Showing posts with label Author: Riri. Show all posts
Showing posts with label Author: Riri. Show all posts

Wednesday, 1 June 2011

FF TK - Jatuh Cinta Lagi

Posted by orchid at 19:37 13 comments
Keterangan waktu : 12 tahun setelah Maya & Masumi menikah
Maya berusia 32 tahun & Masumi 43 tahun
Memiliki 2 orang putra
RATING : 18+
JATUH CINTA LAGI
----- R I R I -----

“tuan sudah pulang nyonya” ucapnya lalu berbalik menjauh dari maya yang tetap memainkan tuts piano setelah memberikan anggukan tanda bahwa tadi ia mendengar ucapan pelayannya.
Maya tersenyum tipis disela-sela permainan pianonya, menyadari suaminya telah memasuki ruangan dan mendekatinya.
“semoga kali ini dia tidak mengganggu” pikir maya tetap berkonsentrasi pada lagunya.
Masumi menghentikan langkahnya, menyandarkan punggungnya pada piano, mendengarkan permainan istrinya beberapa saat lalu menoleh memandangi maya yang terlihat serius.
Tak lama kemudian maya mengakhiri permainannya. Sebuah senyum tersungging sebelum ia mengalihkan tatapannya dari tuts piano ke arah masumi. “bagaimana?” tanyanya dengan mata berbinar.
Masumi berpikir sebentar lalu kemudian menggeleng tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
Sontak maya merasa dongkol. Gurunya saja, nona naoko, sudah memuji permainannya, eh, ini malah suaminya sendiri memberi tanggapan seperti itu, “maksudmu?” tanyanya dengan nada kesal.
Masumi tertawa kecil sebelum berjalan menghampiri maya dan mengambil tempat duduk disampingnya. Jari-jari masumi mulai menekan satu per satu tuts piano, “karena permainanmu membuatku berdebar, aku tidak habis pikir, seperti layaknya seorang pro” tutur masumi tanpa memandangi maya.
Maya merubah posisi duduknya sehingga badannya menghadap masumi “benarkah? Kau berdebar?” tanya maya antusias.
Masumi menghentikan permainannya, menoleh ke arah maya dan tersenyum mengangguk “apa judulnya” tanyanya.
“aku jatuh cinta” jawab maya.
Masumi menghentikan lagi permainannya dan menghadapkan tubuhnya pada maya “aku yakin penonton akan terpesona” pujinya.
“terima kasih” ujar maya. “kau datang kan?” tanyanya kemudian.
Masumi tidak menjawab, tampak berpikir “entahlah, aku tanya mizuki dulu” jawabnya serius.
Maya memalingkan wajahnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada, kesal “awas saja kalau kau tidak datang” gumamnya sebal.
Masumi terkikik, menghampiri maya dan dengan kedua telapak tangan yang diletakkan dibangku menyanggah tubuhnya yang setengah membungkuk di samping maya, “kalau aku tidak datang, kenapa memangnya?” bisiknya menggoda ditelinga maya.
“a..i..itu, emm?” maya gugup. Setelah sekian lama menikah masih berdebar rasanya ketika masumi berada begini dekat dengan dirinya, keluh maya dalam hati.
“kau bilang apa sayang? tidak kedengaran” bisiknya menyadari kegugupan istrinya.
“huh” maya lalu berdiri. Baru hendak melangkah meninggalkan masumi, ia merasakan tangannya ditarik dan sejurus kemudian ia sudah berada dalam dekapan erat masumi. “apa lagi” sungutnya.
“hm.. hm.. hm” masumi menggeleng “mana mungkin tidak datang, mizuki tidak akan tega mengisi jadwalku, dia tahu itu bisa membunuhku” bisiknya lembut.
“e..a..em” gumam maya kebingungan hendak menjawab apa karena sepertinya bibirnya sedang tidak sinkron dengan otaknya.
Masumi tersenyum kecil menyadari kegugupan istrinya lalu mengeratkan dekapannya. Kegugupan yang dirasakan maya berangsur reda. Seulas senyum tersungging dibibirnya, bahagia berada dalam ringkuhan masumi.
Maya lalu mendongakkan kepalanya, menatap masumi “masumi, aku mencintaimu” ucapnya lembut.
Masumi balas menatapnya, tersenyum tipis “aku juga maya sayang” ujarnya tak kalah lembut.
“ah, ayo kita ke kamar” katanya kemudian.
Kedua sudut bibir maya yang tertarik ke atas dengan cepat mengarah ke bawah, dongkol, disertai tatapan tajam.
Maya meloloskan badannya dari dekapan masumi.
“dasar genit” tuduh maya sembari menatap tajam suaminya.
Masumi mengangkat kedua bahunya “mau bagaimana lagi” desah masumi.
Keduanya saling menatap.
Maya lalu menenggelamkan tubuhnya ke dalam dekapan masumi. Keduanya berpelukan.
“jadi kita melanjutkan di kamar?” ujar masumi lagi.
“auwwww” jerit masumi setelah merasakan pinggangnya dicubit namun tidak melepaskan pelukannya.
“kau masih mau?” ujar maya masih berpelukan.
“hahaha, boleh, dikamar” jawab masumi lalu mengubah posisi maya, menggendongnya.
“eh, masumi” protes maya setengah berteriak. Namun masumi tetap melangkah dan tersenyum.
Melihat suaminya tersenyum, maya juga ikut tersenyum, lalu melingkarkan tangannya dileher masumi.
“kau tidak lelah?” tanya maya. Masumi hanya tersenyum dan menatapnya penuh binar-binar cinta.
Mereka sampai di depan pintu kamar, masih digendongan masumi, maya membuka pintu kamar.
Sesampainya didekat tempat tidur, masumi meletakkan maya ditengah kasur lalu menjatuhkan dirinya dalam keadaan tengkurap.
EH
Maya kebingungan.
Masumi masih dalam posisi tengkurap lalu menoleh ke maya “bisakah kau memijitku, badanku pegal setelah menggendongmu, kau semakin berat saja” keluh masumi sambil meremas tengkuknya.
APAAAAA
Kata maya berusaha menahan kejengkelannya sambil memandangi masumi dengan heran.
“ayolah sayang” ajak masumi.
Maya masih menatap suaminya tidak percaya.
Masumi balas menatap dengan sedikit memelas.
“hhhh, baiklah, sini” putus maya akhirnya.
Masumi lalu bangun terduduk, mulai membuka satu kancing bajunya.
“eh, kenapa buka kancing?” tanya maya keheranan.
Masumi menghentikan aktivitasnya lalu menatap maya dengan heran “apa kau mau membukakannya” godanya sembari merangkak mendekati maya.
“hahh” nafas maya tertahan lalu terengah-engah memundurkan dirinya.
DEG
Tubuh maya tertahan kepala tempat tidur. Kini wajah masumi yang sedang tersenyum dan menatapnya lekat berada sangat dekat di depannya.
“a…apa kau ja…jadi mau di…dipijit?” tanya maya dengan kedua kelopak mata menyipit berusaha menawarkan rasa gugupnya.
“tidak lagi” ucap masumi dengan sesungging senyuman.
Kedua bola mata maya membelalak.
Dan ………………....................................
===== G =====
Setelah 12 tahun menikah dan 2 orang jagoan yang mereka miliki, masumi masih bisa merasakan getar-getar yang sama ketika melihat istrinya memainkan peran.
EH
Masumi merasakan tubuhnya gemetar, melihat tatapan maya menatap lawan mainnya, jatuh cinta, ya, ekspresi jatuh cinta, membuat masumi mabuk kepayang, juga jatuh cinta, setengah mati.
LOH
Masumi merasakan dadanya bergemuruh, melihat gerakan maya memeluk lawan mainnya, saat lawan mainnya juga mengatakan cinta kepadanya, masumi mengepalkan kedua tangannya erat dan memicingkan matanya saat melihat lawan main maya membalas pelukan itu.
HHHHHH
Masumi merasakan hawa disekitarnya terasa panas, mereka masih berpelukan, sampai kapan, pikir masumi semakin tegang.
APPPAAAA
Teriak masumi dalam hati, melihat pria itu semakin erat memeluk maya, istrinya. Kepalan tangannya kian mengepal kuat. Tanpa sadar masumi tiba-tiba berdiri.

MEREKAAAA

Rahang tegas masumi bergetar saling mengatup dan kedua kepalan tangannya bergetar.

“hen…” pekik masumi, tertahan.

Plok……plok…….plok…….

Suara tepuk tangan yang bergemuruh dan sorak sorai penonton diikuti turunnya tirai panggung menghentak masumi.

Masumi memandangi sekitarnya dan mulai mencerna.

“eh, sejak kapan aku” pikir masumi tertegun mendapati dirinya sedang berdiri.

Masumi lalu mengarahkan pandangannya ke panggung, terlihat tirai terangkat lagi diikuti kemunculan seluruh pemain satu per satu. Terakhir tampak olehnya maya, lalu bersama pemain lainnya membungkuk memberi hormat dengan melemparkan senyuman, diliputi kemilau seperti biasanya, puji masumi dalam hati, dengan senyuman merekah yang menyapu tak bersisa jejak-jejak kecemburuannya yang tadi hampir saja meledak.

======= G =======

Maya membalikkan dirinya, memandangi masumi yang berjalan ke arahnya.

“bagaimana tadi?” tanyanya sambil meremas-remas jari-jarinya, menunggu reaksi.

“sangat memukau dan…..“ pujian masumi terhenti seiring langkahnya yang tertahan karena dirinya berjarak cukup dekat kini dengan maya.

“dan?” tanya maya penasaran kelanjutannya dengan kedua alis yang terangkat.

“membuatku hampir……” keluh masumi.

HHHHH

Desah masumi lalu merangkul tubuh mungil istrinya, tak menyisakan ruang diantara mereka berdua.

Maya melingkarkan kedua tangannya lalu mendongakkan kepalanya.

“ada apa? Kenapa?” tanyanya bingung.

Masumi mendesah lagi lalu balas menatap maya.

“tidak sayang, hanya efek samping seperti biasanya” bisiknya lemah dan mencoba menarik satu sudut bibirnya ke atas untuk tersenyum.

Maya mengerti arah pembicaraan masumi. Ia lalu merapatkan pipinya di dada suaminya “maaf ya masumi” ujarnya prihatin sambil menyapukan ibu jari dan telunjuknya dipinggiran kerah jas masumi, merasa tidak enak hati.

Masumi tersenyum kecil lalu menyampirkan helaian rambut maya ke belakang telinganya.

“tidak perlu meminta maaf, lagipula…..” masumi menarik nafas lalu mengeratkan dekapannya.

“salahku sendiri, aku sungguh tak berdaya” tuturnya lagi, kembali menyungging senyuman.

“masumiiii” gumam maya kembali menatap wajah suaminya.

Maya melepaskan pelukannya lalu mendorong dirinya menjauh dari masumi, berjarak beberapa langkah di depan masumi.

Masumi terheran.

Maya mengamati wajah masumi, lalu sedikit memiringkan kepalanya ke kanan hampir merapatkan pada bahunya sendiri.

“tak terasa waktu berlalu” maya mulai mengulangi dialognya dipanggung tadi sambil membawa kedua tangannya menyilang ke belakang.

Masumi menahan senyumnya dan mengangkat kedua tangannya di bawah dadanya, menyilangkannya.

Maya terdiam sebentar masih menatap masumi. Ia membawa kepalanya miring ke sisi kiri.

“tapi rasa ini, masih ada” maya memandang lantai sambil mendesah lalu kembali melemparkan tatapannya pada masumi.

Masumi terlihat terkejut menerima tatapan maya.

“apa yang harus kuperbuat?” maya berujar putus asa.

DEG

“kenapa denganku” masumi kebingungan.

“aku tidak kuat lagi menyimpannya” nada maya terdengar pilu.

Maya merasakan tubuhnya menggigil. Ia lalu mendekap dirinya.

“rasa cintaku……….padamu” maya mengeratkan dekapan pada dirinya, membawa tatapannya menyelam jauh melewati mata masumi.

“ma…..ya!!” eja masumi pelan, merasakan tubuhnya terguncang.

Tanpa aba-aba, kaki masumi melangkah mendekati maya, tangannya terangkat, meraih maya lagi, memeluknya dengan segenap hati.

Maya membiarkan dirinya, diliputi masumi.

“aku benar-benar tidak tertolong” desir masumi.

“eh” maya sedikit terkejut.

“apakah ini akting?” tanya masumi sedikit berbisik.

Maya menahan senyumnya, mereka masih saling mendekap.

“tentu saja, itukan salah satu dialogku tadi” terang maya acuh.

APA

Masumi melepas dekapannya, membawa tangannya memegang kedua sisi lengan maya.

“lalu kenapa tadi kau memelukku?” tanyanya dengan nada sedikit meninggi.

“kau duluan yang memeluk” bela maya.

“aku kan cuma…” papar maya terhenti.

Masumi baru saja mengecupnya. Tampak tersenyum puas.

“tadi itu apa?” tanya maya menghadiahi masumi pelototan.

“yang mana?” tanya masumi pura-pura tak mengerti pertanyaan maya.

Maya memicingkan matanya.

“ihhhh” maya mendesis.

Masumi menekuk lututnya hingga wajahya sejajar dengan maya.

“ckckckck, apa ini juga akting sayang?” tanyanya melempar tatapan berbinar, penuh kejahilan.

Maya menambahkan geraman setelah menyipitkan matanya.

“masumiiiiii” gumam maya.

“iya maya” sahut masumi lembut.

Mereka saling menatap.

Masumi akhirnya tersenyum.

“kau makin membuatku gila” papar masumi.

Masumi kembali tegak berdiri.

“dan kau harus bertanggungjawab” pinta masumi.

“dan dosisku lebih dari biasanya” paparnya serius.

“hah” maya terperangah.

“kau mengerti maya” tanya masumi seraya membawa dirinya ke samping maya dan merangkulnya.

Maya terkikik.

“salahmu sendiri ah, kenapa aku harus bertanggungjawab” maya mengacuhkan masumi tapi tidak dengan rangkulannya, sedikit tergelak.

“eh” maya terhenti tergelak. Masumi baru saja mengecupnya lagi. Ia memelototi masumi disampingnya.

“aku kan sudah bilang barusan, kalau dosisku melebihi biasanya” masumi balas menatap acuh.

“aduh, geli, maya, aduh, cukup, cukup, ampun” masumi menggeliat digelitik maya.

“tak ada ampun” maya semakin gencar. Masumi tak berdaya menghalau.

“aaaaa” masumi berhasil menangkap kedua tangan maya. Maya terperanjat.

Masumi mengamati maya yang berusaha menarik-narik tangannya.

“masumi lepas” ujar maya terlihat sekuat tenaga. Tapi apalah artinya dibandingkan dengan masumi.

“tidak” tolak masumi tidak peduli.

Nafas maya terlihat terengah-engah. Masumi hanya tersenyum cerah.

“geliiiiii, ampuuuuun” giliran maya tergelitik, di lehernya masumi sedang melancarkan aksi balas dendamnya dan masih tidak melepaskan tangan maya.

“mmmmm” gumam masumi menikmatinya.
"ampuuuuuuun, geliiiiii" mohon maya.

EHEM

Keduanya terhenti dan serempak menoleh ke sumber suara.

Seorang pria berdiri memegang daun pintu.

“dia lagi” gerutu masumi dalam hati.

“shin” sapa maya mengenalinya.

“selamat malam maya, pak masumi” tutur sopan pria itu.

“selamat malam kurasawa shin” balas masumi tajam sambill menghadapkan badannya ke arah pria itu dan menyelipkan salah satu tangannya ke saku celananya.

“ada perlu apa shin” tanya maya sopan juga ikut menghadapkan badannya.

“kupikir ruanganmu sudah kosong dan telah berada di main hall” terangnya.

“kami baru mau ke sana” papar masumi mengeluarkan tangannya dari saku celana dan memindahkannya ke pinggang maya.

“oh, kalau begitu, kita bersama saja, bagaimana?” tawar shin.

Tangan masumi satunya lagi mengepal.

Maya merasakan tangan masumi dipinggangnya kaku.

“duluan saja shin, masih ada yang mau kurapikan” tolaknya halus.

Otot masumi merenggang.

“tidak apa-apa, aku akan menunggu” tawar shin sekali lagi.

“hm” masumi memaksakan mendehem. Merenggangkan otot lehernya sebelum melanjutkan.

“kurasa ……”

“tidak perlu shin, sepertinya agak lama, sebaiknya kau segera muncul untuk melayani para wartawan, oke” bujuk maya yang menyadari gelagat pria disebelahnya yang sudah sangat ia hapal.

“baiklah, tapi kau tidak apa-apa sendiri ke sana?” tanyanya polos.

“sen-di-ri” eja masumi dalam hati semakin membuatnya gerah.

“aku ada yang menemani kok” terang maya menepuk pelan dada masumi.

“oh, iya, benar juga” sadarnya.

“kalau begitu saya duluan maya, pak masumi, sampai bertemu di ruang perjamuan” pamitnya akhirnya.

Masumi menajamkan tatapannya, menunggu pria yang tak jauh di depannya merealisasikan ucapannya.

Dan akhirnya shin membalikkan badannya dan menghilang dari pandangan keduanya.

“dia, lawan mainmu, sungguh membuatku sangat ingin mengenalnya” nada bicara masumi terdengar menakutkan.

“apa kau mau ke perjamuan?” tanya maya mengamati tatapan pria di depannya.

“apa maksudmu?” masumi memicingkan matanya sambil bertolak pinggang.

hhhh

Maya menghela nafas berat.

“di-a ha-nya la-wan ma-in-ku di-pang-gung, masumi” eja maya.

Masumi menundukkan wajahnya hingga wajah maya tepat di depannya.

“di-a ju-ga mem-bu-at-ku ke-sal, maya” eja masumi juga.

“masumiiii” rengek maya.

Hhh

Masumi mendesah pelan lalu menjauhkan wajahnya.

“aku akan berusaha bersikap santun, tapi….” masumi menarik nafas ringan.

“aku ini hayami masumi dan kau hayami maya dan dia harus tahu dirinya hanyalah kurasawa shin, hanya kurasawa shin” tegas masumi sambil merapikan dasinya.

Huhhhh

Maya mendengus mendengar ucapan suaminya.

Masumi membentuk lengannya menjadi segitiga lalu mengangkat kedua alisnya menatap maya.

“ayo” ajak masumi.

Setelah menghela nafasnya, Maya pun akhirnya menyelipkan tangannya disana.

===== G =====


Sesekali masumi menimpali dengan senyuman ramahnya ketika beberapa wartawan menanyai dirinya setelah maya. Setelah dirasanya cukup, maya mengakhiri dengan menyilakan para pemburu warta tersebut mencicipi hidangan yang telah disediakan dan pamit untuk menyapa tetamu lainnya.

Keduanya kemudian menghampiri dan menyapa dengan ramah beberapa orang dan tak lama berpindah ke yang lain.

"ini dia datang lagi sayang" bisik masumi melirik shin yang tampak mendekat. Tapi tidak sendiri, dia ditemani seorang pria paru baya.

Entah kenapa dengan lawan main istrinya yang satu ini--pria berusia 20 tahun, berbakat, lulusan sekolah akting amerika dan masih sendiri--membawanya kembali ke masa-masa dimana maya belum menjadi istrinya--memerankan bidadari merah bersama sakurakoji--dan karena semenjak menikah, ini kali pertama lawan main istrinya adalah seorang pria lajang yang sepertinya jatuh cinta pada istrinya.

Masumi menghela nafas tak kentara ketika shin telah sampai tepat dihadapan mereka.

"ah masumi, untuk beberapa saat kukira dia benar-benar jatuh cinta pada putraku, jika saja aku tidak teringat kalau dia istrimu, hahaha, mengagumkan, sangat mengagumkan maya" puji pria paru baya itu dengan diselingi tawa yang renyah.
Maya tersenyum, sedikit tersipu.
"terima kasih pak takao" ujar maya.
"begitu juga putra anda, aktingnya bagiku terlihat begitu nyata, membuatku sedikit khawatir, kalau-kalau dia sungguh jatuh cinta pada istriku ini" lanjutnya sambil menoleh ke arah maya.
"hahaha, begitukah? aku juga tadinya berpikiran sama sepertimu masumi, tapi aku bisa pastikan, bahwa shin hanya berakting, iya kan shin?" paparnya lalu menoleh meminta jawaban pada putranya.
Shin mengangguk menjawab ayahnya lalu ia tersenyum pada masumi.
“kau bisa dengan tenang bekerja hingga akhir tahun ini di rapat pemegang saham, jadi kami semua dapat terpuaskan, hahaha" lanjutnya yang dibalas masumi dengan senyuman.
Masumi tersenyum diplomatis.
"terima kasih atas kesempatan yang anda berikan kepada saya pak masumi" ucapnya sedikit menggerakkan kepalanya menunduk memberi hormat sambil tersenyum.
Masumi balas tersenyum, sekadarnya.
"terima kasih atas kesuksesan yang kau berikan , para kritikus tadi memujimu. selamat untuk aktingmu yang memukau" puji masumi dengan senyuman diplomatisnya.

"aku rasa ini berkat maya pak masumi, kalau bukan dia lawan mainku mungkin hasilnya berbeda, saya kagum padanya pak" pujinya mengalihkan tatapannya pada maya,

"terima kasih shin, kau terlalu merendah" elak maya menatapnya tersenyum.

"tentu saja, itu karena dia adalah hayami maya, shin" ucap masumi tersenyum sembari memberi penekanan ketika sampai pada kata 'hayami', membuat shin menoleh ke arahnya.
"untuk putra anda, untuk pementasan ini 6 hari ke depannya, semoga sukses" ujar masumi menghentikan pelayan yang melewati mereka dan mengambil 2 gelas, Shin dan ayahnya juga mengambil segelas anggur. Masumi lalu memberikan gelas satunya pada maya.

"untukmu juga sayang" ucapnya lembut mengalihkan pandangannya pada maya dengan senyum lebar.

mereka lalu bersulang.

"selamat menikmati malam ini shin, pak takao, saya membawa istriku berdansa dulu" katanya sembari membawa maya berlalu.

Maya melemparkan senyuman ke arah mereka sebelum berlalu mengikuti masumi.

==== G ====

masumi mengamati wajah maya dihadapannya, ia lalu memberikannya senyuman.
"ah, kau terlihat tampan dengan senyumanmu yang seperti ini" goda maya sesaat sebelum mereka bergerak.
"melebihi shin kah?" tanya masumi.
Maya tersenyum kecil.
"lebih dari siapapun didunia ini" terang maya lembut.
Masumi mengangguk, tersenyum bangga.
"ah, kekagumannya shin, membuatku teringat masa lalu sayang" ujar masumi memulai dansanya.
Masumi memutar tubuh maya.
"teringat masa lalu?" tanya maya ketika mereka kembali berhadapan.
"masa dimana aku juga awalnya mengagumimu, tapi entah sejak kapan dan sebelum sempat menghindarinya, rasa kagum itu telah berubah" terang masumi.
"apa kau tahu, seandainya kau tidak membalas perasaanku dan menikah dengan pria lain, aku pasti gila, benar-benar gila" tuturnya penuh perasaan.
maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca, terharu.
"bahkan sampai saat ini pun, setelah sekian lama hidup bersamamu, melihat aktingmu, rasanya tak pernah bosan, malah makin terpesona, dan aku jatuh cinta lagi" lanjutnya.
Air mata maya terjatuh juga.
"juga cemburu lagi" lanjutnya.
maya tersenyum jenaka mendengarnya.
masumi menghentikan geraknya, mengamati maya sepenuh hati.
"aku, hayami masumi, sangat mencintaimu, maya, sangat mencintai" terangnya.
maya tersenyum haru lalu menggeleng pelan.
"bukan maya, tapi hayami maya, hayami maya, aku juga mencintaimu masumi, dengan segenap jiwa dan ragaku" jawabnya lembut.
Masumi tersenyum haru, tersentuh.
"maya, ah, salah, hayami maya, iya, hayami maya, istriku" ujarnya lembut.
keduanya kembali berdansa. tak lama kemudian, mereka mengakhirinya dan kembali menyapa para tamu.
"pria yang beruntung, sangat beruntung" gumam shin menatap keduanya dari kejauhan.
THE END

Disinilah mereka, maya dan masumi, ditengah kerubunan wartawan yang menghampiri sesaat setelah mereka memasuki ruangan perjamuan itu.

Saturday, 7 May 2011

Fanfic TK : Melayang 4

Posted by orchid at 01:36 5 comments
MELAYANG 4
----- RIRI -----

“hmmm, apa kau tahu, ulang tahunku sebentar lagi?” kata masumi memandang lurus ke depan.
Maya berpikir sebentar
“hmmmm, iyaya, dan… aku bingung mau memberi apa pada masumi hayami, menurutmu apa yang dia inginkan?” tanya maya meliriknya.
Masumi melirik maya sebentar lalu kembali menyetir
“hak pementasan bidadari merah” katanya serius.
Maya menoleh
“jadi, hingga saat ini kau masih menginginkannya?” tanyanya dengan nada sedikit kesal.
Masumi menghela nafas dan menepikan mobilnya. Maya menatapnya heran.
Masumi melepas sabuk pengamannya, memutar badannya ke arah maya, dan menatapnya dingin
“tentu saja” katanya.
“kalau aku tidak bersedia?” tantang maya.
Masumi mendekati maya
“kau akan menyesal!” ucapnya lalu menarik dirinya kembali.
“kau akan menyesal” lanjutnya tersenyum dingin menatap maya.
“benarkah?” tantang maya sekali lagi.
Masumi mendekati wajah maya.
Maya terlihat mengerjapkan mata, kikuk.
“hmmm” gumamnya sambil menatap matanya.
Dengan cepat maya menahan kedua bahu masumi
“masumi…. ini jalan raya” bisiknya pelan.
“tapi cukup sepi” balas masumi lebih berbisik yang dibalas dengan pelototan maya.
Tiba-tiba maya menutup kedua telinganya dengan mengaduh lirih, mendengar suara yang memekikkan telinga.
“maya?” tanya masumi mengguncang tubuh maya.
Tidak lama, maya membuka mata dan menatap masumi
“tadi aku mendengar suara yang sangat keras, kau dengar?” tanyanya.
Masumi menggeleng
“tidak, sekarang bagaimana?”
Maya menggeleng
“sudah hilang” lanjutnya.
“kau yakin?” tanya masumi meraba dahi maya.
Maya mengangguk.
Masumi menghela nafas, mundur untuk kembali memasang sabuk pengamannya dan membawa mobil itu melaju.
**********
Maya keluar dari pintu mobil yang dibukakan pelayannya. Maya menunggu masumi menghampirinya lalu merangkul lengannya, menyandarkan kepalanya disana dan mereka berjalan memasuki rumah.
“masumi” panggil maya lirih.
Masumi menoleh, merasakan pegangan maya melorot, tapi dengan sigap ia meraih tubuhnya.
“MAYA” pekik masumi melihat maya terkulai di pelukannya.
******
Masumi merebahkan maya ditempat tidur, meraba dahinya, lalu lehernya dan jemarinya
“tidak panas, tidak dingin” katanya dalam hati.
Masumi mulai melonggarkan yang dipakai maya yang dipikirnya membalut ketat.
“maya” panggilnya sambil mengguncangnya pelan beberapa kali hingga akhirnya maya membuka matanya pelan.
Masumi menghela nafas lega.
“aku kenapa?” tanya maya lemah.
“sepertinya kau pingsan sayang” jawabnya.
“kau baik-baik saja?” tanya masumi lembut.
Maya mengangguk pelan
“rasanya sedikit haus” jawabnya lemah.
“sebentar tuan” kata pelayan disampingnya berbalik keluar kamar kemudian kembali membawa segelas air.
Masumi mengangkat kepala maya dan membantunya meneguknya lalu merebahkannya kembali.
“rasanya berat” kata maya mengerjapkan mata.
“maya” panggil masumi.
Maya membuka mata dengan berat
“hmmm” gumamnya.
“tidak” kata masumi tersenyum tapi raut khawatir diwajahnya belum hilang.
“maya” panggilnya lagi.
“hmmm” gumamnya dengan mata tertutup.
Masumi tersenyum lalu berdiri tapi tak lama dia duduk lagi
“maya” panggilnya didepan wajah maya.
“masumiiiii” ucap maya lemah dengan mata tertutup namun ada nada jengkel disana.
Masumi menatapnya dengan senyuman, menghela nafas lega lalu beranjak menjauh dari tempat tidur.
******
Masumi baru akan membuka dokumen yang tadi dibawa mizuki ketika ponselnya berdering.
“iya, rei” katanya.
Wajah masumi berubah pucat.
“apa maksudmu?” tanyanya dingin.
*****
Masumi menghirup dan menghembuskan nafasnya berulang kali berusaha mengisi paru-parunya yang terasa kekurangan oksigen tapi tetap saja masih terasa sesak ketika mengingat pembicaraannya dengan rei sahabat maya beberapa saat yang lalu.
Rei mengatakan kalau maya melarikan diri dari rumah masumi dan mendatangi apartemennya. Ketika mereka bertemu, maya bercerita kalau ia kebingungan dan ketakutan karena tiba-tiba tidak bisa mengingat apa-apa.
Yang ia ingat hanyalah saat masumi membawanya ke rumah besar itu setelah kehujanan sekian lama akibat kesedihannya kehilangan kemampuan akting dan kematian ibunya.
Lalu saat ia terbangun, ia berada dikamar dengan foto dirinya dan masumi dengan pakaian pengantin dan pelayan yang menghampirinya dengan panggilan nyonya.
Rei lalu bertanya apalagi yang harus dilakukannya dan masumi terdiam sebentar lalu meminta rei tidak membantah apapun yang nanti bakal disampaikan lagi oleh maya dan tetap mendukung apa yang maya sampaikan meskipun itu adalah kebencian maya pada masumi hayami.
Setelah berbicara dengan rei, masumi meletakkan ponselnya di atas meja dan membalikkan badannya ke arah jendela, memandang keluar dengan tatapan kosong.
“bagaimana ini bisa terjadi? Mawar ungu” masumi memutar dirinya mencari ponselnya dan mencari nomor lalu menekan tombol panggil pada nomor tersebut.
“hijiri, aku ingin kau pergi menemui maya, dia ada di apartemen rei” kata masumi dengan melanjutkan memberikan penjelasan tentang kondisi maya yang membuatnya kebingungan dan Ia ingin hijiri memastikan apakah maya mengingat identitas mawar ungu.
*****
Masumi melihat jam mejanya yang menunjukkan jam 9 pm.
Saat ia disibukkan dengan pikirannya tentang tugas yang diberikannya pada hijiri, ponselnya berdering.
“iya hijiri” sapanya sedikit berat.
Hijiri menceritakan kalau maya tidak mengingat dirinya dan dengan hati-hati mengorek informasi tentang apakah maya mengingat identitas mawar ungu.
Setelah memastikan maya tidak mengetahui identitas mawar ungu maka hijiri pun memperkenalkan dirinya sebagai penghubungnya dengan mawar ungu.
Maya juga mengatakan padanya agar menyampaikan pesannya pada mawar ungu yang ia rekam dalam pesan yang hijiri kemudian kirimkan melalui ponselnya.
Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan hijiri, masumi lalu membuka pesan yang tadi hijiri kirim yang berisi pesan maya.
Disana terlihat maya mengucapkan terima kasih karena telah membantunya mencapai impiannya yakni bidadari merah dan akan memberikan tiket khusus untuk menonton pementasan perdananya sebagai ungkapan terima kasihnya sesuai janjinya dan berharap mawar ungu bersedia datang.
Melihat hal ini Masumi tidak tahu apakah harus senang atau sedih, tapi saat ini melihat wajah istrinya itu, sedikit menghiburnya seolah tidak terjadi apa-apa, masumi mengklik ikon pause yang membuat gambar maya tertahan.
Masumi lalu memandanginya
“apa yang kau ingin aku lakukan selanjutnya sayang?” tanyanya sambil berusaha menghirup nafas lebih dalam karena tiba-tiba dadanya terasa sesak lagi.
*****
Masumi memasuki ruangan tempat maya berlatih untuk pementasan bidadari merah.
Ia melihat maya sedang berlatih.
Sehari sebelumnya ia didatangi pak kuronuma untuk menyampaikan keheranannya mengenai dialog bidadari merah yang tetap diingat maya.
Dan ucapan rei tentang perasaan suka maya pada koji membuat masumi tidak tahan untuk segera menemui maya.
Namun, sesampainya di gedung tempat latihan maya, langkahnya terhenti di pintu menatap maya dari kejauhan.
“maya” ucap masumi dalam hatinya dengan mengeratkan kepalan tangannya.
“bidadari merah….. bahkan sakurakouji masih tersisa diingatanmu, sedang aku…… hanya rasa bencimu yang ada disana” ucapnya dalam hati pilu memandangi maya sedang beradu akting dengan koji.
“permisi pak” suara pria dari belakang membuat masumi menoleh dan mendapati hijiri yang berdiri dengan buket mawar ungu.
Masumi tersenyum
“dan mawar ungu” katanya dalam hati.
Ia lalu mempersilakan hijiri lewat.
Masumi melihat dari kejauhan betapa maya sangat bahagia menerima mawar ungu.
Sebelum maya mendapatinya, masumi segera menyembunyikan diri dibalik pintu. Ia teringat kata-kata rei tentang kebingungan maya pada dirinya yang gemetar ketika pernah berpapasan dengan masumi.
“dia bahkan seperti itu ketika bertemu denganku” rintihnya dalam hati.
Dengan berat masumi melangkah menjauh meninggalkan tempat itu.
***********
Masumi duduk didalam kantornya dengan gelisah menunggu kedatangan koji. Akhirnya koji muncul dari balik pintu kantornya. Koji lalu mengambil tempat duduk berhadapan dengannya.
“kau pasti sudah mengetahui kondisi maya saat ini bukan?” tanya masumi menggenggam kedua tangannya di atas meja.
“iya” jawab koji.
“aku ingin menitipkan maya padamu” kata masumi mengeratkan genggamannya.
“apa maksud anda?” tanya koji memperbaiki posisi duduknya.
“kami akan berpisah seperti yang dia inginkan dan kau sebagai orang yang dia sukai saat ini dan aku yakin kau juga sama kan?” masumi menarik nafas berusaha merilekskan syaraf-syaraf di kepalanya yang sedari tadi tegang
“aku harap kau membuatnya…… bahagia” masumi menghela nafas menunggu jawaban koji.
“lalu bagaimana ketika nanti dia bersamaku, ingatannya tentang anda kembali?” tanya koji dengan meletakkan kedua tangannya diatas meja saling menggenggam seperti masumi.
“apa?” masumi terhenyak
“itu…” masumi berusaha mencari kata menjawab tapi tidak ia temukan.
“bagaimana pak masumi?” kata koji menarik dirinya bersandar dikursi.
“apa anda sedang memperolok saya?” kata koji menghembuskan nafas kesal.
“tidak begitu” masumi terdiam sebentar lalu menarik nafas dan menghembuskannya
“jika kau diposisiku, apa yang akan kau lakukan?” tanyanya kemudian.
Koji lalu menarik nafas dan menghembuskannya pelan
“maafkan aku pak masumi” kata koji dengan nada sedikit bersahabat.
“jadi… kau setuju?” tanya masumi tegang.
“baiklah” jawab koji.
“terima kasih” kata masumi berdiri dan mengulurkan tangannya.
Koji melihat tangan masumi sebentar lalu berdiri
“apa anda tidak takut dia tidak akan mengingat anda selamanya?” tanyanya.
“hm… entahlah…tapi saat ini hanya ini” gumam masumi dan berusaha tersenyum.
“baiklah pak masumi” kata koji sambil menjabat tangan masumi.
Keduanya tersenyum lalu koji berbalik meninggalkan masumi.
“maya” ucap masumi dalam hati menatap koji menghilang dari balik pintu.
*****
“kita mau kemana?” tanya maya pada koji yang membawanya dengan motor ke suatu tempat.
“bukankah kau ingin mengingat semua peran yang pernah kau mainkan?” kata koji pada saat mereka berhenti di sebuah gedung.
“inilah tempatnya” katanya kemudian.
Mereka kemudian memasuki gedung itu dan tiba di sebuah ruangan yang terdapat sebuah layar lebar.
“aku sudah mengumpulkan semua dokumentasi pentas yang pernah kau mainkan selain bidadari merah tentunya karena kita belum mementaskannya. Walaupun tidak semuanya karena ada yang tidak terdokumentasi dan ada yang belum sampai, tapi untuk hari ini cukup ini dulu” katanya mulai duduk dan menekan beberapa tombol pada sebuah laptop yang terhubung dengan sebuah in focus.
Gambar pertama adalah penampilan maya sebagai beth, maya terlihat terkejut melihat dirinya sebagai beth yang sekarat. Keterkejutannya berlanjut pada penampilannya sebagai midori lalu gina, hellen keller dan dua putri.
“ayumi” kata maya menatap koji.
“kau mengingatnya?” tanya koji.
Maya menggeleng “entahlah”
“eh, koji kau datang juga?” tanyanya ketika melihat koji diantara penonton pada pentas dua putri.
Koji mengangguk dengan enggan.
“Eh, dia?” kata maya yang membuat koji menoleh kembali ke arah layar dan mendapati disana ada gambar masumi sedang bertepuk tangan diantara penonton.
“kenapa dia?” tanya maya masih menatap gambar masumi.
Koji lalu kembali menatap maya “sama denganku menontonmu” jawabnya.
“bukan itu, wajahnya, kenapa wajahnya begitu?” kata maya kebingungan.
“wajahnya?” tanya koji menoleh kembali ke layar.
Maya merasa aneh melihat kali pertama ekpresi masumi yang seperti itu, lembut, penuh cinta “ah, tidak mungkin” sanggah maya dalam benaknya.
Gambar pun beralih pada pentas Jean.
Maya terkesima melihat dirinya. “rasanya ada yang kurang” pikirnya mengamati dirinya diakhir pementasan Jean.
“ada apa maya?” tanya koji mengagetkannya.
Maya menggeleng
“maaf, tapi sepertinya tidak banyak yang kuingat” katanya lemah.
“tidak apa, kita pulang saja, masih ada besok” kata koji berdiri dari tempat duduknya mendekati laptop.
*******
Maya dan koji sedang berdiri di depan pintu menunggu hujan reda. Maya menggigil, terkejut dan spontan ia memegang kepalanya menyangka jaket yang dilempar koji mengenai kepalanya yang ternyata hanya tersangkut di bahunya.
“heh” maya tertegun dengan kesalahannya.
“maya, tunggulah sebentar, sepertinya kunciku ketinggalan didalam” kata koji menghampiri maya sebentar lalu meninggalkannya.
Maya lalu berjalan menuju sebuah sofa dan duduk disana.
Maya memandangi hujan di siang hari ini yang belum juga reda dari jendela.
Maya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya sambil menghirup nafas dalam dan ketika dia menurunkan tangannya, tampak masumi muncul dari balik pintu dengan basah kuyup, melepaskan jaketnya dan melap rambutnya yang basah dengan sapu tangannya.
“heh” maya terhenyak melihat pemandangan itu dan berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari masumi.
Tiba-tiba maya merasakan tubuhnya bergetar hebat
“ah” teriaknya tiba-tiba yang membuat masumi menyadari keberadaannya yang tidak jauh darinya dan berlari menghampiri.
“jangan mendekat” katanya dengan nada gemetar.
“maya” panggil masumi dengan tatapan sayu.
“hah” panik maya mengamati dirinya yang semakin gemetar hingga pandangannya sedikit kabur.
Masumi secepatnya merangkul maya yang terlihat sempoyongan.
“maya” teriak masumi sambil mengguncang tubuh maya.
Teriakan masumi selanjutnya yang memanggil namanya berulang kali akhirnya membawa sepotong demi sepotong ingatan maya,
mulai dari saat masumi menghampirinya di taman,
saat ia berperan sebagai toki dan masumi melepaskannya dari daito,
pentasnya sebagai puck dan masumi disana,
dua putri dan masumi juga disana,
jean dan masumi disana, seorang diri basah kuyup seperti beberapa saat sebelumnya.
“masumi” panggil maya membelai pipi masumi yang basah dan menatapnya haru.
Maya mengerjapkan matanya hingga air mata yang sedari tadi tergenang akhirnya meluap keluar.
Masumi terhenyak
“maya” ucapnya dengan nada bergetar meraih tangan maya dan menggenggamnya.
“aku…. ingat… masumi…. dan…. mawar ungu… maaf… kan aku” kata maya lemah.
Spontan masumi meraih maya dalam pelukannya.
“maaf…. masumi” katanya lirih.
Masumi memeluknya lebih erat sambil mengangguk berulang kali ketika maya memanggil-manggil namanya.
“masumi… masumi… masumi” nada maya terdengar semakin meninggi.
Masumi tersentak.
Masumi membuka matanya dan mendapati maya menatapnya tajam di pelukannya.
“hah”
Masumi lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling yang tidak lain adalah kamarnya.
“masumi” panggil maya berusaha meronta yang mengembalikan pandangan masumi ke dirinya.
“hahhh” desah masumi.
“kau bermimpi ya?” kata maya mengernyitkan dahi.
“mimpi? Aku… bermimpi?” jawabnya juga mengernyitkan dahi yang dibalas maya dengan tatapan pasrah.
“heh, kau seperti ryu, aku bercerita sebentar, langsung tertidur” keluh maya.
“cerita apa?” tanya masumi mencoba mengingat.
“masumi sayang, kau sendirikan yang memintaku menceritakan alur cerita drama terbaruku, mika, yang kehilangan ingatan tentang suaminya yang sangat ia cintai.”
“mika?” tanya masumi lagi mencoba merefresh memorinya.
Maya menghela nafas.
“aku juga yang salah karena terlalu larut dalam ceritaku hingga tidak menyadari kau sudah tertidur. Dan yang membuatku tersadar adalah tiba-tiba kau menarikku dan memelukku seperti ini” kata maya dengan nada kesal dengan wajah bersemu.
“hah, hahahahahahaha” masumi tertawa terbahak-bahak sambil menggeleng menyadari kekonyolan dirinya yang terbawa alur cerita istrinya hingga memimpikannya.
“masumiiiiii” panggilan maya menghentikan tawanya.
“sampai kapan kita begini?” tanya maya.
Masumi memandangnya sejenak
“hm, sayang, apa kau lupa janji kita pada ryu?” goda masumi.
“heh” desir maya disertai wajah merona.
“a… apa maksudmu?” tanyanya polos.
“hah, kenapa tidak dari tadi sih” kata masumi.
“heh”
*****
Keesokan malamnya, masumi akhirnya duduk dikursi penonton menyaksikan istrinya memerankan mika. Diselingi senyum, masumi menonton pertunjukan yang tidak jauh berbeda dengan mimpinya, hanya ada beberapa hal yang berubah. Masumi menikmati pementasan istrinya tanpa rasa cemburu yang biasa menemaninya disela-sela akting maya. Mungkin karena sebelumnya ia telah membawanya dalam mimpi.
*****
Masumi menoleh ke arah maya yang saat ini memeluk erat lengannya. Mereka baru saja meninggalkan ruangan tempat jamuan untuk pementasan perdana ini.
“maya..” panggilnya.
“atau….. mika…” dengan nada rendah.
Maya mendongak ke arahnya dan memberinya tatapan khas istrinya.
“ah.. maya” katanya mengangguk seperti mengenali barang yang hilang.
“hahhhh… aku masih merasakan mika” kata maya menyandarkan kepalanya dilengan suaminya sambil mengeratkan pelukannya pada lengan itu.
“perasaannya ketika ingatannya kembali…..” maya tidak melanjutkan kalimatnya karena baru saja masumi memberinya ciuman.
“masumiiii” katanya menatap pria disampingnya kesal.
“nah, itu, istriku sudah kembali” kata masumi balas menatap maya.
“kau ini” balasnya masih kesal.
“hahhh, mau lagi?” tanya masumi lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Maya lalu melepaskan pegangannya dari suaminya dan membuat jarak.
“hei, apa kau tahu jam berapa sekarang? Sebentar lagi jam 12 dan ulang tahun tiba.” Kata masumi riang.
“seperti anak-anak” balas maya menatapnya tajam.
“sayang, kau lupa kalau ulang tahunku dan ryu sama? Apa kau sudah menyiapkan jawabannya jika besok dia bertanya? kadonya?” kata masumi memandang maya serius.
“hah, masumi. Bagaimana ini?” tanya maya menggoyang-goyangkan lengan masumi.
“bagaimana apanya?” balas masumi bertanya.
“bagaimana kalau dia bertanya? Kita jawab apa?” tanya maya lagi sedikit merengek.
“kita? Aku besok ke kantor pagi sekali sayang, banyak sekali dokumen yang kutunda karena datang menonton pementasanmu.” Jawab masumi tegas.
“masumiiiiiiii” rengek maya sekali lagi.
“hei, apa aku tidak kau pikirkan, aku juga ulang tahun kan?” kata masumi mulai melancarkan siasatnya.
“hah, kau ingin apa sih?” tanya maya.
Masumi mengalihkan pandangannya dari maya.
“baiklah, baiklah, apapun yang kau inginkan” kata maya menyerah.
Masumi tersenyum sebelum mengembalikan pandangannya ke arah maya.
Masumi berpura-pura berpikir.
“baiklah aku ada ide. Tapi kita bicarakan dirumah saja” kata masumi menunjuk pada mobil yang baru tiba.
“ah, baiklah” kata maya riang memasuki mobil dan disusul masumi dengan wajah sumringah.
“ulang tahunku yang luar biasa” ucap masumi dalam hati yang membuatnya tidak berhenti tersenyum sepanjang perjalanan.

THE END
 

An Eternal Rainbow Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting