Tuesday 4 October 2011

Fanfic TK: Finally Found You Ch. 14

Posted by Ty SakuMoto at 02:59

Rating: 20+
Warning: Kissu kissu, Skinship, Mature relationship
A/n: Terima kasih buat ilustrasi Masumini-nya by sista Mary Regina Alacoque


Finally Found You
(Chapter 14)



Masumi in Yukata. Illustration by. Mary Regina Alacoque





Aroma kopi adalah apa yang dicium Maya saat dia berusaha membuka matanya.

“Unnghh….” Keluhnya saat merasakan pusing di kepalanya.

“Maya!!” Masumi menghampirinya. “Kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian.

Pak Masumi…?!

Maya sangat terkejut melihat pria itu.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Masumi sekali lagi sambil mengusap kepala Maya.

Masih bingung, gadis itu mengangguk.

“Bagaimana perasaanmu?” tanyanya, cemas.

“Badanku sangat lemas,” gumam Maya, lirih. “Dan kepalaku pusing…” keluhnya.

“Tidak apa-apa,” Masumi menenangkan sambil masih mengelus kepala gadis itu.

Maya bisa merasakan kehangatan belaiannya begitu menenangkan.

“Badanmu masih letih, itu biasa. Kau juga tidak makan semalaman. Nanti setelah makan, kau pasti akan baik-baik saja,” Masumi tersenyum.

Maya mengangguk. Diamatinya Masumi, dicoba digalinya kembali ingatan terakhirnya. Maya masih bingung.

“Pak Masumi, ini dimana?” Maya mengamati sekelilingnya, dan yukata yang melekat di tubuhnya.

“Ini penginapan Lotus. Sudah, nanti kujelaskan. Sekarang aku akan meminta Tamaki menyiapkan makan untuk sarapanmu,” kata Masumi sambil beranjak keluar.

Maya mengamati sekelilingnya.

Kenapa aku bisa ada di sini… sebenarnya apa yang terjadi…

Perlahan-lahan ingatannya kembali. Bertengkar dengan Masumi, bermain petak umpet, fotonya yang melayang dan dia masuk ke hutan lantas tersesat di tengah badai. Setelahnya Maya tidak ingat lagi.

Sayup-sayup ada bayangan Masumi. Tapi Maya tidak yakin apakah itu nyata atau mimpi.

“Sebentar lagi Tamaki datang,” Masumi menghampiri Maya yang masih terlihat bingung.

“Pak Masumi, sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Maya, masih di pembaringannya.

Masumi meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.

“Semalam kau pingsan,” terang Masumi lembut. “Kau tersesat di hutan lalu kehilangan kesadaranmu dan pingsan semalaman karena kedinginan. Syukurlah kau baik-baik saja,” Masumi tersenyum, menyembunyikan sedikit kebenarannya.

Maya mengamati wajah kekasihnya. Mencoba mengingat.

“Anda yang menemukanku?” Tanya Maya. “Anda yang menyelamatkanku kemarin?” gadis itu tersentuh. “Aku ingat, aku tersesat di tengah hujan dan angin yang sangat kencang. Udaranya dingin sekali. Lalu aku ingat melihatmu. Tapi aku tidak tahu apakah itu mimpi atau kenyataan,” gadis itu berkaca-kaca. “Aku—“

Ketukan di pintu membuat pandangan keduanya beralih.

Tamaki masuk dengan membawa sarapan untuk Maya.

“Selamat pagi Maya,” sapanya ramah. “Ah, Nona Maya!” Gadis itu tersipu.

“Tidak apa-apa, Tamaki, panggil Maya saja,” kata Maya perlahan.

“Ini sarapannya. Syukurlah kau sudah baik-baik saja sekarang. Semalam kami khawatir sekali,” kata gadis itu, terlihat sedih.

“Terima kasih, Tamaki,” ujar Masumi. “Kau juga sudah sangat membantu,” terangnya.

“Ya, penduduk desa sangat menyukai Maya. Kurasa kabar bahwa Maya tidak pulang semalaman dan sakit sudah tersebar,” terang Tamaki.

“Eh, benarkah?!” Maya terkejut. “Aduh… aku pasti sudah menyusahkan semua orang…” Maya terlihat risau.

“Tidak usah khawatir, semalam aku sudah menghubungi penginapanmu dan mengatakan kau ada di tempat kami. Pak Masumi yang memintanya,” terang Tamaki. “Mereka tahu kau sakit semalam. Pasti sangat lega jika tahu kau sudah baik-baik saja,” Tamaki menenangkan.

Maya juga terlihat kembali tenang dan mengangguk perlahan sambil tersenyum.

Masumi meraih baki yang tadi dibawakan Tamaki yang berisi sarapan Maya pesanannya. Bubur nasi dengan sayuran dan kaldu serta segelas susu. Baki itu diletakkan di samping futon Maya berada.

“Bisa bangun?” Masumi membantu Maya bangun dari pembaringannya.

“Iya, aku tidak apa-apa, Pak Masumi,” jawab Maya lemah.

Masumi tahu tubuh gadis itu pasti terasa sangat lemah.

“Biar kusuapi,” ujar Masumi.

“Eh? Mm…” Maya awalnya mau menolak. Tapi dia tersadar kalau dia juga tidak ingin menolaknya, jadi dia hanya terdiam.

Masumi menyandarkan tubuh Maya ke dadanya, lalu meraih mangkok berisi bubur nasi dengan sayuran dan kaldu tersebut.

“Bisa kau menelan ludahmu?” Tanya Masumi, meyakinkan Maya sudah bisa menelan dengan baik dan tidak akan tersedak.

Maya menghirup nafas perlahan dan menelan ludahnya.

“Bisa…” ujarnya.

Dan Masumi mulai menyuapinya.

Maya bisa merasakan air kaldu itu terasa hangat di tenggorokannya. Sangat enak. Selain itu, hatinya juga merasakan kehangatan dari cara Masumi memperlakukannya.

Sekali-kali Maya menengadahkan kepalanya mengamati wajah Masumi. Pria itu terasa sangat perhatian.

“Pak Masumi…” Maya menyebut nama Masumi sambil mengingat sesuatu.

“Iya?” Masumi sedikit menunduk, memperhatikan wajah Maya.

“Bukankah kemarin, kita bertengkar?” Tanya Maya, tidak yakin.

Masumi tertegun, lalu tersenyum tipis, merasa konyol.

“Iya,” jawabnya singkat.

“Apa sekarang kita, sudah berbaikan?” Tanya Maya polos.

Masumi mengulum senyumnya.

“Kenapa?” Tanya Masumi, sambil menyuapkan sesendok bubur pada Maya. “Kau masih mau bertengkar lagi?” candanya.

Maya terkikik kecil.

“Tidak…” ujarnya. “Kupikir… Anda kemarin kembali ke Tokyo,” Maya terdengar heran.

Masumi terlihat sendu. Teringat kembali kebodohannya.


“Ya, aku sempat berpikir untuk kembali ke Tokyo,” terang Masumi lirih. “Tapi sepanjang jalan aku terus teringat pertengkaran kita dan hatiku jadi tidak tenang,” akunya. “Maksudku, aku jauh-jauh dari Tokyo mencarimu, untuk memastikan semua baik-baik saja untukmu. Dan ternyata, malah aku yang membuat semuanya jadi kacau. Kau marah padaku, aku bersikap menyebalkan, lalu pergi tanpa menyelesaikan masalahnya,” pria itu mendesah. “Entah kenapa aku bersikap begitu,” sesalnya.



Maya menelan ludahnya, juga menyesal.

“Bukan salahmu, Pak Masumi,” sanggahnya. “Aku yang salah. Tidak seharusnya aku tiba-tiba marah kepadamu tanpa alasan yang jelas,” ujar gadis itu.

“Apa setelah kemarin bertengkar dan saling menyalahkan satu sama lain, sekarang kita akan bertengkar karena saling menyalahkan diri sendiri?” canda Masumi.

Maya tertegun lalu tertawa kecil dan menggeleng perlahan.

“Aku kemarin telah memutuskan untuk melupakanmu tapi tidak berhasil melakukannya. Aku malah jadi marah-marah kepadamu padahal kau tidak tahu apa-apa,” tutur Maya, ada sesal dalam nada bicaranya.

Melupakanku…

“Kau… benar-benar berpikir untuk melupakanku?” Tanya Masumi, pilu.

Maya terdiam, menyuap buburnya.

“Kupikir itu yang Anda inginkan dariku,” gumam Maya perlahan. “Kupikir, aku sudah banyak menyusahkanmu dan memang sudah saatnya aku tidak lagi bergantung kepadamu…” tuturnya.

“Maya…” sanggah Masumi.

“Tapi, setelah aku berusaha keras melupakanmu dan tidak berhasil juga, dan aku tetap bertekad, besok aku akan kembali ke Tokyo, sebagai Maya yang baru. Maya yang tidak mencintai Masumi Hayami. Itu yang kupikirkan,” Maya tersenyum kecut pada dirinya sendiri.

Jantung Masumi berdebar-debar mendengarnya. Takut.

“Aku bertekad, apa pun yang terjadi, apa pun yang kurasakan, aku tidak akan kembali kepadamu. Aku akan berusaha keras melupakanmu,” Maya menyuap suapan terakhir buburnya. “Tapi ternyata tidak seperti itu. Anda tiba-tiba saja berdiri di hadapanku sebelum aku kembali ke Tokyo dan menjadi Maya yang baru seperti yang kurencanakan. Entah bagaimana, Anda datang kembali ke dalam hidupku bahkan sebelum aku berhasil melupakan sedikitpun tentangmu. Aku jadi bingung,” papar gadis itu. “Apa sebenarnya yang harus kulakukan. Apa sebenarnya yang diinginkan takdir untukku,” Maya terdengar kalut. “Anda bilang Anda kebetulan menemukanku, tapi aku tidak percaya kebetulan. Takdir yang mengantarmu ke hadapanku. Dan sepertinya ucapan Anda dulu benar, bahwa aku memang tidak bisa lari darimu,” Maya terdengar kecewa.

Masumi mengulum senyumnya mendengar ucapan Maya.

“Jadi aku berpikir. Mungkin, memang belum saatnya untukku melupakanmu,” gadis itu tersenyum lembut. “Anda tahu, aku sempat berpikir mungkin aku kena kutukan sampai-sampai jatuh cinta sedalam ini kepadamu,” Maya melirik kepada Masumi.

Masumi balas tersenyum kepadanya.

“Benarkah? Aku senang mendengarnya,” Pria itu menyeringai. “Aku juga sempat berpikir hal yang sama. Jangan-jangan aku terkena kutukan sampai gadis mungil ini begitu memikatku dan membuatku tidak berdaya,” aku Masumi di telinga Maya.

Gadis itu merasakan wajahnya merona.

“Benarkah?” Maya menghadapkan wajahnya kepada Masumi. “Benarkah Anda merasa seperti itu Pak Masumi?” wajahnya terlihat berseri.

“Benar,” kata pria itu sungguh-sungguh. “Aku sangat jatuh cinta kepadamu. Sudah tidak bisa dibilang jatuh lagi. Mungkin tepatnya dikatakan terperosok,” Masumi menatap jenaka. “Dengan sangat dalam…!” Tegasnya.

Maya tertawa kecil. Rona kemerahan yang menggemaskan muncul di wajahnya.
“Tidak pernah sedetik pun aku berhenti mencintaimu,” ujar pria itu lembut sambil menyusuri wajah kekasihnya dengan jemarinya dan memberikan tatapan yang sangat teduh.

Maya bisa merasakan jantungnya berdebar di atas normal.

Pak Masumi…

Gadis itu sangat tersentuh dan bahagia mendengarnya.

Cup!!

Dengan cepat Maya mengecup pipi Masumi.

Pria itu tertegun, menoleh pada Maya.

Maya membuang wajahnya yang merona malu karena tindakannya barusan.
Senyuman bahagia mengembang di wajah pria itu.

Cup!!

Masumi balas mengecup pipi Maya dan segera membuang wajahnya saat gadis itu menoleh seperti yang dia lakukan sebelumnya.

Maya tersenyum malu-malu mengamati Masumi yang menggodanya.

Pria itu melirik kepadanya dan menyeringai.

“Jangan menggodaku…” rajuknya, menyikut rusuk pria itu dengan manja.

Masumi lalu terbahak dan melingkarkan tangannya mengunci gadis itu.

“Aku sangat mencintaimu, Maya Kitajima,” ucapnya dengan perasaan hangat menyelubungi perasaannya.

“Aku juga sangat mencintaimu,” jawab Maya, menahan perasaan haru dan bahagia yang mengisi hatinya.

Masumi lantas meraih segelas susu untuk Maya dan memberikannya kepada gadis itu.

“Hangat…” ujarnya saat memegang gelas susu dengan kedua tangannya.

“Maya, pakaianmu masih ada di penginapanmu? Aku akan mengambilkannya nanti,” terang Masumi, masih membiarkan gadis itu bersandar manja kepadanya.

“Mmh… mhh..” Maya mengangguk-angguk sambil meminum susunya.

Masumi tersenyum lebar melihat tingkah kekasihnya. Betapa rindu dia kepadanya dan betapa damai perasaannya kini. Masumi tidak bisa menggambarkan perasaan bahagianya.

“Maya, kenapa kau kemarin sampai masuk ke hutan?” Tanya Masumi, membelai kembali rambut kekasihnya.

Maya menurunkan gelasnya, berpikir.

“Saat aku akan pulang, dan mengeluarkan jaketku dari tas, foto kita saat di Hakkeijima terbang terbawa angin dan aku mengikutinya sampai ke hutan,” terang Maya. “Saat aku mendapatkannya kembali, aku sudah tidak tahu lagi jalan keluarnya. Saat itu gelap dan hujan sudah turun sangat deras,” Maya mengingat.

Foto…?

Masumi tertegun. Dia teringat kembali dengan foto yang digenggam Maya saat di hutan.

Karena foto itu?! Dia sampai masuk ke dalam hutan? Pikirnya, tidak percaya.

Pandangan Masumi jatuh pada bibir gadis itu.

“Hmmphh….” Masumi menahan tawanya.

Maya mengangkat wajahnya, memandangi Masumi dengan heran.

“A, ada apa?” Tanya Maya bingung.

“Susu, di bibirmu. Kau jadi punya kumis beruban…” Masumi lalu tergelak.

Eh?!

Maya mengerucutkan bibirnya dan berusaha melihatnya dengan kedua matanya yang menjuling.

Masumi tertawa semakin keras melihat wajah Maya yang terlihat konyol.

Maya juga tertawa dan mulai menjilati bekas susu di bibirnya.

“Dasar anak kecil!” ledek Masumi.

Maya segera mendelik ke arah Masumi.

“Enak saja! Aku bukan anak kecil!” sanggahnya cepat dengan energi yang sudah mulai kembali mengisi tubuhnya.

Masumi hanya tersenyum menggodanya. Mengamati gadis itu yang mulai kembali meminum susunya. Menghabiskannya.

“Lalu kenapa kau sampai mengejarnya, Maya? Padahal kita bisa berfoto bersama lagi kapan-kapan,” Masumi memainkan untaian rambut Maya yang sudah sangat dia rindukan untuk disentuh.

Maya menurunkan gelasnya, termenung. Gadis itu lalu menoleh kembali kepada Masumi.

“Karena kemarin kupikir Anda sudah benar-benar pulang dan meninggalkanku,” mata gadis itu terlihat sendu. “Hanya foto itu yang kubawa bersamaku. Yang bisa mengobati kerinduanku yang terkadang sangat menyakitkan. Foto itu sangat berarti bagiku,” Maya menundukkan wajahnya. “Mengingatkanku bahwa aku pernah sangat bahagia bersama Pak Masumi…” gumamnya perlahan.

Deg!

Maya…

Masumi menelan ludahnya. Sakit.

Pria itu lantas mencondongkan badannya kepada Maya, mendekatkan wajahnya kepada wajah gadis itu.

Maya tertegun, mengangkat wajahnya menatap Masumi yang semakin dekat padanya. Cara pria itu memandangnya serasa akan membuat jantungnya meledak.

“Pak… Masumi…” gumam Maya, saat jemari Masumi mengangkat dagu gadis itu.

“Itu… susu…” bisik Masumi, “Di bibirmu,” imbuhnya, sebelum kemudian Masumi mulai membersihkannya perlahan dengan indera pengecapnya.

Kegiatan membersihkan sisa susu berlanjut menjadi kegiatan menyapu bibir kekasihnya dengan bibirnya. Gadis mungil yang terkejut dengan tindakan Masumi dan sesaat tidak bisa bereaksi dengan tepat dan hanya sanggup mematung, kemudian membalas ciuman Masumi. Dia mengingatkan Masumi bahwa gadis itu adalah seorang wanita dewasa.

Saat bibir keduanya terpisah, Maya segera menundukkan wajahnya yang terasa sangat panas.

“Sudah bersih,” gumam Masumi lantas tersenyum tipis menggoda kekasihnya itu. 

Maya tersenyum malu, tersipu. Gadis itu tidak sanggup menatap mata kekasihnya lagi.

Masumi mengecup pipi Maya perlahan.

“Sudah, istirahat lagi. Nanti setelah lebih segar, kau bisa mandi. Aku akan mengambil pakaianmu,” Masumi mengangkat baki bekas sarapan Maya dan meletakkannya di atas meja untuk dibereskan kemudian oleh Tamaki.

“Pak Masumi…” panggil Maya, yang hatinya masih berguncang hebat gara-gara perbuatan semena-mena kekasihnya tadi.

“Iya?” Masumi menoleh kepada Maya.

“Anda kembali ke Tokyo hari ini?” Tanya Maya.

Masumi kembali menghampiri Maya.

“Kau?” dia balik bertanya.

“Aku ingin ikut pulang bersama Pak Masumi. Tapi… aku ingin sekali mengunjungi kampung halaman Bidadari Merah terlebih dahulu,” terang Maya.
Masumi tersenyum, menghampiri Maya.

“Akan kuantar,” pria itu kembali duduk di samping futon Maya. “Sekarang istirahatlah dulu. Nanti siang kurasa kau akan segera sehat kembali,” Masumi tersenyum seraya mengusap rambut gadis itu dan menarik selimutnya.

“Apa Anda tidur semalam, Pak Masumi?” Tanya Maya, mengamati wajah kekasihnya.

“Tidak, ada banyak hal yang kupikirkan,” Masumi menutupi kebenarannya bahwa dia tetap terjaga karena mengkhawatirkan Maya.

“Kalau begitu, sebaiknya Anda tidur dulu kan?” Tanya Maya seraya menggeser tubuhnya, memberi ruang kepada Masumi.

Pria itu tertegun. Tanpa dikomando dadanya berdebar sangat cepat.

“A, aku…” pria itu gugup. Belum pernah terlihat sejelas ini. “Tidak bisa tidur kalau sudah pagi,” akhirnya dia beralasan tanpa sanggup menatap Maya.

Maya terdiam mengamati.

“Nanti Pak Masumi menyetir kan?” Maya memastikan. “Bukankah sebaiknya Pak Masumi tidur dulu?” gadis itu menatap penuh perhatian.

Maya tidak melihat dimana masalahnya. Keduanya sudah pernah tidur dalam satu tempat tidur sebelumnya. Saat di apartemen Maya, juga saat Maya berada di rumah Masumi ataupun di rumah sakit setelah dia diculik. Bagi gadis itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena selain di Izu, keduanya tidak pernah bertindak terlalu jauh.

Tapi lain soalnya bagi Masumi. Setelah kejadian semalam, saat dia berusaha menyelamatkan gadis itu, pemandangan yang sempat dilihatnya tidak dengan mudah bisa dilupakannya begitu saja. Tadi malam keadaannya kacau. Dia memang tidak mengamati tapi bukan berarti dia tidak ingat.

Apalagi setelah keadaan gadis itu membaik, dan perasaannya mulai lega. Pikirannya yang tenang mulai mengingat kejadian yang sudah dilaluinya bersama gadis itu. Bagaimanapun, dia bukan seorang biksu. Dia hanya laki-laki biasa yang sedang bersama satu-satunya wanita yang pernah dia dambakan dalam hidupnya. Seorang yang sangat dicintainya. Mau tidak mau, hal itu berpengaruh pada perasaan dan pikirannya saat berdekatan dengan Maya seperti sekarang ini. Gadis itu terasa sangat menggoda baginya dan membuatnya jadi tidak tenang.

“Aku nanti saja, tidur siang,” Masumi masih beralasan.

Maya memandangi pria itu. Kesepian.

“Pak Masumi,” panggilnya lagi, perlahan.

“Iya?” Masumi menoleh.

“Jika hanya menemaniku, bagaimana?” pinta gadis itu. Matanya terlihat memelas.

Jantung pria itu berdegup semakin kencang tidak karuan, hingga suara di dadanya begitu jelas bertalu-talu sampai ke ubun-ubunnya seakan ada palu yang tidak henti memukul kepalanya.

“Ba, baiklah,” gumam Masumi perlahan, hampir tidak terdengar. Bahkan suara jantungnya masih lebih jelas dari bunyi yang dihasilkan pita suaranya.

Pria itu mengambil tempat di samping Maya. Menelan ludahnya, menenangkan diri.

Tapi tidak berhasil.

Wajah Masumi terlihat datar. Tapi jika pertahanan diri Masumi adalah manusia mini yang hidup di dalam pikirannya, maka si manusia mini itu sekarang sedang mondar-mandir kesana kemari dengan gelisah saking paniknya.

Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque

Masumi terbaring di sebelah gadis itu. Kaku. Bahkan dia tidak sanggup menoleh dan menatapnya.

Maya sebaliknya. Ditatapnya pria itu tanpa henti. Ada kerinduan yang aneh di hatinya. Kerinduan yang begitu mendalam seakan-akan dia pernah hendak kehilangan pria yang sangat dicintainya tersebut.

“Pak Masumi…” panggil Maya sekali lagi dengan sangat lembut.

“Iya…” masih berusaha terlihat tenang, Masumi akhirnya menoleh, menatap Maya.

Tapi tatapan gadis itu berhasil membuat si manusia mini membentur-benturkan kepalanya ke tembok saking frustasinya dengan kepanikan yang dirasakannya.

 
Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque

“Pak Masumi tadi bilang, bahwa Pak Masumi tidak pernah berhenti mencintaiku, kan?” Maya memastikan.

“Benar,” jawab Masumi, sambil berusaha menenangkan manusia mini di kepalanya.



Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque
“Tidakkah ada sesuatu yang Anda ingin katakan kepadaku?” Tanya Maya. “Aku, sempat berpikir, aku mungkin selamanya tidak bisa bersamamu lagi. Kupikir Anda benar hanya menyukaiku sebagai seorang aktris,” gadis itu mengeratkan rahangnya, menguatkan diri. “Walaupun di dalam sudut hatiku yang terdalam, aku selalu merasa Anda sebenarnya sangat mencintaiku, tapi aku berusaha meyakinkan diriku, bahwa itu hanyalah perasaanku saja. Aku terlalu besar kepala,” desahnya sendu.

“Tidak…” sanggah Masumi. Pria itu membalikkan tubuhnya menghadap Maya. “Aku memang hanya mencintaimu. Selalu mencintaimu,” pria itu meyakinkan, menyentuh rahang gadis itu dengan lembut. Mengusapnya, dan berhenti di dagunya.

“Lalu?” Maya memandang pria itu dengan tatapan yang menuntut penjelasan.

Masumi memandangi mata gadis itu dengan dalam. Mata yang dikiranya tidak akan pernah terbuka lagi dan menatapnya seperti sekarang. Masumi sangat bersyukur dia dan kekasihnya masih dapat saling bertukar pandang saat ini.

“Ada yang harus kujelaskan,” Masumi memulai. “Aku tidak pernah berpikir untuk memutuskan hubunganku denganmu. Tapi kemarin, ada sesuatu yang membuatku harus melakukannya,” pria itu terlihat getir. “Maafkan aku, Maya,” sesalnya.

Maya menggeser tubuhnya, mendekati Masumi dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu, memeluknya.

Sejenak nafas Masumi berhenti, dan akal sehatnya tidak bisa berfungsi. Si manusia mini sepertinya sedang sekarat.
Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque

Maya bisa merasakan jantung Masumi yang berdebar sangat keras. Gadis itu sedikit terkejut. Ditengadahkannya wajahnya dan masih ditemukannya raut pria itu yang begitu tenang.

“Ada apa? Bukankah sekarang saatnya Anda bercerita kepadaku?” ada nada mengharuskan dari cara bicaranya.

“Ya…” Masumi menghela nafas dalam. “Tapi sebelumnya, kau harus tahu, sekarang semuanya sudah selesai, sudah tidak ada masalah, jadi tidak ada lagi yang harus kau khawatirkan,” Masumi menenangkan. “Aku akan menceritakannya karena kau memang berhak tahu. Tapi kau, jangan merasa hal ini adalah kesalahanmu atau berpikir untuk menyalahkan dirimu karena apa pun,” tutur Masumi.

Maya terdiam. Dia tahu pasti Masumi sudah melakukan sesuatu untuknya.

“Berjanjilah,” pinta pria itu.

Maya terdiam sesaat, lalu mengangguk.

Masumi menarik gadis itu, mendekapnya. Keduanya berpelukan.

“Kau tahu, coklat beracun yang dikirimkan kepadamu?”

Masumi bisa merasakan kekasihnya itu mengangguk di dadanya.

“Coklat itu, dikirim oleh Hino,” terang Masumi.

“Apa?!” Masumi sangat terkejut. “Pak Hino?! Tapi kenapa??” Maya tidak percaya.

Masumi lantas menceritakan semuanya. Bagaimana Hino dan Shiori bersekongkol dan perbuatan mereka. Juga Hino yang menyalahgunakan surat kuasa Maya dan memalsukannya serta saat keduanya mengancam akan mengganggu pementasan Bidadari Merah dan juga Maya jika Masumi tidak berpisah darinya, sampai bagaimana Hino akhirnya meninggal.

“Maaf Maya,” penyesalan mendalam terdengar dari cara pria itu bicara. “Aku tidak ingin sampai pementasan Bidadari Merah terganggu. Dan jika kau sampai tahu, aku yakin kau akan merasa sangat bersalah walaupun kau tidak melakukan kesalahan apa pun. Belum lagi kalau sampai kasus ini terseret ke meja pengadilan, lalu para wartawan, pemberitaan… Aku tidak ingin kau mengalami semua itu. Belum lagi, jika harus berperang secara terbuka dengan keluarga Takamiya, aku yakin aku tidak punya kesempatan. Mereka sangat kuat. Karena itu aku terpaksa mengikuti keinginan mereka sambil mengulur waktu memikirkan apa yang terbaik yang bisa kulakukan,” Masumi menelan ludahnya. Perasaan miris masih dirasakannya, saat teringat apa yang sudah dikatakan dan diperbuatnya kepada Maya.

“Andai ada cara lain selain membuatmu menangis,” ucap Masumi, getir.

“Pak Masumi…” gadis itu menatap Masumi dengan memelas dan menahan haru. “Aku…”

“Sudah kukatakan, semuanya sudah baik-baik saja sekarang. Semua sudah selesai. Dan juga… kurasa kau sudah cukup berhasil bersikap lebih professional dengan pekerjaanmu. Setidaknya, satu tujuanku yang lain juga berhasil,” kata Masumi. “Maafkan aku, Maya…” lirihnya.

Maya mengangkat tubuhnya, sedikit menindih dada Masumi dengan dadanya lantas memandang pria itu.

Ukh!! Ya Tuhan…!!

Keluh Masumi, merasakan pertahanan dirinya benar-benar sudah di ambang batas.

Tanpa sadar Masumi menatap gadis itu, lalu pada hidungnya, bibirnya, dagunya.

Dia benar-benar berusaha keras menjernihkan kepalanya dari insting kelelakiannya. Manusia mini di kepalanya kini sedang bertapa di bawah air terjun untuk mendapatkan ketenangannya kembali.

Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque


“Anda sudah melakukan banyak hal untukku,” kata Maya, terharu.
Pandangan Masumi kembali pada mata gadis itu.

“Tapi, aku sungguh berharap, Pak Masumi tidak hanya selalu menjadi pelindungku. Aku sudah pernah mengatakannya. Aku ingin Anda berbagi semuanya denganku,” kata Maya lirih, menyentuh pipi Masumi. “Aku jadi merasa tidak berguna jika tidak pernah dilibatkan dalam masalahmu. Aku tahu aku hanya bisa menyusahkan—“

“Tidak Maya,” sanggah Masumi cepat. Meremas tangan Maya yang menyentuh wajahnya. “Bukan begitu. Hanya saja...” Masumi termenung. “Aku selalu merasa segala sesuatunya selalu belum tepat. Aku pasti memberitahumu mengenai semuanya setelah saatnya tepat. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya. Hanya saja—“

“Bukankah sudah pernah kubilang?!” Maya menghardik, pura-pura marah. “Otak Anda itu bekerja terlalu keras!” Ujar gadis itu.

Masumi tertegun lalu tersenyum tipis.

“Berhentilah merasa khawatir kepadaku. Bicaralah padaku, Pak Masumi. Jangan merasa khawatir sendirian. Ingin menemuiku, temui aku. Katakan apa yang ada dalam pikiranmu. Kau sudah berjanji. Kalau kau selalu saja menganggap keberadaanku tidak berguna bagimu. Maka tidak ada gunanya lagi kita bersama-sama.”

“Aku tidak pernah menganggapmu tidak berguna,” Masumi melingkarkan kedua lengannya di pinggang Maya, menariknya lebih dekat.

Gadis itu beringsut, menaiki tubuh kekasihnya. Dia memandangi Masumi, dagunya bertumpu pada kedua telapaknya yang saling menumpuk di atas dada Masumi.

“Aku akui, aku memang sering mengkhawatirkanmu,” Masumi menyentuh hidung Maya dengan ujung telunjuknya. ”Itu karena aku ingin segalanya sempurna untukmu. Aku tidak ingin membuatmu risau,” tutur Masumi.

“Hhh...” Maya mendengus, pipinya sekarang menggantikan dagunya digunakan untuk bersandar. “Tapi aku tidak mau begitu terus! Pokoknya aku tidak mau!” tuntut gadis itu. “Kalau Pak Masumi masih saja hendak memendam semuanya sendirian, untuk apa ada aku? Hanya untuk menyusahkan?!” tanya Maya ketus.

“Maya...” rayu Masumi, membelai kepala gadis itu.

“Pak Masumi... Dari dulu hatimu seperti langit yang menyembunyikan bintang-bintang. Kebenarannya selalu tidak kelihatan. Selalu sangat sulit ditemukan...” ujar Maya. “Jika kau, tidak mengijinkan aku mengetahui isi hatimu, dan selalu menyembunyikan kebenaran dariku,” nada suara gadis itu terdengar sedih. “Aku tidak yakin bisa hidup bersamamu,” sambungnya. "Dan selamanya rumah masa depan aku dan Pak Masumi hanya akan menjadi sebuah bangunan pasir yang terkikis habis oleh ombak."

“Maya!!” Masumi terhenyak mendengar kata-kata gadis itu.

Maya melirik kepada Masumi dan pria itu tahu kekasihnya serius.

“Jadi?” tekan Maya.

Keduanya berpandangan.

“Baiklah,” kata Masumi akhirnya. “Maafkan aku. Aku akan mencoba lebih terbuka kepadamu. Tapi dengan satu syarat,” Masumi menekankan.

Maya memperhatikan.

“Aku tidak ingin kau selalu merasa bahwa kau menyusahkanku, dan aku tidak ingin kau selalu merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak kau lakukan. Dengan begitu, aku yakin bahwa aku akan bisa lebih terus terang kepadamu,” tutur Masumi

“Ung!” Maya tersenyum dan mengangguk.

“Kau tidak pernah menyusahkanku. Dan andaikan kau memang menyusahkan, aku sangat suka dibuat susah olehmu. Jadi apapun yang terjadi, tolong jangan berpikir lari lagi dariku. Kau mengerti?”

Maya tersenyum lebih lebar.

“Pak Masumi, apa sekarang aku sudah jadi kekasihmu lagi?” tanya Maya, kembali mengangkat wajahnya yang berseri menghadap Masumi.

“Tergantung. Apa kau mau menerimaku kembali?” tanya Masumi lembut.

“Tentu...” Maya kembali menyandarkan pipinya di dada Masumi. “Kau tidak pernah hilang dari hatiku, jadi aku tidak punya pilihan lain selain mengatakan iya,” Maya terkikik kecil sambil mengusap dada pria itu.

Ukh!!!

Masumi bisa merasakan efek sentuhan gadis itu terlalu luar biasa baginya. Pertahanan dirinya yang berupa manusia mini di kepalanya sepertinya sudah mengambil tali dan hendak bunuh diri.



Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque


Grep!

Masumi meremas tangan Maya yang tadi mengusap dadanya dan menghentikannya.

Bruk!!

Masumi memutar posisi mereka dan berbalik menindih gadis itu.

Maya terkejut dan keduanya berpandangan.

“Sekarang tidurlah,” kata Masumi, berat. “Agar tenagamu benar-benar kembali dan kita bisa segera melakukan perjalanan,” pria itu tersenyum.

Maya mengangguk sambil tersenyum dan Masumi kembali berguling ke tempatnya. Pria itu memutar punggungnya membelakangi Maya dan memejamkan matanya erat-erat membuang semua pikiran mengenai dia dan Maya dari kepalanya.

Maya menoleh kepada pria itu. Sedikit heran. Itu di luar kebiasaannya. Tidak pernah Masumi memunggunginya sebelumnya.

“Pak Masumi...” sekali lagi gadis itu memanggil.

“Hmm...” jawab Masumi, masih berusaha menenangkan dirinya.

“Kenapa Pak Masumi membelakangiku? Apa... aku sudah membuatmu marah?” tanya Maya, khawatir dia sudah membuat kesalahan.

“Tidak apa-apa, Maya,” kata Masumi, suaranya sedikit tertahan. “Aku hanya tidak mau mengganggumu,” terangnya. “Lagipula kudengar posisi seperti ini adalah posisi terbaik untuk tidur,” Direktur Daito itu mencari-cari alasan.

Maya menperhatikannya. Dia tetap merasa ada yang berbeda dengan kekasihnya itu. Maya lantas menggeser tubuhnya mendekat.

Masumi bisa merasakan dirinya menegang. Dia bisa merasakannya, kehangatan gadis itu saat tubuh keduanya semakin dekat.

“Pak Masumi, marah ya kepadaku?” tanya Maya ragu-ragu. Heran dengan sikap kekasihnya yang tidak seperti biasanya padahal tadi pria itu baru saja menciumnya.

“Tidak,” jawab Masumi, setengah bergumam. Berharap gadis itu tidak akan bertanya lebih lanjut karena si manusia mini sudah kembali frustrasi, menggaruk-garuk tanah hanya karena mendengar helaan nafas gadis mungil itu yang semakin dekat.

Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque


“Lalu kenapa? Ada yang Anda pikirkan?” Maya menyentuh lengan atas Masumi, membuat debaran jantungnya semakin tidak terkendali.

“Aku hanya tidak ingin mengganggumu, Sayang. Cepatlah tidur sebelum hari semakin siang. Apa kau tidak lelah? Badanmu pasti masih lemas sekarang,” kata Masumi, sedikit menoleh ke belakang tanpa memandang gadis itu.

Maya terkikik kecil. Apa yang dilakukan gadis itu selanjutnya membuat Masumi sangat terkejut.

Dia menggeser tubuhnya semakin dekat pada Masumi, merapat. Memeluk tubuh pria itu dan menyurukkan wajahnya di tengkuk Masumi.

Duesh!!

Si Manusia mini terjengkang ke belakang.


Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque

Crooott!!!

Darah segar menyembur dari hidungnya sangat deras. Si manusia mini mimisan hebat. Mungkin bukan dengan tali, mungkin dia akan mati kehabisan darah.

“Ma, Maya...!!” erang Masumi, terkejut.

“Kalau begitu aku begini saja,” gumam gadis itu, helaan nafasnya terasa hangat membelai tengkuk pria itu masuk ke sela-sela kerah yukatanya.

Masumi bisa merasakan tubuhnya merinding. Dia tidak pernah merasa sesensitif ini sebelumnya. Yah, tidak tahu juga. Belum pernah ada siapa pun yang menghembuskan nafas ke tengkuknya seperti barusan.

“Kau, manja sekali hari ini,” Masumi pura-pura mengeluh dan bercanda.

Maya mengulum senyumnya.

“Aku sangat merindukanmu, Pak Masumi. Rasanya aku tidak mau tidur lagi. Kalau semua ini mimpi bagaimana?” rajuk gadis mungil itu. “Kalau, saat aku terbangun ternyata Pak Masumi tidak ada, bagaimana?” gadis itu terdengar sangat pilu. “Pak Masumi...” gadis itu merajuk, semakin mengetatkan pelukannya di tubuh pria itu dan merapatkan tubuhnya sendiri. Sangat takut kehilangan Masumi.

Dan Masumi sangat takut kehilangan kendali. Saat punggungnya bisa merasakan, bagian tubuh yang merupakan salah satu keindahan seorang Maya semakin jelas terasa menyentuhnya. Manusia mininya mulai mengukir batu nisan, nama “masumini” dan tanggal hari ini tertera di sana.

Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque

Pria itu bahkan tidak berani membalikkan tubuhnya. Dia merasakan wajahnya sangat panas dan jelas tidak ingin memperlihatkannya kepada Maya.

“Aku tidak akan kemana-mana,” tuturnya, seraya menenangkan fikiran dan nafasnya sendiri.

Diraihnya tangan Maya yang memeluknya perlahan.

“Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan menungguimu sampai kau bangun lagi, bagaimana?” Masumi mengelus lembut tangan gadis itu. Dari dekat siku ke jemarinya.

Sebentar Maya tidak menjawab, sudah mulai mengantuk lagi sebenarnya tapi dia sangat enggan memejamkan matanya.

“Tidak mau...” gumamnya pelan.

Masumi tahu gadis itu memaksakan untuk tetap terjaga.

Masumi diam, tidak mengajaknya bicara lagi agar Maya segera tidur.

“Aku mau main... Pak Masumi...” gumam gadis itu lagi.

Masumi tertegun.

“Main? Kau mau bermain apa?” tanya Masumi, tidak mengerti.

“Main bersama Pak Masumi... ke pantai... naik ayunan... lalu Pak Masumi menggendongku...” Maya tertawa kecil, lalu kembali berbicara atau tepatnya bercerita tentang keinginannya.

Sebentar suaranya keras, sebentar perlahan, sayup-sayup, melawan matanya yang terbebani kantuk.

Masumi hanya tersenyum tipis berusaha mendengarkan cerita kekasihnya tersebut.

“Aku rindu sekali... sama Pak Masumi,” gumamnya. Gadis itu menyurukkan wajahnya lebih dalam. “Pak Masumi wangi... aku suka sekali... aku sudah kenal aromanya...” tanpa sadar Maya tersenyum dan hanya dengusan nafasnya yang terdengar.

Masumi hanya mendengarkan, menunggu kekasihnya itu tertidur. Semua kata-kata gadis itu yang entah diucapkannya dengan sadar atau tidak, telah membuatnya terharu dan perasaannya melambung.

Semuanya dikatakan Maya dengan tenang, sama sekali tidak memikirkan akibat perbuatan dan perkataannya kepada pria gagah yang sedang dipeluknya itu.

“Aku sangat suka... bersandar pada Pak Masumi... nyaman sekali... selalu membuatku merasa... sudah berada di tempatku. Tidak perlu mencari lagi... tempatku pulang... Seperti ini saja... aku sudah puas,” Maya akhirnya mulai kehilangan kesadarannya seluruhnya, namun masih sempat bergumam, “Kekasihku...” pada Masumi.

Masumi hanya sanggup mematung, bergeming. Dirasakannya helaan nafas gadis itu yang mulai teratur, dia tahu Maya sudah tidur.

Maya...

Keluhnya dalam hati.

Kau pasti tidak menyadari apa yang sudah kau lakukan kepadaku...

Pria itu tersenyum tidak percaya kepada dirinya sendiri yang merasa begitu tidak tenang dan gelisah dikarenakan gadis mungil itu.

Perlahan dan hati-hati Masumi melepaskan tangan gadis itu yang melingkar di tubuhnya dan dia bangkit.

Maya memang luar biasa jika tertidur, tidak mudah terganggu oleh apa pun. Itu juga Masumi sudah tahu.

Masumi tersenyum memandangi wajah tertidur kekasihnya yang begitu polos.

Maya...

Dirapikannya posisi tidur gadis itu agar lebih nyaman, juga selimutnya. Masumi memandangi wajahnya, dan tatapannya berubah sedikit resah.

Apa yang dipikirkannya jika dia tahu apa yang kurasakan? Dia pasti ketakutan... dan pasti berpikir aku ini brengsek.

Pikir Masumi.

Maafkan aku Maya...

Pria itu mencium kening Maya lalu bibirnya.

Dia hanya berani menciumnya saat tertidur, karena jika gadis itu sampai membalasnya, Masumi tidak tahu kemana tindakan keduanya akan berakhir.

Samar-samar gadis itu tersenyum tipis dalam tidurnya.

Sebaiknya yang kau mimpikan itu aku, Maya...

Masumi tersenyum melihatnya.

Dia lantas berdiri dari futonnya, meraih sebungkus rokok dan pemantik, bermaksud menenangkan dirinya dengan sebatang atau beberapa batang rokok agar rasa gelisahnya menghilang. Sedangkan si manusia mini sekarang sedang ditransfusi darah dan diinfus sebelum kembali dikirim ke kuil Zen untuk bermeditasi.
Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque
=//=

Maya kembali terbangun tiga jam kemudian, sudah hampir tengah hari.

Ah! Pak Masumi!!

Dengan cepat mata gadis itu mencari kekasihnya yang tidak ada di sampingnya.

Sebuah pintu terdengar bergeser dan Maya menoleh.

“Pak Masumi...!” Gadis itu tersenyum riang.

“Mencariku ya...” goda pria jangkung itu.

“Habis mandi?” Maya memperhatikan pria itu yang terlihat sangat segar.

Dia sudah berganti pakaian kembali memakai kemeja dan celana panjangnya.

“Iya, aku mau mengambil pakaianmu di penginapan Shukumei. Kau kalau sudah merasa lebih baik, cepatlah mandi, kau bisa makan duluan atau menungguku, nanti kita makan siang bersama,” kata Masumi, meraih kunci mobilnya.

Maya mengangguk dan tersenyum manis.

Masumi mengecup ubun-ubun gadis itu sebelum berpamitan.

Maya senang sekali. Hatinya terasa sangat hangat dan ringan. Entah sejak kapan dia tidak merasa seperti ini. Sangat lega.

Sebuah ketukan terdengar.

“Permisi, Nona Maya saya Tamaki,” terang yang mengetuk pintu.

“Iya, masuklah,” Maya bangkit dari tempat tidurnya.

Sekali lagi gadis itu mengucapkan permisi sebelum menutup kembali pintunya.

Maya meraih sebuah handuk yang masih terlipat rapi.

“Saya mengantarkan pakaian Pak Masumi, sudah selesai,” Tamaki menerangkan jas dan mantel yang dibawanya.

“Oh, iya...” Maya entah kenapa tersipu-sipu.

“Futonnya mau dibereskan Nona?” tawar Tamaki.

“Iya,” Maya menghampiri pakaian yang dibawa Tamaki.

“Hanya... ini saja?” tanya Maya, sedikit heran.

Dimana pakaianku?

Pikirnya.

“Iya, Nona, itu saja,” terang Tamaki yang sedang melipat futon dan hendak menyimpannya ke dalam kloset.

“Mmh... Pak Masumi tidak memberikan pakaianku?” tanya Maya ragu-ragu.

“Tidak, hanya pakaian Pak Masumi yang diserahkan,” jawab Tamaki, mengambang. “Ah!” Mata gadis itu bersinar. “Semalam Nona memakai sweater itu,” Tamaki menunjuk sebuah sewater yang terdapat di atas sebuah kursi tanpa kaki di sisi ruangan.

Maya mengamatinya.

Sweater itu...?

“Nona Maya, apa mau makan siang sekarang?” pertanyaan Tamaki membuyarkan lamunannya.

“mmh... tidak, nanti saja bersama Pak Masumi...” gumam Maya, masih bertanya-tanya dimana pakaiannya.

“Baiklah, Pak Masumi tadi berpesan untuk membawakan sup untuk Nona kalau Nona Maya belum mau makan. Nanti sebentar lagi saya bawakan,” terang Tamaki. “Apakah ada yang lainnya lagi?” tawarnya.

“Mmh.. tidak ada,” Maya menggeleng perlahan.

“Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Tamaki dengan cara yang sangat sopan.

Selepas Tamaki pergi, perlahan-lahan Maya menghampiri kursi itu, membungkuk meraih sebuah sewater yang teronggok di sana. Sweater biru dongker dengan beberapa variasi sulaman tanpa gambar itu baru kali ini dilihatnya.

Besar sekali...

Pikir Maya.

Pasti punya Pak Masumi...

Eh?!

Gadis itu tertegun melihat bekas guntingan membujur dari bawah sampai lehernya, jaket beresleting tanpa resleting.

Semalam aku mengenakan ini? Lantas dimana pakaianku?

Maya beranjak ke ruang berpakaian. Dia tidak menemukannya. Saat gadis itu membuka yukatanya, dia baru menyadari bahwa pakaian itu adalah satu-satunya kain yang melekat di tubuhnya.

Dada gadis itu berdebar dan wajahnya langsung terasa panas.

Pak Masumi....?!

Maya sangat malu. Malu sekali. Menyadari kemungkinan pria itu pernah melihatnya tak berpakaian.

Dan dia mulai menyadari sesuatu. Apakah itu sebabnya Masumi tadi sempat terlihat canggung dan menjaga jarak dengannya. Dan apa yang sudah dilakukannya?

Maya benar-benar malu sampai-sampai tidak dapat menahan air matanya.

Walaupun Masumi kekasihnya, tetap saja Maya merasa sangat malu dan tidak sanggup membayangkannya.

“Aduuhhhh...” Maya membenamkan wajahnya pada kedua telapaknya.

Apa yang Pak Masumi pikirkan tentangku... aku sama sekali tidak menyadari keadaanku...

Lalu...

Maya kembali membayangkan situasinya. Dia tidak tahu segawat apa keadaannya semalam. Dan Maya juga tahu, Masumi tidak pernah melakukan apa pun tanpa perhitung. Apapun yang dilakukannya pasti dia lakukan karena memang harus dilakukannya.

Tapi tetap saja, mengetahui ada orang lain yang melucuti pakaiannya, dan dia sama sekali tidak tahu apa-apa, rasanya sedikit menakutkan dan membuatnya gelisah. Belum lagi rasa malunya yang teramat. Maya tidak tahu harus dengan wajah seperti apa dia menemui Masumi nanti.

=//=

Maya sudah selesai menghabiskan sup dan susu yang disiapkan untuknya. Gadis itu sedang menonton televisi saat didengarnya ada suara Masumi di dekat pintu, sepertinya berbicara dengan seseorang. Spontan tubuh gadis itu menegang seperti terkena sengatan listrik.

Aduhh.. Pak Masumi!!

Pikirnya panik. Cepat-cepat dia merapatkan yukata dengan tangannya. Maya takut sekali kejadian tadi pagi dikiranya dia sengaja menggoda Masumi.

“Aku pulang,” kata Masumi, menggeser pintu dan menutupnya kembali setelah masuk.

“Se, selamat datang,” seperti biasa Maya tidak bisa menyembunyikan perasaannya.

“Sedang nonton apa?” tanya Masumi, duduk di sampingnya. “Ini, tasmu,” kata Masumi, sambil meletakkan tas itu di dekat Maya.

Maya hanya tertunduk canggung dan tidak menoleh juga tidak menjawab. Hanya menggumamkan terima kasih dengan perlahan.

“Ada apa, Maya? Ada yang sakit?” tanya Masumi, menyentuh bahunya.

Spontan bahu Maya tersentak, melepaskan diri dari genggaman pria itu dan Maya menggeleng kuat.

Masumi terhenyak.

Kenapa Maya—

Deg!

Ah! Apa dia...

Masumi tahu bahwa gadis itu sudah mulai menyadari keadaan dirinya. Masumi juga jadi terbawa merasa gelisah. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.

“Gantilah pakaianmu, Maya,” kata Masumi. “Tadi aku ketemu Pak Hiraga, dia berkata anak-anak merindukan dongengmu. Apa kau mau bertemu mereka dulu sebelum pulang?” Masumi berusaha terlihat tenang padahal hatinya takut sekali. Takut gadis itu salah sangka kepadanya dan takut sekali dengan apa yang dipikirkan gadis itu kepadanya.

“Pak Masumi,” gumam Maya, perlahan. “Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Lalu, pakaianku...” Maya tidak meneruskan ucapannya, merasa risih.

Glekh!

Masumi menelan ludahnya.

“Maya,” pria itu sebentar tercekat. “Tolong jangan berpikiran yang buruk terhadapku,” suaranya terdengar gelisah. “Aku tidak melakukan apa pun yang melewati batas. Aku bersumpah kepadamu. Semalam...”

“Apakah keadaanku gawat?” tanya Maya, mata beningnya akhirnya menatap Masumi. Pipi gadis itu terlihat merona.

“Iya, kau terkena hipotermia. Saat aku menemukanmu di hutan, tubuhmu dingin sekali dan kau sudah berhalusinasi. Maafkan aku, tapi semua pakaianmu basah kuyup jadi aku melepasnya,” suara Masumi terdengar sungkan.

Wajahnya tanpa disadari merona, karena dia mengulang kembali semua itu dalam kepalanya dan semuanya mulai terasa ganjil sekarang.

“Aku memasangkan jaket dan mantelku, dan kuganti dengan sweater kering di dalam mobilku. Dan karena tidak ada perubahan apa pun setelah beberapa lama dihangatkan dengan selimut, aku berusaha menghangatkanmu dengan panas tubuhku. Hanya itu cara yang paling baik. Kalau tidak begitu, bisa-bisa aku kehilanganmu. Mengertilah Maya, itu hal yang harus kulakukan,” terang Masumi panjang lebar, berusaha menjelaskan situasinya dan takut gadis itu berpikiran macam-macam kepadanya.

Maya tertegun. Dia tidak mengira keadaannya segawat itu. Dia pikir dia pingsan karena demam kehujanan atau apa. Sekarang dia tahu sekali lagi pria ini sudah menyelamatkan nyawanya.

“Aku percaya kepadamu, Pak Masumi,” kata Maya perlahan. “Aku tahu Pak Masumi tidak akan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Hanya saja...” wajah Maya terlihat kalut. “Tetap saja rasanya sedikit menakutkan, saat aku tersadar sudah terjadi banyak hal dan aku tidak menyadarinya. Aku tidak tahu apa saja yang sudah terjadi padaku.”

“Aku sudah menceritakan semuanya,” kata Masumi cepat. “Tidak ada apa-apa lagi yang terjadi, dan kau... keadaanmu memang cukup parah, tapi syukurlah, beberapa jam kemudian suhu tubuhmu semakin membaik juga keadaanmu dan kesadaranmu kembali,” terang Masumi. Ada rasa lega dan khawatir sekaligus di suaranya.

Maya terdiam.

“Terima kasih, Pak Masumi....” gumam Maya.

Sekali lagi aku sudah menyusahkannya.

Pikir Maya.

“Tapi tasmu, aku membawanya, aku simpan di sana,” Masumi menunjuk tas yang dibawa Maya saat dia menemukannya di tengah hutan semalam.

Maya menoleh ke arah yang Masumi tunjuk lalu mengangguk.

Gadis itu lantas mengamati wajah tampan kekasihnya. Rona merah menghiasi wajah pria itu. Sangat banyak. Lebih banyak dari yang pernah dilihatnya. Saat sadar sedang diamati, pria itu membuang wajahnya.

“Kenapa makan siangnya belum datang ya?” Masumi pura-pura mengalihkan pembicaraan dan melemparkan pandangannya ke arah pintu. “Padahal aku sudah meminta Tamaki mengantarkannya tadi saat aku pulang,” imbuhnya.

Sementara Maya masih mengamatinya. Dia tahu Masumi gugup.

“Apa itu alasannya tadi Pak Masumi bersikap canggung kepadaku?” tanya Maya.

Masumi terkejut gadis itu masih membicarakannya.

“Sudahlah Maya, hal ini... tidak perlu lagi dibicarakan,” pinta Masumi.

Maya terdiam, menelan ludahnya.

Masumi tidak tahu apa yang dipikirkannya.

“Pak Masumi, aku...” gadis itu tergagap. “Tidak pernah sedekat ini dengan siapapun. A, aku, sama sekali tidak bermaksud menggodamu tadi. Aku, sama sekali tidak mengerti dengan keadaanku,” wajah gadis itu mulai terasa panas.

“Iya Maya, aku tahu. Sudahlah, kita tidak perlu membicarakannya. Aku tidak akan bersikap seperti itu lagi,” kata Masumi, menjelaskan sikap canggungnya saat pagi. “Maafkan aku, aku tadi hanya berusaha menenangkan perasaanku. Aku lega kau baik-baik saja,” jelas Masumi.

“Tapi Pak Masumi, jika... jika... ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu bahagia, aku...” wajah gadis itu segera merah padam.

Mata pria itu melebar, terkejut. Dia mencoba membaca maksud gadis itu, tapi dari mimik wajahnya sekarang yang terlihat sangat malu, Masumi sudah tahu maksud kekasihnya itu.

“Tidak, Maya, tidak,” kata Masumi, cepat. “Tidak begitu. Tidak perlu seperti itu. Bukan maksudku begitu,” pria itu semakin gugup. Dia benar-benar tidak nyaman membicarakan hal yang intim seperti ini. Dia tidak pernah membicarakannya dengan siapa pun sebelumnya.

“Kenapa Pak Masumi? Karena... karena... masih siang? Pak Masumi boleh... mmh... jika...” Maya gelagapan.

“Bukan,” potong Masumi cepat.

Sungguh aneh sekali situasinya bagi keduanya dan ketukan di pintu dari Tamaki sama sekali tidak merubah semuanya.

Tamaki masuk membawakan makan siang bagi keduanya.

Dia bisa merasakan situasinya sangat aneh dan canggung. Dia jadi punya firasat sedang mengganggu kebersamaan keduanya.

Keadaan canggung itu tidak juga hilang setelah Tamaki pergi.

“Ayo makan, Maya,” ajak Masumi.

“Lalu soal yang tadi, bagaimana?” tanya Maya dengan polos.

“So, soal yang mana? Tidak perlu dibicarakan lagi!” ujar Masumi gelisah.

Maya masih bergeming memandangi pria itu.

“Pak Masumi, aku serius,” gadis itu menekankan. “Aku sudah pernah mengatakannya saat di Izu, bahwa aku sudah menyerahkan diriku ke tanganmu. Anda tidak perlu... menahan diri terhadapku,” gadis itu menunduk semakin malu. “Aku tidak mengerti kapan Anda membutuhkanku atau tidak, tapi, seandainya, Anda...”

“Akh... Maya...” keluh Masumi, menutup matanya dengan tangannya. Dia sudah tidak bisa lagi menjadi dirinya yang terlihat tenang. Pria itu tidak tahu kenapa mereka harus membicarakan hal ini. “Kita tidak perlu membicarakannya lagi. Belum saatnya kita membicarakan hal seperti ini, dan ini membuatku... risih...” Masumi akhirnya berterus terang.

“Aku juga...” aku gadis itu. “Tapi... jika Pak Masumi menginginkan sesuatu dariku, dan jika aku bisa membahagiakan Pak Masumi, aku hanya ingin Pak Masumi mengatakannya. Mungkin tidak sekarang, dan aku mungkin tidak akan pernah tahu kapan. Aku hanya ingin Pak Masumi lebih terbuka dan terus terang kepadaku, karena itu kukatakan, kapanpun dan apapun yang Pak Masumi inginkan, aku...”

“Aku mengerti, Sayang, aku mengerti,” potong Masumi.

Keterusterangan gadis itu mengejutkannya lebih dari keterusterangan lain yang pernah dilihatnya. 

“Aku tidak memungkiri, aku mempunyai ketertarikan seperti itu kepadamu. Aku hanya laki-laki biasa, tentu saja aku terkadang terbawa perasaanku. Aku juga tidak akan mengelak dengan mengatakan bahwa aku tidak menginginkannya atau memikirkannya.” Masumi menelan ludahnya, rasa cemas menghampirinya saat dia mengakui kelemahannya.

“Tapi ada banyak hal yang harus dipikirkan. Hubungan kita sudah sangat dalam dan kau tahu aku serius terhadapmu. Tapi seperti halnya saat di Izu, aku terlalu mencintaimu untuk mempertaruhkan masa depanmu, aku tidak ingin karena keegoisanku, kau—“

“Ketika dunia ini masih kacau, sang dewa melahirkan anak yang diturunkannya ke dunia. Pada saat itu jiwanya terbagi dua, gelap dan terang. Masing-masing bersemayam dalam tubuh yang berbeda,” tiba-tiba Maya mengucapkan dialog Akoyanya, memandang Masumi.

“Bila gelap dan terang itu bisa bertemu kembali, maka saat itu manusia bisa berubah menjadi dewa, untuk melahirkan kembali jiwa-jiwa yang baru. Dan pada saat itulah akan muncul sebuah kekuatan ajaib” gadis itu menghampiri Masumi.

Jantung Masumi berdebar sangat kuat saat melihat ekspresi Maya yang penuh cinta kepadanya. Pria itu tidak berkutik.

“Kekuatan yang mempersatukan jiwa yang satu lagi. Umur, status dan kedudukan sama sekali tak ada hubungannya. Bila keduanya bersua, mereka akan langsung saling tertarik. Satu jiwa tidak akan berhenti merindukan jiwa pasangannya. Mereka ingin segera menjadi satu jiwa. Keduanya seperti gila, merindukan satu sama lain. Itulah cinta...” gadis itu meraih wajah kekasihnya, menyentuh dengan sangat lembut pipinya.

Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque

Kali ini si Manusia mini sudah berdiri di atas bangku dengan tangannya gemetar kuat menyentuh tali gantungan di hadapannya. Wajahnya sangat ketakutan dan peluh dingin mengaliri wajahnya.

“Cinta artinya kita merindukan jiwa sang kekasih, untuk menjadikan manusia sebagai seorang dewa,” ucap Maya, menutup dialognya.

Maya...

Masumi memandangi gadis itu tidak berkedip.

“Karena itu Pak Masumi, aku tidak akan berpikir buruk mengenai Anda,” gadis itu tersenyum. “Aku sekarang mengerti, perasaan jatuh cinta memang di luar kendali, karena itu bukan sesuatu untuk dipikirkan menggunakan logika. Andai aku tahu caranya melupakanmu, mungkin sudah lama aku melupakanmu tanpa harus merasa menderita karena tidak bisa menemuimu,” gadis itu tersenyum pilu.

“Karena itu, aku tidak ingin Pak Masumi menyiksa diri lagi karena aku. Menyembunyikan apa yang Anda pikirkan, apa yang Anda rasakan, atau apa yang Anda inginkan, itu membuatku sedih. Dan aku ingin Anda bahagia. Aku ingin bisa membahagiakanmu, Pak Masumi,” gadis itu berucap sungguh-sungguh.

Ucapan yang membuat manusia mini di kepala Masumi memasangkan tali gantung di lehernya dengan berderaian air mata.
Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque

“Terima kasih, Maya. Kau, sudah sangat membuatku bahagia dengan kata-katamu itu,” Masumi mencondongkan tubuhnya ke arah Maya, memeluk gadis itu dengan lembut. Dia tidak mengira Maya begitu pengertian kepadanya.

Desiran aneh itu kembali menggoda hati pria tersebut saat dia mencium kekasihnya. Harusnya dia tidak melakukannya. Dia tahu sendiri pertahanan dirinya sudah mengalami guncangan hebat sedari pagi.

Dan saat gadis itu balas mengecup bibirnya lembut, Masumi bisa merasakan aliran darahnya menyalurkan listrik dari bibir ke seluruh tubuhnya. Akhirnya keduanya terlibat adegan saling menciumi bibir satu sama lain beberapa kali. Memang sangat lembut dan perlahan, tapi tidak juga kunjung berhenti. Sampai nafas keduanya semakin menghangat dan juga wajahnya.

Masumi mulai beralih menciumi sisi wajah gadis itu. Sedari tadi Maya tidak bersuara apa-apa.

“Maaf Maya,” desah pria itu di telinga Maya saat ciumannya merambat ke pangkal leher si gadis mungil. “Aku tidak mengerti kenapa aku begini. Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini pada siapa pun sebelumnya,” keluh Masumi.

Maya hanya terdiam gugup. Merasakan sentuhan bibir Masumi di kulitnya, kadang gadis itu memejamkan matanya. Maya lantas memeluk bahu Masumi, mengijinkan perbuatannya. Maya tidak berniat menolak.

Ciuman Masumi beranjak perlahan menyusuri sisi leher Maya menuju ke bahunya. Menikmati setiap persentuhan antara bibirnya dan kulit Maya yang begitu lembut, begitu harum, membuat pria itu jadi serakah, mengharapkan lebih dari yang sudah didapatkannya.

Disingkapnya perlahan bahu gadis itu yang terlihat polos saat Masumi menyingkirkan kerah yukata yang longgar itu meminggir.

Masumi mengangkat wajahnya, kembali menatap Maya yang balik menatap dirinya begitu lembut. Seakan-akan mengatakan bahwa pria itu tidak perlu merisaukan banyak hal. Bahwa dia tidak usah ragu.

Pria itu lantas meraih bibir Maya dengan bibirnya, menciuminya dengan lebih dalam. Ditunggunya sampai Maya balas menciuminya dan keduanya mulai merasa terlena karena perlakuan satu sama lain.

Si manusia mini kini berkelojotan di tiang gantungan, sepertinya sekarang benar-benar akan menemui ajalnya.
Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque

Tapi ternyata nasib masih berpihak pada si manusia mini.

Kruyuuuuuuuuuuuuu~~kkk!!

Ugh!

Maya dan Masumi tertegun, berhenti dari kegiatannya. Bibir keduanya terpisah dan segera menundukkan pandangannya, mencari pelakunya.

Kruyuuuuuuuuuuuu~kkk!!

Perut Maya mengaku.

Tes!!

Tali gantungan si Manusia mini terputus.

Brug!!

Manusia mini itu jatuh ke tanah yang sempat digaruknya, tersungkur.

Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque

Masumi tertegun, lantas dia tersenyum malu dan tertawa kecil.

Maya lebih malu lagi, dia menundukkan wajahnya sangat dalam. Suara perutnya itu benar-benar keras.

“Kau lapar, Sayang?” tanya Masumi, tersenyum hangat. Merasa bahwa kejadian barusan benar-benar lucu.

Maya menggeleng tanpa mengatakan apa pun.

“Sudahlah, ayo kita makan,” ajak Masumi, membenarkan kembali leher dari yukata gadis itu.

“Tidak, Pak Masumi, tidak apa-apa... aku...” gadis itu menatap dengan pandangan memelas, benar-benar tidak enak hati dengan kejadian barusan.

KRYUUUUUUUUUU~~KK!!!

Perutnya protes lebih keras lagi.

Keduanya kembali tertegun, dan Masumi akhirnya terbahak.

Sedangkan si manusia mini kini terengah-engah menjulurkan lidah dan mengusap-usap lehernya di tempat bekas tali gantungan tadi dengan sebelah tangannya. Masih belum waktunya dia tewas.
Masumini illustrations by: Mary Regina Alacoque

“Pak Masumi...” gadis itu merajuk karena malu.

“Ternyata perutmu jauh lebih terus terang daripada kau,” Masumi masih saja tertawa.

“Maaf...” gadis itu menunduk, menyesal. Wajahnya masih terlihat memerah.

Maya...

Masumi terharu melihatnya.

Ditangkupnya wajah gadis itu dengan kedua tangannya.

“Kau adalah wanita yang paling luar biasa yang pernah kutemui, Maya Kitajima. Aku sungguh beruntung, ditakdirkan bisa tahu rasanya mencintai dan dicintai olehmu,” Masumi tersenyum hangat dan penuh kasih sayang.

“Pak Masumi,” mata gadis itu berkaca-kaca. “Aku....”

KRYUUUUUUUKKKK!!!!

“Hahahaha... “ masumi terbahak lagi. “Aku tahu, Sayang, aku tahu kau lapar...” katanya seraya memeluk Maya gemas.

“Pak Masumi~!!” Maya kembali merajuk karena malu. Bukan itu yang hendak dikatakannya tentu saja.

“Aku tidak pernah mendengar suara perut sekeras itu. Apa kau memelihara sesuatu di dalam sana?” canda Masumi.

Maya mengerucutkan bibirnya, tidak bisa membalas pria yang sedang mendekap bahunya itu.

“Sudahlah, ayo kita makan,” ajak Masumi.

Maya tidak bisa menolak.

Gadis itu lalu beranjak mengambil tasnya dan berganti pakaian. Wajahnya masih sangat panas dan juga seluruh tubuhnya.

Pak Masumi...

Gadis itu menyentuh bibirnya. Setiap sentuhan Masumi selalu sangat istimewa baginya.

Kryuuuuuuuuuukkk~!!

“Aduh!! Iya! Iya!! Kau ini berisik sekali sih!!” ujar Maya yang lamunannya terganggu.

Dia segera berganti pakaian dan menghampiri Masumi yang sudah menunggunya untuk makan siang bersama.

“Pak Masumi, maafkan aku,” sesal gadis itu saat kembali ke meja mereka.
Masumi tersenyum. Dirangkulnya gadis itu.

“Aku sangat mencintaimu, Maya Kitajima,” Masumi merasakan kehangatan di tubuh dan hatinya. Berusaha menetralisir lagi perasaannya kepada Maya. “Begini saja, sudah cukup untuk sekarang. Aku bisa merangkulmu dan menatapmu lagi. Aku sudah sangat bahagia. Maaf jika kadang aku tidak bisa mengendalikan perasaanku,” pria itu berkata seraya tersenyum tipis.

Maya menggeleng di pelukannya.

“Ayo kita makan, sebelum perutmu protes lagi,” goda Masumi sambil melepas pelukannya.

Maya terkikik mendengarnya.

Dipandanginya Masumi yang mengambilkan makanan untuknya.

Aku yang beruntung, Pak Masumi... karena kau begitu memikirkan aku... Aku tidak pernah merasa begitu diperhatikan dan dipedulikan orang lain seperti yang sudah kau lakukan...

Maya bisa merasakan matanya berkaca-kaca. Gadis itu menghirup nafas dalam, menenangkan perasaannya. Lalu kembali tersenyum pada Masumi yang sedang memperhatikannya, juga tersenyum.

=//=

Tamaki masuk kembali setelah makan siang untuk membereskan perlengkapan makan yang tadi dipakai pasangan itu. Tidak seperti sebelumnya, mereka terlihat lebih santai dan hangat.

“Sudah mau pulang, Tuan? Nona?” tanya Tamaki.

“Iya, kami sudah mau kembali ke Tokyo,” terang Masumi. “Berat tidak? Sini, aku saja yang bawakan,” pria itu beralih bicara kepada Maya.

“Terima kasih,” gadis itu tersenyum dan membiarkan Masumi membawakan barangnya. Dia sudah tidak merasa lagi merepotkan Masumi, mereka sudah bicara terbuka dan saling belajar berbagi satu sama lain.

“Tamaki, terima kasih banyak untuk semua bantuanmu,” kata Masumi tulus sambil tersenyum.

Sejak pertama kali bertemu, baru kali ini nakai tersebut melihat senyuman Masumi yang begitu ramah dan hangat seperti sekarang.

“Tidak, Tuan, bukan apa-apa,” gadis itu terlihat sungkan.

Maya dan Masumi lantas membereskan barang-barang mereka dan berpamitan 
kepada Okami penginapan tersebut setelah membayar semua administrasinya. Tapi keduanya menitipkan mobil Masumi di sana karena Maya dan Masumi masih berniat jalan-jalan sebentar di desa tersebut. Maya ingin berpamitan dengan anak-anak dan mendongen untuk terakhir kalinya bagi mereka sebelum dia pergi. Dia juga ingin berpamitan dengan para pengurus kuil.

=//=

“Kak Maya! Kak Maya! Itu Kak Maya datang!” Seru seorang anak saat mengangkat wajahnya dan melihat Maya di pintu kelas.

“Waa.. waa.. iya... kak Maya!!” yang lain ikut menggerakkan kepalanya lincah, juga ingin melihat kakak pendongeng mereka.

“Halo...” Sapa Maya. “Selamat siang..”

“Selamat siaangg~” sambut anak-anak tersebut.

Mereka sedang memakan bekal makan siangnya, sepertinya sedang beristirahat.

“Halo Maya,” sapa Hiraga.

Maya dan Masumi mengucapkan salam. Hiraga tersenyum, dia mengenali Masumi. Keduanya lantas diajak ke kantor, dimana di sana Maya juga bertemu beberapa guru yang sudah mengenalnya.

“Perkenalkan saya Hayami, tunangan Maya,” kata Masumi saat memberi salam dengan penuh percaya diri.

Maya bisa merasakan wajahnya menghangat, dia dan Masumi belum bertunangan dan entah kenapa Masumi sampai harus mengatakan hal seperti itu. Maya tidak tahu Masumi mengatakan hal itu untuk memberi tahu Hiraga bahwa gadis mungil itu tidak akan beranjak kemana-mana dari sisinya.

“Waah Maya...” seorang guru wanita mengangkat alisnya terkejut dan senang. “Kau tidak pernah cerita bahwa kau sudah bertunangan,” katanya antusias.

Maya kembali hanya tersipu-sipu.

Keduanya sempat berbincang-bincang dengan mereka. Maya akan diminta kembali mendongeng nanti setelah jam makan siang anak-anak selesai.

“Bagaimana dengan latihan aktingmu Maya?” tanya Pak Hiraga. “Apa kau sudah mendapatkan yang kau cari?”

“Iya, begitulah, di sini saya mulai bisa mengerti lebih banyak hal dari sebelumnya,” jawab Maya. “Terima kasih sudah membantuku sehingga aku bisa bekerja di kuil,” ucap Maya tulus.

“Ah, istriku pasti sedih kalau tahu kau sudah mau pulang. Kapan-kapan datang lagi ke sini ya, dan jangan lupa berkunjung di rumahku,” tawar Hiraga.

Masumi tertegun.

Hah? Istri...?

Dipandanginya Hiraga.

Jadi pria ini, sudah menikah...

Masumi merasa sangat lega. Tanpa sadar wajahnya semakin berbinar dan dia tersenyum tipis.

“Tolong sampaikan saja salamku kepada Yukie, maaf aku tidak bisa menemuinya karena aku dan Pak Masumi masih ada beberapa tempat yang mau dikunjungi sebelum kembali ke Tokyo,” terang Maya.

“Tentu saja,” Hiraga tersenyum ramah. “Dia sangat menyukaimu Maya, sampai-sampai dia bilang, kalau anak pertama kami ternyata perempuan, maka dia akan menamakannya Maya,” terang Hiraga.

“Oya?” Wajah Maya merona. “Aku sangat senang mendengarnya.

Dan istrinya sedang hamil!!

Hati Masumi bersorak, karena tahu Hiraga ternyata bukan saingan cintanya.

“Anak-anak, kak Maya hari ini sudah mau pulang,” terang Hiraga, saat jam makan siang sudah selesai.

“Yaaaa~~” terdengar keluhan kecewa dari anak-anak tersebut.

“Kak Maya kenapa pulang? Kalau kak Maya pulang, nanti, nanti, nanti, siapa yang akan mendongeng lagi untuk kami?” tanya Momo, sedih.

Maya terlihat menahan haru.

“Kak Maya,” terang Maya. “Harus pulang ke Tokyo, untuk mewujudkan cita-cita Kak Maya. Karena nanti di sana, Kak Maya akan berakting memerankan tokoh yang sudah lama Kak Maya impikan. Nanti, kalau tiba saatnya, pasti kita akan bisa bertemu kembali.”

Sejenak kelas terlihat sedih.

“Tapii... sebelum pergi, Kak Maya akan mendongeng dulu untuk kalian, jadi kalian jangan sedih ya...” bujuk Maya.

“Horeee~!!” Anak-anak itu bersorak.

Hiraga lalu meminta Maya untuk mulai mendongeng.

Gadis itu lalu mulai menceritakan Momotaro, dan kembali anak-anak itu segra terpesona.

Masumi, yang berdiri di pintu, juga segera terhipnotis. Sudah lama tidak dilihatnya gadis itu berakting, dan perasaan kagum yang selalu menyelimuti hatinya tiap kali melihat Maya berakting, kembali terasa.

Maya... kau memang sangat luar biasa.

Hati pria itu berdebar-debar kencang.

Setelah selesai dengan dongengnya, Maya sekali lagi berpamitan kepada seluruh penghuni kelas. Masumi juga masuk ke dalam kelas untuk pamit pada Hiraga.

“Kak Maya, itu siapa? Pacarnya ya?” tanya seorang anak.

“Waaahhh Kak Maya punya pacar...!” goda anak lainnya.

“Hooo.... Kak Maya pacaran yaaa... kak Maya pacaran yaaaa...!!” tiba-tiba seisi kelas jadi menggodanya. “Kak Maya pacaran!! Kak Maya pacaran!! Pacaran!! Pacaran!!” seru mereka seraya menepuk-nepukkan tangan.

Wajah Maya segera terlihat memerah, sementara Masumi tidak tahu harus bereaksi seperti apa, dia tidak pernah membayangkan ada saatnya dia digoda oleh anak SD seperti sekarang.

Hiraga terlihat menahan tawanya.

“Hei, kalian tidak boleh begitu. Jangan membuat Kak Maya malu,” ujar Hiraga.
Maya merasakan wajahnya semakin panas walaupun yang menggodanya hanyalah anak SD.

“Eh, itu bukannya Paman yang mengendap-endap di kuil?” tanya Yuka. “Jadi itu pacarnya kak Maya ya?”

Kembali anak-anak itu menggoda keduanya.

“Kalian ini...” Maya hanya bisa kembali tersenyum malu.

Masumi juga malu. Sedikit. Hmm... setelah dia pikir-pikir lagi, rasa malunya lebih dari sedikit. Tapi dia sangat suka melihat Maya yang terlihat malu-malu seperti ini, dan jujur saja dia sama sekali tidak keberatan dengan godaan yang dilayangkan kepada mereka.

“Pak guru!” Seru Kou. “Ikki kan naksir Kak Maya!” Imbuhnya, meledek.

Kelas kembali ribut.

“Apa sih!!!” Seru Ikki, kesal.

“Waaa... Kasihan ya Ikki...! Kasihan!! Kasihan!! Kasihan!!” Seru anak-anak itu kembali menggoda sambil menepuk-nepukkan tangan.

“Apaan sih!!! Berisik!!” Ikki yang berkepala botak terlihat kesal.

“Ehh... sudah sudah...” Hiraga mencoba menenangkan kembali kelasnya. Kak Maya sudah mau pulang, kalian jangan membuat Kak Maya kesal,” Hiraga mengingatkan. “Tidak boleh begitu. Ayo, ucapkan selamat jalan dengan baik.”

Anak-anak itu menegakkan tubuhnya.

“Selamat jalan Kak Maya... terima kasih sudah mendongeng untuk kami...” seru mereka serempak.

“Sama-sama, aku juga sangat senang mendongeng untuk kalian,” kata Maya, terharu.

Ukh!!

Masumi tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak biasa, dicarinya sumber penyebab perasaannya itu. Matanya bertemu mata Ikki. Bocah botak itu duduk di bangkunya sambil menatap tajam kepadanya. Tatapan membunuh.

Hah?

Masumi memandangi bocah itu. Tatapan Ikki sangat dalam dan rahangnya mengetat. Sepertinya dia cemburu kepada Direktur Daito tersebut.

Berbeda dengan Maya yang mendapatkan banyak teman di desa itu, Masumi rupanya mendapatkan saingan baru dari seorang bocah kelas 2 SD.

Keduanya lantas berpamitan setelah Maya melambaikan tangan sambil keluar kelas. Teriakan penyemangat terdengar bersahutan dari dalam kelas.

“Mereka anak yang sangat baik...” kata Masumi saat keduanya berjalan melintasi lapangan sekolah.

“Iya, mereka sangat lucu,” Maya terkikik.

“Kak Maya!!!” Tiba-tiba dari belakang keduanya terdengar seruan, “Kak Maya!!!!” Semakin keras dan mendekat.

Keduanya menoleh. Sedikit silau.

Rupanya Ikki yang mengejar, kepalanya yang memantulkan sinar matahari bergerak naik turun saat dia berlari mendekat.

“Ikki!!” Seru Maya, “ada apa?”tanyanya, melihat bocah itu terengah-engah menghampirinya.

“Ini,” Ikki menyodorkan sesuatu, masih mencoba mengumpulkan nafasnya lebih banyak.

“Apa ini?” tanya Maya sambil meraihnya. Sehelai kain.

“Itu, sapu tangan, untuk Kak Maya,” katanya terengah.

“Sapu tangan?” Maya terheran.

Si bocah botak melirik tajam sebentar kepada Masumi. Pria itu merasakan ancamannya.

“Iya. Aku minta ibu belikan,” terangnya. “Waktu itu Kak Maya habis menangis kan? Jadi ini aku siapkan kenang-kenangan buat Kak Maya biar kak Maya tidak menangis lagi...” kata Ikki.

Ikki...

Maya sangat tersentuh.

“Terima kasih,” kata Maya dengan lembut. “Aku akan menjaganya baik-baik.”

“Kak Maya...” tiba-tiba Ikki menangis.

Bruk!!

Bocah botak itu memeluk Maya.

Eh?!

Masumi terkejut.

Dasar botak!!!

Protesnya dalam hati. Cemburu lagi.

Bocah itu meminta Maya jangan pergi, dan memintanya kembali lagi kapan-kapan. Maya mengucapkan sesuatu untuk menenangkannya.

Tapi Masumi tidak tenang dan itu karena dia melihat dimana kepala botak bocah itu bersandar pada Maya, dan dimana tangan Ikki melingkar di tubuh Maya.

Ikki menatap tajam kepada Masumi saat dia menjauh dari Maya.

“Paman!! Jaga Kak Maya baik-baik!!” Serunya, memerintah kepada Masumi.

Eh?

Maya tertegun, dia menahan tawanya.

“Terima kasih, Ikki, Paman Masumi pasti akan menjaga Kakak baik-baik. Kalau di sini Ikki yang selalu menjaga Kak Maya, maka di Tokyo ada Paman Masumi yang menjaga Kak Maya,” tutur Maya. “Terima kasih banyak, Ikki.”

Cup!

Maya mengecup pipi si bocah.

Bocah itu terlihat senang, sumringah. Dia memandang kepada Masumi. Pamer.

Duh, bocah ini...

Pikir Masumi, gemas.

“Sudah, masuk kembali ke kelasmu. Jangan lupa belajar yang rajin buat Kak Maya,” pesan gadis itu dengan riang.

Ikki mengangguk mantap, dan kembali mendelik penuh ancaman kepada Masumi.

=//=

“Masa Pak Masumi cemburu...” bujuk Maya setelah keduanya berjalan meninggalkan sekolah.

Sekarang keduanya hendak menuju ke kuil, berpamitan.

“Kau kan tidak perlu mengecupnya,” kata Masumi datar.

Siang itu matahari sangat terik. Sekeliling mereka terlihat begitu terang. Badai yang terjadi semalam, benar-benar tidak meninggalkan bekasnya, selain ada 1-2 pohon yang terlihat tumbang di sisi jalan.

“Hihihi...” Maya terkikik. “Dia kan hanya anak kecil,” Maya membela diri.

“Tetap saja. Mau anak kecil, pemuda, pria dewasa, kakek tua, besar, kecil, panjang, lebar, kurus, gemuk, kalau laki-laki ya laki-laki!” Masumi bersikeras. 
“Jadi seharusnya kau jangan mengecupnya,” Masumi masih protes.

“Ah, Pak Masumi!!” Maya tiba-tiba berseru kesal.

Eh?!

Masumi menoleh, sedikit terkejut.

“Begitu saja, kenapa dipermasalahkan sih?!” alis gadis itu mengernyit kesal.

Sebenarnya Masumi hanya bercanda dengan pura-pura merajuk. Dia tidak mengira Maya jadi kesal kepadanya.

“Maya...”

“Dengarkan aku sekarang!!!” tegas gadis itu. “Dia itu hanya seorang bocah! Anak kecil!” Maya berdiri di hadapan Masumi. “Anda kan sudah dewasa! Jangan ikut-ikutan bertingkah seperti anak kecil, dong!” bibir gadis itu mengerucut.

“Mau anak kecil, pemuda, pria dewasa, kakek tua, besar, kecil, panjang, lebar, kurus, gemuk!” Maya menekankan, “buatku, hanya Pak Masumi,” gadis itu bicara lebih lembut. Sangat lembut malah, “yang bisa kulihat sebagai seorang laki-laki,” gadis itu menyusuri dada Masumi dengan telapaknya dan berhenti di tengkuknya. Menarik pria itu membungkuk ke arahnya.

“Maya...” bisik Masumi, mencondongkan badannya, berpikir mereka akan berciuman.

Maya lalu menyeringai.

“Eh?” Masumi tertegun.

Gadis itu menyeringai lebih lebar lantas memutar tubuhnya, berlari dari Masumi.

Masumi sadar kekasihnya itu menggodanya.

“Maya Kitajimaaaa~!!!” Serunya kesal, mulai mengejar Maya yang berlari sambil tergelak karena berhasil mengerjai Masumi.

=//=

Grep!!

Masumi yang berhasil mengejar Maya, memegang erat lengan gadis itu lalu menariknya.

Bruk!!

Maya tertarik ke belakang, tubuhnya jatuh tidak seimbang menabrak tubuh Masumi.

“Kena kau!” Desis Masumi.

Maya menengadahkan kepalanya yang tersandar di dada Masumi, memandang pria itu yang tertunduk menatapnya.

“Sudah kubilang kau tidak akan bisa lari dariku,” desisnya sambil menatap Maya dengan tatapan yang dalam.

Pria itu melingkarkan lengannya mengelilingi tubuh Maya. Masumi lalu menundukkan kepalanya semakin rendah, berusaha mencapai bibir gadis itu yang berbeda dengan sebelumnya, sekarang terlihat gugup.

“Pak Masumi...” bisik gadis itu saat wajah keduanya sudah semakin dekat.

“Hmm...” Masumi tidak melepaskan pandangannya dari sasaran. Bibir Maya.

“Apa yang akan Anda lakukan?” tanya Maya.

“Aku akan menciummu,” jawab Masumi ringan.

“Tapi kita sedang di jalan sekarang,” Maya terdengar begitu gugup.

“Lalu? Tidak ada yang melihat kita..” Masumi sudah semakin dekat.

“Anda salah,” terang Maya.

“Hm?” Masumi tertegun.

Maya menegakkan kembali wajahnya.

“Di sana,” Maya menunjuk ke tengah sawah. Ada beberapa petani yang tampak mengamati mereka dengan terkejut. “Di sana,” Maya menunjuk ke arah yang berlawanan, tepian hutan. Ada seorang pria yang sedang menebang pohon juga terpaku melihat keduanya. “Di sana,” Maya menunjuk ke dalam sebuah rumah, seorang ibu sedang menutup mata anaknya, dan bibirnya sendiri terlihat setengah terbuka, terperangah.

Perlahan-lahan, dengan segan Masumi melonggarkan pelukannya di badan Maya dan melepaskannya.

“Mhh... sebaiknya,” Masumi berdehem, “kita lanjutkan perjalanan kita,” katanya setengah menggumam, berusaha tenang padahal merasa salah tingkah.

Maya tertawa kecil, meraih kemenangannya.

Keduanya kembali berjalan menyusuri tepian hutan untuk menuju ke kuil.

“Pak Masumi, bagaimana keadaan Paman?” tanya Maya, teringat Eisuke.

“Oh, Ayah,” Masumi mengingat. “Dia sempat mendiamkanku saat dia tahu aku memutuskanmu. Dia membacanya di koran dan sejak saat itu selalu cemberut kepadaku. Sempat menginterogasiku, aku tidak mengatakan semuanya. Hanya apa yang perlu diketahuinya saja.” kata Masumi. “Tapi dia masih cemberut padaku terakhir aku melihatnya,” keluhnya.

Maya tersenyum.

“Aku rindu padanya,” kata Maya. “Kapan-kapan ingin bertemu lagi dengan Paman Eisuke.”

Masumi tersenyum tipis.

“Datanglah ke rumahku. Semua penghuni rumah sudah merindukanmu,” ajak Masumi, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.

“Iya,” Maya tersenyum malu-malu.

“Pak Masumi, kenapa kau tadi bilang kalau kita bertunangan? Kita kan tidak bertunangan?” Maya merajuk. “Anda berbohong!”

Masumi tersenyum tipis mengamati gadis mungil di sampingnya.

“Aku tidak bohong. Aku berkata jujur...” ujar Masumi.

Maya menoleh dengan cepat ke arah Masumi.

“Kau tahu cara menjadikan sebuah kebohongan menjadi kejujuran? Kau hanya perlu membuat ucapanmu menjadi kenyataan. Jadi, aku yakin sekali aku mengatakan yang sebenarnya,” Masumi tersenyum tipis, membuat kekasihnya merasakan debaran di dadanya.

“Percaya diri sekali!!” Maya memalingkan wajahnya, pura-pura menyindir.

“Hm?” Masumi menoleh lagi kepada Maya. “Memang begitu kan, Maya? Kau dan aku...?” Masumi meyakinkan.

“Hmm...” Maya pura-pura berpikir. “Entahlah, aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa kupenuhi,” goda gadis itu.

“Maya...” Masumi kembali merajuk, melingkarkan tangannya di leher Maya. “kenapa begitu...” Dia membenamkan wajah gadis itu ke dadanya dan mengacak-acak rambut di bagian belakang kepalnya. “Ayo bilang iya..” ancamnya.

Gadis itu tergelak.

“Pak Masumi, jika ini caramu bertanya, aku tidak akan ragu,” wajah berbinar gadis itu menengadah menatap Masumi. “untuk menolakmu!”

Mata pria itu melebar.

“Maya!!” pria itu tidak terima, mendekapnya lebih erat.

Gadis itu masih saja tertawa, namun mulai melingkarkan tangannya di pinggang Masumi dan menyandarkan kepala di dadanya. Dada pria itu terasa hangat. Beberapa lama keduanya berjalan seperti itu.

Sebuah pikiran tiba-tiba melintas di kepala Masumi. Bagaimana jika memang gadis itu nanti menolaknya? Bagaimana jika Maya, tidak suka dengan yang sudah dilakukannya atau...

Masumi mempererat rangkulannya di bahu Maya.

=//=

Maya dan Masumi lantas kembali berdoa saat tiba di kuil yang selama ini menjadi tempat Maya belajar.

“Apa doa Anda?” tanya Maya setelah.

Pria itu tersenyum misterius. “Rahasia...” bisiknya.

“Pak Masumi...” rajuk Maya.

Pria itu hanya tersenyum lebar, memperhatikan Maya. Hanya nama gadis itu yang dia sebut dalam setiap doanya tadi.

Mereka kemudian mengobrol sebentar dengan Miko dan pendeta di sana, saling mengucapkan terima kasih untuk hari-hari yang mereka lalui bersama.

Miko itu mengenali Masumi, sebagai pria yang kemarin datang mencari Maya di tengah badai. Dia juga mendengar kabar bahwa Maya sakit. Syukurlah sekarang gadis itu sudah ada di hadapannya dengan keadaan sehat.

Melihat cara keduanya berinteraksi, dia bisa melihat bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Sebelum keduanya pergi, keduanya sempat diberi jimat khas dari kuil tersebut, agar cinta kedua pasangan itu selalu tumbuh subur.

Masumi menerimanya dengan tenang seperti biasa, dan Maya tempak kemalu-maluan saat menerimanya.

Keduanya lantas kembali ke penginapan untuk mengambil mobil Masumi dan mulai melakukan rencana perjalanan mereka ke kampung halaman Bidadari Merah.

=//=


Sepanjang jalan Masumi mendengarkan Maya berkisah mengenai apa yang dilakukannya selama berada di desa itu.

“Pak Hiraga sangat membantuku. Saat aku bilang mengenai peranku, dia mengajakku ke kuil tadi dan mengenalkanku kepada mereka untuk menerimaku belajar di sana. Dan mereka menerimaku. Aku mendapatkan banyak bimbingan dari mereka,” terang Maya dengan riang.

Masumi terdiam. Dia teringat kembali bahwa dia sempat cemburu kepada Pak guru tersebut.

“Mhh... Maya,” panggil Masumi.

Maya menoleh kepada kekasihnya.

“Aku, saat itu pernah berpikir kalau Pak guru Hiraga menyukaimu,” kata Masumi, canggung. “Aku jadi cemburu kepadanya dan kesal sekali saat melihatnya di kuil bersamamu,” Masumi mengaku.

Maya tertegun. Diamatinya kekasihnya. Dia kembali teringat saat mereka bertengkar, Masumi menyebut-nyebut nama Hiraga. Ternyata dia memang cemburu kepadanya.

Maya tertawa kecil.

Alis Masumi sedikit terangkat, heran.

“Kenapa kau tertawa?”

“Tidak. Aku hanya senang Pak Masumi mengatakannya. Aku jadi bisa tahu isi hatimu, aku sangat senang,” gadis itu merapatkan kedua telapak tangan di dadanya dan tersenyum lembut.

Maya...

Masumi tersenyum.

“Tapi kau tidak berniat terus menerus membuatku cemburu kan?”

“Aku tidak pernah berniat membuat Pak Masumi cemburu... Pak Masuminya saja... yang cemburuan...” ujar Maya.

“Ya... karena...” nada suara Masumi terdengar berat. “Aku selalu berpikir tidak ada aku di hatimu. Aku hidup dengan pikiran seperti itu sejak lama dan jadi terbiasa berpikiran yang tidak-tidak tentangmu.”

“Berpikiran yang tidak-tidak?” tanya Maya tajam.

Eh?

Masumi terdiam.

“Bu, bukan berpikiran yang tidak-tidak seperti itu!” Wajah Masumi merona.

“Mana aku tahu ‘berpikiran yang tidak-tidak’ seperti apa yang Pak Masumi maksud...” gadis itu memalingkan wajahnya ke jendela.

Ckiit!

Masumi meminggirkan mobilnya.

Maya kembali menoleh kepada Masumi.

“Kau ini...” ujar Masumi dengan gemas. “Kenapa hari ini senang sekali menggodaku sih?” Masumi menatapnya.

Maya kembali tertawa.

“Aku senang karena Pak Masumi sekarang sudah lebih terus terang kepadaku dan menceritakan apa yang Anda pikirkan,” gadis itu menyeringai lebar. 

“Rasanya aku jadi sudah selangkah lebih dekat lagi denganmu, Pak Masumi,” Maya tersenyum lembut.

Masumi akhirnya balas tersenyum. Diusapnya kepala gadis itu. Dia lalu melepas sabuk pengamannya dan mencondongkan badannya kepada Maya, menciumnya.

“Terima kasih,” bisik Masumi di dekat bibir gadis itu. “Karena tidak membenciku yang seorang pencemburu ini.”

Maya tersenyum, menggelengkan kepalanya.

“Aku tahu rasa cemburu itu menyakitkan,” Maya mengusap dada Masumi. “Jadi Pak Masumi jangan memendamnya sendirian ya...” bujuk Maya.

Masumi memandangi Maya lalu kembali mengecup bibirnya.

“Rasanya, jika aku belum benar-benar menjadikanmu milikku, aku tidak akan bisa tenang. Tidak bertemu beberapa hari saja, tahu-tahu sudah ada penggemar baru, si bocah sapu tangan,” keluh Masumi di bibir Maya. “Jangan-jangan manusia mawar ungu ini lama-lama tergeser kedudukannya dari hatimu,” rajuknya.

“Hihihi...” Maya terkikik. “Tidak akan. Tidak mungkin,” Maya juga melepaskan sabuk pengamannya, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Masumi. 

“Karena tidak ada laki-laki lain yang bisa membuatku jadi seorang pencemburu selain Anda,” akunya.

“Aku juga sangat cemburu pada Nona Sakamoto,” gadis itu terdengar risau. “Dia mengenal banyak hal tentang Anda yang aku tidak tahu. Anda juga bisa membicarakan banyak hal dengannya yang tidak bisa Anda bicarakan denganku...” gadis itu terlihat sedih.

“Dan aku sangat cemburu kepada Sakurakoji,” Masumi menegaskan. “Kalian sudah dekat sangat lama. Kau juga selalu terlihat bahagia saat berbicara dengannya. Kalian begitu akrab, begitu nyaman dengan satu sama lain dan sangat mesra,” tanpa sadar wajah Masumi kembali terlihat sangat dingin, dan matanya memancarkan kesepian.

Maya sangat terkejut melihatnya. Melihat wajah kekasihnya yang masih sangat dekat dengannya itu.

Maya mengusap wajah Masumi dengan tangannya.

“Yang kucintai itu Pak Masumi. Sakurakoji hanya teman baikku. Anda membuatku merasakan banyak hal yang sama sekali tidak kurasakan kepada Sakurakoji atau laki-laki mana pun,” Maya berusaha menenangkan. “Anda mengenalkanku pada perasaan cinta yang sejati. Perasaan mencintai jiwa dan ragamu dengan seluruh jiwa dan ragaku. Anda adalah belahan jiwaku. Curahan hatiku...” wajah gadis itu bersemu kemerahan.

Masumi sangat bahagia mendengarnya. Mendengarkan ucapan Maya untuknya, benar-benar menyentuh perasaannya.

“Kekasihku...” panggil Masumi dengan sangat lembut.

Maya terkikik kecil.

“Begitu juga dengan Ai. Dia sahabatku saat aku masih kecil, tapi tidak lebih dari itu. Kami bahkan tidak pernah terlibat hal-hal yang berbau romantisme. Kemarin Ai membantuku untuk menyelesaikan beberapa masalah. Benar-benar tidak ada apa-apa diantara kami. Ai sedang naksir salah satu profesor di universitasnya,” terang Masumi.

Alis Maya terangkat.

“Benarkah?”

Masumi tersenyum dan mengangguk.

“Lagipula, kau tidak usah memikirkan mengenai hal-hal yang belum kita ketahui mengenai satu sama lain. Bukankah kita punya waktu seumur hidup untuk melakukannya?” Pria itu menatap mata bening Maya bergiliran.

Maya menggigit bibir bawahnya dan mata beningnya mulai berkaca-kaca.

“Hm!” Maya mengangguk.

Dia lalu memeluk Masumi di lehernya.

“Aku sangat mencintaimu, Maya. Jangan pergi lagi dari sisiku...”

“Pak Masumi juga... jangan menyuruhku menjauh darimu lagi. Aku sangat mencintai Pak Masumi...” Maya membenamkan wajahnya di bahu Masumi.

Pria itu tersenyum lebar.

“Mmh... Maya,” panggil Masumi, saat tiba-tiba perasaan gundah menghampirinya.

“Iya?” Maya mengangkat wajahnya, kembali keduanya bertatapan.

Masumi kembali ke tempatnya, memasang kembali sabuk pengamannya.

“Jika... Satomi kembali, bagaimana? Apa yang...”

Satomi?

Maya tertegun. Setelah sekian lama, mobil Masumi kembali melaju, Maya masih belum menjawab.

Masumi juga tidak bertanya apa-apa lagi. Dia menunggu dengan perasaan was was.

Maya...

“Pak Masumi, sudah sangat lama aku tidak bertemu dengannya, entah sudah berapa tahun,” ujar Maya. “Dan selama itu, jika aku teringat kembali kepadanya, kepada kebaikannya, bahkan sampai saat ini aku masih bisa merasakan perasaan hangat di dalam hatiku,” ungkap Maya jujur.

Glekh!

Masumi menelan ludahnya, matanya melebar.

“Tapi itu semua hanya sebuah kenangan manis dari masa laluku dan tidak lebih dari itu. Aku, tidak menyesali apa yang terjadi kepada hubungan kami dan aku juga, tidak pernah berharap semuanya bisa berulang,” Maya menoleh kepada Masumi. “Atau, berharap semuanya akan bisa dilanjutkan. Aku sama sekali tidak memikirkannya sejauh itu. Yang kutahu, aku sudah jatuh cinta sangat dalam kepadamu sekarang dan apapun yang harus kuhadapi, aku tidak ingin mengakhirinya. Aku ingin selamanya seperti ini, berada bersama Anda. Di samping Pak Masumi,” gadis itu menunduk, merona malu,

Masumi tersenyum lega. Dia melirik kekasihnya yang juga tengah meliriknya. Keduanya saling tersenyum malu-malu. Maya lantas membuang pandangannya ke jendela mobil dan Masumi menambah lagi kecepatan mobilnya.

Sepanjang jalan Masumi menceritakan beberapa hal yang terjadi di Tokyo selama Maya pergi. Sakurakoji sudah berpacaran dengan Mai, Rei sudah mulai syuting dorama barunya. Selain itu, dia juga bercerita mengenai kecurigaannya bahwa Hijiri dan Mizuki saling tertarik satu sama lain.

“Pak Hijiri dan Nona Mizuki?!” Mata gadis itu membulat.

“Hahaha... iya... entah kenapa mereka terlihat begitu jelas saling tertarik di mataku,” Masumi berkata seraya mengintip spion saat dia hendak membelokkan mobilnya.

“Wah!! Semoga saja mereka benar-benar berkencan! Aku ingin melihat mereka bahagia,” Maya berbicara dengan antusias kepada Masumi.

Sejenak Masumi tertegun.

“Hmm...” dia bergumam. “Sepertinya, dengan posisi mereka sekarang, sedikit mustahil,” terang Masumi.

“Eh? Kenapa?!”

“Yah... kau tahu kan, aku sudah pernah bilang, Hijiri itu karyawan tersembunyi Daito. Pekerjaannya berisiko tinggi, dan dia tidak boleh punya hubungan apapun dengan Daito ataupun karyawan Daito. Jadi...”

“Jadi... Pak Hijiri, tidak bisa bersama Nona Mizuki?” Maya terdengar pilu saat mempertanyakannya.

Masumi hanya terdiam.

“Kalau mereka saling mencintai, bagaimana?” tanya Maya lagi, gadis itu memutar badannya sekarang menghadap Masumi.

“Pak Masumi~ kalau mereka saling mencintai bagaimana..?!” paksa Maya saat melihat atasan Hijiri dan Mizuki itu hanya diam saja.

“Mmhh.. kurasa tidak sampai sejauh itu,” ujar Direktur tersebut.

“Darimana Anda tahu?” rajuk Maya. “Kalau ternyata mereka benar-benar saling mencintai bagaimana? Seperti aku dan Pak Masumi... Apa tidak boleh juga?” bujuknya.

Masumi kembali terdiam, berpikir. Terus terang saja, kisah cintanya sendiri sudah sangat memusingkan. Dia sama sekali tidak tertarik dengan kisah cinta orang lain andai saja kedua orang lain itu bukan informan dan sekretaris terbaiknya.

“Yah... hanya mereka berdua yang tahu pastinya. Tapi kurasa, tidak sampai seperti itu,” ucap Masumi ragu-ragu. “Sudah, Maya, kau jangan mengkhawatirkannya. Belum tentu hal tersebut memang sesuatu yang harus kau resahkan,” kata Masumi.

Sekarang mereka sudah memasuki wilayah kota Nara.

“Ahh... tapi aku jadi sedih kalau memikirkan seandainya mereka berdua saling mencintai tetapi tidak bisa bersama,” ucap gadis itu sendu.

Masumi melirik kekasihnya. Dia tahu Maya memang sangat perhatian kepada orang lain.

“Memangnya, sama sekali tidak boleh ya?” tanya Maya lagi, masih memaksa.

Masumi tersenyum tidak percaya.

“Ya... mungkin salah satu dari mereka harus berhenti dari pekerjaannya. Baru hubungan mereka bisa berhasil,” terang Masumi dengan enggan.

“Ahh...” keluh Maya, menundukkan kepalanya.

Masumi kembali menoleh sebentar kepada Maya. Dia mengulurkan tangannya mengusap kepala gadis itu.

“Jangan khawatir. Kalau mereka memang saling mencintai, seperti kau dan aku, mereka pasti menemukan jalan keluarnya sendiri,” ujar pria tampan tersebut.

Maya mengangkat kepalanya, menoleh kepada Masumi.

“Kalau, kalau kita yang menghadapi masalah seperti itu, bagaimana, Pak Masumi?” gadis itu menatap gundah.

“Kita?” Masumi tertegun.

“Iya, kalau, agar hubungan kita berhasil, ternyata salah satu dari kita harus berhenti dari pekerjaannya, apakah—“

“Aku akan berhenti dari pekerjaanku,” potong Masumi tegas.

Eh?

Mata Maya melebar.

“Pak Masumi...?”

“Iya. Kalau satu-satunya cara agar hubungan kita berhasil adalah dengan mengorbankan pekerjaan kita, maka aku yang akan berhenti bekerja,” tutur pria itu dengan tenang.

“Bagaimana mungkin?!” Seru Maya. “Anda kan Direktur—“

“Apa kau ingin berhenti berakting, Maya?” tanya Masumi.

Maya terdiam, lalu tertunduk dan menggeleng.

“Tidak...” gumamnya perlahan. Maya lalu mengangkat kepalanya dengan cepat, memandang Masumi. “Aku egois ya Pak Masumi...?” tanyanya khawatir.

Masumi tersenyum lebar.

“Bagus kalau kau tidak mau,” Masumi meraih dagu Maya. “Karena aku juga tidak mau kalau kau sampai berhenti berakting,” terangnya.

Pria itu lalu menarik kembali tangannya dan meletakkannya di atas setir.

“Kau harus tahu Maya, aku sama sekali tidak mencintai pekerjaanku. Bagiku pekerjaan ini hanyalah kewajiban saja. Aku tidak merasakan hasrat yang mendalam saat menjalani pekerjaanku. Aku bekerja seperti robot. Melakukan apa yang harus kulakukan dan sama sekali tidak mencintai apa yang kulakukan,” tuturnya. “Sampai aku bertemu kau. Kau yang bergitu mencintai akting dan hidup di dalamnya, membuat hatiku begitu tersentuh. Aku mulai mempertanyakan arti hidupku dan apa yang sudah kulakukan selama ini,” Masumi tersenyum sinis.

“Tapi, saat aku tahu, aku bisa melakukan sesuatu untukmu, dengan pekerjaanku saat ini, aku benar-benar bersemangat. Aku melakukan pekerjaan ini untukmu. Karena dengan begini aku bisa mendukungmu sepenuhnya. Jadi, kalau kau berhenti berakting,” Masumi menghempaskan nafasnya. “Aku tidak melihat lagi apa tujuanku mempertahankan pekerjaan ini.”

“Pak Masumi...” Mata gadis itu berkaca-kaca.

Dia sangat tersentuh bisa mendapatkan orang yang begitu mendukung dan melindunginya seperti Masumi.

“Aku ingin sekali menciummu,” gumam Maya tanpa sadar. “Tapi aku takut mengganggu konsentrasi Pak Masumi...”

Ckiit!!

Masumi kembali meminggirkan mobilnya dengan cepat dan membuat gadis itu terkejut.

“Tadi kau bilang kau ingin apa?” tanya pria itu setelah memutar tubuhnya.

Maya terkekeh sebelum melingkarkan tangannya kepada Masumi. Keduanya tidak begitu mempedulikan kendaraan lain yang lalu lalang dan mungkin saja melihat perbuatan mereka dan mulai berciuman.

Maya membuka kembali matanya dan tersenyum malu saat kekasihnya itu memandanginya begitu lembut. Maya menundukkan pandangannya.

“Maya...” bisik Masumi.

“Hmm?” Maya mengangkat kembali wajahnya yang masih bersemu.

“Bukankah kau bilang, kau ingin aku berbagi denganmu? Mengajakmu berdiskusi jika ada yang aku pikirkan?” tanya Masumi.

Maya tertegun, lalu mengangguk.

“Baiklah,” Masumi tersenyum lebar dan kembali ke posisinya, menyalakan mobil.

Maya masih memandanginya terheran.

“Apakah ada sesuatu?” tanya Maya.

“Ya, ada yang ingin kutunjukkan dan aku ingin mengetahui pendapatmu,” kata Masumi, mulai menjalankan kendaraannya lagi.

“Aku?” Maya menunjuk hidungnya.

“Iya,”

“Apa?” tanya Maya, bingung.

“Sebelum ke lembah plum, aku ingin mengajakmu ke sebuah teater. Aku ingin memperlihatkan sebuah film terbaru yang kubuat, dan aku ingin tahu pendapatmu. Apakah menurutmu filmnya bagus atau tidak, dan kira-kira bisa sukses atau tidak,” terang Masumi,.

“Hah?!” Maya terhenyak. “Aku?” Mata gadis itu melebar. “Pak Masumi ingin menanyakan pendapatmu mengenai film baru Daito?” tanya gadis itu tidak percaya.

“Kenapa? Kau bilang ingin bisa membicarakan banyak hal denganku,” kata Masumi. “Dan film ini harus sudah mendapatkan persetujuan hari ini juga, jadi besok sudah bisa mulai diadakan konferensi pers untuk mempromosikan penayangannya,” Masumi tersenyum.

“Eh?! Ha? Ta, tapi... a, aku tidak tahu apa-apa, Pak Masumi...” kata Maya gugup. “Aku tidak begitu mengerti mana film yang berseni tinggi atau semacamnya. Aku kan bukan kritikus,” tolak Maya. “Aku hanya suka nonton film...” gumamnya.

“Itu saja cukup,” Masumi menoleh sekilas. “Asal kau suka filmnya, aku yakin filmnya akan sukses...” Pria itu tersenyum lebar.

“Jadi?” Masumi memastikan.

Maya mengamati Masumi. Benarkah tunangannya itu hendak mengkonsultasikan pekerjaannya? Maya merasa tersentuh sekaligus ragu-ragu.

“Mmh... Baiklah. Tapi, kalau pendapatku, tidak sesuai yang Anda harapkan...”

“Hahahaha...” Masumi terbahak. ”Kau saat ini bukan pegawaiku, Sayang. Kau ungkapkan saja yang kau pikirkan. Aku tidak akan memecatmu hanya karena kau tidak suka hasil pekerjaanku.”

“Baiklah, Pak Masumi...”

=//=

Masumi memarkirkan mobilnya di sebuah gedung kesenian milik Daito. Ada bioskop. Di sana terlihat ada beberapa iklan film yang sedang diputar. Ada juga teater pementasan drama dan resital seni lainnya di lantai yang berbeda.

Masumi menuju wilayah private cinema, tempat dimana seseorang bisa menonton film dengan suasana lebih pribadi. Di sana juga disediakan penyewaan film.

“Selamat siang Pak Masumi,” sapa seorang pegawainya saat melihat Masumi masuk.

“Tempat yang kuinginkan sudah siap?” tanya Masumi.

“Sudah Pak, silahkan ke sini...” pegawai tersebut mengantarkan.

“Dan filmnya?” tanya Masumi.

“Sudah kami terima Pak,” pegawai itu membuka sebuah ruangan.

Teater pribadi itu terlihat seperti ruang makan, dihias rapi dan cantik dengan beberapa bunga-bunga. Sebuah layar film terlihat menempel di salah satu dinding.

“Silahkan Nona,” pegawai itu menarik kursinya.

“Ada yang ingin dipesan?” tanya Masumi.

“Mmh...” Maya terlihat bingung.

Dia mengangkat kembali wajahnya, menatap Masumi. Bingung.

“Kau mau es krim? Wafel? Panekuk.”  tawar Masumi.

“Es krim,” Maya tersenyum senang.

Masumi memesankan es krim untuk Maya.

Pelayan itu keluar dari ruangan tersebut dan meredupkan lampunya.

“Sudah mau mulai?” tanya Maya.

“Hmm,” gumam Masumi, tersenyum. Gugup.

Akhirnya ruangan mulai gelap dan sebuah lagu yang lembut mengalun. Sebuah tulisan muncul di layar.

[Ini adalah sebuah kisah mengenai Bidadariku...]

Tulisan itu perlahan menghilang dan kemudian muncul sebuah gambar yang perlahan semakin besar. Gambar Maya yang sedang tersenyum lebar, dengan pasir menempel di pipinya dan dilatari matahari yang bersinar terang saat dia di Izu.

“Eh?” Maya tertegun.

Dadanya berdebar sangat keras.

Pak Masumi...?

[Dia hanyalah seorang gadis mungil... Yang sangat kuat...

Dia pergi meninggalkan rumah demi kecintaannya kepada akting.]

Kemudian muncul klip saat Maya memerankan Beth dan sakit 40 derajat.

[Dia sangat pemalu...

Tapi di lain waktu dia begitu pemberani.]

Lalu muncul potongan saat Maya memerankan Gina sendirian.

Kemudian sebuah tulisan melayang dari kiri dan kanan layar menuju ke tengah.

[Dia punya semangat yang membara...

...dan bakat akting yang luar biasa]

Cuplikan sandiwara Helen Keller muncul di layar, juga saat Maya mendapatkan penghargaan sebagai aktris terbaik. Masumi menggunakan dokumentasinya.

[Banyak yang mengatakan dia membosankan dan tidak bisa apa-apa.

Tapi itu karena mereka belum pernah melihatnya saat tersenyum kemalu-maluan dengan mata berbinarnya yang memikat.]

Maya kemudian muncul sebagai Pack yang ceria lalu sebagai Aldis yang sangat cantik.

[Atau wajah polosnya saat tertidur yang sangat mendamaikan

Dia akan menggumam dengan menggemaskan saat tertidur dan membuatku 
ingin selalu mengamatinya.

Membuatku tidak ingin memejamkan mataku karena gerak geriknya terlalu menarik untuk kuabaikan.]

Setelah itu muncul foto-foto saat keduanya di Izu. Juga hasil rekaman Masumi yang memperlihatkan Maya sedang terpesona mengamati makhluk laut di karang-karang.

[Maya Kitajima.

Seorang gadis luar biasa yang mengenalkanku kepada cinta.]

Foto-foto saat Maya dan Masumi di Hakkeijima muncul bergiliran di dalam layar. Kelopak bunga mawar ungu sekali-kali terlihat melayang menghiasi layar.

[Kekasihku...

Bersamamu...

Aku ingin menghabiskan sisa hidupku...]

Lantas muncul adegan saat Maya memerankan sandiwara percobaan Bidadari Merah hampir tiga tahun yang lalu.

[Kau adalah Aku...

Dan Aku adalah Kau

Bersama Kita adalah Satu

Hidupku bermula saat aku mengenalmu dan akan berakhir bersamamu.]

Kemudian foto-foto saat keduanya di Izu kembali bermunculan. Saat mereka bermain di pantai membangun rumah, saat keduanya memasak spaghetti, juga saat bermain kembang api.

[Dia, melengkapiku. Dia membuat hidupku menjadi utuh.]

Perlahan-lahan gambar-gambar itu menghilang. Lalu muncul potongan gambar Maya dari bawah dan gambar Masumi dari atas layar. Keduanya bertemu di tengah dan membentuk sebuah foto saat Maya dan Masumi berdiri di depan akuarium raksasa di Aqua Museum Hakkeijima.

Sebuah tulisan muncul di atas layar.

[Lebih baik aku hidup selama satu hari dan menemukannya]

Kemudian di bawah layar:

[Ketimbang aku hidup ratusan tahun dan tidak pernah berjumpa dengannya.]

Gambar dan tulisan itu menghilang dan ditutup dengan sebuah kalimat-kalimat yang muncul bergiliran.

[Maya Kitajima, My Soulmate

I don’t  know when it started but i know when it end.

It will NEVER end.

I Love You. Always.]

Kemudian film yang berupa tayangan tidak lebih dari 5 menit itu berakhir. 

Lampu kembali menyala.

“Maya...” Panggil Masumi lembut kepada kekasihnya yang masih terpana itu.

“Pak Masumi...” Maya menoleh, kedua tangannya menutupi setengah wajahnya. Sangat tersentuh.

“Bagaimana? Kau suka filmnya?” Masumi tersenyum.

 “A, aku...” Maya tidak bisa menjawab dan hanya isakan yang terdengar.

Dia pun baru menyadari, sekeliling mereka sekarang dipenuhi mawar ungu entah sejak kapan mawar-mawar itu diletakkan. Dia memandangi Masumi takjub. Pria ini, tidak pernah berhenti mengesankannya.

“Ada yang ingin kukatakan,” Masumi berusaha terlihat tenang padahal dia sangat gugup.

Jantungnya berdebar kuat dan tubuhnya terasa panas dingin.

Masumi merogoh saku jasnya. Mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah kotak mungil berwarna merah.

Eh?

Maya tertegun, mengamati kotak itu dibuka oleh Masumi. Sebuah cincin yang sangat cantik terungkap di sana.

Mata gadis itu beralih menatap kekasihnya.

“Maya,” Masumi memulai. “Kau mungkin akan mengira atau berpikir apa yang kulakukan ini terlalu cepat. Tapi aku, sudah menunggu sangat lama sampai datangnya hari ini.” Masumi mengulurkan tangannya.

Maya memberikan tangannya dan pria itu menggenggamnya.

“Aku, tidak tahu cara yang lebih baik dan lebih romatis dari ini. Jadi aku minta maaf jika hari ini tidak sesuai keinginanmu,” ujarnya. “Aku selalu memikirkan, kapan dan bagaimana saat yang tepat untukku mengungkapkan keinginanku ini. Tapi aku akhirnya menyadari, setelah semua yang terjadi. Tidak pernah ada saat yang sempurna sampai aku memutuskan sendiri kapan saatnya. Maka semalam, saat aku hampir kehilanganmu, jiwaku terasa sangat kosong dan hampa. Membayangkan aku akan hidup walaupun hanya sehari tanpamu, rasanya aku sudah mau gila. Aku memikirkan, betapa aku sudah menyia-nyiakan semua kesempatanku agar bisa bersamamu dan aku tidak mau melakukannya lagi,” Masumi menelan ludahnya.

Maya hanya mematung, memperhatikan dengan perasaan berdebar.

“Maya, Kekasihku. Aku tidak bisa menjanjikan semuanya akan sempurna bagimu. Aku juga tidak bisa menjanjikan aku akan selalu bisa membuatmu bahagia. Ada saatnya kau akan merasa sedih, mungkin marah atau kecewa. Tapi, saat kau menangis, saat kau tersenyum dan tertawa, saat kau marah dan sedih, aku ingin saat itu aku melihat semuanya. Aku ingin kau membagi kehidupanmu denganku. Mulai sekarang dan selamanya. Mungkin, aku tidak akan dapat memberikan hari yang sempurna untukmu, karena aku menyadari, aku bukanlah pria yang sempurna...”

“Pak Masumi...”

“Namun, setiap harinya, setiap jamnya, setiap menit dan detiknya serta dalam setiap helaan nafasku, aku akan senantiasa mencoba mencintaimu dengan sempurna...” Masumi mengeratkan genggaman tangannya di tangan Maya.

Pria itu menghela nafasnya perlahan dan dalam. Tidak sedetik pun melepaskan pandangannya dari Maya.

“Maya Kitajima,” Masumi menyodorkan cincinnya kepada Maya. “Menikahlah denganku, dan jadilah kau milikku selamanya,” lamar Masumi.

Maya tidak tahu lagi apa yang dirasakannya. Hatinya begitu berbunga-bunga dan melayang karena perasaan bahagia yang tidak terkira. Jantungnya berdebar-debar kuat dan setiap debarannya menambah perasaan bahagia di hatinya.

“Maya...” panggil Masumi, lembut dan gugup. “Jadi apa jawabanmu?”

Gadis itu masih saja menangis. Air matanya tidak kunjung berhenti.

“A, apakah, aku harus, menjawabnya, dengan film lagi?” canda Maya di tengah buliran air matanya.

Masumi tersenyum lebar dan menggeleng.

“Pak Masumi, filmnya bagus sekali,” ucap Maya. “Dan aku sangaaaaaaaaaaaattt mencintaimu. Jadi jawabannya Iya,” gadis itu tersenyum lebar. “Aku mau menikah denganmu, Pak Masumi,” jawab Maya dengan wajah berbinar-binar bahagia.


Mata pria itu melebar.

“Benarkah...?” desis Masumi, tidak percaya. “Kau...” tenggorokan pria itu sedikit tercekat. “Bisa kau ulangi ucapanmu Sayang?” pinta Masumi tanpa melepaskan genggaman tangannya.

“Jawabannya Iya,” ulang gadis itu dengan senyuman tidak berkurang lebarnya. “Aku mau menikah denganmu, Pak Masumi Hayami dari Daito!!!”

“Maya!!!” Seru Masumi, sangat bahagia.

Dia tiba-tiba berdiri dan mendekati Maya. Mengangkat gadis itu dari tempat duduknya dan memangkunya.

“Terima kasih! Terima kasih Sayang!” Serunya.

Wajah pria itu tampak berbinar. Maya tidak pernah melihatnya sebahagia ini sebelumnya. Begitu juga dirinya. Dia tidak pernah merasa begitu bahagia seperti sekarang.

Masumi menengadahkan kepalanya, menatap wajah Maya yang saat ini posisinya lebih tinggi dari dirinya sendiri.

“A, aku... tidak mengira akhirnya kau mau menerima lamaranku,” ujar Masumi dengan antusias.”Aku sudah lama menantikan hari ini dan...” pria itu tercekat, tidak sanggup berkata apa-apa lagi, hanya senyuman bahagia yang terkembang di bibirnya dengan mata sedikit berkaca-kaca.

“Pak Masumi~” gumam Maya, menangkup wajah kekasihnya. “Aku yang berterima kasih, aku sangat bahagia...” gadis itu terisak.

“Maya...” bisik Masumi.

“Ah, aku lupa!!” Seru Masumi. “Aku sangat bahagia sampai lupa bagian pentingnya...” Dia kembali mendudukkan Maya di kursinya.

Masumi lalu berlutut di hadapan Maya. Gadis itu tertawa kecil. Pria itu meraih cincin di atas meja.

“Maya Kitajima, terima kasih sudah mau menerima lamaranku,” pria itu memasangkan cincinnya yang terlihat cantik di jari manis kekasihnya. “Kau tahu,” dia menatap mata gadis itu. “Dengan aku sebagai produsernya, dan kau sebagai aktrisnya, aku yakin bersama kita bisa menghasilkan karya-karya yang hebat,” pria itu tersenyum.

Maya mengangguk.

“Mohon bimbingannya,” bisik gadis itu lirih.

“Dan dengan kau sebagai ibunya, dan aku sebagai ayahnya, aku juga yakin, kita akan memiliki anak-anak yang hebat,” imbuh Masumi.

Maya tertegun dan wajahnya semakin merah.

“Pak Masumi...~” ujarnya dengan manja.

Maya menunduk, mendekatkan hidungnya kepada hidung Masumi. “Tadi, adalah film favoritku sepanjang masa,” ucap gadis itu, melingkarkan tangannya pada leher Masumi. “Dan aku yakin Pak Masumi akan menjadi seorang suami dan ayah yang sangat baik, walaupun mungkin aku tidak akan bisa menjadi.. hmmmph!”

Masumi mulai menciumi gadis itu dan Maya membalasnya. Dia melingkarkan tangannya lebih kuat pada Masumi. Air mata di wajahnya juga membasahi pipi pria itu. Ciumannya terasa panjang dan lama. Cukup lama sampai air mata gadis itu akhirnya berhenti.

Keduanya memisahkan diri dan tersenyum pada satu sama lain.

“O, ya Pak Masumi... kenapa tiba-tiba jadi banyak bunga mawar ungu?” tanya Maya sambil mengamati sekelilingnya. “Dan kapan Anda mempersiapkan semua ini?”

“Es krim!!” Sebuah suara terdengar dari pintu.

Maya dan Masumi menoleh ke arah suara.

“Ya, masuklah,” perintah Masumi seraya berdiri.

Maya sangat terkejut saat melihat siapa yang membawakan es krim yang sangat besar untuknya.

“Pak Hijiri!!!” Serunya, bangkit dari tempat duduknya.

Hijiri menghampiri sambil tersenyum. Melihat raut keduanya, dia tahu mereka mempunya kabar gembira.

“Silahkan Nona, es krimnya,” dia meletakkan es krimnya di atas meja.

“Pak Hijiri...” gadis itu berucap penuh haru. “Terima kasih.”

“Dan selamat untuk pertunangannya, Nona Maya, Pak Masumi, semoga kalian selalu bahagia,” ucapnya.

Pasangan itu sekali lagi berterima kasih.

“Pak Hijiri juga,” Maya menghampiri. “Semoga selalu berbahagia,” harap Maya.
Hijiri terdiam lalu tersenyum tipis.

“Terima kasih. Sudah lama saya pun menunggu saat ini,” pria itu tersenyum tulus.

“Terima kasih kau sudah menyiapkan semuanya, walaupun aku memintanya dengan mendadak,” terang Masumi.

“Saya senantiasa melakukan yang terbaik yang dapat saya lakukan untuk Anda, Tuan,” kata pria itu dengan tenang.

“Maya, kau makan dulu es krim-mu. Aku dan Hijiri mau bicara sebentar ya,” kata Masumi.

Maya tertegun.

“Aaahh.. aku tahuu.. aku tahu... pasti mau main rahasia-rahasiaan lagi...” keluh Maya.

Masumi tergelak dan Hijiri juga tersenyum lebar.

“Pak Hijiri, kalau Pak Masumi mengirimi bunga dan jadi penggemar rahasia aktris lain, kau pokoknya harus bilang sama aku,” rajuk Maya.

Hijiri hanya tertawa mendengarnya.

“Itu tidak mungkin, Sayang,” Masumi meraih kepala Maya dan mengacak-acak rambutnya sedikit. “Sekarang,” Masumi mengeluarkan sapu tangannya. “Hapus air matamu dan nikmati es krimmu ya. Aku segera kembali,” Masumi tersenyum hangat.

“Ung!” Maya mengangguk. “Mmhh.. Pak Masumi, selagi aku menunggu, bisakah minta mereka memutar lagi videonya?” pinta Maya.

“Tentu,” pria itu tersenyum dan keluar dari ruangan bersama Hijiri.

Maya mengamati pintu yang tertutup masih sambil tersenyum. Gadis itu lantas melangkah mendekati sebuah vas berisi mawar ungu.

Dia ingat kembali perasaannya saat dulu menerima buket mawar ungu pertama kali setelah pentas Young Girls-nya. Rasa hangat menyelimuti hati gadis mungil itu. Mawar ungu, lambang hati Masumi untuknya. Dia sangat bersyukur setelah semua yang terjadi, setelah sekaian lama waktu yang mereka lalui, mawar ungu di hati mereka tidak pernah layu.

Aku sangat mencintaimu Pak Masumi...

Ruangan lantas kembali gelap dan layar menyala. Maya cepat-cepat kembali ke tempat duduknya dan kembali menonton video yang Masumi buatkan untuknya.

=//=

Masumi masuk kembali setelah film selesai.

“Hijiri sudah kembali. Dia titip salam untukmu,” kata Masumi saat masuk kembali ke dalam teater.

Maya masih duduk membelakanginya, menatap layar kosong.

“Maya...” panggil Masumi.

Gadis itu masih tidak menyahut.

“Maya...” Masumi semakin dekat, meraih bahu gadis itu. “Sayang...”

Maya berbalik, sedang menggigiti sapu tangan Masumi, terisak.

“Maya...?” mata pria itu melebar, terkejut melihat perilaku kekasihnya. “Kau kenapa, Sayang?”

Semoga dia tidak menyesal sudah menerima lamaranku...

Masumi berdoa sungguh-sungguh dalam hatinya.

“Pak Masumi...~” gadis itu menangis lagi. “Filmnya bagus sekaliii~ aku benar-benar tersentuuh...” isaknya.

Masumi tertegun, lalu tersenyum lebar.

“Syukurlah. Kupikir ada apa. Aku senang kalau kau suka filmnya,” kata Masumi, masih berdiri lantas menarik kepala gadis itu dan membiarkannya bersandar di pinggang Masumi.

Maya mengangguk-angguk.

“Sekarang berhentilah menangis, dan jangan membuatku iri pada sapu tangan itu,” canda Masumi, menurunkan tangan Maya yang menggenggam sapu tangan dari bibirnya.

“Pak Masumi,” Maya melingkarkan tangannya di pinggang pria itu. “Jangan menggodaku terus...” rajuknya.

“Nanti kalau bukan aku yang menggodamu, aku takut ada laki-laki lain yang akan menggodamu,” Masumi tertawa kecil.

Maya juga terdengar tertawa di tengah isakannya.

Masumi tidak mengira gadis itu akan menangis sampai seperti ini.

“Pak Masumi...” Maya mengangkat wajahnya, menengadah dan menyandarkan dagunya di tubuh Masumi.

“Hmm?”

“Anda melamarku, artinya kita sekarang, bertunangan?”

“Hahaha... iya.”

“Artinya, kita nanti menikah?” Tanya Maya sekali lagi, tidak yakin.

“Iya, Sayang...” Masumi meyakinkan.

Maya kembali hanya memandangi kekasihnya. Sedangkan Masumi tidak tahu apa yang ada di pikiran gadis itu.

“Apa aku sekarang, sedang bermimpi?”

Masumi tersenyum lebar, lantas melepaskan tangan Maya dari pinggangnya, membungkuk dan mencium kekasihnya yang mulai kebingungan antara mimpi dan kenyataan.

“Apa itu seperti mimpi?” tanya Masumi setelah bibir keduanya terpisah.

“Aku masih merasa seperti bermimpi,” gumam Maya dengan merona.

“Kalau ini..?!” Masumi melingkarkan tangannya di punggung Maya lantas mengangkat gadis itu. Memutarnya.

“Kyaaaa~~!! Pak Masumiiii~!!!” Maya berteriak sambil memejamkan matanya erat-erat, lantas tertawa. Maya mengeratkan tangannya di leher Masumi selama Masumi memutar-mutar tubuh mereka dan kaki Maya berputar sambil melayang.

“Pak Masumi!! Pak Masumi!! Sepertinya sepatuku akan lepas!!” seru Maya panik. “Pak Masumi!! Kyaaaaa~!!! Hahahahaha...”

Masumi juga tertawa, lantas menghentikan putarannya setelah beberapa lama. Membiarkan kedua kaki gadis itu kembali menapak di lantai.

Maya masih tertawa-tawa dengan senang dan memeluk Masumi.

“Apa itu masih terasa seperti mimpi?” tanya Masumi, terengah.

Dengan senyuman yang lebar, Maya mengangkat wajahnya.

“Sepertinya bukan mimpi, karena aku merasa pusing,” kata gadis itu lantas kembali tertawa.

“Baguslah kalau kau sudah yakin bahwa ini nyata,” Masumi mendekatkan Maya dan memeluknya erat.

Maya mengangguk-angguk bersyukur.

“Ayo, kita pergi,” ajak Masumi. “Eh?” Masumi menoleh ke atas meja. “Masih ada es krimnya?” Masumi menarik tangan Maya ke arah meja. “Mau dihabiskan atau ditinggal saja?” tanya Masumi.

“Aku menyisakannya untuk Pak Masumi!” Maya teringat, kembali duduk dan mulai menyendok. “Rasanya enaaaaak sekali. Enak! Enak! Enak!!” kata Maya antusias, mengarahkan sendorknya kepada Masumi.

Masumi melahapnya.

“Hmm... aku tidak begitu suka es krim,” kata Masumi, “tapi yang ini enak,” imbuhnya.

“Kenapa tidak suka?” tanya Maya heran. “Tapi baguslah, karena aku kan tidak bisa membuat es krim,” ujarnya.

Masumi tertegun lalu tertawa.

“Memang siapa yang mau memintamu membuat es krim?” ujar Masumi.

“Ya... kan nanti aku harus bisa membuatkan makanan kesukaan Pak Masumi,” kata Maya polos, menggigit sebuah wafer.

Masumi tersenyum hangat.

“Kau bisa belajar nanti,” gumam Masumi. Merasa senang mendengarnya.

“Pak Masumi, tahu permainan pocky tidak?” tanya Maya spontan, seraya meraih sebuah kue egg roll.

“Tidak,” jawab Masumi.

“Sini kuajarkan,” Maya turun dari kursi dan menghampiri Masumi, berdiri di hadapannya.

“Pak Masumi, gigit ujung sebelah sana, aku sebelah sini,” Maya meminta Masumi menggigit salah satu ujungnya.

“Seharusnya ini pakai pocky, tapi pakai egg roll juga tidak apa-apa,” Maya menjelaskan dengan serius. “Nanti kita gigit ujung masing-masing. Yang kalah yang memutuskan kuenya terlebih dahulu,” jelas Maya.

“Mengerti, Pak Masumi?” Maya meyakinkan kekasihnya yang Direktur Daito itu mengerti permainannya.

“Sangat mengerti,” kata Masumi, kurang jelas karena dia sudah menggigit egg roll-nya. Diamatinya Maya yang kelakuannya kembali seperti anak kecil, dia menahan tawanya.

Maya lantas menggigit ujung lainnya dan memberi aba-aba untuk mulai menggigit.

Maya kemudian dengan semangat menggigiti ujung ego roll. Saking konsentrasinya, dia tidak menyadari bahwa Masumi hanya diam saja. Baru saat bibirnya dekat, Maya menyadarinya.

Eh?

Maya tertegun.

“Pak Masumi curang! Kenapa diam saja?!!” Seru Maya, memotong kuenya.

Nyam!

Masumi melahap sis kuenya.

Cup!

Pria itu mengecup bibir tunangannya.

“Aku menang,” dia menyeringai.

“Curang!! Itu namanya curang!” Maya mengerucutkan bibirnya ngambek.

Masumi tertawa.

“Hahaha... maaf Sayang. Habis kau lucu sekali, aku jadi lebih tertarik mengamatimu, hmmph...” Masumi menahan tawanya.

Maya masih saja mengerucutkan bibirnya.

“Lagi pula kau,” Masumi menarik pinggang gadis itu, mendekat. “Dari mana belajar permainan itu?”

Maya melirik enggan pada Masumi.

“Dari majalah komik yang pernah kubaca punya temanku,” terang Maya, masih enggan menatap Masumi yang tidak bisa diajak bermain.

“Jangan-jangan kau pernah mencobanya dengan orang lain?” tanya Masumi, curiga.

“Tidak pernah!” Maya menoleh cepat pada Masumi. “Makanya kupikir akan menyenangkan,” gadis itu melingkarkan tangannya di bahu Masumi.

Masumi kembali tertawa.

“Kau tahu permainan ceri?” tanya Masumi.

Maya tertegun.

“Tidak tahu, tidak pernah dengar,” gadis mungil itu menggeleng.

“Sini kuajarkan,” kata Masumi, meraih sebuah ceri dari mangkuk es krim.

“Caranya mudah saja, aku meletakkan ceri di bibirku,” Masumi mulai meletakkan ceri di bibirnya, “dan kau, mengambilnya dengan bibirmu,” Masumi tersenyum dengan bibir mengerucut menjepit ceri.

Maya tertegun sebentar, mengamati Masumi.

“Hm!” Masumi mendekatkan bibirnya pada Maya.

“Pak Masumi~!!!” protes Maya dengan wajahnya yang memerah, mendorong pipi Masumi, lantas tergelak.

=//=
“Bisakah kau berhenti memandangi cincin itu sebentar?” ujar Masumi saat keduanya sudah mulai berkendara lagi. “Aku sepertinya mulai cemburu pada cincin itu,” rajuknya, seraya sesekali menoleh kepada Maya.
Maya terkikik senang.
“Cincinnya baguuss sekali, tidak bosan-bosan aku memandangnya,” kata gadis itu sambil terus menatap cincinnya.
“Aku senang kalau kau suka,” kata Masumi.
“Suka sekali! Aku tidak pernah melihat cincin seperti ini, cincin apa ini namanya?” tanya Maya, menoleh kepada Masumi.
“Cincin orbit,” terang Masumi. “Aku pesan khusus untukmu. Kau lihat batu berbentuk hati berwarna ungu itu?”
“Hm! Iya...” Maya mengangguk, mengamati batu tersebut.
“Itu adalah batu ametis, batu kelahiran bagi mereka yang lahir di bulan februari,” Masumi memaparkan. “Karena itu aku memilihnya. Karena kau lahir di bulan februari bukan?”
Wajah gadis itu berbinar.
“Iya~” serunya, tersenyum riang, kembali menoleh kepada Masumi. “Terima kasih, Pak Masumi,” ucap gadis itu lembut.
“Oya, Anda sudah lama menyimpan cincin ini?” tanya Maya. “Lalu filmnya, kapan Anda membuatnya?”
“Sudah cukup lama, sejak kita pulang dari Izu. Selama itu juga aku mencoba membuat videonya. Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, hari itu pasti tiba. Hari dimana aku akan melamarmu,” ucap pria itu, suaranya sedikit bergetar terbawa perasaannya.
“Pak Masumi...” gumam Maya, berterima kasih.
“Maya, maaf jika caraku melamar tidak sesuai keinginanmu,” Masumi tertawa kecil. “Aku memikirkannya semalam saat kau masih tidur. Akhirnya aku meminta Hijiri menyiapkan tempatnya dan mengambil filmnya di Izu. Aku ingin sekali membuat semuanya lebih sempurna, mungkin lebih romantis, tapi aku tidak mau menunggu lagi. Kau sendiri yang bilang aku harus melakukan apa pun yang ingin kulakukan.”
Maya tertawa kecil.
“Bagiku semuanya sudah sempurna, Pak Masumi. Sangat sempurna,” katanya lembut. “Karena laki-laki yang melakukan semua ini untukku adalah kau, Pak Masumi. Aku tidak bisa lagi memikirkan yang lebih sempurna dari ini.” Wajah gadis itu merona.
Masumi tersenyum. Tersanjung.
“Maya, bukankah menurutmu, kita sekarang harus mulai membicarakan pernikahan kita?” tanya Masumi.
“Pe, pernikahan?” Maya seakan-akan baru tersadar.
“Iya... Pernikahan. Apa kau mau bertunangan seumur hidup?” canda Masumi.
Maya terkekeh.
“Mhh... Terserah Pak Masumi saja,” ujar Maya perlahan.
“Masa terserah aku terus? Yang mau menikah kan aku dan kau Maya.”
“Ya... maksudku, bagaimana Pak Masumi saja, kapan kira-kira waktu yang tepat. Aku tidak keberatan kapan pun Anda mau. Tidak dirayakan juga tidak apa-apa,” tutur gadis itu.
Masumi tersenyum lebar.
“Kalau sekarang aku tiba-tiba membawamu ke catatan sipil bagaimana?”
“Eh?” Sebentar gadis itu tertegun. “Siapa takut?” jawabnya dengan berani.
Masumi tertawa.
“Tidak, Sayang. Setidaknya, untuk pernikahanmu, aku ingin orang-orang yang dekat denganmu hadir untuk menyaksikannya. Aku tidak boleh terlalu egois kan?” kata Masumi.
Maya tertawa kecil dan mengangguk-angguk.
“Nanti saja setelah pementasan Bidadari Merah, bagaimana? Sekarang kau hanya harus memikirkan pementasanmu yang tinggal beberapa hari lagi saja,” tutur Masumi.
“Iya,” jawab Maya, perlahan.
Kembali dipandanginya cincin yang sekarang terpasang di jemarinya. Senyuman bahagia terlukis semakin lebar di wajahnya.
“Pak Masumi,” Maya tertegun, tiba-tiba teringat sesuatu. “Bagaimana dengan Shiori? Apa dia...” gadis itu terdengar simpati.
Masumi menelan ludahnya tidak kentara.
“Tadi Hijiri mengatakan, Shiori, sangat terpukul atas apa yang terjadi kepada dia dan bayinya, juga Hino,” Masumi memberi jeda, juga merasa prihatin. “Kesehatan jiwanya terganggu. Pihak keluarga Takamiya ingin merahasiakannya dan akan mengirim Shiori ke rumah sakit di luar negeri,” terang Masumi dengan getir.
“Sedih sekali, mendengarnya,” ucap Maya prihatin. “Aku, sungguh-sungguh berharap Shiori bisa sembuh, dan bisa merasa bahagia,” doanya.
“Iya, Maya...” gumam Masumi perlahan. “Aku juga...” ucapnya tulus.
=//=
Masumi memarkirkan mobilnya, lantas menggenggam tangan Maya.
“Cuacanya sedang bagus,” kata Masumi, mengamati langit sore itu.
“Iya, tapi sedikit dingin,” ujar Maya, merapatkan kedua tangannya di dada.
“Dingin?” tanya Masumi, melingkarkan tangannya di pundak Maya.
Maya tersenyum tipis.
“Tidak lagi,” gumamnya malu-malu.
Masumi tertawa kecil dan mengeratkan dekapannya.
Sekian lama keduanya berjalan seraya mengamati pemandangan di sekitar. Bunga-bunga plum merah yang terlihat cantik di sekeliling mereka, seakan menyambut kembali keduanya setelah sekian lama. Semakin jauh ke dalam, kabut di lembah itu terasa semakin pekat.
“Hebat,” ujar Masumi takjub. “Sepertinya tidak ada yang berubah. Waktu seakan-akan terhenti di sini,” pria itu berbicara seakan terhipnotis sekelilingnya.
“Benar,” gumam Maya, menyetujui. “Ah, di sana!” gadis itu sedikit mengangkat kepalanya yang bersandar kepada Masumi semenjak tadi.
Perlahan-lahan sebuah pohon plum terungkap dari balik kabut. Anggun dan cantik seperti yang pernah mereka lihat.
Eh?!
Masumi tertegun, saat Maya melepaskan diri darinya.
“Ma, Maya...?”
Seakan-akan sesuatu memanggilnya, gadis itu melangkah mendekati ke arah pohon itu. Mengikuti perasaannya, Maya berjalan lebih cepat, ke balik kabut.
“Ma, Maya?!” Kejar Masumi, yang sudah tidak bisa lagi melihat gadis mungilnya.
Dia kemana...?
Kabut itu terasa semakin merah dan pekat bagi Masumi, menyembunyikan Maya dari pandangannya.
“Maya...?” panggilnya sekali lagi.
Pohon plum itu kembali terlihat.
“Maya..?” Masumi tertegun, masih mencari kekasihnya.
Tiba-tiba tatapannya terpasung pada sesosok bayangan wanita yang samar-samar muncul di samping pohon saat kabut semakin tipis, membairkan mata Masumi menangkap lebih banyak.
Eh?!
Bidadari merah?!!!
Masumi terenyak, memandang sosok wanita itu tidak percaya.
Gadis itu, Maya. Dia diam saja di sana.
Masumi terpaku, kehilangan kata-kata.
Perlahan tubuh gadis itu bergerak, bergoyang sesuai angin. Aneh sekali, gerak tubuhnya tidak terlihat seperti makhluk hidup.
Masumi hanya sanggup mematung. Menunggu.
Kemudian tubuh gadis itu bergerak semakin keras, sepertinya angin mendorong tubuh gadis itu semakin kuat. Tangannya bergerak dengan gemulai, lantas tubuhnya, kakinya, berputar, melambai. Maya mulai menari. Mimiknya terlihat putus asa, terganggu. Gerakan tubuhnya sudah tidak memperlihatkan air, dia terlihat seperti bara api yang menggelora sebelum kemudian dia memutar tubuhnya  dengan gemulai dan menari dengan cantik lantas terdiam, bergeming. Hening.
Hoooooo..........
HOOOooo.........
HOOOOOO.........
Suara yang terdengar mistis mulai bergema di lembah tersebut. Masumi bisa merasakan tubuhnya meremang.
“Siapa? Siapakah yang memanggilku...” mata Bidadari itu bergerak perlahan.
Tapi dia tidak melihat lembah yang ada di hadapannya. Dia melihat sesuatu yang lain, yang lebih luas.
Itu bukan suara Maya...
Masumi meyakini.
Maya bergerak dengan anggun, menoleh ke sebelah kanan, mencari.
“Apakah gaung si hutan?” matanya mengitari ke arah berlawanan. “Atau kesenyapan malam?”
Wajahnya perlahan mengeras, gerak tubuh yang anggun itu kembali muncul, Bidadari Merah terhenyak ke belakang, seakan-akan bersandar kepada sesuatu yang tidak kasat mata.
“Tidak...” wajahnya berubah dingin. “Ini bau darah...” desisnya.
Masumi bisa merasakan suhu udara di sekelilingnya seakan-akan turun beberapa  derajat.
“Hmm....” Mata Bidadari itu masih mencari tahu, menelisik lebih jauh lantas pandangannya jatuh pada suatu titik. “Aku bisa melihat dua pusaran saling bertabrakan. Pusaran merah, dan putih. Dua gasing yang saling bertabrakan.” Wajahnya perlahan memucat. “Dua gasing yang melambangkan langit dan bumi.”
Bidadari itu kembali bergerak, dengan anggun dan gemulai. Semakin lama mimiknya semakin ekspresif namun sosoknya terasa semakin agung dan jauh.
“Keduanya terus berputar...” dia mendesis, “saling bertabrakan, menghancurkan setiap benda di sekelilingnya,” alisnya bertaut, tidak menghendaki hal itu terjadi dan seakan-akan ingin menghentikannya.
Bidadari itu mulai berputar, perlahan, dengan tangannya bergerak sebentar menekuk sebentar terentang.
“Keduanya semakin lama semakin kuat berputar!” Seperti dikendalikan sesuatu yang lain, tubuh gadis itu berputar semakin kuat dengan seimbang. “Hati sang dewa menjadi gundah, api pertempuran telah lahir!!” Putarannya semakin cepat, “Dua gasing menjadi sumber kebencian dan kesedihan yang semakin meluas!! Satu persatu bola nyawa lenyap!!” Suara Bidadari itu semakin melengking tinggi.
“Hooooooooooooo....~!!!” Kembali suara mistis itu terdengar, namun kali ini terasa menyayat. “Hooooo.......~” dan gerakan memutar tubuh gadis itu semakin perlahan.
Sejenak wajahnya kembali tanpa ekspresi.
“Aku tidak mengerti...” Lirihnya. “Mengapa manusia berlaga? Mengadu jiwa dan mengalirkan darah?” dia prihatin. “Tak terdengarkah suara langit...? Tak terdengarkah suara bumi...? Tak terdengarkah nyanyian dewa yang telah menyatukan langit dan bumi serta menumbuhkan jiwa di dalamnya?” Dia mulai terdengar kecewa. “Mengapa mereka tidak sadar bahwa manusialah yang memanggil iblis ke dunia ini. Maksud buruk manusialah yang menjadi jalan masuk bagi iblis di hatinya.” Perlahan kemarahan terdengar dari suaranya. “Bodoh!! Padahal mereka memiliki bentuk yang sempurna, tapi mereka tidak menyadarinya. Itu membuat mereka tidak menghargai sang pencipta yang telah menciptakan langit dan bumi.”
Bidadari merah mulai kembali terlihat penuh kasih, menceritakan bagaimana belas kasih dewa yang menaungi bumi ini. Mengarahkan pandangannya ke bawah.
“Pepohonan adalah jiwa yang tumbuh berkat belas kasih sang dewa bumi yang dimunculkan di permukaan. Di sini tempat dewa bersemayam dan pohon plum ini wujud kami.” Maya mengangkat kedua tangannya perlahan ke atas, begitu juga pandangannya. “Kekuatan kami berputar-putar naik ke langit, menumbuhkan semua makhluk darat dan makhluk air. Makhluk berakar dan menjalar, yang terbang dan berjalan, yang terbang dan berjalan, yang berenang.” suaranya melembut namun wajahnya mulai kembali tanpa ekspresi manusiawi, seperti roh halus, yang tatapannya membius dan melumpuhkan siapa pun yang melihatnya. “Tumbuhlah sedikit demi sedikit. Bertambahlah, beranaklah, sebar kebahagiaan, dan mekarlah bunga plum sepanjang tahun.”
“Hooooooo......” kembali suara mistis itu terdengar, saat Bidadari merah dengan gemulai, perlahan menggerakkan tubuhnya begitu cantik seperti menari.
Kemudian berhenti, dengan wajah tertelungkup di atas lututnya, bertumpu pada kedua lengannya yang saling menumpuk.
Maya mengangkat wajahnya. Sejenak ekspresinya risau, mencari. Dia menemukan Masumi, lantas tersenyum.
Deg!
Masumi menahan nafasnya. Dia tahu gadis yang begitu cantik itu, yang tersenyum kepadanya, bukan Maya.
“Hari itu, saat pertama aku melihatmu di lembah, Akoya langsung tahu bahwa kau adalah belah jiwaku yang terpisah,” gadis itu berucap sambil perlahan berdiri.
“Ketika dunia ini masih kacau, sang dewa melahirkan anak yang diturunkannya ke dunia. Pada saat itu jiwanya terbagi dua, gelap dan terang. Masing-masing bersemayam dalam tubuh yang berbeda,” sambil memandang Masumi dengan lembut, Akoya berucap.
“Bila gelap dan terang itu bisa bertemu kembali, maka saat itu manusia bisa berubah menjadi dewa, untuk melahirkan kembali jiwa-jiwa yang baru. Dan pada saat itulah akan muncul sebuah kekuatan ajaib.” Dia tersenyum penuh kasih.
Masumi kembali berasakan jantungnya yang memacu semakin keras saat mendengar pernyataan cinta itu.
“Kekuatan yang mempersatukan jiwa yang satu lagi. Umur, status dan kedudukan sama sekali tak ada hubungannya. Bila keduanya bersua, mereka akan langsung saling tertarik. Satu jiwa tidak akan berhenti merindukan jiwa pasangannya. Mereka ingin segera menjadi satu jiwa. Keduanya seperti gila, merindukan satu sama lain dan ingin segera bersatu. Itulah cinta...” Gadis itu menjulurkan kedua tangannya kepada Masumi, seakan-akan memintanya mendekat.
“Tidak peduli nama dan masa lalu, hanya ingin bertemu untuk hidup bersatu, hanya itu yang dituju. Buanglah nama dan masa lalumu, dan jadikanlah Akoya milikmu, wahai Kekasihku...” Ucapannya terdengar sahdu dan memohon.
“Akoya...” gumam Masumi tidak sadar, takjub.
Ssssrrtttt.....
Eh?!!
Baik Maya dan Masumi, tiba-tiba merasakan kembali apa yang pernah mereka rasakan dahulu. Jiwa yang terpisah dari raga. Keduanya saling mendekat, saling tertarik, lantas saling memeluk.
Pak Masumi...!!!!
Maya...!!!
Kehangatan tubuh dua kekasih itu saling menyeimbangkan. Raut wajah keduanya tampak bahagia dan berseri.
Sekejap, sebentar saja. Jiwa mereka lantas saling menembus satu sama lain.
“Maya..?!” Seru Masumi setelah kembali tersadar.
“Pak Masumi...” Maya tertegun, memandangi pria di seberangnya tidak berkedip.
Masumi berjalan, memutar untuk menghampiri Maya. Awalnya perlahan, lantas semakin cepat. Begitupun dengan gadis itu, kakinya melangkah menuju semakin dekat pada Masumi. Keduanya tidak saling melepaskan pandangan masing-masing.
“Maya!” Panggil Masumi lagi, seraya mengitari sungai dan mendekati Maya.
“Pak Masumi...” Gadis itu tersenyum lebar melihat kekasihnya menghampiri.
Masumi menyentuh wajah Maya saat keduanya sudah semakin dekat. Pria itu lantas memeluknya.
“A, aku...” gadis itu merasa gamang. “Tadi, entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja aku merasa ada sesuatu yang memanggilku dan sesuatu dalam diriku terasa menggeliat ingin keluar saat melihat pohon ini... A, aku,” gadis itu sedikit terbata. “Ingin segara menjadi Bidadari merah...” Maya menengadahkan wajahnya, menatap Masumi. “Untuk Pak Masumi.”
“Maya...” pria itu menatapnya lembut. “Kau luar biasa, aku tidak sabar ingin melihatnya,” kata Masumi, terharu.
“Pak Masumi, apa Anda tadi merasakannya?” tanya Maya ragu-ragu.
Eh?
Masumi tertegun.
“Tadi, sesaat, jiwaku dan jiwa Pak Masumi, terasa bersatu.” Kata Maya. “Rasanya sangat hangat, seperti Pak Masumi sungguh-sungguh memelukku,” wajah gadis itu merona.
“Maya...” desis Masumi tidak percaya. “Jadi, kau juga...”
“Eh? Pak masumi merasakannya?!” mata gadis itu berkilau antusias.
“Iya, aku merasakannya, kupikir itu hanya khayalanku saja, karena dulu...” pria itu terdiam
Dulu... Mungkinkah dulu juga, bukan mimpi?
“Dulu?” tanya Maya, meminta pria itu menyelesaikan kalimatnya.
“Dulu, aku pernah merasakan hal yang sama. Setelah pementasan Bidadari Merah Bu Mayuko, di sini. Rasanya tepat sama, seperti tadi,” Jantung pria itu masih terasa berdebar, merasakan pengalaman magis itu sekali lagi. Saat jiwanya dan jiwa kekasihnya saling bertaut, bersatu. “Aku dan kau... Kupikir itu mimpi, karena aku...”
“Bukan...” sanggah Maya, menengadahkan wajahnya dan tersenyum. “Kupikir saat itu hanya aku yang merasakannya karena aku begitu merindukan dan mencintai Pak Masumi,” suara gadis itu terdengar bergetar karena haru.
“Maya...” Masumi mendekapnya semakin kuat. Tersenyum.
Ternyata hati kami, telah terhubung sejak lama...
=//=
Hari mulai menjelang malam saat keduanya kembali mencapai mobil Masumi. Keduanya sangat bahagia. Ada perasaan hangat yang menjalari hati mereka. Seakan-akan mereka baru saja kembali dari sebuah tempat yang sangat khusus bagi mereka.
Keduanya berkendara sebentar, kemudian turun di padang rumput tempat mereka pernah memandangi langit dengan sejuta bintang bersama-sama.
“Pemberhentian terakhir kita?” Tanya Masumi sambil tersenyum dan membuka sabuk pengamannya.
“Ung!” Maya mengangguk, dengan tidak sabar mengintip langit dari kaca jendela mobilnya.
Berlainan dengan lembah plum yang berkabut merah, langit malam itu terlihat sangat bersih dan cemerlang.
Sambil bergandengan tangan keduanya mulai berjalan di atas rerumputan.
“Langitnya masih penuh bintaaang~!!” Seru Maya takjub.
Keduanya kini duduk di atas padang rumput. Kembali mengenang kejadian bertahun-tahun yang lalu.
“Saat itu aku sedang mencari ayah yang menghilang, dan perasaan gundahku lenyap begitu saja saat melihatmu ada di sini,” Masumi menoleh kepada kekasihnya dan tersenyum.
Maya balas tersenyum.
“Hm...” gadis itu mengangguk pelan. “Saat itu juga masih ada Bu Mayuko,” gumamnya sendu.
Maya menengadahkan kepalanya, menatap langit. Kembali teringat Ibu kandung dan Ibu gurunya tercinta. Dua wanita yang sangat dia cintai dalam hidupnya, dan dia yakin sekarang keduanya sedang mengamatinya sambil tersenyum.
“Waktu jadi terasa berjalan sangat cepat,” ujar Masumi. “Masih di tempat yang sama, di bawah naungan langit yang sama, suasananya pun masih terasa sama—“
“Hanya lebih dingin,” sambar Maya.
Masumi tertawa kecil.
“Iya, lebih dingin,” Masumi setuju. “Tapi sebenarnya, sudah banyak yang berubah. Sudah banyak yang terjadi,” gumam Masumi. “Jika menengok lagi ke belakang, dulu aku tidak akan pernah mengira, akan bisa memandang lagi bintang-bintang ini sebagai sepasang kekasih denganmu, Maya,” kata Masumi seraya tersenyum lembut kepada kekasihnya tersebut.
Maya merasakan wajahnya merona karena tatapan Masumi.
Bruk!
Maya membaringkan dirinya di atas hamparan rerumputan, menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
“Pak Masumi tahu tidak?” gadis itu bertanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“Hm...?” Masumi menoleh kepada Maya.
“Aku pernah bermimpi indah mengenai Pak Masumi dan aku di sini,” ucap Maya, malu-malu. “Saat itu, dalam mimpiku, kita sedang berada di padang rumput ini… memandangi bintang. Terbaring seperti ini,” katanya menerawang, mengingat kembali mimpinya. “Lalu kita saling berpegangan tangan… terus mengamati langit dan bintang-bintang,” Maya menoleh kepada Masumi.
Pria itu lantas ikut terbaring, dan menarik tangan Maya, menggenggamnya.
Deg!
Maya tertegun. Rasa hangat yang dirasakan tangannya dari genggaman Masumi menyebar ke seluruh tubuhnya.
“Lalu?” tanya Masumi lembut, “kemudian apa yang terjadi dalam mimpimu?”
Maya tersenyum kemalu-maluan. “Setelah itu, Anda menatapku dengan sangat lembut, dan Anda bilang—“
“Maya… aku sangat mencintaimu…” potong Masumi, mengucapkannya setulus hati.
Eh?!
Maya mengamati Masumi dengan terkejut. Wajah Maya yang sudah merah, mulai terlihat merona malu-malu.
“Lalu aku bangun dan mendekatimu…” Masumi mengucapkan sekaligus melakukan apa yang dikatakannya, tersenyum jahil kepada kekasihnya yang terlihat bingung karena tebakannya sangat tepat.
Sekarang wajah pria itu berada di atas Maya.
“Lalu apa selanjutnya?” tanya Masumi dengan tenang.
“Lalu... Anda…” gadis itu berucap dengan gugup, tatapannya beralih dari mata menuju bibir kekasihnya.
Masumi menciumnya, dengan latar sejuta bintang di belakangnya. Gadis itu lalu memejamkan matanya.
“Pak Masumi...” desah Maya perlahan, saat dirasakannya Masumi menyingkirkan poni di dahinya setelah bibir keduanya terpisah.
Pria itu hanya tersenyum seraya memandang Maya penuh cinta.
“Bagaimana Anda bisa tahu... bahwa aku—“
“Saat itu kau sedang mabuk,” terang Masumi cepat, berbisik. “Kau menceritakan mimpimu yang kau bilang sangat indah,” pria itu tertawa kecil. “Dan memanggilku Danna-sama,” imbuhnya.
Maya ikut tertawa, masih merasa malu. “Sepertinya aku tidak boleh mabuk lagi... Atau aku tidak akan punya rahasia lagi,” keluh Maya.
Masumi tersenyum lebar.
“Memangnya kau masih punya rahasia lagi?” tanya Masumi, sangsi.
“Tentu saja,” ujar Maya, sombong. “Apa Pak Masumi tidak pernah mendengar bahwa hati wanita itu lebih dalam dari lautan?”
“Hmmph...” Masumi tidak kuasa menahan tawanya.
“Pak Masumi!!!” Hardik Maya.
“Hahaha... maaf, maaf...” Masumi berguling kembali ke tempatnya. “Kalau begitu aku akan perlahan-lahan menyelaminya sampai bisa menyentuh dasarnya,” dia kembali menoleh kepada Maya dan tersenyum.
“Hihihi...” Maya terkikik.
Keduanya mulai mengamati bintang-bintang itu kembali dan membicarakannya. Sekali-kali terdengar tawa dari mereka yang saling menggoda, kalau bukan Masumi yang menggoda kekasihnya itu, maka yang terjadi adalah sebaliknya.
“Pak Masumi...” panggil Maya perlahan.
“Iya?” Pria itu menoleh.
Maya menatap kekasihnya penuh cinta, lalu tersenyum tipis.
“Terima kasih, Anda sudah membuat mimpiku menjadi kenyataan,” ucap gadis itu haru. “Bukan hanya mimpiku malam itu,” ujarnya. “Tapi semua impian yang pernah kumiliki, bahkan sesuatu yang tidak berani aku bayangkan akan terjadi dalam hidupku, Pak Masumi...” akhirnya gadis itu tidak kuasa menahan air mata kebahagiaan yang menetes menyusuri wajahnya.
Masumi menjulurkan tangannya, meminta gadis itu mendekat.
Maya mendekatinya dan Masumi segera mendekapnya dengan hangat.
“Aku, tahu, aku sudah sangat sering menyakitimu, Maya. Walaupun aku tidak bermaksud demikian, kenyataan aku pernah menyakiti hati dan perasaanmu tidak dapat diubah,” ucap Masumi, lirih. “Karena itu, ijinkanlah aku menebus semuanya kepadamu, semua luka yang pernah kusebabkan, akan aku sembuhkan dengan kebahagiaan yang bisa kuberikan untukmu.”
Maya menengadahkan wajahnya.
“Tapi Pak Masumi sudah memberikan kebahagiaan yang banyak sekali, bahkan aku sudah tidak ingat lagi dengan rasa sakit yang Pak Masumi maksud,” gumam Maya.
“Benarkah?” tanya Masumi perlahan.
Maya mengangguk.
“Mungkin, seperti ini, perasaan bahagia putri-putri atau gadis beruntung di dalam dongeng yang bertemu pangerannya,” Maya terkekeh.
“Kalau di sini, aku yang beruntung,” kata Masumi.
Maya memandang pria itu yeng terdengar begitu tulus dengan semua perkataannya.
“Aku sangat beruntung, karena di kehidupan ini aku sudah berhasil menemukan belahan jiwaku,” pria itu tersenyum lembut.
“Jika memandangi langit,” Masumi kembali menengadahkan wajahnya memandangi langit bertaburan bintang-bintang.
Maya ikut memandanginya.
“Semesta ini, tidak terbatas. Dan kita hanyalah sebuah titik kecil dalam kehidupan di dunia ini. Hanya satu dari miliaran orang di dunia. Dari sekian banyaknya makhluk hidup yang diciptakan Tuhan, aku sungguh beruntung, karena ditakdirkan sebagai salah satu yang dapat menemukan belahan jiwaku di kehidupan ini,” Masumi membelai lembut kepala kekasihnya yang masih dia dekap di dadanya.
“Pak Masumi...” Maya mengamati pria itu dengan haru.
“Aku, tidak ingin menjadi pangeran untuk Cinderella atau Putri Salju, apalagi menjadi seorang Romeo untuk Juliet,” Masumi tertawa kecil. “Tidak juga menjadi Isshin bagi seorang Akoya,” Masumi tersenyum.
“Aku ingin menjadi seorang Masumi Hayami bagi Maya Kitajima. Memiliki kisah kita sendiri untuk diceritakan kepada anak-anak kita nanti,”  pria itu tersenyum lembut. “Dan sebagai Masumi Hayami, aku akan berusaha membahagiakan Maya Kitajima dengan sebaik-baiknya,” pria itu menyentuh pipi calon isterinya.
“Pak Masumi...” Maya menyentuh telapak kekasihnya, lalu mengangguk. “Maya Kitajima setuju...” dia tersenyum lebar sebagaimana kekasihnya.
Keduanya lantas tertawa bahagia dengan wajah berseri-seri. Masumi menghapus air mata gadis itu.
“Ayo,” Masumi menjauhkan tubuh keduanya dan mulai bangkit. “Sudah waktunya kita kembali,” dia mengulurkan tangannya.
Maya menerimanya dan berseru kegirangan saat Masumi menariknya sampai terbangun.
“Kyaa~!” serunya riang, saat tubuhnya sempoyongan dan tidak sengaja menabrak Masumi.
Keduanya kemudian tergelak.
“Pak Masumi, aku mau naik di punggungmu,” pinta Maya.
“Hah?” Masumi tertegun.
“Pak Masumi...” gadis itu memelas.
“Aduh... Maya...” keluh Masumi, namun akhirnya memberikan punggungnya juga.
Maya segera menaikinya dengan riang.
“Ukh, kau jadi ringan, Sayang,” ujar Masumi spontan.
“Salahmu! Aku jadi malas makan belakangan,” Maya menyalahkan Masumi seraya membenamkan wajahnya di bahu pria itu.
“Oya?” Masumi tertegun. “Kalau begitu aku akan menebusnya dengan memberimu banyak makanan sesampainya di Tokyo!” ujar Masumi.
“Yaaa~y!!” Maya berseru.
“Ayo, kembali ke Tokyo!” Seru masumi sambil mulai melangkah.
“Yaaay~!!!” Maya menyahuti seraya mengacungkan tinjunya.
“Makan yang banyak!!” Seru pria itu lagi.
“Yaaay~!!” Maya kembali menanggapi dengan serupa.
“Mementaskan Bidadari Merah!!”
“Yaaay~”
“Menikaaah!!!”
“Yaa~y!!”
“Apa lagi, Sayang?” tanya Masumi.
“Ummmh...” sebentar Maya berpikir. “Membangun rumaah~!” Seru Maya.
“Yaa~y!!” sekarang Masumi yang berseru menanggapi tanpa mengacungkan tangan.
“Apa lagi ya?” Gumam Maya, bingung.
“Melahirkan Makoto!!” Seru Maya.
“Yaa— eh?!” Maya tertegun. “Dari mana Anda tahu?!” tanya gadis itu sangat terkejut, mengangkat wajahnya dari bahu Masumi.
Pria itu tergelak.
“Pak Masumi..~” gadis itu merajuk, dengan wajah merah padam.
Pria itu masih saja tertawa.
“Kau mengatakannya saat setengah sadar di hutan kemarin malam,” terang Masumi.
Maya bisa merasakan wajahnya yang memanas.
“Hhh... Pak Masumi,” gadis itu menumbukkan dahinya pada bahu Masumi yang terasa pejal. “Anda sudah mencapai dasar hatiku dengan sangat cepat,” keluhnya.
Pria itu kembali terbahak.
“Kenapa kau ingin memberinya nama Makoto*?” tanya Masumi.
*) Makoto artinya ketulusan.
“Agar dia punya ketulusan hati seperti Pak Masumi,” ucap Maya perlahan.
Pria itu tertegun.
Maya...
Pria itu tersentuh.
“Mamoru*?” tanya Masumi.
*) Mamoru artinya pelindung.
Maya menyandarkan dagunya di bahu Masumi, menoleh memandangi sisi wajah pria itu yang seperti biasa terlihat tampan malam ini.
“Agar dia nanti, bisa melindungi orang yang dicintainya seperti Pak Masumi,” gumam gadis itu, tersenyum.
Masumi kembali tertegun, melirik pada gadis di punggungnya.
“Ternyata aku begitu baik di matamu, ya...” Masumi berseloroh bangga.
Maya tertawa, kembali mengangkat wajahnya.
“Yah, habis, kalau bukan aku, siapa lagi yang mau memuji Pak Masumi,” ledek gadis itu.
“Hei!!” Hardik Masumi.
Gadis itu masih tergelak dan Masumi senang sekali mendengarnya.
“Eh, tunggu dulu,” potong Masumi, menyadari sesuatu. “Apa itu berarti, jika aku ingin memberi nama, kita harus punya lebih dari tiga orang anak?”
Maya tertegun.
“Hmmm.... mungkin...” gadis itu menggumam, berpikir. “Pak Masumi memangnya, mau kasih nama siapa?” tanya Maya.
“Hm... Entahlah,” ucap Masumi ringan. “Aku belum memikirkannya,” ujarnya terus terang.
“Uh, payah!” ejek Maya.
“Eh! Berani ya, menyebutku payah!” Masumi mendorongkan kepalanya ke belakang, bermaksud membentur kepala Maya.
Gadis itu kembali tergelak sambil menghindari kepala kekasihnya.
“Manami, bagaimana?” Tanya Masumi.
“Ah, nama yang—“ Maya tertegun. “Kenapa mau dinamai Manami?” Selidik Maya, cemburu. “Jangan-jangan Pak Masumi, pernah menyukai gadis bernama Manami...” selidiknya.
“Eh? Tidak...” sanggah Masumi.
“Bohong!!”
“Tidak....”
“Benar ya...?” rajuk Maya.
Pria itu tertawa.
“Baiklah, Manami tidak apa-apa,” Maya menyetujui.
“Bisa dilanjutkan, tadi sampai mana?” Masumi mengingat. “oh, melahirkan Makoto!”
“Yaaa~y!!” Maya kembali mengepalkan tangannya mengarah ke depan.
“Mamoru!!”
“Yaaa~y!!”
“Mayu!!”
“Yaaa~y!!”
“Manami!!”
“Yaaa~y!!”
Kryuuuuuuuu~k!!!!
Tiba-tiba perut Maya kembali bersuara.
“Hahaha....” Masumi terbahak. “Kau sudah lapar Sayang?”
“Iya...” gumam Maya perlahan, malu.
“Hahaha... kalau begitu, sebelum kembali ke Tokyo, memerankan Bidadari Merah, menikah dan sebagainya, sebaiknya kita makan dulu,” usul Masumi.
“Yaaa~y!!!” kekasihnya menyambut gembira.
Keduanya kembali tergelak dan bercanda.
Dari kejauhan, mobil Masumi yang akan membawa mereka kembali ke Tokyo sudah mulai tampak.
Pak Masumi...
Aku sangat bahagia, karena takdir mempersatukan kita di kehidupan ini. Terima kasih, karena kau tidak pernah lelah atau menyerah mencari, sampai kau menemukanku...
Itu adalah suara hati Maya yang tidak disuarakannya, namun gadis itu yakin, Masumi pasti mengetahuinya. Karena mereka bukan hanya sepasang kekasih, namun juga belahan jiwa.
Maya dan Masumi.

=//=
<<< Finally Found You Ch. 14 ... End >>>




,,**,,**,, Dear My beloved Readers <3

Terima kasih banyaaak buat yang udah mengikuti ceritanya sampai sejauh ini. Aku bener-bener terharu, ada kalian yang dengan sabarnya mengikuti cerita ini, kasih masukan, saran dan kritik, atau komen-komen ngga penting (hehehe...)
Yang pasti, semuuuuaaaanyaaa itu sangat berarti buat aku.


Mungkin, ada yang mengikuti cerita ini dari awal dan dengan setia mengikuti setiap apdetannya sampai sini. Ada yang pernah mengikuti terus berhenti, terus lanjut lagi sampai di sini. Atau yang baru tahu dan merapel cerita ini sampai akhirnya tamat juga. Atau ada juga yang pernah mengikuti terus berhenti (kalau itu udah pasti ngga akan baca sampe sini ya, hehehe), aku sangaatt berterima kasih <3<3

Pas cerita ini keluar (udah 8 bulanan) sampai sekarang tamat. Pasti udah banyak banget kejadian ya. Ada yang dulu lajang, sekarang udah nikah (lirik2 seseorang), ada yang dulu sedang hamil, sekarang baby-nya udah digendong. Ada yang mungkin dulu single sekarang double, atau malah sebaliknya. Hehehe...

Yang pasti, keinginan aku tuh ngga muluk. Maunya, pas kalian baca lagi cerita ini, juga bisa mengembalikan beberapa kenangan yang sempat terjadi dalam hidup pembaca aku selama ngikutin cerita ini. Aku sangat berharap kalian menikmati ceritanya, dan benar-benar berterima kasih sama semua dukungannya buat aku penulis tak bernama yang belom berpengalaman dan pastinya banyak kelemahan di sana-sini :)

Jadi, buat kalian yang udah membaca sampai sejauh ini, tolong tinggalkan jejak kaki alis komen di sini ya, walaupun belum pernah komen sekalipun sebelumnya. Jadi aku tahu, siapa-siapa yang sudah begitu mendukung aku selama ini. Thank you darlings <3<3<3

*ps: Buat FFY akan ada 1 chapter terakhir : FFY-the Ending.
Menceritakan pementasan BM dan hal-hal lain yang perlu diketahui. hahaha
Tapi chapter ini akan keluar agak lama, kepotong dulu 'I am You' :)

Dan terakhir, pesan sponsor: Jangan lupa beli komik Topeng Kaca, dan sering-sering todong Regina bikinin ilustrasi ya... hahaha

Loph,


-Ty^^-

262 comments:

«Oldest   ‹Older   201 – 262 of 262   Newer›   Newest»
mommia kitajima on 19 October 2011 at 17:27 said...

aq ngikutin ffy mulai bulan mei-juni kali ya, pas pertama kali aq join
aq suka sm critanya and alurnya and gaya ceritanya and romance nya
suka suka suka deh pokoke

walo ga sampe mereka nikah, tp seneng banget mereka dah berhasil melewati berbagai rintangan utk menemukan kebahagiaan mereka

im looking forward for ffy - the ending
sampe mereka merit yah Ty sayang
lum puas rasanya kl blum kejadian beneran mereka merit

cepet apdet i am you yah cintaahhhh...
^^ <3 <3 <3

betty on 19 October 2011 at 17:28 said...

wokeh Ty , kyknya ini komen pertama gw pake akun asli di FFY(seinget gw ya) .biasanya anonim .n gw udh ngikutin dr pertama .hahahaha ...


* peluk2 Ty * well done sista ^^
ending yg manis .ending yg bikin gw ngebayangin how the future will be for them . n ngebayanginnya dgn senyum yg lebar .pdhal kerjaan dikantor menumpuk .hihihihi ....

walopun gw pencinta SE tp utk ending FFY ini gw ksh jempol dah ^^ .mengalir ...mengalir ...n mengalir ....

i'm looking forward for your other great story ^^

* kisses *

Betty Petroazzass / Pet

Anonymous said...

Tyy.. Arigatooooo.... FFY nya bener-bener keren. Gak bosan aku bolak-balik bacanya... Tetap berkarya ya say, I'am You nya jangan lama-lama..he..he.. LOP YU PULL deh.. MUaahhh...!! ♥♥♥

-Happy-

Miarosa on 19 October 2011 at 17:36 said...

akhirna HE juga..:)....

Anonymous said...

TY jejakku udah banyak yg dulu2....wkwkwkwkw....itu special FFY isinya pementasan BM ama hal-hal lain yg perlu diketahui...apaan tuh bikin penasaran...:PPP
-Katara Hayami Nam Gil-

Miarosa on 19 October 2011 at 17:57 said...

akhirna HE jg :)...

Anonymous said...

yaaaaaayyy akhirnya tamat jugaaaa XD
agak sedih sih udah tamat tapi seneng juga coz MM akhirnya bersatu. hehehehe
tengkyuuuuuuu yaaaaa mbak ty, karena FF nya sangat menghibur.
sekarang lanjuuuuutt i am you yaaa mbak XD
o ya mbak, chapter tambahannya request yg bulan madu dong. pleeeeaaaseeee. hehehe

-bella-

mommia kitajima on 19 October 2011 at 18:17 said...

kisah cinta di dunia per-komikan bertambah lagih
masumi hayami and maya kitajima ^^
kisah tentang belahan jiwa

orchid on 19 October 2011 at 18:27 said...

yaaaay, kebahagiaannya terasa slow motion di akunya, terharuuuu, hikz *pinjam saputangan* masumininya jg bakal ngangenin, hikz, waaaaa, nama anaknya depannya M semua, well done ty,

Fera Handayani said...

Ty....makasih banyaaakkk, akhirnya FFY selesai juga,begitu terharu melihat mereka akhirnya bahagia,bener2 cerita yg luar biasa indah dan mengagumkan,bahkan sampai sekarang msh belum bs melupakan ungkapan cinta masumi pd maya waktu di Yokohama,benar2 indah. sekali lagi terima kasih banyak Ty.

Fagustina on 19 October 2011 at 20:04 said...

akhhh gak gak gak gak kuat tatapan mata Danna samaa~~
akhirnya end jg FFY tp ngerasa agak2 ga rela jg nih tamat...XDD
setuju2 sm sis Fera, cerita yg luar bisa, mengagumkan dan sanggup mengaduk2 emosi pembaca dr senang, sedih, kesel sampe ikutan dag dig dug bikin penasaran menanti kelanjutan ceritanya sampe maen tebak2an wakakakakaka
Makasih banyak Ty darlinkss maapkeun jika ada koment2 yg kurang berkenan
ai loph yu dah :)

Muree on 19 October 2011 at 20:12 said...

Aduh ty..so sweet deh maya masumi. Aku suka wkt di lembah plum.
Sedih juga ya udh tamat. Berasa sepi. Aku akan selalu menantikan karya2mu Ty. Ntr ceritain pas maya masumi nikah ya.Thx again Ty.

regina on 19 October 2011 at 20:14 said...

APPPUUAAAA?!?!??!?!?!?!?!?!??!??? DASAAAARRR TY!!!!!
ga di F ga di blog tetep bakar2iiiiii ==;
nyari temen senasip buat di todong yhaa??????
rhooaaarrrrrr!!!!!! XDD

btw, the ending... it's sooooo... T~T
bikin aye pingin honeymun lagiihhhhh. so romantiiccc T~T

tulung yhaaa... jgn berhenti berkaryaaa!!
ability sekeren ini GA BOLEH ILAANG!!! KUDU RAJIN UPDATEEE!!!! XDDD

*kabur ahhhhh*

Gizuka-Chan on 19 October 2011 at 20:18 said...

kekkonnnnnnnnnnnnnnnn
kareshiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

keinginan yang sederhana tapi susah sekali

tanggung jawab mbak ty

Rany Yuliawati on 19 October 2011 at 20:24 said...

mksh bnyk ty darling..
kami tggu karya2mu slnjutnya y..
smoga g bosen ma koment2 n tagihan2 kt bwt update_annnya..*DC mode on..
arigatou gozaimasu..
:**

Anonymous said...

*mata berkaca2* akhirnyaaaa...they find their way for each other *terharu..hiks..hiks..* reading this story from 1st chapter until the end make my imagination fly high to the sky...my emotion involve on the story...sadness,anger,happinesss.. campur aduk. Mmmuuaaccchhhh...well done, neng Ty! Don't taste your talent,okay?! Keep writing...and I'll always be a faithfull reader *kadang2 aja kok ngerangkap jadi DC...no worries...hehehehe*

Anonymous said...

*mata berkaca - kaca* akhirnyaaaa...they find their way to each other *terharu..hiks..hiks..* read this story since the 1st chapter until the last chapter now always make my imagination fly high to the sky...my emotions involve deeply in this story...sadness,anger, happiness...campur aduk! Well done,neng Ty! Don't waste your talent...keep writing! And I'll always be a faithfull reader *kadang2 aja kok nyambi jadi DC...no worries...hehehehehehe*

Mawar Jingga on 19 October 2011 at 21:32 said...

ty...........................<3 u

muaacchhhhhh suka FFYmu.........:))

nisa_na said...

Ya ampun Ty.... aku beneran nangis... serasa TK beneran yang tamat (tapi klo yg beneran, kita harus tumpengan ya rame2)!
Terharu banget akhirnya ada lagi cerita yang bisa mempengaruhi sampe segininya... belum lagi memori hunting apdetan, ngejar rapelan waktu lagi kerja (sumpeh, yg ini jangan ditiru yaa ... tp maklum deh, sering magabut jadi gini), belum lagi ekspresi2 ajaib yang keluar selama baca ini, dari mulai kencannya Paman Raksasa dan Ratu Liliput sampe endingnya sekarang ini...

Ty, thanks for your great talent, thanks for your stories, thanks for sharing them with us!

MUAHMUAHMUAH!!


*ayo sekarang kita tagih sis Mary! MWAAHAHAHAAAA (devilish)

ferra fam said...

Tyyyyyy....terusin smp balik tokyo dong...trus gmn reaksi org2 pas tau mrk b2 lg... trus...trus nikah...rus..trus honeymoon... ay ty....msh kurang....pngen banyak lg...

Anonymous said...

Ty,makasih updatenya.romantis sekali.jadi iri sama MM.aku hanya bisa bilang dari eternal rainbow ini aku tahu banyak yang suka TK dan aku bisa dapat teman dari sini.tetap semangat berkarya,Ty.aku tunggu cerita selanjutnya.Lifang/Gabriella

Puji Aditya on 19 October 2011 at 22:11 said...

dari awal sampe akhir suka banget ma ceritanya Ty... dari jalan cerita ny, masalah kedokteran, masalah hukum, detail2 ny aq suka banget, banyak jempol deh buat Ty...
Semangat ya Ty... ditunggu karya2 selanjutny...
^_^

Anonymous said...

Kata2 yg paling menyentuh buat gua & bikin gua cengeng adalah waktu masumi bilang dia gak mau jadi pangeran, romeo ataupun isshin ... tapi dia hanya mau jadi seorang masumi hayami buat seorang maya kitajima * God! suddenly I wish there's someone real like masumi hayami * They really will have their own story...cerita ttg masumi hayami & maya kitajima...yg bakal gua warisin buat anak cucu gua ntar :) -rini-

Resi said...

Tyyyyyyyyyyyyyyyyyyy, aku baca bag terakhir FFY penuh perjuangan nih. Br setengah baca, eeeeh mati lampu. Berdoa sangat mdh2n cpt nyala lagih.
Ternyataaa, Allah mendengar doaku.
Akhirnyaaaaa, FFY tamat jugaaaa.
Bahagia bangeeeet MM akhirnya bersatu, tp sediiiiiiiiiiiih krn hrs berpisah dg MASUMIMINI xixixi.
Makasih ya ty, dah bikin ff yg bikin aku bahagia, sedih, senyum, ngakak, sebel, cemberut, gregetan, merinding, merona, pokoknya serasa masuk di cerita ini.
Ur the best one pokoknyah.
HATUR NUHUUUUUUUN.
I LOVE U PULL TY SAKUMOTO, MMMMMMMUACH.....

chuubyy on 19 October 2011 at 23:09 said...

Yaaayyyy~
Akhirnyaa HE... Ty makaci bgd.. Aku suka endingnya... Hik hik ¤msh ga rela lw ini udah mli berakhir¤
Apakah msh ad sekuelnya ??? ¤malak ty mulu de¤ ... Sukaa ty <3 ku menunggu cerita2 diri mu selanjutnya.. Thx ty <3 u pull >_<

juliana on 19 October 2011 at 23:32 said...

two thumbs up sis Ty. love to read your story. menyentuh bgt ceritanya. can't wait for another story. Tetep semangat yaaa... =)

Anonymous said...

Hai, Ty ^^

Thanks for your hard work. Like this chapter so much. Kalo biasanya gw mengalami a 'laughing session' khusus malam ini berganti jadi a 'smiling session' saking banyaknya romantisme yang ditebar di chapter terakhir ini XDD

Cuman waktu baca yang bagian ini :
“Itu adalah batu ametis, batu kelahiran bagi mereka yang lahir di bulan februari,” Masumi memaparkan. “Karena itu aku memilihnya. Karena kau lahir di bulan februari bukan?”
jujur aja, gw langsung menjerit OH NOOOOOOOOOOOOOO(dalam hati seeh soalnya kan ud midnite hehehehehe )bukannya apa2, cmn cincin pertunangan yang dikasih Masumi ke Shiori juga dipilih menurut hari kelahirannya si loony itu, jadi yaaa rasanya gw agak agak gak rela kalo Masumi ngasih cincin pertunangan ke Maya ngikut2 jejaknya si loony. Sorry nih bukannya bermaksud complain, cmn maunya gw Masumi ngasih cincin yang lebih special ke Maya (pokoknya anything better dari yang pernah dia kasih ke Shiori ~walaaaaaaah, kebangetan egoisnya saiah~)

Anyway, thanks bwt apdetnya n juga lagunya ( ud lama bener ga denger nih lagu Dreams come True :) ) Ditunggu juga yaa chapter penutupnya !

Eugeunia

Anonymous said...

as usual you're Ty Sakumoto
I don't know how talented you are as a writer
but the truth is, I always waiting for your other "Finally Found You" stories

keep on doing the great job Nocturnal Reciter ^^

~the dream catcher~

lyohana on 20 October 2011 at 08:23 said...

Ty... makasih juga udah bkn hari2 makin berwarna, makin indah dengan hadir nya FFY ini. Rasa nya tak ingin berakhir ... it's so nice story, sangat menyentuh dan sangat menghanyutkan, sangat menggembirakan. Dua jari gak ckp untuk mu. Keep making good story ya ty... selalu menunggu mu

Lina Maria on 20 October 2011 at 08:29 said...

Jiahhhhhhhhhhhhhhhhh.... akhirnya selesai jugakkkkk.... mengingat perjuangan mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir... *meneteskan air mata haru
Thank you banget buat Ty Sakumoto yang udah berjuang buat memuaskan dahaga para FFTK Lovers... nyahahahhaha.. ditunggu ya cerita-cerita selanjutnya

Anonymous said...

aduh, perutnya maya tuh ya, selalu protes disaat yang tidak tepat!! ty, endingnya dibikin sampai MM ke pelaminan kan??? kayaknya sih itu bisa jadi penutup yang bagus stelah penantian dan penderitaan panjang mereka... dah gitu (kalo bisa nihhhh) banyakin ilustrasi gambarnya ya, bagus lho!! (makasih sis mary regina!)
-nadine-

Beatrix on 20 October 2011 at 08:53 said...

A good storyy...Yaaay.....Dearest Ty Sakumoto...terimakasih u/ FF TKnya...juga untuk blog Eternal Rainbow...aku agak lupa sejak kapan aku mengikuti blog ini...pertama jadi silent reader setelah itu baru berani taruh komen anyway mengikuti FFY tidak membosankan walau cukup panjang...ceritanya menarik,dan menyentuh...ada romancenya....ada juga segi actionnya (udah kayak baca conan aja )Kedewasaan karakter Masumi dan Maya juta terasa....ada kemajuan dalam hubungan mereka...suka sekali waktu diselipkan perkembangan Maya dalam pendalaman akting BM...jadi cerita ndak cuma hanya cinta entah segi berapa antar tokoh 2 di atas....so finally Thank you...also u/ sis Mary dengan ilustrasinya...waktu ilustrasi di masukin ke FFY jadi semakin nyata/berkesan...Ditunggu FFY Endingnya...

Anonymous said...

ty... bagusss!!!! senangnya akhirnya tamat :)
dulu gregetan, ga sabaran nungguin apdetan tiap hari ngecek buka blog ampe begadang2 nungguin,,, akhirnya HE jg...tengkiu so much ya neng Ty :)
ditunggu kisah mamoru,mayu,manami,makoto,,, hehehe
-mn-

Anonymous said...

Dear Ty,

Thanks ya udah memberi warna selama 8 bulan ini, impian terdalam kita ttg Maya Masumi kayaknya udah tersampaikan semua lewat tulisanmu. Sumpah...tiap kali baca, langsung kepikiran, "this could be genius or insane", don't know how to say it. Sangat detail, karakter mereka yang bisa kamu ceritain dengan sempurna lewat tulisan, *biasanya sih kita kan cuman liat lewat gambar aja yah?*, trus ending yg bener2 kita 'mupeng' banget selama ini. Soalnya agak pesimis sih, aku rasa bagi Suzue Miuchi mungkin ending yg paling ideal adalah mereka berdua ga bersatu *just my tought*

Okay Ty, good luck yaa keep on rock 'n roll & tetep ditunggu karya2nya. Muah.

-fike-

P.S =>> oiya buat Masumi, gw lahir Februari juga lhoo ^-^

Anonymous said...

Waaaaa....Ty tamatnya di 1 spesial chapter ya???
btw, ak sk pesan sponsornya: "Jangan lupa beli komik Topeng Kaca, dan sering-sering todong Regina bikinin ilustrasi ya..."
sooo....gmn kl di sp chapter ntar ada pic MM married ty? biar krasa bgt gituuuu ..... ^^

*theresia*

purple on 20 October 2011 at 09:31 said...

abis baca ulang Note TY
jadi sedih, seperti note untuk perpisahan aja
tapi kata - katanya buat hatiqu terenyuh hiks...hiks...hiks
;P

Pastel Mood on 20 October 2011 at 11:00 said...

haruuuuuh....*menangis haru,antara happy MM dah HE tapi ga rela FFY tamat..:p...
Tyyyy... jangan berhenti menulis yaaaaaa...
Sukaaaa bgt ma gaya tulisan Tyyyy...
makasih banyak karena seiring dgn FFY,my real life terus berlangsung dan sering kali FFY brighten up my day!.. klo lg bete or sedih, blog Ty tempat dian tenggelam dan kembali ceria walau kadang klo pas update-annya sedih jg jd bikin tambah gloomy :D... klo lg seneng trus baca jg bikin tambah semangaaat...
Maaf ditengah2 FFY abis baca ga bisa tulis komen coz ada "cyber roam" dikantor... tapi aps terakhir2 dah bisa komen lg...
*duuuh, panjang amat yaaak?
pokokeeeee... I luph u full dah Tyyyyy...
c u on 30 oct 2011 ya..I can't hardly wait!!!

Pastel Mood on 20 October 2011 at 11:05 said...

haruuuuuh....*menangis haru,antara happy MM dah HE tapi ga rela FFY tamat..:p...
Tyyyy... jangan berhenti menulis yaaaaaa...
Sukaaaa bgt ma gaya tulisan Tyyyy...
makasih banyak karena seiring dgn FFY,my real life terus berlangsung dan sering kali FFY brighten up my day!.. klo lg bete or sedih, blog Ty tempat dian tenggelam dan kembali ceria walau kadang klo pas update-annya sedih jg jd bikin tambah gloomy :D... klo lg seneng trus baca jg bikin tambah semangaaat...
Maaf ditengah2 FFY abis baca ga bisa tulis komen coz ada "cyber roam" dikantor... tapi aps terakhir2 dah bisa komen lg...
*duuuh, panjang amat yaaak?
pokokeeeee... I luph u full dah Tyyyyy...
c u on 30 oct 2011 ya..I can't hardly wait!!!

Ratna on 20 October 2011 at 11:23 said...

So, this is the end Ty????, Wow!!!! This is it!!! I like the ending so much!!! Setelah mengikuti kisah ini mulai dari saat Maya kembali ke jepang dari Paris, Masumi keracunan, perjalanan menuju pernyataan cinta yang mendebarkan di Yokohama dan peristiwa2 lain, akhirnya nyampe juga di the end. Dijamin deh Ty, aku masih ingat detail ceritanya, heheheh...anyway Thanks a lot, Domo arigatou gozaimasu, Xie xie, Syukron katsiro..apalagi yaa?? itu... Terimakasih!!! xixixixi. Your story really make my days!!! Tetap berkarya ya Ty, aku tunggu kisah2 yang lain, Ganbatte kudasai!!!!! --Tumpeng dikirim kemana Tyyy????--

Nalani Karamy on 20 October 2011 at 12:04 said...

sepertinya ada perasaan tidak rela ketika tahu ffy berakhir, hiks...hiks...ty lanjutin dung ketika mereka akhirnya bener2 menikah n menghadapi MP alias malam pertama wk...wk...pengen tahu gimana reaksi si manusia mininya Masumi

eva

diana said...

ehm...tyyy makasih banget ceritanya top markotop, ditunggu endingnya

ephie lazuardy on 20 October 2011 at 15:25 said...

tamat ya...??!!! kuraaaaang....., msh pengen baca maya masumi yg mesra2an, tapi masih ada chapter terakhir FFY ya..., syukurlaaaahh...!!! biarpun lama tetep dinanti lho Ty...

Bravoooo..., andaikn difilmkan ya...

eka ps said...

sukaaa bangetttt.............

Miarosa on 20 October 2011 at 17:43 said...

akhirna HE jg :)

Anonymous said...

Neng Ty, terima kasih banyak ya FFY akhirnya tamat....meskipun sedih ga rela ,kan selama ini tiap hari selalu ada yg ditunggu dg tidak sabar ttg kisah kasih Maya n Masumi versinya Neng Ty (nunggu BM-nya Muichi sensei ga selesai2 sih...) Moga2 Neng Ty na sehat selalu jadi bisa terus nulis...bisa cpetan upload FFY the ending-nya ya :p -khalida-

Resi said...

baca episode terakhir FFY penuh perjuangan nih, krn bbrp kl mati lampu.
Akhirnyaaaaaaaaaa, seneng bt FFY happy ending,tp sedih banget krn hrs pisah sm MASUMINI.
Makasih ya ty, dah bikin aku senang, sedih, ngakak, cemberut, gregetan, sebel, blushing2, mupeng, pokoknya campur aduk deh.
Ini salah satu karya terbaikmu menurut aku. Gaya bahasanya aku suka banget, mendekati Miuchi sensei menurut aku hehe. Mdh2n bs menghasilkan karya2 yg lebih baik lagih.
I LOVE U PULL deh.

Anonymous said...

TYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY~~~

makasih buat FFYnya sayaaaaaaaang ^_______^
for made my great day with the update :))
KEREEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEN bangeeeeet..

makasiiiiih sudah buat aku berseri-seri~ nangiiiis~ tahan napas~ senyam senyum~ ngakak~

karna baca Masumi Mayanya ^__________^
a miLLions thumbs for you dear :*:*:*:*

teruuuus berkarya yaaa sayaaaaaaang :*:*:*:*
karanganmu bener bener kereeeeeeeeeeeeen~~~
:))

aah~ aku akan merindukan FFY hiks~ <3<3<3


I LOVEEEEEEEEEEEEE YOU MASUMI HAYAMI <3<3<3
I LOVE YOU TYYYYYYYYY :P

oyaaaaaaa~
sist Mary !!!!
gambaaaar masuminya cakeeeeeeep :)) thanks for the masumi pics too ^______________6
LOVE HIM :*:*:*:*:* <3<3<3

-PAZZA- <3

Anonymous said...

Entah sudah berapa kali aku baca ulang, sama sekali ga bosan... suka.. good job ty.. makasih bgt udah ngebuat hati TK LOvers semua berbunga2.. Love U Darlink Ty Sakumoto


_iien fachrie_

nana said...

ehm...ceritanya sip...ditunggu endingnya ty..

Elisabeth Lillian on 21 October 2011 at 16:23 said...

Ty........
ditunggu ya last chapternya .....

syl said...

Gilaaa boow.. kereen abiiss.. di bela2in baca tengah malam biar ga keganggu bocah & ayahnya bocah.. hehee.. Setengah ga rela udah tamat.. hick

Silvia on 22 October 2011 at 19:50 said...

mbak ty....aku ngikutin dari awal..sampai sekarang..ceritanya bagus dan menarik sehingga tidak sabar untuk melihat kelanjutanya...semoga suksess.....selalu....

Odi kitajima on 29 October 2011 at 04:22 said...

Ah tyseeeeeeeeeeen bis baca lgi,, gak da bosan2nya euy,, Sempet sedih juga FFY tamat,, q dh terperosok cinta ma FF yg satu ini,,^_^ semuanya dapat humorna, konflikna, romantisna(banget) makanya gak bosan2 bacanya,, Q suka cara Masumi ngelamar,, *sayang ku bukan gadis beruntung itu,,hiks ngarep* XD

the endingna ditunggu ya ty(hehe untung ada ayemyu jdi isa sabar ngguna)
buat sis mary jg tq hihihi masumi mininya lucuuuuuuuu.. kerja sama yg bagus ^_^

permen cokelat said...

Ty.....
ceritanya bagus.
udh lama ga mampir ke lapaknya Ty dan kawan kawan :)

toephiz on 18 December 2012 at 09:08 said...

akhirnya finish jg nech baca ny..
#termasuk pembaca yg bru nemu blog ini n langsung kebut baca..
really nice story sista..

Unknown on 8 January 2013 at 13:32 said...

biar dibaca berulang2 tetap tidak membosankan. love u full deh ty, jd gk boring lagi nungguin TK aslinya :)

Unknown on 20 August 2014 at 23:04 said...

Bnr2 mengobati rasa rindu sm maya dan masumi.. *berharap ada masumi lain buat ku :D

Unknown on 20 August 2014 at 23:05 said...

Bnr2 mengobati rasa rindu sm maya dan masumi.. *berharap ada masumi lain buat ku :D

Anonymous said...

Kalo topeng kaca diangkat ke drama korea, pengennya yang meranin masumi hayami si om so ji sub. Pasti keren...muka dinginx dapet banget.

Unknown on 19 May 2018 at 08:44 said...

Bru baca lgsung rapel an kaaakkk.. pengobat rindu bersatunya 2 jiwa yg blm ending jg... syukkkaaaaaaaaaakkkk bgt ma fanfic TP... mksh ya kak ceritanya baguuuussss bgt.
Smg sensei suzui miuchi sgera bikin ending yg bhagia bwt MM sm kyk story dr kak TY 😍😍😍

Unknown on 25 October 2018 at 18:33 said...

Gak pernah bosen, ngerasa di cintai masumi.....

Bunda nino on 8 November 2018 at 18:03 said...

Baca ini dari THN 2014 sampai hari ini dah berkali kali tetep gak bosen thank u mbak sukses selalu

«Oldest ‹Older   201 – 262 of 262   Newer› Newest»

Post a Comment

Silahkan kritik, saran, sapa dan salamnya... :)

 

An Eternal Rainbow Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting