Showing posts with label Author: Olivia Star. Show all posts
Showing posts with label Author: Olivia Star. Show all posts

Sunday, 25 March 2012

Fanfic TK: Die valentine von Max und Maya

Posted by Ty SakuMoto at 14:53 19 comments



Die valentine von Max und Maya
(by. Olivia Star)



Pagi itu, Maya bangun dengan perasaan tidak menentu. Ia membereskan futon dan selimutnya tanpa semangat, demikian pula saat ia membantu Rei menyiapkan sarapan.

“Brrrr, dinginnya hari ini!” ujar Rei sambil merapatkan kedua tangan di tubuhnya. “Rasanya malas pergi latihan di hari yang dingin seperti ini.”

Karena Maya tidak memberikan tanggapan, Rei menoleh heran padanya.

“Maya?” tanyanya. “Kamu baik-baik saja?”

Perlu beberapa puluh detik hingga Maya sadar bahwa Rei sedang bertanya padanya. “Oh, eh, ya Rei, ada apa?”

Gadis tampan yang sudah seperti kakaknya sendiri itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Absent-minded Maya, seperti biasa. Kali ini ada apa lagi, Maya?”

Yang ditanya menggelengkan kepalanya saja dengan lemah.

Mereka mulai sarapan. Seperti biasanya dalam beberapa bulan terakhir ini, Maya tidak bersemangat makan.

“Ahh, susah memberi tahu kamu ini, Maya,” Rei mendecak, setengah kesal.

Rei tiba-tiba melemparkan sesuatu pada sahabatnya. Refleks, Maya menangkapnya dengan tangan kanan, kemudian membuka genggamannya dengan hati-hati.

Sebuah benda kecil berbentuk bola, diameternya mungkin hanya sekitar tiga sentimeter. Lapisan luarnya adalah kertas aluminium bermotif segilima hitam dan segienam putih, seperti bola sepak.

“Apa ini, Rei?” tanya Maya takjub. “Coklat?”

“Yeap.” Rei tersenyum lebar. “Selamat hari valentine, Maya!”

“Rei, aku ‘kan bukan cowok?”

“Itu coklat persahabatan,” Rei tertawa. “Aku masih punya banyak di sakuku, nih. Akan kubagikan pada teman-teman cowokku.”

Ia merogoh saku kemejanya dan menunjukkan bola-bola lain yang seukuran bola coklat yang diberikannya pada Maya. Ada bola sepak, bola basket, bola voli, bola tennis dan bola baseball.

Maya tertawa. “Ih, coklat-coklatnya Rei banget!”

“Apa boleh buat,” Rei tersenyum kambing, mengoleskan madu pada roti panggangnya. “Aku ini memang hermaphrodite. Sudah lama aku membantah kenyataan itu. Sekarang kuakui saja.”

“Lalu, mana coklat istimewa untuk cowok yang kamu sukai?”

“Ah, semua cowok kuperlakukan sama saja. Tidak ada yang kuistimewakan.”

“Lalu, bagaimana dia bisa tahu perasaanmu?”

“Dia harus menebaknya sendiri,” Rei tersenyum misterius.

“Seharusnya, kau membuat sebuah coklat yang feminine dan istimewa untuk cowok yang kamu sukai, Rei,” saran Maya sambil meminum teh herbalnya. Dia benar-benar tidak berselera makan.

“Feminin?! Maaf ya, aku tidak sudi mengubah kepribadianku hanya untuk seorang cowok. Kalaupun ada, dia harus menerimaku apa adanya.”

“Kamu hebat, Rei,” puji Maya dengan tulus. “Aku tidak punya kepercayaan diri seperti itu.”

“Lalu bagaimana denganmu? Mana coklat-coklatmu?” Rei balik bertanya. “Siapa yang beruntung mendapatkan coklat istimewa darimu? Sakurakoji?”

Maya tersenyum, kemudian bangkit untuk mengambil kotak coklatnya dari lemari.

“Ini dia, Rei,” gadis itu membuka tutup kotaknya dan memperlihatkan coklat-coklat mungil berbentuk bintang, berlapiskan kertas pembungkus berwarna emas dan perak.

“Aaah, cantik sekali!” seru Rei. “Betapa beruntungnya cowok-cowok yang mendapatkan coklat dari cewek secantik kamu, Maya.”

Maya menatap sahabatnya dengan serius dan heran.

“Rei,” katanya, “kamu tahu persis kalau aku tidak cantik.”

Rei tertawa terbahak-bahak.

“Kamu tetap gadis yang sama, yang sederhana, pemalu, dan kurang kepercayaan diri,” Rei meminum tehnya. “Kuberi tahu ya, kamu sekarang sudah tumbuh, dari anak itik buruk rupa menjadi seekor angsa muda yang manis. Kamu tinggal bergerak dengan luwes dan tanpa malu-malu lagi – maka wush! Pesonamu akan langsung terpancar seperti sinar bulan, Maya.”

Maya balas tertawa.

“Kalau kamu cowok, itu tadi sudah kuanggap ajakan kencan, Rei,” katanya. “Sebagai balasannya, nih…”

Ia memberikan sebuah bintang berwarna perak pada sahabatnya.

“Maya, aku ‘kan bukan cowok?!”

Sahabatnya tertawa. “Di mataku, kamu selalu merupakan seorang cowok pelindung, Rei.”

Ia tertawa tergelak-gelak saat Rei melemparinya dengan kacang polong.

***


Udara di luar masih dingin sekali. Salju menutupi hampir seluruh benda yang ada di  jalanan Tokyo. Semuanya terlihat putih. Cuaca ekstrem yang tengah melanda bumi mempengaruhi juga kota metropolitan ini.

Maya berayun perlahan di atas ayunan kanak-kanak di taman bermain itu. Di tangannya ada sebuah kotak mungil. Ia memandangi kotak itu, merenunginya lama-lama, seolah tidak tahu apa yang harus dia lakukan dengan benda itu.

Semua teman dekat prianya sudah diberinya masing-masing sebuah coklat mungil berbentuk bintang yang telah dia siapkan sejak kemarin. Para pemain ‘Bidadari Merah’ di tempat latihan, beberapa kenalan di seputaran apartemennya, cowok-cowok teater Ikkakuju, dan bahkan Pak Kuronuma yang galak pun tidak terlewatkan. Maya tersenyum mengingat wajah Pak Kuronuma saat menerima coklatnya. Katanya, dia tidak pernah lagi menerima coklat seperti itu sejak lulus SMA. Tetapi raut wajah konyolnya itu hanya bertahan sebentar. Sesaat kemudian, ia sudah merobek bungkus coklat itu dan melemparkan isinya ke dalam mulut dengan gaya tak acuh.

“Itu sebabnya aku suka Pak Kuronuma,” pikir Maya.

Yuu Sakurakoji tentu saja kebagian juga. Jika temannya yang lain hanya mendapat satu-satu, Sakurakoji mendapat sebungkus coklat bintang di dalam plastik mungil berhias pita. Tentu saja ia memberikan bingkisan itu diam-diam, agar tidak menjadi bahan gosip lagi. Dia bosan digosipkan.

Namun, coklat yang diberikannya pada Sakurakoji juga tidak istimewa.

Ia menatap lagi kotak mungil di tangannya. Sebuah kotak karton dengan tutup bening, berhias pita berwarna perak dan ungu yang manis sekali. Isinya dua keping coklat berukuran beberapa kali besar coklat yang dibagi-bagikannya tadi, berbentuk bintang, berlapis kertas aluminium perak dan emas.

Coklat buatannya sendiri.

Pikirannya kosong. Ia seolah-olah lupa, untuk apa dia mempersiapkan coklat ini. Untuk apa dia mencoba begitu banyak resep (secara diam-diam agar jangan sampai ketahuan Rei), sampai dia yakin bisa membuat coklat hitam rempah yang enak, tidak terlalu manis, dan maskulin. Untuk apa dia mempersiapkan kertas pembungkus dan kotak berpita sebagus mungkin.

Untuk siapa coklat ini?

Ia mengeluh pelan, putus asa, seolah-olah sudah berusaha keras mengingat siapa yang berhak atas coklat ini namun gagal. Seolah-olah ia terkena amnesia.

Ia menoleh ke atas, ke arah langit, dan tiba-tiba saja dia sadar bahwa hari sudah senja. Jalanan sudah penuh dengan para karyawan yang pulang dari tempat kerja mereka. Tak lama lagi hari akan beranjak malam.

Panik, ia berusaha mengumpulkan seluruh pikirannya kembali. Untuk siapa benda ini? Untuk siapa, Maya bodoh? Kamu sudah mempersiapkannya baik-baik, dengan penuh perasaan dan ketulusan, dan sekarang kamu lupa untuk apa kamu membuatnya?

Kemudian ia panik pula menyadari bahwa jam kantor sudah hampir usai. Para penghuni gedung-gedung tinggi itu akan kembali ke sarang mereka masing-masing…

Dalam kekalutannya, dia mengambil telepon genggamnya dan menghubungi sebuah nomor.

“Halo. Selamat sore,” sebuah suara alto yang merdu dan berwibawa terdengar di seberang sana. “Dengan Mizuki Saeko di sini.”

“No-nona Mizuki,” nafas Maya memburu dan tidak teratur saat ia berbicara pada mantan manajernya yang sering terlihat kaku namun sebenarnya baik hati itu. “Selamat malam, maaf mengganggu Anda. Maaf saya tidak menelepon ke nomor kantor Daito, soalnya… soalnya…”

“Oh, Maya?” Nona Mizuki mengenali suaranya yang pasti terdengar menggelikan itu. “Ada apa? Ada yang bisa kubantu?”

“Begini –“ tekanan suara Maya naik-turun tidak karuan karena panik, “P-Pak Hayami masih ada di tempat?”

Astaga, Mizuki menghela nafas dengan sabar. Tentu saja Maya menelepon untuk menanyakan musuh yang paling dibencinya di seluruh dunia itu. Dua orang ini benar-benar konyol. Mengapa sih sampai aku harus terjebak di antara mereka, pikirnya.

“Ya, Maya, beliau masih ada di tempat.”

“Sampai malam?”

“Biasanya demikian. Dia tidak akan beranjak dari kantor sampai menjelang tengah malam, biasanya.”

“Bahkan di hari Sabtu seperti sekarang?”

“Terutama di hari Sabtu. Oh, dan hari Minggu juga. Tidak ada bedanya untuk dia.”

“Baiklah,” suara Maya mulai terdengar tenang. “Terima kasih atas infonya, Nona Mizuki. Maaf sudah mengganggu pekerjaan Anda. Selamat sore,”

“Selamat sore,” Mizuki membalasnya dengan sabar.

***


Jadi coklat ini untuk dia! Maya menaruh kotaknya di atas pangkuan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, kemudian mulai menangis.

Untuk pria itu, orang yang paling dibencinya, musuh setiap orang yang mengaku pencinta keadilan.

Maya menatap langit dan atap gedung-gedung tinggi di kejauhan dengan perasaan sangat sedih. Bintang. Ya, bintang-bintang-lah yang telah mengikatkan mereka berdua. Dan pada sebuah bintang di langit yang tinggi-lah dia ingin menyerahkan coklat ini, bentuk ketulusan dan penyerahan hatinya. Pada sebuah bintang putih yang bersinar dingin dan tidak terjangkau di atas sana. Tiba-tiba saja Maya merasa dirinya benar-benar kecil dan tidak berarti.

“Kecil dan tidak berarti,” pikir gadis itu dengan sedih, “di hadapan dia… ataukah di hadapan Cinta…?”

“Maafkan aku,” Maya tiba-tiba mengingat semua sikap buruknya pada pria itu. Baru sekarang dia merasa benar-benar berdosa. “Maafkan aku. Maafkan aku…”

Ia menyandarkan kepalanya pada rantai besi ayunan itu dan mulai menangis tersedu-sedu.

***

Ketika hari sudah malam, Maya baru bisa berhenti menangis. Lagi-lagi panik, ia sadar bahwa hari ini akan segera berakhir. Besok, coklat ini tidak akan memiliki arti apa-apa lagi.

Ia segera mencari tempat untuk merapikan diri. Di toilet wanita sebuah gedung pusat perbelanjaan, ia berusaha keras menghilangkan bekas-bekas air mata dan garis bibirnya yang muram karena terlalu banyak menangis. Dikenakannya make-up tipis yang dapat menyamarkan ekspresi wajahnya; sedikit blush-on, dan lipstick berwarna peach. Dirapikannya mantel musim dingin dan roknya, kemudian diperbaikinya letak syal tebal dan sarung tangan wol yang dikenakannya.

Bagaimanapun juga, aku tidak mungkin terlihat cantik saat ini, pikirnya dengan putus asa.

Dengan menguatkan hati, ia berjalan menuju gedung kantor Daito.



“Selamat malam,” sapa resepsionis kantor di salah-satu sisi ruangan lobi. Pada pukul delapan malam, gedung itu mulai kelihatan lengang. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Ah, maaf,” ujar Maya pelan. “Saya ingin bertemu dengan Pak Direktur Hayami. Apakah beliau masih ada di tempat?”

Gadis resepsionis itu terheran-heran. “Pak Hayami?” ulangnya. “Sepertinya beliau belum pulang. Maaf, Nona, siapa nama Anda?”

“Saya… saya Maya Kitajima.”

“Sebentar saya tanyakan dulu.” Gadis resepsionis itu mengangkat air phone yang menghubungkan seluruh ruangan kantor.

“Selamat malam, Nona Mizuki,” ujar gadis itu di telepon. “Ada seorang gadis yang ingin bertemu dengan Pak Hayami. Apakah kira-kira beliau bisa menerima?”

Ia mendengarkan jawaban dari seberang sejenak.

“Namanya Maya Kitajima.”

Agak lama dia menunggu, hingga terdengar jawaban lagi dari seberang.

“Begitu. Baiklah, saya suruh dia langsung ke atas saja, Nona? Baik. Terima kasih banyak. Maaf mengganggu Anda.”

Dia menutup teleponnya.

“Silakan langsung ke ruangan beliau, di lantai 24, Nona Kitajima. Silakan gunakan lift di sebelah sana,” gadis itu menunjuk dengan sopan.

“Terima kasih banyak,” Maya mengangguk.

Setelah Maya menghilang dari pandangannya, gadis resepsionis itu menelengkan kepalanya dan mengerutkan kening, bingung dan heran.
“Memangnya siapa sih gadis itu? Aneh…….”


***


Begitu keluar dari lift di lantai 24 dan memasuki ruangan staf direksi, Maya melihat Mizuki masih sibuk bekerja di mejanya.

“Selamat malam, Nona Mizuki,” sapanya dengan sopan.

“Oh, selamat malam, Maya,” balas sekretaris direksi yang selalu berpenampilan resmi itu dengan ramah. Kelihatannya ia senang bertemu dengan Maya. “Ada perlu apa dengan Pak Hayami?”

Maya tidak menjawab.

“Kenapa dia terlihat begitu menderita,” pikir Mizuki. Ia kaget ketika Maya menyodorkan genggamannya padanya.

“Apa ini, Maya?” wanita yang efisien dan kadang-kadang terlihat kurang manusiawi itu kembali terheran-heran ketika membuka genggaman tangannya, yang tadi disusupi sesuatu. Sebuah bintang mungil dengan bungkus kertas aluminium berwarna emas.

“Coklat?” Mizuki memandangi benda itu lama sekali. Pikirannya yang biasanya efisien kini berusaha mencerna keanehan itu. Tiba-tiba otak canggihnya seolah menjadi lemot. “Apa maksudnya ini? Oh…” tiba-tiba dia teringat sesuatu.

“Tanggal 14 Februari!” dia berseru keras dan tertawa. “Astaga, kukira apa, Maya!”

Staf-staf lain yang belum pulang serempak menoleh ke arahnya. Mizuki buru-buru mengecilkan suaranya.

“Maya, aku ‘kan bukan cowok?!”

Maya tersenyum mendengar pernyataan itu lagi.

“Anda temanku yang penting,” jawabnya dengan tulus. Mizuki merasa tersentuh.

“Rupanya kamu bisa melihatku sebagai manusia juga,” ujarnya lembut. “Kadang-kadang kupikir, aku sudah ketularan sifat robotic bos gila kerjaku itu. Orang-orang jadi sering menganggapku kaku juga.”

“Anda memang kaku, tetapi Anda baik hati dan tidak segan menunjukkannya,” Maya tersenyum.

Mizuki tertawa. “Oh, begitu menurutmu. Aku tahu sekarang apa bedanya aku dengan bos kami itu. Dia itu baik hati, tetapi malu menunjukkannya. Dia menganggap kebaikan hati itu sebuah kelemahan.”

Maya ikut tertawa.

“Oh ya, Maya, silakan tunggu sebentar. Pak Hayami masih menyelesaikan beberapa urusan di dalam. Silakan duduk dulu,” Mizuki menunjuk ke arah kursi tunggu di ruangan itu dengan sopan.

Tiba-tiba Maya ingat tujuan sebenarnya datang ke sini. Wajahnya kembali berubah menjadi muram dan keringat dingin mulai menetesi tengkuknya.




Masumi sebenarnya tidak sedang menyelesaikan urusan apapun.

Ia berdiri dengan gelisah di hadapan jendela ruangannya yang menghadap ke pemandangan malam Tokyo yang bermandikan cahaya neon.

Ada apa Maya sengaja datang menemuiku, pikirnya. Apakah ada sesuatu yang dirasanya perlu didampratkannya lagi kepadaku? Soal Bu Tsukikage atau hak pementasan?

Mengapa gadis itu selalu datang untuk menyakiti hatinya?

Dia senang Maya datang. Hati kecilnya selalu berharap dapat melihat gadis itu dan berbicara padanya,
meskipun saat bersama Maya, ia selalu mengatakan hal-hal yang berkebalikan dari isi hatinya. Karena itu Maya membencinya.

Kendalikan dirimu, Masumi, perintahnya pada dirinya sendiri. Jangan bodoh, dia hanya seorang gadis kecil. Biasanya juga kau bisa.

Tetapi setelahnya hatiku selalu terasa babak-belur, ia membantah perintahnya sendiri.

Memangnya kau punya hati, ejek rasionya yang dominan, lagi.

Punya, goblok, seorang anak kecil yang bersarang jauh di dalam hatinya angkat bicara. Di dalam, aku ini benar-benar manusia. Rapuh, lemah, bodoh…

Robot, bukan… robot, bukan… robot, bukan…

Robot, ejek rasionya yang dominan. Kau akan menikah dengan gadis yang sempurna dan memimpin sebuah – atau dua – perusahaan yang sempurna. Otakmu hanya berisi abu dan uang. Kau akan membunuh hatimu dan kau akan menjelma menjadi sempurna. Tidak ada manusia seperti itu.

Bukan, bantah anak kecil itu lagi. Kau benar-benar manusia. Sekarangpun kau sudah siap meledak dan menangis karena kelelahan bersandiwara…

Baiklah, temui dia, atau tidak?

Temui saja dan biarkan pisaunya merobek-robek hatimu lagi, ejek rasionya yang dominan. Kebetulan, supaya hatimu yang tidak berguna itu cepat tamat saja. Kemudian kau balas sakiti hatinya, dan dia akan semakin membencimu.

Temui dia, ujar si anak kecil. Bergembiralah karena kau bisa kembali melihat dan berbicara dengannya. Lepaskan kegembiraanmu dan bersikaplah tulus…

Dia akan menyakiti hatimu, ia memperingatkan diri.

Tidak jika kau tidak menyakiti hatinya, bantah hati nuraninya.

Jangan temui dia, saran sisi reptil kelabu kepribadiannya. Katakan saja ada urusan mendadak…

Pengecut, teriak sisi-sisi lain dirinya.                                                            

Kebahagiaan, ketakutan, topeng, kepalsuan, hati, rasio, harga diri, kejujuran, kebohongan…

Masumi merasa dirinya hampir terkena schizophrenia.





“Mizuki-san,” ujarnya di air phone. “Tolong suruh anak itu masuk ke ruanganku. Aku sudah selesai.”

“Nah, Maya,” Mizuki membukakan pintu ruangan direktur, “silakan.”

Maya memasuki ruangan itu dengan hampir menangis. Ia merasa seperti akan dieksekusi.

Apakah aku akan keluar dari sini sambil berlari, menangis…?





Ditemukannya pria itu, pria dalam hidupnya, tengah menghadapi laptop dan dokumen-dokumen dengan tenang di atas mejanya. Ia tetap sama; tegak, dingin, anggun, dengan sorot mata yang tetap dan hampir tidak menyiratkan apa-apa. Ia tersenyum tenang dan bangkit dari kursinya saat melihat Maya, kemudian mengulurkan tangan dengan sikap beradab.

“Selamat malam, Nona Kitajima. Suatu kehormatan Anda bersedia mengunjungi ruangan saya yang sederhana ini. Apakah ada yang bisa saya lakukan untuk Anda, atau maukah Anda dengan baik hati memberitahukan saya, kesalahan apa lagi yang telah saya perbuat…?”

Menangkap ejekan yang kental dalam kalimat Masumi, Maya merengut.

“Anda selalu saja sinis,” gerutu gadis itu. “Saya kemari bukan untuk menjatuhi Daito dengan bom hidrogen.”

Masumi tertawa tergelak-gelak.

“Nah. Lalu, ada apa, Mungil?”

Maya mencoba mengendalikan tubuhnya yang gemetaran, namun gagal.

“Bagaimana kabar Bu Tsukikage?” Masumi bertanya, sekedar mencari hal yang paling dapat mereka bahas bersama.

“Sejauh ini kondisinya stabil,” jawab Maya susah-payah. “Meskipun begitu, kami takut mengganggu keadaan emosinya. Nyawa Bu Guru benar-benar sudah terulur di tali yang tipis…”

“Aku tahu,” balas Masumi serius. “Beliau selalu berkata, aku akan senang jika melihatnya mati… namun aku sungguh-sungguh prihatin dan khawatir dengan keadaannya, Mungil.”

Maya terdiam. Ada kesunyian yang aneh di antara mereka.

“Kemudian, bagaimana dengan latihanmu?” tanya pria itu lagi, mencoba mengusir ketidakwajaran itu.

“Baik,” jawab Maya singkat. “Aku mengalami banyak kemajuan.”

Sepi lagi.

“Bagaimana kabar Nona Shiori…?” giliran Maya yang bertanya, dengan suara sangat pelan.

“Oh,” Masumi merasakan sedikit perih di hatinya, tapi dienyahkannya dengan segera. “Baik sekali kamu menanyakan dia. Dia sangat antusias menyusun rencana pernikahan kami.”

Bodoh, Maya mengutuk dirinya sendiri karena menanyakan hal yang sudah pasti dan sudah pasti menyakitkan pula seperti itu. Kamu ke sini ingin mengungkapkan sedikit ketulusan dan rasa terima kasih dan sekarang kamu mulai merusaknya sendiri…

Tak tahan akan emosinya yang mulai meluap, Maya terisak perlahan.

“Saya ikut senang mendengar rencana bahagia Anda berdua,” ujar gadis itu dengan susah-payah. “Anda berdua sangat serasi. Dilihat dari sudut manapun, pernikahan kalian – “ suaranya tercekat oleh air mata, “adalah sebuah pernikahan yang sempurna.”

“Soal bahagia,” suara Masumi terdengar angkuh dan dingin, “itu relatif.”

Hati Maya seolah tertusuk pedang oleh kata-kata singkat itu, dan tubuhnya menggigil hebat karena susah-payahnya ia menahan tangis.

“Kamu juga,” Masumi mulai bernafsu untuk balik menyerang Maya, “punya kesempatan berbahagia yang besar dengan lawan mainmu.”

Kini Maya, yang memang tidak pernah sanggup mengendalikan emosinya, menutup wajahnya dengan kedua belah tangan. Tangisnya meledak.

“AKU BENCI KAMU!”

Tuh ‘kan, salah lagi, keluh Masumi dalam hati. Rasionya yang membandel mulai ribut mentertawakan hatinya yang kembali berkeping-keping.

Seperti dugaan gadis itu sebelumnya, Maya berbalik seketika dan berlari menuju pintu.

“Tunggu,” suara Masumi,  tajam dan membekukan urat saraf, menghentikan langkah Maya. “Aku yakin kamu memiliki sesuatu yang lain yang ingin kamu sampaikan kepadaku. Sedikit kata-kata jahat lagi, misalnya.”

Maya berbalik dan mendekat.

“Kemarikan tangan Anda,” pintanya lirih. Max menurut tanpa berkata-kata.

Kemudian semuanya terjadi begitu cepat. Maya menaruhkan sesuatu pada genggamannya, kemudian menyentuhkan pipinya dengan sangat cepat pada tangan pria itu, namun kelembutan sentuhannya membuat jantung Masumi seolah berhenti berdetak. Kemudian tanpa dapat dicegahnya, gadis itu seolah terbang keluar pintu.

“Maya!” terdengar olehnya seruan Mizuki yang berusaha mencegah gadis itu.

Masumi memandangi kotak mungil di tangannya dengan tatapan dan perasaan kosong. Ia tidak mengerti, benda apa ini yang ditaruhkan Maya ke dalam genggamannya. Benda yang begitu manis dan kelihatan dibuatnya sendiri dengan bersungguh-sungguh…

Ada sebuah kartu mungil yang hampir tak terlihat, terselip di antara lembaran pita perak bergaris ungu (ungu…) yang mengikat kotak itu. Masumi membuka dan membacanya.

Für mein schöner Antares…

Pria itu terkesiap, namun seolah dipakukan ke tempatnya berpijak, ia tidak dapat bergerak. Setelah agak pulih, baru ia dapat berjalan perlahan keluar, menuju meja sekretarisnya.

“Mizuki-san,” sapanya seperti orang linglung.

“Kenapa Maya lari?” tuntut sekretarisnya. “Anda berdua bertengkar lagi?”

Masumi menekan keningnya yang tiba-tiba terasa sakit. “Begitulah.”

“Dia tidak memberi Anda coklat juga?” Mizuki hanya bermaksud bercanda.

Coklat?

“Mizuki-san, hari apa ini?”

“Hari Sabtu,” jawab Mizuki polos.

“Bukan… tanggal berapa?”

“14 Februari. Hari Valentine,” jawab Mizuki lagi, juga dengan maksud bercanda.

Apa?!

Untuk Antares-ku yang indah…

Tidak, pikir Masumi kalut. Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak……

Kali ini Mizuki tidak berhasil pula mencegah bosnya yang tiba-tiba berlari menuju lift, turun ke bawah.

***


Masumi berjalan tergesa di antara aliran manusia dan lampu, mencoba mencari bayangan gadis itu dengan sia-sia.

Arah pulang ke rumahnya lewat jalan ini…

Apakah gadis itu? Atau yang itu…? Bukan… bukan dia…

“Mayaaa,” panggilnya lirih, penuh ketakutan dan cinta.

Itu dia! Dia berlari mengikuti arus keramaian, menyeberang jalan, dan…

Lampu penyeberangan berubah menjadi merah begitu Masumi siap untuk menapaki zebra-cross.


Apakah ini sebuah pernyataan cinta…?

Ia menyaksikan Maya berlari menjauh di seberang sana, dan ia merasa ingin berlari saja ke tengah jalan dan menabrakkan diri pada truk yang lewat.


[Bersambung]

Note: Antares atau dikenal juga sebagai Alpha Scorpii, adalah bintang maharaksasa merah di galaksi Bimasakti, bintang keenam belas paling terang di langit malam.


















Saturday, 24 March 2012

FFTK: Truth and The Sea

Posted by Ty SakuMoto at 20:03 15 comments

Setting waktu: setelah volume 47, di villa Masumi di Izu
Rating: 17+
Warning: Kiss, Skinship



Truth and the Sea
(By. Olivia Star)



Masumi mempersilakan Maya duduk di sebuah sofa panjang berwarna off-white, dan berjalan menuju counter mini-bar yang letaknya tersamar di antara rak-rak buku. Ia membuka lemari kaca dan mengambil sebuah botol white wine dan dua buah gelas.
“Buku Anda banyak sekali,” ujar Maya takjub, saat Masumi kembali ke tempatnya.
Pria itu tersenyum, “aku suka membaca. Aku selalu membaca.”
“Apakah Anda sudah membaca semua buku ini?”
Masumi tertawa. “Tentu saja tidak, Mungil. Aku bukan seorang profesor. Kebanyakan hanya kubaca selintas-selintas saja.”
“Buku seperti apa yang Anda suka?”
“Yah, banyak. Bisnis, politik, ekonomi, sejarah, seni. Kebanyakan yang berhubungan dengan pekerjaanku. Tapi aku juga suka sastra. Shakespeare, Ibsen, Goethe, Tolstoy. Hmm… kamu suka membaca, Maya?”
Maya menggeleng. “Aku pernah baca “Pride and Prejudice” sampai tamat. Itupun sudah membuat kepalaku mengepulkan asap.”
“Aku tahu,” ujar Masumi,”bacaan yang paling kau suka. Naskah drama.”
Mereka tertawa bersama-sama.
Pria itu menuangkan wine ke dalam dua buah gelas, kemudian menyerahkan salah satunya pada Maya. Gadis itu menerimanya dengan malu-malu.
“Maya, kamu sudah boleh minum alkohol, bukan?”
Gadis itu merengut. “Aku sudah lama dewasa, Pak Hayami! Jangan terus-menerus mengejekku seperti itu!”
Masumi tertawa lembut. “Aku tahu, Mungil.”
“Bukankah Anda sudah berjanji tidak akan memanggilku ‘Mungil’ lagi?” Maya masih menunjukkan wajah kesal.
“Maaf, maaf, Maya. Kenyataannya, tubuhmu memang mungil. Aku tidak bisa melupakan fakta itu, dan kurasa, kamu memang tidak akan tumbuh lebih tinggi lagi dari itu.”
“Lihat saja nanti,” gerutu Maya dengan suara lirih, menyadari kata-kata pria itu kemungkinan besar adalah benar.
“Maya,” panggil Masumi, “apakah kita sekarang berteman?”
Perlahan, gadis itu mengangguk.
“Kalau begitu,” si pria menyentuhkan gelasnya pada gelas Maya, “untuk persahabatan kita.”
Maya tersenyum sedih.
“Untuk persahabatan kita.”
***
Lama sekali mereka terdiam di tempat masing-masing. Beberapa buah lampu meja menyala redup, sementara lampu utama tidak dinyalakan, sehingga ruangan itu hanya diterangi cahaya samar-samar. Suara hujan yang turun menimpa atap mendesis lembut. Laut Pasifik yang berkabut terlihat dari jendela arah balkon yang tirainya tidak tertutup.
Maya meremas rok bermotif flower print yang dikenakannya dengan nervous. Keadaan diam ini membuatnya gelisah.
Apakah salah jika aku masih mengharapkan Pak Hayami, pikirnya. Ia merasa benar-benar tidak tahu diri, memandang pada seorang pria yang begitu hebat. Mereka memang telah berjanji untuk saling menunggu, tetapi… tetapi, itu bisa berarti apa saja.
Masumi di seberangnya bersikap sangat tenang, dengan bibir tidak henti menghembuskan asap tipis yang wangi khasnya mulai memenuhi ruangan. Tidak ada yang tahu alasan-alasan pribadinya saat mulai merokok pada usia yang sangat muda, bertahun-tahun yang lalu. Rokok membantunya mengendalikan emosi. Jika tidak, ia sendiri tidak bisa menjamin apa yang akan dilakukannya pada saat seperti ini, saat gadis yang telah ditunggunya selama bertahun-tahun akhirnya berada dalam jarak jangkaunya.
Tetapi berdiam diri seperti ini sungguh hal yang bodoh sekali.
“Maya,” ujar Masumi pada akhirnya, berusaha memecah kebuntuan. “Tadinya aku bermaksud mengajakmu kemari untuk melihat bintang-bintang. Tetapi ternyata malam ini turun hujan. Maafkan aku. Kamu jadi sia-sia saja datang kemari.”
Maya menatap lurus ke arah pria yang dikasihinya.
“Sia-sia?” bisiknya. “Aku tidak berpikir begitu, Pak Hayami.”
Suara gadis itu terdengar begitu sedih, hingga Masumi agak tersentak mendengarnya.
“Laut di malam hari yang hujan pun pasti akan tampak sangat menarik,” Maya berusaha keras memperbaiki nada suaranya agar menjadi lebih ceria.
“Begitu?” Masumi bangkit, kemudian menawarkan tangannya pada Maya. “Silakan, Nona. Hamba akan dengan senang hati melayani Anda.”
Maya menyambutnya dengan tawa kecil. Getaran-getaran listrik halus menjalari tubuh keduanya saat tangan mereka bersentuhan.
Mereka berjalan bergandengan ke arah balkon.

Samudra luas yang menghitam di bawah langit malam kelabu bernyanyi, seiring dengan irama hujan. Selimut kabut tipis yang mistis menyelubungi udara. Maya terpana, kelima panca inderanya segera terjun dan melarut ke dalam wangi dan dinginnya suasana. Langit penuh bintang adalah Masumi, yang telah begitu lama merindukan kebebasan. Namun lautan hitam-kelabu ini juga adalah Masumi, yang dalamnya tak pernah terduga, yang hatinya tak pernah terbaca, dingin dan khidmat, dan begitu kesepian.
“Mungil?” sapa Masumi hati-hati, saat gadis itu sudah terlalu lama berdiam diri.
“Ah,” Maya menoleh spontan, sinar temaram lampu balkon berkilau lewat tetesan-tetesan air matanya. Masumi tersentak.
“Kenapa, Maya?”
Gadis mungil yang cantik itu berbalik dan menghambur ke dalam pelukan Masumi, kemudian menangis tersedu-sedu di situ.
***
“Maafkan aku,” ujar Maya lirih di sela-sela isakannya, “kumohon.”
Masumi tidak tahu apakah Maya minta maaf atas sikapnya yang kekanak-kanakan, atau meminta maaf atas sejarah yang telah membawa mereka berdua ke sini. Oh, andai saja gadis ini tahu, betapa banyak perasaan dan doa yang telah dikirimkannya agar dia selalu berbahagia! Ia bersedia melakukan apa saja untuk Maya, dan berlapang dada menerima setiap perkataan kasarnya. Maaf? Meminta maaf untuk apa?
“Kamu tidak punya salah apa-apa padaku, Maya,” ujar pria itu, membelai lembut rambut hitam Maya. “Justru aku yang banyak berdosa padamu.”
“Maafkan aku,” ulang Maya, keras kepala, menengadah dan mengusapkan tangan mungilnya pada pipi Masumi, sementara sebelah tangannya yang lain memeluk dada pria itu.
Bisakah aku menahan diri sekarang, batin Masumi, tubuhnya menggigil tak kentara. Seorang peri cantik bermata indah, menangis, dengan tubuh kecilnya yang rapuh dalam dekapan, memohon, dan menggodanya dengan licik, membelai pipi dan keningnya…
“Hentikan,” bentak Masumi lirih, menahan tangan Maya yang tengah menelusuri wajahnya. “Kamu tidak tahu betapa berbahayanya hal seperti ini bagi kita. Kamu ini terlalu polos, Maya!”
Sorot mata gadis itu mengisyaratkan penyerahan.
Sebuah senar kewarasan dalam otak Masumi putus, menyisakan bunyi yang bergaung dalam kepalanya. Ia membungkuk dengan nafas memburu, menengadahkan wajah cantik itu dengan sebelah tangannya, dan menaruh bibirnya di atas bibir mungil Maya.
***

Maya berbaring di kamarnya dengan gelisah. Jam digital di atas meja menunjukkan waktu pukul satu malam lewat beberapa menit. Hujan di luar semakin deras dan muram. Di saat seperti ini, mana mungkin dia bisa tidur! Kepala dan hatinya berbunga-bunga tanpa henti sejak apa yang mereka berdua lakukan di balkon tadi.
Masumi telah memaksanya masuk ke kamar untuk tidur, seolah takut akan sesuatu. Dan di sinilah ia sekarang, membolak-balikkan tubuh dengan gelisah di atas tempat tidur biru yang nyaman, mengenakan piyama milik pria itu. Kali ini Maya tidak keberatan mengenakan pakaian Masumi.
“Rasanya seperti dipeluk dan dilindungi seorang suami,” batin Maya dengan takjub,dan terkejut sendiri menyadari apa yang dia pikirkan.
Apakah itu mungkin, pikirnya takut-takut.
Tak pernah disangkanya Masumi memiliki perasaan seperti itu pada dirinya… pengalaman ciuman pertama mereka mengagetkan Maya dengan kelembutannya. Pria itu begitu rapuh dan emosional. Maya bisa merasakan keruntuhan dinding bendungan perasaan yang hebat tengah terjadi dalam diri Masumi.
“Apakah koneksi batin seperti ini bisa dibuat-buat?” gadis itu bergumam sedih.

Masumi terpekur di kamarnya dengan buku Fukuyama di tangannya, namun ia seolah kehilangan kemampuan membaca.
Ia tak bisa berhenti mengingat detik demi detik ciuman pertamanya bersama Maya. Sesuatu seperti pecah di dalam dirinya saat pertama kali bibir mereka bersentuhan, dan sensasi yang menggetarkan itu semakin hebat saat dirasakannya bahwa Maya membalas ciumannya. Sebuah balasan yang tidak kalah hangat dan penuh hasrat…
“Bukankah dia membenciku,” Masumi bertanya-tanya dalam hati, takjub.
Apakah itu tadi perasaannya yang tulus, atau dia hanya terbawa suasana? Apakah dia jenis gadis gampangan yang membiarkan sembarang pria mencium bibirnya?
“Jadi aku ini manusia juga,” pikirnya sambil tersenyum miring, mengejek diri sendiri. Semula dia hanya mengagumi gadis itu. Kemudian rasa kagum itu berubah menjadi cinta…
Ia merinding ketika membayangkan kembali pelukan erat gadis itu di tubuhnya. Maya… Maya yang halus dan rapuh… Maya yang kurva-kurva tubuhnya sudah terbentuk sempurna, begitu murni dan belum tersentuh, dan… dada gadis itu, yang tadi menekan tubuhnya tanpa prasangka…
Masumi menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikiran tidak-tidak yang mulai muncul di benaknya. Selama ini dia selalu bisa mengontrol pikirannya agar tidak terlalu jauh memikirkan hal-hal fisik seperti itu, meskipun ia tidak bisa mengontrol mimpi-mimpinya…
Ya, dia mencintai Maya, itu sudah diakuinya sejak lama… namun perasaan tak-tertahankan apa ini, yang sekarang seolah-olah menguasai sel-selnya…? Bibir gadis itu… begitu mungil, segar, dan penuh kehidupan… mengapa ia menginginkan bibir itu? Kemudian matanya… hidungnya… kening dan pipinya… seluruh wajahnya… lehernya… pundaknya… lengannya… dada dan pinggangnya…
“Oh,” keluhnya saat menyadari apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Meskipun selama ini ia selalu mati-matian menolak fungsi tubuhnya (seorang karyawannya pernah mengejeknya di belakang punggungnya, bahwa ia hanya seorang bocah polos yang bertingkah seperti seekor dinosaurus), ia sadar, bahwa ia seorang pria dewasa yang normal, yang berbahaya bila berada dekat-dekat dengan gadis, terutama gadis mungil yang bolak-balik membuatnya jatuh-bangun secara emosional… dan bohong kalau dia bilang hanya mencintai gadis itu secara spiritual. Dia telah jatuh cinta. Secara mental, dan secara fisik…
Di saat seperti ini, ia tahu, ia harus menjauhi Maya. Tidak ada yang bisa menjamin dirinya tidak akan mencelakakan gadis itu. Tapi hal ini sungguh tidak lucu. Mereka menyendiri di kamar masing-masing, sementara situasi ini adalah momen kebersamaan yang telah mereka tunggu-tunggu sepanjang hidup…
“Pengecut,” ejeknya pada dirinya sendiri. “Setidaknya, kau temani dia, dan kau hibur sampai dia tertidur dengan tenang seperti anak perempuan kecil yang manis…”
Masumi bangkit dan keluar dari kamarnya.


Pintu kamar Maya diketuk.
“Mungil?” suara lembut si tuan rumah terdengar dari balik pintu, “kamu sudah tidur?”
Maya berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang berpacu keras oleh panggilan mendadak itu, kemudian menghapus air matanya cepat-cepat. “Ya,” jawabnya dengan suara serak. “Silakan masuk…”
Wajah pria itu muncul di pintu, tersenyum, kelihatan sedikit lelah. “Boleh aku masuk?”
Maya mengangguk kecil.
“Kenapa kamu belum tidur, Maya?”
Gadis itu menunduk, tidak berani memandang Masumi, karena takut ia tidak akan bisa mengendalikan diri lagi jika mata mereka bertemu. “Aku tidak bisa tidur,” ujarnya lirih.
“Aku juga,” Masumi tersenyum. “Bolehkah aku membaca di sini, hanya sampai kamu tidur?”
“Aku akan senang sekali,” jawab Maya lirih.

Maya membuka naskah ‘Bidadari Merah’-nya, dan mereka berdua (berpura-pura) membaca untuk beberapa waktu lamanya. Sudah sejak lama mereka berdua seolah-olah kehilangan kemampuan membaca. Satu kalimat mereka baca berulang-kali tanpa mengerti artinya.
Akhirnya Maya tidak tahan lagi. Ditutupnya naskahnya dan ditaruh di pangkuan, kemudian dipandanginya Masumi. Ia tidak menyembunyikan sorot lembut yang terpancar dari matanya.
Aneh rasanya melihat Masumi hanya mengenakan kemeja berbahan halus dengan lengan tergulung hingga ke siku dan jeans, dan bukannya setelan bisnis yang rapi dan resmi. Rambutnya yang berwarna kecoklatan masih sedikit basah. Matanya yang dingin di balik kacamata terlihat serius, dan ada gurat-gurat kebingungan dan kesedihan pada bibirnya. Ia terlihat sangat personal dan begitu menawan. Maya kembali tergila-gila padanya.
“Aku baru tahu Anda mengenakan kacamata,” ujar Maya lembut. “Apa ada masalah dengan penglihatan Anda?”
“Mataku minus ¾,” jawab Masumi. “Biasanya aku mengenakan lensa kontak. Kenapa, aku terlihat aneh, ya?”
“Tidak,” Maya tersenyum. “Anda seperti seorang mahasiswa. Masih muda dan manis sekali.”
Mata mereka bertemu. Pipi mereka serentak memerah. Keduanya saling mengalihkan pandangan.
“Cepatlah tidur. Aku akan menungguimu,” ujar Masumi datar. “Dan jangan coba-coba menggodaku lagi.”
Wajah Maya merah padam.
“Kamu sudah minta izin teman sekamarmu untuk tidak pulang malam ini?”
Maya mengangguk.
“Apa yang kau gunakan sebagai alasan?”
“Aku akan menginap di rumah seorang teman.”
“Laki-laki atau perempuan?”
“Perempuan.”
“Lalu temanmu itu percaya?”
Maya mengangguk lagi.
“Kalau Anda?” tanya gadis itu, lirih. “Apa Nona Shiori mengetahui, ke mana Anda pergi…?”
Pertanyaan yang salah.
Maya mulai terisak, memalingkan pandangan dari tatapan Masumi yang menghunjam.
“Jangan sebut-sebut Shiori lagi di hadapanku,” ujar pria itu dengan suara rendah yang mengancam.
“Bukankah itu wajar, maksudku… dia tunangan Anda…”
Maya masih berpikir bahwa meskipun Masumi membalas perasaannya, cinta mereka tetap tidak punya kesempatan untuk menjadi nyata. Pria seperti dia boleh saja mempermainkan seorang aktris muda yang tidak memiliki kedudukan tanpa menjanjikan apa-apa… dan tetap menikahi wanita yang sejajar dengannya…
Masumi bisa membaca apa yang dipikirkan Maya.
“Jadi kamu menilaiku seperti itu, Mungil…?”
“Menilai? M-maksud Anda…?”
“Ya. Ternyata kamu menilaiku begitu rendah.”
Maya kebingungan. “Bu… bukan begitu maksudku… Aku hanya berpendapat, Anda memang berhak mendapatkan yang terbaik… dan Anda berdua adalah pasangan yang benar-benar serasi, jadi aku… aku…”
Mereka bertatapan. Mata gadis itu mulai berlinang.
“Lalu kamu sendiri? Bagaimana dengan perasaanmu, kepentinganmu sendiri?” Masumi masih mencoba bertanya dengan kepala dingin.
“Aku… aku?” sekarang Maya benar-benar menangis terisak-isak. “Aku peduli pada Anda. Kesempatan terbuka begitu lebar bagi Anda, untuk melebarkan sayap dan terbang tinggi bersama Takamiya… aku tidak berhak menuntut apa-apa, setelah… setelah semua yang Anda lakukan untukku…”
Masumi menatapnya, seolah siap menamparnya kapan saja.
“Aku bahagia jika Anda bahagia,” tangis gadis itu. “Aku sangat, sangat… sangat mencintai Anda… aku hidup… hanya untuk Anda… aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia, hanya kamu, hanya kamu, Pak Hayami… aku hanya seorang gadis kecil, aku bukan siapa-siapa untukmu, kamu boleh lakukan apa saja padaku – “
Masumi mencengkeram kepala Maya dengan marah, dan menghentikan kata-kata gadis itu dengan sebuah ciuman kasar.
“Stop,” geramnya di bibir Maya, dan didorongnya kepala gadis itu jatuh ke bantal, menyusul cumbuan panjang yang hampir tak sanggup ditahan gadis itu.
Maya megap-megap kehabisan nafas, bibirnya berdarah, dan ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari mata Masumi yang emosional. Pertahanan diri pria itu sudah runtuh sepenuhnya.
Bibir mereka mulai berpagutan, kasar, dan liar. Lidah mereka berulang-kali saling melilit dan menghisap dan menjilati darah dari luka-luka mereka.
“Maya,” bisik Masumi di bibir kekasihnya setiap kali bibir mereka terpisah, “Maya.”
Ia melepaskan dua buah kancing atas piyama yang dikenakan gadisnya. Begitu belahan dada Maya terlihat, ia menatap dalam-dalam mata gadis itu, menanyakan kesungguhannya.
Maya membalas tatapannya dengan penyerahan diri penuh.
Cumbuan pria itu turun ke leher dan pundak si gadis, kemudian ke dadanya. Perlahan tapi pasti, tubuh cantik Maya tidak lagi tertutupi, mereka berdekapan semakin erat, Maya mengikuti aliran keinginan Masumi yang tidak tertahankan dengan patuh. Tubuh mereka menari, semakin intim dan liar, mereka hanya bisa memasrahkan diri pada kehendak alam…
Suara petir yang menggelegar membelah langit menghentikan sesuatu yang hampir saja mereka lakukan bersama-sama. Masumi melepaskan pelukannya dari tubuh Maya, nafasnya memburu, dan dengan usaha keras ia berusaha memulihkan diri.
Ia melihat tubuh polos gadis itu sekilas dan cepat-cepat memalingkan wajah.
“Kenakan pakaianmu,” ujarnya dengan berat.
Maya hanya menatapnya, kehilangan orientasi.
“Cepat,” bentak Masumi dengan suara dalam. Maya menurut. Begitu si pria membalikkan punggung untuk membelakanginya, ia segera mengenakan pakaiannya yang sudah terserak.
Masumi mengenakan kemejanya yang tadi terlepas dan merapikan diri.
“Astaga,” gumamnya, memegangi kepala dengan kedua tangan, di tepi tempat tidur Maya. “Astaga.”
Untuk beberapa waktu lamanya mereka saling diam, menenangkan diri dan mendengarkan suara hujan di luar.
Beruntung sekali, pikir Masumi, bahwa alam ternyata menghindarkanku dari sesuatu hal yang hampir saja mencelakakan dirinya! Sedikit, tinggal sedikit lagi, dan akal sehatnya akan lenyap sama-sekali. Mengerikan sekali. Selama ini ia selalu memiliki kepercayaan diri penuh bahwa kontrol diri, hal yang sudah dibanggakannya selama bertahun-tahun, akan menghindarkannya dari hal-hal seperti ini, pada kondisi seperti apapun. Ternyata dia salah. Dia hanya manusia, manusia yang sangat lemah. Dia tidak pernah tahu sebelumnya bahwa dirinya bisa merasa seperti ini, dan memiliki dorongan terpendam yang begitu besar dan hampir saja lepas kontrol.
“Maafkan aku, Maya,” ujarnya lirih.
Gadis itu terisak-isak dengan suara teredam.
Masumi berbalik dan menyentuh pipi dan air mata Maya dengan tangannya.
“Maya, aku…”
Ini saatnya untuk berkata jujur, ujar sebuah suara dari dalam hatinya. Kamu sudah terlalu lama membohongi diri, dan lihatlah betapa kamu tidak lepas dan tidak bahagia. Dan kamu telah membuat banyak orang tidak berbahagia pula. Terlalu banyak hal yang kau simpan untuk dirimu sendiri dan itu membuat hatimu berkarat. Apakah kau mau hidup seperti ini untuk tiga puluh, empat puluh tahun lagi…?
Yah, kedengarannya itu melelahkan, ia mengakui dalam hati.
Kemudian, lihatlah gadis ini, ujar suara itu, yang menyadari bahwa keangkuhan Masumi mulai meluntur dan dia sekarang bersedia untuk mendengarkan suara hatinya. Betapa lama kamu mencintainya. Apakah perasaan itu buruk, sehingga kau menutupinya rapat-rapat sedemikian rupa? Apakah dia gadis yang buruk? Tidak setara denganmu dalam segala hal?
Tidak, jawab Masumi sendiri, menelusuri wajah Maya yang basah dengan jari-jarinya dan menatap mata gadis itu dengan penuh perasaan. Maya gadis yang cantik sekali. Dan yang paling penting, siapa lagi yang bisa membuatnya merasakan ikatan yang begitu mendalam… dan perasaan ini seperti… kalau boleh dikatakannya, seperti menemukan rumah?
Lalu, siapakah dirimu sendiri? Hanya seorang manusia, dengan hidup yang akan semakin rumit dan menyiksa selama kamu mempertahankan citra-citra luaran.
Aku membutuhkannya, Masumi mengakui pada dirinya sendiri.
“Aku membutuhkanmu, Mungil,” bisiknya, menghembuskan nafas perlahan-lahan untuk mengatasi debaran jantungnya. “Kamu mau… menghadapi hidup ini bersama-sama denganku? Segalanya… sudah mulai terasa berat untuk kujalani seorang diri.”
Maya hanya menatapnya seperti kehilangan kata-kata.
“Aku… memiliki trauma,” pria itu meneruskan. “Kurasa… pada dasarnya aku ini terlahir sensitif. Aku menyimpan dan mengingat-ingat setiap luka. Itu membuatku tumbuh menjadi seseorang yang sulit dimengerti. Kukira kamu sudah banyak bersinggungan dengan sisi diriku yang itu.”
Maya menundukkan wajah. Ia tahu sekali apa yang dibicarakan Masumi.
“Aku tahu, kamu telah memaafkanku,” ujar Masumi lagi, lembut. “Kamu, yang sudah banyak kubanting-banting dengan kesalahpahaman…. Dari siapa lagi bisa kuharap pengertian seluas yang kauberikan padaku, Maya?”
Maya menggumamkan sebuah nama.
Masumi tertawa lembut. “Ya, dia memang gadis yang baik,” katanya. “Semula, kupikir dia bisa menggantikanmu di hatiku. Ini jujur, Maya… dia cukup luas untuk menerima kekurangan-kekuranganku. Aku benar-benar serius mempertimbangkannya…
“Tetapi… di dalam hati, aku tahu, itu bukan dia. Dia baik untukku, untuk perusahaan… tapi kebohongan ini akan merusakku, Maya. Luka-luka yang kusimpan tidak akan sembuh, dan seumur hidup aku akan menanggung hati yang patah.
“Aku sudah tidak tahan lagi, Mungil.”
Gadis itu masih membisu.
Jari-jari pria itu menelusuri anak-anak rambut gadis yang dikasihinya.
“Apakah kamu… merasa mengenalku, Maya?”
Mengenal, mengetahui semua sisi jahatmu, membencimu, pikir Maya dengan sedih. Bertahun-tahun kita saling berkonflik dan terjebak dalam kesalahpahaman, bertahun-tahun aku bertanya-tanya setiap kali menyaksikan sisi manis dan rapuh dirimu yang tidak sengaja kauperlihatkan. Sampai kebenaran tentang Mawar Jingga kuketahui…
Tapi rasanya itu belum semua jawabannya.
Bukan hanya kebaikanmu pada diriku yang kukenal, batin Maya lagi. Aku mengenal dirimu, yang tak pernah berhenti berpindah-pindah dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya. Aku mengenal dirimu yang selalu sendirian, yang begitu merindukan kejujuran, yang tidak dapat membedakan harga diri sejati dengan status-status luaran, yang merasa ingin mati saat mengetahui bahwa kau tidak akan pernah memutuskan langkah pertama menuju Kebenaran. Kau telah mengingkari karaktermu, yang pada dasarnya lembut dan penuh kebaikan, dan tersiksa oleh tembok es yang kaudirikan sendiri. Masa lalumu adalah tembok di hatimu, yang sebenarnya dapat kaulompati kapanpun kau menginginkannya.
Tapi semuanya tidak semudah itu, tidak semudah itu…
Maya tidak dapat membahasakan semua hal yang melintas di kepalanya. Hasilnya, ia hanya memegang tangan Masumi yang masih menelusuri wajahnya dan menjawab,
“Ya… aku mengenalmu. Rasanya sejak dulu.”
Masumi bisa melihat kejujuran Maya dan kedalaman dari beberapa patah kata sederhana yang diucapkan gadis itu. Ia menutup matanya dan tersenyum.
“Aku tahu,” bisiknya, seolah bermimpi. “Kamu mengenalku seperti aku mengenalmu… sejak ribuan tahun yang lalu, sejak aku tidak tahu kapan…”
Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa benar-benar berbahagia.

Maya terbangun dari tidurnya yang nyaman, dan menyadari bahwa hujan sudah lama reda. Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat jendela, memantulkan riak-riak ombak keperakan di bawah langit musim gugur yang cerah kelabu. Burung-burung sudah berkicau sambil berlompatan riang.
Ia menemukan dirinya terbangun di dalam pelukan hangat seorang pria. Bahkan dalam tidur pun, pria itu memeluknya dengan serius, seperti menjaganya dari suatu bahaya. Wajahnya terlihat polos, tidak seperti wajah sadarnya yang selalu kelihatan menahan diri. Maya menikmati mengamati setiap inci wajah yang dicintainya itu; rambutnya yang berantakan menutupi kening dan sebagian mata, alisnya yang tebal dan keras kepala, hidungnya yang lurus dan berbentuk bagus, lekuk bibirnya yang polos namun menggoda, cambang tipis yang mulai menumbuhi wajahnya. Tubuhnya yang tegap kini tampak rileks, wangi samar cengkeh dari parfumnya menambah kesan maskulin yang dia miliki.
Dia sempurna, pikir Maya dengan perasaan rendah diri, kecuali garis-garis samar usia yang mulai menghiasi bagian bawah mata dan pipinya, serta rambut yang mulai memutih terlalu awal pada beberapa tempat. Tetapi daya tarik yang dimilikinya adalah daya tarik seorang pria yang tengah berada dalam usia emas, yang memiliki kecerdasan dan kepercayaan diri tinggi. Tidak heran, di manapun, wanita mengelilingi dan mencoba menarik perhatiannya.
Tetapi dia sungguh-sungguh hanya seorang manusia, pikir gadis itu lagi. Dia memiliki banyak kekurangan yang tidak bisa dipandang remeh. Dia tidak terbiasa jujur pada dirinya sendiri, dan banyak yang harus dilakukannya untuk memperbaiki prinsip-prinsip hidup dan bisnisnya, yang tidak ragu merugikan orang lain untuk kepentingan pihaknya sendiri.
Tidak apa, pikir Maya, mengusapkan tangannya di pipi pria yang tengah tertidur itu. Kita akan memulai segalanya dari awal lagi, bukan? Kau dan aku…
Pria seperti ini, sebagai seorang… suami?
Maya menggeleng keras-keras, mencoba mengusir bayangan konyol yang terlalu muluk tentang mereka berdua.
Mengapa tidak, pikirnya lagi dengan berani. Dari sekian banyak sifat buruknya, Masumi adalah jenis orang yang dapat dipegang kata-katanya dan tidak pernah setengah-setengah. Dia telah menyembunyikan dirinya dengan begitu serius, dan jika dia mengatakan hatinya, sudah pasti itupun serius. Kesungguhannya itu yang telah menyentuh hati Maya.
Akupun serius mencintaimu, pikir Maya.
Apa ya, yang dapat kulakukan untuknya…?
Aku bisa membantunya memunculkan kebaikan hatinya yang telah lama tersembunyi seperti intan yang belum terasah. Aku bisa membuat dia kembali menjadi manusia dan menikmati hidup.
Banyak hal realistis yang harus mereka hadapi bersama, seandainya mereka memutuskan untuk mengikatkan hidup mereka berdua.
Bahkan mungkin saja dia akan hancur, pikir Maya dengan gemetar. Jika ia memilihku…
Tetapi, seperti yang telah disiratkan Masumi padanya, hidup yang gilang-gemilang seperti lembah neon metropolitan dapat saja merupakan hidup yang kosong… sedangkan hidup yang sejati ada di dalam hati.
Kasihan dia, pikir Maya. Begitu banyak yang harus didobraknya untuk bisa bebas. Sedangkan aku, yang tidak pernah membawa apa-apa dalam hidup, ternyata seribu kali lebih beruntung dibandingkan dirinya. Dia iri melihatku, burung pipit yang mungil dan tidak istimewa, namun bebas…
Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, tekad Maya, memandang mesra pada wajah yang terlelap itu. Bahkan jika kau membuang semuanya, nama dan masa lalumu, jiwaku selalu ada di sini untuk jiwamu. Karena hanya itu saja yang paling penting…
Maya tidak pernah tahu jika Masumi pernah melakukan hal yang serupa padanya. Maya merangkul tubuh lelap itu, mendekatkan wajahnya, dan mencium bibir pria yang dikasihinya.

“Maya,” panggil pria itu, setelah mereka lama saling berdiam diri. Mobil Benz perak Masumi tengah bergerak melintas jalanan Izu yang berliku.
“Ya?”
“Ada kemungkinan… aku tidak akan menjadi seperti aku yang sekarang ini, yang dikelilingi berbagai macam kemudahan, jika aku memilih jalan yang sepi itu.”
“Maksud Anda… dengan jalan yang sepi?”
“Yah… jalanku… bersamamu,”
Maya spontan menoleh ke arah Masumi yang tengah mengemudi. Pipinya merona merah dengan cepat, menemukan pria itu tengah menatapnya dengan senyum malu-malu yang tak pernah diharapkannya bisa muncul di wajah sedingin itu.
“Tunggu aku,” suara pria itu, yang bernada rendah dan sebenarnya lembut, setengah berbisik. “Aku akan mengusahakan segala-galanya yang bisa membuat jalan kita menjadi lebih mudah. Sudah saatnya aku berusaha.”
“Jangan sampai Anda melukai diri sendiri untukku,” ujar Maya, takjub dan agak ketakutan oleh tekad yang terdengar dalam suara Masumi.
“Barangkali aku akan kehilangan segala-galanya, Maya. Itu sangat mungkin. Apakah dalam kehancuran, kamu masih bersedia menerimaku…?”
“Pak Hayami – ,” protes Maya.
Masumi tersenyum lembut.
“Yang jelas, aku masih akan memiliki cukup kekuatan sehingga tidak seorangpun bisa mencelakaimu, Mungil.”
Satu kelokan tajam lagi dilaluinya.
“Sekarang aku hidup hanya untukmu,” ujar pria itu, menatap serius ke jalanan di depan. “Lalu, Maya…”
Ia terdiam agak lama.
“Ya…?”
“Aku mungkin tidak akan bernama Hayami lagi.”
Maya sangat terkejut, tetapi ia menunggu.
“Nama asliku Fujimura. Kamu pun… mungkin harus menjadi Fujimura.”
Maya terlalu takjub sehingga tidak dapat mengatakan apa-apa.
“Kamu kecewa?” Masumi bertanya, hati-hati.
“Mana mungkin,” mata Maya mulai berkaca-kaca. “Aku tidak menyangka sejauh itu Anda bersedia berubah untukku. Bagiku itu terlalu banyak. Lebih baik Anda tidak melakukannya; mengorbankan seluruh perjalanan hidup Anda yang sudah lalu hanya untuk kutu kecil seperti aku…”
Maya mulai menangis terisak-isak.
“Mungkin aku terlalu melebih-lebihkan,” Masumi tersenyum, lebih pada dirinya sendiri. “Aku bukan orang bodoh. Mungkin aku akan hancur sejenak, tetapi pasti aku akan bangkit kembali… segalanya akan baik-baik saja. Kalau kamu ada di sisiku, tidak ada hal yang bisa menakutiku lagi, Maya. Tidak Eisuke Hayami. Tidak keluarga Takamiya.
“Inilah ongkos kejujuran, Maya. Tidak kusangka, hal itu benar-benar mahal. Namun jika kita lihat baik-baik, itu adalah hal paling layak untuk diperjuangkan.”
Dia seperti berubah dalam sekejap mata, pikir Maya dengan kagum.
“Kamu tahu apa yang telah mengubahku, Maya…?”
“Apa…?”
“Cinta.” Masumi tertawa mendengar suaranya sendiri. “Hal yang selalu aku tertawakan selama ini. Cinta.”
Ia tertawa semakin keras. Tawanya begitu gembira sehingga Maya tidak dapat menahan diri untuk tidak ikut tertawa.
Mereka menyelesaikan tawa mereka dalam beberapa lama.
“Anda tahu,” Maya meraih tangan Masumi yang sedang menyetir, menggenggamnya. “Kurasa, M.F itu inisial baru yang bagus.”
“Inisial siapa itu?”
“Inisial namaku. Maya Fujimura.”
Mereka saling tersenyum dan merasa tenang, sementara mobil terus melaju, terus, menuju realitas kejam yang tengah menunggu…


=//=
<<<Truth and The Sea ... END >>>

 

An Eternal Rainbow Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting