Sunday 28 July 2013

FFTK : Unspoken 5

Posted by Ty SakuMoto at 22:27 32 comments


“Mayaaa..!!” Rekan-rekan Maya menyambut kembalinya Maya dengan gembira. Mereka sangat lega melihat Maya sudah baik-baik saja, terutama Sakurakoji.
“Maya, bisakah kita bicara?” pinta pemuda tersebut. Keduanya lantas beranjak menuju tempat yang agak sepi. Sakurakoji tahu bahwa Maya dan Masumi bersama di Astoria. Dan, Pak Kuronuma sudah menjelaskan kenapa Maya berada di sana. Namun, Sakurakoji berusaha tak memikirkan apa pun mengenai Maya dan Masumi, selain bahwa keduanya kebetulan berada di sana.
“Ada apa, Sakurakoji?” tanya Maya dengan resah. Sepertinya yang hendak Sakurakoji bicarakan adalah hal yang serius.
“Kau terlihat… baik-baik saja…” kata Sakurakoji.
“Ya, sekarang sudah lebih baik,” Maya tersenyum manis, dan pemuda itu merasakan jantungnya berdebar-debar. “Terima kasih.”
“Maya… ada yang harus kau tahu,” tanpa bisa ditahan, wajah Sakurakoji merona merah. “Saat kau menghilang, aku sangat gelisah. Perasaanku sungguh tidak tenang dan… aku merasa begitu sesak.”
Alis Maya berkerut, berusaha mengikuti perkataan Sakurakoji. Ia mengamati pemuda itu dengan heran. Sebenarnya apa yang hendak Sakurakoji katakan?
Sementara wajah Koji semakin memerah dan ucapannya kian terbata-bata. “Aku… mulai menyadari, bahwa aku tidak bisa mengingkari perasaanku lagi. Aku… memang sudah jatuh cinta kepadamu. Sejak dulu, aku menyukaimu… Dan, perasaan itu.. terasa semakin kuat. Aku tak bisa mengenyahkannya. Maya…” kali ini pemuda itu menatap Maya penuh cinta. “Apakah kau mau menjadi kekasihku?” tanyanya dengan resah. “Dan, ini… bukan hubungan main-main, kurasa, usia kita sudah cukup, untuk mulai memikirkan sebuah hubungan yang… lebih serius.”
Maya sangat terkejut. Matanya membulat dan ia kehilangan kata-kata. Sakurakoji, melamarnya? Pemuda itu menyatakan cinta dan melamarnya? “Ma,maaf…” suara Maya bergetar dan matanya berkaca-kaca, karena ia tahu ia akan menyakiti Sakurakoji.
“Maya?”
“Maaf…” Maya menggeleng. “Aku tidak bisa…”
“Aku tahu!” Sakurakoji meraih tangan Maya dan menggenggamnya. “Ada seseorang, yang selalu mengisi pikiranmu kan? Tetapi, aku bisa mencintaimu lebih lagi! Melakukan lebih banyak hal untukmu! Apa saja, apa saja Maya!” tegas Sakurakoji.
Maya tak menemukan kata yang tepat atau cara yang tepat menjelaskan mengenai perasaannya. Ia hanya menarik tangannya dan berseru, “Maaf!!” katanya seraya menangis, dan berlalu pergi.
“Maya!! Mayaa!!” seru Sakurakoji yang tak dihiraukan. “Ukh!” Sakurakoji memukul dinding. Maya menolaknya. Rasanya memang sangat menyakitkan. Tetapi, kenapa? Kenapa? Siapa yang selalu mengisi pikiran Maya dan membuat gadis itu tak juga melihatnya?
=//=
“Sakurakoji!?” Masumi terlonjak di sofa, saat ia berkunjung ke apartemen yang sekarang ditempati Maya—dari Mawar ungu.
“I-iya…” Maya menunduk dan mengangguk.
“Dia melamarmu?” ulang Masumi tajam.
“Ku-kurang lebih begitu. Dia bilang ingin menjalin hubungan… serius.”
Masumi mengetatkan rahangnya. Ia mengamati Maya. Kenapa gadis itu salah tingkah? Kenapa dia gugup?
“Kau menyukainya?” tanya Masumi tajam.
Maya segera mengangkat wajahnya. “Suka?”
“Ya! Kau mencintainya? Kau menyukainya?” Nada suara Masumi semakin lama semakin tinggi.
“Di-dia… orang baik, dia…” Maya jadi lebih gugup dengan sikap Masumi yang tiba-tiba terlihat galak.
Masumi mendekatkan wajahnya kepada Maya. “Kau menyukainya sebagai seorang pria? Mencintainya?”
“Ti-tidak begitu!” Maya menggeleng-geleng cepat. “Selama, ini, dia hanya teman baik.”
“Seharusnya aku sudah tahu,” keluh Masumi, menyandarkan dirinya ke sofa. “Kau berlari sambil berkata maaf…” ia berdecak. “Karena kau tidak mau melihat wajah sedihnya. Tidak mau menyakitinya…” gumam Masumi. Ia lalu berdiri. “Aku pergi.”
“Ke-kenapa?” tanya Maya dengan heran.
Masumi mengamati Maya penuh tanya. “Maya… Apa kau sungguh-sungguh tidak mencintai Sakurakoji?”
Dahi gadis itu berkerut. “Be, benar kok…”
“Kau tak terdengar yakin.”
“Benar! Sungguh! Dia hanya teman yang baik.”
“Baik. Kalau begitu, kenapa dia teman yang baik? Apa yang kau sukai darinya?”
Mungkin seharusnya Maya tidak menjawab, tetapi gadis itu segera mengingat semua kebaikan Sakurakoji kepadanya. “Dia ramah,” kata Maya. “Dia lawan main yang baik, bisa diajak bekerja sama, dan pengertian. Jika aku sedih, dia mengajakku bicara…” gadis itu mengingat Sakurakoji dan tanpa disadarinya, wajahnya berubah hangat. “Dia selalu berusaha menghiburku. Dia… tak pernah membiarkanku sendirian…” sekarang, rasa bersalah itu semakin menguat di dadanya. Ia sudah menyakiti Sakurakoji.
Sakurakoji… batin Maya dengan sendu. Maya terlonjak saat Masumi mengempaskan tangannya di sandaran sofa. Maya menoleh ke arah tangan itu. Ia lalu mendongak, mendapati wajah dingin Masumi yang menunduk menatapnya. Wajah itu beranjak semakin dekat.
“Lalu aku..?” tanya Masumi. Maya hanya menatapnya tidak menegrti. “Lalu aku? Apa yang kau sukai dariku?”
“Pak… Pak Masumi…” Maya menatap Masumi dengan jantung berdebar kuat. Tubuhnya segera terasa panas dingin. Apa reaksi tubuhnya yang tak biasa ini, tidak dimengerti Masumi? “Anda baik…” Maya berkata. “A-Anda… juga… perhatian. Anda sudah mendukungku, dan berbuat banyak untukku,” kata Maya seraya tersenyum lembut, mengingat semua mawar ungu dan kebaikan yang pernah diterimanya dari Masumi.
“Itu Mawar Ungu,” Masumi berkata seraya menelan ludahnya. “Jika aku… bukan Mawar Ungu, kau tak mencintaiku kan?” desak Masumi. “Aku yang di hadapanmu ini, apakah sungguh-sungguh kau cintai?” Ia menegakkan badannya lagi saat Maya masih mencari kata-kata. “Aku pergi,” kata Masumi.
“Pak Masumi!!” panggil Maya, mencegahnya.
“Maya, pikirkanlah baik-baik,” Masumi menelan ludahnya pahit. “Aku… sudah cukup lelah dengan permasalahan cinta ini. Aku hanya ingin tahu apakah ini sesuatu yang layak kita pertahankan? Setelah apa yang terjadi kepada Shiori… sungguh, aku tak ingin lagi memaksakan mengenai masalah hati ini. Pikirkanlah baik-baik. Sedari dulu, aku tak pernah merasa punya harapan mengenai dirimu, aku tahu bagaimana kau memandangku. Begitu juga bagaimana perasaan Sakurakoji kepadamu, atau bagaimana kau bersikap kepadanya. Aku tahu dia lebih dekat denganmu ketimbang teman priamu yang lainnya. Aku tahu dari cara kalian berinteraksi. Karena itu, pikirkanlah baik-baik… siapa yang benar-benar kau cintai.”
“Aku mencintai Pak Masumi!” tegas Maya.
“Apa kau mengatakannya kepada Sakurakoji?” kejar Masumi.
“Aku—“ Maya terdiam. Dia tidak sanggup mengatakannya.
“Maya, pikirkanlah baik-baik. Jika kau mencintainya,” Masumi menelan ludahnya. “Katakan saja. Tidak perlu merasa berutang budi kepadaku, atas apa pun juga.”
Pria itu lantas beranjak ke pintu, dan meninggalkan apartemen Maya dengan perasaan pahit. Yuu Sakurakoji. Ia hampir saja melupakannya.
Maya masih termangu di tempatnya. "Kenapa aku... mencintai Pak Masumi..." Maya bergumam.
Ia ingat lagi, saat ia belum mengetahui bahwa Masumi adalah Mawar Ungu, Maya memang... memang... membencinya. Bahkan, saat ia tahu Masumi adalah Mawar Ungu, Maya masih berusaha keras menyangkalnya dan tak mau percaya. Namun, saat ia berusaha memandang Masumi sebagai Mawar Ungu, saat itulah... Maya merasa,telah jatuh cinta kepadanya.
Gadis itu termenung. Ia benar-benar bimbang sendiri. Jemarinya tak berhenti bergerak gelisah. Cara Masumi meragukan perasaannya, membuat Maya mulai meragukannya juga. Bagaimana jika...
Maya berusaha mengingat Sakurakoji. Ia ingat saat pertama bertemu pemuda tampan itu. Sejak dulu, Sakurakoji memang selalu baik hati.
Benar, dia pemuda yang sangat baik hati. Dan tadi siang... Maya tak akan bohong. Sakurakoji menyatakan cinta kepadanya, Maya merasa tersanjung. Dan, itu bukan rasa tersanjung yang sedikit. Tetapi sangat tersanjung. Namun Maya tak tahu harus bereaksi bagaimana. Maya sering dibuat tersipu oleh perbuatan pria itu kepadanya, merasakan kehangatan atas kebaikan sikapnya. Sakurakoji juga sangat pandai menghiburnya. Namun, Maya tak pernah berusaha memandang Sakurakoji seperti itu. Yang Maya tahu, semenjak dulu Sakurakoji adalah seorang idola. Maya ingat benar saat ia mendapati Sakurakoji di tempat makan bersama teman-temannya yang semuanya perempuan. Lalu, mantan kekasihnya juga. Mai... gadis yang sangat cantik. JAdi, Maya tak pernah membayangkan Sakurakoji menyukainya seperti itu, atau, membayangkan mereka berdua sebagai sepasang kekasih. Walaupun ada masanya, dulu, saat Maya berusaha membayangkan seseorang yang disukainya, yang muncul di benak Maya adalah pemuda itu. Maya juga pernah menangis karena merindukanny. Dulu... saat sakurakoji pergi tanpa kabar lagi.
Benar. Maya hampir saja lupa. Dia dan Sakurakoji, memiliki masa lalu yang aneh. Mereka bukan sepasang kekasih, tetapi, sempat memiliki hubungan yang lebih... dari sekedar teman. karena itulah Sakurakoji marah, ketika Maya jatuh cinta pada Satomi. Karena itu juga, Sakurakoji menghilang. Jika mereka hanya berteman, seharusnya hal yang aneh seperti 'putus hubungan' itu tidak perlu terjadi kan?
"Ah!! Apa sih ini...!?" decak Maya dengan resah seraya membenamkan jarinya di rambutnya. Kenapa ia baru memikirkan masalah hubungannya dan Sakurakoji sekarang? Saat ia pikir... ia dan Masumi...
Sakurakoji...
"Hhh..!!" Maya menghempaskan napasnya dan meenyandarkan berat tubuhnya di punggung.
Jika Maya memang memiliki perasaan istimewa untuk pemuda itu, bukankah seharusnya ada pertanda, seperti... ia rasanya melihat nama Sakurakoji di mana-mana? Ia menyalakan televisi dan di sana ada wajah Sakurakoji? atau... maya terantuk batu dan Sakurakoji menolongnya? Hal-hal seperti itu... Atau... seperti saat dia memikirkan pemuda itu sekarang, dan, Sakurakoji muncul di hadapannya?
Saat itu bel pintunya berbuny. Maya sampai terlonjak karena kaget. Ia melirik jam. Rei seharusnya belum pulang. Sambil bertanya-tanya Maya membuka pintu. Mungkin Masumi kembali lagi? Atau...
Maya terenyak. Ada Sakurakoji di sana.
"Sa-Sa-Sakurakoji...." Maya tercekat, kata yang keluar darinya juga terbata-bata. Pemuda itu benar-benar ada? maya mengerjap beberapa kali dan Sakurakoji masih berdiri di sana. Ya ampun, dia bukan hanya fatamorgana.

"Selamat malam, Maya." Dan, bisa bicara.

"Se-selamat malam..." kata Maya, masih terbata-bata karena gugup.

"Apa aku mengganggu?" tanya Sakurakoji.

Maya menggeleng, tak bisa menatapnya, dan semakin salah tingkah.

Kekikukan itu juga menular kepada Sakurakoji. Pemuda itu menunduk dan salah tingkah. beberapa saat, tak ada yang bicara dari keduanya. Yuu melirik Maya sejenak dan mengaku,
"Aku terus memikirkanmu."

Sepertinya, itu juga isi kepala Maya. Tetapi Maya tak mungkin mengakuinya, dia hanya menjawab. "hm hum.. hum, heh..." yang dia sendiri tak mengerti apa artinya.

"Besok... latihan libur."

"Oh, ya! Aku juga!" kata maya, senang saat tahu ada sesuatu yang bisa dikatakannya.

"Ya, aku tahu..."

Dan, Maya merasa bodoh. Tentu saja, mereka satu kelompok!

Sakurakoji kembali bicara, "Maksudku... hum... mengenai yang tadi kukatakan."
maya mendongak untuk pertama kalinya. Dia akan menarik perkataannya!?

"Aku tak akan menarik yang sudah kukatakan tadi," lanjut Sakurakoji, yang membuat maya terkejut karena sekali lagi sesuai dengan apa yang dipikirkannya. "Aku mau meminta kesempatan kepadamu,sekali saja."

"Kesempatan?" mata Maya memicing bingung.

"Ya. Besok... berkencanlah denganku. Aku akan membuatmu senang. Dan, di akhir kencan kita, aku mau... kau membuat keputusan. Apakah kau... bisa menerimaku atau tidak."

Mata Maya melebar seketika. Berkencan? Dengan Sakurakoji? Memastikan perasaannya kepada pemuda itu? tapi, tapi... Bagaimana dengan Masumi?

Tunggu, tadi pria itu yang menyuruh Maya memikirkan perasaannya baik-baik dan menentukan kepada siapa sesungguhnya hati Maya telah jatuh. Tapi... apakah berkencan salah satu yang boleh dilakukannya?

"maya!?" tegur Sakurakoji.

"ya!?' Maya tertegun.

"bagaimana...? jika setelahnya kau menolakku. Aku tak akan memaksamu lagi," tegas Sakurakoji. "Tapi kumohon, berikan aku satu kesempatan lagi saja."

Sakurakoji... ditatapnya mata pria itu. Dan perasaan itu datang lagi. Ia takbisa... berkata tidak.

"Baiklah," kata Maya. "Besok."

Wajah Sakurakoji menyala gembira. "Benar!? terima kasih, Maya. Besok pagi aku akan menjemputmu, jam 9! eh, tidak, jam 8! Ah, kau mau jam berapa?"

"Jam 9 saja," Maya tersenyum tipis.
"Ba-baiklah! Sampai besok," Sakurakoji tersenyum semakin lebar. "Terima kasih Maya. Selamat malam..."

"Selamat... Malam..."

Maya menutup pintu, dan menyandarkan punggungnya di sana. Besok...

Sekarang, bagaimana? apa yang harus ditanyakannya kepada Masumi? Tunggu, apakah Masumi harus tahu...? atau... tidak? Beri tahu... atau... jangan...?

"Aduuuh!!" maya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia benar-benar bingung.

Maya tidak bisa terus resah seperti ini. Ia mengangkat telepon, dan menghubungi Masumi.

Setelah beberapa deringan, akhirnya diangkat juga, "Halo," terdengar malas.

Pak Masumi... Maya menunduk gelisah. Ia merindukan pria itu. "Apa aku mengganggu? Anda... sudah tidur?"

"begitulah." Dia bohong. Dari tadi Masumi bolak balik di kamarnya dengan resah.

"Ah, maafkan aku! Maaf..." maya tak enak hati, mengetahui Masumi terganggu.

"Ada apa?" Masumi pura-pura menguap dengan mata nyalang.

"Be-besok..." kata Maya, bergumam.

"Besok?" Masumi tertegun.

"Besok..."

"Besok?"

"Besok..."
"Ya ampun, Maya! Ada apa dengan besok?" tanya Masumi tajam, kepada kekasihnya yang berbelit-belit itu.

"Tadi... Anda bilang... a, aku... harus memastikan perasaanku... kepadamu.. dan... Sakurakoji."

Masumi tegang.. Ia tak bicara.

"Dan, Sakurakoji, memintaku melakukan hal yang sama. DIa ingin aku memastikan perasaanku kepadanya, besok."

"Lalu?"

"Besok, kami... akan pergi berkencan. Dan, di akhir kencan itu, aku... akan menjawab pernyataan Sakurakoji."

Rahang Masumi mengetat seketika, genggamannya di ponsel menguat. "begitu..." ia menggeram.

"Ya..."

Jelaslah sudah, Maya juga meragukan perasaannya. Rasa kecewa muncul di hati Masumi. "Ya sudah,"tanggapnya pendek.

"Tunggu!" Kata Maya. "Aku... Aku besok, akan memastikan sesuatu, tetapi itu bukanlah mengenai perasaan cintaku kepada Sakurakoji. Melainkan, untuk memastikan bahwa aku tak menyukainya seperti itu, dan yang kucintai adalah Anda, Pak Masumi..."

Masumi menelan ludahnya. Andai saja yang akan terjadi memang demikian. "Aku akan menunggumu," kata Masumi. "Berikan juga, jawabanmu untukku."

Telepon diputus dan Masumi tak bisa menahan rasa marahnya. Ia membanting ponselnya ke atas tempat tidur--banyak nomor pernting di sana, akal sehatnya mengingatkan agar ia tak membantingnya ke lantai.
=//=

Maya kembali berkaca untuk terakhir kali. Ia mengamati pakaian yang ia pilih semalaman dan dandanannya yang dibantu Sayaka pagi tadi sebelum gadis yang selalu diikat rambutnya ala indian itu pergi juga untuk berkencan dengan kekasihnya. Sejenak Maya ragu-ragu lagi. Sebetulnya, ini memang bukan kencannya yang pertama dengan Sakurakoji. Sebelumnya mereka sudah pernah berkencan, yang berakhir dengan terseretnya Maya di laut dan diselamatkan Masumi.

Pak Masumi... Maya menunduk. Dia ingat lagi reaksi dingin dari kekasihnya itu. Sepertinya Masumi memang benar-benar berharap Maya memastikan perasaannya kepada Sakurakoji.
Itulah yang membuat Maya tegang sendiri sekarang. Kalau di kencannya sebelumnya Maya hanya berkencan tanpa harus memikirkan apa yang dia rasakan, kali ini ia harus benar-benar memastikan bahwa ia memang tak memiliki perasaan istimewa kepada pemuda itu.

Bel Pintu apartemennya berbunyi lagi. Dengan gugup Maya membuka pintu itu.

"Halo, selamat pagi," sapa Sakurkoji yang terlihat sangat tampan hari ini. Pakaiannya rapi, dan, ia sangat wangi.

Harum... batin Maya, sedikit terpesona. Tidak, tidak, dia tidak terpesona. Dia tidak menyukai Sakurkoji seperti itu, Maya meyakinkan dirinya.

"Kau sudah siap?" tanya Sakurakoji lgi, yang salamnya tak mendapat tanggapan dari Maya.

"Oh, ya, a-aku... sudah siap," jawab Maya dengan wajah merona.

"Sebelumnya," Sakurakoji mengungkapkan tangannya yang sedari tadi tersembunyi di balik punggungnya. "Ini untukmu."

Buket bunga mawar pink yang tampak sangat cantik.

"Sakurakoji... kau seharusnya... tidak perlu repot-repot," kata Maya dengan perasaan tersentuh.

"Tidak,kurasa, seharusnya memang seperti ini kan, kencan yang ideal. Dimulai dengan sebuket bunga," ia tersenyum hangat. Dan berakhir dengan pernyataan cinta, imbuhnya dalam hati.

Maya menunduk mengamati buket bungat yang cantik itu. "Terima kasih," ucapnya.

Saat ia turun dari apartemennya, Maya tak menemukan motor yang biasanya dinaiki Yuu. Sebelum Maya heran, sakurakoji berkata, “Aku tak ingin rambut dan pakaianmu rusak gara-gara naik motorku, jadi aku menyewanya.” Ia menerangkan sebuah mobil merci putih yang menunggunya.

Maya terkejut. Sekali lagi ia terpesona, dan terkesan. Ia menatap Yu tak percaya. Pemuda itu melakukannya sejauh ini? Demi dirinya? Ternyata … pemuda itu memang tak main-main dengan pernyataan cintanya kemarin?
Seorang sopir membukakan pintunya bagi mereka. “Dia termasuk dalam biaya sewa,” bisik Yu kepada Maya dengan raut yang kocak. Maya menyeringai.
Di pagi hari itu, mobil merci putih itu ternyata hanya berkeliling Tokyo untuk beberapa lama.
“Aku akan mengajakmu menonton opera nanti sore,” terang Yu kepada Maya. “Tetapi, saat ini, aku hanya akan mengajakmu berkeliling ke tempat yang sudah lama ingin kuajak kau ke sana,” imbuhnya.
“Oh, baiklah,” kata Maya seraya tersenyum. Keduanya masuk ke dalam mobil, dan merci itu meluncur. Sejenak keduanya tak ada yang bicara karena gugup.
“Maya, kau sudah mulai mengerti mengenai Akoya? Apakah masih ada yang membuatmu bingung?” tanya Sakurakoji, berusaha mencairkan suasana di antara mereka. Dan, berhasil! Maya segera saja berbicara seperti biasa dan tanpa rasa canggung lagi. Keduanya lantas berdialog mengenai peran mereka, apa yang menyulitkan, adegan mana yang sulit, adegan mana yang mereka sukai, serta usaha apa saja yang mereka lakukan untuk mendalami peran mereka.
“Sebenarnya, aku tak pernah begitu mengerti pedihnya perasaan keduanya saat dipisahkan dengan paksa,” terang Sakurakoji. “Namun, saat aku melihat kabar di televisi, mengenai Astoria yang terjebak badai, dan… kau menghilang,” tenggorokan Sakurakoji tercekat. “Saat itu… aku seperti kehilangan arah. Aku gelisah setiap saat, cemas, entahlah… pikiranku seperti tak berada di tempatnya. Aku… aku sangat…” pemuda itu menatap maya dengan resah, membuat gadis di sampingnya bisa mengerti apa yang Yu rasakan tanpa harus dikatakannya.
“Sakurakoji…” desah Maya, amat tersentuh.
Sakurakoji memalingkan wajahnya yang merona. “Baru kali ini, aku bisa mengakuinya,” ujar Yu dengan pipi memanas.
Keduanya turun di Disneyland Tokyo. “Wah!! Disneyland!” Mata Maya membulat.
“Kau suka taman bermain kan?”
“Iya!” seru Maya dengan antusias. “Sudah lama aku ingin pergi ke sini!”
“Kalau begitu, ini saat yang tepat! Akan ada parade sebentar lagi, juga… saat ini sudah masuk suasana Halloween,” terang Koji dengan antusias.
“Wah!!” Mata Maya berbinar. “Pasti menyenangkan~”
Sakurakoji tersenyum lebar melihat reaksi Maya. Dan, seharian itu keduanya merasa sangat riang, berkeliling Disneyland dan DisneySea. Ia sangat senang melihat orang-orang berdandan seperti hantu. Demikian juga dengan paradenya siang itu. Gadis itu selalu berwajah riang. Keduanya sempat makan siang di sebuah restoran, kembali berbincang, dan menaiki berbagai wahana yang menyenangkan. Sesuatu yang Maya pikir, mungkin tidak akan bisa dilakukannya bersama Masumi.
Jika dia pikir-pikir, semua percakapannya dengan Sakurakoji, semua yang dilakukannya hari ini bersama pemuda itu, mungkin tidak akan bisa dilakukannya bersama Masumi. Bersama Yu mereka bisa bercerita mengenai sulitnya melakukan peran. Pengalaman pertama saat berakting, gairah yang mereka rasakan saat berada di atas panggung.
Dia juga bisa menonton operet yang kekanakan, naik wahana dengan hiasan-hiasan yang mungkin akan dianggap memalukan dilakukan oleh seseorang seperti Masumi.
Masumi… Masumi… Masumi… masalahnya, walaupun semuanya begitu menyenangkan untuk Maya, dan mungkin tak akan bisa dilakukannya bersama Masumi, ia terus saja memikirkan pria itu.
Bahkan, bukan sekali dua kali ia merasa melihat seseorang mirip Masumi. Tetapi, Masumi, di sini? Di Disneyland? Mustahil! Apa yang dilakukannya? Walaupun Maya akhirnya melakukan kesalahan konyol. Ia melihat lagi, seseorang mirip Masumi. Benar-benar mirip.
“Sebentar,” pamit Maya kepada Sakurakoji saat keduanya duduk di bangku taman sambil makan eskrim.
Sakurakoji hanya mengamati Maya dengan heran, saat gadis itu terburu-buru menghampiri seseorang.
“Pak Masumi!!” Maya menarik tangan pria menjulang itu.
Pria itu berputar, tertegun dan menunduk, mengamati Maya. “Ada apa… Nak?”
Bukan Pak Masumi! Pikir Maya, dan…Dia memanggilku nak! Batinnya terpukul.
“Ti-tidak… maaf…” dengan wajah memerah Maya menggeleng.
“Ada apa?” pria berusia pertengahan 30-an itu membungkuk, “Apa kau tersesat?”
“Ti-tidak!” Maya menggeleng semakin malu. “Maaf!” pamitnya dan berbalik pergi.
Sakurakoji tertawa mendengar cerita Maya yang dipanggil ‘Nak!’
“Memangnya kau pikir siapa yang kau lihat?”
“Hm?” Alis Maya terangkat. “Kukira… dia…” Maya bimbang sejenak, berpikir apakah harus berkata jujur atau tidak. Ia belum memutuskan saat mulutnya bicara sendiri. “Pak Masumi Hayami.”
“Masumi Hayami?” Sakurakoji terlonjak.
“Iya…” kata Maya perlahan.
“Saat itu kau bersama Pak Masumi ya?” tanya Sakurakoji lagi. “Saat di Astoria…”
“I-iya…”
“Katanya, kalian bersama di sana,” ujar Sakurakoji lagi.
Maya terlonjak, “Dia bilang—“
“Saat di konferensi Pers,” terang Skaurakoji.
“Oh,” Maya bergumam. “I-iya… kami tidak sengaja bertemu.”
“Dia memperlakukanmu dengan baik?” tanya Sakurakoji lagi.
“Oh ya… sa-sangat baik,” terangnya dengan wajah bersemu. Dan, itu tertangkap Sakurakoji.
Pemuda itu berdiri, dan Maya mengikutinya. “Tahu tidak, kalau Pak Masumi sangat memperhatikanmu?”
“Eh? Apa?”
“Saat kau hilang,” terang Sakurakoji lagi. “Dia sangat cemas. Dia sampai mengumumkan akan memberi hadiah bagi siapa saja yang menemukanmu. Dia bahkan menjemputmu sendiri ke Sendai. Semua orang membicarakannya,” terang Sakurakoji lagi.
Maya tak pernah mengetahui hal itu. “Benarkah?” tanya Maya lagi.
“Benar,” Sakurakoji berbalik. “Apa kau masih membencinya?” tanya Sakurakoji lagi.
Maya tak menjawab beberapa saat, “Ti-tidak… Aku… sudah tidak membenci Pak Masumi.” Aku mencintainya… pikir Maya. Ia mengamati Sakurakoji. Sebenarnya, apa yang tengah ia lakukan di sini? Ia sudah tahu bahwa ia hanya mencintai Masumi. Pasti seperti itu. Lalu, kenapa dia harus berada di sini bersama Sakurakoji? Apa yang dicarinya?
“Ayo!” Sakurakoji menggenggam telapak Maya. “Kita pergi ke DisneySea sekarang. Kurasa semua yang menarik di sini sudah kita lihat.”
“Sa-Sakurakoji…” Maya tak melangkah.
“Ya?” Sakurakoji berbalik, mengamati Maya.
“A-aku… kurasa… ke DisneySea…” Maya terlihat agak enggan. Dia sudah ingin pulang, ingin bertemu Masumi.
“Kenapa?” Sakurakoji menghampiri. “Oh! Tidak apa-apa, kita bisa ke sana besok, aku membeli tiket terusan dua hari jadi—“
“Bukan…” Maya menggeleng, namun saat ia melihat wajah pemuda itu, sekali lagi Maya tak sanggup mengatakan kebenarannya. “Setelah… Astoria… a-aku… sebetulnya, masih…. Agak… entahlah, masih takut dengan air, laut… atau menaiki apapun yang…” Maya memasang wajah sungkan. Berharap Sakurakoji percaya dengan perkataannya.
“Oh, begitu…” Sakurakoji tampak tak enak hati. “Maaf ya… bodohnya aku… tak mengingat sejauh itu. Aku malah berpikir akan mengajakmu naik gondola,” pemuda itu tertawa kering.
“Maaf… bukan begitu… Aku juga… sungguh, ingin sekali… tapi…”
“Ya, ya, tidak apa-apa,” kata Sakurakoji, berusaha menghibur hatinya sendiri. “Jadi, sekarang mau ke mana? Mau kembali berkeliling, atau …”
“Sebetulnya, aku…kurang enak badan,” kata Maya pelan.
Sakurakoji mengamatinya, tadi, gadis itu baik-baik saja. Dia bahkan terlihat riang. Dia tak berkata apa-apa saat melihat tiket DisneySea, sekarang semua alasan itu menghambur keluar dari bibirnya. Padahal, masih ada tiket opera untuk sore, dan makan malam sebagai penutup. Padahal. Sakurakoji sudah merencanakan dengan baik kencan hari ini, wahana apa saja yang akan disukai Maya, pertunjukan apa yang akan ditonton mereka, restoran mana yang akan mereka datangi.
“Kau mau pulang…?” tawar Sakurakoji dengan kecewa.
Maya menelan ludahnya. Hatinya sangat tak nyaman, ia bahkan merasa ingin menangis karena tak enak hati hanya dengan mengingat bagaimana Sakurakoji sudah tampil sebaik-baiknya dan dia bahkan menyewa mobil, membeli tiket terusan, tiket opera, membayar makan di restoran yang tidak murah. Semua itu…
“Kurasa, hanya beristirahat sebentar… Aku akan baik-baik saja,” kata Maya akhirnya.
“Ah,” wajah Sakurakoji menyala lagi. “Kalau begitu, kita ke sana saja, seharusnya kita mengunjunginya pertama kali, mungkin. Tetapi kupikir tidak seru, tapi, kalau kau lelah… beristirahat di sana pasti menyenangkan,” Sakurakoji menarik tangan Maya lagi.
Maya menatap bagian belakang rambut Sakurakoji, ia menghela napas dan mengikutinya. Ia tidak boleh berbuat seperti itu kepada Sakurakoji. Maya sudah setuju berkencan seharian dengan pemuda ini. Ia tak boleh membuat keputusan terlalu awal.
Dan, sekarang di hadapan mereka, ada kastil Cinderella.
“Ayo,” ajak Sakurakoji. “Kurasa semua perempuan menyukainya.”
Dan, memang. Senyuman sudah kembali di wajah Maya.
=//=
Masumi benar-benar lelah. Sangat lelah. Dan, sepertinya bukan karena ia terbiasa menaiki mobil pribadinya ke sana kemari. Toh, ia orang Jepang. Akan memalukan memiliki kewarganegaraan Jepang dan dia kelelahan berjalan. Tetapi, sepertinya yang membuatnya kelelahan memang bukan hanya kakinya yang tak berhenti melangkah sendirian mengitari wilayah yang luasnya luar biasa ini, tetapi juga karena pemandangan yang terus tertangkap matanya.
Maya dan Sakurakoji, berkencan, berduaan. Mengobrol, tertawa riang, merona bersamaan. Dia sangat kesal melihatnya. Dia sungguh benci! Dan, sekarang… mereka menuju kastil Cinderella? Yang benar saja. Apa dia juga harus masuk? Seorang laki-laki? Sendirian? Masuk ke kastil Cinderella? Semoga saja bayangannya tidak akan tertangkap satelit dan masuk di Google Earth.
Kutunggu di luar saja, putusnya. Namun, sekonyong-konyong sesuatu menjadikan pikirannya sebuah kanvas yang bercerita. Maya dan Sakurakoji, memasuki kastil yang penuh cerita cinta. Sejuk, indah, penuh karya seni. Keduanya terbawa suasana, saling memandang mesra, mereka kemudian terdiam di sebuah sudut. Dan, Sakurakoji menunduk, mendekatkan wajahnya kepada Maya yang bersandar terpojok di sudut kastil, menatapnya malu-malu dengan wajah merona.
Ah, sial!! Rutuknya. Dia harus masuk!
=//=
Semenjak pagi Masumi sama sekali tak bisa berkonsentrasi. Ia terus saja memikirkan Maya yang tak bisa membuatnya tidur sepanjang malam. Memang hanya gadis itu sejak dulu yang bisa membuatnya merasa gila. Akhirnya, walaupun ia berusaha menenggelamkan diri dalam pekerjaan, ia sama sekali tak bisa melupakan masalah Maya. Bagaimana jika gadis itu terpikat kepada pemuda itu? Bagaimana jika keputusan Maya adalah memilih Sakurakoji, bagaimana jika Maya mengatakan tak ingin bersamanya lagi? Dan semua bagaimana itu semakin jauh dan gila. Ia bahkan sudah memikirkan Maya menikahi Sakurakoji dan tak akan pernah bisa dimilikinya lagi.
Setelah semua itu? Semua yang mereka lalui? Maya berakhir di pelukan pria lain? Masumi mungkin akan sama gilanya dengan Shiori. Jadi di sinilah ia sekarang, menguntit Maya dan teman kencannya. Menyebalkan memang, karena dialah yang meminta Maya memikirkan perasaannya baik-baik sehingga akhirnya gadis itu berada di kastil ini bersama pemuda itu.
Masumi mencoba tebal muka, saat beberapa orang memandanginya yang berjalan sendirian-dengan tampang linglung- di dalam kastil tersebut. Kadang-kadang, Masumi sengaja mendekati seorang anak dan berdiri di dekatnya, berpura-pura menjadi seorang paman yang mengasuh keponakannya. Namun, perbuatan itu hanya berakhir dengan tatapan takut dari anak-anak itu, atau tatapan menghardik dari orang tua si anak. Hhh… memalukan! Pikirnya kenapa direktur Daito yang disegani dan berwibawa, harus berada di tempat seperti ini?
Ah, itu dia alasannya! Ia melihat Maya dan Sakurakoji tengah berada di sebuah ruang makan. Keduanya tampak mengamatinya dengan riang. Masumi menghela napas lagi. Sedari tadi mereka memang hanya berjalan-jalan, mengobrol, makan, hal paling intim yang dilakukan adalah bergandengan tangan. Dan, Masumi sangat kesal melihatnya. Mungkin seharusnya ia menghambur kepada mereka, menarik tangan Maya dan berseru, “Lepaskan dia! Dia kekasihku!!” Oh ya… seperti jagoan-jagoan di film Bollywood mungkin. Ah, lupakan. Masumi tak bisa menari.
Ia lalu melihat Maya, berbicara dengan serius kepada Sakurakoji. Sakurakoji pun tampak menanggapi dengan serius,keduanya kembali berjalan, memisahkan diri dengan yang lainnya. Masumi kembali mengikuti.
=//=
“Ada apa?” tanya Sakurakoji kepada Maya, saat mereka berada di sebuah ruangan kecil yang hanya terdapat beberapa lukisan mosaik dan jendela besar yang memperlihatkan bagian luar disneyland. Maya tampak ragu sejenak, namun ia sudah sampai pada keputusannya.
Maya menatap Sakurakoji dengan segan. “Ma-maaf…” kata Maya dengan resah.
“Maaf?” wajah Sakurakoji tampak waswas. “Mengenai apa…?”
“Aku tidak bisa meneruskan kencan kita,” terang Maya, berusaha menegaskan dirinya. “Aku… tidak ingin mempermainkanmu.”
“Mempermainkanku?” tanya Sakurkoji bingung.
“Ya. Maksudku… Sakurakoji, aku… aku sudah tahu, apa keputusanku. Sebenarnya, aku tidak ragu bahwa itulah yang kuinginkan. Hanya saja, aku memang sempat berpikir mungkin harus memberimu kesempatan sebelum—“
“Kau… menolakku?” desis Sakurakoji dengan terkejut.
Di sini? Di salah satu kastil dongeng legendaris di mana segala sesuatu berakhir bahagia?
“Maaf,” wajah Maya memucat. “Tetapi… jika diteruskan, aku takut akan lebih menyakitimu,” ujarnya seraya menunduk. “Aku punya seseorang… yang kucintai,” Maya menahan isakannya. “Aku sangat mencintainya. Dan, sepanjang hari aku hanya memikirkannya. Bahkan,aku berada di sini pun, karena dia yang mengatakan bahwa aku harus benar-benar memastikan perasaanku kepadamu. Dan… kurasa… sudah cukup. Aku tak ingin memberikan harapan yang tidak seharusnya,” kata Maya dengan sedikit gemetar. “Aku sangat menyukaimu sebagai teman dan lawan main. Tetapi, aku—“
“Cukup!!” seru Sakurakoji. Ia menatap Maya dengan mata yang membara.
Masumi hampir saja memutuskan untuk masuk ke ruangan di mana Maya dan Sakurakoji berada. Namun saat itu sudah ada beberapa orang yang mendahului Masumi dan tak lama kemudian keduanya keluar dari sana. Masumi kembali mengamatinya. Keduanya tampak berjalan berdampingan. Terdiam. Keduanya lantas keluar dari ruangan tersebut. Masumi membuntutinya, dan keduanya menuju tempat parkir.
Masumi sempat berpikir mereka mungkin ke suatu tempat lain, namun ternyata mereka segera kembali ke apartemen Maya.
=//=
“Aku akan mengantarmu,” kata Sakurakoji saat sudah tiba di gedung apartemen. Sakurakoji mengantar Maya sampai ke apartemennya. Sepanjang jalan Sakurkakoji tidak banyak bicara. Maya ingin mengajak bicara, namun ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Beberapa kali mereka sempat berbincang, namun perbincangannya terasa sangat kaku dan tegang. Akhirnya sebagian besar perjalanan kembali ke apartemen Maya dihabiskan dalam kebisuan.
Maya sungguh tak enak hati. Perasaannya sangat berat. Seharusnya, setelah menolak seseorang, mereka jalan masing-masing kan? Tetapi ternyata, tetap bersama seperti ini malah membuat semuanya terasa begitu berat. Rasanya ada sesuatu yang sangat membebani pundak dan dada Maya.
Saat Maya menyampaikan isi hatinya, Sakurakoji hanya berkata, “Begitu…” ia diam sejenak kembali berkata, “kalau begitu kuantar kau pulang.”
“Te-terima kasih, ya…” kata Maya di pintu apartemennya tanpa bisa memandang Sakurakoji.
“Laki-laki ini… kau bisa memberitahuku siapa dia?” tanya Sakurakoji.
“Ah, dia…” Maya menatap Sakurakoji bingung dengan mata bulatnya. “Dia…”
“Aku mengenalnya?”
Maya menunduk, dan mengangguk.
“Kau sangat mencintainya ya?” Sakurakoji terdiam, lalu tertawa kering. “Apa kami pernah bertemu?”
Maya kembali tak enak hati, ingin menangis. Ia mengangguk sekali lagi.
“Kenapa kau memilihnya?” tanya Sakurakoji. “Kenapa dia bisa mengalahkanku?”
“Ini bukan soal menang atau kalah,” kata Maya yang mulai berkaca-kaca. Entah kenapa dia sangat sulit mengatakannya kepada Sakurakoji.
“Ya ampun Maya! Katakan saja, kenapa kau mencintainya? Siapa dia? Aku hanya ingin tahu mengenai hal itu.”
“Pokoknya, aku mencintainya!” tegas Maya. “Aku tak bisa mengatakan kenapa, aku bahkan tidak tahu sejak kapan! Tetapi… Aku mencintainya, hanya mencintainya. Aku tak bisa memikirkan orang lain atau berpikir untuk berpisah dengannya. Memikirkannya saja… sudah menakutkan untukku. Karena itu… ka, karena itu… aku tak bisa menerima perasaanmu, atau sekedar memberi harapan lagi kepadamu,” air mata gadis itu menetes. “Maafkan aku…”
Sakurakoji menelan ludahnya pahit. “Aku tertarik kepadamu sejak pertama kita bertemu. Lalu aku mulai menyukaimu, dan semakin menyukaimu,” jujur Yu seraya menatap Maya. “Aku tahu kau tak pernah mendahulukanku dari akting walaupun aku juga tahu tak ada teman laki-lakimu yang sedekat aku,” ia tersenyum pahit.
“Lalu, kupikir… Ah, kutunggu saja. Aku tunggu sampai kau tersadar bahwa aku ada di sini untukmu. Walaupun aku tak pernah menyatakan perasaanku, aku memiliki kepercayaan diri, jika suatu saat kau harus jatuh cinta kepapa seorang lelaki, kemungkinan besar akulah laki-laki itu,” Yu jengah.
“Mungkin itu yang membuatku tak juga merasa harus memastikan hubungan dekat macam apa yang kita miliki. Lalu, pemuda itu datang. Satomi. Tidak lama dia mengenalmu, dia menyatakan cinta kepadamu, dan kau menerimanya. Aku sangat terkejut saat itu. Tidak percaya dan tidak mau terima. Kupikir, mungkin kita punya semacam kesepakatan tak terkatakan bahwa kita saling menyukai dan akan menjadi sepasang kekasih suatu hari. Ternyata, itu semua tak lebih dari angan-anganku. Sekian lama aku pergi, berusaha melupakanmu. Tetapi, saat aku mendengar kau bermain drama, aku akan mencocokkannya dengan jadwalku, agar bisa datang menontonnya walau tak sanggup memperlihatkan diri kepadamu. Dan, tawaran padang liar yang terlupakan itu pun datang. Kupikir, aku sudah bisa menganggapmu hanya sebatas rekan pentas. Ternyata…  tidak begitu,” Yu kembali tersenyum getir.
“Aku tidak mengerti, yang pasti aku sangat mencintaimu. Rasanya… kau begitu dekat namun kenyataannya kau itu sangat jauh dari jangkauanku.” Yu menyentuh bahu Maya. “Aku hanya ingin kau mengerti, tidak mudah untukku menganggapmu hanya sebatas teman. Dan, dua kali kalah dari laki-laki lain, juga sangat menyakitkan untukku. Tetapi… kurasa… kau memang sangat menyukai pria ini. Jadi…” Yu menelan ludahnya, beberapa lama tercekat napasnya sendiri. “Jadi… Aku hanya ingin mengutarakan apa yang kurasakan. Aku menyerah sekarang,” ia menghela napas panjang. “Kudoakan semoga kau bahagia.”
“Sakurakoji…” Maya memelas. “Maafkan aku… sungguh. Dari dulu… kau, kau adalah teman yang sangat baik. Andai saja, aku bisa membalas perasaanmu, atau tidak membuatmu sakit hati. Tetapi, aku tidak bisa.”
“Ya, aku mengerti Maya,” Sakurakoji mengulurkan tangannya. “Sampai jumpa di tempat latihan, Akoya.”
“Sakurakoji…” Maya mendesah, menerima uluran tangannya perlahan. “Terima kasih. Aku juga sungguh sangat mengharapkan kebahagiaanmu.”
Sakurakoji terenyum tipis. Ia lantas permisi pergi.
Maya baru saja menutup pintu saat belnya berbunyi. Gadis itu kembali menuju ke pintu dan membukanya. Ia sangat terkejut, saat mendapati Masumi berdiri di sana.
=//=
Dengan sedih Sakurakoji kembali memasuki merci putihnya, kali ini seorang diri. Sekian lama ia hanya termangu mengamati jalanan di luar jendela. Tatapannya menerawang. Kosong. Sesak.
Sudah… lupakanlah… kali ini kau harus benar-benar melupakannya. Sakurakoji mengeluarkan ponselnya. Dengan menghela napas berat pemuda itu mengamati foto-fotonya dan Maya.
Hapus foto. Ya? Tidak?
Ya.
Pemuda itu pun melepaskan kalung lumba-lumba yang ia kenakan.
Selamat tinggal… Maya… Ia membuangnya keluar jendela mobil.
=//=
“Kau sudah kembali,” kata Masumi.
“I-iya…” dan seketika itu ada perasaan membuncah mengisi dada gadis itu. Rindu, lega, cinta. “Anda…”
“Aku bodoh,” kata Masumi, seraya beranjak masuk. “Kupikir bisa membiarkanmu menimbang perasaanmu, tetapi sepanjang hari aku sangat takut kau memutuskan untuk meninggalkanku,” ungkapnya. “Kau… sudah memutuskan kan?” tanyanya dengan waswas.
“Sudah,” Maya merajuk.
“Lalu?”
“Anda sudah lama tahu jawabannya!” sembur Maya. “Dasar bodoh!” gadis itu meninju dada Masumi. “Kalau tidak ingin aku pergi, tidak usah berpura-pura bijak dengan memintaku menimbang perasaan! Kau kan tahu aku hanya mencintaimu!!” Maya akhirnya menangis lagi.  
“Iya… maaf…” Masumi menyentuh tangan Maya di dadanya dan menggenggamnya. “Aku hanya ingin kau memastikan, bahwa memang hanya aku yang kauinginkan dan kaucintai,” pria itu menarik Maya ke dalam pelukannya. Ia mendengar semua percakapan Maya dan Sakurakoji tadi. Ia akhirnya tahu bahwa Maya memang sangat mencintainya.
“Hanya kau, Pak Masumi,” gadis itu memeluk pinggang kekasihnya.
“Maya… jangan pernah meninggalkanku,” pria itu memeluknya lebih erat. Gadis itu menggelengkan kepalanya di dada Masumi. Pria itu memisahkan tubuh mereka dan bermaksud mencium Maya saat sebuah suara terdengar dari arah kamar.
“Maya, kau sudah pulang?” tanya Rei seraya mengucek-ngucek matanya.
Sepasang kekasih itu sangat terkejut. Segera mereka saling melepaskan dan berdiri membatu dengan wajah memerah. Rei teregun mengamati keduanya. Maya, dan Masumi Hayami. Apa mereka tadi habis berpelukan? Sepertinya ia muncul di saat yang tidak tepat.
“Apa aku mengganggu?” tanya Rei.
“Tidak!” tampik keduanya bersamaan.
“Aku baru saja mau pergi!” sahut Rei.
“Aku baru mau mengantarnya!” timpal Maya.
“Baiklah, Maya, aku permisi…” kata Masumi dengan sikap berwibawa. “Aku hanya kebetulan lewat, dan aku ingat kau tinggal di sini, kupikir mungkin bisa mampir, melihat keadaanmu dan—”
“Dia sudah tahu,” bisik Maya, mencondongkan tubuhnya kepada Masumi. “Soal kita… dia sudah tahu.”
“Baiklah, saya mau pergi ke kamar mandi, saya… mau cuci muka dan gosok gigi. Apa saya harus memberitahu detail lainnya?” tanya Rei seraya menahan tawanya.
“Tidak perlu, Nona Aoki,” ujar Masumi menahan malunya. Saat ia melirik kepada Maya, gadis itu juga sedang menunduk menahan tawanya. Setelah Rei masuk ke kamar mandi, Masumi menarik pinggang gadis itu dan mencium pipinya dengan gemas.
“Pak Masumi…!” rajuk Maya, kemudian terkikik geli.
“Besok ayah kembali ke rumah,” terang Masumi, masih seraya merangkul pinggang kekasihnya. “Aku bermaksud membawamu bicara dengannya besok, mengenai… hubungan kita.”
Maya mendongak menatap Masumi, sejenak tampak risau, namun tak lama kemudian rautnya mantap kembali. “Baiklah, nanti jemput aku.”
“Ya,” Masumi tersenyum lembut, kembali memeluk Maya. Ia sangat bahagia, gadis itu tak lepas dari tangannya.

=//=



=//=

Maya sempat gelisah sendiri, menunggu Masumi menjemputnya. Masumi mengatakan bahwa nanti malam ayahnya akan pulang. Saat itulah Masumi akan bicara dengan ayahnya.
“Kalau kau berubah pikiran, masih ada waktu,” Masumi sempat berkata. Namun Maya sudah membulatkan tekadnya. Ia sudah pernah mendengar bagaimana menyeramkannya Eisuke Hayami. Namun, menyerah di sini sekarang bukanlah pilihan. Maya harus bersama Masumi menghadapi pria berkuasa itu.
Namun, ada hal lain juga yang mengusik Maya di tempat latihan kali ini. Pak Kuronuma mengatakan bahwa selama dua hari ini, Sakurakoji sudah meminta ijin untuk absen latihan karena sesuatu yang penting. Maya yakin hal itu memang cukup penting hingga Pak Kuronuma mengijinkan Sakurkoji tidak berlatih. Namun Maya tidak tahu apa. Ia sempat berpikir mungkinkah Sakurakoji hanya mencari alasan untuk menghindarinya saat ini.
Dia pemuda yang sudah dewasa, Maya mengingatkan kepada dirinya. Sakurakoji pasti tahu benar apa yang terbaik bagi dirinya. Dengan keyakinan itu, Maya berusaha tidak mengkhawtirkan Sakurkoji. Ia bahkan tidak menghubungi apartemen pemuda itu.
Masumi akhirnya datang saat matahari baru saja terbenam. Pria itu menjemput Maya di tempat latihannya. Saat itu sudah tidak ada siapa-siapa selain Pak Kuronuma, yang sudah mengetahui bahwa keduanya mulai memiliki hubungan.
“Pak Kuronuma, saya permisi dulu,” pamit Maya. Masumi pun membungkuk memberi salam sekaligus berpamitan.
Pak Kuronuma hanya tersenyum sedikit menggoda mereka. Ia sungguh tidak mengira bahwa pria yang selama ini membuat Maya tidak bisa berakting adalah Masumi Hayami. Dan, ia menyimpulkan, pria itu juga membatalkan pernikahannya demi gadis mungil itu. Cinta memang misterius.
Ah… Sakurakoji, semoga saja kau bisa menjadikan pengalamanmu ini sesuatu yang berharga untuk aktingmu nanti, pikir Kuronuma.
“Bagaimana latihanmu?” tanya Masumi saat keduanya sudah berada di dalam mobil Masumi.
“Baik,” jawab Maya seraya tersenyum hangat kepada pria itu. “Hari ini Sakurakoji tidak latihan,” terangnya dengan perasaan was-was, khawatir Masumi marah.
“Begitu,” ujar Masumi pendek. “Ada apa? Kenapa dia tidak latihan?”
“Tidak tahu, tetapi … Pak Kuronuma bilang ada sesuatu penting yang sedang dilakukannya.”
“Kenapa? Kau merindukannya?” tanya Masumi dengan nada terlalu tenang dan tanpa ekspresi. Ia bahkan tak menoleh kepada Maya saat mengatakannya.
“Bukan rindu seperti itu…” rajuk Maya. “Tetapi… hanya merasa khawatir. Karena… kemarin kurasa aku sudah menyakiti hatinya.”
“Lalu?” kali ini Masumi menoleh kepada Maya.
“Tidak apa-apa,” Maya balas menatap Masumi. “Kurasa ia akan bisa mengatasinya.”
Masumi menghela napas lega. Ia sesungguhnya mengerti dengan apa yang Maya rasakan. Masumi mendengar bahwa Shiori mulai dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Mendapatkan penanganan khusus untuk depresi yang dialaminya. Belum lagi kesehatannya juga memburuk karena keadaan mentalnya. Sejujurnya, Masumi merasa sangat bersalah. Hubungan dua keluarga sudah bisa dipastikan memburuk. Dan, walaupun keluarga Takamiya tak menuntut apa pun dari Masumi karena anggota keluarga mereka lah yang berniat buruk mencelakai Maya dan Masumi. Namun, melihat keadaan Shiori yang mengenaskan seperti itu, ia sungguh merasa bersalah.
“Ada apa?” kali ini Maya yang dengan lembut menegur kekasihnya yang termangu di sampingnya tersebut,
Masumi menoleh dan menggeleng.
“Pak Masumi… ayolah….” Bujuknya. “Ada apa?”
Sejenak Masumi menimbang sebelum kemudian bicara. “Shiori… aku mendapat kabar bahwa kemarin dia mencoba bunuh diri,” ungkapnya berat.
“A-apa!?” mata gadis itu membulat. “Nona Shiori…”
“Ya,” Masumi menelan ludahnya. “Dia ditemukan melompat ke dalam kolam di pekarangan rumahnya. Lalu kakeknya menghubungiku dan…”
“Lalu bagaimana?” tanya Maya dengan nada sarat kekhawatiran. Tangannya sontak meremas tangan Masumi dengan gelisah. Memikirkan Shiori, juga memikirkan Masumi.
Pria itu menggeleng lemah, hampir putus asa. “Tidak ada lagi yang bisa kulakukan,” katanya. “Dia wanita dewasa,” pria itu menoleh kepada Maya. “Seharusnya dia bisa… berpikir jernih kan? Berusaha hidup dengan baik dan,” Masumi tercekat rasa bersalahnya.
Keduanya lantas terdiam. Maya juga mengetahui apa yang mengganjal hati Masumi. Wanita itu sampai mau bunuh diri karena kehilangan pria itu! Apakah mereka sanggup, jika sampai terjadi apa-apa dengan wanita itu. Apa mereka bisa bahagia?
“Pak Masumi…” desah Maya perlahan. “Jika… Jika Nona Shiori… berpikir menghilangkan nyawanya sendiri…” gadis mungil itu tak sanggup meneruskan ucapannya.
Untuk sekian lama keduanya hanya berada dalam keheningan. Maya beringsut, mendekati Masumi dan melingkarkan tangannya di lengan pria itu. Ia menyandarkan kepalanya di sana.
Maya… Masumi membisu.
Ada yang tak terkatakan di antara mereka, yang keduanya sudah saling mengetahui. Mereka saling mencintai. Sangat saling mencintai. Tetapi… Kenapa harus ada orang lain yang berduka, bahkan rela kehilangan nyawa, karena apa yang mereka rasakan. Hanya untuk memisahkan mereka.
“Pak Masumi… Apa kau akan pergi lagi?” tanya Maya yang tak bisa menahan isakan dalam suaranya.
Sebenarnya, ide itu melintas lagi di kepalanya. Akan tetapi,meninggalkan Maya? membiarkan gadis kecintaannya itu bersama pria lain? Itu mimpi terburuk dalam hidupnya.
Masumi menghela napas dalam, menunduk kepada Maya di sampingnya dan mengusap telapak gadis itu perlahan. “Aku kan di sini. Kita di sini sekarang, bersama.”
Maya menengadah. “Dan kau tidak berpikir untuk pergi? Karena, karena jika kau pergi…”
Maya hendak berkata, aku akan berusaha merelakannya, jika itu untuk menyelamatkan Shiori. Namun, kata-kata itu tidak bisa keluar dari bibirnya. Seperti yang pernah ia lontarkan kepada Sakurakoji, hanya berpikir akan berpisah dengan Masumi saja ia sudah sangat takut. Pegangan tangan Maya di lengan kekasihnya semakin kuat. Ia tidak sanggup pura-pura rela padahal sesungguhnya tidak.
“Aku tahu kau mencintaiku, karena itu aku yakin, jika aku tidak bahagia, kau pun tidak akan bahagia,” kata Masumi. “Dan kebahagiaanku adalah berada di sisimu,” tegasnya. “Oleh karena itu, aku tidak berencana meninggalkanmu sekarang atau nanti.”
“Pak Masumi…” Maya menyurukkan wajahnya di lengan pria itu. “Apakah kita egois?” airmata gadis itu menetes juga. Walaupun ia mengenal Masumi sebagai pria yang dingin, pria itu sama sekali tidak bersikap tak peduli mengenai hal ini. Ia tahu, diam-diam Masumi tak mengharapkan hal seperti ini terjadi kepada Shiori atau siapa pun. Bagaimana mereka bisa menjalaninya, jika tahu ada seseorang yang menderita saat mereka bahagia?
Masumi tak menjawab pertanyaan Maya, ia hanya merangkul gadis itu ke dalam pelukannya.
=//=
Keduanya tiba di kediaman Hayami. Saat tiba, seorang pelayan berkata bahwa Eisuke menunggunya dan memintanya segera menghadap kepadanya.
“Saya akan katakan Anda sudah datang.”
“Tidak usah, aku sendiri yang akan menemuinya langsung,” terang Masumi.
Jantung Maya langsung saja berdebar-debar tak keruan. Rumah yang luar biasa bersarnya itu,terasa lebih mengancam lagi baginya saat ini. Ia mengamati Masumi yang berjalan di sampingnya, dan gadis itu mengeratkan genggaman tangannya.
“Ayah ada di dalam,” terang Masumi kepada Maya. “Kau tunggulah sebentar di sini, nanti aku akan memanggilmu.”
Maya tak punya jawaban lain selain menganggukkan kepalanya. Pria itu mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam. Suara yang tegas dan berat. Masumi masuk.
“Selamat malam, Ayah.”
“Basa-basi!!” desis Eisuke tajam. “Anak tolol. Apa yang telah kau lakukan? Aku sangat geram mendengar semua yag terjadi di kediaman Takamiya. Percuma saja terapi yang kujalani… Jantungku hampir berhenti mendengar kelakuan tololmu!” Kecamnya keras.
“Aku sudah mempertimbangkan apa yang hendak kulakukan.”
“Lalu apa hubunganmu dengan Maya Kitajima!!?” Ayahnya meminta penjelasan.
Pertanyaan itu sungguh mengejutkan bagi Masumi. Ia kemudian menyadari, mungkin Eisuke sudah mendengar perihal Maya yang berada di Astoria bersamanya. Tidak masalah, Masumi memang bermaksud membongkar hubungannya bersama Maya. Akan tetapi, saat ayahnya melanjutkn bicara, Masumi teramat terkejut.
“Aku yakin kesibukanmu mengurusinya bertahun-tahun ini bukan tanpa alasan kan? Kenapa Masumi? Apa kau jatuh cinta kepdanya!!?”
“Ayah-, aku—“
“Putuskan hubunganmu dengannya!! Hapus perasaanmu kepadanya! Dan aku akan melupakan semua kekonyolan ini!!”
“A-apa…!?” Masumi terbeliak.
“Kau dengar perintahku!! Tenno Takamiya menghubungiku. Dia memberitahu apa yang telah terjadi. Shiori mengalami depresi karena putus hubungan denganmu! Dengar, Masumi… Apa kau tahu apa yang dia tawarkan agar kau kembali kepada mereka?” mata Eisuke berkilat serakah. “Tenno Takamiya akan menyerahkan semua warisannya untuk Shiori! Jika kau menjadi suaminya, kau akan menjadi penerus Takamiya!!” serunya ambisius. “Sekarang kau sudah menyadari ketololanmu kan!?”
Otot rahang Masumi menegang. Manusia apa yang ada di hadapannya ini? Ia sama sekali tak menaruh perhatian mengenai Shiori. Padahal, masalah itulah yang paling merisaukannya dengan Maya saat ini. Apakah ayahnya itu tidak peduli, wanita macam apa yang akan dinikahi putranya selama ia mendapatkan keuntungan dari ini semua.
“Aku menolaknya,” tegas Masumi. “Aku tidak mau!”
“Apa!!?” Dengan geram Eisuke menatap Masumi. “Kau membangkang!!? Kau tidak mendengarkan perintahku!?”
“Ya,” pria itu menjawab dingin. “Aku tidak akan mendengarkan perintahmu lagi. Aku akan menjalani kehidupanku sendiri.”
“Maksudmu…?” desis Eisuke. “Kau akan mengejar gadis itu? Maya Kitajima?”
“Aku akan menikahinya, setelah pentas percobaan Bidadari Merah,” terangnya. “Kami saling mencintai, dan tak akan ada yang bisa mencegahnya.”
“Maya Kitajima? Mencintaimu…?” Eisuke menatap Masumi, mencari gurauan di wajahnya, namun anak angkatnya yang tak pernah bergurau itu memang terlihat sangat serius. Bahkan, lebih serius dari biasanya. “Dan kalian…” beberapa saat Eisuke meyakinkan diri bahwa itulah maksud dari perkataan Masumi. Ia lantas berdecak. “Konyol…” sindirnya. “Kau berniat menikahinya? Konyol!!”
“Tidak ada yang konyol! Baik Ayah setuju atau tidak, aku akan tetap menikah dengannya. Aku tidak peduli apa yang akan ayah lakukan kepadaku—“
“Kalau kepadanya?” Alis Eisuke terangkat mengintimidasi.
Wajah Masumi berubah pucat sejenak dan segera penuh kecam. “Kalau kau berani melakukan sesuatu kepadanya, aku tak akan ragu macam-macam denganmu!”
Eisuke tertegun. Baru kali ini Masumi terang-terangan membangkangnya. Anak angkatnya itu mengecam bahkan mengancamnya. Demia Maya Kitajima?
“Cih!” Eisuke tersenyum meremehkan. “Beri aku satu alasan kenapa aku harus mau menerima Maya sebagai calon istrimu tanpa kita harus saling memusnahkan?”
“Tidak ada,” kata Masumi. “Aku tak peduli kau menerimanya atau tidak. Dia akan bersamaku. Dia yang masuk ke rumah ini, atau aku yang pergi dengannya.”
Eisuke tertawa terbahak-bahak. “Memangnya kau pikir berapa lama kau bisa hidup tenang jika kau keluar dari rumah ini?” ejeknya.
“Aku tidak peduli,” desis Masumi.
Anak ini sungguh-sungguh… batin Eisuke. Ia tak mengira, Masumi yang dingin dan gila kerja, sekarang tergila-gila oleh cintanya kepada Maya Kitajima.
“Baik, bukannya aku tak menyukai anak itu, aku tahu benar bagaimana berbakatnya dia. Tetapi, aku hanya bisa menerimanya, atau membiarkan kalian hidup tenang, hanya jika aku tahu dia memiliki sesuatu yang paling kuinginkan.”
Masumi menyipitakan matanya. Sesuatu yang paling ayahnya inginkan…?
“Masuk, Maya!!” perintah Eisuke, yang sedari tadi telah mengetahui mengenai keberadaan gadis itu.
Maya tertegun. Ia menelan ludahnya sendiri dengan tegang. Perlahan Maya masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruang kerja yang cukup besar. Di ujungnya ada meja, dan Eisuke berada di atas kursi roda, di sudut ruangan, di dekat jendela. Masumi berdiri di tengah ruangan, tengah menoleh ke arah pintu dari mana Maya masuk. Gadis itu menatap gugup kepada Masumi.
“Selamat malam, Maya…” sapa Eisuke yang menggerakkan kursi rodanya mendekat.
Perhatian Maya teralihkan, ia segera menoleh ke sana. Eisuke Hayami.
Hah!? Alis Maya terangkat. Itu kan… “Kakek Es krim!!?” Maya terlonjak, “kenapa Anda..”
“Kakek Es Krim!?” Masumi terkejut, ia beralih menatap Eisuke dan kembali kepada Maya.
“Iya! Kakek kan—“
“Dia Eisuke Hayami, ayahku,” terang Masumi.
Seketika itu juga wajah Maya berubah pucat. “Tuan Eisuke… Hayami… Ayah…” Maya menatap dengan tegang dan beberapa kali matanya mengedip gugup.
“Benar. Kita belum berkenalan dengan resmi. Aku Eisuke Hayami, presiden Direktur Grup Hayami.”
“A-aku… aku… Maya KItajima,” Maya seketika canggung.
“Jadi kau ingin menikah dengan anakku?” tanyanya.
“Iya,” Maya menjawab spontan tanpa berpikir dan sontak wajahnya merasa panas sendiri. Masumi juga merasakan wajahnya menghangat dengan jawaban polos Maya.
“Dengar, Maya… Aku yang sudah membesarkan Masumi. Kau lihat dia sudah dewasa seperti ini? Tanganku lah yang memberinya makan.”
Masumi tertegun, Eisuke hendak hitung-hitungan untung rugi?
“Karena itu, jika kau menginginkan dia, ada harga yang harus kau bayar, kepadaku.”
“Apa-apaan!!” Masumi geram. “Berapa utangku kepadamu hah!?”
“Oh… menantang!” seru Eisuke.
“Tunggu!!” lerai Maya. Ia berjalan mendekat kepada Masumi dan berdiri di sampingnya, menatap Eisuke. Ini bukan pertama kalinya mereka berinteraksi. Maya yakin sekali, saat Eisuke bersamanya, pasti ada saatnya pria itu tidak berpura-pura. Kakek Eskrim lucu dan menyenangkan. “Apa yang harus dilakukan, agar kami bisa menikah?”
“Maya!!” Masumi tidak setuju.
Gadis itu mendongak. “Tuan Eisuke benar,” katanya. “Pak Masumi sejak kecil sudah ikut dengannya. Ia yang menghidupimu, membiayaimu, sehingga Pak Masumi menjadi seperti sekarang ini.”
“Bukan mauku hidup seperti ini!” desis Masumi. “Aku hanya—“
“Pak Masumi,” Maya tersenyum tipis, “kita dengarkan dulu, apa yang Tuan Eisuke inginkan,” kali ini tatapan Maya beralih kepada Eisuke. “Jika memang permintaanya masuk akal, kenapa tidak kita turuti? Memenuhi permintaan orang tua adalah salah satu bakti terbaik dari seorang anak.”
Orangtua… Eisuke menatap Maya. Memang ada sesuatu dari gadis itu, yang membuat orang lain merasa dengan mudah menerimanya. Kehangatan hatinya.
“Baik. Kau hanya akan berguna bagi keluarga ini, hanya jika kau mendapatkan Bidadari Merah!” tegas Eisuke. “barulah saat itu, kau boleh menikah dengan putraku!”
“Omong kosong!!” bentak Masumi. “Aku akan menikah dengannya apa pun yang terjadi!”
“Kenapa…?” tantang Eisuke. “Kau tidak yakin dia akan mendapatkan peran itu?”
“Bukan itu!! Aku—“
“Lantas kenapa, kau tidak mau bertaruh denganku?” ejek Eisuke. “Kalau kau begitu yakin dengan aktingnya… kenapa kau menolak mempertaruhkan pernikahan kalian dengan Bidadari Merah?”
“Aku yakin Maya akan mampu menjadi Bidadari Merah terbaik yang pernah ada, bahkan melebihi Bu Mayuko!” tegas Masumi.
Mendengar hal itu, Maya sangat tersentuh. Tak pernah ada yang sebegitu yakin kepada dirinya, bahkan dirinya sendiri.
“Kalau begitu, apa masalahnya? Kenapa kau takut dengan tantanganku!?”
“Baiklah!!” seru Maya, mencuri perhatian kedua ayah dan anak tersebut. “Saya terima tantangannya. Saya… Akan mendapatkan peran Bidadari Merah!” ujarnya yakin.
Eisuke bertepuk tangan dan tampak senang. “Bagus!! Bagus!! Aku yakin kau orang baik, Maya. Kita tidak perlu kontrak untuk memastikan bahwa kau akan menepati ucapanmu kan?”
“Tidak!” tegas Maya. “Aku akan mendapatkan Bidadari Merah! Dan, jika tidak—“
“Kau tidak akan berhubungan lagi dengan Masumi.”
“Ini konyol!!” bentak Masumi geram. Ia menoleh kepada Maya. “Maya, kau tidak harus melakukan pertaruhan ini! Aku akan menikahimu apapun yang terjadi!”
“Pak Masumi,” Maya tersenyum tipis. Tak pernah ia merasa seberani ini saat di luar panggung. “Kau sudah melakukan banyak hal untukku. Sekarang, saatnya aku melakukan sesuatu untuk bisa bersamamu, kan? Tidak apa-apa… selama ini… Aku hanya berakting menurut kesenanganku. Tetapi, sekarang, taruhannya lebih besar lagi. Aku akan berjuang lebih keras, sekuat tenagaku untuk mendapatkan peran itu agar bisa bersamamu. Jika kita ditakdirkan bersama…” Maya menatap penuh cinta. “Pasti ada jalannya, kau dan aku bisa menyatu.”
“Maya…” Masumi trenyuh. Gadis itu akan berjuang untuknya?
“Romantis sekali,” cela Eisuke yang sejenak merasa tak dihiraukan. “Aku akan bertaruh dengan adil. Jika kau menang, kau boleh menikah dengan Masumi. Aku tidak akan melakukan apa pun. Tidak mengusirnya, atau membatalkannya sebagai calon pewaris Daito. Bahkan aku sendiri yang akan berkata kepada pihak Takamiya mengenai penolakan tawaran mereka dan menjelaskan mengenai hubungan kalian. Tetapi, jika kau gagal, Maya… Masumi harus menuruti perkataanku untuk menikahi Shiori, atau dia boleh pergi dari rumah ini dan dari Daito, namun tetap tak boleh menikah denganmu.” Pria itu menyeringai puas. “Mulai sekarang, nasib Masumi ada di tanganmu. Dan, sebelum itu, aku melarang kalian berdua mengumumkan apa pun mengenai hubungan kalian!”
Nasib Pak Masumi… ada di tanganku…. Maya gentar, namun semua sudah terlanjur. Ia tak bisa menarik perkataannya, ia hanya bisa melangkah maju dan berjuang. “Baik! Duduklah dengan tenang. Dan Anda akan melihat, peran dan hak pementasan itu menjadi milikku,” tegasnya.
“Ya, kutunggu bukti ucapanmu. Sekarang keluarlah… Aku lelah!”
Masumi tak berkata apa-apa. Ia masih geram dengan semua yang terjadi. Ia menggenggam tangan Maya dan membawanya keluar dari sana.
“Apa yang sudah kau lakukan!?” hardik Masumi seraya menarik gadis itu menyusuri lorong dengan geram. “Kau tak harus mengikuti permainannya! Dia itu ahli manipulasi! Tidak ada jaminan dia akan menepati perkataannya! Dia itu—“ Masumi berhenti bicara saat Maya tak juga menanggapinya.
Ia menoleh, dan mendapati Maya yang berkaca-kaca dan gemetar.
“Maya…?” ia segera menghampirinya. “Kau… kenapa?”
“Bruk!!” Maya memeluk Masumi dengan tubuh gemetarnya itu. Ia tak berkata apa-apa. Namun Masumi mengerti. Ia ketakutan.
Kemana gadis pemberani yang menantang Eisuke Hayami itu tadi?
“Ya ampun… Maya…” Masumi menghela napasnya, dan balas memeluk gadis itu. Masumi sekarang mengerti, gadis itu memberanikan diri untuknya.
“Pak Masumi…” suara Maya juga gemetar. “Aku… aku akan mendapatkan peran Bidadari Merah. Aku akan mengalahkan Ayumi,” katanya. “Itu janjiku… kepadamu.”
Masumi masih takut, ragu jika semua akan berjalan tidak sesuai harapan. Namun, Masumi menepiskan keraguannya. Ia adalah penggemar terbesar Maya. Ia paling yakin tak ada yang lebih sesuai memerankan Bidadari Merah selain Maya Kitajima, kekasihnya.
“Maaf…” kata Masumi. “Tidak seharusnya aku marah-marah seperti tadi.” Ia mengangkat dagu Maya. “Aku tahu kau akan mendapatkan peran itu.”
Senyuman terbit di antara air mata Maya. “Aku tidak akan kalah!” tegasnya memberanikan diri.
Dan, Masumi mulai menyadari sesuatu. Tantangan dari Eisuke sudah membangkitkan sesuatu yang kurang dari diri Maya Kitajima. Rasa bersaing, yang selama ini hanya di dalam diri Ayumi, tampaknya, sudah mulai tumbuh di dalam diri Maya. Gadis itu tak akan menyerah, dan berusaha lebih keras lagi.
“Aku tahu kau tidak akan kalah,” Masumi tersenyum dan memeluk gadis itu, tak menghiraukan pelayan yang memergoki mereka dan berputar seperti tidak melihatnya.
=//=
Seperti yang Eisuke inginkan, baik Maya dan Masumi bungkam mengenai hubungan mereka. Hanya teman-teman Maya dan Pak Kuronuma yang mengetahui mengenai mereka.
Maya berlatih keras untuk peran ini. Saat Sakurakoji bertemu lagi dengannya, keduanya tak ada yang membahas mengenai masalah asmara mereka.
“Sepertinya, Maya berlatih sangat keras belakangan…” kata seorang staf.
“Hmm…” Kuronuma mengamatinya. Dia sudah mulai sangat serius. Mungkin ia akhirnya mengerti, seberapa penting peran ini.
=//=
“Apa? Jadi Maya… sudah mulai berlatih dengan serius?” ujar Ayumi yang penglihatannya sudah mulai bisa bekerja dengan baik lagi. Kalau begitu…. Aku juga tidak akan kalah… Maya!!
Gadis cantik itu sudah mulai memahami, apa yang selama ini membuat Maya unggul darinya. Kekuatan imajinasinya. Saat ia kehilangan penglihatannya, ia juga berusaha mendekati kepribadian Bidadari Merah, dan ia bisa merasakan apa yang menjadi kekuatan Maya selama ini.
Sebentar lagi, hanya tinggal sebentar lagi….
 
 

An Eternal Rainbow Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting