang mengalunkan musik klasik yang mengiringinya berdansa bersama Mizuki di kediamannya.
Sementara Maya menikmati tehnya seraya menyalakan televisi. Suasana hatinya sangat bahagia. Menanti tidak sabar suaminya pulang. Di dapur, sudah ada cake natal dan di ruang makan, meja makan sudah ditata sedemikian rupa untuk menyambut suaminya.
Wanita itu bergegas saat mendengar suaminya datang, dan menyambutnya. Keduanya lantas makan malam bersama diiringi alunan musik yang lembut. Lantas mereka beranjak ke lantai atas, saling memanjakan di depan perapian, saling berbagi dan bercerita banyak pada satu sama lain. Kemudian keduanya saling membuka hadiah masing-masing.
“Ini untukmu,” Masumi menyerahkan sesuatu kepada Maya.
Maya tersenyum sambil membuka kadonya. “Padahal kau sudah banyak sekali memberiku hadiah,” katanya, membuka kado berbentuk kotak kecil itu. Maya mengeluarkan kadonya yang tidak lebih besar dari telapaknya.
Seutas pita merah.
Maya tertegun. Ia tidak mengerti. “Apa ini?” tanya Maya.
Masumi tersenyum. “Aku sudah mendapat persetujuan untuk membuka unit teater baru untukmu dan teman-temanmu. Kau jterdaftar sebagai penanam modal terbesar di sana, dengan uang hasil kontrakmu dan Daito sebelumnya,” Masumi tersenyum. “Itu adalah pita yang akan kau gunting nanti saat meresmikannya. Kau akan memiliki teatermu sendir.”
Maya tidak dapat berkata-kata. “Benarkah?” katanya haru.
Masumi mengangguk. “Kau bisa mulai memikirkan namanya dari sekarang. Kami tidak akan ikut campur. Kami hanya akan berperan sebagai sponsor. Sisanya terserah kau dan teman-temanmu.”
Maya bangkit di lututnya dan memeluk suaminya erat. “Terima kasih banyak. Aku mencintaimu, Masumi Hayami…”
Masumi tersenyum. “Mana kadoku?” tanyanya.
Maya memisahkan dirinya, menyerahkan sebuah kado kepada Masumi. “Untukmu.”
“Terima kasih,” Masumi tersenyum hangat dan mulai membuka kado tersebut, meraih isinya. Sebuah kain.
Tepatnya sebuah baju dengan ukuran sangat kecil. Masumi terenyak, jantungnya berdebar keras. Ia meraih amplop yang ada di sana dan membuka seraya menatap tidak percaya kepada Maya.
Ia lantas membaca kertas yang berada di dalamnya. Keterangan hasil tes kehamilan Maya.
Positif.
“Ini…” Masumi berdesis tidak percaya. Suaranya hampir tidak keluar. Ia memandang istrinya, “Kau….”
Maya tersenyum lebar, mengangguk.
“Kau hamil..?” tanyanya tidak pertaya.
“Iya…” Maya membenarkan setengah terpekik bahagia.
“Kau hamil!!” Seru Masumi gembira, Ia lantas memeluk istrinya. “Terima kasih, Sayang, terima kasih!!” Ia berdebar-debar, “aku akan jadi Ayah…” ucapnya, dengan kebahagiaan meluap dan penuh rasa haru.
“Iya…” Maya sudah menangis. Air matanya menetas. “Kau akan menjadi Ayah…”
Masumi melepaskan pelukannya, Ia lalu meraba perut Maya. “Di sini…” katanya, terharu. “Ada buah hati kita…” Ia berkata lembut, selembut belaian tangannya. “Anak kita…” Ia menatap istrinya penuh kebahagiaan. “Ayah pasti akan sangat senang jika mengetahuinya.”
“Aku bermaksud ke rumahnya besok,” kata Maya.
Masumi mengangguk setuju. “Kapan kau pergi ke dokter?” tanyanya.
“Minggu lalu. Sekarang bayi kita memasuki 6 minggu,” Maya menerangkan.
“Jadi kurang lebih, delapan bulan dari sekarang aku akan jadi ayah?”
Maya mengangguk.
Masumi meraih kedua tangan istrinya, meremasnya lembut dan menciuminya. “Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kalian berdua,” janjinya. “Kalian adalah harta paling berharga bagiku,” Ia lantas memandangi Maya penuh cinta. “Aku benar-benar sangat bahagia. Satu persatu mimpiku menjadi nyata,” menyusuri wajahnya dengan tatapan lembut penuh kasih. “Tidak ada lagi hal yang lebih membahagiakan bagiku dari semua yang sedang kujalani saat ini. Aku sekarang sudah tidak perlu bermimpi lagi. Hidupku sudah lebih indah dari impian terindah manapun.”
Air mata Maya kembali meleleh turun. Ia mendekatkan wajahnya kepada wajah kekasihnya. “Aku bahagia sekali, bisa berperan dalam kehidupanmu…”
Masumi tersenyum lebar, berbisik lembut di bibir Maya. “Kau pemeran utamanya, Kekasihku…”
Keduanya lantas kembali merasakan kehangatan bibir satu-sama lain, merasakan sentuhan-sentuhan lembut penuh rasa cinta mendalam.
Saat bibir keduanya terpisah, senyuman itu kembali terlukis di wajah mereka.
“Ah! Danna-sama!!” Maya tertegun, meperhatikan keluar jendela. “Ayo lihat!!” Ia menarik tangan Masumi bangun.
“Ada apa?” tanya Masumi.
Maya membuka pintu menuju balkon. “Salju pertama sudah turun…” gadis itu berkata. “Indah sekali…” ujarnya takjub.
Masumi ikut menengadah, memperhatikan butiran-butiran putih salju perlahan turun menyentuh bumi. “Benar indah sekali…” kata Masumi. Ia menoleh kepada istrinya, lantas mendekap pundaknya erat, memberikan kehangatan. “Dan kenyataan bahwa aku menyaksikannya bersamamu, membuatnya jadi terasa lebih indah lagi…” Ia mengecup kepala Maya perlahan. “Aku mencintaimu…”
Maya menengadahkan wajahnya, menatap Masumi dengan wajah yang begitu tenteram. “Aku juga sangat mencintaimu.”
Dan keduanya kembali berciuman.
Sementara salju turun semakin banyak, semakin lama semakin deras. Menebal dan meninggi di permukaan tanah, membersihkan semua benda yang disentuhnya.
Sebagaimana rasa cinta kedua belahan jiwa yang akhirnya dipertemukan dan dipersatukan takdir tersebut. Seiring berlalunya waktu dan bertambahnya usia, cinta keduanya terus semakin bertumpuk dan menebal di dinding hati satu sama lain. Maya dan Masumi yakin, apapun rintangan yang menunggu mereka, kekuatan cinta kasih mereka akan mampu mengatasinya. Selama keduanya terus bersatu.
Sepasang Kekasih…
Belahan Jiwa.

<<< Finally Found You- The Ending. END >>>

Terima kasih untuk yang sudah setia mengikuti sampai akhir, untuk semua dukungan dan komentar-komentarnya yang sangat berharga. It;s means a lot to me.
Thank you so much Darlings<3<3<3
 

An Eternal Rainbow Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting