Sunday, 29 January 2012
FFTK: Surat Cinta untuk Maya
Surat Cinta untuk Maya
Maya berjalan masuk ke kamarnya yang luas dan cantik. Aromanya mewangi, anugerah alamiah dari bunga-bunga yang memenuhi kamar. Maya melepas mantel kamarnya saat mendekati tempat tidur. Pakaian tidur satinnya terungkap, berkilau berombak seiring gerakan tubuhnya.
Si Mungil tertegun melihat sebuah surat tergeletak di atas bantal. Maya tahu pasti perbuatan siapa itu. Ia tersenyum tipis, meraih surat itu dan menaiki tempat tidurnya. Separuh badannya tenggelam dalam selimut. Sejak menikah dua minggu yang lalu, suaminya sering kali meletakkan sepucuk surat di atas bantal yang akan Maya baca sebelum tidur. Jika suaminya tidak sempat melakukannya karena terpaksa menghilang demi pekerjaannya, Ia akan menitipkannya kepada pelayan untuk melakukan hal itu untuknya.
Maya menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur dan membuat dirinya nyaman, mulai membaca.
Istriku Maya. Malam ini pun kau pasti masih mungil.
Maya mengerucutkan bibirnya membaca pembukaan surat itu.
Malam ini, aku akan mengungkapkan apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu. Kekasihku,
Sejak pertama kali bertemu, kepolosan dan keluguanmu, sudah berhasil mencuri hatiku. Aku tidak menyadari aku sudah merasa tersentuh olehmu saat itu. Terlebih saat aku melihatmu berakting. Hatiku tidak pernah tergetar seperti itu. Kau hebat. Mempesona. Seluruh perhatianku terhisap hanya padamu. Aku sangat mengagumimu sebagai seorang aktris. Akulah pengagum terbesarmu.
Tatapan matamu yang polos dan berbinar-binar, senyuman kemalu-maluan dan wajahmu yang merona, aku tidak pernah bosan menatapnya. Juga semua semangat dan keberanian yang tersembunyi di tubuh mungilmu. Menakjubkan. Aku tidak pernah berhenti bertanya, dimana semangat besar dan tekad kuatmu itu tersembunyi di tubuh mungilmu? Apakah aku pernah memiliki kegairahan dalam hidup seperti yang kau perlihatkan? Kau sangat berbeda dariku. Fisikmu, sifatmu, namun semua itu tidak berarti. Aku mencintaimu Maya, lahir dan batin, dengan jiwa dan ragaku. Sebagai seorang wanita, kau melengkapiku. Hanya jika bersamamu aku merasa menjadi pria yang sempurna.
Kasih sayang dan perhatian yang kau berikan kepadaku, sentuhan lembut tangan dan bibirmu, wajahmu, dirimu, adalah anugerah paling indah yang pernah Tuhan berikan kepadaku. Aku ingin selalu membuat bibirmu tersenyum dan wajahmu selalu berseri. Semua itu mampu menghilangkan beban apa pun dari hatiku. Bersamamu membuatku menyayangi kehidupan ini. Aku ingin selalu di sisimu, ingin selamanya bersamamu. Aku ingin membuatmu merasakan apa yang kurasakan sebagai suamimu, karena sebagai seorang istri, kau sudah membuatku sangat bahagia.
Sayangku, selamat beristirahat. Terima kasih sudah menjadi istri yang hebat untuk hari ini. Aku mencintaimu, Kekasihku. Dari Suamimu, Masumi Hayami.
Untuk beberapa saat Maya terpaku menatap surat yang sudah selesai dibacanya malam ini. Masumi… Ia merasa sangat tersentuh. Maya melipat suratnya, lantas menoleh pada kekasihnya. “Masumi…” panggilnya perlahan.
Masumi menurunkan korannya dan menoleh pada istrinya. Tersenyum.
“Terima kasih,” kata Maya haru. “Aku juga mencintaimu,” Maya beringsut mendekat. “Sangat mencintaimu,” ia melingkarkan tangannya di dada suaminya.
Senyuman Masumi melebar, Ia lantas membungkukkan badannya dan menciumi istrinya itu. “Apa kau bahagia bersamaku?”
“Sangat,” desah Maya.
Masumi melingkarkan tangannya erat di tubuh mungil Maya. “Ayo tidur Sayang, sudah larut.”
Maya mengangguk. Mereka memisahkan diri. Maya meletakkan suratnya di dalam laci di samping tempat tidurnya, bersama surat lain yang dituliskan Masumi sebelumnya. Ada yang berisi pujian-pujian untuknya, ada yang berisi jeritan hati Masumi saat merindukannya, ada yang bertuliskan impian Masumi dengannya, ada juga yang berisikan ungkapan Masumi mengenai kesendirian dan kecemburuannya. Maya tersenyum tipis. Surat-surat itu adalah salah satu benda berharga miliknya.
“Besok, mau menulis tentang apa?” tanya Maya saat telah kembali pada pelukan Masumi dan keadaan kamar sudah temaram.
Masumi berpikir sejenak. “Entahlah, mungkin mengenai Mizuki yang semakin sering membantahku belakangan.”
Maya tertawa sebelum mengetatkan pelukannya. Tubuhnya terasa hangat, hatinya juga. Masumi si dingin dan gila kerja, sekarang adalah sinar matahari yang selalu memberinya kehangatan dan membuat bunga-bunga cinta di hati Maya tumbuh semakin subur setiap harinya. “Terima kasih, Masumi. Kekasihku.”
=//=
<<< Surat Cinta untuk Maya ... End >>>
Categories
Author : Ty SakuMoto,
Fanfic: One-Shot,
Masumi,
Maya
Subscribe to:
Posts (Atom)