Showing posts with label Author: Natalie Choi. Show all posts
Showing posts with label Author: Natalie Choi. Show all posts

Thursday, 8 December 2011

Fanfic TK : True Love

Posted by Gracie at 16:09 8 comments

Genre : Romance, Hurt/Comfort & Angst

Based on a very beautiful note about true love, called “Does Love Need A Reason?”


True Love

(By Natalie Choi)


Ayumi tersenyum bahagia kepada tunangannya, Hammil. Mereka baru saja keluar dari sebuah butik khusus yang menyediakan segala macam perlengkapan bagi sebuah pesta pernikahan. Ya, mereka berdua akan segera menikah dalam waktu dekat ini. Setelah melewati masa satu setengah tahun berpacaran dan tiga bulan pertunangan, akhirnya hari bahagia bagi mereka berdua akan segera dilangsungkan minggu depan. Kisah cinta mereka berdua bisa dimasukan dalam kategori yang unik. Ayumi yang pada mulanya hanya menganggap Hammil sebagai seorang wartawan yang suka mengusik kehidupan pribadinya akhirnya kini bisa berubah haluan dan membuka hatinya untuk menerima cinta tulus yang ditawarkan oleh pria berkewarganegaraan Prancis itu.

Perhatian, perlindungan dan juga dukungan dari Hammil yang selalu diterimanya ketika ia tengah bersaing dengan Maya dalam memperebutkan gelar Bidadari Merah menjadi alasan yang kuat bagi Ayumi untuk mau menjadi pendamping Hammil. Tak bisa dipungkiri kelembutan yang telah diberikan pria tersebut kepadanya ketika ia tidak dapat melihat dulu telah menorehkan suatu perasaan sayang yang kuat dalam diri Ayumi kepadanya. Berkat Hammil pulalah, ia kemudian mau menjalani operasi untuk memulihkan kondisi penglihatannya seperti sedia kala.

Ayumi masih belum bisa mengerti, mengapa Hammil bisa jatuh cinta kepadanya mengingat segala macam kesinisan dan juga penolakan yang pernah dilakukan dan diberikan oleh Ayumi kepadanya pada masa lalu. Sebenarnya mudah saja bagi Hammil untuk pergi meninggalkannya ketika ia buta dulu, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, Hammil tetap berada di sisinya dan tak pernah membiarkannya sendiri.

Setiap kali Ayumi menanyakan akan hal mengapa Hammil tetap mau berada disisinya hingga kini, jawaban yang diterimanya dari mulut pria itu selalu saja sama, yaitu : “Karena aku sangat mencintaimu”. Lalu ketika Ayumi kembali bertanya mengapa Hammil bisa jatuh cinta kepadanya, pria itu pun selalu saja menjawab : “Entahlah, aku tidak tahu Ayumi. Yang aku tahu, aku sangat mencintaimu”.

Tentu saja jawaban seperti itu tidak membuat puas seorang Ayumi Himekawa. Baginya tidak mungkin tidak ada alasan bagi Hammil untuk jatuh cinta kepada dirinya. Setiap orang pasti memiliki setidaknya satu alasan kuat untuk bisa jatuh cinta kepada orang lain bukan?. Seperti misalnya dirinya yang bisa jatuh cinta kepada calon suaminya tersebut karena segala macam bentuk perhatian dan kasih sayang yang sudah diberikan oleh Hammil kepadanya selama ini. Akhirnya Ayumi bertekad untuk mendesak tunangannya itu memberitahukan kepadanya apakah yang menjadi alasan pria tersebut untuk bisa jatuh cinta kepada seorang wanita seperti dirinya. Ia harus tahu, setidaknya sebelum pesta pernikahan mereka digelar pada minggu depan.

“Gaunnya bagus sekali ya” ungkap Ayumi kepada Hammil ketika mereka berdua akhirnya duduk di dalam sebuah CafĂ© yang terletak tidak jauh dari butik tempat Ayumi mencoba gaun pengantinnya tadi.

“Jikalau dirimu yang mengenakan, kain sarung pun pasti akan terlihat sangat indah” ujar Hammil seraya mencium lembut pipi Ayumi yang kini mulai merona akibat pujian yang diberikan olehnya tersebut.

“Dasar pria Prancis pandai merayu” ucap Ayumi manja, dipalingkannya wajah cantiknya itu kearah luar jendela yang berada di sebelah tempat duduknya untuk menyembunyikan rasa malu yang ia rasakan tadi. Sementara itu Hammil hanya bisa tertawa melihat tingkah pola kekasihnya tersebut. Dibelainya sayang rambut ikal indah milik Ayumi dan didekatkannya bibirnya ke daun telinga yang berhiaskan sebuah anting mutiara indah itu serta berbisik lembut

“Aku sangat mencintaimu, sayang”

Ayumi tersenyum senang mendengarnya. Segera diputarkannya kembali kepalanya sehingga wajahnya kini berhadapan secara langsung dengan wajah tampan milik Hammil.

“Sungguh?” tanyanya yang di sambut oleh anggukkan mantap oleh Hammil.

“Kenapa kau bisa jatuh cinta kepadaku, Hammil?” Tanya Ayumi sejurus kemudian. Ditatapnya lekat-lekat mata pria tersebut, menuntut sebuah jawaban. Namun seperti biasa, jawaban yang diterimanya selalu saja sama seperti yang sebelum-sebelumnya

“Entahlah sayang. Aku tidak tahu. Yang aku ketahui hanyalah bahwa aku sangat mencintaimu” jawab Hammil sambil membelai lembut pipi Ayumi dengan jari jemarinya.

Ayumi menghela nafas. Ia sangat bosan dengan jawaban yang sama yang selalu diterimanya. Apakah Hammil tidak mengerti bahwa ia menginginkan sebuah alasan yang utuh mengapa Hammil sampai bisa jatuh cinta kepadanya.

“Kalau kau tidak bisa mengatakan mengapa kau bisa jatuh cinta kepadaku, bagaimana mungkin kau bisa mengatakan bahwa kau mencintaiku?” ujar Ayumi, merajuk.

Kini giliran Hammil yang menghela nafas. Akhirnya inilah mereka, kembali kepada permasalahan klasik yang selalu mereka hadapi sejak pertama kali mereka berdua mulai membina hubungan ini. Ia tahu bahwa Ayumi memang keras kepala dan jikalau ia menginginkan sesuatu maka ia akan berusaha dengan keras untuk bisa mendapatkan apa yang di inginkannya tersebut. Dilihatnya dalam-dalam wajah gadis yang senantiasa mengisi pikiran dan relung hatinya itu sejak pertama kali ia melayangkan pandangan kepadanya. Sungguh hingga saat ini pun ia masih tidak bisa mengerti mengapa ia bisa jatuh cinta kepada seorang Ayumi Himekawa. Yang ia tahu bahwa sejak pertamja kali mereka bertemu ada semacam suatu daya tarik aneh yang telah mengikatnya pada Ayumi. Ia sama sekali tidak mau berpisah dengan gadis ini barang sedetik pun.

Bagi Hammil yang seorang photographer dan wartawan berskala internasional, di luar sana masih banyak gadis yang jauh lebih cantik dan menawan daripada tunangannya ini dan ia pun karena tuntutan pekerjaan kerap kali bertemu dengan para model maupun bintang film dan artis papan atas yang pesonanya sangat menakjubkan. Namun tidak ada satu orang pun dari antara mereka yang berhasil menawan hatinya sedemikian rupa seperti yang telah dilakukan oleh Ayumi. Bagi Hammil mungkin inilah yang dimaksudkan dengan Belahan Jiwa sama seperti yang terdapat dalam kisah Bidadari Merah. Namun, bukankah dulu Ayumi pernah bersaing dengan Maya untuk menjadi Bidadari Merah? Lantas mengapa ia sama sekali tidak mengerti dan paham akan hal ini? ‘Mungkin itulah sebabnya mengapa ia sampai bisa kalah oleh saingan beratnya tersebut’ desah Hammil dalam hati.

“Ayumi sayang, aku sungguh-sungguh tidak dapat menemukan suatu alasan khusus mengapa aku bisa begitu mencintaimu, tapi aku dapat membuktikan betapa besar perasaan cinta yang kurasakan terhadap dirimu” ujar Hammil, mencoba untuk yang kesekian kalinya memberi pengertian kepada aktris yang wajahnya kerap kali mewarnai layar televisi melalui drama-dramanya yang sangat popular.

Dan seperti biasa, Ayumi masih juga belum bisa menerima jawaban semacam itu. “Bukti? Bagaimana kau bisa membuktikannya? Dengan menciumku? Dengan menikahiku? Dengan bersedia menghabiskan sisa hidupmu bersama denganku?” Disingkirkannya tangan Hammil yang sedari tadi berada di wajahnya. Ia merasa kesal sekali karena sampai dengan saat ini, satu minggu sebelum pesta pernikahan mereka, Hammil masih belum juga bisa mengatakan kepadanya mengapa ia bisa sampai jatuh cinta kepada dirinya?

“Asal kau tahu, Hammil, selalu ada alasan dibalik setiap hal yang kita lakukan. Dan juga selalu ada penyebab dibalik suatu perasaan yang kita rasakan, baik itu perasaan senang, sedih, marah ataupun kecewa. Demikian pula dengan cinta, Hammil. Kita tidak mungkin bisa begitu saja jatuh cinta pada seseorang tanpa alasan yang pasti kan?”

Hammil memperhatikan baik-baik ekspresi wajah Ayumi ketika ia mengatakan akan hal itu. Ia tahu bahwa saat ini tunangannya itu pasti sedang emosi karena ia tidak memperoleh apa yang dinginkannya, namun karena ia adalah seorang aktris yang handal, ia mampu menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya tengah ia rasakan itu dibalik wajah cantiknya yang terlihat tenang. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya Hammil ingin menjadi penyebab Ayumi mengalami kekecewaan. Ia begitu mencintai gadis itu sehingga bersedia melakukan apa saja untuk membahagiakannya. Dan jikalau dengan mendengar alasan mengapa ia bisa jatuh cinta kepadanya akan membuat Ayumi bahagia, maka Hammil pun bersedia melakukannya, walaupun itu berarti ia harus berpikir terlebih dahulu untuk mengutarakan hal-hal yang sebenarnya hanya menjadi sesuatu yang sekunder dari rasa cinta yang begitu besar yang dirasakannya kepada putri pasangan sutradara dan artis terkenal Jepang tersebut.

“Baiklah…baiklah. Aku mencintaimu karena kau sangat cantik, Ayumi. Karena suaramu yang merdu, karena senyumanmu yang menawan, karena gerakanmu yang lincah seperti kupu-kupu dan juga karena sifatmu yang ramah dan selalu memperhatikan oaring lain” Akhirnya Hammil memberikan beberapa alasan umum yang biasa dipakai dalam sebuah novel, film ataupun sandiwara untuk menyenangkan hati Ayumi.

Ayumi tersenyum puas mendengarnya. Akhirnya ia memperoleh jawaban yang selama ini selalu ingin didengarnya keluar dari mulut Hammil. Dengan rona bahagia, ia merapatkan tubuhnya ke arah Hammil untuk kemudian mencium bibir pria itu secara lembut dan menyandarkan kepalanya dengan manja di dada kokoh tunangannya itu, seraya berjanji dalam hati bahwa sampai kapanpun ia akan tetap menjadi Ayumi yang demikian agar Hammil dapat terus mencintainya.

Namun apalah dayanya, ketika dalam perjalanan pulang bersama dengan sopir pribadinya, mobil yang ia tumpangi mengalami suatu kecelakaan fatal yang mengakibatkan Ayumi harus berada dalam kondisi koma selama beberapa waktu sesudahnya. Kepada Hammil dan pihak keluarga serta teman-teman dekat Ayumi, dokter mengatakan bahwa kecelakaan yang menimpa Ayumi sangat parah. Ia mengalami patah tulang punggung dan juga kaki yang mengakibatkan ia lumpuh total secara permanen sehingga harus berada diatas kursi roda seumur hidupnya. Tetapi yang paling parah adalah wajahnya yang hancur karena terkena serpihan kaca jendela mobil yang pecah.

Dengan kesedihan yang mendalam, Hammil menguatkan hatinya dan melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruangan tempat Ayumi dirawat. Ia sempat tertegun ketika melihat banyak sekali selang yang mengelilingi tubuh Ayumi dan juga perban yang membalut sebagian besar wajahnya. Dengan berat hati, dipaksakannya dirinya untuk mendekati ranjang tempat kekasihnya terbaring tak sadarkan diri itu.

“Ayumi….” Ujarnya setengah tercekat “Karena wajahmu yang cantik itulah makanya aku bisa mencintaimu. Sekarang, apakah kau cantik? Tidak, Ayumi, sekarang kau sama sekali tidak cantik. Wajahmu hancur dan rusak. Jadi aku sama sekali tidak dapat mencintaimu”

“Karena suaramu yang merdu itulah makanya aku bisa mencintaimu. Sekarang apakah kau dapat berbicara? Tidak, Ayumi, saat ini kau sama sekali tidak dapat berbicara. Jadi aku sama sekali tidak dapat mencintaimu”

“Karena senyumanmu yang indah dan menawan makanya aku bisa jatuh cinta kepadamu. Sekarang, apakah kau dapat tersenyum? Dapatkah kau tertawa? Tidak bukan? Maka dari itu aku tidak dapat mencintaimu lagi”

“Karena sifatmu yang ramah dan penuh perhatian serta karena kelincahanmu makanya aku dapat jatuh cinta kepadamu. Sekarang dapatkah kau tunjukan semua itu kepadaku? Dapatkah kau bergerak, dapatkah kau berjalan, dapatkah kau berlari? Tidak bukan? Maka dari itu aku tidak bisa mencintaimu lagi, Ayumi”

Sebutir air mata jatuh membasahi wajahnya yang tampan ketika ia selesai mengatakan semua hal itu. Diraihnya tangan Ayumi yang dihiasi oleh berbagai selang dan infusan penyambung nyawa itu lalu dikecupnya secara lembut dan dalam.

“Kau lihat, sayang, jikalau cinta itu membutuhkan rangkaian alasan-alasan seperti tadi, maka kini sudah tidak ada lagi alasan bagiku untuk mencintaimu. Tapi karena aku sama sekali tidak membutuhkan alasan apapun juga untuk mencintaimu, maka sampai kapanpun dan dalam kondisi yang bagaimanapun aku akan tetap dan selalu mencintaimu karena kau adalah wanita yang diciptakan untukku, sama seperti diriku yang diciptakan khusus oleh Tuhan untuk mencintaimu dan menerimamu sebagaimana adanya” ujar Hammil lembut. Kini pria itu benar-benar menangis, meluapkan segala macam kesedihan dan kepedihan yang dirasakannya karena melihat kondisi belahan jiwanya saat ini. Sungguh ia berdoa kepada Tuhan dalam hati, meminta jikalau sekiranya boleh biarlah ia saja yang berada di posisi Ayumi saat ini. Ia sungguh rela menggantikan kekasihnya itu karena tak sanggup rasa hatinya melihat wanita yang dicintainya itu berada dalam penderitaan seperti saat ini.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Kondisi Ayumi kini perlahan mulai membaik. Walaupun kini dirinya sudah bukan seperti dirinya yang dulu namun ia tetap bersyukur bahwa di tengah masa-masa suram hidupnya saat ini, Hammil selalu berada di sisinya untuk menolong dan menjaganya serta meneranginya dengan cahaya cinta yang tulus. Suatu cinta sejati yang tanpa syarat dan tidak lekang oleh waktu dan kondisi.

Dua tahun setelahnya, Ayumi dan Hammil akhirnya melangsungkan pernikahan mereka yang sempat tertunda. Sang pengantin wanita yang duduk di kursi roda dengan sebagian besar rambut menutupi wajahnya yang hancur akibat kecelakaan yang dialaminya waktu itu tampak tersenyum bahagia kearah mempelai pria yang menunggunya di depan altar ketika sang ayah tercintanya mendampinginya dengan mendorong kursi rodanya tersebut untuk menuju ke tempat kudus dimana ia akan dipersatukan dengan kekasihnya dalam sebuah pernikahan suci. Akhirnya kini ia bisa melihat bukti kesungguhan cinta Hammil kepadanya dan mengerti bahwa kita sama sekali tidak membutuhkan suatu alas an untuk mencintai seseorang.


“True love never dies for it is lust that fades away. Love bonds for a lifetime but lust just pushes away”

(Unknown)

“Immature love says ‘I Love you because I need you’. Mature love says ‘I need you because I love you”

(Unknown)


THE END


Maaf ya kalo ceritanya rada maksa. Maklum cuma ide yang tiba-tiba muncul di kepala ^^

Monday, 5 December 2011

Fanfic TK : If I’m Not In Love With You

Posted by Ty SakuMoto at 10:07 13 comments
Rating : 18+ kissu kissu

Genre : Romance

Setting : Bidadari Merah 4, saat Maya dan Masumi terperangkap dalam hujan besar di lembah plum yang mengharuskan mereka untuk bermalam berdua di dalam sebuah kuil tua disana.

Based on a love song by Faith Hill called “If I’m Not In Love”. Maaf kalo ceritanya kurang berkenan ya



If I’m Not In Love With You
(By Natalie Choi)
It hurts to love someone and not to be loved in return. But what is more painful is to love someone and never find the courage to let that person know how you feel
(Unknown)
“Anda mencintai anak itu!”

Seperti baru kemarin saja Masumi mendengar kata-kata itu terucap dari bibir Mizuki, sekretaris pribadinya yang juga menjadi salah satu anak buah kepercayaannya. Kata-kata yang membangkitkan suatu kesadaran emosional didalam dirinya akan perasaan yang ia rasakan terhadap seorang gadis yang selama itu tidak ia mengerti.

Ia ingat dengan jelas bagaimana terkejut dirinya ketika mendengar Mizuki mengutarakan hal itu secara terang-terangan kepadanya. ‘Cinta? Yang benar saja!’ Itulah yang pertama kali timbul didalam pikiran Masumi kala itu. Sebagai seorang pebisnis muda yang sangat sukses dan juga direktur dari sebuah group perusahaan besar yang sangat berpengaruh di Jepang, otaknya menolak mentah-mentah semua perkataan yang dilontarkan oleh sekretarisnya tersebut. Mana mungkin ia jatuh cinta pada seorang gadis kecil yang usianya terpaut cukup jauh darinya. 11 tahun lebih muda tepatnya. Itu semua sungguh merupakan suatu hal yang sangat mustahil. Apa yang akan dikatakan oleh para rekan bisnisnya dan media masa jika mereka mengetahui akan hal ini? Terlebih apa yang akan dikatakan dan dilakukan oleh ayahnya jika beliau sampai mendengar segala kegilaan yang telah ia lakukan selama ini untuk gadis itu? Sudah pasti tiada ampun lagi baginya dan ia akan kehilangan segala hal yang telah ia bangun selama ini. Ia akan kehilangan kesempatan untuk membalas dendam akan kematian ibunya kepada ayahnya tersebut. Maka dari itulah semua hal yang ia rasakan pada gadis itu pastilah hanya merupakan perasaan kekaguman dari seorang penggemar kepada aktris pujaannya, tak lebih dari itu.

Berulang kali Masumi harus mengucapkan kata-kata itu di dalam hatinya hanya untuk menguatkan keyakinannya akan hal tersebut. Jikalau ia memperhatikan gadis itu, itu semuanya hanyalah karena ia adalah aktris yang sangat berbakat, telur emas bagi Daito dimasa depan dan yang terutama gadis itu adalah salah satu calon Bidadari Merah, suatu maha karya agung dalam dunia teater Jepang yang sudah sejak lama hak pentasnya ingin dimiliki oleh Masumi. 

Tapi entah mengapa semakin ia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sama sekali tidak menaruh perasaan special kepada gadis itu, hatinya justru mengatakan hal yang sebaliknya. Hari demi hari perasaan yang ia rasakan terhadap gadis itu mulai bertumbuh kearah yang berlawanan dari perasaan yang seharusnya dimiliki oleh seorang fans kepada idolanya atau seorang pengusaha kepada barang dagangannya. Entah sejak kapan gadis itu mulai menghiasi mimpi-mimpinya setiap malam. Entah sejak kapan ia mulai merasakan perasaan rindu yang menggelora di dalam dadanya jika ia tidak bertemu dengan gadis itu. Entah sejak kapan ia menginginkan agar gadis itu dapat selalu berada disisinya setiap waktu. Entah sejak kapan ia mulai mengemudikan mobilnya seorang diri didalam gelapnya malam kearah tempat tinggal gadis itu hanya untuk memperhatikan bangunan tersebut seraya berharap agar ia dapat melihat setidaknya sebuah bayangan saja dari gadis itu untuk dibawanya kealam mimpi ketika ia tidur nanti sebelum akhirnya ia pulang ke rumah dan beristirahat dari segala kelelahannya sepanjang hari.

Entah sejak kapan ia mulai merasa cemburu kepada setiap pria yang berada dekat dengan gadis itu dan menjadi lawan mainnya. Masumi ingat bagaimana hancur perasaannya ketika ia harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri dan mendengar dengan telinganya sendiri ketika gadis itu menyatakan perasaan cintanya kepada salah satu actor yang menjadi lawan mainnya di sebuah drama televisi ketika itu. Insting pertama yang timbul didalam dirinya kala itu adalah betapa sangat ia ingin menghajar pemuda itu dan menyuruhnya untuk menjauhi gadis itu sejauh-jauhnya. Ingin sekali ia memeluk gadis itu dan mengatakan padanya agar jangan bersama dengan pemuda itu. Tapi beruntung akal sehatnya berhasil mengalahkan emosi sesaatnya kala itu sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah menghancurkan gelas sampanye yang tengah digenggamnya saat itu sambil menyaksikan dengan perasaan yang remuk-redam gadis itu berlalu penuh dengan senyum dan binar kebahagiaan bersama dengan pemuda pilihan hatinya.

Akhirnya ia sadar sepenuhnya bahwa ia memang telah jatuh cinta kepada gadis itu. Gadis bertubuh mungil namun memiliki semangat yang sangat besar di dalam dirinya. Ia jatuh cinta setengah mati kepada gadis itu dan hampir gila karenanya. Ya, gila karena selama ini semenjak peristiwa penculikan yang dialaminya saat anak-anak, ia telah bersumpah bahwa ia tidak akan mencintai dan berusaha untuk tidak dicintai oleh siapa pun. Ia bahkan sudah lupa bagaimana rasanya dicintai dan mencintai seseorang sejak kematian ibunya yang merupakan satu-satunya orang yang paling ia kasihi dimuka bumi ini. Maka dari itulah selama ini ia selalu menjadi seorang pria yang sangat dingin dan tak berperasaan. Tetapi kini hal yang terjadi justru sebaliknya. Sejak ia bertemu dengan gadis itu, gunung es yang selama ini menguasai hatinya sedikit demi sedikit mulai mencair. Ia pun mulai berubah menjadi seorang yang asing bagi pribadinya yang lama.

Ia mencintai gadis itu dengan cinta yang tulus dan ia tak henti-hentinya berharap agar suatu saat nanti gadis itu dapat juga mencintai dirinya dengan tulus. Namun ia sadar bahwa itu semua adalah hal yang sangat mustahil untuk terjadi, sebab gadis itu sangatlah membencinya. Entah mengapa, beberapa hal yang ia lakukan dengan maksud untuk melindungi dan membahagiakan gadis itu justru berubah menjadi hal yang telah menyakiti hati si mungil tersebut. Itulah sebabnya ia lebih memilih untuk menyimpan rapat-rapat akan perasaan cintanya itu dan harus cukup merasa puas dengan menjadi si Mawar Ungu, pengagum rahasia gadis itu yang selalu mendukungnya dalam suka maupun duka selama bertahun-tahun ini dari kejauhan.

Dan kini tanpa terasa tujuh tahun sudah ia menekan perasaannya sendiri. Tujuh tahun sudah ia bersembunyi dibalik bayang-bayang jingga. Tujuh tahun derita dimana ia harus berpuas diri dengan memandang dan mengagumi gadis yang senantiasa bersinar itu dari kejauhan. Anehnya, justru mereka sebenarnya tidak pernah saling berjauhan, sesuatu yang sungguh miris karena tampaknya ada saja hal yang dilakukan oleh Sang Takdir untuk selalu mempertemukan mereka. Pada saat ia telah memutuskan untuk melupakan gadis itu dengan menerima perjodohan dengan seorang wanita kelas atas yang sepadan dengannya, justru semakin banyak saja hal yang terjadi yang terpaksa membuatnya ia harus selalu berhubungan dengan gadis itu. Seperti yang sedang terjadi saat ini. Mereka berdua terpaksa harus menghabiskan malam bersama di sebuah kuil tua di lembah plum akibat terjebak dalam hujan besar yang disertai badai. Sebenarnya mereka tidak akan berada dalam situasi seperti ini jikalau ia tidak mengikuti kata hatinya untuk mencari gadis itu disini. Kini menyesali perbuatannya pun sudah terlambat, karena nasi telah menjadi bubur. Suka ataupun tidak, disinilah ia bersama dengan si mungil.

Masumi memandang gadis yang sedang berada dalam dekapannya tersebut dengan hati yang berdebar-debar. Seolah-olah tidak mengetahui akan kegelisahan perasaannya saat ini, gadis itu tidur dengan lelapnya dalam buaian Masumi. Belum pernah Masumi merasa begitu puas seperti yang tengah ia rasakan saat ini. Jikalau memang harus dibutuhkan pengorbanan seperti terperangkap dalam hujan besar hanya agar ia bisa mendekap cintanya seperti yang sedang ia lakukan dan alami saat ini, maka Masumi rela untuk selamanya berada di dalam kuil tua ditengah-tengah badai ini tanpa harus kembali lagi ke kehidupan normalnya. Diam-diam dalam hatinya, Masumi berharap agar hujan ini selamanya tidak akan pernah berhenti dan pagi tidak akan pernah datang. Ia ingin selamanya memeluk gadis itu, mendekapnya dengan erat dan melihat wajah mungilnya yang damai dan tenang ketika ia sedang terlena ke dalam alam mimpi seraya bertanya dalam hati apakah yang sedang ia mimpikan? Siapakah yang mendapat kehormatan untuk mengisi mimpi-mimpinya setiap malam?

Tanpa sadar Masumi mengangkat tangannya dan membelai pipi gadis itu dengan lembut sambil menggumamkan namanya dengan mesra “Maya”……

:
:
:
:
:

Maya Kitajima, atau Maya sebagaimana ia biasa dipanggil oleh semua orang, memejamkan matanya erat-erat agar tidak diketahui bahwa ia saat ini sedang berpura-pura tidur. Sungguh walaupun sebenarnya fisiknya terasa amat lelah, namun ia tidak mau tidur dalam situasi seperti ini. Tidak saat ia tengah berada dalam pelukan seorang pria yang akhir-akhir ini selalu menghiasi hati dan pikirannya. Ia hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan si mahluk gila kerja dan dingin dari Daito saat ini, sebab jika pagi menjelang maka semua yang terjadi malam ini hanyalah akan menjadi sebuah mimpi saja. Oleh sebab itu, ia ingin bermimpi indah malam ini.

Seumur hidupnya belum pernah Maya merasa senyaman dan setenang seperti yang sekarang ini dirasakannya. Tidak pernah terlintas dalam benaknya sebelumnya bahwa berada dalam dekapan seorang Masumi Hayami dapat memberikan perasaan yang begitu hangat dan nyaman kepadanya. Ia merasa dilindungi….dan dicintai.

Cinta? Ah ya…cinta. Hal yang baru saja ia akui pada dirinya sendiri beberapa saat yang lalu. Ia telah jatuh cinta kepada Pak Masumi, orang yang selama ini begitu ia benci dengan sepenuh hati. Tapi ia mencintainya. Maya Kitajima mencintai Masumi Hayami! Butuh waktu yang cukup lama bagi gadis yang baru saja menginjak usianya yang kedua puluh tahun tersebut untuk menyadari akan perasaannya kepada sang direktur muda yang banyak digilai oleh para wanita itu. Maya sungguh tak menyangka bahwa gejolak yang ia rasakan pada Masumi sejak melihatnya keluar dari mobil pribadinya dan masuk ke dalam sebuah restoran bersama dengan seorang wanita yang sangat cantik dan anggun serta mendengar kabar akan perjodohannya dengan wanita tersebut adalah cinta. Aneh memang, karena bila harus jujur Masumi Hayami bukanlah tipe seorang pria yang kepadanya Maya akan jatuh cinta. Ia dingin, egois, keras kepala, suka memaksa dan tak berperi kemanusiaan. Apapun yang dikatakan oleh pria itu selalu menyinggung perasaannya dan apapun yang dilakukan oleh pria itu selalu saja menyakiti hatinya.

Tapi entah mengapa sejak kejadian tak terduga di depan sebuah rumah makan mewah kelas atas pada suatu hari yang cerah itu, secara perlahan Maya terus menerus memikirkan Masumi. Jikalau memang benar ia membenci pria itu mengapa jiwanya terasa begitu hampa ketika melihat pria itu menggandeng mesra seorang wanita lain dan tersenyum ramah kepada wanita tersebut? Mengapa begitu kesepiannya ia saat harus menyaksikan Masumi menghabiskan waktu bersama wanita tersebut? Mengapa betapa ingin ia menangis ketika melihat kehangatan sikap yang diberikan pria itu kepada wanita anggun itu? Mengapa seolah-olah ada angin dingin yang merasuki hatinya ketika mendengar kabar bahwa ternyata Masumi telah dijodohkan dengan wanita itu? Mengapa begitu perih perasaannya ketika mendengar Masumi yang secara terang-terangan memuji wanita itu di depannya, mengenai betapa cantiknya ia, betapa baik hati, lemah lembut, ramah dan panjang sabarnya wanita itu. Betapa perhatiannya si pewaris tunggal group Takatsu tersebut kepada sang putera mahkota Daito.

Ingin rasanya Maya berteriak kala itu dan mengatakan pada Masumi agar berhenti memuji cucu Tenno Takamiya tersebut. Tapi untunglah ia sadar bahwa ia sama sekali tidak mempunyai hak untuk melakukan hal itu. Ia bukanlah siapa-siapa selain daripada seorang gadis mungil yang terpaut 11 tahun dari Masumi dan tidak memiliki apa-apa selain daripada akting dan kecintaannya terhadap dunia sandiwara. Ia tidak cantik ataupun pintar apalagi kaya. Sungguh berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan wanita itu. Jika dilihat dari sudut manapun, tidak akan mungkin seorang Masumi Hayami akan memilihnya daripada  seorang tuan putri yang memiliki pengaruh dan kekayaan yang sangat besar yang akan berguna bagi Daito dikemudian hari. Lagipula pada saat itu ia sama sekali belum menyadari bahwa kecemburuan yang dirasakannya itu adalah tanda mulai berkembangnya benih-benih cinta terhadap pria gagah yang tinggi menjulang di hadapannya tersebut yang mulai tertanam di dalam hatinya tanpa ia sadari sejak acara kencan satu hari mereka beberapa waktu yang lalu. Acara kencan yang menjadi waktu pertama kali bagi Maya untuk melihat sisi lain dari seorang direktur muda Daito Enterprise yang tidak pernah diketahui oleh dirinya dan orang lain sebelumnya. Sisi lain yang menunjukan betapa hangat, lembut dan ramahnya ia sekaligus betapa sengsara dan sepinya masa kecil yang harus dilalui oleh pria itu.

“Ya Tuhan, apakah ini karma yang harus kutanggung karena terlalu membencinya pada waktu dulu?” tanya Maya dalam hati seraya mengenang kembali masa-masa dimana kebenciannya pada Masumi begitu memuncak dan membutakannya sehingga mengakibatkan ia tidak dapat melihat betapa ramahnya senyuman yang menghiasi bibir pria itu setiap kali mereka bertemu. Tidak dapat memperhatikan betapa tulusnya perhatian yang diberikan oleh pria itu kepadanya setiap waktu. Atau tidak dapat merasakan betapa hangatnya pria itu dibalik semua sikap dinginnya. Dan tidak dapat mengerti betapa beratnya beban yang harus ditanggungnya dan betapa kesepiannya ia.

“Ada sejuta bintang yang sedang bersinar terang diatas langit saat ini, tapi mereka seringkali tidak terlihat karena kabut dan kilaunya lampu-lampu kotaMaya ingat bahwa dulu Masumi pernah mengatakan hal ini sehabis mereka berdua melihat bintang di planetarium. Saat itu entah mengapa Maya begitu tersentuh akan pernyataan yang diutarakan Masumi tersebut. Memang bintang-bintang yang bersinar demikian terang itu seringkali tidak terlihat jikalau kabut sedang datang dan menyelimuti kelamnya malam. Demikian juga hati manusia. Baru disadarinya kini bahwa seringkali ia tidak bisa melihat kebaikan dan kehangatan hati pria itu karena terhalan oleh rasa benci dan dendam yang menyelimuti dirinya.

Maya selalu berpikir bahwa pria itu adalah seorang yang dingin dan tidak berperasaan, tapi sebenarnya justru dirinya sendirilah yang tak berperasaan karena selalu saja marah-marah dan bersikap kasar tanpa sebab dan alasan yang jelas kepada pria itu setiap kali mereka bertemu. Ia selalu menganggap bahwa pria itu adalah seorang yang egois, tapi justru dirinya sendirilah yang egois karena selalu saja ia membuat ulah dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati pria itu. Maya juga selalu menganggap bahwa pria itu adalah seorang yang keras kepala, tetapi sebenarnya ia sendirilah yang jauh lebih keras kepala karena selalu menolak mentah-mentah setiap bantuan yang ditawarkan oleh pria itu kepadanya, walaupun dalam hal ini pria itu memiliki cara tersendiri yang mengakibatkan Maya menerima bantuan tersebut pada akhirnya.

Mawar Ungu. Ya Mawar Ungu. Pria itu selalu saja bersembunyi dibalik nama si pengagum rahasianya, Mawar Ungu, untuk membantu dan mendukungnya disetiap waktu. Selama ini tak pernah sedikitpun terlintas dalam benak Maya bahwa Masumi Hayami-lah yang telah menjadi penggemar setianya itu. Ia masih belum mengerti mengapa Masumi tidak langsung saja secara terang-terangan menyatakan rasa kagum kepada dirinya secara langsung. Mengapa ia lebih memilih untuk bersembunyi dibalik nama Mawar Ungu? Apakah terlampau buruk sikap yang telah ditunjukkannya selama ini sehingga membuat pria itu harus selalu menyembunyikan apa yang ada di dalam hatinya? Apa begitu mengerikannyakah sikap yang telah ditunjukannya kepada pria itu selama ini sehingga membuat pria itu harus senantiasa merahasiakan identitas dirinya sebagai santa clause-nya yang selalu baik hati? 

Sebuah belaian lembut diwajahnya menyadarkan Maya dari lamunannya tadi. Kemudian didengarnya dengan jelas pria itu menggumamkan namanya dengan mesra. “Pak Masumi” ucapnya dalam hati seraya lebih merpatkan diri ke dalam dekapan hangat pria itu “Kapankah anda akan berterus terang kepadaku? Jikalau saja tadi anda mengatakan kebenaran bahwa anda adalah mawar unguku, aku pasti akan langsung memeluk dirimu. Aku mencintaimu, Pak Masumi. Aku mencintaimu bukan karena kau adalah si mawar ungu, tetapi karena kau adalah satu-satunya pria yang berhasil membangkitkan berbagai macam emosi dan perasaan yang ada didalam diriku yang tidak pernah dibuat oleh pria-pria lain selain dirimu. Tidak Satomi, tidak juga Koji. Apa yang kurasakan selama ini semuanya berkat kau. Suka, duka, senang, sedih, dendam, rasa terima kasih, benci dan cinta itu semua sanggup aku kecap karena dirimu. Bersamamu aku selalu tidak perlu bersusah payah untuk menjadi orang lain. Aku bisa bebas menjadi diriku sendiri. Aku bisa bebas mengungkapkan semua hal yang aku rasakan tanpa adanya beban” isak Maya dalam hati. “Maafkan aku, Pak Masumi jikalau selama ini aku selalu membuat anda sedih, sakit hati dan kecewa dengan semua tindakanku. Mulai saat ini aku berjanji bahwa aku akan selalu mencintaimu, tak peduli walaupun dirimu hanya menganggap aku sebagai barang dagangan ataupun telur emas. Bagiku kau adalah segalanya. Semangat hidupku dan nafas jiwaku. Apapun yang kulakukan mulai saat ini hanyalah untuk anda, Pak Masumi” janji Maya dalam hati sebelum akhirnya ia terbuai kedalam alam mimpi.

:
:
:
:
:

Terpaan sinar matahari dan kicauan burung menyadarkan Masumi dari tidurnya. Pagi sudah datang menjelang dan hujan telah berhenti. Ada sedikit rasa sesal yang ia rasakan dalam hati melihat cerahnya cuaca dan segarnya udara pagi itu. Saatnya untuk bangun dari alam mimpi telah tiba. Ditatapnya gadis mungil yang masih tertidur pulas dengan kepala yang bersandar di dadanya tersebut. Jikalau nanti ia bangun, ia pasti akan segera hilang dari pelukannya. Terbang lepas ke angkasa seperti burung-burung yang bernyanyi merdu di luar sana. Melayang tinggi dalam kilauan sinar mentari. Ingin sekali rasanya ia menjadi langit tempat dimana burung kecil itu membentangkan sayapnya. Ingin pula ia menjadi sang surya yang menemani burung itu terbang dengan sinarnya. Tetapi ia tidak bisa. Selamanya ia hanyalah akan menjadi sebatang pohon yang tetap tertanam di bumi. Tapi walaupun demikian ia masih tetap berharap agar ia dapat menjadi pohon tempat dimana burung kecil itu berteduh dikala badai menerpa dan ketika langit menjadi suram dan meneteskan air mata. Atau menjadi tempat dimana burung itu membuat sarangnya untuk berlindung dari sengatan matahari yang ada kalanya mungkin akan terasa sangat panas dan hampir menghanguskan tubuh mungilnya tersebut.

Menyadari akan semakin sedikitnya waktu yang ia miliki untuk bersama dengan gadis itu, Masumi akhirnya semakin mengetatkan pelukannya ke tubuh kecil tersebut. Teringat kembali ia akan mimpinya semalam. Mimpi yang begitu indah. Dalam mimpinya, Maya memeluknya erat-erat seraya mengucapkan beribu kata cinta padanya. Ia pun balas memeluk gadis pujaan hatinya tersebut. Hatinya begitu terharu dan bahagia ketika mengetahui bahwa gadis itu juga ternyata memendam perasaan yang sama dengan dirinya. Bersama akhirnya mereka berjalan melintasi tumpukan pasir putih di tepian pantai Izu sambil bergandengan tangan dan bercengkrama serta tertawa lepas. Dan tepat sebelum matahari tenggelam di ufuk barat, Masumi memberanikan dirinya untuk mencium gadis itu dengan sebuah ciuman lembut yang penuh cinta mendalam. Secara mengejutkan gadis itu membalas ciumannya. Akhirnya dengan  diiringi oleh deburan ombak yang memecah lautan dan disaksikan oleh langit senja yang berwarna jingga, mereka berdua saling melampiaskan perasaan cinta yang selama ini telah terpendam di dalam hati mereka.

Masumi tersenyum. Walapun hanya dalam mimpi namun Ia merasa bahagia karena akhirnya bisa mendengar pengakuan cinta dari bibir gadis itu kepadanya. Sebuah hal yang tidak akan pernah mungkin dijumpainya dalam kehidupan nyata. Fakta bahwa gadis itu sedemikian membencinya dan juga pengaruh ayahnya dalam kehidupannya menjadi dua modal utama yang menghalangi terwujudnya mimpi itu. Jikalaupun seandainya terjadi keajaiban dan gadis itu membalas perasaannya, ayahnya sudah pasti tidak akan tinggal diam. Sang jederal tertinggi dari klan Hayami itu sudah barang tentu akan melakukan segala cara untuk memisahkan mereka dan menghancurkan gadis itu, baik karir maupun kehidupannya. Sungguh tak sanggup ia menyaksikan hal-hal buruk menimpa pujaannya itu. Maka dari itu seperti pepatah lama yang mengatakan bahwa 'mencintai tidak harus memiliki’, Masumi memilih untuk tetap menjaga jarak dan merahasiakan perasaannya kepada Maya daripada ia harus melihat Maya menderita akibat keegoisannya yang ingin memiliki gadis itu sepenuhnya, jiwa dan raga.

Masumi memperhaikan raut wajah Maya yang damai. Telah hampir tiba waktunya ia harus melepaskan burung kecilnya itu untuk terbang tinggi di angkasa.

“Cepatlah jadi dewasa, mungil. Walaupun setelah itu kau akan terbang jauh dari sisiku” ujarnya dalam hati seraya secara perlahan mendekatkan bibirnya di bibir gadis itu dan mulai menciumnya “Mimpi kita sudah berakhir”. Dan tepat setelah ia mengakhiri ciuman dan kata-katanya itu, berakhir pulalah mimpi indah gadis itu. Dengan sedikit menggeliat dan menggumamkan sesuatu yang tidak dapat ditangkap dengan jelas oleh indera pendengaran Masumi, gadis itu pun tersadar dari mimpinya bagai seorang Putri Tidur yang tebangun dari tidur panjanganya akibat ciuman sang pangeran.

:
:
:
:
:

Sebuah sentuhan halus yang ia rasakan dibibirnya memanggilnya untuk kembali ke alam sadarnya. Secara perlahan Maya membuka matanya. Pemandangan pertama yang menyambutkan kembali ke kehidupan nyata sungguh indah. Teramat sangat indah sehingga ia mengira bahwa ia masih saja bermimpi. Namun hangatnya sinar mentari yang menerpa kulitnya dan nyanyain burung-burung pagi yang terdengar dari arah pepohonan menandakan bahwa ia sama sekali tidak bermimpi. Ini adalah kenyataan. Wajah tampan seorang pria lengkap dengan senyumannya yang memikat yang semalam telah menghiasi mimpinya terhampar didepannya.

“Selamat pagi” ucap pria itu dengan suara maskulinnya yang terdengar jauh lebih merdu di telinga Maya daripada kicauan burung di luar jendela. Sungguh, ia akan rela memberikan apapun juga untuk bisa mendapatkan keindahan seperti ini di setiap kali ia terbangun di pagi hari. Dan seolah seperti mengalami DĂ©ja-vĹ­, Maya merasa bahwa ia pernah mengalami hal ini sebelumnya. Terbangun di pagi hari dengan pria ini disebelahnya, menciumnya secara lembut dan mengumandangkan ‘selamat pagi’ secara merdu di telinganya. Hanya saja mereka berdua saat itu terbaring di sebuah tempat tidur yang besar berhiaskan sebuah kelambu berwarna salju dengan pemandangan indah sebuah pantai berpasir putih yang luas dengan diiringi suara burung camar yang berkumandang dengan merdu ditemani deru debur sang ombak ditengah lautan, dan bukannya saling berpelukan di atas lantai yang keras dalam sebuah kuil tua yang jauh berada di dalam hutan lembah plum.

Maya merasakan hawa panas mulai naik ke wajahnya ketika ia kembali membayangkan akan peristiwa indah yang terjadi dalam mimpinya tadi malam dan ia yakin bahwa saat ini mukanya sudah pasti berwarna semerah tomat. Tapi sebisa mungkin ia mengontrol emosinya agar tidak terlalu terbawa perasaan dan terpengaruh akan hal itu karena biar bagaimanapun juga itu hanyalah sebuah mimpi. Maya tahu dengan pasti bahwa seindah apapun sebuah mimpi, pasti akan segera berakhir pada saat dirinya terjaga dari tidur. Dan inilah dia saat ini, kembali lagi kepada dunia realitas dan fakta yang menyisakan sedikit sekali ruang kemungkinan bagi mimpinya tersebut untuk menjadi kenyataan.

Maya kemudian memaksakan dirinya untuk tersenyum dan balas mengucapkan salam selamat pagi kepada pria yang telah bersedia secara sukarela semalam suntuk menjadi penyangga bagi tubuh mungilnya untuk bersandar dan bantal bagi kepalanya yang terkadang luar biasa kerasnya.

“Semuanya sudah berakhir. Kini aku telah kembali menjadi barang dagangannya dan bukanlah lagi sebuah telur emas yang perlu ia lindungi dari hujan dan badai. Mimpi kami telah usai sampai disini” ucapnya dalam hati seraya menatap sendu kearah Masumi yang telah bangkit berdiri dan kini sedang membereskan sisa-sisa api dalam lubang pembakaran yang semalam mereka gunakan untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya udara di luar kuil lalu kemudian melangkah keluar dari ruangan tersebut untuk memberi kesempatan kepada Maya untuk memakai kembali pakaiannya yang semalam terpaksa ia tanggalkan akibat basah terkena air hujan.

Perlahan, dengan hati yang berat, Maya mulai melepaskan jaket kulit yang semalam ia gunakan sebagai pengganti pakaiannya yang basah. Ada aroma Masumi yang tertinggal di jaket itu, dan kini aroma itu juga melekat pada kulitnya. Dihirupnya dalam-dalam wangi maskulin yang entah sejak kapan mulai membuatnya mabuk kepayang itu dan segera saja perasaan hangat menyelimuti dirinya, seolah-olah Masumi sendiri yang sedang memeluknya. Ingin sekali rasanya ia menjadi jaket itu agar bisa terus bisa berada dekat dengan Masumi dan memberikan kepada pria itu kehangatan dikala hujan, salju ataupun badai menerpa tubuhnya. Tapi apalah dayanya? Masumi sudah memiliki sebuah mantel lain yang begitu indah bermerk Shiori Takamiya yang selalu berada disisinya dan membawakan kehangatan musim semi pada hatinya yang selama ini selalu tertutup oleh badai salju.

Dilipatnya perlahan jaket kulit tersebut sambil sesekali mengusap-usap bagian-bagian yang agak kusut agar kembali menjadi licin dan halus. Saat ia melihat bintang bersama dengan Masumi beberapa waktu yang lalu juga ia menggunakan jaket ini untuk menghangatkan tubuhnya dari terpaan angin malam. Entah kapan lagi ia bisa mendapat kesempatan untuk memandang sejuta bintang yang terhampar di angkasa luas bersama dengan Masumi. Hatinya pedih bila kembali mengingat akan hal itu karena dimasa yang akan datang mungkin saja bukan lagi dirinya yang akan menjadi pendamping Masumi untuk melihat bintang-bintang tersebut, bukan lagi dirinya yang akan merasakan kehangatan genggaman tangan Masumi tatkala berjalan pulang dibawah naungan cahaya kemilau permata-permata kecil yang bertaburan menghiasi langit malam. Ingin sekali rasanya ia menjadi bintang di angkasa tersebut yang walaupun keberadaannya jauh dari sisi Masumi namun dapat menjadi penerang yang dapat memberikannya ketenangan, kebahagiaan dan kedamaian ketika dunianya berubah menjadi gelap dan suram.

Mencintai tidak harus memiliki bukan? Walaupun ingin sekali ia selalu berada di sisi Masumi namun ia tidak boleh egois. Masa depan Masumi akan jauh lebih cemerlang jika ia bersanding dengan seorang wanita yang juga berasal dari kelas atas. Seorang wanita yang memiliki harta dan juga kedudukan yang bagus di masyarakat. Seorang wanita yang akan membawa keuntungan bagi Daito bila Masumi menikah dengannya.

Akhirnya ketika ia sudah siap, dilangkahkannya kaki menuju kearah luar kuil, ketempat dimana Masumi sudah menunggunya untuk kembali pulang kepada dunia mereka masing-masing.

:
:
:
:
:
:


Love comes to those who still hope although they’ve been disappointed, to those who still believe although they’ve been betrayed, to those who still need to love although they’ve been hurt before, and to those who have the courage and faith to build trust again (Unknow)

Maya dan Masumi melangkah perlahan sambil bergandengan tangan menyusuri lembah plum. Setelah sembahyang sebentar di dalam kuil tua yang bersejarah di sana, mereka berdua memutuskan untuk menikmati pemandangan indah di kala fajar merekah di kampong halaman Bidadari Merah tersebut sebelum kembali ke mobil yang akan membawa mereka kembali ke desa setempat. Udara di pagi hari itu terasa begitu hangat. Sinar matahari yang memancar masuk ke dalam lembah melalui sela-sela pepohonan membuat daerah sekitar tempat itu menjadi terlihat lebih berseri. Tiba-tiba Maya berhenti dan melepaskan tangan mungilnya dari genggaman Masumi. Ia lantas beralih kepada sebuah pohon plum besar yang berada disisinya, mengulurkan tangannya lantas memetik sebuah tangkai yang dipenuhi bunga-bunga plum berwarna merah yang sedang bermekaran untuk kemudian diserahkannya kepada Masumi. Bunga plum itu adalah lambang cinta sang Bidadari Merah yang juga menjadi lambang cinta dan perasaannya kepada Masumi.

Dengan wajah yang penuh dengan senyuman, Maya menyerahkan rangkaian indah bunga berwarna merah tersebut kepada Masumi yang menyambutnya dengan wajah yang berseri-seri. Ketika tangan mereka bersentuhan, dapat dirasakan oleh keduanya sebuah gesekan halus terjadi pada sebuah benda kecil berwarna keemasan yang melingkar dijari manis tangan kanan mereka masing-masing. Maya menatap benda mungil tersebut seraya tersenyum bahagia untuk kemudian kembali memandang dengan tatapan penuh cinta kepada pria gagah yang berdiri dihadapannya. Masih terekam jelas kejadian tak kala hujan badai mengguyur lembah ini beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu ketika ia dan Masumi akan kembali lagi ke desa, ia sempat memberikan juga batang yang berisi bunga pohon plum ini sebagai tanda terima kasih atas pertolongan Masumi dan juga sebagai lambang perasaan cintanya kepada pria itu.

Dan kini, mereka berdua kembali berada di tempat ini. Semuanya masih tetap sama. Kuil tempat mereka berteduh di kala itu, pohon-pohon plum yang tumbuh subur disekeliling area itu, burung-burung yang berkicauan dengan merdu dan juga sinar matahari pagi yang menjadikan seisi lokasi itu tampak lebih bercahaya. Tak ada yang berubah, kecuali satu. Kini mereka berdua berjalan bersama dengan bergandengan tangan bukan lagi sebagai sang Pengusaha dan Barang Dagangan atapun sang Pengagum Rahasia  dan Aktris Pujaannya, tetapi kini mereka telah resmi sebagai sepasang suami istri, sebagai satu kesatuan utuh yang tak akan pernah terpisahkan sampai kapanpun juga.

“Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama, kekasihku” ujar Maya mesra seraya membelai dengan lembut wajah tampan milik suaminya itu.

Masumi lantas meraih tangan Maya dalam genggamannya dan membawanya mendekat kearah mulutnya untuk kemudian diciumnya dengan penuh kehangatan.

“Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama, belahan jiwaku” katanya dengan bisikan yang tak kalah mesranya dari Maya. Kemudian dengan sebelah tangannya, ia meraih Maya dan membawanya kedalam pelukannya yang hangat. Mencium keningnya secara perlahan sebelum kemudian meraup bibir berwarna merah yang merekah itu dalam sebuah ciuman panas yang penuh dengan gairah. Sungguh tak akan pernah habis hasratnya untuk selalu merasakan kelembutan yang ditawarkan oleh bibir ranum istrinya tersebut. Jikalau dulu ia harus secara sembunyi-sembunyi mencuri ciuman wanita yang telah resmi dipersuntingnya tepat setahun yang lalu tersebut, kini ia bisa secara bebas menikmati manisnya rasa yang selalu terkandung di dalam bibir mungil itu.

Meskipun setahun telah berlalu, namun ia masih belum dapat percaya bahwa kini ia telah mendapat sebuah kebahagiaan terbesar dengan menjadi suami dari seorang Bidadari Merah. Gadis mungil yang penuh dengan sejuta pesona dan bersinar terang laksana bintang di angkasa itu kini telah resmi dimilikinya secara utuh. Berbagai kesedihan dan kesusahan yang sempat mewarnai dan merintangi perjalanan cinta mereka di masa yang lalu kini dirasakannya sangat sepadan dengan kebahagiaan yang tiada taranya yang dirasakannya kini.


Flashback

Beberapa bulan sejak kejadian malam badai di lembah plum itu, Masumi dan Maya secara tak sengaja kembali bertemu dan menghabiskan sebuah malam yang indah bersama di atas Kapal Astoria. Itulah saat yang paling menentukan akan nasib perjalanan cinta mereka berdua di kemudian hari, karena pada saat itulah untuk pertama kalinya mereka berani mengungkapkan perasaan cinta yang selama ini mereka simpan dalam hati kepada satu sama lain, walaupun ungkapan itu hanya bisa berwujud dialog cinta Bidadari Merah ataupun sebuah dekapan yang penuh dengan kelembutan. Dan pada saat itulah mereka berdua juga dapat merasakan bahwa perasaan cinta mereka seorang terhadap yang lain tidak bertepuk sebelah tangan.  Pernyataan cinta Maya yang dapat ditangkap dengan jelas oleh Masumi melalui dialog Akoya yang diperankan oleh gadis itu secara khusus untuk dirinya di atas kapal pada malam berbintang tersebut dan juga pelukan erat nan hangat yang diberikan oleh Masumi kepada Maya setelah pentas kecil itu usai, sudah cukup menjadi tanda bagi keduanya akan besarnya perasaan cinta yang sudah mereka pendam selama ini. Dan juga cukup menjadi dorongan bagi Masumi untuk mengakhiri hubungan “one-side-love”nya bersama dengan Shiori. Sungguh ia sudah tidak mampu lagi untuk menipu diri dan perasaannya sendiri, sehingga ia tetap teguh pada pendiriannya untuk memutuskan pertunangannya dengan Shiori walaupun wanita itu sudah berusaha untuk mencegahnya dengan melakukan percobaan bunuh diri dan keluarganya pun telah mengancam akan menghancurkan Daito jikalau Masumi tetap bersikukuh untuk meninggalkan Shiori.

Masumi hanya sempat berada di sisi wanita itu selama beberapa saat setelah peristiwa percobaan bunuh dirinya yang gagal untuk menunggu proses kesembuhannya dan juga sampai pentas uji coba Bidadari Merah selesai dilaksanakan dan Maya ditetapkan sebagai Bidadari Merah yang baru menggantikan almarhumah gurunya, Tsukikage Chigusa, sebelum akhirnya ia memberanikan diri memutuskan secara langsung hubungan pertunangan antara dirinya dan Shiori di depan keluarga besar Takamiya, Eisuke Hayami dan juga Shiori sendiri. Semua itu dilakukannya agar Maya sama sekali tidak mendapatkan ancaman ataupun gangguan yang dapat membuyarkan konsentrasinya selama berlatih menjadi Bidadari Merah. Masumi tidak ingin kekasihnya itu menjadi korban pelampiasan kemarahan Shiori dan keluarga Takamiya nantinya. Masumi bahkan rela dipersalahkan oleh pihak Takamiya di depan media massa pada saat konfrensi pers mengenai keputusannya itu berlangsung. Ia rela menanggung semua kesalahan itu asalkan mereka tidak mengusik Maya karena gadis itu sama sekali tidak bersalah.

Jikalau pihak keluarga Takamiya pada akhirnya bisa menerima keputusan Masumi, lain halnya dengan Eisuke Hayami. Ia sangat murka sebab kegagalan pernikahan antara Masumi dan Shiori berarti juga kegagalan hubungan kerjasama antara pihak Daito dan group Takatsu. Kehilangan sebuah proyek besar dari sebuah perusahaan sebonafit Takatsu Group tentu saja bukanlah hal mengenakan bagi pria tua yang sebagian besar hidupnya itu harus berada di atas kursi roda. Serta merta ia membuat keputusan untuk mengusir Masumi keluar dari rumahnya dan juga mencopot jabatanya sebagai Direktur Daito dan mencoret namanya dari daftar keluarga Hayami. Namun sebelum semua hal itu dilaksanakannya, tekanan darah tingginya yang melonjak tinggi mengakibatkan ia harus mengalami stroke yang menyebabkan sebagian besar tubuhnya mengalami kelumpuhan serta tidak mampu lagi berbicara dengan baik dan jelas. Dan berdasarkan atas surat wasiatnya terdahulu yang belum sempat diubahnya, maka sejak saat itu Masumilah yang memegang tampu kepemimpinan tertinggi di Daito dan juga menguasai seluruh harta kekayaan milik Eisuke, karena dalam surat itu disebutkan bahwa jikalau terjadi sesuatu hal pada dirinya yang mengakibatkan ia meninggal atau sakit keras yang berkepanjangan sehingga ia tidak dapat lagi menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya, maka semua hal yang menyangkut atas harta kekayaannya dan juga perusahaan yang dipimpinnya diserahkan kepada putra tirinya, Masumi Hayami.

Masumi menunggu sampai semua euphoria akan hal  itu mereda sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk mulai berkencan secara terang-terangan dengan Maya dan membuka perihal hubungan specialnya dengan sang Bidadari Merah tersebut kepada public. Enam bulan kemudian, ia pun melamar Maya untuk menjadi pendamping hidupnya. Keduanya melaksanakan pernikahan mereka secara sederhana namun sangat sakral dan penuh khidmat dengan hanya dihadiri oleh para kerabat dan teman-teman dekat mereka saja di dalam kuil tua yang terdapat di lembah plum itu tersebut.

End Of Flashback


Sebuah tendangan kecil yang berasal dari dalam perut Maya menyadarkan keduanya dari gelora hasrat cinta membara yang sempat dirasakan tadi. Baik Masumi maupun Maya langsung memisahkan diri dan secara bersamaan langsung menjatuhkan pandangan kearah bagian bawah tubuh Maya yang sudah tampak membesar seiring dengan usia kandungannya yang sudah memasuki bulan yang ke tujuh. Sebuah keajaiban kecil yang menjadi  bukti nyata akan kedahsyatan cinta mereka berdua tak lama lagi akan hadir untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Masumi membungkukkan badannya sedikit untuk kemudian mengusap-usap perut istrinya itu dengan penuh kasih seraya memberikan sebuah kecupan sayang disana sebelum akhirnya ia kembali menggenggam tangan mungil istrinya untuk kembali menuntunnya secara perlahan berjalan melewati deretan pohon plum merah yang tumbuh subur di daerah tersebut, dibawah sinar cinta mentari pagi yang menembus masuk melalui sela-sela dedaunan yang akan selalu menerangi bahtera rumah tangga mereka sampai kapanpun.

Pada saat itu, baik Maya maupun Masumi merasa sangat beruntung karena sang takdir menetapkan mereka untuk saling jatuh cinta dan mereka sama sekali tidak terlambat untuk menyadari akan perasaan mereka tersebut. Mereka juga bersyukur bahwa mereka harus terlebih dahulu melalui berbagai macam rintangan dan hambatan dalam perjalan cinta mereka, karena dengan demikian mereka dapat jauh lebih memaknai dan menghargai kebersamaan mereka saat ini yang terasa jauh lebih indah dan manis daripada semua cobaan yang telah mereka hadapi dulu.

To love is to suffer. To avoid suffering, one must not love. But then, one suffers from not loving. Therefore, to love is to suffer; not to love is to suffer; to suffer is to suffer. To be happy is to love. To be happy, then, is to suffer. But suffering makes one unhappy. Therefore, to be happy, one must love or love to suffer or suffer from too much happiness
(Woody Allen)

<<< If I’m Not In Love With You ... THE END >>>

Monday, 14 November 2011

Fanfic TK : Eternal Love

Posted by Ty SakuMoto at 13:36 18 comments
Rate : 18+

Genre : Romance / Angst



Eternal Love
(By Natalie Choi)



I need to talk with you again, why did you go away?

All our time together just feels like yesterday

I never thought I'd see a single day without you

The things we take for granted, we can sometimes lose



Masumi berjalan menyusuri sebuah jalan setapak yang berbatu. Di tangannya tampak tergenggam sebuah rangakaian mawar ungu yang sangat indah. Hari ini cuaca sangat cerah. Matahari bersinar dengan megahnya menerangi bumi. Langit tampak begitu biru tanpa ada sedikit pun awan kelabu yang menyelimuti. Burung-burung berkicauan dengan merdunya diantara rindangnya pepohonan hijau yang tumbuh disekitar tempat itu. Angin sepoi-sepoi yang berhembus semakin melengkapi kesempurnaan hari itu. Ya, semuanya memang sangat sempurna….terlalu sempurna sehingga menimbulkan rasa sakit yang mendalam didalam hati pria berperawakan tinggi  itu.



And if I promise not to feel this pain
Will I see you again?
Will I see you again?



Ia tidak mengerti, bagaimana mungkin matahari masih dapat bersinar dengan cerah.  Bagaimana mungkin burung-burung masih dapat berkicau dengan merdu. Atau bagaimana mungkin bunga-bunga masih dapat bermekaran dengan indahnya disegala penjuru seperti yang tengah terjadi disekelilingnya saat ini. Apakah mereka tidak tahu bahwa itu semua kini sudah tidak ada gunanya lagi. Untuk apa mereka bersusah payah menyinari bumi dan menjadikan alam sekitar indah jikalau mereka tidak mampu mengusir musim dingin yang selalu bertahta di hati dan jiwanya sejak peristiwa itu.



'Cos time will pass me by, maybe I'll never learn to smile

But I know I'll make it through if you wait for me

And all the tears I cry, no matter how I try

They'll never bring you home to me

Won't you wait for me in heaven?



Masumi memperlambat langkahnya sebelum akhirnya ia berhenti di sebuah tempat sunyi yang terletak cukup jauh dari tempat dimana ia meninggalkan kendaraan pribadinya tadi. Tempat dimana belahan jiwanya kini tengah beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya. Walaupun bertahun-tahun telah berlalu sejak peristiwa tragis tersebut, Masumi tetap saja selalu merasakan sakit yang teramat sangat menusuk hatinya setiap kali ia datang ke tempat ini.



Do you remember how it was when we never seemed to care?

The days went by so quickly 'cos I thought you'd always be there

And it's hard to let you go, though I know that I must try

I feel like I've been cheated 'cos we never said goodbye



Butuh waktu yang cukup lama bagi dirinya untuk bisa kembali menjalani kehidupannya sebagaimana mestinya sejak kecelakaan tragis yang langsung merenggut nyawa istrinya itu terjadi. ‘Kejadiannya sangat cepat. Entah dari mana tiba-tiba truk besar yang berkecepatan tinggi itu datang dan langsung menabrak mobil yang ditumpangi oleh istri anda’. ‘Ia mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya. Hal itu mengakibatkan pendaharan yang sangat hebat di bagian otaknya sehingga besar kemungkinan bahwa istri anda langsung meninggal seketika saat itu’ Keterangan yang diberikan oleh para saksi dan tim medis yang menangani kecelakaan itu kembali bergema didalam kepalanya. Ia ingat betapa histeris dirinya saat menjumpai istrinya sudah dalam keadaan terbujur kaku dan tak bernyawa serta berlumuran darah di atas ranjang rumah sakit.

Masumi memejamkan matanya sesaat dan menghirup nafas sedalam yang ia mampu sebelum akhirnya ia kembali membuka kedua bola matanya yang kini tiada lagi bersinar terang seperti dulu dan berjongkok di depan pusara tersebut. Butuh segenap kekuatan dan pengendalian diri yang dimilikinya untuk menjaganya agar tidak menangis di depan pusara yang dingin tersebut, pusara yang menjadi lambang kehampaan dan kekosongan jiwanya selama ini.

“Halo Mungil…” ujar Masumi pelan. Diulurkan tangannya untuk menyentuh batu nisan dingin yang berukirkan nama istrinya tersebut. “Selamat ulang tahun” ucapnya dengan sebuah senyum yang dipaksakan. “Kau lihatkan, aku tidak pernah melupakan hari ulang tahunmu. Bahkan aku sama sekali tidak pernah melupakan segala hal tentang dirimu” walaupun ada kalanya dimana ingin sekali ia melupakan segala hal tentang Maya, sebab mengenang segala hal tentang Mungil-nya tersebut hanya akan membawa rasa sakit dan kepedihan bagi dirinya. Tetapi ia tahu bahwa sampai kapanpun ia tidak akan mungkin melupakan istrinya tersebut. Belahan jiwanya. Cinta sejatinya. Bahkan mungkin sampai saat ia menutup mata, ia akan tetap membawa segala kenangan akan Maya bersama dengan dirinya di alam kematian.

“Semuanya baik-baik saja, sayang. Ayumi dan Hammil akan segera pindah ke Perancis akhir bulan ini. Ia mendapat tawaran untuk bergabung dengan salah satu teater terbaik di Paris. Teman-temanmu dari teater Mayuko dan Ikkakuju akan segera mengadakan pentas keliling Jepang lagi akhir tahun nanti. Hijiri dan Mizuki sudah mulai berkencan sejak bulan lalu. Ternyata kau memang benar bahawa mereka berdua cocok sekali” Masumi berujar sambil tersenyum, membayangkan bagaimana kedua bawahan kepercayaannya itu saling tertarik satu sama lain. “Sedangkan Sakurakoji” Disini Masumi berhenti sebentar untuk memberi jeda. Tidak bisa ia pungkiri bahwa masih tersisa sedikit rasa kecemburuannya pada pemuda yang pernah menaruh hati pada mendiang istrinya tersebut. “Ia akan menikah dengan kekasih lamanya, gadis yang bernama Mai itu tahun depan”.

Kembali Masumi terdiam. Ditatapnya makam Maya di depannya lekat-lekat sebelum kembali berkata “Mereka semua merindukanmu, sayang” Suara Masumi mulai bergetar menahan tangis yang membuncah ingin keluar dari dalam dirinya “Aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu” ucapnya sendu. Digigitnya bibir bagian bawahnya untuk mencegah agar air matanya tidak keluar. Ia tidak akan menangis disini! Tidak di depan Maya! Ia harus tegar.



And if I promise not to feel this pain

Will I see you again?

Will I see you again?



“Aiko juga merindukanmu. Ia sering sekali menanyakan padaku tentang dirimu. Aku katakan padanya bahwa kau saat ini telah pergi dan tinggal di tempat yang sangat indah, dimana tidak ada hal yang dapat menyakitimu ataupun membuatmu menangis. Bahwa kau sekarang telah menjadi seorang malaikat, seorang bidadari yang selalu mengawasi dan menjaga kami dari surga”. Putri kecil mereka, Aiko Hayami, benar-benar merupakan jelmaan dari ibunya. Ia sangat cantik, manis, periang dan lincah. Benar-benar mirip sekali dengan Maya, sehingga terkadang sangat sakit hati Masumi ketika melihat akan hal itu. Tetapi dibalik itu semua ia sangat mencintai gadis kecilnya itu dan bersyukur bahwa ternyata Tuhan masih memberikan sebentuk kebahagiaan yang lain bagi dirinya melalui putrinya itu. Aiko benar-benar menjadi pelipur lara dan obat rindunya kepada Maya.

Saat kecelakaan yang memisahkannya dengan ibunya terjadi, Aiko baru berusia dua tahun, masih terlalu kecil untuk mengerti dan memahami akan arti dari kata kematian. Tapi kehilangan ibu diusia yang masih sangat muda tersebut tidak lantas membuat Aiko tumbuh menjadi seorang anak yang kurang kasih sayang. Sebaliknya, ia tumbuh menjadi anak yang sangat sehat dan cerdas sebab Masumi telah berjanji bahwa ia sekalipun tidak akan pernah membiarkan Aiko tumbuh dalam kepedihan dan penderitaan atas kepergian Maya. Biarlah segala derita itu ia sendiri yang menanggungnya. Putrinya, bidadari kecilnya, buah cintanya dengan Maya harus tumbuh menjadi seorang anak yang tetap penuh dengan kasih sayang dan kebahagiaan.

Matahari bersinar semakin terik menandakan bahwa hari sudah semakin siang. Masumi sudah harus segera pergi meninggalkan tempat itu dan pulang kembali ke kehidupannya. Ia ada janji untuk merayakan ulang tahun Maya bersama dengan Aiko malam ini di sebuah restoran di tepi pantai yang dulu menjadi restoran favorit Maya dan secara kebetulan juga menjadi restoran favorit Aiko kini.

“Aku harus pergi dulu, sayang. Putri kita akan marah jikalau aku sampai terlambat menjemputnya. Nanti aku akan datang lagi kemari” ujar Masumi pelan. dicondongkannya badannya untuk mencium ukiran nama Maya yang tertera diatas batu nisan yang dingin tersebut. Sebutir air mata jatuh membasahi wajahnya yang tetap tampan walaupun usianya sudah semakin bertambah. “Aku mencintaimu, Mungil”

Kemudian dengan berat hati ia pun berdiri dan bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Sebuah angin tiba-tiba bertiup lembut menerpa wajah Masumi pada saat ia baru menjauh beberapa langkah meninggalkan makam itu. Masumi menutup matanya untuk merasakan kelembutan hembusan angin yang bertiup semilir di sekelilingnya. Dan entah bagaimana tiba-tiba ia dapat merasakan suatu benda yang sangat halus dan lembut namun hangat menyentuh bibirnya untuk beberapa saat. Saat Masumi membuka matanya ia mendapati bahwa ada sebuah kelopak bunga dari pohon plum merah yang tumbuh subur di sekitar makam istrinya itu jatuh di bibirnya. Diambilnya kelopak bunga tersebut. ‘Aneh’ pikirnya dalam hati ‘Tadi aku benar-benar merasakan seolah-olah bibir Maya sendirilah yang sedang mencium bibirku’. Kemudian tiba-tiba saja ia teringat suatu peristiwa yang pernah terjadi di lembah plum ini antara dirinya dan Maya pada pagi hari setelah mereka berdua menghabiskan malam bersama didalam sebuah kuil tua ketika hujan badai. Saat itu Maya menyerahkan setangkai bunga plum merah kepada Masumi dan berkata bahwa itu merupakan lambang perasaannya kepada Masumi. ‘Ah!’ Masumi lantas menoleh kebelakang untuk melihat kembali makam istrinya. Tampaklah olehnya banyak sekali kelopak bunga plum merah yang berguguran disekitar makam tersebut, terlebih lagi disekitar rangkaian bunga Mawar Ungu yang tadi ia letakkan disana. Hal yang sangat mengherankan mengingat saat itu di Jepang belum memasuki waktu musim gugur. Tiada kata yang terucap, namun Masumi tahu bahwa yang tadi itu benar-benar istrinya sendirilah yang menciumnya. Ia adalah sang Bidadari Merah yang abadi dan bukankah jiwa sang bidadari itu bersemayam di dalam pohon plum? Maka dari itu tidaklah mengherankan jikalau ia memakai salah satu bagian dari dirinya di dalam pohon plum tersebut untuk memberitahukan pada Masumi betapa ia sangat mencintai laki-laki itu.

Masumi kembali tersenyum. Dimasukannya kelopak bunga plum yang ada dalam genggamannya itu kedalam saku jas-nya untuk kemudian beranjak pergi dari tempat itu, mengetahui dengan pasti bahwa suatu saat nanti ia pasti akan dapat kembali berkumpul bersama dengan belahan jiwanya itu. Namun sampai saat itu tiba, ia harus tetap tegar dan kuat menjalani kehidupan yang telah digariskan oleh sang pencipta untuknya. ‘Tunggulah aku, sayang. Suatu saat nanti kita pasti akan kembali bersama’ ucapnya dalam hati saat kakinya kembali melangkah menyusuri jalan setapak yang telah dilaluinya tadi.



'Cos time will pass me by, maybe I'll never learn to smile

But I know I'll make it through if you wait for me

And all the tears I cry, no matter how I try

They'll never bring you home to me

Won't you wait for me in heaven?



~oOo~

20 Tahun kemudian

Seorang wanita muda dengan potongan rambut berwarna hitam legam sebahu dan tinggi semampai tampak berdiri sendirian di depan dua buah nisan yang saling bersebelahan. Salah satu dari kedua batu nisan itu masih sangat baru. Tumpukan tanah yang menggunung di depannya pun masih basah dan tidak beraturan. Wajar saja sebab baru beberapa saat yang lalu sang penghuni makam tersebut dimasukan kedalamnya.

Hari sudah berangsur senja dan tempat itu sudah mulai sunyi seiring dengan berlalunya para pelayat yang tadi mengikuti prosesi penguburan satu per satu, namun wanita muda itu masih tetap saja diam dan berdiri mematung disana. Kedua kelopak matanya tampak basah dan sembab akibat cucuran air mata yang tak henti dikeluarkannya sejak dua hari terakhir ini.

“Aku akan merindukanmu, Ayah” ujar wanita yang mulai kembali terisak-isak itu. Ia masih belum bisa percaya bahwa ayahnya kini telah tiada. Serangan jantung dan tekanan darah tinggi telah merenggut nyawa seorang Masumi Hayami di usianya yang memasuki kepala enam ketika itu. Bagi wanita itu, Masumi Hayami adalah seorang figur ayah yang sangat luar biasa. Ia seorang ayah yang penyayang dan penuh kasih namun tegas sehingga ketidakhadiran sosok seorang ibu dalam kehidupannya pun dapat tergantikan oleh sosok ayahnya tersebut.

“Aiko….sayang, sudah saatnya kita pulang” ujar seorang pria dari belakangnya.

Aiko menoleh dan melihat suaminya beserta kedua anak kembar mereka berdiri tak jauh dibelakangnya.

“Sudahlah sayang, ikhlaskanlah kepergian ayahmu. Biarkan dia beristirahat dengan tenang” ujar Takeshi kepada istrinya. Ia lantas melayangkan pandangannya keatas pusara ayah mertuanya tersebut. “Ayahmu kini sudah bahagia, sayang karena ia dapat kembali bersatu dengan ibumu, belahan jiwanya”

Aiko tersenyum mendengarnya. Walaupun sebenarnya hatinya masih pedih atas kepergian sang ayah, tetapi apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut memanglah benar. Ketika ayahnya masih hidup, Aiko dapat dengan jelas menangkap perasaan cinta yang mendalam serta kerinduan yang teramat sangat setiap kali ayahnya berbicara mengenai ibunya atau setiap kali ia mendapati Masumi tengah menatap foto Maya yang berada hampir disegala penjuru rumah yang mereka huni. Jikalau ada satu hal yang paling dikagumi Aiko akan ayahnya selama ini, hal itu pasti adalah kesetian ayahnya kepada ibunya. Tak pernah sekalipun ayahnya menikah lagi ataupun melirik wanita lain dan berkencan dengan mereka semenjak kematian ibunya. Padahal dengan kedudukan dan ketampanan serta kegagahannya, tak sulit bagi seorang Masumi Hayami untuk mendapatkan wanita lain dalam waktu singkat. Tetapi ternyata ia lebih memilih untuk tetap setia pada cinta sejatinya dan itulah sebabnya mengapa dalam surat wasiatnya Masumi meminta untuk dikuburkan disebelah Maya setelah ia meninggal.

Aiko kemudian berjalan perlahan mendekati makam itu dan meletakan dua buah tangkai mawar ungu yang telah ia genggam sedari tadi satu diatas makam ayahnya dan satu lagi diatas makam ibunya.

“Beristirahatlah dengan tenang ayah. Jangan khawatirkan Aiko. Aiko pasti akan baik-baik saja. Takeshi akan menjaga Aiko dengan baik. Tugas ayah sudah selesai. Sekarang ayah berkumpulah kembali bersama dengan ibu dalam kebahagiaan yang baru. Aiko tidak akan pernah melupakan kalian. Aiko sayang ayah dan ibu” bisiknya lembut sebelum ia melangkah untuk meninggal tempat itu bersama sambil berpelukan dengan suami dan anak-anaknya.

Dibelakangnya diatas kedua pusara putih itu tampak sesosok bayangan wanita yang menyerupai bidadari yang sangat cantik berpakaian merah datang menghampiri pusara Masumi sambil mengulurkan tangannya dan secara mengejutkan tampak pulalah bayangan seorang pria yang menyerupai Masumi di masa mudanya keluar dari makam itu menyambut uluran tangan sang bidadari. Bersama mereka menatap kearah keluarga kecil yang baru saja pergi meninggalkan tempat itu sambil tersenyum sebelum akhirnya terbang tinggi ke angkasa dan menghilang diantara langit senja yang berwarna jingga.



<<< Eternal Love ... The End>>>



P.S :

*) Aku memang sengaja membuat lokasi makam Maya di lembah plum. Karena menurutku cocok aja jikalau Maya sebagai si Bidadari Merah meninggal terus dimakamkan di kampung halaman Bidadari Merah itu sendiri :D

*) Lagu yang aku pakai adalah lagunya Kavana yang judulnya “Will You Wait For Me”

*) Maaf kalo ceritanya jelek ya teman-teman. Harap maklum akibat pengaruh Betsu yang suram akhir-akhir ini. Anyway thanks a lot for reading :) Kalo ada kritik atau saran silahkan disampaikan. I love constructive criticsm.
 

An Eternal Rainbow Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting